SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 13 No. 1, 2025 P1-12 E-ISSN 2798-8678 Deskripsi Kecerdasan Spasial Visual pada Anak Jalanan Melalui Metode Menggambar Toddy Hendrawan Yupardhi1. Komang Trisna Sumadewi2* 1Program Studi Desain Interior. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar. Bali 80225 2Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan . Universitas Warmadewa Jl Terompong No. 24 Denpasar. Bali drtriscel@gmail. Kemampuan spasial visual bagi anak jalanan diyakini akan dapat membantu mereka mengembangkan potensi diri dan berkontribusi lebih bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kondisi kecerdasan spasial visual anak jalanan yang berada pada naungan Yayasan Bali Street Mums and Kids Denpasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Metode menggambar dengan dan tanpa instruksi digunakan untuk menganalisis bagaimana deskripsi kecerdasan spasial pada objek kasus. Variabel penilaian berupa tingkat kesesuaian dengan komposisi, proporsi dan teknik perspektif objek. Melalui hasil penelitian ditemukan bahwa anak jalanan pada rentang usia 0-7 tahun cenderung lebih banyak menggunakan imajinasinya dalam memvisualkan objek, sehingga lemah dalam proporsi dan detail, serta belum mengetahui tentang kedalaman objek. Rentang usia 8-12 tahun lebih mendetail dalam menggambar dengan instruksi, sudah lebih proporsional dan mengenal kedalaman objek, namun kurang dalam memvisualkan Rentang usia 13-16 tahun menunjukkan variasi yang lebih tinggi antara yang sudah mampu dan yang belum mampu memvisualkan dengan baik sehingga faktor keterampilan menggambar menjadi faktor yang berpengaruh. Penguatan kecerdasan spasial visual agar difokuskan pada rentang usia 8-12 tahun. Kata Kunci: Visual. Spasial, anak jalanan, menggambar It is believed that the visual-spatial abilities of street children will help them develop their potential and contribute more to society. This research aims to describe the condition of the visual-spatial intelligence of street children under the auspices of the Bali Street Mums and Kids Denpasar Foundation. The research method uses a qualitative approach which is presented descriptively. Drawing methods with and without instructions are used to analyze how spatial intelligence describes case objects. The assessment variable is the level of conformity with the composition, proportion, and perspective technique of the object. Through research results, it was found that street children aged 0-7 years tend to use their imagination more in visualizing objects, so they are weak in proportions and details and do not know the depth of objects. The age range of 8-12 years is more detailed in drawing with instructions, is more proportional, and understands the depth of objects, but is less able to visualize their The age range of 13-16 years shows higher variations between those who are able and those who are not yet able to visualize well so drawing skills become an influential factor. Strengthening visual spatial intelligence to be focused on the 8-12 year age range. Keyword: Visual. Spatial. Street children, drawing Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 PENDAHULUAN Latar Belakang Anak merupakan masa depan suatu bangsa. Maka penting bagi seluruh anak untuk diberikan perhatian dan investasi yang cukup untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Melindungi, mendidik dan mencerdaskan anak merupakan investasi dalam menuju masa depan bangsa, karena melalui mereka nantinya pembentukan identitas dan penentuan arah bangsa ini diwariskan. Termasuk didalamnya adalah anak jalanan yang menjadi fenomena permasalahan sosial di kota-kota besar di Indonesia. Jumlah anak jalanan yang semakin meningkat tiap tahunnya dan kerap hidup di dunia kriminal, bukan merupakan pembenaran untuk tidak merangkul atau tidak memberikan perhatian serta hak yang sama dengan anak lainnya. Perkembangan kecerdasan anak sendiri dimulai sejak dini pada usia 0-8 tahun, kerap disebut masa emas . olden ag. dan dapat diasah serta ditingkatkan (Sujiono. Kecerdasan sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memecahkan permasalahan dan menciptakan produk atau karya yang kaya dan keadaan yang naturalistik (Armstrong, 2. Armstrong mengelompokkan kecerdasan ke dalam 8 jenis kecerdasan yang salah satunya adalah kecerdasan spasial Kecerdasan spasial visual merupakan salah satu aspek penting dari pembangunan kemampuan anak. Kecerdasan jenis ini merupakan kemampuan untuk memahami, memanipulasi, dan merancang objek-objek dalam ruang visual. Kemampuan ini sangat penting untuk kemampuan sehari-hari seperti navigasi, memecahkan masalah geometris dan pemahaman representasi visual seperti tanda, peta atau diagram. Bagi anak jalanan, kemampuan seperti ini dapat menjadi kunci untuk memahami lingkungan mereka yang cenderung kurang ideal, beradaptasi dengan perubahan yang sangat dinamis serta mengatasi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari di jalanan. Kendala lingkungan yang kurang mendukung kerap menjadi penghambat perkembangan kecerdasan pada anak jalanan, seperti misalnya kurangnya akses terhadap pendidikan formal, kurangnya stimulasi visual ataupun tekanan lingkungan yang tidak stabil. Minimnya akses terhadap bahan-bahan pendidikan serta kurangnya keamanan lingkungan merupakan faktor negatif yang sering dijumpai dalam keseharian anak jalanan. Namun meskipun dihadapkan pada situasi yang sulit, mereka tetap memiliki potensi yang besar untuk berkembang dan berkontribusi pada masyarakat. Meningkatkan kecerdasan spasial visual merupakan salah satu upaya yang dapat membuka peluang baru bagi mereka dalam bidang tertentu seperti teknologi, desain dan seni. Melalui pengembangan kecerdasan spasial, diharapkan dapat memberikan keterampilan pada anak jalanan untuk dapat mengembangkan diri dan menjadi lebih mandiri dalam menavigasi lingkungan, membuat keputusan dan merencanakan masa depan mereka. Metode yang digunakan dalam melatih dan meningkatkan kecerdasan spasial salah satunya adalah menggambar (Musfiroh, 2. Melalui menggambar, anak diharapkan dapat menangkap objek visual dan menuangkannya kembali sesuai intepretasi atau imajinasi mereka. Sudut pandang medis menyatakan bahwa menggambar akan merangsang sensor motorik dan sensorik dalam otak, memperkuat konektivitas antara neuron, dan merangsang produksi neurotransmiter seperti dopamin dan serotonin. Proses ini dapat memperbaiki koordinasi motorik halus, meningkatkan persepsi visual, dan bahkan memiliki efek positif pada kesehatan Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 mental dengan meredakan stres dan meningkatkan suasana hati (Wert-Carvajal. Reneaux. Tchumatchenko, & Clopath, 2. Salah satu yayasan di Bali yang menaungi sejumlah anak jalanan untuk tetap mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak adalah Yayasan Bali Street Mums and Kids. Yayasan ini bergerak dalam memberikan bantuan sosial untuk para ibu dan anak di Bali yang dipaksa mengemis, menjadi korban trafficking ataupun mendapat kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian dilaksanakan pada Yayasan Bali Street Mums and Kids dengan melibatkan sejumlah anak jalanan untuk dapat mendeskripsikan bagaimana kecerdasan spasial visual pada anak jalanan pada studi kasus dengan metode menggambar. Melalui penjabaran diatas dapat dirumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut: Bagaimana deskripsi kecerdasan spasial visual anak jalanan di Yayasan Bali Street Mums and Kids melalui metode menggambar? Tinjauan Pustaka Beberapa penelitian terkait kecerdasan spasial visual dengan metode menggambar dan berbagai penelitian dengan subjek anak jalanan telah dilaksanakan Dalam penelitian (Wahyuni, 2. ditemukan bahwa dengan menggambar, anak dituntun untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Penelitian (Cawi, 2. lebih spesifik menyatakan bahwa kecerdasan spasial visual berkontribusi terhadap hasil belajar dalam menggambar layout interior dan eksterior pada siswa. Metode menggambar juga meningkatkan kecerdasan motorik, melatih kesabaran dan meningkatkan seni sebagaimana dikemukakan (Afri Anisa Panjaitan & Julita Herawati P, 2. dalam penelitiannya. Merujuk pada fungsi otak, keberhasilan seorang anak berkaitan dengan kecerdasan anak tersebut. Kecerdasan pada anak berbeda dengan kecerdasan pada orang dewasa, dimana orang dewasa cenderung menyelesaikan permasalahan dengan produk pemikiran, sedangkan anak dengan cara berfantasi dan berimajinasi (Fasrita. Salmina, & Nurtiani, 2. Kecerdasan spasial visual sendiri merupakan bagian dari teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence. yang dikemukakan oleh Howard Gardner tahun 1983. Gardner membagi kecerdasan kedalam delapan bagian yaitu: . Kecerdasan Linguistik, . Kecerdasan Matematis-Logis, . Kecerdasan Spasial Visual, . Kecerdasan Kinestetik-Badani, . Kecerdasan Musikal, . Kecerdasan Interpersonal, . Kecerdasan Intrapersonal, . Kecerdasan Naturalis/Lingkungan (Syarifah, 2. Gardner sebagaimana dikutip dari (Efendi, 2. menyebutkan bahwa kecerdasan spasial visual merupakan kemampuan memberikan gambar maupun imaji, serta kemampuan dalam mentransformasikan dunia spasial-visual, termasuk kemampuan untuk menghasilkan imagi mental dan menciptakan representasi grafis, berpikir tiga dimensi dan mencipta ulang dunia Kemampuan ini menjadi esensial dalam berbagai konteks kehidupan, terutama dalam domain profesional seperti arsitektur, desain, dan teknik. Dalam ranah arsitektur, kecakapan spasial visual memfasilitasi arsitek dalam proses visualisasi dan perancangan struktural bangunan dengan mempertimbangkan proporsi yang akurat serta pemanfaatan ruang yang optimal. Di sektor desain, kemampuan ini memungkinkan para desainer untuk menciptakan karya yang estetis dan berfungsi dengan memperhatikan prinsip-prinsip tata letak, proporsi, dan perspektif. Selain itu, dalam bidang teknik, kecakapan spasial visual menjadi kunci untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang melibatkan representasi visual, seperti dalam perancangan mesin atau perencanaan infrastruktur. Anak-anak yang menunjukkan kecerdasan spasial visual yang berkualitas memiliki kecenderungan untuk mengembangkan kemampuan dalam menyelesaikan Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 masalah yang rumit, meningkatkan kreativitas, dan memahami konsep-konsep Kajian ilmiah dalam bidang psikologi perkembangan telah menyoroti peran signifikan kecerdasan spasial visual dalam berbagai konteks pembelajaran, termasuk namun tidak terbatas pada pemahaman konsep matematika, ilmu pengetahuan, dan Dalam ranah pendidikan formal, keberadaan kecerdasan ini memfasilitasi proses pemahaman materi melalui representasi visual, seperti grafik, diagram, atau model, sehingga memudahkan proses belajar bagi anak-anak. Oleh karena itu, upaya untuk memperhatikan serta mengembangkan kecerdasan spasial visual pada anak dianggap sebagai langkah krusial dalam mendukung efektivitas pembelajaran dan mengoptimalkan potensi perkembangan anak secara menyeluruh. Menggambar merupakan salah satu metode pengembangan kecerdasan spasial visual sebagaimana disampaikan Gardner dalam (Wahyuni, 2. Menggambar juga merupakan salah satu kegiatan yang disukai oleh anak-anak. Melalui metode menggambar, anak-anak dilatih untuk mengimajinasikan dan memvisualisasikan objek yang ada dalam pikiran mereka sebelum menuangkannya kedalam bentuk visual pada kertas atau media lainnya. Melalui menggambar, anak juga belajar pola dan bentuk serta melihat sesuatu dengan lebih detail yang berperan dalam merangsang peningkatan persepsi visual. Peningkatan keterampilan bagi motorik halus dan pengembangan ekspresi kreatif juga menjadi sasaran lain dari kegiatan menggambar pada anak, dan pada muaranya bertujuan untuk menghasilkan kemampuan berpikir visual yang lebih baik. Spesifik mengenai anak jalanan, penelitian De Moura tahun 2002 dalam (Pardede, 2. menyatakan bahwa anak jalanan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu anak yang hidup di jalanan dan anak yang bekerja di jalanan. Penelitian Puruhita (Puruhita. Suyahmo, & Atmaja, 2. menyatakan bahwa tidak semua anak jalanan berperilaku negatif, meskipun kerap mengganggu ketertiban umum dengan bekerja di jalanan. Solidaritas, kerjasama dan menjaga kesopanan pada yang lebih tua atau orang tak dikenal masih sering dijumpai pada anak jalanan. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan yang memaksa mereka untuk menjalani hidup di jalanan. Pendidikan bagi setiap anak termasuk anak jalanan adalah mutlak, sebagaimana yang disampaikan pada penelitian (Hidayat Putra. Mutiani, & Jumriani, 2. yang pendidikan umum, pendidikan agama dan keterampilan bagi anak jalanan. Anakanak yang hidup di jalanan, meskipun seringkali menghadapi situasi yang rentan dan terpinggirkan, masih memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain sebayanya. Hakhak ini mencakup hak terhadap kehidupan, akses terhadap pendidikan, perlindungan dari eksploitasi dan kekerasan, serta hak untuk berkembang dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan budaya. Pentingnya pengakuan dan penghormatan atas hak-hak ini terletak pada upaya untuk menjamin bahwa anak-anak jalanan memiliki peluang yang setara dengan anak-anak lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Pemerintah dan masyarakat memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk menjaga serta memenuhi hak-hak tersebut, sambil memberikan akses yang adil dan merata terhadap layanan dan kesempatan yang mendukung perkembangan optimal mereka. Oleh karena itu, perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak-anak jalanan menjadi prioritas utama dalam upaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil bagi semua anak. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus, dengan melakukan eksperimen pada sekelompok individu pada lingkup kasus tertentu. Populasi dari penelitian ini Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 adalah anak jalanan yang berada dibawah naungan Yayasan Bali Street Mums and Kids, dan menggunakan sample sejumlah 20 orang yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Sample dibagi ke dalam 3 kelompok usia, 0-7 tahun, 8-12 tahun dan 13-16 tahun. Penelitian diawali dengan pendataan identitas sample, kemudian diajak melakukan kegiatan menggambar dengan dan tanpa arahan, selanjutnya dianalisis hasilnya dengan variabel penilaian kesesuaian komposisi, proporsi dan teknik perspektif objek. Hasil analisis dituangkan dalam bentuk deskripsi yang menginformasikan kondisi kecerdasan spasial visual pada studi kasus. ANALISIS DAN INEPRETASI DATA Deskripsi Data/Hasil Penelitian diawali dengan pendataan anak jalanan yang ada di Yayasan Bali Street Mums and Kids. Sejumlah 20 orang anak yang dipilih menjadi sample penelitian dan dikelompokkan dalam 3 kategori berdasarkan usia sebagaimana tercantum pada tabel 1. Seluruh anak yang terlibat belum mengetahui dan belum memahami apa yang dimaksud dengan kecerdasan spasial visual. Tabel. 1 Data Jumlah Sample (Sumber: Peneliti 2. Kategori Usia Jumlah 0-7 Tahun 8 -12 Tahun 13-16 Tahun Total Selanjutnya ketiga kelompok akan diajak melaksanakan kegiatan menggambar yang dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap dengan instruksi dan tahap tanpa Tahap menggambar dengan instruksi dilaksanakan dengan menginstruksikan sample untuk menggambar objek berupa sebuah kursi yang diletakkan di tengah ruangan dan digambar sebagaimana sudut pandang dari penggambar, dengan semirip dan sedetail mungkin yang mereka bisa. Menggambar dengan instruksi bertujuan untuk membangun ketelitian, konsentrasi mengikuti petunjuk, dan pemahaman yang sama terkait detail, struktur dan pola visual dari objek yang digambar. Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 Gambar 1. Menggambar dengan Instruksi (Sumber: Peneliti, 2. Selanjutnya, setelah kegiatan menggambar dengan instruksi, sample diminta untuk menggambar bebas tanpa instruksi, berupa sebuah objek kursi yang berbeda dengan objek kursi pada kegiatan menggambar pertama. Hasil dari kegiatan ini diharapkan untuk dapat menginformasikan bagaimana sample menyerap informasi awal, mengingat dan kemudian mengintepretasikan kembali dalam bentuk visual sesuai kreatifitas dan pengalaman pribadi mereka. Seluruh kegiatan menggambar menggunakan media kertas gambar berukuran A4 dan alat gambar berupa pensil serta karet penghapus. Gambar 2. Menggambar Tanpa Instruksi (Sumber: Peneliti, 2. Berdasarkan hasil kegiatan menggambar, pada sesi pertama yaitu menggambar dengan instruksi, melalui penilaian dengan tiga variabel kesesuaian yaitu komposisi . obot maksimal . , proporsi . obot maksimal . dan teknik perspektif . obot maksimal . , didapatkan hasil penilaian sesuai yang tercantum pada Tabel 2. Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 Tabel. 2 Hasil Penilaian Menggambar dengan Instruksi (Sumber: Peneliti, 2. Klp. Umur 0-7 th 8-12 th 13-16 th Sample Komposisi Proporsi Perspektif Tabel 2 menunjukkan bahwa anak pada rentang usia 0-7 tahun rerata nilainya cenderung lebih rendah. Nilai kesesuaian komposisi rata-rata 18, nilai kesesuaian proporsi rata-rata 22 dan nilai teknik perspektif . edalaman visua. rata-rata 5,6. Pada rentang usia 0-7 tahun, ada kecenderungan anak menggambar tidak mengikuti instruksi, masih menggambar sesuai keinginan dan imajinasi sendiri. Ketika mengikuti instruksi, meniru objek, secara komposisi walaupun sudah mulai menampakkan bagian-bagian yang sesuai dari objek, sudah berusaha menyesuaikan proporsi, namun visual masih lemah dan tidak detail. Kedalaman visual . eknik perspekti. juga belum nampak pada gambar secara informatif. Anak-anak pada kelompok usia 8-12 tahun cenderung lebih mengikuti instruksi dalam menggambar. Upaya menyesuaikan komposisi, proporsi dan tenik kedalaman visual dengan objeknya terlihat dari hasil penilaian yang lebih tinggi dibanding anak-anak rentang usia dibawahnya. Secara komposisi, nilai rata-rata yang didapatkan adalah 23,4, nilai rata-rata proporsi 21,9 dan nilai rata-rata tenik Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 perspektif adalah 24,1. Anak-anak dalam kelompok ini terlihat lebih logis dan rasional dalam menempatkan komposisi, proporsi dan beberapa diantaranya mulai berani mencoba menyesuaikan kedalaman visual dengan teknik perspektif. Pada kelompok usia 13-16 tahun, hasil penilaian lebih bervariasi. Terdapat anak yang sudah lebih serius dalam mengikuti instruksi, namun ditemukan juga anak yang menggambar tidak mengikuti instruksi yang diberikan. Detail dalam komposisi, proporsi dan teknik perspektif juga menjadi bervariasi. Bagi anak yang menampilkan keseriusan lebih dalam menggambar, terlihat dari hasil gambar yang semakin detail, proporsi dan komposisi yang semakin baik dan teknik perspektif yang juga lebih logis dan rasional dibandingkan anak dengan rentang usia dibawahnya. Namun bagi anak yang tidak serius dan tidak mengikuti instruksi, secara komposisi, proporsi dan perspektif nilainya cenderung rendah. Rerata nilai dari kelompok ini untuk komposisi adalah 20, untuk proporsi gambar adalah 22,2, dan teknik perspektif 13,8. Nampak bahwa anak yang berminat dengan menggambar akan berusaha lebih detail dan serius dalam menampilkan visual sebagaimana yang diinstruksikan, dan demikian pula sebaliknya, bagi yang minat gambarnya rendah, akan menggambar cenderung tidak sesuai dengan instruksi, kurang rasional dan lemah dalam detail. Pada kegiatan menggambar sesi kedua, menggambar tanpa instruksi yang juga melalui penilaian dengan tiga variabel kesesuaian yaitu komposisi . obot maksimal . , proporsi . obot maksimal . dan teknik perspektif . obot maksimal . , didapatkan hasil penilaian yang tercantum pada Tabel 3. Tabel. 3 Hasil Penilaian Menggambar tanpa Instruksi (Sumber: Peneliti, 2. Klp. Umur 0-7 th 8-12 th Sample Komposisi Proporsi Perspektif Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) 13-16 th Volume 13 No. 1, 2025 Melalui Tabel 3, dapat diketahui bahwa dalam menggambar tanpa instruksi, anak-anak dengan kelompok usia 0-7 tahun terlihat lebih imajinatif, ekspresif, namun kurang mengindahkan aturan komposisi dan proporsi. Logika dan rasional cenderung terabaikan, namun secara visual masih relevan dengan objek yang divisualkan dan dapat dikenali serta dipahami dengan cukup mudah. Rerata penilaian untuk komposisi ada di angka 18,6, rerata penilaian untuk proporsi di angka 19,2 dan rerata nilai teknik perspektif di angka 6,2. Kelompok anak usia 8-12 tahun saat diminta menggambar secara bebas sebuah objek kursi tanpa instruksi, terlihat pada hasil gambar menonjolkan unsur rasional dan logika. Anak-anak pada kelompok umur ini kurang berani menampilkan imajinasinya sehingga hasil gambarnya kebanyakan menyerupai hasil gambar sesi pertama yang sudah terekam dalam ingatan mereka. Teknis penggambaran kedalaman, komposisi dan proporsi masih dalam rentang nilai baik. Rerata penilaian untuk komposisi ada di angka 22,2, rerata penilaian untuk proporsi di angka 21,7 dan rerata nilai teknik perspektif di angka 24,4. Penilaian pada kelompok anak usia 13-16 tahun pada metode menggambar tanpa instruksi kembali menampilkan hasil yang bervariasi. Beberapa anak dengan mudah menggambar objek kursi yang berbeda dengan yang digambar pada sesi pertama, namun sebaliknya ada beberapa anak kesulitan dalam berimajinasi membayangkan kursi yang berbeda dengan sesi pertama. Pada kelompok ini, hasil gambar menampakkan dua kelompok hasil yang terpaut cukup jauh. Bagi mereka yang dengan mudah mengimajinasikan objek baru, penggambarannya juga lebih baik dan detail dari segi komposisi, proporsi dan teknik perspektif. Namun bagi yang sulit mengimajinasikan objek baru, cenderung mengalami kesulitan juga untuk memvisualkan objek tersebut, sehingga hasil penilaian komposisi, proporsi dan teknik perspektifnya menjadi lebih rendah. Rerata penilaian untuk komposisi ada di angka 20, rerata penilaian untuk proporsi di angka 22 dan rerata nilai teknik perspektif di angka 15,4. Pembahasan Merujuk pada hasil penilaian pada dua sesi kegiatan menggambar, dapat dilihat bahwa anak-anak pada kelompok usia 0-7 tahun melakukan kegiatan menggambar sebagai sebuah bentuk kesenangan. Pembentukan kecerdasan spasial visual dimulai pada rentang usia ini, sehingga belum banyak muncul hal-hal mendetail dari visual yang ditampilkan. Anak-anak pada usia ini baru mulai mengenal dan mengingat bentuk secara general, dan kemudian menuangkannya kembali sesuai keinginan mereka dan cenderung tanpa harus memikirkan aturan teknis dan logika Kecerdasan spasial visual yang mulai berkembang ditandai dengan luasnya imajinasi pada kelompok ini, dan tidak takut salah ketika menuangkannya pada media gambar meskipun muncul distorsi pada hasil gambar. Bagi anak pada kelompok usia 8-12 tahun, mayoritas anak sudah lebih memahami logika dan rasional dalam menggambar. Tingkat kesesuaian dengan objek Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 gambar juga lebih tinggi dibandingkan dengan hasil anak usia dibawahnya. Detail objek sudah lebih banyak ditampilkan, penggambaran fisik juga sudah lebih Terlebih pada sesi menggambar dengan instruksi, tingkat kepatuhan akan instruksi untuk menghasilkan gambar yang mendekati realis lebih tinggi. Akan tetapi untuk menggambar tanpa instruksi yang mengharuskan anak-anak berimajinasi, beberapa anak pada kelompok ini tampak kurang leluasa. Ikatan instruksional dan aturan-aturan kebenaran logis rasional mulai mengekang anakanak untuk membatasi imajinasinya. Mereka berusaha untuk menggambar objek seperti pada keadaan semestinya, ada ketakutan atau kekhawatiran gambarnya dianggap salah. Perkembangan kecerdasan spasial visual pada kelompok ini sedang dalam posisi penguatan dengan berbasis logika, nalar dan aturan-aturan yang disepakati bersama. Kelompok anak di usia 13-16 tahun menampilkan hasil penilaian yang cukup Pada kelompok ini sudah mulai terlihat beberapa anak dengan tingkat kepekaan lebih tinggi terhadap objek yang divisualkan dan diimajinasikan. Khususnya bagi anak-anak yang memang berminat dan menyukai kegiatan menggambar, hasil visualisasinya dari dua sesi menggambar cukup konsisten berada di penilaian yang diatas rata-rata. Namun bagi anak yang kurang berminat dengan menggambar, kepekaan akan objek visualnya juga kurang dan hasil penilaiannya berada di bawah rata-rata. Tingkat kesesuaian dengan variabel penilaian cenderung rendah, walaupun secara logika, visualisasinya masih dapat diterima. Pada rentang usia ini, kepekaan akan objek visual merupakan salah satu indikator penting perkembangan dan penguatan kecerdasan spasial visual bagi anak. Pada masa ini juga akan nampak metode mana yang lebih diminati atau disukai dan akhirnya dipilih oleh setiap anak untuk mengembangkan kecerdasan spasial visual mereka. Kondisi dari hasil penelitian diatas sejalan dengan pernyataan (Lowenfeld & Lambert Brittain, 1. yang membagi periodisasi perkembangan seni rupa anak menjadi 6 masa yakni: Masa Mencoreng (Scribblin. : 2-4 tahun Masa PraBagan (Preschemati. : 4-7 tahun Masa Bagan (Schematic perio. : 7-9 tahun Masa realisme awal (Dawning realis. : 9-12 tahun Masa Naturalisme semu (Pseudo Naturalisti. : 12-14 tahun Masa Penentuan (Period of Decisio. : 14-16 tahun Terlihat pada studi kasus, bahwa anak-anak pada usia 0-7 tahun yang termasuk pada masa mencoreng (Scribblin. dan Prabagan (Preschemati. melakukan kegiatan menggambar untuk menuangkan imajinasi dengan coretan-coretan dan komposisi serta proporsi gambar yang belum detail. Kemudian anak pada usia 8-12 tahun sudah masuk ke masa bagan . dan realisme awal . awning realism. , dimana anak berupaya untuk menggambar sesuai kenyataan, dan logika, menempatkan rasional lebih tinggi daripada imajinasi. Masa usia 13-16 tahun sudah menjadi masa penentuan . eriod of decisio. bagi anak untuk memilih apakah menggambar merupakan metode yang diminati untuk menyalurkan bakat atau memperkuat kecerdasan spasial visualnya. Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 SIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan menggambar yang digunakan sebagai metode untuk mengetahui deskripsi kecerdasan spasial visual pada anak jalanan di Yayasan Bali Street Mums and Kids Denpasar, dapat disimpulkan bahwa: Melalui metode menggambar pada studi kasus dapat dilihat bahwa perkembangan kecerdasan spasial visual telah dimulai pada usia 0-6 tahun, berkembang pada usia 7-12 tahun, dan dipilih untuk diperkuat atau tidak sesuai minat pada usia 12 tahun ke atas. Pada studi kasus, anak pada rentang usia 0-7 tahun lebih mudah menggambar dengan imajinasinya, cenderung tidak mengikuti instruksi, tidak detail serta masih lemah dalam proporsi dan komposisi. Anak pada rentang usia 8-12 tahun lebih detail dalam menggambar dengan instruksi, sudah lebih proporsional dan mengenal kedalaman objek, namun kurang dalam memvisualkan imajinasinya karena sudah berpikir secara logis dan lebih mengutamakan rasional. Anak dengan rentang usia 13-16 tahun menunjukkan variasi yang tinggi antara yang sudah mampu dan yang belum mampu memvisualkan dengan baik sehingga faktor keterampilan menggambar menjadi faktor yang berpengaruh. Pada rentang usia 12 tahun keatas, penguatan kecerdasan spasial visual sebaiknya dikembangkan dan diperkuat dengan melatih kemampuan menggambar, bernyanyi, membuat keterampilan, melakukan permainan konstruktif atau mengunjungi berbagai tempat baru, sesuai apa yang menjadi minat dari masing-masing anak. DAFTAR RUJUKAN Afri Anisa Panjaitan, & Julita Herawati P. MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK USIA DINI MELALUI KEGIATAN MENGGAMBAR. Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora, 2. SE-Article. , 11491Ae11497. Retrieved https://publisherqu. com/index. php/pediaqu/article/view/364 Armstrong. Kecerdasan Multiple di Dalam Kelas. Jakarta: Indeks. Cawi. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROJEK TERHADAP HASIL BELAJAR MENGGAMBAR LAYOUT DENGAN KOVARIABEL KECERDASAN SPASIAL DAN KECERDASAN LOGIS MATEMATIS. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 4. Efendi. Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI. EI. SQ. AQ, dan Successful Intelligence atas IQ. Bandung: Alfabeta. Fasrita. Salmina. , & Nurtiani. EFEKTIVITAS KEGIATAN MENGGAMBAR TERHADAP KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK KELOMPOK TK B DI PAUD MINA ACEH BESAR. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan, 1. Hidayat Putra. Mutiani. , & Jumriani. PENDIDIKAN KARAKTER ANAK JALANAN DI SEKOLAH KELAS KHUSUS PASAR LIMA BANJARMASIN. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda. Bermakna. Mulia, 7. , 32. https://doi. org/10. 31602/jmbkan. Lowenfeld. , & Lambert Brittain. Creative and Mental Growth. Macmillan. Musfiroh. Bermain Sambil Belajar dan Mengasah Kecerdasan. Jakarta: Depdiknas. Pardede. Konsep Diri Anak Jalanan Usia Remaja. Jurnal Psikologi, 1. , 146Ae151. Toddy Hendrawan Yupardhi (Deskripsi A) Volume 13 No. 1, 2025 Puruhita. Suyahmo. , & Atmaja. PERILAKU SOSIAL ANAKANAK JALANAN DI KOTA SEMARANG. JESS (Journal of Educational Social Studie. , 5. , 104Ae112. https://doi. org/https://doi. org/10. 15294/jess. Sujiono. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks. Syarifah. Konsep Kecerdasan Majemuk Howard Gardner. SUSTAINABLE: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan, 2. , 176Ae197. https://doi. org/10. 32923/kjmp. Wahyuni. UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL MELALUI KEGIATAN MENGGAMBAR PADA ANAK UDIA DINI KELOMPOK. Tunas Siliwangi, 4. https://doi. org/https://doi. org/10. 22460/ts. Wert-Carvajal. Reneaux. Tchumatchenko. , & Clopath. Dopamine and serotonin interplay for valence-based spatial learning. Cell Reports, 39. , https://doi. org/10. 1016/j.