Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani1. Naila Faizzatis Syifa2. Khusnul Wahyu Pradhana3. Sulastri4. Astutik5 Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta Email: aneeta. wayway@gmail. com1, naila122087@gmail. khusnulwahyu95@gmail. com3, su2210037@gmail. astutikpiaud02@gmail. Abstract The purpose of this study is to describe the multiple intelligence of early childhood in naturalistic play spaces and identify hidden potentials that arise during play activities in RA Chairunnissa for the 2025/2026 Academic Year. Qualitative methods with phenomenological approaches are used in this study. The research subjects consisted of group B children and classroom teachers. Data collection techniques are carried out through participatory observation, semi-structured interviews, documentation in the form of children's works and photos of activities. Data was analyzed using an interactive analysis model that included data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The validity of the data was obtained through triangulation techniques and source The results of the study show that naturalistic play spaces are able to provide meaningful learning experiences and stimulate various interpersonal, linguistic, and visual spatial intelligence. Children become more active, confident, communicative, creative, and able to show problem-solving skills through direct interaction with natural materials and outdoor play Some children who appear passive in classroom learning show leadership, creativity, social sensitivity, and curiosity when in a naturalistic Thus, naturalistic playrooms can be an effective learning environment to uncover hidden potential and support early childhood development holistically. Keywords: Multiple Intelligence. Early Childhood. Naturalistic Intelligence. Play Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kecerdasan majemuk anak usia dini dalam ruang bermain naturalistik serta mengidentifikasi potensi tersembunyi yang muncul selama kegiatan bermain di RA Chairunnissa Tahun Ajaran 2025/2026. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan dalam kajian ini. Subjek penelitian terdiri atas anak kelompok B dan guru kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dokumentasi berupa hasil karya anak dan foto Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa ruang bermain naturalistik mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menstimulasi berbagai kecerdasan majemuk anak, terutama kecerdasan naturalistik, kinestetik, interpersonal, linguistik, dan visual spasial. Anak menjadi lebih aktif, percaya diri, komunikatif, kreatif, serta mampu menunjukkan kemampuan pemecahan masalah melalui interaksi langsung dengan bahan alam dan kegiatan bermain luar ruangan. Beberapa anak yang tampak pasif dalam pembelajaran kelas menunjukkan kepemimpinan, kreativitas, kepekaan sosial, dan rasa ingin tahu ketika berada dalam ruang bermain naturalistik. Dengan demikian, ruang bermain naturalistik dapat menjadi lingkungan belajar yang efektif untuk mengungkap potensi tersembunyi dan mendukung perkembangan anak usia dini secara holistik. Kata kunci: Anak Usia Dini. Bermain. Kecerdasan Majemuk. Kecerdasan Naturalistik Introduction Anak usia dini merupakan individu yang berada pada masa golden age, yaitu periode perkembangan yang sangat pesat sehingga perkembangannya dapat tumbuh secara optimal. Pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga harus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan melalui kegiatan bermain yang bermakna agar potensi anak berkembang secara Faruq & Subhi . menjelaskan bahwa teori kecerdasan majemuk Howard Gardner menegaskan bahwa setiap anak memiliki beragam jenis kecerdasan yang perlu dikembangkan melalui strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Selain itu. Pratiwi . menyatakan bahwa pengembangan kecerdasan majemuk pada anak usia dini dapat dilakukan melalui lingkungan belajar yang aktif, kreatif, dan memberikan stimulasi yang beragam sehingga anak mampu mengembangkan potensi dirinya secara Lingkungan mengembangkan kecerdasan majemuk anak usia dini, terutama melalui penyediaan ruang bermain yang mampu memberikan pengalaman belajar secara langsung dan bermakna. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, ruang bermain naturalistik menjadi salah satu media yang efektif untuk menggali potensi anak yang sering kali belum terlihat Ruang memanfaatkan unsur-unsur alam seperti tanah, pasir, air, batu, tumbuhan, dan bahan alam lainnya sehingga anak dapat mengeksplorasi lingkungan secara bebas, kreatif, dan menyenangkan. Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. Muslimin . menegaskan bahwa lingkungan bermain berbasis alam mampu merangsang perkembangan berbagai kecerdasan anak, seperti kecerdasan naturalistik, kinestetik, interpersonal, dan visual spasial melalui aktivitas eksplorasi dan interaksi langsung dengan lingkungan. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa ruang bermain naturalistik dapat membantu guru mengenali potensi tersembunyi anak usia dini karena anak lebih bebas mengekspresikan kemampuan, minat, dan kreativitasnya melalui kegiatan bermain alami di lingkungan sekitar. Konsep kecerdasan majemuk dalam pendidikan anak usia dini semakin relevan diterapkan karena setiap anak memiliki potensi dan keunikan yang berbeda yang tidak selalu terlihat melalui pembelajaran akademik konvensional. Ardiana . menyatakan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk mampu membantu guru mengenali serta mengembangkan berbagai potensi anak melalui kegiatan belajar yang sesuai dengan karakteristik dan minat anak. Senada dengan Rahayu . yang menunjukkan bahwa aktivitas bermain berbasis kecerdasan majemuk dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, bermakna, dan berpusat pada anak sehingga mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional secara Kegiatan bermain dalam ruang naturalistik juga dapat menjadi media yang efektif dalam menstimulasi berbagai kecerdasan anak. Aktivitas eksplorasi alam, permainan tradisional, hingga sentra bahan alam terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, koordinasi motorik, kemampuan sosial, serta kecerdasan naturalistik anak usia dini (Masika, 2. Selain itu, pembelajaran berbasis kegiatan bermain kreatif di lingkungan alam mampu memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui pengamatan dan interaksi nyata dengan lingkungan sekitar (Sinaga & Timbange. Pendekatan pembelajaran berbasis alam menjadi salah satu metode yang efektif diterapkan dalam pendidikan anak usia dini karena mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata, aktif, dan bermakna bagi anak. Prawesti . mengungkapkan bahwa pembelajaran naturalistik membantu anak mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan sosial melalui aktivitas eksplorasi dan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar. Selain itu. Wulandari . menjelaskan bahwa kegiatan bermain di alam terbuka juga mendukung perkembangan motorik kasar dan halus Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik anak karena anak dapat bergerak secara bebas, aktif, dan kreatif selama proses pembelajaran berlangsung. RA Chairunnisa di Sukoharjo memiliki karakteristik pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan bermain sebagai sarana stimulasi perkembangan anak usia dini, khususnya melalui aktivitas bermain berbasis alam. Wellyansari . Menegaskan bahwa lingkungan bermain naturalistik dapat membantu memunculkan potensi kecerdasan anak yang sering kali tidak terlihat dalam pembelajaran formal di kelas karena anak lebih bebas mengekspresikan kemampuan dan minatnya. Selain itu, penelitian oleh Fitri . Menunjukkan bahwa observasi terhadap aktivitas anak di ruang bermain alami mampu membantu guru mengidentifikasi kecerdasan majemuk dan potensi tersembunyi anak secara lebih mendalam melalui interaksi, eksplorasi, dan pengalaman belajar langsung. Menurut Nisa & idris . Pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan majemuk mampu membantu guru memahami keunikan dan kebutuhan setiap anak sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan bermakna. Selain itu. Ginting . Menjelaskan bahwa pemanfaatan lingkungan bermain naturalistik dapat menjadi sarana efektif dalam mengembangkan potensi serta keberagaman kecerdasan anak usia dini melalui pengalaman belajar yang aktif dan kontekstual. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini ingin menstimulasi kecerdasan majemuk anak usia dini dalam ruang bermain naturalistik, yang penting dilakukan untuk memahami potensi anak yang berkembang melalui pengalaman bermain berbasis alam di RA Chairunnisa Tahun Ajaran 2025/2026. Method Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan serta memahami secara mendalam kecerdasan majemuk anak usia dini dalam ruang bermain naturalistik dan potensi-potensi tersembunyi yang muncul selama kegiatan bermain berlangsung di RA Chairunnisa Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian dilakukan secara langsung pada situasi alami sehingga peneliti dapat memperoleh data yang faktual, kontekstual, dan mendalam mengenai perilaku serta perkembangan anak selama proses pembelajaran berbasis alam berlangsung. Subjek penelitian dalam kajian ini terdiri atas 20 anak usia dini yang berasal dari dua kelas kelompok B . asing-masing kelas berjumlah 10 muri. serta 2 orang guru kelas sebagai informan utama Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. yang memahami perkembangan dan karakteristik anak secara harian. Penentuan subjek didasarkan pada kriteria keterlibatan anak secara penuh dalam aktivitas bermain naturalistik. Sementara itu, objek penelitian difokuskan pada fenomena kemunculan indikator kecerdasan majemuk dan dinamika potensi tersembunyi anak. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil Tahun Ajaran 2025/2026 di lingkungan bermain naturalistik RA Chairunnisa selama proses pembelajaran dan aktivitas bermain anak berlangsung. Peneliti melakukan pengamatan secara berulang pada berbagai kegiatan bermain berbasis alam seperti eksplorasi bahan alam, permainan luar ruangan, interaksi sosial anak, kegiatan motorik, dan aktivitas kreatif lainnya untuk memperoleh data yang konsisten dan mendalam. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri selaku instrumen kunci . ey instrumen. Selain itu, digunakan instrumen pendukung berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Pedoman observasi digunakan untuk mencatat aktivitas anak yang menunjukkan indikator kecerdasan Pedoman wawancara digunakan untuk memperoleh informasi mendalam dari guru kelas dan orang tua mengenai perkembangan, karakteristik, minat, serta potensi tersembunyi anak. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data pendukung berupa foto kegiatan dan hasil karya anak selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara partisipatif dengan mengamati langsung aktivitas anak di ruang bermain Wawancara dilakukan secara semi terstruktur kepada guru kelas untuk memperoleh data yang lebih mendalam mengenai perkembangan kecerdasan majemuk anak. Dokumentasi digunakan untuk memperkuat hasil observasi dan wawancara sehingga data yang diperoleh lebih lengkap dan akurat. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih data yang relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya data disajikan dalam bentuk uraian deskriptif sehingga memudahkan peneliti dalam memahami hubungan antar data. Tahap terakhir dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil temuan penelitian. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik . embandingkan hasil observasi, . embandingkan data dari guru kelas, orang tua, dan hasil pengamatan Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teknik dan Triangulasi membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari guru kelas dengan hasil pengamatan langsung terhadap aktivitas anak. Pendekatan ini digunakan untuk meningkatkan validitas dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian ini memiliki ruang lingkup terbatas pada pengamatan kecerdasan majemuk anak usia dini dalam aktivitas bermain naturalistik di RA Chairunnisa dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 20 anak dan 2 guru kelas. Result and Discussion Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini dalam Ruang Bermain Naturalistik Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di RA Chairunnisa Tahun Ajaran 2025/2026, ditemukan bahwa ruang bermain naturalistik mampu memberikan stimulasi terhadap berbagai jenis kecerdasan majemuk anak usia Aktivitas bermain yang dilakukan di lingkungan alam seperti menanam padi di sawah, bermain pasir, mengamati tumbuhan, permainan air, permainan kelompok di luar ruangan, serta kegiatan eksplorasi bahan alam memberikan kesempatan kepada anak untuk menampilkan potensi dan kemampuan yang selama ini belum terlihat secara optimal dalam pembelajaran di kelas. Anak terlihat lebih aktif, bebas, dan percaya diri ketika berada di ruang bermain naturalistik karena mereka dapat belajar melalui pengalaman langsung (Damayanti, 2. Gambar 1. Kegiatan menanam padi Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. Gambar 2. Kegiatan bermain pasir Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan naturalistik merupakan salah satu kecerdasan yang paling dominan. Anak mampu mengenali berbagai jenis tumbuhan, membedakan tekstur benda alam, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya. Beberapa anak terlihat antusias ketika mengamati daun, serangga kecil, dan batu-batuan yang ada di area Anak juga mulai menunjukkan perilaku peduli lingkungan seperti menyiram tanaman, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan area bermain. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan bermain berbasis alam memberikan pengalaman konkret yang mendukung perkembangan kecerdasan naturalistik anak usia dini (Subagia et al. , 2. Selain kecerdasan naturalistik, kecerdasan kinestetik juga berkembang pesat. Anak mampu menunjukkan koordinasi gerak tubuh yang baik ketika berlari, melompat, memanjat, dan melakukan permainan motorik lainnya. Aktivitas fisik yang dilakukan secara bebas membuat anak lebih aktif bergerak dan mampu mengembangkan keseimbangan tubuh serta keterampilan motorik kasar (Purwanti, 2. Guru menyampaikan bahwa beberapa anak yang cenderung pasif di dalam kelas justru terlihat sangat aktif dan percaya diri ketika mengikuti kegiatan bermain di luar ruangan. Aktivitas fisik yang dilakukan secara bebas di ruang bermain naturalistik membuat anak lebih aktif bergerak dan mampu mengembangkan keseimbangan tubuh serta keterampilan motorik kasar (Purwanti, 2. Guru menyampaikan bahwa beberapa anak yang cenderung pasif di dalam kelas justru terlihat sangat aktif dan percaya diri ketika mengikuti kegiatan bermain di luar ruangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ruang bermain naturalistik mampu menjadi media untuk memunculkan potensi tersembunyi anak yang tidak selalu terlihat dalam pembelajaran formal Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik Hasil wawancara dengan guru kelas menunjukkan bahwa kegiatan bermain naturalistik membuat anak lebih bebas menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Guru kelas B1 menyampaikan bahwa beberapa anak yang biasanya pasif saat pembelajaran di dalam kelas justru terlihat sangat aktif ketika bermain di luar ruangan. Guru menjelaskan bahwa anak menjadi lebih mudah berinteraksi, berani bertanya, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, guru juga menyatakan bahwa kegiatan bermain berbasis alam membantu anak belajar secara lebih alami karena anak memperoleh pengalaman langsung melalui aktivitas eksplorasi lingkungan. Hal ini sejalan dengan Hal ini sejalan dengan Sinaga & Timbange . Yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis kegiatan bermain kreatif di lingkungan alam dapat mengembangkan kecerdasan naturalistik anak karena anak memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui pengamatan dan interaksi nyata dengan lingkungan sekitar. Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan salah satu wali murid B1 yang menyampaikan bahwa setelah mengikuti kegiatan bermain naturalistik di sekolah, anak menjadi lebih peduli terhadap lingkungan di rumah. Anak mulai senang menyiram tanaman, mengamati serangga, dan bercerita mengenai kegiatan bermain alam yang dilakukan di sekolah. Wali murid juga mengungkapkan bahwa anak terlihat lebih percaya diri dan lebih aktif dalam berkomunikasi dibandingkan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Handayani & Ichsan . Yang menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis materi alam dapat meningkatkan kecerdasan naturalis anak usia dini karena anak memperoleh pengalaman belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan melalui unsur-unsur alam. Kecerdasan interpersonal juga tampak berkembang melalui kegiatan bermain kelompok. Anak belajar bekerja sama, berbagi alat permainan, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah bersama teman sebaya. Dalam kegiatan membuat bentuk dari bahan alam, misalnya, anak terlihat saling berdiskusi dan membantu satu sama lain untuk menyelesaikan tugas kelompok. Hal tersebut didukung oleh kecerdasan interpersonal yang tampak berkembang melalui kegiatan bermain kelompok. Anak belajar bekerja sama, berbagi alat permainan, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah bersama teman sebaya. Dalam kegiatan membuat bentuk dari bahan alam, misalnya, anak terlihat saling berdiskusi dan membantu satu sama Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. lain untuk menyelesaikan tugas kelompok. Interaksi sosial yang terjadi selama bermain membantu anak memahami perasaan teman, belajar bergiliran, dan meningkatkan kemampuan bersosialisasi (Amanda & Wahyuningsih, 2. Guru menyatakan bahwa anak yang sebelumnya pendiam mulai berani berinteraksi dengan teman ketika kegiatan dilakukan di ruang bermain naturalistik. Selanjutnya, kecerdasan linguistik muncul ketika anak mulai menceritakan pengalaman bermain, menjelaskan benda yang ditemukan, dan bertanya tentang hal-hal yang menarik perhatian mereka secara spontan. Anak terlihat lebih banyak berbicara dan mengungkapkan ide secara spontan selama kegiatan eksplorasi alam Beberapa anak mampu menyebutkan nama tumbuhan, warna, bentuk, dan fungsi benda yang mereka temukan di lingkungan bermain. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang nyata dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa anak. Kecerdasan visual spasial juga terlihat nyata melalui kemampuan anak dalam menyusun tanaman padi, membuat pola dari daun, menggambar hasil pengamatan, dan membangun bentuk sederhana seperti rumah atau jalan menggunakan pasir dan ranting pohon. Anak menunjukkan kreativitas dan imajinasi yang beragam ketika diberikan kebebasan untuk bereksplorasi. Beberapa anak mampu menciptakan bentuk rumah, jalan, dan taman menggunakan pasir dan ranting pohon. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa ruang bermain naturalistik dapat memberikan stimulasi terhadap kemampuan berpikir kreatif dan visual anak usia dini (Nasution et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori kecerdasan majemuk Howard Gardner yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki berbagai jenis kecerdasan yang berkembang melalui pengalaman dan stimulasi yang sesuai. Lingkungan bermain naturalistik memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar secara aktif melalui interaksi langsung dengan lingkungan, sehingga potensi anak dapat muncul secara alami. Temuan ini juga memperkuat pendapat Minasadiyah et al. Lingkungan bermain berbasis alam mampu merangsang perkembangan kecerdasan naturalistik, kinestetik, interpersonal, dan visual spasial anak usia dini. Potensi Anak yang Tersembunyi dalam Aktivitas Bermain Naturalistik Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang bermain naturalistik mampu membantu guru menemukan potensi tersembunyi yang dimiliki anak (Marwah, 2. Potensi tersebut Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik terlihat dari perubahan perilaku, kemampuan, dan keaktifan anak selama kegiatan bermain berlangsung. Beberapa anak yang cenderung pendiam di kelas ternyata memiliki kemampuan kepemimpinan ketika bermain kelompok di luar ruangan. Anak teman-temannya, permainan, dan membantu menyelesaikan konflik yang terjadi selama bermain. Selain itu, ditemukan pula anak yang memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan bahan alam menjadi karya sederhana. Anak mampu menggunakan ranting, daun, batu, dan pasir untuk menciptakan bentuk-bentuk tertentu sesuai imajinasi mereka. Kreativitas tersebut tidak selalu terlihat ketika anak mengikuti pembelajaran di dalam kelas yang lebih terstruktur. Lingkungan bermain yang fleksibel dan menyenangkan membuat anak lebih bebas mengekspresikan ide dan kemampuan yang dimiliki (Masitoh & Fauzi, 2. Berdasarkan hasil wawancara, guru kelas B2 menjelaskan bahwa ruang bermain naturalistik membantu guru menemukan kemampuan anak yang sebelumnya belum terlihat selama pembelajaran di kelas. Guru menyampaikan bahwa terdapat anak yang tampak pendiam ketika kegiatan belajar formal, namun mampu menjadi pemimpin kelompok ketika bermain di luar ruangan. Selain itu, beberapa anak menunjukkan kreativitas tinggi saat membuat bentuk dari bahan alam seperti daun, ranting, pasir, dan batubatuan. Hasil wawancara dengan wali murid B2 juga menunjukkan adanya perubahan perilaku anak setelah mengikuti kegiatan bermain Wali murid menyampaikan bahwa anak menjadi lebih mandiri, lebih aktif mencoba hal baru, dan lebih sering menceritakan pengalaman belajarnya di sekolah. Bahkan beberapa anak mulai menunjukkan minat terhadap kegiatan berkebun dan bermain kreatif menggunakan bahan-bahan alam di rumah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman bermain naturalistik tidak hanya berdampak pada perkembangan anak di sekolah, tetapi juga memengaruhi aktivitas dan perilaku anak dalam kehidupan seharihari. Potensi lain yang muncul adalah kemampuan problem solving atau pemecahan masalah. Dalam beberapa kegiatan, anak terlihat mencoba mencari solusi ketika menghadapi kesulitan, seperti menyusun jembatan dari batu agar tidak mudah roboh atau mencari cara memindahkan air menggunakan alat sederhana. Anak melakukan percobaan secara mandiri dan belajar dari kesalahan Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. yang mereka alami selama bermain. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa bermain naturalistik dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan logis anak usia dini (Oktavia, 2. Gambar 3. Kegiatan estafet air Guru kelas menjelaskan bahwa observasi terhadap aktivitas bermain anak di lingkungan alam lebih mudah dilakukan karena anak menunjukkan perilaku yang alami dan tidak tertekan. Anak yang biasanya sulit fokus di dalam kelas terlihat lebih konsentrasi ketika melakukan kegiatan eksplorasi alam. Selain itu, anak menjadi lebih berani mencoba hal baru dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang bermain naturalistik memberikan suasana belajar yang lebih nyaman dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini (N. Wulandari et al. , 2. Selain itu. Melyanti . Juga menjelaskan bahwa lingkungan bermain berbasis alam memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan kemampuan yang tidak selalu muncul dalam pembelajaran akademik formal. Peran Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan Majemuk Anak Berdasarkan hasil wawancara, guru memiliki peran penting dalam mengembangkan kecerdasan majemuk anak melalui ruang bermain naturalistik. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator yang menyediakan lingkungan bermain yang aman, menarik, dan mampu menstimulasi berbagai potensi Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih aktivitas bermain sesuai minat dan kemampuan masing-masing sehingga anak merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam belajar Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik (Nisa & Idris, 2. Guru juga melakukan observasi secara berkelanjutan terhadap aktivitas anak selama bermain. Melalui pengamatan tersebut, guru dapat mengetahui karakteristik, minat, serta kecerdasan yang menonjol pada setiap anak. Hasil observasi kemudian digunakan sebagai dasar dalam merancang kegiatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi anak. Pendekatan ini membantu proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berpusat pada anak (Alammy et al. , 2. Selain itu, guru memberikan stimulasi dan motivasi kepada anak selama kegiatan bermain berlangsung. Guru memberikan pertanyaan sederhana untuk merangsang rasa ingin tahu anak, membantu anak ketika mengalami kesulitan, serta memberikan apresiasi terhadap hasil karya dan usaha anak (Marwiyati, 2. Sikap guru yang responsif dan suportif membuat anak merasa dihargai sehingga lebih berani mengeksplorasi lingkungan dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Guru kelas juga menjelaskan bahwa pengamatan terhadap kecerdasan majemuk anak lebih mudah dilakukan ketika anak berada dalam suasana bermain yang alami dan menyenangkan. Menurut guru, anak menunjukkan perilaku yang lebih spontan sehingga guru dapat mengenali minat, bakat, dan karakteristik masing-masing anak secara lebih mendalam. Guru juga menyampaikan bahwa kegiatan bermain naturalistik membantu proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan berpusat pada kebutuhan anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Permatasari . Yang menjelaskan bahwa penggunaan media berbasis alam dapat mengembangkan kreativitas anak usia dini karena bahan alam berimajinasi, dan menghasilkan karya secara kreatif. Wali murid mengungkapkan bahwa guru sering memberikan informasi mengenai perkembangan anak selama kegiatan bermain berbasis alam. Komunikasi tersebut membantu orang tua memahami potensi dan kemampuan anak yang mulai berkembang. Wali murid merasa bahwa kegiatan bermain naturalistik memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna karena anak tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan berani mencoba berbagai aktivitas baru. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahma . yang menyatakan bahwa pemanfaatan bahan alam sebagai sumber belajar efektif untuk menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak usia 5Ae6 tahun Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. karena kegiatan berbasis bahan alam membantu anak mengenal lingkungan sekitar dan memperoleh pengalaman belajar secara Penelitian pengembangan kecerdasan majemuk anak tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan bermain, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan mendukung perkembangan anak secara optimal. Temuan ini sejalan dengan pendapat Fauziah & Maknun . Yang menyatakan bahwa guru memiliki peran penting dalam mengembangkan kecerdasan majemuk melalui strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Implikasi Ruang Bermain Naturalistik terhadap Pembelajaran Anak Usia Dini Ruang bermain naturalistik memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran anak usia dini di RA Chairunnisa. Anak menjadi lebih aktif, antusias, dan terlibat langsung dalam kegiatan Pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru, tetapi memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui pengalaman nyata dan eksplorasi lingkungan (Farina, 2. Kondisi tersebut membuat proses belajar menjadi lebih bermakna karena Selain meningkatkan perkembangan kecerdasan majemuk, ruang bermain naturalistik juga membantu perkembangan sosial emosional anak. Anak belajar mengendalikan emosi, bekerja sama, menghargai teman, serta meningkatkan rasa percaya diri. Lingkungan bermain yang terbuka dan fleksibel memberikan kesempatan kepada anak untuk bergerak bebas dan mengekspresikan diri secara alami (Amanda & Wahyuningsih, 2. Pembelajaran berbasis alam juga membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak tidak mudah bosan (Ratnaningsih et al. , 2. Anak terlihat lebih fokus dan menikmati kegiatan pembelajaran ketika dilakukan di luar ruangan dibandingkan pembelajaran yang hanya dilakukan di dalam kelas. Dengan demikian, ruang bermain naturalistik dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan majemuk anak usia dini. Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik Conclusion Berdasarkan hasil kajian, ruang bermain naturalistik di RA Chairunnissa terbukti menjadi lingkungan belajar yang bermakna untuk mengembangkan kecerdasan majemuk anak usia dini sekaligus mengungkap potensi tersembunyi yang tidak selalu tampak dalam pembelajaran formal di kelas. Melalui aktivitas bermain berbasis alam, anak memperoleh pengalaman langsung untuk mengeksplorasi lingkungan, bergerak aktif, berinteraksi dengan teman, berkomunikasi. Temuan menunjukkan bahwa kecerdasan naturalistik, kinestetik, interpersonal, linguistik, dan visual spasial muncul secara lebih nyata dalam suasana bermain yang alami, fleksibel, dan menyenangkan. Ruang bermain naturalistik juga membantu guru mengenali kemampuan anak dalam kepemimpinan, kerja sama, kreativitas, rasa ingin tahu, dan kepercayaan diri. Dengan demikian, ruang bermain naturalistik dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk mendukung perkembangan anak secara holistik. Sebagai saran, guru dan lembaga PAUD/RA perlu mengoptimalkan pemanfaatan lingkungan alam sebagai media bermain dan belajar, serta penelitian selanjutnya dapat memperluas subjek, lokasi, dan fokus kajian agar pengembangan keilmuan tentang kecerdasan majemuk anak usia dini semakin mendalam. Refferences Alammy. Arifudin. , & Haryanti. Peran Guru Terhadap Perkembangan Karakter Anak Usia Dini Di PAUD TKIT Nuralima. Sibatik Journal: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial. Ekonomi. Budaya. Teknologi. Dan Pendidikan, 4. , 4721Ae4736. Amanda. , & Wahyuningsih. Penerapan Pendekatan Playbased learning dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 Tahun. Aulad: Journal on Early Childhood, 8. , 791Ae799. Ardiana. Pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk dalam pendidikan anak usia dini. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3. , 1Ae12. Chatib. Sekolah anak-anak juara: Sekolah berbasis kecerdasan jamak dan pendidikan berkeadilan. Kaifa. Damayanti. Pembelajaran Alam: Meningkatkan Kognisi dan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini melalui Pengalaman Alam. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8. , 45-58. Farina. Pemanfaatan Lingkungan Alam sebagai Sumber Belajar Anak. Sinergi: Jurnal Riset Ilmiah, 2. , 3003Ae3011. Faruq. , & Subhi. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk pada Pendidikan Anak Usia Dini. Tinta Emas: Jurnal Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1. , 127Ae138. Fauziah. , & Maknun. Strategi Guru Dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Majemuk Peserta Didik. Tadzkirah: Jurnal Pendidikan Dasar, 5. , 31Ae41. Fitri. Peran guru dalam menstimulus kecerdasan majemuk anak usia dini di lingkungan sekolah. Jurnal Manajemen Dan Ilmu Administrasi. Ginting. Widya. , & Rozana. Strategi Guru Dalam Mengembangkan Kecerdasan Naturalis Anak Melalui Pembelajaran Kontekstual di RA Al Ikram Islamic School Medan. Early Childhood Research and Practice, 6. , 251Ae258. Handayani. , & Ichsan. Peran Lingkungan Agraris dalam Membentuk Kecerdasan Naturalis pada Anak Usia Dini. Journal of Early Childhood and Character Education, 5. , 1Ae16. Larimore. Preschool beyond walls: Blending early childhood education and nature-based learning. Gryphon House. Marwah. Pengembangan Kecerdasan Naturalistik Anak Melalui Pembelajaran Sentra Bahan Alam Di Taman Kanak-K Anak (T. Al-MuthmaAoinnah Jambi. Al-Ashlah: Journal of Islamic Studies, 1. , 1Ae28. Marwiyati. Pembelajaran saintifik pada anak usia dini dalam pengembangan kreativitas di taman kanak-kanak. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5, 135Ae149. Masika. Strategi Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Pau. Dalam Mengembangkan Kecerdasan Naturalis Anak Melalui Sentra Bahan Alam Di Tk Negeri Pembina 1 Kota Bengkulu. UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Masitoh. , & Fauzi. Transformasi Pembelajaran Melalui Pendekatan Reggio Emilia: Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Proyek Untuk Mengembangkan Kreativitas AUD. PAUDIA, 53Ae68. Melyanti. Malihah. , & Andari. Outdoor Learning Activity Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Jurnal Inovasi Penelitian, 3. , 4751Ae4754. Minasadiyah. Widiastuti. Tyas. Masruroh. , & Maghfirah. Kegiatan-kegiatan stimulasi multiple intelligence pada anak usia dini. Jurnal Buah Hati, 10. , 40Ae52. Musfiroh. Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Edisi . Universitas Terbuka. Muslimin. Maya. Subroto. Nampira. Oktaviani, . Samad. Pamuti. Iswandi. Una. , & Mubarok. Pendidikan Kreatif Untuk Anak Usia Dini: Menumbuhkan Potenis Sejak Dini. PT. Nawala Gama Education. Nasution. Hasibuan. Pitriana. Lubis. Siregar. , & Hasibuan. Hubungan Antara Kecerdasan VisualSpasial Dengan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini. Socius: Jurnal Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2. Nisa. , & Idris. Konsep Konsep Kecerdasan Majemuk Dalam Psikologi dan Implikasinya Terhadap Teori Pembelajaran PAI. An-Nuha, 5. , 281Ae298. Oktavia. Peran digital parenting terhadap perkembangan moral anak di Kebulusan Kebumen. Eprints. Walisongo. Ac. Id. Parapat. Munisa. Nofianti. , & Pratiwi. Meningkatkan kemampuan bahasa anak melalui kegiatan mendongeng di TK Negeri Pembina I Medan. Journal Of Human And Education (JAHE), 3. , 75Ae79. Permatasari. Saputra. , & Sarah. Mengembangkan imajinasi anak usia dini melalui kegiatan melukis dengan media Sulawesi Tenggara Educational Journal, 5. , 442Ae450. Pratiwi. Setyawati. Putra. Tondowala. Brantasari. Tanjung. Amiliya. Marini. Roza. , & Susianti. Pengembangan Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini. Azzia Karya Bersama. Prawesti. Janah. , & Darmawan. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Alam pada Pendidikan Anak Usia Dini. Pedagogik Journal of Islamic Elementary School, 8. , 767Ae779. Purwanti. Perkembangan motorik kasar anak usia dini melalui permainan aktivitas fisik: A literature review. Jurnal Pendidikan Dasar Dan Aktifitas Jasmani, 4. , 1Ae10. Rahayu. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Pada Siswa Fase B Di Sdn 24 Temalebba Kota Palopo. Universitas Islam Negri Palopo. Rahma. Rachmawati. , & Izzati. Pengembangan buku panduan pemanfaatan bahan alam untuk menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak usia 5-6 tahun. Aulad: Journal on Early Childhood, 7. , 422Ae433. Ratnaningsih. Arifudin. , & Haryanti. Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Alam Dalam Rangka Mengembangan Kognitif Anak Pada Kelompok B PAUD Nurulzulam. Sibatik Journal: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial. Ekonomi. Budaya. Teknologi. Dan Pendidikan, 5. , 1535Ae1549. Rivkin. , & Schein. The great outdoors: Advocating for natural spaces for young children (Revised ed. National Association for the Education of Young Children. Sinaga. , & Timbange. Pembelajaran sains berbasis mengembangkan kecerdasan naturalistik anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha. Sit. Optimalisasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini Dengan Permainan Tradisional. Prenada Media. Subagia. Suryaningsih. , & Prima. Meningkatkan kecerdasan naturalis anak usia dini melalui gerak dan Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume 5 No. e-ISSN: 2829-9191 Doi: 10. 62719/diksi. lagu berbasis materi alam. Aulad: Journal on Early Childhood, 8. , 514Ae597. Suyadi. Pengembangan Kecerdasan Majemuk Dalam Pendidikan Anak Usia Dini: Khasanah Islam Dan Neurosains. UAD Press. Wellyansari. Mengembangkan Permainan Mencari Jejak Menggunakan Metode Pembelajaran Outing Class Untuk Meningkatkan Kecerdasan Naturalis Pada Anak Usia 4-6 Tahun Dipaud Fatonah Desa Talang Perapat Tahun Pelajaran 2021/2022. UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Wiedel-Lubinski. Nature-Based Early Childhood Education: How Emergent Curriculum And Nature Play Support Learning. National Association for the Education of Young Children. Wilson. Naturally Inclusive: Engaging Children Of All Abilities Outdoors. Gryphon House. Wulandari. Milky. , & Syafrida. Dampak Bermain Di Luar Ruangan Terhadap Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia Dini. Al Yasini: Jurnal Keislaman. Sosial. Hukum Dan Pendidikan, 9. , 189. Wulandari. Lamanaura. , & Agustina. Pengembangan Kecerdasan Naturalistik pada Anak Usia Dini. Mentari: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4. Yaumi. Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Dian Rakyat. Stimulasi Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini melalui Bermain Naturalistik Anita Wardani. Naila Faizzatis Syifa. Khusnul Wahyu Pradhana. Sulastri. Astutik