183 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 OPTIMALISASI PERAN KELOMPOK SADAR WISATA DALAM PEMANFAATAN POTENSI LOKAL SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA WISATA PENGEMBUR 1Rudi Harjo, 2Siluh Putu Damayanti, & 3I Wayan Suteja 1,2,3,Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram E-mail: 1rudiharjoe@gmail. com, 2sp. damayanti@gmail. 3tejabulan@gmail. Article History: Received: 19-12-2024 Revised: 21-12-2024 Accepted: 22-12-2024 Keywords: Optimalisasi. Kelompok Sadar Wisata. Potensi Lokal. Desa Wisata. Abstract: Desa Pengembur memiliki beragam potensi wisata luar biasa. Namun, perkembangan pariwisata di desa ini belum mencapai harapan yang diinginkan. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. Restu Bumi adalah kelompok masyarakat di Desa Wisata Pengembur, tetapi belum berperan aktif dalam pengembangan pariwisata. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran Pokdarwis dan menganalisis langkah optimalisasi perannya dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai daya tarik wisata. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sebanyak 12 narasumber dipilih sebagai informan utama untuk memberikan wawasan mendalam tentang dinamika dan tantangan dalam mengembangkan pariwisata di Desa Pengembur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama dalam memanfaatkan potensi lokal adalah belum optimalnya peran kelompok sadar wisata. Kendala utama meliputi kurangnya komunikasi internal pada tahap persiapan, kurangnya peningkatan pengetahuan dan koordinasi pada tahap perencanaan, serta keterbatasan pengetahuan dan hambatan komunikasi dengan pemerintah desa pada tahap pelaksanaan. Pada tahap pengawasan, kelompok gagal berperan krusial karena minimnya aktivitas pengawasan dan sinergi dengan pemerintah desa serta masyarakat. Pada tahap evaluasi, peran kelompok belum optimal karena kurangnya sistem evaluasi yang terukur dan integrasi umpan balik serta evaluasi berkala. Optimalisasi peran kelompok sadar wisata diperlukan untuk mengatasi kendala tersebut dan memajukan sektor pariwisata di Desa Pengembur. PENDAHULUAN Desa Pengembur merupakan salah satu dari 18 desa yang terletak di Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah. Desa Pengembur ditetapkan menjadi desa wisata berdasarkan SK Gubernur Nomor 050. 13-366 pada tahun 2019. Desa Wisata Pengembur secara geografis sangat strategis, berdekatan dengan Bandara Internasional Zainudin Abdul Majid (BIZAM) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandaika serta destinasi wisata lainnya. Selain terletak pada lokasi strategis, desa wisata ini juga memiliki ragam potensi lokal, baik potensi alam, a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 budaya, maupun buatan. Potensi alam seperti Daya Tarik Wisata Gunung Tele dan Goa Saung, potensi budaya yakni Makam Sile Denden dan potensi buatan seperti kerajinan gerabah, anyaman rotan dan kerajinan dari bambu, serta ditambah dengan hamparan sawah yang luas dan pemadangan bukit yang menjulang tinggi memberikan nilai estetika mempesona pada desa wisata ini. Meskipun Desa Pengembur telah ditetapkan sebagai desa wisata, perkembangan pariwisatanya tidak sesuai harapan. Kelompok sadar wisata "Restu Bumi" yang seharusnya menjadi motor penggerak dalam hal persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi tidak berhasil menjalankan perannya dengan baik. Pembangunan kepariwisataan harus memperhatikan posisi, potensi dan peran masyarakat baik sebagai subjek atau pelaku maupun penerima manfaat pengembangan, karena dukungan masyarakat turut menentukan keberhasilan jangka panjang pengembangan kepariwisataan, adapun programprogram yang termasuk dalam cakupan mereka, seperti pemetaan potensi wisata, pelatihan dan pengembangan, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pengembangan infrastruktur wisata . Ketidakmampuan kelompok ini dalam menjalankan fungsi, mengingat pentingnya peran mereka dalam promosi dan pemasaran, konservasi alam budaya, serta monitoring dan Ketidakaktifan kelompok ini semakin diperparah dengan kenyataan bahwa sebagian anggota berada di luar daerah dan terlibat dalam pekerjaan lain. Saat mahasiswa dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram terlibat dalam kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) tematik tahun 2023 baru kelompok sadar wisata kembali terbentuk. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa, permasalahan utama yang dihadapi dalam upaya pemanfaatan potensi lokal sebagai daya tarik wisata di Desa Wisata Pengembur adalah belum maksimalnya peran kelompok sadar wisata . Faktor yang mempengaruhinya adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan komunikasi kelompok tersebut dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat. Kondisi ini mengakibatkan ketidakaktifan, sehingga tidak adanya kegiatan atau aktivitas yang dapat memajukan sektor pariwisata di Desa Wisata Pengembur. Upaya Optimalisasi peran kelompok sadar wisata menjadi langkah utama untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai daya tarik wisata. Diperlukan langkah-langkah kongkret, seperti memotivasi anggota kelompok, membangun keterlibatan masyarakat lokal, dan memastikan pelaksanaan program-program pariwisata sesuai rencana. Kerjasama yang solid dan komitmen yang kuat menjadi poin penting dalam mencapai tujuan ini. Pemahaman tentang posisi, peran, dan kedudukan kelompok sadar wisata harus diperkuat melalui pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang aktual, pelatihan dan pembinaan yang berkesinambungan menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok, mendorong partisipasi aktif, dan mengasah keterampilan yang diperlukan, serta kemitraan dengan pemerintah desa perlu ditingkatkan untuk memfasilitasi kebutuhan pendukung yang mendukung pengembangan pariwisata . Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti menjadikan Kelompok Sadar Wisata sebagai subjek penelitian dalam sebuah Jurnal dengan judul AyOptimalisasi Peran Kelompok Sadar Wisata Dalam Pemanfan Potensi Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Di Desa Wisata PengemburAoAo LANDASAN TEORI Komunikasi Organisasi Komunikasi organisasi merupakan proses kompleks dalam entitas organisasi yang a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 melibatkan interaksi individu atau kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Ini bukan hanya pertukaran pesan, tetapi juga penerimaan dan pemahaman pesan oleh penerima, krusial dalam mengelola dinamika internal organisasi . Teori Pariwisata Model fase TALC adalah hasil pengembangan dari bidang pemasaran dan bisnis, terinspirasi dari model Product Life Cycle (PLC). Model ini sangat berguna bagi pengelola destinasi karena membantu memahami fase mana destinasi mereka berada. TALC merupakan model linier yang relatif sederhana, dengan enam fase yaitu Eksplorasi. Keterlibatan. Pengembangan. Konsolidasi. Stgnan. Peremajaan & Penurunan . Kelompok Sadar Wisata Kelompok Sadar Wisata atau disingkat POKDARWIS merupakan kelompok swadaya dan swakarsa yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat serta bertujuan untuk meningkatkan pengembangan pariwisata daerah dan mensukseskan pembangunan pariwisata nasional. Dengan demikian kelompok sadar wisata merupakan kelompok yang tumbuh atas inisiatif dan kemauan serta kesadaran masyarakat sendiri guna ikut berpartisipasi aktif memelihara dan melestarikan. berbagai obyek dan daya tarik wisata dalam rangka meningkatkan pembangunan kepariwisataan di daerah . Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Masyarakat dalam konteks pembangunan kepariwisataan dapat didefinisikan sebagai: AuUpaya penguatan dan peningkatan kapasitas, peran dan inisiatif masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan, untuk dapat berpartisipasi dan berperan aktif sebagai subjek atau pelaku maupun sebagai penerima manfaat dalam pengembangan kepariwisataan secara berkelanjutan . Daya Tarik Wisata Daya tarik wisata, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, merupakan segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai dalam bentuk keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi tujuan kunjungan wisatawan . METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Subjek dari penelitian ini adalah Kelompok Sadar Wisata di Desa Wisata Pengembur. Sedangkan objeknya adalah perannya dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai daya tarik Alasan peneliti menjadikan Desa Pengembur sebagai situs penelitian adalah Desa Pengembur merupakan salah satu desa wisata yang memiliki potensi lokal yang bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Adapun yang dimaksud dengan lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti melakukan penelitiannya. Dalam hal ini yang menjadi lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah Desa Wisata Pengembur. Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah. Lokasi ini memiliki ragam potensi yang melimpah, namun belum mampu dimanfaatkan dengan baik. Penentuan Informan Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan . Karena peneliti merasa sampel yang diambil paling mengetahui tentang masalah yang akan diteliti. Penggunaan purposive a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 sampling dalam penelitian ini yaitu bertujuan untuk mengetahui kondisi Desa Wisata Pengembur. Maka informan yang dipilih adalah Kepala Desa. Sekretaris Desa. Ketua Karang Taruna/Ketua Kelompok Sadar Wisata sebelumnya dan Ketua yang baru. Tokoh Pemuda. Tokoh Masyarakat/Ketua Lembaga Adat. Kepala Dusun Tawah. Kepala Dusun Bun Mas. Kepala Dusun Saung, masing-masing satu pengrajin gerabah, anyaman rotan, kerajinan bambu Desa Pengembur. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan inti utama kegiatan penelitian dalam rangka memperoleh data yang dibutuhkan, dalam penelitian ini peneliti menggunakan tiga cara pengumpulan data, yaitu: Observasi Observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap objek penelitian dengan menggunakan semua indera serta pencatatannya yang dilakukan sistematis . Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan dimana peneliti hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamatan untuk mendapatkan informasi dan data mengenai peran kelompok sadar wisata yang diharapkan dapat dijelaskan mengenai apa yang menjadi topik penelitian. observasi non partisipan merupakan observasi dimana peneliti tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan subjek yang dilakukan, akan tetapi hanya sebagai pengamat independen . Wawancara Adapun teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak Dalam penelitian ini peneliti mengadakan wawancara secara langsung dengan Kepala Desa Pengembur. Kelompok Sadar Wisata, tokoh masyarakat dan masyarakat, tokoh pemuda untuk mendapatkan informasi terkait dengan peran kelompok sadar wisata. wawancara tidak tersruktur, adalah wawancara yang lebih bebas, lebih mendalam dan menjadikan pedoman wawancara sebagai pedoman umum serta garis-garis besaranya saja . Dokumentasi Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik . Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan sebagai pelengkap untuk mengakses data yang tidak dapat diperoleh melalui observasi atau wawancara. Ini adalah cara untuk mendapatkan informasi terkait objek penelitian. Peneliti menggunakan berbagai sumber dokumentasi seperti buku demografi penduduk Desa Wisata Pengembur dan foto kegiatan kelompok sadar wisata. Semua informasi yang terkait dengan objek penelitian, yakni Kelompok Sadar Wisata . , baik lisan maupun tertulis. Tujuannya adalah untuk memperkaya pemahaman tentang peran pokdarwis sehingga data yang diperoleh dari mereka dapat dipertanggungjawabkan Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan prosedur yang digunakan sebagai berikut: Tahap Pengumpulan Data Tahap pengumpulan data merupakan tahap dimana peneliti mengumpulkan data sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan yang diteliti. Peneliti dapat mengumpulkan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 fakta-fakta yang ada melalui banyak alat pengumpul data, seperti wawancara, observasi, rekaman dan dokumentasi. Jadi tahap pengumpulan data merupakan tahap dimana peneliti melakukan pengumpulan data melalui proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan terpisah-pisah menjadi suatu rangkaian hubungan atau suatu generalisasi. Tahap Coding Data Coding data adalah proses menelaah dan menguji data mentah yang ada dengan melakukan pemberian label Aumemberikan labelAy dalam bentuk kata-kata, frase atau kalimat . Adapun pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa coding data adalah menguji data yang masih mentah dengan memberikan label dan kata atau kalimat. Coding data tersebut berupa hasil wawancara, catatan lapangan, hasil observasi, dokumentasi dan sebagainya. Tahap Reduksi Data Teknik analisis data yang menggunakan reduksi, yaitu teknik analisis yang menggunakan cara mereduksi data atau merangkum data dari hal-hal yang pokok untuk memfokuskan pada hal-hal yang penting, untuk mencari data yang sesuai dan membuang data yang tidak perlu . Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah penelitian untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Penyajian Data Teknik analisis data yang menggunakan penyajian data adalah menyajikankan data yang sudah direduksi, sehingga penyajian data ini dapat dilakukan dalam bentuk tabel atau grafik dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami oleh peneliti. Tahap Penarikan Kesimpulan Teknik analisis data yang menggunakan kesimpulan yaitu teknik penelitian untuk mencari kembali kesimpulan awal yang masih di ragukan oleh peneliti untuk menemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung hasil dari penelitian tersebut, dan apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat penelitian kembali mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel . HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Kelompok Sadar Wisata Dalam Pemanfaatan Potensi Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Di Desa Wisata Pengembur Berikut adalah foto dokumentasi terkait dengan pelantikan kelompok sadar wisata Restu Bumi oleh Kepala Dinas Pariwisata a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Gambar 1. Pelantikan Pokdarwis Restu Bumi Desa Wisata Pengembur Pada pembahasan ini peneliti fokus mendeskripsikan peran kelompok sadar wisata dalam pemanfaatan potensi lokal sebagai daya tarik wisata di Desa Wisata Pengembur. Datadata yang diperoleh peneliti dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Berikut uraian penelitian ini dari cakupan peran kelompok sadar wisata dalam hal persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi adalah sebagai berikut: Peran Dalam Hal Persiapan Peran Kelompok Sadar Wisata "Restu Bumi" di Desa Wisata Pengembur pada tahap persiapan masih terkendala oleh kurangnya komunikasi internal yang efektif. Meskipun tantangan ini telah diidentifikasi, kelompok belum mengambil langkah konkret seperti menyelenggarakan pertemuan rutin, workshop, atau pelatihan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi tim. Adopsi teknologi komunikasi modern juga belum Selain itu, kebijakan transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan belum diimplementasikan secara menyeluruh, yang mengakibatkan kurangnya keterlibatan aktif dari setiap anggota kelompok dalam proses pengambilan Karena kurangnya tindakan untuk memperbaiki komunikasi internal, kelompok ini menghadapi kesulitan dalam mencapai kesepakatan untuk mempersiapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai daya tarik Peran Dalam Tahap Perencanaan. Pada tahap perencanaan, kelompok sadar wisata di Desa Wisata Pengembur menghadapi beberapa tantangan yang membatasi kemampuan mereka dalam menjalankan peran sentral secara efektif. Meskipun telah mengikuti pelatihan yang relevan, kurangnya kelanjutan dalam meningkatkan pengetahuan anggota kelompok mengenai dinamika kompleks industri pariwisata menjadi kendala utama. Kurangnya koordinasi internal juga menyulitkan mereka dalam menyusun rencana yang mencerminkan keragaman pandangan dan keahlian anggota. Tantangan ini menghambat kemampuan kelompok dalam merumuskan strategi holistik dan terintegrasi untuk mengoptimalkan potensi wisata di desa mereka. Sebagai hasilnya, kelompok ini masih menghadapi tantangan signifikan dalam menjalankan peran sentral pada tahap Peran Dalam Hal Pelaksanaan. Dalam tahap pelaksanaan, kelompok sadar wisata di Desa Wisata Pengembur a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 menghadapi sejumlah kendala yang membatasi kemampuan mereka dalam mewujudkan rencana pemanfaatan potensi wisata. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya pengetahuan dan pelatihan anggota kelompok dalam pengelolaan pariwisata, yang mengakibatkan kurangnya pemahaman akan prinsip-prinsip pengelolaan pariwisata dan keterampilan praktis yang diperlukan. Kendala komunikasi dengan pemerintah desa juga menjadi faktor penghambat, karena kerjasama dan dukungan dari pemerintah setempat seringkali penting untuk mencapai tujuan pariwisata. Selain itu, kurangnya koordinasi internal dan pemahaman yang seragam di antara anggota kelompok mengakibatkan pelaksanaan kegiatan yang tidak terkoordinasi dan kurang optimal dalam mencapai hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan komunikasi internal dan pemahaman bersama tentang visi dan tujuan kelompok perlu ditingkatkan agar kelompok dapat lebih efisien dalam mewujudkan rencana pengembangan potensi wisata Desa Wisata Pengembur. Peran Dalam Hal Pengawasan Pada tahap pengawasan, kelompok sadar wisata di Desa Wisata Pengembur menghadapi tantangan signifikan dalam memainkan peran krusial untuk menjamin kelancaran pelaksanaan rencana pemanfaatan potensi lokal sebagai daya tarik wisata. Tantangan utamanya meliputi minimnya aktivitas pengawasan yang mencerminkan kemampuan kelompok dalam mengontrol dan mengevaluasi pelaksanaan rencana. Kurangnya inisiatif dalam membentuk mekanisme pengawasan internal serta kurangnya sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat juga menjadi kendala serius. Langkahlangkah konkret untuk meningkatkan aktivitas pengawasan, memperkuat mekanisme internal, dan membangun kemitraan yang erat diperlukan untuk memastikan kesuksesan dalam pemanfaatan potensi lokal di Desa Wisata Pengembur. Peran Dalam Hal Evaluasi Peran kelompok sadar wisata di Desa Wisata Pengembur dalam mengevaluasi efektivitas upaya memanfaatkan potensi lokal sebagai daya tarik wisata sangat penting, namun belum optimal. Kurangnya perancangan sistem evaluasi yang terukur menjadi hambatan utama, menghambat identifikasi indikator keberhasilan dan pengukuran dampak nyata. Selain itu, keterlibatan masyarakat setempat yang minim juga menurunkan komprehensifitas evaluasi dari berbagai perspektif yang terlibat. Langkah-Langkah Optimalisasi Peran Kelompok Sadar Wisata Dalam Pemanfaatan Potensi Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Di Desa Wisata Pengembur. Langkah-langkah optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam pemanfaatan potensi lokal sebagai daya tarik wisata di Desa Wisata Pengembur sebagai berikut: Optimalisasi Peran Dalam Hal Persiapan. Untuk mengoptimalkan peran Kelompok Sadar Wisata "Restu Bumi" di Desa Wisata Pengembur, perlu dilakukan pertemuan rutin dan workshop untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan memfasilitasi pertukaran ide. Pelatihan khusus dalam manajemen konflik dan kerjasama tim juga diperlukan untuk memperkuat efektivitas Adopsi teknologi komunikasi modern seperti aplikasi pesan instan dapat mempermudah pertukaran informasi antar anggota kelompok, sementara kebijakan transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan akan memastikan setiap anggota merasa didengar dan dapat berkontribusi secara aktif . https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Optimalisasi Peran Dalam Hal Perencanaan Untuk mengoptimalkan peran kelompok sadar wisata di Desa Wisata Pengembur dalam tahap perencanaan, beberapa langkah penting dapat diambil. Pertama, anggota kelompok perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan untuk memperdalam pengetahuan tentang industri pariwisata, sehingga mereka dapat merumuskan rencana yang lebih komprehensif dan efektif. Kedua, peningkatan koordinasi internal melalui pertemuan rutin dan diskusi terbuka diperlukan untuk menyatukan pandangan dan keahlian anggota. Ketiga, kelompok harus merumuskan strategi perencanaan yang holistik dan terintegrasi, memanfaatkan berbagai ide dan kontribusi untuk menciptakan rencana yang berkelanjutan. Terakhir, meningkatkan pemahaman dan kesepahaman bersama tentang visi, misi, dan tujuan kelompok melalui diskusi mendalam dan sesi pelatihan khusus . Langkah-langkah ini akan membantu kelompok sadar wisata mengatasi kendala perencanaan dan memainkan peran sentral dalam mengembangkan potensi wisata Desa Pengembur secara berkelanjutan. Optimalisasi Peran Dalam Hal Pelaksanaan Untuk meningkatkan peran kelompok sadar wisata di Desa Pengembur dalam pelaksanaan, perlu diambil langkah-langkah strategis seperti: meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis anggota melalui pelatihan, memperkuat komunikasi dengan pemerintah desa untuk mendapatkan dukungan, memperbaiki koordinasi internal untuk memastikan pemahaman yang seragam tentang tujuan dan peran, serta meningkatkan komunikasi internal agar visi dan tujuan bersama dipahami dengan baik oleh semua anggota . Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas kelompok dalam mewujudkan rencana wisata di Desa Pengembur. Optimalisasi Peran Dalam Hal Pengawasan Untuk mengoptimalkan peran kelompok sadar wisata di Desa Pengembur dalam pengawasan, perlu ditingkatkan aktivitas pengawasan seperti patroli dan inspeksi, membangun mekanisme pengawasan internal yang jelas, memperkuat kerjasama dengan pemerintah desa dan masyarakat melalui pertemuan rutin, serta melatih anggota dalam teknik pengawasan dan penyusunan panduan . Langkah-langkah ini diharapkan memastikan kelancaran dan kesuksesan implementasi rencana wisata, mengurangi risiko penyimpangan, dan meningkatkan efektivitas pengembangan wisata di Desa Pengembur. Optimalisasi Peran Dalam Hal Evaluasi Untuk meningkatkan efektivitas evaluasi dan dampak wisata di Desa Pengembur, perlu dirancang sistem evaluasi yang terukur dengan indikator konkret, melibatkan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan, serta membentuk tim evaluasi khusus atau mengadakan acara partisipatif . Langkah-langkah ini akan membantu kelompok sadar wisata mengevaluasi dan meningkatkan kualitas serta keberlanjutan program a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa peran kelompok sadar wisata "Restu Bumi" dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai daya tarik wisata di Desa Wisata Pengembur belum sepenuhnya optimal. Dalam tahap persiapan, kelompok ini berperan sebagai penerima pelatihan namun terhambat oleh kurangnya kelanjutan pelatihan dan komunikasi internal. Pada tahap perencanaan, kendala utama adalah kurangnya koordinasi dan pemahaman di antara anggota. Dalam tahap pelaksanaan, keterbatasan pengetahuan dan komunikasi dengan pemerintah desa menjadi hambatan utama. Tahap pengawasan kurang efektif karena minimnya inisiatif untuk mekanisme pengawasan internal dan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat. Dalam evaluasi, peran kelompok belum optimal karena belum adanya sistem evaluasi yang terukur dan keterlibatan masyarakat Untuk optimalisasi, diperlukan pengembangan program pelatihan berkelanjutan, intensifikasi komunikasi internal melalui pertemuan rutin, dan pembentukan tim perencanaan internal. Pada tahap pelaksanaan, rencana implementasi yang lebih terstruktur dan komunikasi yang baik dengan pemerintah desa sangat penting. Pada tahap pengawasan, dibutuhkan mekanisme pengawasan internal dengan indikator kinerja yang jelas dan kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat. Dalam evaluasi, perlu didesain sistem evaluasi yang terukur dan melibatkan masyarakat setempat secara aktif. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan peran kelompok sadar wisata dalam mendukung potensi pariwisata di Desa Wisata Pengembur. SARAN Berdasarkan hasil pembahasan tentang optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam pemanfaatan potensi lokal sebagai daya tarik wisata di Desa Wisata Pengembur, perlu dilakukan pengembangan program pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan strategis, intensifikasi komunikasi internal melalui pertemuan rutin, dan pembentukan tim perencanaan internal yang aktif melibatkan anggota kelompok. Selain itu, diperlukan penyusunan rencana implementasi yang lebih terstruktur, penguatan mekanisme pengawasan internal, dan desain sistem evaluasi yang melibatkan masyarakat setempat. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan peran kelompok sadar wisata dapat dioptimalkan demi mendukung potensi pariwisata Desa Wisata Pengembur. DAFTAR PUSTAKA