https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 38035/jihhp. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Upaya Pencegahan Stunting pada Masyarakat Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur Ni Made Ratini1. Ririn Kurniasi2. Gelar Sumbogo Peni3. Armadiansyah4 Hukum Agama Hindu. Fakultas Dharma Sastra. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia, maderatini715@gmail. Hukum Agama Hindu. Fakultas Dharma Sastra. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia Hukum Agama Hindu. Fakultas Dharma Sastra. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia Hukum Agama Hindu. Fakultas Dharma Sastra. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia Corresponding Author: maderatini715@gmail. Abstract: This research aims to identify the factors causing stunting and the prevention efforts in Pelantaran Village. Cempaga Hulu Sub-district. Kotawaringin Timur Regency. Stunting is a serious health issue that affects children's physical growth and cognitive development, caused by chronic malnutrition. This study uses a qualitative method with a case study approach where data is obtained through in-depth interviews, observations, and literature review. The findings indicate that the causes of stunting in this village include improper parenting, poor sanitation, and limited access to nutritious food and healthcare Stunting prevention efforts have included nutritional assistance through the provision of eggs and milk to at-risk children, as well as parental education on the importance of nutrition and proper parenting. Through integrated interventions, the prevalence of stunting in the village has significantly decreased. This study recommends improving access to healthcare services and more intensive nutrition education programs to address this issue sustainably. Keywords: Stunting. Prevention. Nutrition. Parenting. Sanitation. Pelantaran Village. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab stunting dan upaya pencegahannya di Desa Pelantaran. Kecamatan Cempaga Hulu. Kabupaten Kotawaringin Timur. Stunting merupakan masalah kesehatan serius yang memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, yang diakibatkan oleh kekurangan gizi Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di mana data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab stunting di desa ini meliputi pola asuh yang kurang tepat, sanitasi yang buruk, serta akses terbatas terhadap makanan bergizi dan pelayanan kesehatan. Upaya pencegahan stunting yang telah dilakukan meliputi pemberian bantuan gizi melalui program pemberian telur dan susu kepada anak-anak yang berisiko, serta 1089 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 edukasi bagi orang tua mengenai pentingnya gizi dan pola asuh yang baik. Melalui intervensi yang terintegrasi, prevalensi stunting di desa ini menurun secara signifikan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dan program edukasi gizi yang lebih intensif untuk mengatasi masalah ini secara berkelanjutan. Kata kunci: Stunting. Pencegahan. Gizi. Pola Asuh. Sanitasi. Desa Pelantaran. PENDAHULUAN Dalam kerangka pembangunan kualitas sumber daya manusia, permasalahan stunting yang merupakan salah satu bagian dari masalah besar di Indonesia. Stunting mempunyai dampak yang sangat merugikan baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi produktivitas ekonomi dan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Stunting didefinisikan sebagai kondisi balita yang memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang, bila dibandingkan dengan umurnya. Stunting yang berkaitan dengan gizi jika berlangsung lama atau bersifat kronis, karena dapat memengaruhi fungsi kognitif yakni tingkat kecerdasan yang rendah dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Masalah yang ditimbulkan karena stunting cukup serius. antara lain, jangka pendek terkait dengan morbiditas dan mortalitas pada bayi atau balita, jangka menengah terkait dengan intelektualitas dan kemampuan kognitif yang rendah, dan jangka panjang terkait dengan kualitas sumber daya manusia dan masalah penyakit degeneratif di usia dewasa (Ketut Aryastami & Tarigan, 2. Perempuan yang mengalami stunting di masa kecil cenderung memiliki keturunan yang Hal ini disebabkan karena stunting adalah proses siklus yang sulit untuk diputuskan. Riwayat orang tua yang mengalami stunting, kemungkinan akan menurunkan kembali kepada Pencegahan perlu dilakukan dalam usaha untuk memutus mata rantai pertumbuhan angka stunting. Stunting memengaruhi kondisi balita pada saat ini, dan masa depan balita. Hal ini berkaitan dengan efek yang ditimbulkan oleh stunting. Stunting tidak timbul dengan Berbagai faktor memengaruhi timbulnya stunting, salah satunya riwayat orang tua (Prendergast & Humphrey, 2. Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya praktek pengasuhan, keterbatasan tempat pelayanan kesehatan, kurangnya akses makanan sehat, dan kurangnya sanitary yang layak (Sutarto. Diana Mayasari, 2. Praktek pengasuhan yang tidak baik menjadi salah satu penyebab yang berkontribusi terjadinya stunting. Pemberian makanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan gizi anak serta diberikan pada waktu yang tepat merupakan salah satu penerapan praktek pengasuhan yang baik. Pengolahan sumber gizi yang baik akan menghasilkan makanan yang bergizi karena kandungan gizi yang terdapat dalam makanan tersebut tidak terlalu banyak berkurang akibat dari pengolahan sumber makanan yang tidak tepat. Waktu pemberian makan kepada anak juga memerlukan perhatian khusus sehingga penyerapan nutrisi yang diberikan kepada anak dapat diserap dengan lebih optimal oleh tubuh. Aksesibillitas tempat pelayanan kesehatan masyarakat sangat diperlukan untuk menekan angka anak dengan stunting. Tempat pelayanan kesehatan bukan saja menjadi tempat untuk melakukan perbaikan gizi anak tetapi juga sebagai gerbang ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang sulit menjangkau informasi tentang gizi ibu hamil, balita dan masalah kesehatan lainnya. Tempat pelayanan kesehatan yang semakin dekat dengan masyarakat dapat memberikan kontribusi informasi tentang gizi baik yang berkaitan dengan gizi anak, pencegahan stunting dan informasi tentang masalah kesehatan lainnya. Tempat pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau dengan mudah oleh masayarakat dapat mempermudah masyarakat mendapatkan pelayanan untuk ibu hamil, ibu pasca melahirkan, dan imunisasi bayi dan balita. 1090 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 Kurangnya akses keluarga untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi menjadi faktor lain yang disebutkan sebagai penyebab stunting pada anak. Janin dalam kandungan, bayi, dan anak memerlukan makanan sehat dan bergizi untuk mendukung pertumbuhannya secara optimal. Pertumbuhan yang optimal membutuhkan gizi yang seimbang dan diperoleh dari sumber makanan yang bervariasi. Selain makanan yang seimbang, lingkungan yang bersih menjadi salah satu faktor pendukung yang tidak kalah pentingnya untuk mencegah Perempuan yang akan menjadi seorang ibu harus melewati tahap perkawinan. Perkawinan di Indonesia di atur dalam undang-undang perkawinan yaitu Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Persyaratan perkawinan dicantumkan dalam Pasal 6 dan 7 Undang-Undang Perkawinan. Salah satu syarat yang tercantum adalah batasan umur, dimana umur yang diperbolehkan melaksanakan perkawinan minimal 19 tahun. Selain itu, terdapat perkawinan yang dilarang yang tercantum dalam Pasal 8 diantaranya perkawinan 2 orang yang memiliki hubungan darah dalam garis lurus ke bawah atau ke atas, dan orang yang berhubungan darah garis keturunan menyamping. Berdasarkan uraian diatas, tim penelitian kelompok kami, tertarik untuk meneliti mengenai stunting terebut, khususnnya fokus penelitian kami adalah pada Masyarakat Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur yang nantinyna dirinci dalam rumusan masalah pada Laporan penelitian ini. METODE Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus . ase stud. , pendekatan ini bertujuan menggali lebih dalam fenomena stunting di Desa Pelantaran dan memahami konteks lokal yang spesifik. Berdasarkan informasi awal yang tim peroleh Desa Pelantaran berada pada tingkat prevalensi stunting yang tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Kotawaringin Timur. Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian ini sumber data akan diperoleh dari buku-buku, kepustakaan dan informan sebagai narasumber di lapangan. Adapun yang menjadi isntrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Keikutsertaan peneliti dalam penjaringan data menentukan keabsahan data yang dikumpulkan dalam penelitian. Sebagai instrumen utama peneliti memiliki tugas untuk merencanakan, mengumpulkan data, menganalisis/sebagai analisator, menafsir data dan menyusun hasil Instrumen bantu dalam penelitian adalah alat bantu yang digunakan peneliti untuk menganalisa hasil penelitian yang dilakukan pada langkah penelitian selanjutnya. Ada dua macam instrumen bantu yang lazim digunakan yaitu . panduan atau pedoman wawancara mendalam . ang berisikan tulisan mengenai daftar informasi yang perlu dikumpulka. alat rekaman yang dapat digunakan sebagai alat bantu apabila peneliti mengalami kesulitan untuk mencatat hasil wawancara. Adapun instrumen bantu atau alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: panduan, telepon seluler/gadget . ebagai alat perekam dan Informan dalam penelitian ini adalah orang yang dianggap paling tahu tentang apa yang informan dipilih berdasarkan pengetahuan mereka tentang stunting dan pengalaman langsung dalam menghadapi masalah ini di Desa Pelantaran, antara lain kepala desa, bidan desa, dan ibu-ibu yang memiliki anak dengan risiko stunting. Selanjutnya informan kunci yaitu orang-orang yang dipandang tahu permasalahan yang diteliti. Adapun yang dimaksud sebagai informan kunci dalam penelitian ini adalah warga Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur. Adapaun teknik pengumpulan data terdiri dari Observasi. Wawancara (Intervie. dan Kepustakaan 1091 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Penyebab Terjadinya Stunting di Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur Stunting bukan disebabkan oleh faktor genetik dari orang tua. Pertumbuhan anak yang tidak optimal dapat memberikan dampak negatif bagi masa depannya. Stunting berdampak pada pertumbuhan anak dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek dari stunting meliputi gangguan metabolisme tubuh dan pertumbuhan fisik yang kurang optimal jika dibandingkan dengan pertumbuhan normal seusianya. Dalam jangka panjang, stunting dapat mengakibatkan masalah kecerdasan anak yang berada di bawah rata-rata dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Kecerdasan yang lebih rendah pada anak yang mengalami stunting disebabkan oleh terganggunya perkembangan sel saraf pusat. (Ginting Faktor keluarga dan rumah tangga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stunting pada anak. Lingkungan yang tidak mendukung serta rendahnya akses terhadap nutrisi yang baik menjadi salah satu penyebab utama (Helmyati et al. , 2019, . Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan. Dengan berbagai faktor penyebabnya, serta dampak jangka pendek dan panjang yang ditimbulkan, maka pentingnya intervensi gizi dan kesehatan untuk mencegah stunting selama periode krusial tersebut, sebagai upaya yang efektif dalam mengurangi risiko terjadinya stunting pada anak (Rahmawati 2. Berdasarkan data prevalensi Stunting di Kalteng yang tim dapatkan melalui Kalteng. id dapat dilihat bahwa Kabupaten Kotawaringin Timur termasuk dalam data prevalensi Stunting dengan Tingkat yang tinggi di Kalimantan Tengah. Tabel 1. Data Prevalensi di Kal-Teng Stunting merupakan masalah kesehatan yang serius yang dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan anak. Penelitian tim Kelompok IAHN-Tampung Penyang Palangka Raya ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang prevalensi stunting di Desa Pelantaran serta untuk mengidentifikasi kelemahan dalam pengumpulan data yang mungkin mempengaruhi validitas hasil penelitian. 1092 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 Stunting, yang merupakan kondisi kekurangan gizi kronis pada anak-anak, memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dalam jangka pendek Stunting menyebabkan tinggi badan anak menjadi lebih pendek dari rata-rata usia mereka, memiliki berat badan yang lebih rendah, menandakan kekurangan gizi kronis yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan normal mereka, berpengaruh langsung pada perkembangan otak anak, menyebabkan keterlambatan kognitif yang menghambat kemampuan berpikir, belajar, dan berkomunikasi. Anak stunting lebih sulit berkonsentrasi dan mengalami masalah dengan daya ingat, kondisi stuntingpun membuat anak lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernapasan, serta membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit. Risiko stunting pada didesa pelantaran dapat disebabkan karena berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi yang kurang baik dan asupan gizi ibu yang tidak cukup selama kehamilan. Ibu hamil yang tidak mendapatkan cukup nutrisi, bisa berdampak buruk pada perkembangan janin dan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, yang kemudian bisa berisiko mengalami stunting. asil wawancara dengan ibu Nana Herlin. Selain faktor ekonomi dan gizi ibu, lingkungan tempat tinggal yang tidak bersih dan kurangnya pengetahuan tentang cara merawat dan memberi makan anak juga bisa meningkatkan risiko stunting. Oleh karena itu, untuk mencegah stunting, perlu ada upaya bersama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, memberikan edukasi tentang gizi yang baik, dan memastikan lingkungan yang sehat bagi anak-anak. (Hasil wawancara dengan Ibu Ria Anco. Penentuan status stunting pada anak dilakukan dengan menggunakan indikator yang tercantum pada Kartu Masyarakat Sehat (KMS). Indikator-indikator ini meliputi: Usia Anak: Data usia digunakan untuk menentukan kategori usia dan membandingkan pertumbuhan anak dengan standar yang sesuai. Berat Badan Anak: Berat badan anak diukur dan dicatat untuk melihat apakah berada di bawah standar berat badan ideal sesuai usia. Tinggi Badan Anak: Tinggi badan anak juga diukur untuk melihat apakah sesuai dengan standar tinggi badan ideal. Dan melalui KMS memberikan grafik pertumbuhan yang memungkinkan petugas kesehatan untuk memantau apakah anak berada pada jalur pertumbuhan yang normal atau menunjukkan gejala stunting. Data yang dikumpulkan oleh petugas posyandu berasal dari anggota aktif Posyandu Dahlia dan Kamboja. Hanya anak-anak yang rutin datang ke posyandu untuk mendapatkan layanan kesehatan yang datanya diikutsertakan dalam penelitian ini. Namun, terdapat beberapa kelemahan dalam pengumpulan data yang perlu diperhatikan, antara lain populasi data yang diambil hanya mencakup anak-anak dari keluarga yang menjadi anggota aktif Hal ini berarti bahwa anak-anak dari keluarga yang tidak aktif atau tidak terdaftar di posyandu tidak tercakup dalam penelitian ini. Tabel 2. Faktor Penyebab Stunting Berdasarkan Wawancara Faktor Penyebab Kurang Gizi Kronis Akses Sanitasi yang Buruk Praktek Pengasuhan yang Kurang Kurangnya Akses Pelayanan Kesehatan Faktor Ekonomi Jumlah Responden (%) 1093 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 Perpres No. 42 Tahun 2023 fokus dalam mempercepat perbaikan gizi masyarakat, terutama bagi ibu hamil, bayi, dan anak balita, untuk mengatasi masalah gizi buruk dan Dalam Perbup Kotawaringin Timur No. 28 Tahun 2029 mengatur pelaksanaan percepatan pencegahan stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur, termasuk di Desa Pelantaran. Peraturan ini bertujuan mengoptimalkan peran pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, serta komunitas masyarakat dalam menurunkan prevalensi stunting. Perpres No. 42 Tahun 2013 dan Perbup Kotawaringin Timur No. 28 Tahun 2019 memberikan kerangka hukum yang kuat untuk menangani stunting di tingkat nasional dan Namun, berdasarkan teori implementasi kebijakan, faktor-faktor seperti koordinasi, akses terhadap layanan, kapasitas lokal, dan kesadaran masyarakat menjadi penentu utama keberhasilan kebijakan tersebut di Desa Pelantaran. Berdasarkan keterangan Narasumber bahwa banyak orang tua yang sibuk dan tidak dapat membawa anak mereka secara rutin ke posyandu. Akibatnya, data dari anak-anak ini tidak masuk dalam pengumpulan data, sehingga jumlah kasus stunting yang terdeteksi mungkin tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di desa Pelantaran. Data yang dikumpulkan dari Posyandu Dahlia dan Kamboja menunjukkan bahwa terdapat sejumlah anak yang teridentifikasi sebagai penderita stunting berdasarkan indikator pada Kartu KMS. Namun, karena populasi data yang terbatas hanya pada anggota aktif posyandu, data ini tidak dapat dianggap sebagai representasi yang valid untuk seluruh desa. Keterbatasan ini mengindikasikan bahwa prevalensi stunting di Desa Pelantaran mungkin lebih tinggi dari data yang ada. Diperlukan strategi yang lebih efektif untuk mengumpulkan data dari seluruh populasi anak di desa, termasuk mereka yang tidak terdaftar atau tidak aktif di posyandu. (Hasil wawancara dengan Ria Anco. Informasi lain yang disampaikan oleh Narasumber bahwa Stunting dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pola asuh yang tidak tepat, karena orang tua belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang pemberian makan yang baik pada anak, seperti memberikan ASI yang tidak eksklusif atau memberikan MPASI yang tidak bergizi. Selain itu, stunting juga dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan bergizi pada anak. Kurangnya asupan protein, zat besi, vitamin A, zinc, dan yodium, terutama pada masa balita, dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak, sehingga menyebabkan (Hasil wawancara dengan Cica Suprias. Penanggulangan stunting memerlukan kerja sama dari berbagai pihak dan tingkat komitmen yang tinggi untuk mencapai perubahan yang diharapkan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan tentunya orangtua dalam menjalankan kebijakan yang telah disusun dalam program pemerintahan Desa Pelantaran. (Hasil wawancara dengan Mer. Upaya Pencegahan Stunting di Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur Indonesia memiliki tingkat prevalensi stunting yang cukup tinggi, yaitu sekitar 36%. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah stunting melalui kebijakan dan regulasi serta berbagai intervensi. Upaya tersebut mencakup intervensi spesifik yang dijalankan oleh sektor kesehatan serta intervensi sensitif yang dilakukan oleh berbagai sektor di luar kesehatan. Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi stunting meliputi masalah kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan pendapatan keluarga yang rendah. (Latifa 2. Teori yang dikemukakan Lawrence Green . dalam Notoatmodjo . menyatakan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor: faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan keyakinan. faktor pendukung yang terwujud dalam ketersediaan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan obat-obatan. faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau pemimpin Dalam mencegah stunting, pengetahuan merupakan faktor penting yang dapat 1094 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 membentuk tindakan positif, dengan intervensi gizi spesifik untuk anak usia 0-23 bulan melalui konseling gizi kepada individu dan keluarga (Rokhmah dkk, 2. Pemerintah memainkan peran penting dalam mencegah stunting pada anak melalui edukasi mengenai praktik pengasuhan, penyediaan akses yang mudah ke fasilitas kesehatan, dan penyediaan makanan sehat yang lebih terjangkau. Upaya pemerintah untuk menurunkan angka stunting di Indonesia termasuk penerbitan Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Peraturan ini mencakup berbagai strategi yang dijalankan pemerintah, seperti pembentukan gugus tugas untuk mengurangi stunting, peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam mendapatkan informasi kesehatan, serta penyediaan akses ke makanan bergizi dan pelayanan kesehatan yang lebih baik (Atikah. Rahayu 2. Pentingnya edukasi masyarakat untuk mendeteksi dan mencegah stunting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mendeteksi gejala stunting pada anak sejak dini. Selain itu, perlu disusun langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan, mulai dari pemberian asupan gizi yang cukup, pemantauan pertumbuhan anak, hingga intervensi yang diperlukan di level keluarga. Dengan adanya panduan ini, keluarga dan tenaga kesehatan diharapkan lebih proaktif dalam melakukan pencegahan stunting, serta mengambil tindakan yang cepat jika ditemukan gejala stunting (Deswita. Yeni, dan Sari, 2. Pola asuh yang kurang tepat, terutama dalam pemberian makanan dan stimulasi perkembangan anak, merupakan salah satu penyebab signifikan terjadinya stunting. Asupan gizi yang tidak mencukupi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, memperburuk kondisi pertumbuhan anak. Selain itu, kesehatan ibu, termasuk masalah seperti anemia atau infeksi selama kehamilan, juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi kondisi janin dan pertumbuhan anak. Demikian halnya Faktor lingkungan, seperti sanitasi yang buruk dan keterbatasan akses air bersih, turut memperbesar risiko terjadinya stunting. Dalam merancang intervensi yang tepat sasaran berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi stunting di tingkat keluarga dan lingkungan dalam upaya menurunkan angka stunting melalui intervensi yang komprehensif dan terfokus (Neherta. Meri. Dewi Deswita. Reky Marlani, and Eva Chundrayetti, 2. Kotawaringin Timur menghadapi masalah stunting yang signifikan, di mana banyak anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi. Tingginya angka stunting ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah dampak jangka panjang pada kesehatan dan perkembangan anak-anak. Peraturan Bupati Kotawaringin Timur Nomor 28 Tahun 2019 dikeluarkan untuk menangani masalah stunting ini. Dan Kotawaringin Timur khususnya Desa Pelantaran menjadi bagian dari perhatian pemerintahan Kotawaringin Timur. Tim Penelitian memperoleh data penderita stunting di Desa Pelantaran yang dilakukan oleh Posyandu Dahlia dan Kamboja. Kedua posyandu ini berperan penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak balita di desa ini. Data yang dikumpulkan mencakup informasi dari kesehatan kandungan hingga anak berusia 5 tahun. Beberapa Upaya pemerintahan desa yang dilakukan dalam pencegahan stunting didesa pelantaran antara lain: Pemberian Telor Salah satu upaya utama dalam penanganan stunting di Desa Pelantaran adalah pemberian telur kepada anak-anak yang berisiko stunting. Setiap anak yang terdaftar dalam program ini menerima 30 butir telur per bulan. Perhitungan ini didasarkan pada kebutuhan harian, yaitu satu butir telur per hari. Telur dipilih sebagai sumber protein hewani yang mudah diakses dan terjangkau. Telur kaya akan protein, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian telur secara rutin diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi anak dan membantu mempercepat pertumbuhan mereka. 1095 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 Program ini dilakukan melalui Posyandu, di mana telur dibagikan kepada orang tua atau pengasuh anak pada setiap kunjungan bulanan. Petugas Posyandu juga memberikan penyuluhan tentang pentingnya protein dan cara mengolah telur menjadi makanan yang sehat dan menarik bagi anak-anak. Pemberian Susu Selain telur, pemberian susu juga merupakan bagian dari upaya penanganan stunting di Desa Pelantaran. Setiap anak yang terdaftar dalam program ini menerima 30 kotak susu per bulan, dengan perhitungan satu kotak susu per hari. Jenis susu yang diberikan adalah susu Ultra Milk rendah gula. Susu merupakan sumber kalsium, vitamin D, dan protein yang penting untuk pertumbuhan tulang dan perkembangan keseluruhan anak. Susu rendah gula dipilih untuk mengurangi risiko obesitas dan masalah kesehatan lainnya yang dapat disebabkan oleh konsumsi gula Seperti telur, susu dibagikan melalui Posyandu. Orang tua atau pengasuh anak mengambil susu setiap bulan dan diberi penjelasan mengenai manfaat susu dan pentingnya mengurangi konsumsi gula berlebih pada anak. Dukungan Pemerintah Kabupaten mapun Kecamatan dalam Upaya Pencegahan Stunting di Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur Berdasarkan Informasi dari Ibu Camat Cempaga Hulu bahwa data awal terdapat 23 anak yang teridentifikasi memiliki status gizi kurang, dan saat ini hanya tersisa 2 anak yang masih memerlukan perhatian khusus pada tahun 2024 ini. Banyaknya data anak yang teridentifikasi memiliki masalah stunting terjadi karena kesalahan data yang mempengaruhi proses identifikasi anak-anak dengan status gizi kurang, sehingga perlu adanya pembaruan dan verifikasi data yang lebih teliti. Dan telah dilakukan pembaharuan data untuk mencari kasus yang benar-benar terjadi dan memikirkan upaya maupun solusi terbaik dalam mengatasi masalah stunting tersebut. Ada juga satu faktor yang tidak dapat di hindari dalam penyebab ciri-ciri anak Stunting adalah faktor genetik diakui mempengaruhi komposisi tubuh anak, yang menjadi salah satu pertimbangan dalam program peningkatan status gizi. Berdasarkan data yang diperoleh ditemukan beberapa penyebab stunting di Kecamatan Cempaga Hulu khususnya di Desa Pelantaran, yaitu Pola asuh dan pola makan anak. Dan untuk itu dipantau secara intensif selama dua bulan pertama setelah intervensi, untuk memastikan perbaikan gizi yang optimal. Tabel 3. Kendala dalam Pencegahan Stunting di Desa Pelantaran Kendala Akses ke Pelayanan Kesehatan Terbatas Kurangnya Pengetahuan Gizi pada Orang Tua Faktor Ekonomi Sanitasi dan Air Bersih Tidak Memadai Minimnya Dukungan dari Pemerintah Daerah Jumlah Responden (%) Kecamatan cempaga Hulu berkerjasama juga dengan pemerintahan desa Pelantaran melakukan pula beberapa upaya seperti pemeriksaan bekal makanan yang dibawa anakanak di Taman Kanak-Kanak. Hal itu diperiksa secara berkala oleh Ibu Camat. Pihak Posyandu desa pelantaran bersama dengan ahli gizi, untuk memastikan asupan nutrisi yang sesuai untuk tumbuh kembang anak. (Hasil Wawancara: Ibu Camat Cempaga Hul. 1096 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 Pentingnya sinergi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan sosial dalam upaya memerangi stunting secara efektif. Intervensi gizi semata tidak cukup untuk menangani masalah stunting, melainkan diperlukan pendekatan yang holistik dan terkoordinasi antar berbagai pihak. Para pemangku memiliki kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang tepat serta memastikan implementasi di lapangan berjalan sesuai dengan bukti ilmiah yang ada. Keterlibatan berbagai sektor diakui sangat krusial, karena faktor-faktor penyebab stunting meliputi berbagai aspek sosial dan lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Strategi yang berhasil mencakup intervensi pada level rumah tangga, komunitas, dan kebijakan nasional, dengan penekanan pada pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan untuk memastikan dampak yang positif dan signifikan (Prawirohartono 2. Pemerintahahan Kabupaten Kotawaring Timur juga telah ikut andil besar dalam upaya pencegahan Stunting yaitu menerbitkan Peraturan Bupati Kotawaringin Timur Nomor 28 Tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penurunan Stunting, dimana peraturan ini bertujuan untuk mengintegrasikan intervensi gizi dan pangan guna mencegah dan menurunkan Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Peraturan ini mencakup intervensi spesifik dan sensitif, yang ditujukan untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, remaja, dan masyarakat secara keseluruhan. Kegiatan meliputi peningkatan akses air bersih, sanitasi, fortifikasi pangan, edukasi kesehatan dan gizi, serta program-program lain yang mendukung. Peraturan ini menetapkan empat pilar utama: komitmen pimpinan daerah, kampanye perubahan perilaku, konvergensi dan koordinasi program, dan ketahanan pangan dan Pendekatan meliputi komunikasi perubahan perilaku, kemandirian keluarga, gerakan masyarakat hidup sehat, dan gerakan 1. 000 HPK. Edukasi, pelatihan, dan penyuluhan gizi diselenggarakan secara periodik dan kontinyu. Penelitian dan pengembangan dilakukan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dalam intervensi stunting. Dalam Peraturan Bupati ini mengatur tentang Wewenang dan tanggung jawab pelaksanaan dikelola oleh Dinas Kesehatan dan Perangkat Daerah terkait, dengan dukungan Tim Pencegahan dan Penurunan Stunting. Sasaran wilayah intervensi ditetapkan dan dievaluasi secara berkala. Peran serta masyarakat dihimbau untuk berkontribusi dalam pencegahan stunting. Pencatatan dan pelaporan upaya penanganan stunting wajib dilakukan oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Penghargaan diberikan kepada masyarakat atau institusi yang berkontribusi dalam pencegahan Pendanaan diperoleh dari APBN. APBD. APBDes, dan sumber lain yang sah. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Berdasarkan data yang tim temukan dilapangan, ditemukan keberhasilan dalam pencegahan dan penanggulangan kasus stunting di Desa Pelantaran. Untuk mempertahankan keberhasilan, kebijakan ini harus dievaluasi secara berkala. Analisis kausalitas akan membantu mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berperan dalam keberhasilan atau kegagalan penanggulangan stunting. Jika ada hambatan atau masalah yang muncul . isalnya kurangnya partisipasi masyarakat atau masalah logisti. , maka kebijakan dapat diperbaiki dan disesuaikan untuk masa yang akan datang. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kasus stunting di Desa Pelantaran. Faktorfaktor yang mempengaruhi kejadian stunting di Desa Pelantaran. Kecamatan Cempaga Hulu. Kabupaten Kotawaringin Timur diukur melalui indikator tertentu yang dicatat di Kartu Masyarakat Sehat (KMS) oleh Posyandu, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling terkait, termasuk kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemenuhan gizi yang baik bagi 1097 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. Desember 2024 anak dari dalam masa kandungan, kondisi ekonomi yang mempengaruhi Pendidikan orang tua dan pemberiaan makanan yang sesuai untuk tumbuh kembang anak, sanitasi, dan pola asuh yang tidak tepat. Upaya pencegahan stunting di Desa Pelantaran. Kecamatan Cempaga Hulu. Kabupaten Kotawaringin Timur adalah melalui program pemberian telur dan susu kepada anak-anak berisiko stunting, serta pemantauan gizi oleh posyandu. Program ini berhasil menurunkan jumlah anak stunting dari 23 menjadi 2 pada tahun 2024. Dukungan pemerintah melalui Peraturan Bupati Nomor 28 Tahun 2019 juga membantu dengan intervensi gizi, akses air bersih, dan edukasi kesehatan. Pendekatan terpadu ini efektif dalam mengatasi stunting di wilayah tersebut. REFERENSI