P-ISSN 2559 – 2163 E-ISSN 2599 – 2155 Vol. 4, No. 1, Mei 2020 http://cjp.jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id Cendekia Journal of Pharmacy STIKES Cendekia Utama Kudus APLIKASI KONSORSIUM TANAMAN HERBAL UNTUK MENGATASI JERAWAT AKIBAT AUTOIMUN : SUATU UPAYA PENGEMBANGAN TRADITIONAL BIOMEDICINE Yosef Purwoko1, Hermin Pancasakti Kusumaningrum*2, Lilis Sugiarti3, Hererapratita Aysha Hapsari1 1 Laboratorium Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro 2 Program Studi Bioteknologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro 3 Prodi D3 Farmasi, STIKES Cendekia Utama Kudus Email: herminpk@live.undip.ac.id ABSTRAK Jerawat merupakan salah satu penyakit kulit autoinflamasi yang terkait dengan autoimmun yang biasa dijumpai para remaja di Indonesia. Permasalahannya, ternyata penyakit ini mempunyai prevalensi seumur hidup sebesar 85% dan menimbulkan dampak mekanisme inflamasi kompleks yang melibatkan imunitas bawaan. Bahkan bagi wanita yang berusia di atas usia 25 tahun, pengobatan jerawat menggunakan obat kimiawi mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi. Kebutuhan akan pengembangan obat tradisional menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, khususnya terkait dengan keamanan dan kemudahan dalam penggunaannya serta mempunyai efek samping yang lebih kecil. Tanaman herbal di Indonesia telah menarik banyak perhatian karena penggunaannya secara tradisional dalam kehidupan sehari-hari yang telah banyak memecahkan permasalahan terkait dengan beberapa penyakit kulit yang disebabkan oleh autoimun. Tujuan penelitian adalah menentukan aktivitas konsorsium tanaman herbal dalam menghambat mikroorganisma penyebab jerawat. Metode penelitian dilakukan dengan mengisolasi mikroorganisme penyebab jerawat dan melakukan uji penghambatan pertumbuhan mikroorganisme yang berasal dari pasien penderita jerawat dibandingkan dengan kontrol menggunakan rebusan konsorsium tanaman herbal dan menganalisis potensi aktivitas obat jerawat dari setiap tanaman menggunakan analisis PASS. Hasil penelitian memperlihatkan 21 jenis tanaman herbal mempunyai aktivitas dalam mengatasi penyakit kulit yang terkait dengan autoimun dan mikroorganisme. Uji aktivitas antimikroorganisme menunjukkan diameter zona hambatan pertumbuhan sebesar 2 - 5 mm sesuai dengan semakin banyaknya larutan. Hasil analisis PASS memperlihatkan bahwa tanaman sambiloto (Andrographis paniculata) memperlihatkan potensi tertinggi dalam mengobati jerawat dengan kemampuan sebesar 86%. Meskipun demikian, hasil penelitian memperlihatkan potensi tanaman herbal sebagai obat jerawat akibat autoimun akan mencapai hasil yang lebih optimal bila digunakan bersama-sama. Kata Kunci: herbal, jerawat, tanaman, tradisional ABSTRACT Acne is one of the autoinflamation skin diseases associated with autoimmune commonly found in adolescents in Indonesia. The problem is, it turns out that this disease has a lifetime prevalence of 85% and has the effect of a complex inflammatory mechanism involving innate immunity. Even for women over the age of 25 years, acne treatment using chemical drugs has a high failure rate. The need for the development of traditional 10 medicines is one of the solutions to overcome these problems, especially related to safety and ease of use and have smaller side effects. Herbal plants in Indonesia have attracted a lot of attention because of their traditional use in daily life which has solved many problems related to several skin diseases caused by autoimmune. The purpose of this research is to determine the activity of a consortium of herbal plants in inhibiting the microorganisms that cause acne. The research method was carried out by isolating acnecausing microorganisms and testing the growth of microorganisms derived from acne patients compared to controls using a decoction of herbal plants and analyzing the potential for acne drug activity from each plant using PASS analysis. The results showed 21 types of herbal plants have activities in overcoming skin diseases associated with autoimmune and microorganisms. Antimicrobial activity test shows that the diameter of growth inhibition zone is 2-5 mm according to the increasing number of solutions. PASS analysis results showed that the bitter plant (Andrographis paniculata) showed the highest potential in treating acne with an ability of 86%. Nevertheless, the results of the study show the potential of herbal plants as acne medications due to autoimmune will achieve more optimal results when used together. Keywords: herbal, acne, plant, traditional 11 LATAR BELAKANG Jerawat atau Acne vulgaris (AV) adalah penyakit yang umum dijumpai di Indonesia. Jerawat merupakan salah satu penyakit kulit autoinflamasi yang terkait dengan autoimmun. Jerawat merupakan penyakit pada unit pilosebaseous yang menyebabkan lesi non-inflamasi (komedo terbuka dan tertutup), lesi inflamasi (papula, pustula, dan nodul), dan derajat jaringan parut yang bervariasi. Penyakit ini mempunyai prevalensi seumur hidup sebesar 85% dan sebagian besar terjadi selama masa remaja (Bhate dan Williams, 2013). Empat proses patogen utama yang menyebabkan pembentukan lesi jerawat lesi adalah perubahan keratinisasi folikel yang menyebabkan komedo, meningkatnya produksi sebum di bawah kendali androgen, kolonisasi folikel oleh Propionibacterium acnes dan mekanisme kompleks inflamasi yang melibatkan imunitas bawaan. Pengobatan jerawat sangat bervariasi namun mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi khususnya bagi wanita yang berusia di atas usia 25 tahun (Kamangar dan Shinkai, 2012). Padahal perawatan tersebut umumnya menggunakan obat-obatan, misalnya penggunaan antibiotik sistemik, terapi topical, isotretinoin dan kombinasinya. Kegagalan pengobatan dengan cara tersebut mencapai 30-80% pada wanita bahkan jerawat akan segera muncul lagi pasca pengobatan sehingga menimbulkan ketergantungan (Blasiak et al., 2013; Goulden et al., 1997, Rademaker, 2016). Hal ini tentu saja menimbulkan dampak negatif bagi tubuh. Beberapa penyakit kulit seperti jerawat, abses, kulit pecah-pecah, dermatitis, eksim, infeksi jamur, impetigo, peradangan, pruritus, kelainan kulit kepala, bekas luka dan lainnya dapat diatasi menggunakan tanaman obat (Chao et al. 2008; Bakkali et al. 2010; Jain et al. 2010; Djilani dan Dicko, 2012; Orchad dan van Vuuren, 2017). Kulit yang rusak akan lebih mudah terinfeksi oleh mikroorganisma. Kerusakan tersebut meliputi hilangnya kelembaban, kekeringan, iritasi, masuknya alergen dan bakteri. Yang et al. (2013) menjelaskan bahwa bakteri Gram positif termasuk Staphylococcus, Micrococcus, Corynebacterium sp. , S. aureus dan Streptococcus pyogenes terkenal sebagai patogen pada kulit. Semua faktor tersebut dapat menyebabkan kulit mengalami peradangan dan infeksi (Chakrapani et al., 2012; Swamy dan Sinniah, 2015; Balouiri et al. 2016). Meskipun demikian, tubuh manusia sistem kekebalan atau sistem imun. yang selalu siaga terhadap ancaman. Sistem imun berkembang sesuai umur manusia. Kondisi optimal sistem imun dicapai pada usia dewasa (17-50 tahun) dan setelah itu menurun kembali pada lebih dari 50 tahun. Sistem imun yang menurun ditandai dengan munculnya alergi autoimun berupa jerawat, sakit kulit, gatalgatal,bersin-bersin,batuk atau asma dan penyakit lainnya. Salah satu yang sering muncul adalah Dermatitis atopik (DA) yaitu gatal yang menimbulkan kelainan kulit. Diperkirakan angka kejadian di masyarakat sebesar 1-3% dan prevalensi DA meningkat 5-10% pada 20-30 tahun terakhir (Balouiri et al., 2016). Peningkatan prevalensi ini berasal dari faktor lingkungan, seperti bahan kimia industri, makanan olahan, atau benda asing lainnya serta faktor keturunan. Sedangkan pencetus penyakit ini antara lain, makanan, debu, infeksi kulit dan varisi musim. Perawatan kulit menggunakan hidrasi adalah terapi DA yang penting yaitu peningkatan kandungan air pada kulit dengan cara mandi dan menerapkan sawar hidrofobik untuk mencegah evaporasi (Baker, 2006). Obat modern atau obat kimia memiliki beberapa kelemahan yaitu mahal dan menimbulkan efek samping yang bersifat langsung atau tidak langsung yaitu akumulatif. Bahan kimia bersifat 12 anorganik sedangkan tubuh bersifat organik. Selain itu obat kimia kurang efektif untuk penyakit tertentu utamanya untuk penyakit yang belum diketahui penyebabnya. Tanaman mengandung berbagai zat secara alami yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita manusia termasuk bioterapi kulit. Di Indonesia, tanaman tersebut telah digunakan oleh masyarakat untuk obat-obatan tradisional sehingga disebut dengan tanaman herbal. Keutamaan penggunaan tanaman herbal adalah aman, efektif, murah, dan pengobatannya sederhana. Tanaman obat yang berpotensi sebagai obat anti alergi autoimun sangat banyak dijumpai di Indonesia (Sastrapradja dkk., 1981; Mateblowski, 1991; Syukur dan Hernani, 2001; Rukmana 2004, Mahendra, 2005; Ningsih, 2005). Ada beberapa zat dalam tanaman obat dengan berbagai kegiatan yang dapat bekerja secara individu atau bersama-sama dalam mengobati suatu penyakit termasuk penyakit alergi karena autoimun yang telah dikontaminasi oleh mikrobia. Aktivitas antimikroba dalam tanaman tanaman obat tergantung pada kekhasan senyawa (struktur dan sifat fisikokimia), entitas mikroba (spesies, antibiotik, dll.). Uji sifat anti mikroba tanaman obat terhadap beberapa mikroorganisme seperti Bacillus subtilis, S. aureus, Streptococcus pyogenes, Enterobacter aerogenes, Pseudomonus aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae dan Serratia marcescens dan memperlihatkan zona hambatan pertumbuhan terhadap mikrobia tersebut termasuk pada Actinobacillus, Capnocytophaga, Fusobacterium, dan Eikenell (Das et al., 2011). Dalam kultur dan budaya masyarakat Indonesia khususnya Jawa, dijumpai suatu kebiasan tradisional yaitu mandi menggunakan beberapa tanaman obat untuk membersihkan kulit dan mengobati penyakit kulit. Pada beberapa pasien alergi autoimun, air rebusan kumpulan tanaman obat tersebut ternyata mampu mengeringkan luka pada kulit akibat alergi autoimun dan mempercepat penyembuhan. Permasalahannya adalah dalam kumpulan tanaman obat tersebut belum diketahui kemampuan antimikroba dan senyawa aktif yang dapat menanggulangi jerawat. Skrining potensi obat dan terapi tanaman herbal perlu dilakukan untuk mendeteksi dan mengkonfirmasi kemampuan dalam melawan patogen serta melihat aktivitas dan hubungan mereka dengan penyakit tersebut, khusunya bila ingin memperoleh senyawa pada tanaman obat yang memiliki spektrum yang luas. Penelitian yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan khususnya dalam mencari tanaman obat yang berpotensi untuk menyembuhkan tidak hanya jerawat tetapi juga penyakit kulit lainnya yang utamanya disebabkan oleh autoimun. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Bahan tanaman herbal Konsorsium tanaman herbal diperoleh dari pasar tradisional yang biasa digunakan untuk mandi dan membersihkan kulit. Tanaman tersebut terdiri dari berbagai bagan tanaman yang sudah dikeringkan atau simplisia yang digunakan dengan cara direbus. Konsorsium tanaman herbal yang digunakan diperlihatkan pada Gambar 1. 13 Gambar 1. Konsorsium tanaman herbal Uji hambatan pertumbuhan mikroorganisme Aktivitas antibakteri konsorsium tanaman obat diujikan terhadap mikroorganisme hasil apusan dari dua orang pasien uji dimana satu orang menderita jerawat parah dan satu orang tidak berjerawat. Apusan dilakukan menggunakan scalpel steril yang selanjutnya di streak pada media agar, Selanjutnya media yang telah ditanam mikroorganisma hasil apusan diinkubasi selama 24 jam. Mikroorganisme yang telah ditumbuh ditanam dalam media baru yang telah berisi sumuran yang akan diisi oleh ekstrak dari konsorsium tanaman herbal. Hasil apusan ditumbuhkan pada media agar dengan metode difusi. Sumur mempunyai diameter 7 mm yang disiapkan dibagian tengah koloni yangg tumbuh pada medium nutrient agar (DifcoTM), dengan menggunakan kaca steril. Setiap lubang diisi dengan beberapa konsentrasi larutan konsorsium tanaman herbal sebanyak 50, 100 dan 150 μg/disc. Setelah suspensi ditambahkan ke dalam sumur agar, petri diinkubasi pada suhu ruang selama 2-48 jam. Kemudian, 100 ml kultur bakteri 24 jam dalam medium disebar di setiap petri dan diinkubasi pada 28oC selama 24 jam. Aktivitas antibakteri dievaluasi dengan mengukur diameter zona inhibisi dan membandingkan mereka dengan yang diperoleh dengan kontrol. Setiap perlakuan dilakukan ulangan tiga kali. Analisis struktur kimia Struktur kimia setiap bahan yang dominan pada uji GC-MS ditelusur berdasarkan hasil referensi lalu dianalisis struktur senyawanya pada GenBank (www.ncbi.nlm.nih.gov) menggunakan fasilitas Chemicals & Bioassays diikuti dengan Pubchem compound (Oprea and Trophsa, 2006) untuk mencari Canonical SMILES (molecular-input pathway entry system simple). Uji pre and pharmacy expert program. Uji prediksi aktivitas senyawa PASS (Prediction of Activity Spectra for Substances) (http://www.pharmaexpert/ digunakan untuk mengetahui potensi molekul yang terdapat pada tanaman herbal sebagai obat penyakit kulit khususnya jerawat (Poroikov et al. 2003; Parasuraman, 2011). Perangkat lunak ini digunakan untuk memprediksi berbagai jenis aktivitas biologis berdasarkan pada struktur senyawa organik, sehingga dapat memperkirakan profil aktivitas biologis untuk molekul virtual, sebelum sintesis kimia dan pengujian biologis. Spektrum Aktivitas Biologis dari senyawa kimia yang dihasilkan oleh tanaman herbal adalah 14 kumpulan dari berbagai jenis aktivitas biologis yang mencerminkan hasil interaksi senyawa dengan berbagai entitas biologis. Pa (probabilitas "untuk menjadi aktif") digunakan untuk memperkirakan kemungkinan bahwa senyawa yang diteliti termasuk dalam sub-kelas senyawa aktif. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Tanaman herbal untuk pengobatan jerawat dan penyakit kulit autoimun Tumbuhan mengandung berbagai zat alami yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit yang diderita manusia.Hasil uji aktivitas tanaman herbal untuk berbagai penyakit pada kulit dan yang terkait ditunjukkan pada Tabel 1, berkorelasi dengan komposisi kimianya. Tabel 1. Aktivitas tanaman herbal berdasarkan analisis PASS No Nama Senyawa kimia Struktur kimia Tanaman utama dari GCMS Herbal 1 Adas 9-octadecenoic acid (Foeniculum (Upadhyay, 2015) vulgare Miller). Analisis PASS Antieczematic, Mucositis treatment, Antiseborrheic, 2 Jahe (Zingiber officinale) Naphthalenamine (Shareef et al., 2016 Antiseborrheic, Antiprotozoal, Antiviral, Antihelmintic, 3 Jeruk purut(Citrus hystrix DC.) Sabinene (Kasuan et al., 2013) Antieczematic, Antineoplastic, Antiinflammato ry, Antipsoriatic 4 Kayu manis (Cinnamomum zeylanicum) Cinnamaldehyde (Prasetya dan Ngadiwiyana, 2006) Antiprotozoal, Antieczematic, Radioprotector, Keratolytic, Antipruritic, Antiviral, 5 Lempuyang (Zingiber zerumbet) Zerumbone (Hanwar dkk, 2015) Antiinflammato ry, Antieczematic, Antineoplastic, Antipsoriatic 15 6 Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) Methyl linolenate (Sukandar dkk, 2008) Antieczematic, Antiinflammato ry, Antipruritic 7 Secang (Caesalpinia sappan L.) Brazilin (Rina, 2013) Antiseborrheic, Antipruritic, Anticarcinogeni c, Skin whitener 8 Serai atau sereh (Cymbopogon sp.) Isopulegol (Kusumaningrum et al., 2019) 9 Temu giring (Curcuma heyneana) curcumanolide A (Widyawati dan Agil, 2018) Dermatologic, Antiinflammato ry, Antieczematic, Antipsoriatic, Antiviral, Antifungal Antieczematic, Antineoplastic, Antiprotozoal, Chemoprotectiv e, Antibacterial 10 Temu kunci (Campferia rotunda (L.) Mansf. Benzyl benzoate (Suphrom, 2017) Antieczematic, Antiviral, Antiseptic, Cytoprotectant 11 Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) Curcumin (Kusumaningrum dkk, 2015) Antimutagenic, Antiinflammato ry, Antineoplastic, Anticarcinogeni c, Antimycobacter ial, Radioprotector, Antieczematic, 16 12 Rumput akar wangi (Vetiveria zizanoides) Valerenol (David et al., 2019) Antieczematic, Immunosuppres sant, Antipruritic, allergic. Antiviral, 13 Gaharu Aquilaria malaccensis Agarospirol (Ali and Taib, 2012) Immunosuppres sant, Antitussive, Antinociceptive, Dermatologic, Antiseborrheic, 14 Kayu angin (Usnea misaminensis) Usnic acid (Nugraha et al., 2019) Antiseborrheic, Antifungal, Antibacterial, Antineoplastic, Dermatologic, Antibiotic 15 Sambiloto (Andrographis paniculata) Retinoic acid (Kalaivani et al., 2012) Dermatologic, Antipsoriatic, Antineoplastic, Keratolytic, Antiacne, 86% Anticarcinogeni c, Antipruritic, Antieczematic, 16 Bidara laut (Strychnos nuxvomica L.) Strychnine (Thambi and Cherian, 2015) 17 Sidawayah (Woodfordia fruticosa) β-Caryophyllene (Kaur and Kaur, 2010) Antineoplastic, Antieczematic, Antiinflammato ry, Dermatologic, Antifungal 18 Kayu anyang (Elaeocarpus grandiflorus J.Sm,) n-Propanol (Geetha et al., 2019) Antiseborrheic, Antieczematic, Antiviral, Analeptic, Antineurotic, Antipruritic Antineoplastic, Antiviral, Analeptic, Antieczematic, 17 19 Pulasari (Alyxia stellata Rest. Sch), Beta Amyrin acetate (Timotius et al., 2015) Antineoplastic, Antiinflammato ry. Antiviral, Antiprotozoal, Antipruritic 20 Klabet (Trigonella foenoemgraecum L) 9,12Octadecadienoic acid (Z,Z)-, phenylmethyl ester (Vijayalaksmi et al., 2011) Angiogenesis, Antiseborrheic, Antiinflammato ry Antipruritic 21 Cabe jamu Piper retrofractum germacrene D (Jamal dkk, 2013) 22 Melati (Jasminum sambac) benzyl acetate (Hidayat et al., 2016) 23 Brotowali Tinospora crispa L.Miers HexamethylCyclotrisiloxane (Paphita et al., 2016) 24 Salam Eugenia polyantha Wight α- Ocimene (Wartini dkk, 2010) 25 Bunga Sirih (Piper retrofractum) Nafftalen (Parwata dkk, 2009) Dermatologic, Antiinflamatory, Antieczematic, Antipsoriatic, antiviral Antiseborrheic, Antiinflamatory, Antieczematic, Antipruritic, alergic Antiinfective Antiseptic Antineoplastic, Antiseborrheic, Oxygene scavenger, Antineoplastic, Antieczematic, Immunostimula nt, Antifungal, Antipsoriatic, Antiseborrheic, Oxygene scavenger, Antieczematic, Antihelmintic Berdasarkan atas hasil analisis PASS terlihat bahwa hampir semua tanaman herbal mempunyai kemampuan untuk mengobati penyakit kulit baik disebabkan oleh alergi maupun non alergi. Selain itu mereka juga sebagian besar mempunya kemampuan untuk melawan mikroorganisma baik itu bakteri, virus maupun jamur. Sebagian kecil tanaman obat juga mempunyai kemampuan ntuk melawan 18 cacing dan protozoa. Sebagian tanaman obat juga berperan sebagai tabir surya, meningkatkan ketahanan tubuh dan penyembuh luka pada kulit. Hasil pemelitian ini diperkuat oleh hasil serupa yang dilakukan oleh Chao et al. (2008); Bakkali et al. (2010); Jain et al. (2010); Djilani dan Dicko, (2012); Orchad dan van Vuuren, (2017). Hasil analisis PASS juga memperlihatkan bahwa tanaman herbal tersebut akan memperlihatkan aktivitas yang lebih baik dalam mencegah dan memperbaiki kerusakan dan penyakit pada kulit secara bersama-sama dibandingkan dengan penggunaan secara sendiri-sendiri. Hasil uji penghambatan pertumbuhan terhadap mikroorganisma penyebab jerawat Pengujian hambatan pertumbuhan telah dilakukan dengan berbagai konsentrasi air rebusan konsorsium tanaman herbal yang berbeda. Kultivasi mikroorganisme telah dilakukan terhadap apusan pipi pasien yang berjerawat dan pasien yang normal atau tidak berjerawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisma tidak hanya dijumpai pada pasien yang menderita jerawat namun juga pasien yang tidak menderita jerawat. Meskipun demikian jumlah mikroorganisme yang tumbuh ada pasien dengan jerawat jauh lebih banyak dibandingkan dengan pasien yang tidak berjerawat. Hasil yang diperoleh tersebut diperlihatkan pada Gambar 2. Hasil tersebut didukung oleh peneliti lain yang memperlihatkan bahwa mikrorganisme yang dijumpai pada permukaan wajah manusia terdiri atas Propionibacterium acnes secara dominan, S. aureus, Streptococcus pyogenes, Corynebacterium, Malassezia spp.) Beberapa jenis bakteria patogen lainnya pada wajah yang biasa dijumpai adalah dari golongan Actinobacteria, Proteobacteria, Firmicutes dan Bacteriodes (Das et al., 2011; Chakrapani et al. 2012; Yang et al. 2013; Swamy dan Sinniah, 2015; Balouiri et al. 2016). Gambar 2. Kultur mikroorganisme dari pasien yang berjerawat (kiri) dan pasien yang tidak berjerawat (kanan) Hasil penelitian memperlihatkan ekstrak tanaman herbal memperlihatkan berbagai tingkat aktivitas zona hambatan terhadap bakteri penyebab jerawat. Gambar 3 memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan tanaman herbal yang diberikan maka semakin besar zona hambatan. Hasil yang diperoleh didukung oleh hasil analisis PASS pada Tabel 1. Sebagai perbandingan, aktivitas 19 antimikroba beberapa tanaman herbal juga telah diuji beberapa peneliti dimana umumnya bakteri Gram positif lebih mudah dihambat dibandingkan dengan bakteri Gram negatif. Umumnya senyawa dalam tanaman herbal tersebut akan meningkatkan kerentanan permeabilitas dinding sel yang menyebabkan kebocoran serta menghambat respirasi sel. Hasil yang diperoleh juga memperlihatkan bahwa aktivitas obat pada konsorsium tanaman herbal mempunyak kisaran spektrum mikroorganisme yang sangat luas (Das et al., 2011; Yang et al., 2013; Upadhyay, 2015) Gambar 3. Zona hambatan pertumbuhan mikroorganisme dari pada pasien yang tidak berjerawat (atas dan pasien yang berjerawat (bawah) Berdasarkan atas hasil penelitian, konsorsium tanaman herbal selain menunjukkan aktivitas untuk melawan mikrobia penyebab jerawat, juga mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya yang ada di permukaan wajah. Hampir semua senyawa kimia yang dominan di dalam konsorsium tanamam herbal tersebut menunjukkan aktivitas dermatologis, antimikroba, antiinflamasi, antieczematic, antipsoriatic, dan antivirus, di samping aktivitas farmakologis lainnya. Hasil penelitian serupa diperoleh Simic et al. (2008), Jantamas et al. (2016) dan Wu et al., (2019). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa skrining potensi obat dan terapi tanaman herbal yang telah dilakukan mampu mendeteksi dan mengkonfirmasi kemampuan mereka dalam melawan mikroorganisme patogen setelah melihat kandungan molekul kimia utama yang ada di dalamnya. Hubungan mereka satu sama lain dan aktivitas khusus yang saling bekerjasama dalam mengatasi penyakit yang ada di kulit juga telah diperoleh melalui hasil penelitian ini. Potensi kedepan adalah pengembangan 20 kemampuan tanaman obat yang memiliki spektrum yang luas khususnya untuk mengatasi penyakit kulit yang utamanya disebabkan oleh autoimun dan tidak dapat diatasi dengan obat kimiawi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Senyawa kimia yang terkandung dalam konsorsium tanaman herbal telah memperlihatkan aktivitas antimikroba dengan spektrum luas terhadap mikroba patogen. Kemampuan konsorsium tanaman herbal dalam mengatasi jerawat sebagai bagian dari penyakit autoimun akan menvapai hasil yang lebih optimal dan efektif bila digunakan secara bersama-sama. Saran Konsorsium tanaman herbal perlu dikembangkan untuk formulasi obat nonantibiotik alami yang aktif pada penyakit kulit dengan toksisitas tinggi dan efek samping yang rendah. UCAPAN TERIMAKASIH Tim penulis mengucapkan terimakasih dimana penelitian ini dibiayai oleh Universitas Diponegoro University melalui Program IDBU tahun 2019 sesuai dengan surat kontrak nomor 386-03/UN7.P4.3/PM/2019 tanggal 30 April 2019. DAFTAR PUSTAKA Ali, N.A.M., Ismail, N., Taib, M.N. 2012. Analysis of Agarwood Oil (Aquilaria Malaccensis) Based on GC-MS Data. IEEE 8th International Colloquium on Signal Processing and its Applications 470-473 Balouiri M, Sadiki M, Ibnsouda SK. 2016. Review Paper Methods for in vitro evaluating antimicrobial activity: A review$, Journal of Pharmaceutical Analysis 6: 71–79. Baker BS. 2006. The role of microorganisms in atopic dermatitis. Review. Clinical and Experimental Immunology, 144: 1–9. Bakkali F, Averbeck S, Averbeck D, Idaomar M. 2010. Biological effects of essential oils . A review. Institut Curie-Section de Recherche, UMR2027 CNRS/IC, LCR V28 CEA, Baˆ t. 110, Centre Univ, 91405 Orsay cedex, France : 446-476 Balouiri M, Sadiki M, Ibnsouda SK, 2016. Review Paper Methods for in vitro evaluating antimicrobial activity: A review$, Journal of Pharmaceutical Analysis 6: 71–79. Bhate, K.,Williams, H.C.2013. Epidemiology of acne vulgaris. British Journal of Dermatology 168(3):474–85. Blasiak, R.C., Stamey, C.R., Burkhart, C.N., Lugo-Somolinos, A., Morrell, D.S. 2013. High-dose isotretinointreatment and the rate of retrial, relapse, and adverse effects in patients with acne vulgaris. JAMA Dermatology 149(12):1392–8. 21 Bure CM, Sellier NM. 2004. Analysis of the essential oil of Indonesian Patchouli (Pogostemon cablin Benth) using GC/MS (EI/CI). Journal of Essential Oil Research 16: 17–19. Chao, SG. Young C. Oberg and Karen. 2008. Inhibition of methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) by essential oils. Flavour and Fragrance Journal. 23: 444–449. Chakrapani P, Venkatesh K, Chandra Sekhar Singh B, Arun Jyothi B, Prem Kumar, Amareshwar iP, Roja Rani A. 2013. Review Phytochemical, Pharmacological importance of Patchouli (Pogostemon cablin (Blanco) Benth) an aromatic medicinal plant. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research. 21(2): 7-15. Corine MB, Sellier NM. 2004, Analysis of the essential oil of Indonesian patchouli (Pogostemon cablin Benth.) using GC/MS (EI/CI). Journal of Essential Oil Research 3: 16-17. Das K, Gupta S. Vijayabhaskar, Manjunath U.M. 2011. Antimicrobial Potential of Patchouli Oil Cultivated Under Acidic Soil Zone Of South India. Indian Journal of Novel Drug delivery 3(2): 104-111 Djilani A, Dicko A. 2012. The therapeutic benefits of essential oils. www.intechopen.com : 155-178 Geetha, D.H., Jayashree, I., Rajeswari, M. 2019. GC-MS Analysis of Bioactive Compounds of Ethanolic Seed Extract of Elaeocarpus serratus. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Drug Research 11(1): 31-34 Goulden, V., Clark, S.M., McGeown, C., Cunliffe, W.J.1997. Treatment of acne with intermittent isotretinoin. British Journal of Dermatology 137(1):106–8. Hanwar, D., Dewi, M.S., Suhendi, A., Trisharyanti, I.D.K. 2015. Analysis of secondary metabolites profile of lempuyang gajah (Zingiber zerumbet smith) ethanol extract using gas chromatography mass spectroscopy with derivatization 7(2) : 1-8 Hidayat, N., Dewi, I.A., Hardani, D.A. Ekstraksi minyak melati Ekstraksi Minyak Melati (Jasminum sambac) (Kajian Jenis Pelarut dan Lama Ekstraksi) Jurnal Industria 4(2): 82 – 88. Hussein, H.M., HadiHameed, I.2016. Antibacterial Effect of Ginger (Zingiber officinale) Roscoe and Bioactive Chemical Analysis using Gas Chromatography Mass Spectrum Orient. J. Chem., Vol. 32(2), 817-837 Imanta, E., Hidajati, N. 2017. Uji biolarvasida nyamuk aedes aegypty dari hasil isolasi ekstrak metanol tanaman sambiloto (Andrographis paniculata NESS). UNESA Journal of Chemistry 6(1) Jain A, Jain S, Rawat S. Emerging fungal infections among children: A review on its clinical manifestations, diagnosis, and prevention. Journal of Pharmacy and Bioallied Sciences 2 (4): 314-320. Jamal, Y., Irawati, P., Fathoni, A., Agusta, A. 2013. Chemical constituents and antibacterial effect of essential oil of Javaneese pepper leaves (piper retrofractum vahl.). Media Litbangkes 23(2) : 65-72 Jantamas S., N. Matan, N. Matan and T. Aewsiri. 2016. Improvement of antifungal activity of citronella oil against Aspergillus flavus on rubberwood (Hevea brasiliensis) using heat curing. Journal of Tropical Forest Science 28(1): 39–47 22 Judarwanto. W. 2009. Children Allergy Center Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Kesulitan Makan) RS. Bunda Jakarta. Jl Rawasari Selatan 50 Jakarta Pusat. Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat telp : (021) 70081995 – 4264126 – 31922005, email : wido25@hotmail.com , http://alergianak.bravehost.com Kailavani, C.S., Sathish, S.S., Janakiraman, N., Johnson, M. 2012. GC-MS Studies on Andrographis panuculata (Burn.f.) Wall. Ex Nees – A medicinally important plant. Int.J.Med.Arom.Plants. 2(1) 69-74 Kamangar, F., Shinkai, K.2012. Acne in the adult female patient: a practical approach. International Journal of Dermatology 51(10):1162–74. Kasuan, N., Muhammad, Z., Yusoff, Z., Rahiman, M.D.F., Taib, M.N., Haiyee, Z.A. 2013. Extraction of citrus hystrix d.c. (kaffir lime) essential oil using automated steam distillation process: analysis of volatile compounds. Malaysian Journal of Analytical Sciences, 17(3): 359 – 369 Kusumaningrum, H.P., Kusdiyantini, E., Pujiyanto, S. 2015. Kualitas Simplisia Tanaman Biofarmaka Curcuma domestica setelah Proses Pemanasan pada Suhu dan Waktu Bervariasi. Jurnal Bioma 17(1): 27-33 Kusumaningrum, H.P., Zainuri, M., Purbajanti, E.D., Endrawati, H. 2019. Characterization of Citronella Grass Essential oil of Cymbopogon winterianus from Batang Region, Indonesia. International Conference ISNPINSA 1-11 Kaur, R., Kaur, H. 2010. The Antimicrobial activity of essential oil and plant extracts of Woodfordia fruticosa. Arch. Appl. Sci. Res., 2 (1)302-309 Murthy, A.S., and Leslie, K. 2016. Autoinflammatory Skin Disease:A Review of Concepts and Applications to General Dermatology. Dermatology 232:534– 540. DOI: 10.1159/000449526 Mateblowski, M. 1991. Curcuma xanthorrhiza Roxb, penerbit PMI Verlag, ISBN 3-89119-173-1, ISBN 978-3-89119-173-6, halaman 36 Nugraha, A.S., Wangchuk, T., Willis, A.C., Haritakun, R., Sujadmiko, H., Keller, P.A.2019. Phytochemical and Pharmacological Studies on Four Indonesian Epiphytic Medicinal Plants: Drynaria rigidula, Hydnophytum formicarum, Usnea misaminensis, and Calymperes schmidtii. Natural Product Communications 1-6 Orchard A, van Vuuren S. 2017. Article Commercial Essential Oils as Potential Antimicrobials to Treat Skin Diseases. Hindawi Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine Volume Article ID 4517971 : 192 Simic A., A. Rancic, M.D. Sokovic, M. Ristic, S. Grujic-Jovanovic, J. Vukojevic, and P.D. Marin. 2008. Essential Oil Composition of Cymbopogon winterianus and Carum carvi and Their Antimicrobial Activities. Pharmaceutical Biology 46(6):437–441 Swamy, M.K and U.R. Sinniah. 2015. A Comprehensive Review on the Phytochemical Constituents and Pharmacological Activities of Pogostemon cablin Benth.: An Aromatic Medicinal Plant of Industrial Importance. Review. ISSN 1420-3049. www.mdpi.com/journal/molecules..doi:10.3390/molecules 20058521. Molecules (20) : 8521-8547 23 Tyani, E. S., Utomo, W. dan Hasneli, Y. (2015). Efektivitas relaksasi otot progresif terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi esensial, JOM, vol. 2 no. 2,hal. 1068-1075. Tan, A.U., Schlosser, B.J., and Paller A.S. 2018. A review of diagnosis and treatment of acne in adult female patients. Review. International Journal of Women's Dermatology vol. 4., hal. 56–71. Rademaker, M. 2016. Making sense of the effects of the cumulative dose of isotretinoin in acne vulgaris. International Journal of Dermatology 55(5):518–23. Timotius, K.H., Sari, I. N., Santoso, A.W. 2015. Major Bioactive Compounds of Pilis Plant Materials: A GC-MS Analysis. Pharmacognosy Communications 5(3) Parwata, I.M.O.A., Rita, W.S., Yoga, R. 2009. Isolasi dan uji antiradikal bebas minyak atsiri pada daun sirih (Piper betle Linn) secara spektroskopi ultra violet-tampak. Jurnal Kimia 3 (1): 7-13 Papitha, M., Lokesh, R., Kaviyarasi, R., Selvaraj, C. 2016.Phytochemical Screening, FT-IR and Gas Chromatography Mass Spectrometry Analysis of Tinospora cordifolia (Thunb.) International Journal of Pharmacognosy and Phytochemical Research 8(12); 2020-2024 Priya, V., Jananie, R. K., Vijayalakshmi K. 2011. GC/MS determination of bioactive components of Trigonella foenum grecum. J. Chem. Pharm. Res., 3(5):35-40 Rina, O. 2013. Identifikasi Senyawa Aktif dalam Ekstrak Etanol Kayu Secang (Caesalpinia sappan. L.), Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013 1-4 Sukandar, D., Hermanto, S., Lestari, E. 2008. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Jurnal Kimia Valensi 1(2) 63-70 Suphroma, N., Sonyota, W., Insumronga, K., Sawangsupa, P., Sutamuanga, P., Ingkaninan, K. 2017. GC-MS analysis and in vitro anti-androgenic activity of Kaempferia rotunda Linn extract. Naresuan University Journal: Science and Technology (25)4: 34-43 Swamy, M.K and U.R. Sinniah. 2015. A Comprehensive Review on the Phytochemical Constituents and Pharmacological Activities of Pogostemon cablin Benth.: An Aromatic Medicinal Plant of Industrial Importance. Review. ISSN 1420-3049. www.mdpi.com/journal/molecules..doi:10.3390/molecules 20058521. Molecules (20) : 8521-8547 Thambi, M., Cherian, T. 2015. Phytochemical investigation of the bark of Strychnosnux-vomica and its antimicrobial properties. The Pharma Innovation Journal 4(5): 70-72 Upadhyay, R.K. 2015. GC-MS Analysis and in Vitro Antimicrobial Susceptibility of Foeniculum vulgare Seed Essential Oil. American Journal of Plant Sciences, 6, 1058-1068 Widyowati, R., Agil, M. 2018. Chemical Constituents and Bioactivities of Several Indonesian Plants Typically Used in Jamu. Chem. Pharm. Bull. 66, 506–518 Yang X, Zhang X, Yang S and Liu W. 2013. Evaluation of the Antibacterial Activity of Patchouli Oil. Iranian Journal of Pharmaceutical Research 12 (3): 307-316 24 Wartini, N.M., Ina, P.T., Ganda Putra,G.P. 2010. Perbedaan kandungan senyawa volatil daun salam (Eugenia polyantha wight) pada beberapa proses curing. Agritech 30(4) Wu, H., J. Li., Y. Jia., Z. Xiao., P. Li., Y. Xie., A. Zhang., R. Liu., Z. Ren., M. Zao., C. Zeng and C. Li. 2019. Essential Oil Extracted from Cymbopogon citronella Leaves by Supercritical Carbon Dioxide: Antioxidant and Antimicrobial Activities. Journal of Analytical Methods in Chemistry 2019 : 1-10 25