Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. December 2024 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Pendidikan Islam dalam Mengatasi Degradasi Moral Remaja di Era Digital Putri Durrotul Fadhila UIN Sunan Ampel Surabaya putridurrotulfadhila@gmail. Abstract Moral degradation among adolescents in the digital era is becoming an increasingly serious This is in line with the rapid development of technology that makes teenagers easily exposed to various content that can affect their values and behavior. The purpose of this study is to find out how Islamic education can help overcome the moral decline of adolescents in the digital era. By looking at various relevant materials, such as books, papers, and scientific journals that discuss Islamic education and the influence of social media on adolescent morals, the research methodology used is library research. The results show that Islamic education has great potential in shaping the character and morals of adolescents, especially through teaching religious values that can lead them to a better understanding of ethics and morals so that they do not fall into the negative influence of the digital world. The implication of this research is the need for a more adaptive Islamic education strategy to effectively guide adolescents in facing moral challenges in the digital era. An approach that involves family, school, community and digital media will help instill strong moral values in adolescents. Keywords: Digital Era. Islamic Education. Moral Degradation. Teenagers. How to cite this article: Fadhila. Pendidikan Islam dalam Mengatasi Degradasi Moral Remaja di Era Digital. AlBahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 9. , 183-193. Received: 8/5/2024 Revised: 11/3/2024 Accepted: 11/23/2024 184 | Putri Durrotul Fadhila PENDAHULUAN Teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat di era digital saat ini. Akibatnya, remaja menghadapi sejumlah kesulitan yang mungkin berdampak pada etika dan moral mereka. Seseorang mengalami banyak sekali perubahan pada masa remaja sehingga rentan terpengaruh. Akibatnya, sikap, karakter, dan perilaku remaja sehari-hari pun dapat berubah. Seiring berkembangnya teknologi terutama media sosial, telah ikut serta mempengaruhi kehidupan remaja. Media sosial memiliki dampak yang sangat besar terhadap cara mereka berkomunikasi, berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Menurut laporan Digital 2024 Global Overview Report yang dipublikasikan oleh We Are Social dan Meltwater, yang disampaikan oleh Simon Kemp, pendiri Kepios bahwa jumlah pengguna media sosial telah mencapai 5 miliar, meningkat 5,6% dalam setahun Angka tersebut menunjukkan semakin meningkatnya interaksi remaja dengan media sosial, di mana cara mereka dalam memilah dan merespons konten yang mereka temui juga turut berperan dalam membentuk pola pikir dan moral mereka. Era saat ini aksesibilitas informasi melalui internet dan media sosial dapat membantu mempermudah seseorang untuk terhubung dalam berkomunikasi dan mengakses informasi dengan cepat dan tak terbatas. Informasi akan dengan cepat merebak luas ke seluruh penjuru dan dapat diakses oleh siapa saja. Namun, kemudahan akses internet dan media sosial ini juga perlu diperhatikan, karena dengan kemudahan ini informasi yang di dapat tentunya tidak terfilter, sehingga memungkinkan remaja terpapar berbagai konten, baik positif maupun negatif yang tentunya berdampak signifikan bagi mereka. Peneltian yang dilakukan oleh Lisnawati dkk. menunjukkan bahwa sebanyak 50% remaja menggunakan media sosial untuk mencari informasi, hal ini menunjukkan bahwa media sosial juga berperan peting sebagai sumber pengetahuan. Sisi positif bermedia sosial yang dapat dirasakan lainnya yaitu dapat mempermudah komunikasi khususnya dalam jarak jauh, memudahkan dalam mencari informasi, mengembangkan hubungan, dan menambah relasi, serta masih banyak hal positif lain. Namun, kemudahan akses informasi dan bermedia sosial selain memberi dampak positif bagi penggunanya tentu juga menyimpan sisi negatif, terutama bagi remaja yang masih ada pada tahapan pembentukan pola pikir dan karakter. Penelitian menunjukkan bahwa paparan media yang berelebihan dapat memberi dampak buruk pada kesehatan mental remaja, seperti meningkatnya kecemasan dan depresi. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Cureus menyebutkan bahwa remaja yang sering menggunakan media sosial cenderung mengalami dampak negatif terhadap kesehatan mental mereka. Hal ini dikaitkan dengan meningkatnya gejala seperti depresi, kecemasan, stres, dan masalah psikologis lainnya. Data dari WHO juga menunjukkan bahwa 11% remaja menunjukkan tanda-tanda perilaku media sosial yang bermasalah, kesulitan mengendalikan penggunaannya, dan mengalami konsekuensi negatif yang mempengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka dalam kehidupan sehari-hari akibat penggunaan yang berlebihan. Selain itu, penggunaan media sosial berlebihan juga berdampak pada gaya hidup Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Ari Asmawati dkk. media sosial menimbulkan sikap negatif terhadap gaya hidup remaja, seperti individualis, kurang Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 183-193 | 185 kesadaran terhadap lingkungan sekitar, hedonis, arogan yang berpotensi merusak merusak hubungan sosial remaja. Dari penelitian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa remaja yang tidak mampu mengelola penggunaan media sosial dengan baik dapat berisiko mengalami degradasi moral yang terlihat dari melemahnya nilai-nilai emosional dan sosial mereka seperti kejujuran, kesusilaan, dan kepedulian sosial. Salah satu cara efektif untuk mengatasi degradasi moral di kalangan remaja ini adalah dengan memperkuat moral melalui pendidikan Islam. Sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak dan jiwa yang kuat pada seseorang. Dengan menekankan nilai-nilai moral tersebut, pendidikan Islam dapat memberikan pondasi yang kuat bagi remaja untuk mengelola pengaruh media sosial dengan bijak. Oleh karena itu, pendidikan Islam mengembangkan manusia yang bermoral di samping menyebarkan ilmu pengetahuan, yang dapat melawan degradasi moral dan memperkuat nilai-nilai emosional dan sosial. Islam sangat memperhatikan nilai moralitas baik berhubungan dengan Tuhan, sesama manusia, maupun alam. Aturan yang rinci mengenai etika dan moral ini menunjukkan bahwa pendidikan Agama Islam bukan hanya membentuk pribadi yang beriman, tetapi juga sebagai umat yang berakhlak mulia. Diantara beberapa dalil yang disebutkan dalam al-QurAoan mengenai pelajarannya perihal akhlak, salah satu ayat yang menjadi dasar pendidikan akhlak yaitu Q. Luqman . : 17-18. Aa eA AaeEA a AaO aE a aA e a ac aE acI aO aEA AaEA Aa aE acI aEA AeIA AOa acOaI aIaC EacA EO aO aI e a aIeE e a eO aA aO aN a aI aIeE eI a aO eA ea a OE aI e aA a a aE aI eI a e aI aI eO aA AacA AaE E aA AaeEA AaEA AacIA AacEaEA AeaIA AeIa OaA e aI a U a EaNcE aaO acA Aa sE a eO osA a a Pesan yang dapat diambil dari ayat ini antara lain senantiasa melaksanakan salat, menganjurkan orang lain untuk beramal shaleh . mar ma'ru. , menjauhi hal-hal yang merugikan . ahi munka. , dan bersabar dalam menghadapi segala kesulitan. Selain itu, kita diingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri, oleh karena itu kita harus menghindari sikap sombong. Bukhari. Baihaqi, dan Hakim menceritakan sebuah hadis yang disabdakan Rasulullah SAW. Ae a aEA AaE aI aEaA Aau aIcaI a aA AcaIa aI aI a EaCA Artinya: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dua dalil di atas menunjukkan bahwa Islam memberikan penekanan yang sama pada pengembangan moral dan ibadah. Akhlak atau perilaku yang baik menunjukkan seberapa besar seseorang memasukkan ajaran agama ke dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk melindungi remaja dari degradasi moral di era digital ini, pendidikan agama Islam sangatlah penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana pendidikan Islam dapat membantu remaja mengembangkan moral dan karakter mereka sehingga mereka dapat menggunakan media sosial dengan lebih bijaksana dan menghindari pengaruh berbahaya yang dapat menyebabkan degradasi moral pada generasi muda. METODE Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka atau library research, penelitian ini mengumpulkan informasi atau bahan dari berbagai sumber perpustakaan, antara lain buku, kamus, ensiklopedia, jurnal, dokumen, terbitan berkala, dan lain-lain. Metode ini This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 186 | Putri Durrotul Fadhila dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber literatur yang ada. Data-data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif, dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Tujuan pendekatan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pendidikan agama dapat membantu membimbing generasi muda, khususnya dalam menghadapi isu degradasi moral di era digital. HASIL DAN PEMBAHASAN Kata degradasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah kemerosotan, kemunduran, atau penurunan dalam berbagai aspek, seperti kualitas, moral, pangkat, atau perilaku. Secara etimologis, istilah AudegradasiAy berasal dari bahasa Inggris decadence, yang dalam bahasa Indonesia berarti dekadensi, yaitu kemunduran atau Sedangkan kata moral berasal dari kata latin mors yang merupakan bentuk jamak dari kata mos yang berarti tradisi dan kebiasaan. Sederhananya, moral adalah kumpulan pedoman atau sila yang mengatur bagaimana orang berperilaku dalam hubungan interpersonal dengan tujuan untuk membina ikatan persahabatan dan saling Dengan demikian, degradasi moral dapat diartikan sebagai perilaku, baik individu maupun kolektif, yang menyimpang dari cita-cita budaya yang berlaku dan bertentangan dengan norma dan praktik masyarakat. Menurut buku Thomas Lickona AuEducating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and ResponsibilityAy menyebutkan bahwa terdapat 10 perilaku yang mencerminkan degradasi moral. Tindakan kriminal, berbuat curang, mencuri, melanggar peraturan, tawuran pelajar, sikap mementingkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri, hubungan seksual di luar nikah, penggunaan bahasa yang kasar, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang adalah contoh perilaku tersebut. Perilaku yang dianggap sebagai bagian dari degradasi moral juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Novia Herawati dkk. di SD Negeri Parunggalih yaitu penggunaan bahasa kasar oleh siswa dan kebiasaan mengacungkan jari tengah kepada teman sebaya dan orang dewasa. Faktor dari kemerosotan moral ini ditemukan karena akses teknologi yang dengan mudah diakses oleh anak-anak tanpa adanya filterisasi yang akurat. Ada dua faktor yang mempengaruhi degradasi moral remaja yaitu internal dan Berikut ini contoh faktor internal yang berasal dari dalam diri remaja antara Kurangnya Kontrol Diri. Pengendalian diri merupakan faktor internal yang mempengaruhi perilaku seseorang. Kapasitas untuk mengatur dan mengubah perilaku seseorang sebagai respons terhadap keadaan tertentu dikenal sebagai pengendalian Membangun karakter yang baik, diperlukan pengendalian diri dan disiplin. Remaja dengan kontrol diri yang lemah cenderung membuat keputusan yang impulsif, yang dapat berdampak negatif pada perkembangan moral dan sosial mereka. Ketika kontrol diri rendah, mereka lebih mudah terpengaruh oleh konten negatif dari media sosial dan teknologi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan degradasi moral. Krisis Identitas, tolak ukur keberhasilan remaja adalah menemukan identitasnya. Remaja yang masih kebingungan menemukan jati dirinya atau mereka yang mengalami krisis identitas ini seringkali merasa tak berdaya, pesimis, dan minder akan masa Dalam kondisi ini, beberapa remaja meilih jalan yang kurang tepat, yakni Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 183-193 | 187 dengan melakukan beberapa hal negatif demi mendapatkan pengakuan atau identitas, bahkan itu identitas yang buruk. Mereka akan merasa lebih baik dengan identitas yang kurang baik ini dibanding tidak memiliki identitas. Maka dari itu, ini adalah satu diantara beberapa alasan mengapa kebanyakan remaja mengalami degradasi moral. Kemudahan Akses Informasi. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi dapat berdampak negatif pada perkembangan moral remaja, terutama ketika mereka mengonsumsi konten yang kurang mendidik atau bahkan merusak. Akses informasi tanpa pengawasan yang memadai membuat remaja lebih rentan terhadap kemerosotan moral. Adapun yang termasuk faktor eksternal yang dapat mempengaruhi degradasi moral pada remaja antara lain. Lingkungan Keluarga. Lingkungan pertama yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian dan perilaku pada anak adalah keluarga. Dalam keluarga sejatinya anak mendapatkan pelajaran tentang cinta kasih, rasa saling menghormati, tanggung jawab, dan nilai moral lainnya. Oleh karena itu, kondisi yang tidak harmonis dalam keluarga, seperti keluarga yang tidak utuh akibat meninggalnya salah satu orang tua, perpisahan atau perceraian, serta orang tua yang terlalu sibuk tentunya dapat menciptakan lingkungan yang membuat anak stres, sehingga berdampak pada perkembangan emosi dan sosialnya. Lingkungan Sekolah. Sekolah memiliki peran penting dalam membantu siswa berkembang secara keseluruhan. Dengan memberikan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan secara teratur, sekolah mendukung siswa untuk mengembangkan potensi mereka dalam berbagai hal, seperti moral, spiritualitas, kecerdasan, emosi, dan hubungan sosial. Sesuai dengan pandangan Hurlock, sekolah memegang peranan sentral dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa, sehingga membentuk cara berpikir, berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan. Lingkungan Masyarakat. Lingkungan sekitar kita juga mempengaruhi cara kita berperilaku dan bertindak. Dalam kehidupan bemasyarakat, seseorang tidak hanya berinteraksi dengan teman sebaya, tetapi juga dengan orang yang lebih muda atau bahkan lebih tua, sehingga dalam bermasyarakat bisa mengamati dan mempelajari bagaimana orang lain berperilaku secara luas. Dari interaksi tersebut, juga dapat memahami berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat dan berlatih mencari solusi atas permasalahan yang ada. Setiap lingkungan mempunyai pengaruh dan perannya masing-masing. Meskipun lingkungan masyarakat tidak berpengaruh sepenuhnya dalam menentukan pola perilaku dan cara berpikir seseorang, karena setiap individu tetap mempunyai cara yang berbeda dalam menyikapi stimulus yang diberikan oleh Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh lingkungan sangat signifikan dalam membentuk perilaku seseorang. Gadget atau Media Sosial, degradasi moral remaja juga banyak dipengaruhi oleh gadget atau media sosial, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Atiqah dkk. bahwa siswa di SMP Negeri 30 Muaro Jambi banyak yang ketergantungan pada gadget, siswa juga bisa dengan mudah mengakses konten yang kurang mendidik di gagdet mereka, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi pola pikir dan moral This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 188 | Putri Durrotul Fadhila Saat ini, kita melihat banyak kemerosotan moral di sekitar kita. Satu cara diantara yang ada untuk membantu menanggulanginya di era digital adalah melalui pendekatan Memahami hubungan kita dengan Allah SWT (Hablum Minalla. dan dengan orang lain (Hablum Minanna. adalah langkah awal dalam pendekatan ini. Seseorang akan mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya sesuai dengan aturan Allah dan konsekuensi dari melanggar aturan-Nya bila ia mengetahui cara berinteraksi dengan-Nya dengan benar. Hal ini membuat kita lebih berhati-hati dan tidak berani melakukan penyimpangan. Selain itu, hubungan dengan sesama manusia bukan hanya soal bergaul, tapi juga membangun lingkungan yang baik. Lingkungan yang positif dapat membentuk pribadi yang baik pula. Jika kedua aspek ini dijaga dengan baik, maka akan terbentuk pribadi-pribadi yang mengerti dan peduli akan moralitas dalam kehidupan. Dengan memperkuat iman dan keyakinan kita, pendidikan agama memiliki peran penting dalam menjalankan fungsi spiritual, salah satu dari tiga tujuan utama yang membantu kita mengembangkan hubungan positif dengan Tuhan, diri kita sendiri, dan orang lain. Perilaku pribadi kita, termasuk pengembangan prinsip-prinsip moral yang membantu kita menjadi orang yang lebih baik, dipandu oleh fungsi psikologis. Untuk menumbuhkan keharmonisan dalam hidup kita, fungsi sosial mengajarkan kita normanorma yang mengatur interaksi kita dengan orang lain dan masyarakat. Dari tiga pendekatan pendidikan Islam yang digunakan untuk memerangi kemerosotan moral, menurut Athiyah al-Abrasi, adalah 1. Pendidikan langsung, yaitu pengajaran yang diberikan dengan memberikan arahan, nasihat, dan bimbingan. Misalnya, menjelaskan aspek-aspek yang berguna dan membantu untuk memastikan kinerja yang baik dan mendorong orang lain untuk mengakui keburukan. Pendidikan tidak langsung. Pendidikan ini dilakukan melalui keteladanan dan sugesti, seperti memberikan contoh kejujuran, keadilan, berkata jujur, keberanian, dan keikhlasan. Memanfaatkan minat dan keterampilan bawaan anak. Memanfaatkan kemampuan atau kecenderungan bawaan anak dalam proses pendidikan moral agar dapat secara efektif menanamkan prinsip-prinsip moral dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini akan dibahas beberapa pendekatan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam untuk mengatasi degradasi moral remaja di era digital. Pendekatan Keluarga Mayoritas orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan dan pertumbuhan kesehatan anak-anak mereka. Anak yang orang tuanya berpendidikan tinggi dan mendidik anaknya dengan baik akan membentuk kepribadian yang positif, yang nantinya akan menjadi karakter anak. Dengan dasar karakter yang kuat, karakter tersebut nantinya akan dipegang teguh, sehingga ia akan lebih tahan terhadap pengaruh negatif dari perilaku buruk di luar rumah maupun di media sosial. Orang tua bukan hanya membesarkan melainkan mendidik dan menjadi role model untuk anaknya, dan mereka merupakan faktor utama dan terpenting dalam membentuk dasar perkembangan moral anaknya, karena tempat pertama anak-anak belajar adalah dengan keluarga. Namun, banyak orang tua yang tidak sepenuhnya memahami peran ini atau tidak menjalankannya dengan baik, dalam sebuah syair dikatakan. AUEA Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu AIO E I OOC CA Vol. No. December 2024 | Pages. 183-193 | 189 AaEA a Aa a aA AeEA Aa aA ( A e a e a e U aO a e a aCA# A) I aI e a a au e a e aNa A "Ibu adalah madrasah, jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya" (Penyair Ahmad Syauq. Syair Ahmad Syauqi menyoroti pentingnya pengaruh seorang ibu terhadap perkembangan moral anak-anaknya. Seorang ibu dapat berperan besar dalam melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dengan mempersiapkan dirinya dengan baik. Syair ini juga memperjelas bahwa ibu berperan sebagai guru pertama bagi anak-anaknya, mengajari mereka prinsip-prinsip moral dan karakter. Prinsip-prinsip ini akan menjadi landasan dalam membangun karakter mereka khususnya di rumah. Peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mengembangkan sifat-sifat keutamaan antara lain sabar, bersyukur, ikhlas, qanaah, ridha, ikhtiar, dan keimanan kepada Allah. Orang tua dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan karakter anak dengan memberikan contoh yang baik dan membiasakan anak berperilaku konstruktif, seperti menghargai satu sama lain, mengatur waktu, sopan santun, dan menyayangi orang yang lebih muda serta menghormati orang yang lebih tua. Dengan konsisten memberikan contoh dan membiasakan perilaku positif, seperti saling menghargai, disiplin waktu, sopan santun, serta meyayangi yang lebih muda juga menghormati yang lebih tua, orang tua dapat memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan karakter anak. Tak hanya itu, orang tua juga perlu menanamkan nilai-nilai keimanan dan spiritualitas, dengan cara mengajak anak untuk mengaji dan mengunjungi tempat-tempat yang dapat memperkuat keyakinan. Tidak kalah pentingnya, orang tua harus mengawasi teman bermain anak, tayangan yang ditonton anak, dan lingkungan sekitar yang dapat memberikan pengaruh besar bagi perkembangan anak. Pendekatan di Tempat Belajar Setelah rumah, sekolah merupakan tempat terpenting kedua bagi anak untuk memperoleh pendidikan. Di sekolah, anak bertemu dengan para pendidik, teman, dan materi pelajaran yang semuanya berperan dalam membentuk kepribadian anak, di samping pengaruh dari keluarga. Selain itu, sekolah juga merupakan tempat di mana seseorang belajar mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan beradaptasi dengan perubahan, yang semuanya berkontribusi pada perkembangan pribadi dan sosial mereka. Faktor ini menjadikan sekolah sebagai tempat terpenting dalam membentuk kepribadian anak dan dapat melengkapi pendidikan yang mereka terima di rumah. Untuk mengatasi degradasi moral, sekolah dapat melakukan beberapa langkah. Pertama, sekolah perlu menyegarkan kembali pendidikan Islam dengan konsisten dan fokus pada upaya menanggulangi degradasi moral pada siswa. Kedua, sekolah dapat membiasakan siswa untuk melaksanakan ibadah dengan menyediakan waktu yang cukup, sehingga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kejujuran. Ketiga, sekolah juga harus memberikan pelajaran yang membentuk sikap positif pada siswa, yang dilandasi dengan nilai-nilai moral yang baik. Selain di sekolah, hal yang dapat membantu mencegah degradasi moral juga dapat diperoleh di pesantren. TPQ, atau bahkan di kiai kampung. Di pesantren, pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan ilmu agama secara teoritis, melainkan juga membentuk akhlak This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 190 | Putri Durrotul Fadhila dan budi pekerti santri dengan menciptakan lingkungan yang mendukung, tertib, dan sarat dengan nilai-nilai Islam. Anak-anak diajarkan dasar-dasar Al-Qur'an dan ajaran Islam di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'a. yang menjadi landasan moral sejak dini. Begitu pula dengan pembelajaran di kiai kampung, yang seringkali menekankan pada penerapan langsung ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, melalui pembelajaran langsung dan contoh-contoh nyata dari kehidupan kiai dan lingkungan sekitar. Bimbingan langsung dari kiai kampung selain belajar tentang ilmu agama Islam juga dapat membantu membentuk integritas moral dan mental para remaja. Hal ini penting agar mereka dapat memiliki kekuatan pribadi dan sosial yang baik dalam menghadapi berbagai tantangan negatif yang ada di masyarakat atau bahkan di media sosial. Hal terakhir yang dapat dipelajari dari kiai kampung tentang pembentukan moral di masa depan adalah Pendekatan Lingkungan Sosial dan Masyarakat Lingkungan sosial dan masyarat memiliki pengaruh besar tehadap pendidikan anak, masyarakat juga merupakan pendidik yang ikut serta dalam membentuk kepribadian Sehingga anak yang bergaul dengan masyarat atau lingkungan sosial yang baik dan mendukung akan membuat anak memiliki perilaku yang baik. Sebaliknya, jika anak berada di lingkungan sosial dan masyarakat yang buruk, maka itu juga akan dapat mempengaruhi perilaku anak menjadi buruk. Remaja yang dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan juga lebih besar kemungkinannya untuk mengalami kepribadian ganda . plit personalit. , yang diakibatkan oleh gangguan remaja . hildhood disorde. Remaja bisa saja menunjukkan perilaku buruk atau bahkan terdorong untuk melakukan kejahatan . uvenile delinquenc. jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik. Pengajaran dan pengembangan moral yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi degradasi moral remaja adalah melalui peran tokoh masyarakat. Hal ini terbukti efektif seperti yang dilakukan oleh Desa Suli dalam penelitian yang dilakukan oleh Audah . Tokoh masyarakat di Desa Suli berperan aktif dalam memberikan bimbingan moral yang berpengaruh positif terhadap perubahan sikap dan perilaku remaja di wilayahnya. Tokoh masyarakat melakukan pembinaan akhlak melalui lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal, serta dengan memberikan ceramah keagamaan yang diselenggarakan oleh majelis taklim dan tahlil. Upaya ini membantu remaja memahami nilai keagamaan dan mengimplementasikan dalam kesehariannya, yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya degradasi moral. Pendekatan Media Sosial Pendidikan Islam di media sosial dapat membantu mengatasi degradasi moral remaja dengan beberapa cara. Pertama, media sosial menyediakan akses mudah ke sumbersumber pendidikan Islam, seperti ceramah dan tulisan-tulisan tentang nilai-nilai moral Islam, yang membantu remaja memahami ajaran agama. Kedua, remaja dapat terhubung dengan komunitas Muslim yang positif dan berpartisipasi dalam diskusi. Ketiga, media sosial dapat memperkuat identitas agama remaja dengan menyediakan konten yang mendukung nilai-nilai Islam. Terakhir, remaja dapat menggunakan media sosial secara edukatif untuk berbagi pengetahuan dan menginspirasi orang lain. Media sosial bukan hanya berdampak negatif bagi penggunanya, dengan pendekatan yang tepat, juga bisa Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 183-193 | 191 menjadi sarana efektif untuk mengedukasi generasi muda dalam mengenal nilai-nilai agama dan moralitas yang sesuai dengan era digital. KESIMPULAN Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam mengatasi kemerosotan moral remaja di era digital melalui berbagai pendekatan. Pendekatan keluarga menjadi vital, karena orang tua berperan sebagai contoh teladan pertama bagi anak dan sudah seharusnya menanamkan nilai-nilai positif di rumah. Selain itu, pendidikan Islam juga dapat diajarkan di sekolah dan tempat belajar lainnya seperti pesantren. TPQ, atau dengan mengaji bersama kiai kampung, hal ini dapat memperkuat karakter moral dan akhlak melalui pengajaran dan pengamalan nilai-nilai agama. Lingkungan sosial dan masyarakat juga berperan, terutama melalui bimbingan dari tokoh masyarakat dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang mendukung perkembangan moral remaja. Selanjutnya keimanan seseorang dapat dikuatkan dengan memanfaatkan media sosial sebagai media memperoleh informasi pendidikan Islam. Dengan menerapkan pendekatan-pendekatan tersebut, diharapkan remaja dapat memiliki ketahanan moral yang kuat di tengah pengaruh negatif era digital. DAFTAR PUSTAKA