EFEKTIVITAS PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL) DALAM MENGASAH KREATIVITAS ANAK MELALUI AKTIVITAS MENGGAMBAR DAN MEWARNAI Mugirah1. Rendy Setyowahyudi2 Universitas Terbuka, 2Universitas Pendidikan Ganesha e-mail: * mugirahpenusupan27@gmail. com 2rendy@undiksha. Abstrak. Kemampuan kreativitas anak usia dini merupakan aspek penting dalam perkembangan, namun masih banyak anak yang mengalami keterbatasan dalam mengekspresikan imajinasi dan Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap permasalahan ini adalah metode pembelajaran yang kurang memberikan ruang bagi anak untuk bereksplorasi secara bebas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak kelompok B melalui kegiatan menggambar dan mewarnai dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini dilaksanakan di TK Cempaka PGRI. Kecamatan Sruweng. Kabupaten Kebumen, dengan melibatkan 16 anak usia 4-6 tahun sebagai subjek penelitian. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, dengan setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan pendidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan CTL dalam kegiatan menggambar dan mewarnai dapat meningkatkan kreativitas anak, terutama dalam aspek imajinasi, ekspresi diri, dan keterampilan motorik halus. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan CTL efektif dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini. Oleh karena itu, pendekatan ini direkomendasikan bagi pendidik dan orang tua sebagai strategi pembelajaran yang dapat merangsang kreativitas anak sejak dini. Keywords: kreativitas, menggambar, mewarnai. Contextual Teaching Learning (CTL) , anak Abstract. Early childhood creativity is an important aspect of development, but many children still experience limitations in expressing their imagination and creativity. One of the factors contributing to this problem is the learning method that does not provide enough space for children to explore This study aims to improve the creativity of group B children through drawing and coloring activities with the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach. This study was conducted at Cempaka PGRI Kindergarten. Sruweng District. Kebumen Regency, involving 16 children aged 46 years as research subjects. The method used is classroom action research consisting of two cycles, with each cycle including planning, implementation, observation, and reflection. Data collection was carried out through observation, documentation, and interviews with educators. The results of the study showed that the application of the CTL approach in drawing and coloring activities can improve children's creativity, especially in the aspects of imagination, self-expression, and fine motor skills. These findings indicate that the CTL approach is effective in developing early childhood creativity. Therefore, this approach is recommended for educators and parents as a learning strategy that can stimulate children's creativity from an early age. Keywords: creativity, drawing, coloring. Contextual Teaching Learning (CTL), group B children Mugirah dan Rendy Setyowahyudi PENDAHULUAN Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak usia dini yang berperan dalam membentuk pola pikir inovatif, fleksibel, dan mampu memecahkan masalah secara mandiri. Kreativitas pada anak usia dini mencakup kemampuan untuk mengekspresikan ide, berimajinasi, serta menemukan solusi baru dalam berbagai situasi Telaumbanua. , & BuAoulolo. Menurut Almaghfiroh. , dkk. kreativitas anak berkembang melalui interaksi dengan lingkungan dan stimulasi yang diberikan oleh orang dewasa, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman sehari-hari. Anak yang memiliki kreativitas tinggi cenderung lebih adaptif dalam menghadapi tantangan di masa depan, sehingga pengembangannya menjadi krusial sejak dini Guilford . Oleh karena itu, penting bagi pendidik dan orang tua untuk memberikan rangsangan yang tepat guna mendukung perkembangan kreativitas anak sejak usia dini. Masa usia dini sering disebut sebagai golden age, yaitu periode di mana perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat dan pengalaman yang diperoleh akan membentuk dasar bagi kemampuan kognitif, sosial, dan emosional mereka di masa depan (Santrock, 2. Pendidikan anak usia dini, khususnya di Taman Kanak-Kanak (TK), memiliki peran strategis dalam memberikan stimulasi yang dapat mendukung perkembangan anak secara optimal. Pendidikan di TK tidak hanya bertujuan untuk membangun keterampilan akademik dasar, tetapi juga untuk mengembangkan kreativitas melalui aktivitas yang merangsang imajinasi, seperti bermain, menggambar, dan mewarnai Hidayati. , dkk. Aktivitas menggambar dan mewarnai memberikan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, serta meningkatkan keterampilan motorik halus Faizin. Namun, dalam praktiknya, masih banyak pembelajaran di TK yang belum sepenuhnya mengakomodasi pengembangan kreativitas anak. Banyak metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan berfokus pada hasil akhir daripada proses eksplorasi anak Safitri. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menjadi salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kreativitas anak melalui kegiatan menggambar dan mewarnai. Pendekatan ini menekankan keterkaitan antara pengalaman belajar dengan Mugirah dan Rendy Setyowahyudi kehidupan nyata anak, sehingga mereka lebih aktif dan terlibat dalam pembelajaran (Yolanda. , 2. Beberapa penelitian sebelumnya telah menyoroti pentingnya pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong kreativitas anak usia dini. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Putri. menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis permainan dapat meningkatkan kreativitas anak dalam berbagai aspek, termasuk keterampilan berpikir divergen dan imajinasi. Sementara itu, penelitian oleh Aulia. , & Mahmudah . menemukan bahwa metode berbasis seni, seperti menggambar dan mewarnai, berkontribusi dalam meningkatkan ekspresi diri dan kepercayaan diri anak. Namun, penelitian yang secara spesifik mengkaji efektivitas pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam mengembangkan kreativitas anak melalui kegiatan menggambar dan mewarnai masih terbatas. Pendekatan CTL menekankan keterkaitan antara pengalaman belajar dengan kehidupan nyata anak, sehingga mereka lebih aktif dan terlibat dalam pembelajaran (Mahbubi. , & SaAodiyah. , 2. Pendekatan ini tidak hanya membantu anak memahami konsep secara lebih konkret, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kreatif melalui pengalaman langsung dan refleksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan pendekatan CTL dalam meningkatkan kreativitas anak kelompok B melalui kegiatan menggambar dan mewarnai. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan anak usia dini dengan memberikan wawasan mengenai strategi pembelajaran yang dapat mengoptimalkan potensi kreativitas anak sejak usia dini. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak Cempaka PGRI Penusupan. Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen, khususnya dalam kegiatan menggambar dan mewarnai, ditemukan adanya masalah terkait rendahnya tingkat kreativitas anak. Hal ini terlihat dari beberapa kondisi yang ada. Pertama, dalam kegiatan menggambar dan mewarnai yang melibatkan 16 anak usia 4-6 tahun, hanya 4 anak . %) yang berhasil menyelesaikan tugas dengan hasil yang sesuai harapan, sementara 12 anak . %) belum mencapai hasil yang diinginkan. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa Mugirah dan Rendy Setyowahyudi faktor, salah satunya adalah kurangnya stimulasi dari guru serta kurangnya penguasaan guru terhadap berbagai teknik dan kegiatan yang berkaitan dengan menggambar dan mewarnai. Akibatnya, anak-anak kurang termotivasi untuk menyelesaikan kegiatan tersebut. Selain itu, pendekatan yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran dirasa kurang tepat, yang membuat anak merasa bosan dan kurang tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran. Pembelajaran pada anak usia dini seharusnya dirancang untuk membuat siswa lebih aktif sebagai subjek dalam proses pembelajaran, bukan sekadar objek. Anak-anak perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah dan menemukan ide-ide mereka sendiri dalam pembelajaran. Salah satu Pendekatan pembelajaran melalui Contextual Teaching Learning (CTL) menekankan keterlibatan aktif siswa dalam menghubungkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata yang mereka alami. Dengan cara ini, siswa didorong untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka akan merasa lebih termotivasi dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, siswa akan belajar untuk mencari informasi dan berdiskusi dengan teman-temannya, yang pada gilirannya akan merangsang kemampuan berpikir mereka. Mereka dapat mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki dengan informasi baru yang dipelajari. Oleh karena itu, dalam pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching Learning, siswa tidak hanya terbatas pada mendengarkan atau membaca, tetapi juga akan belajar melalui pengalaman langsung yang mereka alami. Kreativitas pada anak tidak hanya terbatas pada seni, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir alternatif, menyelesaikan masalah, serta mengekspresikan gagasan dengan cara yang unik dan orisinal Rachmanto et al. Dalam konteks pembelajaran anak usia dini, kreativitas sering kali dikaitkan dengan kegiatan seni, seperti menggambar dan mewarnai, karena aktivitas ini memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri secara bebas serta melatih keterampilan berpikir kreatif. Hubungan antara kreativitas dan seni sangat erat, karena melalui seni, anak-anak dapat mengasah kemampuan imajinasi, eksplorasi warna dan bentuk, serta keterampilan motorik halus yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial mereka Pamadi . Oleh karena itu. Mugirah dan Rendy Setyowahyudi kreativitas anak tidak hanya berfungsi dalam bidang seni, tetapi juga menjadi bekal bagi perkembangan mereka di berbagai aspek kehidupan. Salah satu faktor yang mendukung pengembangan kreativitas anak adalah perkembangan motorik halus. Menurut Sumantri . , keterampilan motorik halus melibatkan koordinasi mata dan tangan dalam aktivitas yang memerlukan ketelitian, seperti menggambar dan mewarnai. Aktivitas ini tidak hanya melatih ketepatan gerakan dan koordinasi tangan-mata, tetapi juga merangsang daya imajinasi anak, yang menjadi dasar dari kreativitas. Selain itu, menggambar dan mewarnai juga dapat membantu anak dalam mengembangkan keterampilan berpikir simbolis, di mana mereka belajar menghubungkan pengalaman nyata dengan representasi visual. Harianja. Siringar & Lubis . mengungkapkan bahwa anak yang aktif menggambar dan mewarnai menunjukkan peningkatan kreativitas yang lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya diberikan pembelajaran berbasis teori tanpa praktik visual. Dalam proses pembelajaran, pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dipilih sebagai solusi untuk meningkatkan kreativitas anak dalam menggambar dan mewarnai. Pendekatan ini menekankan pada hubungan antara materi pembelajaran dengan pengalaman nyata anak, sehingga mereka lebih mudah memahami dan mengaplikasikan konsep yang dipelajari dalam kehidupan seharihari Musfiroh . CTL dalam kegiatan menggambar dan mewarnai memungkinkan anak untuk tidak hanya meniru bentuk-bentuk yang telah ada, tetapi juga mengeksplorasi berbagai ide baru berdasarkan pengalaman dan imajinasi mereka sendiri. Supriaji et al. menyatakan bahwa pembelajaran berbasis CTL dapat membantu anak lebih mandiri dalam berpikir, karena mereka terdorong untuk menghubungkan konsep yang dipelajari dengan dunia nyata. Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional yang lebih bersifat instruksional dan kurang memberikan ruang eksplorasi bagi anak, pendekatan CTL dalam menggambar dan mewarnai menawarkan pengalaman belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan interaktif. Dalam penelitian sebelumnya, pembelajaran menggambar dan mewarnai masih didominasi oleh metode ceramah dan instruksi langsung dari guru, sehingga anak lebih cenderung meniru dan kurang memiliki kesempatan untuk mengekspresikan kreativitasnya secara mandiri Khotimah Mugirah dan Rendy Setyowahyudi . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak melalui pendekatan CTL dalam menggambar dan mewarnai, dengan memberikan lebih banyak kesempatan bagi mereka untuk bereksperimen dengan warna, bentuk, dan komposisi gambar. Penelitian ini berfokus pada dimensi kreativitas dalam menggambar dan mewarnai, yang mencakup kemampuan anak dalam mengekspresikan ide secara visual, penggunaan warna yang variatif, serta keberanian dalam mengeksplorasi bentuk dan pola yang tidak biasa. Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) ini, diharapkan diperoleh model pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini, yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks pembelajaran dengan karakteristik serupa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi bagi perkembangan seni pada anak, tetapi juga menjadi acuan bagi pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih inovatif dan mendorong kreativitas anak sejak dini. Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas peneliti mengambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, proses konstuksi ide yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan masalah, serta suatu kegiatan yang Kreativitas pada anak usia dini mengacu pada kemampuan anak untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang orisinal, imajinatif, dan inovatif. Hal ini sangat penting dalam pengembangan aspek kognitif, sosial, dan emosional anak. Berdasarkan permasalahan diatas, untuk meningkatkan kreativitas menggambar dan mewarnai melalui pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dianggap sangat tepat bagi anak kelompok B. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang memudahkan proses pembelajaran, serta memberikan solusi yang efektif bagi guru dan anak-anak usia dini. Dengan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan kreativitas anak kelompok B melalui kegiatan menggambar dan mewarnai dengan pendekatan contextual teaching learning (CTL) Mugirah dan Rendy Setyowahyudi METODE Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan metode pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) yang tujuannya adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan yang diajarkan dengan situasi dan pengalaman nyata yang relevan dengan kehidupan Contextual teaching learning (CTL) dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan dapat membantu siswa memahami konsep lebih baik melalui pengalaman langsung. Penelitian ini menggunakan tehnik pengumpulan data yaitu dengan Observasi, analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dengan melihat kemampuan menggambar dan mewarnai anak melalui Pendekatan Teaching Learning (CTL). Untuk mengetahui keberhasilan observer memberikan tanda cheklist pada kolom lembar pengamatan. Analisis hasil pengamatan belajar digunakan untuk menghitung peningkatan kemampuan dalam menggambar dan mewarnai melalui pendekatan Contextual Teaching Learning pada anak kelompok Pengamatan terhadap anak pada lembar obserfasi dalam menggambar dan Penelitian ini dilaksanakan di TK Cempaka PGRI Penusupan, yang terletak di Dukuh Patok Desa Penusupan. Kecamatan Sruweng. Kabupaten Kebumen dengan Jumlah anak didik yang terdaftar di kelompok B usia 4-6 tahun sebanyak 16 anak. Adapun tenaga pendidik di sekolah ini terdiri dari 1 Kepala Sekolah dan 1 Guru Kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang dirancang untuk mengamati dan meningkatkan kreativitas anak dalam menggambar dan mewarnai. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yang dijelaskan sebagai berikut. Pada siklus I, tahap perencanaan melibatkan penyusunan rencana pembelajaran berbasis CTL, termasuk menyiapkan media seperti lembar kerja mewarnai, kertas gambar, pensil warna, dan krayon. Pada tahap pelaksanaan, guru memberikan contoh menggambar dan mewarnai dengan teknik eksploratif serta membimbing anak dalam proses tersebut. Selama observasi, partisipasi dan kreativitas anak diamati menggunakan lembar observasi dengan indikator keterlibatan, imajinasi, serta ekspresi warna dan bentuk. Pada tahap refleksi, hasil evaluasi siklus I dianalisis untuk menentukan aspek yang perlu diperbaiki dalam siklus berikutnya. Mugirah dan Rendy Setyowahyudi Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, dilakukan perbaikan strategi pada siklus II. Pada tahap perencanaan, media pembelajaran diperluas dengan penggunaan cat air dan kertas bertekstur agar anak lebih bebas berekspresi. Pada tahap pelaksanaan, kegiatan menggambar dilakukan secara lebih interaktif dengan aktivitas kolaboratif dan diskusi warna. Observasi dilakukan untuk menilai peningkatan kreativitas anak dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Hasil pengamatan kemudian dianalisis pada tahap refleksi untuk melihat efektivitas pendekatan CTL dalam meningkatkan kreativitas anak. Dari kegiatan perbaikan yang sudah dilaksanakan yaitu dengan menggunakan Metode Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) kreativitas dalam hasil belajar anak didik diharapkan dapat meningkat. Karena pada awalnya metode yang digunakan oleh guru masih konvensional, yang tentunya kadang anak didik mengeluh dan merasa jenuh dengan kegiatan menggambar dan mewarnai. Rendahnya kreativitas dan hasil belajar anak didik dalam kegiatan menggambar dan mewarnai disebabkan masih monotonnya penggunaan metode ceramah. Maka dari itu perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan metode pendekatan contextual teaching learning. Metode ini digunakan pada siklus pertama dan kedua untuk mendapatkan kreativitas dan hasil belajar anak didik yang optimal. Indikator yang digunakan dalam lingkup pengembangan motorik halus dan untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan Kreativitas menggambar dan mewarnai di Tingkat kreativitas anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan Kesungguhan anak dalam kegiatan menggambar dan mewarnai dan Hasil belajar anak dalam menggambar dan mewarnai meningkat. Kriteria keberhasilan untuk mengukur tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran, peneliti menargetkan sebagai berikut : . Proses perbaikan dinyatakan mencapai keberhasilan jika kreativitas dan hasil belajar anak dalam menggambar dan mewarnai mencapai 75 %, . Tindakan yang dilakukan dinyatakan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menggambar dan mewarnai jika anak didik mampu melaksanakan 2 dari 3 indikator yang dipersyaratkan, . Symbol nilai yang digunakan yaitu : . BB yang berarti kreativitas dan hasil belajar anak belum berkembang . BSH yang berarti kreativitas dan hasil belajar anak Mugirah dan Rendy Setyowahyudi berkembang sesuai harapan . BSB yang berarti kreativitas dan hasil belajar anak berkembang sangat baik. Setelah proses observasi dilakukan, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil pengamatan akan dihitung berdasarkan persentase keberhasilan yang dicapai oleh anak didik dalam tiga indikator utama yang telah ditetapkan: kreativitas, kesungguhan, dan hasil belajar dalam menggambar dan mewarnai. Adapun Langkah-langkah analisis Menghitung persentase keberhasilan Untuk setiap anak, persentase keberhasilan dalam setiap indikator akan dihitung berdasarkan jumlah tanda checklist yang tercatat pada lembar observasi. Penilaian Perkembangan anak akan dianalisis untuk melihat apakah ada peningkatan dalam kreativitas dan hasil belajar mereka setelah penerapan pendekatan CTL. Evaluasi dan refleksi Berdasarkan hasil analisis, guru akan mengevaluasi apakah tujuan pembelajaran tercapai dan merencanakan perbaikan untuk siklus berikutnya jika diperlukan. Dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL), diharapkan anak-anak dapat menghubungkan konsep menggambar dan mewarnai dengan pengalaman nyata yang relevan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat meningkatkan kreativitas mereka. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pada tahapan pra-siklus, sebelum dilakukan perbaikan pengamatan terhadap pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kondisi awal atau gambaran umum dari proses dan hasil belajar. Dari pengamatan ini, dapat diidentifikasi masalah yang perlu diperbaiki. Pada tahap ini belum ada intervensi atau perbaikan yang dilakukan. Informasi yang diperoleh dari pra-siklus ini menjadi dasar untuk merancang tindakan yang perlu diambil dalam siklus-siklus berikutnya pada pra siklus ada 4 siswa . %) yang telah berkembang sangat baik dari 16 siswa yang terdaftar dan dapat dilihat pada tabel berikut: Mugirah dan Rendy Setyowahyudi Tabel 1. Tahap Pra siklus Keterangan Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa yang terdaftar Siswa yang berkembang sangat Siswa yang Belum Berkembang Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran di TK Cempaka PGRI Kecamatan sruweng Kabupaten Kebumen , dalam satu kelas dari 16 anak yang mampu melaksanakan tugas hanya 25% atau 4 anak. Pada dasarnya anak dapat menggambar dan mewarnai secara sederhana, namun mereka dalam menggambar dan mewarnai imajinasinya belum muncul, selalu harus diberikan contoh gambar model yang dipampang. Pada kegiatan pelaksanaan pada siklus pertama (I), kreativitas dan hasil belajar anak dalam kegiatan menggambar dan mewarnai belum berhasil sesuai yang diharapkan, karena pada siklus pertama (I) peningkatan kreativitas dan hasil belajar baru mencapai 50% atau 8 anak yang kreatif dalam kegiatan menggambar dan mewarnai melalui penggunaan pendekatan contextual teaching learning (CTL). Keadaan anak pada awalnya sebagian belum memahami metode yang dilaksanakan. Pada siklus pertama perbaikan hasil pembelajaran belum memadai karena hanya 50% siswa yang berhasil . akni 8 dari 16 sisw. mencapai kriteria keberhasilan yang ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan belum cukup efektif dan perlu dilanjutkan dengan tindakan perbaikan yang lebih baik di siklus berikutnya data dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2. Data Tahapan Pelaksanaan siklus satu Kererangan Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa yang terdaftar Siswa yang berkembang sangat baik Siswa yang Belum Berkembang Pada siklus kedua, tindakan perbaikan dilakukan berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama. Tindakan yang telah diperbaiki atau disesuaikan dengan kebutuhan siswa diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Mugirah dan Rendy Setyowahyudi Setelah dilaksanakan, hasil pembelajaran siswa menunjukkan peningkatan yang Dari 16 siswa yang terlibat, 13 siswa . ,25%) berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan, sedangkan hanya 3 siswa . ,75%) yang belum Pada siklus kedua (II), anak-anak diberi kegiatan menggambar dan mewarnai dengan lebih bervariasi dan pemberian motivasi yang berulang-ulang, maka anak terlihat lebih senang dan bersemangat, karena melalui penggunaan metode Contextual Teaching Learning dengan pembelajaran dilakukan dengan melihat secara langsung obyek yang akan digambar oleh anak, di mana kelima indera anak terlibat secara langsung. Pada siklus kedua ini dalam kegiatan pembelajaran sudah tercapai, karena anak yang berhasil menggambar dan mewarnai sudah mencapai mencapai 81,25% atau 13 anak dan yang tidak berhasil ada 3 anak atau 18,75%. Tabel 3. Data pelaksanaan siklus ke dua Keterangan Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa yang terdaftar Siswa yang berkembang sangat 81,25% 18,75% Siswa yang Belum Berkembang Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran dari Tiap Siklus yaitu siklus pertama (I) Melalui 4 tahapan siklus: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi, maka pada pra siklus diketahui kondisi awal anak yang berhasil baru 4 anak dari 16 anak ( 25%), dan di lakukan perbaikan siklus dari siklus pertama perbaikan pembelajaran belum berhasil karena baru 50 % atau 8 anak. Siklus Kedua, setelah dilakukan perbaikan di siklus kedua ternyata dari 16 anak, jumlah anak yang berhasil 13 anak . ,25 %) dan yang belum berhasil 3 anak . ,75 %), maka perbaikan pembelajaran dinyatakan selesai pada siklus yang Hasil pengolahan data setelah peneliti melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II, maka diperoleh hasil belajar yang dicapai anak didik seperti ditunjukkan pada tabel rekapitulasi berikut : Mugirah dan Rendy Setyowahyudi Tabel 4. Rekapitulasi anak berhasil dan tidak berhasil Anak yang berhasil Berkembang Kegiatan Belum Berkembang Sesuai Pembelajaran Berkembang Sangat Baik Harapan Jumlah % Jumlah Jumlah Kondisi awal Jumlah Siklus I 18,75 31,25 Siklus II 6,25 81,25 Gambar 1. grafik Prosentase Peningkatan Perbaikan Dari perolehan data tersebut menunjukkan adanya peningkatan perbaikan pembelajaran pada kegiatan menggambar dan mewarnai melalui metode pendekatan CTL. Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran kegiatan menggambar dan mewarnai menggunakan model PTK yang dilakukan dalam 2 siklus, ditemukan hal-hal sebagai berikut Pembelajaran menggambar dan mewarnai sangat menyenangkan sehingga anak sangat berminat pada kegiatan ini. Semangatnya anak-anak dalam melaksanakan kegiatan menggambar dan mewarnai dilaksanakan dengan cara anak terlibat aktif sehingga tidak merasa kesulitan lagi bagi guru. Rasa kemauan yang besar tumbuh dalam diri anak sehingga kreativitas hasil belajar dalam menggambar dan mewarnai cukup baik. Dengan refleksi pada perbaikan kegiatan pembelajaran yang sudah dilaksanakan, peneliti menemukan beberapa kelemahan yang dapat mengurangi validitas dan realibilitas temuan diantaranya Penelitian tindakan kelas (PTK) memerlukan komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya. Faktor waktu ini dapat menjadi kendala besar karena peneliti yang sebagai guru harus membagi Mugirah dan Rendy Setyowahyudi waktunya untuk melaksanakan tugas rutinnya dan untuk melakukan peneliti pemahaman dalam teknis dasar peneliti, sehingga peneliti . pada umumnya kurang tertarik untuk melakukan penelitian juga merupakan kurangnya pemahaman PTK. Pelaksanaan Perbaikan kegiatan pembelajaran menggambar dan mewarnai anak dilaksanakan dalam dua siklus ternyata menunjukkan peningkatan yang sangat Pada hasil rekapitulasi menunjukkan adanya terlaksananya pembelajaran menggambar dan mewarnai anak pada setiap siklus. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran tersebut sangat membantu anak dalam belajar, bekerja sama dengan teman sehingga anak termotivasi untuk belajar dan pada akhirnya keberhasilan belajar anak meningkat. Pada siklus I, guru memperkenalkan kegiatan menggambar dan mewarnai dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) melalui tema objek yang berhubungan dengan lingkungan sekitar, seperti rumah, pohon, dan hewan. Kegiatan ini diawali dengan diskusi singkat, di mana guru mengajak anak-anak untuk mengingat dan menceritakan pengalaman mereka melihat objek-objek tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun, observasi menunjukkan bahwa sebagian anak masih mengalami kesulitan dalam mengekspresikan ide mereka ke dalam gambar, terutama dalam menentukan bentuk dan warna. Beberapa anak tampak ragu-ragu saat menggambar dan lebih banyak meniru contoh yang diberikan guru, sementara yang lain mulai menunjukkan kreativitas dengan menambahkan detail unik pada gambar mereka. Secara kuantitatif, dari 16 anak, hanya 8 anak . %) yang berhasil menunjukkan kreativitas dalam menggambar dan mewarnai, sedangkan 8 anak lainnya . %) masih mengalami kesulitan. Meskipun hasil ini lebih baik dibandingkan kondisi awal . anya 4 anak atau 25% yang menunjukkan kreativita. , refleksi pada akhir siklus menunjukkan bahwa anakanak masih membutuhkan variasi aktivitas dan lebih banyak kebebasan dalam berekspresi untuk meningkatkan kreativitas mereka. Oleh karena itu, dalam perencanaan siklus II, guru memutuskan untuk menambahkan variasi teknik dan meningkatkan keterlibatan anak dalam memilih tema serta warna. Pada siklus II, strategi pembelajaran diperbaiki dengan memberikan tema yang lebih menantang dan imajinatif, yaitu "Petualangan di Alam". Dalam kegiatan Mugirah dan Rendy Setyowahyudi ini, anak-anak diberi kebebasan untuk menggambarkan pengalaman petualangan sesuai dengan imajinasi mereka, tanpa batasan bentuk atau warna tertentu. Guru juga lebih aktif mengajak anak berdiskusi sebelum menggambar, seperti bertanya tentang hal-hal menarik yang pernah mereka lihat di alam, warna yang mereka sukai, dan bagaimana perasaan mereka saat berada di tempat tersebut. Perubahan strategi ini menghasilkan respon yang lebih positif dari anak-anak. Observasi menunjukkan bahwa anak-anak lebih berani bereksperimen dengan warna, bentuk, dan komposisi gambar. Mereka mulai mengembangkan cerita dalam gambar mereka, seperti menggambarkan petualangan di hutan, gunung, atau sungai, dengan tambahan unsur seperti matahari, burung, dan awan yang sebelumnya jarang mereka gambar. Mereka juga lebih percaya diri dalam menyampaikan cerita di balik gambar mereka kepada teman dan guru. Dari hasil observasi, terjadi peningkatan signifikan dalam kreativitas anak, di mana 13 dari 16 anak . ,25%) berhasil mengekspresikan ide kreatif mereka melalui menggambar dan mewarnai, sementara 3 anak lainnya . ,8%) masih memerlukan bimbingan lebih lanjut. Dari hasil dua siklus ini, dapat disimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran melalui pendekatan CTL efektif dalam meningkatkan kreativitas anak dalam menggambar dan mewarnai. Perubahan yang diterapkan, seperti penyesuaian tema yang lebih terbuka, pemberian kebebasan eksplorasi warna dan bentuk, serta peningkatan interaksi melalui diskusi reflektif, terbukti mampu membuat anak lebih terlibat dan menikmati proses pembelajaran. Dengan strategi ini, anak-anak tidak hanya belajar menggambar dan mewarnai, tetapi juga mengembangkan kepercayaan diri, imajinasi, dan keterampilan berpikir kreatif. Oleh karena itu, perbaikan pembelajaran dalam penelitian ini dinyatakan berhasil, dan pendekatan CTL direkomendasikan untuk diterapkan di kelas dengan karakteristik serupa guna menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi anak usia Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam kegiatan menggambar dan mewarnai terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kreativitas anak. Pada awalnya, beberapa anak masih ragu-ragu dan kesulitan memulai kegiatan menggambar, terutama dalam mengekspresikan ide mereka secara mandiri. Namun, setelah guru menghubungkan kegiatan Mugirah dan Rendy Setyowahyudi menggambar dengan pengalaman nyata anak, seperti mengingat kembali kejadian sehari-hari atau objek yang sering mereka lihat di lingkungan sekitar, anak-anak mulai lebih termotivasi, percaya diri, dan berani bereksperimen dalam menggambar dan mewarnai. Hal ini sejalan dengan teori CTL, yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berbasis pengalaman dan relevan dengan kehidupan nyata dapat meningkatkan keterlibatan serta pemahaman anak terhadap materi (Suyanto, 2. Refleksi dari siklus pertama menunjukkan bahwa meskipun beberapa anak mulai menunjukkan kreativitas, masih terdapat kendala dalam eksplorasi warna dan komposisi gambar. Anak-anak cenderung meniru contoh yang diberikan oleh guru dan kurang bereksperimen dalam menggambar. Untuk mengatasi hal ini, pada siklus kedua, perbaikan dilakukan dengan meningkatkan interaksi diskusi sebelum menggambar, memberikan kebebasan eksplorasi warna dan bentuk, serta menerapkan tema yang lebih imajinatif, seperti "Petualangan di Alam". Perubahan ini terbukti efektif, karena anak-anak menjadi lebih aktif dalam menuangkan ideide kreatif, bahkan beberapa anak mulai menambahkan elemen tambahan yang tidak diajarkan secara langsung, seperti awan, matahari, dan burung. Temuan ini sejalan dengan penelitian Larasati et al. , yang menyatakan bahwa proses kreatif berkembang lebih baik ketika anak diberi kebebasan untuk menyesuaikan ide mereka dalam konteks yang relevan dan menarik. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, temuan dalam penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa menggunakan metode pembelajaran berbasis kontekstual lebih efektif dibandingkan metode konvensional yang hanya berfokus pada instruksi dan contoh. Rachmanto et al. menjelaskan bahwa mengembangkan kreativitas anak tidak hanya mendukung perkembangan karier di bidang seni, tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan Selain itu. Ukar. Taib, & Alhadad . menekankan bahwa menggambar merupakan salah satu aktivitas yang disukai anak-anak, tetapi hasil kreativitas mereka akan lebih berkembang jika diberikan kebebasan dalam berekspresi dan diarahkan sesuai tahap perkembangan mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CTL dalam menggambar dan mewarnai tidak hanya meningkatkan kreativitas anak, tetapi juga menciptakan proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan Mugirah dan Rendy Setyowahyudi bermakna. Anak menjadi lebih aktif, percaya diri, dan mampu mengekspresikan ide mereka dengan lebih bebas, dibandingkan ketika mereka hanya mengikuti instruksi secara pasif. Temuan ini mendukung hasil penelitian Supriaji et al. , yang menyatakan bahwa CTL dapat menjadi pendekatan efektif dalam pengembangan seni visual anak usia dini. Oleh karena itu, pendekatan ini direkomendasikan bagi pendidik yang ingin menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan merangsang kreativitas anak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan observasi selama dua siklus tindakan perbaikan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam kegiatan menggambar dan mewarnai telah meningkatkan kreativitas anak secara signifikan, terutama dalam aspek imajinasi, ekspresi diri melalui warna, dan keterampilan motorik halus. Perbaikan pembelajaran yang dilakukan meliputi penggunaan media yang lebih variatif seperti kertas bertekstur, cat air, dan krayon, pemberian kebebasan eksplorasi dalam menggambar, kegiatan berbasis pengalaman nyata, serta keterlibatan aktif anak dalam refleksi hasil karyanya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode konvensional yang cenderung monoton, karena mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi anak dalam berkarya. Hasil penelitian ini dapat menjadi inspirasi bagi pendidik dan praktisi pendidikan anak usia dini dalam menerapkan strategi pembelajaran berbasis CTL di kelas dengan karakteristik serupa, dengan tetap menyesuaikan media dan metode pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi anak. DAFTAR PUSTAKA