Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 DAMPAK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL TERHADAP PEMAHAMAN KEBERAGAMAAN SISWA MADRASAH Erna Sari Agusta* *MTs Negeri 28 Jakarta. Indonesia *Email: ernasari. agusta@gmail. Abstract As a country full of diversity. Indonesian people should be able to maintain national unity. However, the lack of understanding of religion has led to several cases of intolerance both among people of the same religion and those of different religions. Survey results at MTsN 28 Jakarta show that 10% of students still have intolerant attitudes. Therefore, educational innovation is needed in madrasas. This research aims to determine the form of implementation of multicultural education in intracurricular, extracurricular, and co-curricular activities and its impact on students' understanding of religion. This research was conducted on grade 7 students at MTsN 28 Jakarta in January-February 2025. This research is qualitative. Data collection was conducted through questionnaires and interviews. The types of understanding of diversity studied are multicultural, humanistic, dialogical-persuasive, and socialactive understanding. The impact of multicultural education is based on the average achievement of indicators for each type of understanding of diversity, namely 70%. The research results show that multicultural education is implemented by integrating the learning process, extracurricular activities, habituation, and literacy activities. The percentage of each type of religious understanding across concepts, attitudes, and practices exceeds 70%. Meanwhile, in the role realm, it is still less than However, the average achievement of indicators for each type of diversity understanding exceeds Thus, multicultural education affects students' understanding of religion. Keywords: multicultural education. understanding religiousness. implementation in madrasah Abstrak Sebagai negara yang penuh dengan keberagaman, penduduk Indonesia seharusnya dapat menjaga persatuan bangsa. Akan tetapi, kurangnya pemahaman keberagamaan menimbulkan beberapa kasus intoleransi baik dalam sesama agama maupun berbeda agama. Hasil survei di MTsN 28 Jakarta menunjukkan 10% siswa masih memiliki sikap intoleransi. Karenanya, diperlukan inovasi pendidikan di madrasah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk implementasi pendidikan multikultural pada kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler serta dampaknya terhadap pemahaman keberagamaan siswa. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 7 MTsN 28 Jakarta pada bulan Januari-Februari 2025. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan angket dan wawancara. Jenis pemahaman keberagaman yang diteliti adalah pemahaman multikultural, humanis, dialogis-persuasif, dan aktif-sosial. Dampak pendidikan multikultural didasarkan pada capaian rata-rata indikator tiap jenis pemahaman keberagamaan yaitu sebesar 70%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan multikultural dilakukan dengan pengintegrasian dalam proses pembelajaran, kegiatan ekskul, kegiatan pembiasaan dan Adapun prosentase tiap jenis pemahaman keberagamaan pada ranah konsep, sikap, dan praktik mencapai lebih dari 70%. Sedangkan pada ranah peranan masih kurang dari 70%. Akan tetapi, rata-rata capaian indikator tiap jenis pemahaman keberagaman mencapai lebih dari 70%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan multikultural berdampak pada pemahaman keberagamaan siswa. Kata Kunci: pendidikan multicultural. pemahaman keberagamaan. implementasi di Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman budaya, suku, agama, dan bahasa. Keberagaman ini adalah kekayaan bangsa yang harus Namun, keberagaman juga dapat menjadi sumber konflik apabila tidak dikelola Maraknya kesenjangan antara ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila dengan sikap Kasus intoleransi yang terjadi dapat berupa ujaran kebencian, perundungan, dan paksaan beragama. Ajaran sikap toleransi terdapat dalam Surat AlKafirun ayat 1Ae5 dan Surat Al-Hujurat ayat 10-13 dan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat 1 dan Pasal 29 ayat Dua dasar hukum tersebut seharusnya dapat menjadi landasan seseorang untuk bersikap lebih bijak dalam menerima keberagaman bangsa. Akan tetapi pada kenyataannya, kasus intoleransi masih menjadi tren isu baik lokal maupun global. Mirisnya lagi, kasus intoleransi kini sudah merambah ke dunia Madrasah sejatinya adalah tempat untuk menuntut ilmu dan mengembangkan karakter. Akan tetapi, pandangan madrasah menjadi tempat yang menakutkan bagi mereka yang menjalankan ajaran agamanya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Berdasarkan survey yang dilakukan pada siswa MTsN 28 Jakarta terdapat lebih dari Hal ini mengindikasikan kurangnya pemahaman keberagamaan Perbedaan dalam Islam bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi bagaimana menyikapi perbedaan dengan pemahaman keberagamaan yang benar. Untuk menciptakan beragama. Kementerian Agama pun beragama sebagai bagian dari visi Moderasi beragama adalah cara pandang dalam beragama secara moderat yakni mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem dan tidak radikal. Salah satu pilar moderasi beragama adalah toleransi yaitu suatu perbuatan yang sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda. Komitmen utama moderasi beragama adalah menjadikan pemahaman keberagamaan sebagai suatu cara yang adaptif untuk menghadapi radikalisme agama yang mengancam kehidupan beragama, serta menjadikan persatuan dan kesatuan semakin kuat. Kebijakan pendidikan dalam rangka menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia dengan tujuan utama mengurangi intoleransi, fanatisme agama, dan ekstremisme yang dapat mengancam stabilitas sosial Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 dan keamanan nasional (Cahyo Muliawan & Muhammad Fauzan Ahsan Hafizi, 2. Dalam konteks globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan moderasi beragama dapat membantu siswa memahami peran agama dalam kehidupan modern dan Untuk menciptakan generasi yang keberagamaan yang baik di lingkungan madrasah, langkah strategis yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan multikultural. Pemberian pendidikan dan pemahaman tentang pendidikan Islam multikultural dengan wawasan wasathiyah sebagai penguatan karakter siswa merupakan salah satu upaya agar siswa memiliki pemahaman keberagamaan dan pola pikir serta berperilaku moderasi sebagai santri dan sebagai warga negara pada umumnya (Masykuri et al. , 2. Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang berlandaskan pada menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, kelas, dan agama pluralisme budaya dalam usaha memerangi prasangka dan diskriminasi (Grant & Sleeter, 2. Lebih lanjut dikatakan bahwa pendidikan multikultural merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian didalam dan diluar sekolah yang mempelajari tentang berbagai macam status sosial, ras, suku, agama agar tercipta kepribadian yang cerdas dalam menghadapi masalah-masalah keberagaman agama dan budaya (Puspita, 2. Paradigma menghapus streotipe, sikap dan pandangan egoistik, individualistik dan eksklusif di kalangan siswa. Sebaliknya, komprehensif terhadap sesama, yaitu sebuah pandangan yang mengakui bahwa keberadaan dirinya tidak bisa dipisahkan atau terintegrasi dengan lingkungan sekeliling yang realitasnya rasionalisme, agama, budaya, dan kebutuhan (Herlina, 2. Hal ini senada dengan tujuan Undang-Undang Sisdiknas menumbuhkan sikap simpati, respek, penganut agama dan kultur yang Pendidikan multikultural juga ditujukan untuk membentuk sikap pembelajaran dengan memanfaatkan keberagaman dalam pergaulan tanpa memandang perbedaan budaya, ras, agama, kondisi jasmaniah, jenis kelamin maupun status sosial masing-masing siswa (Pratiwi et al. , 2. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 Pendidikan mengajarkan siswa bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan yang harus diterima dengan lapang dada. Dengan pendekatan ini, siswa di madrasah dapat belajar menghargai keberagaman agama, budaya, dan tradisi yang ada di Masyarakat. Pendidikan menjadikan peserta didik paham akan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan (Wijayanti et al. , 2. Melalui diajarkan untuk memahami bahwa Islam menghormati sesama manusia. Nilainilai moderasi beragama seperti tasamuh . dan ukhuwah . dapat menjadi landasan Menurut (Rosyada, membina knowledge skill pada siswa untuk membentuk tenaga ahli dalam bidang pendidikan multikultur, tetapi mendidik siswa untuk menjadi warga menghargai HAM dan keadilan, demokratis tanpa harus mengorbanka pembinaan perilaku keberagamaannya dan memiliki jiwa kesetaraan dalam hidup bermasyarakat, serta senantiasa MTsN 28 sebagai sebuah lembaga pendidikan agama merasa penting Hal ini dikarenakan madrasah memiliki lingkungan yang Peserta didik di madrasah berasal dari latar belakang keluarga, suku, budaya, kebiasaan, dan cara mempunyai agama yang homogen yaitu Islam. Oleh karena itu, siswa madrasah perlu diberikan pemahaman menghormati, dan tidak memiliki sikap diskriminatif, dan hidup berdampingan dengan damai. Penelitian mengenai pendidikan multikultural telah banyak dilakukan. Akan tetapi fokus penelitian hanya pada pembelajaran intrakurikuler dan masih bersifat umum. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk implementasi pendidikan multikultural ekstrakurikuler, dan kokurikuler serta dampak pendidikan multikultural terhadap pemahaman keberagamaan siswa yang diukur pada 4 aspek multikultural, pemahaman humanis, pemahaman dialogis-persusif, dan pemahaman aktif sosial. METODE Penelitian pendekatan kuanlitatif melalui metode survey dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari Februari 2025. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 7 MTsN 28 Jakarta Pengumpulan data dilakukan dengan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 teknik wawancara dan kuesioner. Wawancara dilakukan kepada guru yang mengajar di kelas 7, fasilitator P5RA, tim literasi, dan siswa madrasah. Sedangkan kuesioner diberikan dalam bentuk google form yang disebarkan secara online melalui grup WhatsApp Hasil untuk mempertajam analisis data kualitatif berdasarkan fakta dan kasus di lapangan. Instrumen penelitian ini keberagamaan yang berorientasi pada pemahaman humanis, pemahaman dialogis-persuasif, dan pemahaman aktif sosial (Arif, 2. Adapun keberagamaan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dalam angket disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Indikator Pemahaman Keberagamaan Pemahaman Ranah Indikator Keberagamaan Multikultural Konsep Menerima dan menghormati keberagaman agama dan budaya Sikap Tidak merasa terganggu dengan perbedaan tradisi dan cara ibadah yang dilakukan oleh orang lain. Praktik Mempelajari keberagaman agama dan budaya tanpa mengubah keyakinan pribadinya. Peranan Melakukan diskusi tentang keberagamaan multikultural di madrasah. Humanis Konsep Memiliki sikap empati dan kepedulian terhadap sesama, tanpa memandang latar belakang agama dan budaya. Sikap Menghindari sikap intoleransi, diskriminasi, atau kekerasan atas dasar perbedaan agama dan budaya. Praktik Menerapkan nilai-nilai agama dan budaya dalam kehidupan seharihari dengan cara yang tidak merugikan orang lain. Peranan Bersikap terbuka dalam menerima informasi atau pelajaran tentang agama dan budaya lain tanpa merasa terancam. DialogisKonsep Menyadari bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk Persuasif perpecahan, melainkan peluang untuk saling memahami. Sikap Menghargai perbedaan pandangan dalam diskusi tentang agama dan budaya tanpa memaksakan pendapat pribadi. Praktik Berani menyampaikan pendapat tentang agama secara santun, tanpa menghakimi atau merendahkan pihak lain. Peranan Bersikap kooperatif dalam kegiatan keagamaan yang melibatkan berbagai kelompok agama. Aktif-Sosial Konsep Memahami pentingnya peran individu dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan sejahtera melalui nilai-nilai agama dan Sikap Mengutamakan nilai-nilai gotong royong, kerja sama, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik Aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial berbasis keagamaan, seperti bakti sosial, santunan, atau aksi kemanusiaan. Peranan Menghindari sikap eksklusif atau tertutup dalam beragama dan berbudaya, serta terbuka terhadap kerja sama sosial dengan semua Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 Pendidikan dikatakan berdampak jika rata-rata prosentase dari tiap jenis pemahaman keberagamaan mencapai minimal 70%. dengan dialog dan cara-cara damai dalam melihat perselisihan dan perbedaan pemahaman keagamaan tanpa harus melakukan tindakantindakan fisik seperti teror, perang, dan bentuk kekerasan lainnya. Keempat, mengajarkan bagaimana membangun kebersamaan dan solidaritas bagi seluruh manusia melalui aksi-aksi sosial yang nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia (Arif. Untuk membangun pemahaman keberagaman dengan 4 orientasi tersebut, pendidikan multikultural intrakurikuler atau dengan beberapa mata pelajaran seperti: Pendidikan Agama Islam. Sejarah. Ilmu Sosial, dan Guru memanfaatkan kisah-kisah Rasulullah SAW yang menunjukkan sikap toleransi terhadap umat non-Muslim, seperti perjanjian Madinah yang menjadi contoh harmoni antaragama. Selain itu, guru juga mendesain pembelajaran berbasis literasi keagamaan lintas Desain ini mempunyai 4 ciri utama yakni: Pertama, multikultural yaitu mengedepankan keberagaman nilai, tradisi, kepercayaan agama, serta Kedua, memahami sudut pandang yang Ketiga, kontekstual yaitu mengaitkan literasi keagamaan dengan isu-isu sosial dan budaya yang relevan. Keempat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan multikultural di MTsN Jakarta kurikulum pembelajaran madrasah. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan transformatif dan pendekatan aksi sosial. Pendekatan transformatif bertujuan menumbuhkan kompetensi siswa dalam melihat konsep, isu, tema, dan problem dari Sedangkan pendekatan aksi sosial bertujuan mendorong siswa untuk membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu atau masalah yang Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan upaya untuk membangun lingkungan pendidikan. Membangun dilakukan dengan 4 orientasi yaitu: Pertama, pemahaman multikultural menerima adanya keragaman ekspresi budaya yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan. Kedua, mengajarkan bagaimana mengakui pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam beragama. Ketiga, pemahaman dialogis-persuasif yang mengajarkan bagaimana menyelesaikan masalah Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 menggabungkan literasi keagamaan dengan berbagai mata pelajaran seperti: Sejarah. Seni Budaya, dan Bahasa. Adapun langkah-langkah pembelajaran dapat diawali dengan mengidentifikasi kompetensi literasi dan aspek literasi keagamaan yang menganalisis nilai-nilai moral dan Teks keagamaan dan budaya yang dipilih dapat berupa ayat kitab suci, cerita Kemudian, hubungkan teks keagamaan tersebut dengan kerukunan umat beragama, kebersamaan dalam sebuah perayaan atau tradisi gotong royong. Strategi pembelajaran yang digunakan dapat berupa diskusi kelompok . ebat terbuk. , proyek kolaboratif, dan studi Dengan diskusi kelompok, guru mengajak siswa untuk membedah dan membandingkan cerita atau nilai dari tradisi yang berbeda. Dengan proyek kolaboratif, guru mengajak siswa untuk membuat peta budaya dari tradisi keagamaan baik lokal maupun nasional. Dengan studi kasus, guru mengajak siswa untuk menganalisis konflik-koflik berbasis agama atau budaya, sekaligus mencari solusi melalui nilai-nilai Pada akhir pembelajaran, guru meminta siswa untuk menulis jurnal refleksi tentang apa yang sudah keagamaan dan budaya. Selain itu, siswa juga diminta untuk menuliskan apa yang akan dilakukan dengan pemahaman keagamaan dan budaya yang dimiliki untuk menciptakan Pemahaman keberagamaan juga ekstrakurikuler dengan mendirikan beberapa klub seperti klub toleransi atau klub moderasi beragama. Selain diintegrasikan juga dalam pembiasaan kegiatan literasi madrasah. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa workshop atau seminar tentang toleransi dan nilai-nilai perdamaian dalam Islam maupun agama lain, kampanye damai melalui poster, video, atau media sosial, membuat vlog atau podcast tentang kisah inspiratif toleransi, diskusi tentang nilai-nilai universal seperti kejujuran, kasih sayang, dan toleransi dalam berbagai agama, dan membuat bakti sosial bersama, seperti penggalangan dana untuk kemanusiaan tanpa Madrasah juga mengadakan kegiatan yang melibatkan siswa dalam lomba seni budaya dan diskusi lintas agama. Kegiatan ini melatih siswa untuk bekerja sama dan saling memahami Kegiatan literasi keagamaan lintas budaya yang diterapkan di MTsN 28 toleransi dan sikap inklusif siswa, menguatnya moderasi beragama siswa, dan mengurangi potensi konflik serta fanatisme sempit dalam memahami dan menerapkan ajaran agamanya. Selain Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 itu, kegiatan literasi keagamaan lintas kesadaran kemanusiaan siswa, dan memperkaya wawasan kultural siswa. Temuan ini didukung oleh menunjukkan bahwa kegiatan literasi keagamaan lintas budaya efektif dalam memahamkan nilai-nilai dan pola interaksi baik inter maupun antar Pemahaman literasi keagamaan lintas budaya dapat memberikan alternatif baru dalam penyelesaian konflik agama dan budaya (Abdullah & Botma, 2. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa dampak dari pengembangan literasi keagamaan yang dilakukan bersosialisasi di lingkungan masyarakat majemuk Indonesia (Sholeh et al. , 2. Penguatan moderasi beragama dengan pembelajaran literasi keagamaan lintas budaya dapat dilakukan sejak dini. Penerapan literasi agama secara efektif juga dapat memperkaya keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, empati, (Nikmah, 2. Pemahaman keberagaman di MTsN 28 juga diintegrasikan dalam kegiatan kokurikuler yang selaras dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil Aalamin (P5RA). Madrasah memilih tema Kearifan Lokal dengan judul proyek AuAku adalah Penjaga TradisiAy. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilainilai keberagaman sebagai rahmat Allah . enerapan QS. Al-Hujurat: . , melatih sikap toleransi, kerja sama, dan penghargaan terhadap perbedaan, serta refleksi tentang keberagamaan di lingkungan sekitar. Adapun kegiatan yang dilakukan dengan membuat peta keberagaman di madrasah, drama interaktif tentang konflik keberagamaan dan penyelesaiannya, melakukan kajian Al-QurAoan dan Hadits tentang pesan toleransi, dan membuat laporan penelitian tentang urgensi tradisi budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tujuan dari kegiatan P5RA adalah agar siswa mampu mengeksplorasi, mempraktikkan, dan memaknai beragam tradisi budaya yang berbeda sebagai rahmatan lilAoalamin. Hal ini senada dengan hasil (Habibi, menyimpulkan bahwa pemahaman keberagamaan yang terinternalisasi dalam P5RA dapat menumbuhkan rasa cinta agama dan tanah air, toleransi beragama yang tinggi, dan sikap anti Pendidikan multikultural yang telah diimplementasikan baik dalam keberagamaan siswa sebagaimana disajikan pada Gambar 1. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 selalu memiliki perolehan terendah Hasil kepada fasilitator P5RA dan pembina literasi menyatakan bahwa peserta didik masih kurang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang memberikan tanggung jawab kepada mereka seperti: menjadi duta moderasi, fasilitator Data diatas juga menunjukkan bahwa pendekatan aktif-sosial memiliki dampak terkuat. Temuan ini diperkuat dengan hasil wawancara siswa yang keberagamaan lebih mudah dipahami ketika kegiatan bersifat aktif, sosial, dan Aktivitas kolaborasi, dan interaksi nyata yang dilakukan dalam kegiatan literasi keagamaan lebih mendorong aplikasi konsep dan diskusi. Pendekatan humanis juga memiliki prosentase Hasil ini didukung oleh pernyataan guru mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti yang mengatakan menekankan nilai-nilai kemanusiaan mendorong siswa lebih terbuka dan Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa guru dan madrasah jarang memfasilitasi kegiatan dalam bentuk dialog baik sesama agama maupun berbeda agama. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan dialog antar iman yang dapat mengakomodir Pemahaman Keberagaman Konsep Keberagamaan Sikap Keberagamaan Praktik keberagamaan Peranan Keberagamaan Gambar 1 Hasil Angket Pemahaman Keberagamaan Berdasarkan Gambar 1 diketahui bahwa lebih dari 70% siswa memahami ranah konsep keberagamaan pada keempat jenis pemahaman. Hal ini multikultural dapat dipahami oleh semua siswa kelas 7. Akan tetapi, sikap keberagamaan siswa pada pemahaman dialogis-persuasif memiliki prosentase paling rendah diantara ketiga jenis pemahaman keberagamaan. Adapun makna yang dapat dipahami dari data tersebut adalah tingkat pemahaman keberagamaan paling tinggi terletak pada aspek praktik keagamaan. Begitu pun aspek konsep dan sikap keberagaman cukup Akan tetapi, terdapat perbedaan nilai dari kedua aspek tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dilaksanakan ke dalam pembiasan Temuan ini berkaitan dengan aspek peranan keberagamaan yang Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 terbukanya pemahaman siswa terhadap cara beragama orang lain lain. Dialog antar iman merupakan salah satu upaya yang efektif agar siswa terbiasa melakukan dialog dengan penganut agama yang berbeda maupun dengan penganut agama yang sama namun berbeda pandangan (Arif, 2. Mempelajari ajaran agama dan budaya lain merupakan hal yang Oleh karena itu, siswa harus mempunyai kemampuan pribadi yaitu kemampuan memahami agamanya dan kemampuan untuk memahami agama orang lain dengan baik. Dalam hal ini, guru harus mempunyai strategi pembelajaran yang beragam seperti: diskusi, simulasi dan bermain peran. Pembelajaran dengan simulasi dan bermain peran dapat dilakukan dengan memfasilitasi siswa untuk memerankan diri sebagai orang-orang yang memiliki agama, budaya dan etnik yang berbeda dalam pergaulan sehari-hari (Munadlir. Guru juga harus merancang kegiatan-kegiatan tertentu yang sesuai dengan studi kasus dan realita kehidupan masyarakat multikultural. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan kepanitiaan bersama dan penyelesaian konflik yang melibatkan aneka macam latar belakang siswa dari berbagai agama, etnik, budaya, bahasa. Selain mengajarkan agama Islam, agama juga harus mendidik penganut agama Islam (Arif, 2. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran at the wall dan beyond the wall, yaitu suatu model yang memandang perbedaan suku, agama, ras, golongan, dan etnik bukan sebagai musuh, tetapi kekerasan, penistaan, dan ketidakadilan sebagai musuh bersama. Model at the wall dan beyond the wall dalam pembelajaran agama juga dapat meningkatkan pemahaman dan sikap terbuka siswa muslim dalam melihat perbedaan keyakinan (Masamah, 2. Berdasarkan diterapkan di madrasah berdampak pada pemahaman keberagamaan siswa. Walaupun prosentase pada ranah praktik keagamaan rendah, tetapi prosentase rata-rata dari tiap jenis pemahaman keberagamaan sudah mencapai lebih dari 70% sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-Rata Prosentease Pemahaman Keberagamaan Pemahaman Rata-rata Keberagamaan Prosentase Multikultural Humanis 71,5% Dialogis-Persuasif Aktif-Sosial Berdasarkan data pada Tabel 2 dan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian, dapat dikatakan bahwa pendidikan multikultural berdampak pada pemahaman keberagaman siswa. KESIMPULAN Pendidikan multikultural yang dilakukan MTsN 28 Jakarta terintegrasi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 300-311 Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa aspek konsep, sikap, dan praktik keberagaman sudah mencapai lebih dari 70%. Akan tetapi, pada aspek mencapai prosentase rendah. Namun, secara keseluruhan prosentase rata-rata pemahaman keberagamaan sudah mencapai lebih dari 70%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan multikultural di berdampak pada pemahaman keberagamaan siswa. Adanya program, dan kegiatan literasi yang mendukung penerapan pendidikan multikultural menjadikan madrasah sebagai pionir dalam membangun generasi yang inklusif dan harmonis. Hasil pendidikan multikultural di lingkungan Akan tetapi, penelitian ini hanya terbatas pada 4 dari 7 orientasi Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk multikultural terhadap pemahaman inklusif-pluralis, kontekstual, dan substantif pada warga madrasah secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA