JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 IMPLEMENTASI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PAKET C DI SANGGAR KEGIATAN BELAJAR SPNF KAB. KARAWANG Adinda Sylviana Ariyanti1. Tika Santika2. Abdul Muis3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Masyarakat. Universitas Singaperbangsa Karawang. Jawa Barat. Indonesia 2110631040078@student. id, 2tika. santika@fkip. id, 3abdulmuis@gmail. Received: November, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract Education is a humanistic process known as humanizing humans. Thus, education not only shapes humans capable of activities such as eating, drinking, dressing, and having a place to live, but also forms more complete and developed human beings. The implementation of technology in learning for Package C students at the SPNF Learning Activity Center (SKB) in Karawang Regency has shown a positive contribution in increasing student motivation, independence, and learning effectiveness. Technology such as computers, smartphones, and digital learning applications play a vital role in creating a more interactive and adaptive learning environment. Despite several challenges, such as internet instability and low digital literacy among students, the application of technology is still considered effective in supporting a learning process that is more relevant to students' needs. This research uses a qualitative approach, which aims to explore and understand the meaning of human experiences, social interactions, or specific phenomena. This approach relies on non-numerical data such as interviews, observations, documents, or field notes. Qualitative descriptive methods are used to describe objects or phenomena in detail without manipulating the research object. This approach emphasizes the quality, characteristics, and relationships between the aspects studied. This research method uses data in the form of speech or writing from people observed and directly involved in the research process. Keywords: learning technology, students motivation, equivalency education Abstrak Pendidikan adalah proses humanis yang dikenal dengan istilah memanusiakan manusia. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang mampu beraktifitas seperti makan, minum, berpakaian, dan memiliki tempat tinggal, tetapi juga membentuk manusia yang lebih utuh dan Implementasi teknologi dalam pembelajaran pada siswa Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) SPNF Kabupaten Karawang menunjukkan kontribusi positif dalam meningkatkan motivasi, kemandirian, dan efektivitas belajar siswa. Teknologi seperti komputer, smartphone, dan aplikasi pembelajaran digital berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan adaptif. Meskipun ada beberapa tantangan, seperti ketidakstabilan internet dan rendahnya literasi digital di kalangan siswa, penerapan teknologi tetap dinilai efektif dalam mendukung proses belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk menggali dan memahami makna pengalaman manusia, interaksi sosial, atau fenomena tertentu. Pendekatan ini mengandalkan data non-numerik seperti wawancara, observasi, dokumen, atau catatan lapangan. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan objek atau fenomena secara rinci tanpa melakukan manipulasi terhadap objek penelitian. Pendekatan ini menekankan pada kualitas, karakteristik, dan hubungan antar aspek yang diteliti. Metode penelitian ini menggunakan data berupa ucapan atau tulisan dari orang yang diamati dan terlibat langsung dalam proses penelitian. Kata Kunci: teknologi pembelajaran, motivasi siswa, pendidikan kesetaraan Volume 9. No. Januari 2026 pp 158-169 How to Cite: Ariyanti. Santika. & Muis. Implementasi Teknologi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Paket C Di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 158-169. PENDAHULUAN Pendidikan adalah upaya yang disengaja dan terorganisir untuk menciptakan lingkungan belajar serta proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirimereka. Tujuannya adalah agar peserta didik memiliki pertumbuhan spiritual dan keagamaan, kemampuan mengendalikan diri, kepribadian yang baik, kecerdasan, nilai-nilai luhur, serta keterampilan yang dibutuhkan oleh diri sendiri maupun Pendidikan Nasional Indonesia menurut Bapak Ki Hajar Dewantara adalah AuPendidikan adalah kebutuhan dalam kehidupan tumbuh kembang anak-anak. Artinya, pendidikanmengarahkan semua kekuatan alami yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai bagian dari masyarakat dapat mencapai tingkat keselamatan dan kebahagiaan yang sebesar-besarnyaAy. Pendidikan adalah proses humanis yang dikenal dengan istilah memanusiakan manusia. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang mampu beraktifitas seperti makan, minum, berpakaian, dan memiliki tempat tinggal, tetapi juga membentuk manusia yang lebih utuh dan berkembang. Hal ini disebut sebagai memanusiakan manusia (Ab Marisyah & Firman, 2. Pendidikan adalah proses yang mencakup tiga dimensi yaitu individu, masyarakat atau komunitas nasional, serta segala hal nyata, baik yang bersifat materi maupun spiritual, yang berperan dalam menentukan sifat, nasib, serta bentuk manusia dan Pembelajaran adalah proses yang membantu siswa agar dapat belajar secara efektif. Meskipun pengertian pembelajaran dan pengajaran terkadang mirip, keduanya memiliki makna yang Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar siswa dapat memahami dan menguasai materi pelajaran sehingga mencapai tujuan yang ditentukan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan adanya motivasi, siswa memiliki dorongan untuk mengikuti prosesbelajar. Guru dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan berbagai cara, seperti menggunakan strategi pembelajaran yang menantang seperti permainan, atau menggunakan materi dan media yang interaktif serta kontekstual. Selain itu, motivasi belajar juga dapat terbentuk dari lingkungan belajar yang diberikan kepada siswa (Magdalena et al. , 2. Program kesetaraan Paket C adalah salah satu program yang berada di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), yang merupakan jalur alternatif yang dikelola oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini ditujukan bagi masyarakat, siswa, maupun siswi yang tidak sempat menempuh pendidikan formal karena berbagai hal seperti keterbatasan sosial, ekonomi, waktu, kesempatan, atau lokasi geografis. Saat belajar, siswa Paket C menggunakan modul yang disediakan oleh guru. Modul ini bisa diakses melalui handphone masing-masingsiswa. Namun, tidak semua siswa memiliki gadget sendiri, sehingga mereka sering berbagi dengan anggota keluarga saat menggunakan handphone. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) merupakan lembaga pendidikan nonformal yang berada di Kabupaten Karawang. Dalamprogramkesetaraan Paket C, pembelajaran diarahkan untuk 160 Ariyanti. Santika & Muis. Implementasi Teknologi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Paket C Di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang meningkatkan keterampilan dan semangat belajar, namun masih kurang optimal dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran di SKB SPNF Kabupaten Karawang. Hal ini disebabkan karena tidak semua siswa memiliki alat elektronik seperti handphone, komputer, laptop, atau perangkat lainnya. Kondisi ekonomi siswa Paket C juga terbatas, sehingga mereka sering berbagi gadget dengan keluarga, terutama orang tua. Ada juga orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya membawa gadget ke sekolah. Siswa paket C membutuhkan teknologi pembelajaran yang lebih baik karena kondisi mereka sangat penting untuk meningkatkan semangat belajar. Dengan teknologi ini, mereka bisa memperluas pengetahuan dan belajar dengan lebih efektif. Namun, tidak semua siswa memiliki handphone, laptop, atau komputer, sehingga sulit mendapat informasi yang lebih luas. Beberapa dari mereka bahkan harus berbagi perangkat dengan orang tua atau teman saat di Teknologi pembelajaran ini bisa menjadi sarana belajar yang lebih luas dan memperkaya pemahaman mereka melalui internet dan perangkat elektronik. Karena itu, teknologi pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan motivasi belajar siswa paket C. Mereka bisa belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari internet dan berbagai sumber lain. Jika mereka bisa memanfaatkan teknologi, maka mereka lebih termotivasi dan bisa memperluas wawasan serta ilmu yang mereka dapatkan. Selain itu, ilmu yang mereka pelajari bisa terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat ini masih ada banyak siswa paket C yang tidak memiliki alat elektronik seperti handphone, laptop, atau komputer. Mereka hanya mengandalkan buku, yang justru kurang memadai untuk meningkatkan minat belajar mereka. Di zaman sekarang, semua orang sudah menggunakan teknologi baik dalam pekerjaan maupun belajar. Teknologi pembelajaran bisa menjadi alat yang membantu, meski tidak semua siswa paket C bisa menggunakan perangkat Terkadang mereka juga memanfaatkan gadget untuk menyelesaikan tugas. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggali dan memahami makna dari pengalaman manusia, interaksi sosial, serta fenomena dalam konteks Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap proses, makna, dan dinamika yang terjadi di lapangan, khususnya terkait implementasi teknologi pembelajaran dan motivasi belajar siswa dalam setting pendidikan Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang berfokus pada upaya menggambarkan dan memaparkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai karakteristik, kondisi, serta proses yang terjadi pada objek penelitian, tanpa melakukan manipulasi atau perlakuan tertentu. Pendekatan ini relevan untuk mengkaji fenomena pendidikan yang bersifat kontekstual dan kompleks, sehingga memungkinkan peneliti menangkap realitas sosial secara lebih utuh, termasuk perspektif subjek penelitian dan dinamika interaksi dalam lingkungan belajar. Sejalan dengan hal tersebut. Moleong . menegaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena secara holistik melalui deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa dengan memanfaatkan berbagai metode Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran dan pemanfaatan teknologi. Volume 9. No. Januari 2026 pp 158-169 Wawancara dilakukan secara mendalam kepada informan kunci untuk menggali pengalaman dan persepsi terkait implementasi teknologi pembelajaran dan motivasi belajar. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data melalui arsip dan dokumen institusional yang relevan. Menurut Sugiyono . , penggunaan berbagai teknik pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data yang lebih kaya dan meningkatkan kredibilitas temuan melalui triangulasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berkelanjungan. Proses analisis dilakukan secara siklikal sejak pengumpulan data, sehingga memungkinkan pendalaman makna dan penguatan validitas temuan secara kontekstual. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi teknologi pembelajaran dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang. Implementasi teknologi yang dilakukan oleh Lembaga Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kabupaten Karawang melalui adanya teknologi pembelajaran merupakan suatu metode pembelajaran yang menjadikan siswa lebih aktif dalam proses belajar. Guru memberikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu pengembangan kemampuan akademik siswa. Istimewanya, ayah dari salah satu guru tersebut juga merupakan seorang pakar filsafat dan memiliki komunikasi yang efektif antara guru dan siswa, menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana belajar yang kolaboratif, terbuka, serta saling menghargai. Keberagaman strategi pembelajaran ini sangat berperan dalam meningkatkan minat serta partisipasi siswa, karena setiap pendekatan disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan belajar mereka. Pembelajaran yang baik dan berkualitas ditandai oleh konsistensi dalam pengaturan waktu, perencanaan yang matang, serta pelaksanaan yang terarah. Konsistensi ini mencakup keteraturan jadwal, kesinambungan materi yang disampaikan, dan kedisiplinan dalam menjalankan setiap tahap proses belajar-mengajar. Dengan adanya keteraturan ini, siswa dapat menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran, membentuk kebiasaan belajar yang efektif, serta memahami materi secara lebih sistematis dan mendalam. Selain itu, konsistensi menunjukkan adanya komitmen guru dalam menyediakan lingkungan belajar yang stabil, fokus, serta berpijak pada pencapaian tujuan pembelajaran secara utuh. Dengan demikian, kualitas pembelajaran tidak hanya dinilai dari hasil yang diperoleh siswa, tetapi juga dari proses yang berlangsung secara terencana, berkesinambungan, dan penuh tanggung jawab. Dengan adanya tujuan, media, strategi, dan metode yang jelas, siswa akan lebih mudah mengikuti aturan serta arahan yang diberikan oleh para tutor. Dalam implementasi teknologi pembelajaran, tutor memiliki peran penting dalam membimbing siswa agar lebih memahami materi yang diberikan. Selain itu, tutor dan guru juga menggunakan perangkat lunak teknologi seperti komputer yang disediakan oleh lembaga Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kabupaten Karawang. Tidak hanya menggunakan komputer, siswa juga sering memanfaatkan perangkat teknologi pribadi mereka sendiri untuk mengikuti proses pembelajaran. Teknologi memiliki peran penting dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, terutama dalam konteks pembelajaran digital dan berbasis data saat ini. Salah satu bentuk penerapan teknologi dalam mendukung kemampuan berpikir kritis adalah melalui penggunaan perangkat lunak statistik, aplikasi analisis data, dan alat bantu visualisasi informasi. Program seperti SPSS. Microsoft Excel. Google Sheets, dan aplikasi sejenis memungkinkan siswa untuk mengolah, membaca, serta menafsirkan data secara teratur dan sistematis. Dalam penerapan teknologi secara terpadu dalam proses pembelajaran, selain membantu siswa memahami materi pelajaran, teknologi juga mendorong mereka untuk berpikir reflektif, memecahkan masalah 162 Ariyanti. Santika & Muis. Implementasi Teknologi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Paket C Di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang secara terarah, serta mengembangkan kemampuan berargumentasi berdasarkan fakta dan bukti Melalui proses ini, siswa terbiasa mengevaluasi berbagai sudut pandang, mempertanyakan asumsi, dan membuat keputusan yang logis. Kemampuan ini menjadi dasar penting dalam penguatan keterampilan berpikir kritis yang dibutuhkan baik dalam konteks akademik maupun kehidupan sehari-hari. Teknologi juga berkontribusi besar dalam memperluas akses terhadap informasi yang relevan dan mutakhir. Melalui internet, mesin pencari, platform pembelajaran daring, serta aplikasi digital berbasis edukasi, peserta didik dapat mengeksplorasi berbagai perspektif, membandingkan data dari beragam sumber, dan memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran maupun isu-isu global. Akses informasi yang luas ini menjadikan siswa tidak hanya sebagai penerima pengetahuan secara pasif, tetapi juga sebagai individu yang aktif dalam menilai, menyeleksi, dan mengkritisi informasi yang diterima. Media visual mencakup berbagai bentuk seperti gambar, video edukatif, infografis, diagram, hingga presentasi slide. Media ini menjadi pilihan favorit siswa Paket C karena mudah digunakan, mudah diakses, dan mampu menyampaikan informasi secara lebih konkret. Bagi siswa yang kesulitan memahami teks panjang atau istilah akademik, visualisasi sebagai alat bantu yang sangat efektif untuk mempermudahkan pemahaman materi. Secara keseluruhan, media visual merupakan media pembelajaran yang paling bermanfaat dan paling sering dimanfaatkan oleh siswa Paket C. Melalui gambar, grafik, diagram, dan video, siswa dapat menangkap informasi lebih cepat, mengingatnya lebih lama, serta memahami materi dengan lebih mendalam. Hal ini sangat penting mengingat siswa Paket C umumnya merupakan pembelajar dewasa dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Dengan menyederhanakan materi yang kompleks menjadi bentuk visual yang mudah dipahami, media ini membantu mengurangi kesenjangan kemampuan belajar di antara para siswa. Strategi yang digunakan dalam teknologi pembelajaran melalui perencanaan yang telah dibuat oleh pihak lembaga Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kabupaten Karawang agar para siswa lebih kondusif dan mengikuti arahan yang telah diberikan oleh para tutor maupun guru. Dalam perencanaan pembelajaran Program Paket C, khususnya di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) SPNF Kabupaten Karawang, pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting untuk menciptakan proses belajar yang lebih efektif dan sesuai perkembangan zaman. Dua jenis teknologi yang paling sering digunakan ialah teknologi komunikasi dan teknologi konstruksi. Teknologi komunikasi seperti telepon, smartphone, komputer, radio, dan televisi digunakan siswa untuk mengakses materi, mengikuti kelas daring, serta berkomunikasi dengan tutor. Smartphone menjadi perangkat yang paling banyak dipilih karena praktis, mudah dibawa, dan mendukung berbagai aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom. Google Drive. Google Docs, hingga Google Meet. Sementara itu, teknologi konstruksi termasuk kecerdasan buatan (AI) yang membantu siswa menyelesaikan tugas dan memahami materi secara lebih cepat dan Metode pembelajaran yang digunakan dalam program ini menyampaikan materi secara bertahap dan lebih efektif, mulai dari konsep yang mudah hingga konsep yang lebih rumit. Dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket C, proses penyampaian materi dirancang secara bertahap dan terstruktur. Materi dimulai dari konsep dasar yang mudah dipahami oleh siswa, kemudian berlanjut ke konsep yang lebih kompleks. Pendekatan bertahap ini sangat penting karena siswa memiliki latar belakang dan kemampuan akademik yang beragam. Dengan memulai dari materi sederhana, pengajar membantu siswa membangun fondasi pengetahuan yang kuat sebelum menghadapi materi yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam. Para Volume 9. No. Januari 2026 pp 158-169 tutor di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) SPNF Kabupaten Karawang konsisten menerapkan pendekatan bertahap dalam setiap sesi pembelajaran. Konsistensi dalam penyampaian materi menjadi indikator kualitas pembelajaran, karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan siswa mengikuti alur pelajaran. Faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi teknologi pembelajaran dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang. Sarana dan prasana Sarana dan prasarana yang disediakan oleh Lembaga SKB digunakan secara optimal oleh seluruh siswa Paket C dalam mendukung berbagai kegiatan pembelajaran. Baik dalam mengikuti program rutin, kegiatan tambahan, maupun layanan pendukung lainnya, para siswa menunjukkan konsistensi dalam penggunaan fasilitas yang sudah tersedia. Contoh konkret terlihat ketika kegiatan belajar atau pelatihan membutuhkan perangkat komputer. para siswa menggunakan fasilitas tersebut dengan tertib, penuh tanggung jawab, serta sesuai prosedur yang ditetapkan oleh lembaga. Meskipun demikian, dalam praktiknya, beberapa siswa masih menghadapi berbagai kendala teknis, seperti gangguan pada perangkat, keterbatasan kapasitas penyimpanan, atau ketidaktahuan terkait cara pengoperasian teknologi. Walaupun hambatan tersebut muncul, semangat dan kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan tidak berkurang. Hal ini membuktikan bahwa fasilitas yang ada benar-benar dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar di SKB. Ketersediaan perangkat teknologi Tidak semua siswa Paket C memiliki perangkat teknologi pribadi yang dapat digunakan secara Beberapa siswa masih harus berbagi perangkat dengan orang tua atau anggota keluarga lainnya karena keterbatasan jumlah perangkat di dalam satu keluarga. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan dalam kegiatan belajar, terutama ketika mereka perlu mengakses materi atau menyelesaikan tugas di luar jam pembelajaran. Keterbatasan ekonomi juga membuat banyak siswa belum mampu membeli perangkat sendiri karena belum memiliki penghasilan tetap. Bagi siswa yang memiliki perangkat pribadi, sebagian besar perangkat tersebut berada dalam kondisi cukup baik sehingga dapat digunakan untuk belajar, seperti mengerjakan tugas, mencari materi tambahan, atau mengikuti pembelajaran berbasis teknologi. Namun, ada juga siswa yang perangkatnya sering mengalami kendala, seperti kapasitas penyimpanan yang cepat penuh atau performa perangkat yang tidak stabil. Tidak jarang juga beberapa siswa hanya mengandalkan smartphone sebagai sarana utama dalam mengakses materi pembelajaran, karena perangkat tersebut paling mudah dijangkau dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan Keluarga Dukungan dari keluarga, termasuk orang tua, saudara, maupun lingkungan sekitar rumah, memainkan peran penting dalam membangun semangat belajar siswa Paket C. Keberadaan keluarga yang memberikan perhatian, dorongan, serta suasana rumah yang positif menjadi motivasi utama bagi siswa untuk terus berusaha dalam proses pembelajaran. Kehadiran keluarga yang mendukung secara emosional dan moral membuat siswa merasa dihargai, diperhatikan, dan termotivasi berkomitmen untuk terus belajar, meskipun menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan waktu, fasilitas, atau kemampuan akademik. Selain memberikan dorongan, orang tua juga secara aktif terlibat dalam memantau perkembangan pendidikan anak mereka. Hal ini terlihat dari upaya mereka dalam memantau nilai, 164 Ariyanti. Santika & Muis. Implementasi Teknologi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Paket C Di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang menyelesaikan tugas secara tepat waktu, serta memastikan kehadiran anak selama mengikuti kegiatan belajar di lembaga. Dengan pengawasan yang konsisten, orang tua berperan dalam memberikan bantuan tambahan, memandu anak ketika mengalami kesulitan, serta memastikan proses belajar berjalan sesuai tujuan. Kondisi Fisik Lingkungan Belajar di rumah Setiap siswa Paket C menghadapi kondisi ruang belajar yang berbeda-beda saat berada di Beberapa di antaranya memiliki ruangan khusus yang disediakan untuk belajar, sementara yang lain belum mempunyai area belajar yang benar-benar didedikasikan. Bagi siswa yang memiliki ruang belajar sendiri, kamar mereka sering kali menjadi pilihan utama, yang juga memberikan privasi yang cukup untuk mendorong konsentrasi maksimal. Selain itu, beberapa siswa juga melakukan penataan kamar mereka dengan menyediakan meja belajar khusus, sehingga tidak perlu belajar di atas tempat tidur atau duduk di lantai. Ketenangan dalam ruangan menjadi faktor penting bagi siswa Paket C dalam mempercepat penyelesaian tugas. Suasana yang sunyi membantu mereka lebih fokus, terutama ketika mengerjakan tugas mandiri atau mengikuti pembelajaran daring. Selain ketenangan, pencahayaan juga memiliki peran Cahaya yang terlalu redup dapat membuat mata cepat lelah, sementara cahaya yang terlalu terang bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Karena itu, siswa berusaha mengatur pencahayaan di ruang belajar agar tetap ideal, tidak terlalu gelap maupun terlalu menyilaukan. Dukungan teman sebaya Para siswa Paket C memiliki lingkungan sosial yang mendukung proses belajar mereka, baik melalui teman sekelas maupun kelompok belajar yang dibentuk oleh tutor. Kehadiran teman sebaya memberikan bantuan penting, terutama ketika siswa membutuhkan bantuan dalam memahami materi atau mengajukan pertanyaan. Di Lembaga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) SPNF Kabupaten Karawang, kelompok belajar yang dibentuk oleh tutor sering menjadi kesempatan utama bagi siswa untuk berdiskusi. Dalam kelompok tersebut, mereka dapat saling melengkapi pemahaman materi, berbagi cara menyelesaikan soal, serta menjelaskan materi dengan bahasa yang lebih sederhana dibandingkan penjelasan dari pengajar. Kegiatan ini sangat membantu, terutama bagi siswa yang kesulitan memahami materi tertentu. Ketersediaan akses dalam penggunaan teknologi Sebagian besar siswa Paket C memiliki akses internet yang memadai di rumah, terutama melalui jaringan Wi-Fi yang memudahkan mereka menyelesaikan tugas sekolah secara lebih Ketika berada di luar rumah, mereka biasanya beralih menggunakan data seluler untuk mengakses aplikasi atau platform pembelajaran yang diperlukan selama kegiatan belajar, baik untuk mencari informasi, mengunduh materi, maupun mengumpulkan tugas secara daring. Akses internet yang fleksibel ini membantu siswa tetap terhubung dalam proses pembelajaran kapan saja dibutuhkan. Tidak semua siswa menggunakan jenis akses internet yang sama. Ada yang hanya mengandalkan Wi-Fi di rumah, ada pula yang sepenuhnya menggunakan data seluler karena keterbatasan fasilitas. Beberapa siswa bahkan memanfaatkan kedua jenis akses internet sekaligus, yaitu Wi-Fi saat berada di rumah dan data seluler ketika berada di luar. Perbedaan ini menyebabkan kebutuhan dan kemampuan akses tiap siswa tidak selalu seragam. Penggunaan aplikasi dan platform pembelajaran Lembaga Sanggar Kegiatan Belajar menyediakan layanan pendidikan yang dirancang secara fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar setiap siswa Paket C. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik mengikuti pembelajaran secara lebih personal dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beberapa masalah yang sering muncul antara lain Volume 9. No. Januari 2026 pp 158-169 aplikasi yang berjalan lambat atau mengalami lag, gangguan koneksi internet yang tidak stabil, serta fitur tertentu yang tidak dapat diakses karena sedang dalam proses pemeliharaan atau pembaruan sistem. Meski pihak lembaga telah menyediakan jaringan internet untuk mendukung kegiatan belajar, gangguan jaringan masih sering terjadi, terutama saat pembelajaran sedang berlangsung di kelas. Kondisi ini membuat siswa kesulitan mengakses materi, mengumpulkan tugas, serta mengikuti instruksi guru melalui platform digital. Penguasaan penggunaan teknologi Seluruh siswa Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kabupaten Karawang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi dalam mengoperasikan berbagai perangkat teknologi seperti laptop, smartphone, tablet, dan komputer. Hampir 85% dari mereka merasa sangat percaya diri dalam menggunakan teknologi tersebut karena teknologi telah menjadi bagian dari kebiasaan belajar mereka. Kebiasaan tersebut membuat mereka tidak mengalami kesulitan signifikan ketika teknologi digunakan dalam proses pembelajaran. Selain percaya diri, para siswa ini juga menunjukkan minat yang tinggi terhadap penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Mereka merasa bahwa perangkat seperti komputer dan smartphone memberikan kemudahan, kesederhanaan, serta kenyamanan dalam mengakses materi, memahami penjelasan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh tutor. Antar muka yang interaktif dan penggunaan yang mudah dipahami membuat siswa semakin tertarik dan merasa terbantu dalam belajar. Kedisiplinan dalam belajar Para siswa Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kabupaten Karawang umumnya memiliki jadwal belajar harian yang terstruktur dengan baik. Jadwal yang disusun ini membantu mereka dalam menyesuaikan waktu dengan berbagai kegiatan belajar yang berbeda setiap hari. Dengan adanya pola belajar yang teratur, para siswa dapat mengatur prioritas tugas secara lebih efektif. Kebiasaan mereka yang mengikuti jadwal harian secara konsisten membuat para siswa lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap tugas akademiknya. Mereka terbiasa menyisihkan waktu khusus untuk belajar setelah menyelesaikan aktivitas lain di rumah, sehingga tidak mengalami keterlambatan dalam pengumpulan tugas. Tanpa jadwal yang jelas, siswa menyadari bahwa mereka akan kesulitan dalam mengatur waktu dan akhirnya tidak siap menghadapi tuntutan pembelajaran di masa depan. Adapun beberapa faktor internal yang mempengaruhi implementasi teknologi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa Paket C Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kabupaten Karawang, dikarenakan faktor internal juga sangat penting bagi siswa dalam meningkatkan fokus dan minat belajar agar para siswa bisa mencapai apa yang mereka impikan, yakni: Motivasi belajar Teknologi pembelajaran memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Paket C. Berbagai media digital seperti aplikasi pendidikan, platform pembelajaran daring, serta perangkat teknologi seperti laptop, smartphone, tablet, atau komputer menjadi sarana penting yang membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah. Kehadiran teknologi ini juga memperkaya pengalaman belajar, seiring dengan kebutuhan masing-masing Untuk itu, aplikasi dan platform pembelajaran yang tersedia memungkinkan siswa mengakses materi kapan saja, berkomunikasi dengan tutor, mengerjakan tugas secara mandiri, serta mengevaluasi pemahaman mereka sendiri. Kemudahan ini mampu menumbuhkan minat belajar karena siswa merasa lebih terlibat dan aktif dalam proses belajar. Selain membantu menyelesaikan tugas, teknologi pembelajaran juga membuka peluang bagi siswa untuk 166 Ariyanti. Santika & Muis. Implementasi Teknologi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Paket C Di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang mendapatkan informasi dan pengetahuan baru dari berbagai sumber digital, seperti video edukasi, modul online, atau artikel pembelajaran. Kepercayaan diri Sebagian siswa Paket C masih merasa kurang percaya diri dalam menggunakan teknologi pembelajaran yang disediakan oleh lembaga. Keraguan ini biasanya muncul ketika mereka belum sepenuhnya memahami cara kerja aplikasi atau platform digital yang digunakan dalam proses belajar. Meskipun demikian, para siswa tetap berusaha meningkatkan pemahaman dengan aktif bertanya kepada tutor ketika menemukan materi yang sulit dipahami, baik yang dijelaskan secara langsung maupun yang tersedia di platform pembelajaran. Selain bertanya, ada pula siswa yang kurang aktif dalam berdiskusi atau menanggapi pertanyaan di kelas. Kurangnya partisipasi ini membuat mereka membutuhkan dorongan lebih untuk meningkatkan kepercayaan diri. Namun, bagi sebagian lainnya, penggunaan teknologi justru membantu memperkuat rasa percaya diri, terutama ketika mereka mampu menyelesaikan tugas dengan benar melalui bantuan aplikasi atau perangkat digital. Penggunaan teknologi pembelajaran juga membuka peluang bagi siswa untuk mempelajari hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah mereka ketahui. Ketika menemui kesulitan, siswa dianjurkan untuk bertanya agar pemahaman mereka terhadap materi dapat meningkat. Di samping bertanya kepada tutor, beberapa siswa juga sering berdiskusi dengan teman sekelas untuk bertukar pendapat dan mencari solusi Kegiatan diskusi ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu siswa meningkatkan pemahaman. Minat dan Ketertarikan terhadap Pembelajaran Para siswa Paket C tampak antusias dan bersemangat saat mengikuti kegiatan belajar di kelas. Proses pembelajaran yang menyenangkan dan menarik membuat mereka merasa nyaman serta Rasa senang yang muncul selama belajar juga bisa menular ke teman-temannya, sehingga suasana belajar menjadi lebih positif. Karena melihat teman-temannya bersemangat belajar, siswa lain pun semakin termotivasi untuk berusaha lebih keras. Selain itu, setiap siswa memiliki mata pelajaran yang disukainya. Beberapa siswa lebih tertarik pada mata pelajaran agama karena dianggap mudah dipahami dan dihafal. Minat ini sangat membantu meningkatkan motivasi belajar mereka untuk lebih giat dan konsisten dalam mencapai tujuan akademik serta cita-cita di masa depan. Minat terhadap penggunaan teknologi Penggunaan fitur interaktif dalam aplikasi pembelajaran seperti kuis, video, dan forum diskusi memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pemahaman siswa Paket C terhadap materi yang diajarkan. Keberadaan fitur-fitur tersebut membuat proses belajar lebih dinamis karena siswa dapat melihat contoh secara langsung, mendengarkan penjelasan, serta memperoleh bimbingan langsung dari guru atau tutor. Sebagai contoh, dalam pelajaran Prakarya, siswa sering diminta membuat berbagai kerajinan dari bahan bekas seperti pot atau tempat sampah. Untuk memahami langkah-langkah pembuatan, mereka memanfaatkan video tutorial dari platform seperti YouTube. Melalui tayangan tersebut, siswa dapat melihat proses pembuatan secara visual, mulai dari bahan yang digunakan hingga hasil akhirnya. Dengan gambar dan suara yang jelas, siswa dapat mengikuti instruksi dengan lebih mudah dan menghasilkan karya sesuai dengan bentuk serta warna yang mereka inginkan. Hal ini menunjukkan peran penting teknologi dalam membantu siswa memahami materi secara lebih Volume 9. No. Januari 2026 pp 158-169 Kemandirian Belajar Beberapa siswa Paket C masih menghadapi tantangan dalam membangun kemandirian belajar. Banyak di antara mereka belum terbiasa menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah tepat waktu karena pengerjaan tugas sering bergantung pada suasana hati. Saat mereka merasa bersemangat, barulah tugas yang diberikan oleh pengajar atau tutor dikerjakan. Meskipun begitu, mereka tetap berusaha memahami materi pelajaran meskipun pengajar tidak hadir, meski proses tersebut tidak selalu berjalan lancar. Dalam praktiknya, siswa masih sering meminta bantuan orang lain, baik teman maupun anggota keluarga, terutama ketika harus menggunakan teknologi pembelajaran seperti smartphone atau aplikasi belajar. Mereka cenderung kurang belajar apabila tidak diingatkan atau diminta oleh orang tua maupun guru. Namun, ketika berada di kelas, siswa tetap berupaya memahami materi yang disampaikan meski terkadang membutuhkan waktu lebih lama. Kemandirian mereka juga terlihat dari usaha untuk melawan rasa malas, meskipun hal tersebut tidak mudah dilakukan. Kesadaran bahwa mengatasi rasa malas dapat berdampak positif pada masa depan serta pencapaian cita-cita menjadi dorongan tersendiri bagi mereka untuk mencoba mengerjakan tugas secara lebih Jika mengalami kesulitan memahami materi, mereka tidak ragu bertanya kepada teman sekelas agar mendapatkan penjelasan tambahan. Temuan penelitian ini relevan dengan pandangan Hodges et al. yang menekankan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran, khususnya pada konteks pembelajaran jarak jauh dan blended learning, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keterlibatan . tudent engagemen. dan motivasi belajar apabila didukung oleh desain pembelajaran yang terstruktur serta umpan balik yang konsisten dari pendidik. Hal ini sejalan dengan praktik di SKB SPNF Kabupaten Karawang, di mana tutor tidak hanya memanfaatkan perangkat teknologi, tetapi juga memastikan adanya perencanaan, konsistensi waktu, serta komunikasi dua arah yang mendorong siswa menjadi lebih aktif dan bertanggung jawab dalam proses belajar. Selain itu. Selwyn . menegaskan bahwa penggunaan teknologi pendidikan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan ketersediaan perangkat, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek sosial, budaya, dan ekonomi peserta didik. Pandangan ini memperkuat temuan mengenai keterbatasan kepemilikan perangkat pribadi, variasi kualitas akses internet, serta perbedaan kondisi lingkungan belajar di rumah. Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan digital . igital divid. masih menjadi tantangan nyata dalam implementasi teknologi pembelajaran, sehingga peran lembaga dalam menyediakan fasilitas, dukungan teknis, dan kebijakan yang adaptif menjadi sangat penting untuk menjamin kesetaraan akses dan keberlanjutan proses pembelajaran. Dari sisi motivasi dan faktor internal, temuan penelitian ini juga sejalan dengan teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Schunk. Meece, dan Pintrich . , yang menyatakan bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh persepsi siswa terhadap relevansi tugas, kemudahan akses terhadap sumber belajar, serta pengalaman keberhasilan dalam menyelesaikan tugas. Pemanfaatan aplikasi, media visual, dan platform digital di Program Paket C memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan bermakna, sehingga mendorong siswa untuk merasa lebih terlibat, tertantang, dan termotivasi (Nursaidah. Rosita & Mulyono, 2. Hal ini terlihat dari meningkatnya antusiasme siswa, ketertarikan terhadap mata pelajaran tertentu, serta kecenderungan untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana eksplorasi pengetahuan secara mandiri. 168 Ariyanti. Santika & Muis. Implementasi Teknologi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Paket C Di Sanggar Kegiatan Belajar SPNF Kab. Karawang Selanjutnya, temuan terkait kepercayaan diri dan penguasaan teknologi dapat diperkaya melalui perspektif Bandura . tentang self-efficacy, yang menekankan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri sangat memengaruhi cara mereka menghadapi tugas, tantangan, dan hambatan. Tingginya tingkat kepercayaan diri sebagian besar siswa dalam mengoperasikan perangkat teknologi menunjukkan bahwa pengalaman penggunaan yang berulang, dukungan dari tutor, serta interaksi dengan teman sebaya berkontribusi pada penguatan efikasi diri (Mulyono, et. al, 2. Sebaliknya, keraguan yang masih dialami oleh sebagian siswa menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan, pelatihan teknis, serta lingkungan belajar yang suportif untuk memastikan seluruh siswa dapat mengembangkan rasa percaya diri yang memadai dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Dengan mengintegrasikan pembahasan diatas, temuan penelitian ini semakin menegaskan bahwa implementasi teknologi pembelajaran di SKB SPNF Kabupaten Karawang merupakan proses yang bersifat multidimensional. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh desain pedagogis, dukungan sosial, kondisi lingkungan, serta faktor psikologis siswa. Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai katalis yang memperkuat motivasi, partisipasi, dan kemandirian belajar, sepanjang didukung oleh strategi pembelajaran yang terencana, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata peserta didik Paket C (Berliani & Mulyono, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknologi pembelajaran pada siswa Paket C di Lembaga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) SPNF Kabupaten Karawang memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas proses pembelajaran serta motivasi belajar peserta didik. Penggunaan berbagai media dan platform digital, seperti aplikasi pembelajaran, video interaktif, serta perangkat teknologi berupa komputer dan smartphone, mampu membantu siswa dalam memahami materi secara lebih mudah, menarik, dan kontekstual. Faktor pendukung yang turut memengaruhi keberhasilan penerapan teknologi pembelajaran meliputi ketersediaan sarana dan prasarana, dukungan keluarga, kondisi lingkungan belajar yang kondusif, kedisiplinan siswa, serta kemampuan penguasaan teknologi. Sementara itu, hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan perangkat pribadi, gangguan jaringan internet, serta kurangnya pemahaman dalam penggunaan aplikasi Meskipun demikian, semangat belajar, dukungan dari tutor, dan pelatihan yang diberikan mampu membantu siswa mengatasi kendala tersebut secara bertahap. Secara keseluruhan, penerapan teknologi pembelajaran di SKB SPNF Kabupaten Karawang tidak hanya memberikan kemudahan dalam proses penyampaian materi, tetapi juga mendorong terbentuknya kemandirian, tanggung jawab, dan rasa percaya diri siswa. Dengan demikian, teknologi pembelajaran berperan sebagai sarana strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus mempersiapkan siswa Paket C agar lebih adaptif terhadap perkembangan era digital di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA