http://ejurnal. id/index. php/photon Uji Toksisitas Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L. ) terhadap Ulat Grayak (Spodoptera Nofripa Herlina*. Tria Pratikasari. Novia Gesriantuti Program Studi Biologi. Fakultas MIPA dan Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Riau Jl Tuanku Tambusai. Pekanbaru. Riau. Indonesia *Correspondence e-mail: nofripaherlina@umri. Abstract Belimbing wuluh is a tropical tree that grows as a wild tree or planted because it contains many benefits. Belimbing wuluh is useful as traditional medicine and has secondary metabolite compounds such as tannins, flavonoids and saponins that function as insecticides. This study aims to determine the potential of Belimbng wuluh leaf extract as a natural insecticide against Fall armyworm (S. and to determine the concentration that can kill 50% of Fall armyworms (LC. The method used for this research is a completely randomized design (CRD). Belimbing wuluh leaf extract made by maceration The concentration of the extract used was 0%, 60%, 80%, and 100%. The test larvae used were 40 tails. The parameters observed were mortality and speed of death. The result of this study showed that the number of Fall armyworm deaths was 66 from the total number of 120 larvae. This proves that Belimbing wuluh leaf extract has the potential as a natural insecticide against Fall armyworm (S. Based on probit analysis the effective concentration to kill 50% of Fall armyworm larvae was 59,9%. Keywords: Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L. LC50. Mortality. Fall armyworm (Spodoptera frugiperd. Abstrak Belimbing wuluh merupakan pohon tropis yang tumbuh sebagai pohon liar maupun ditanam karena mengandung banyak manfaat. Belimbing wuluh bermanfaat sebagai obat tradisional dan memiliki senyawa metabolit sekunder seperti tannin, flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun Belimbing wuluh sebagai insektisida alami terhadap ulat grayak (S. dan mengetahui konsentrasi yang dapat mematikan 50% ulat grayak (LC. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), ekstrak daun Belimbing wuluh dibuat dengan metode maserasi. Konsentrasi ekstrak yang digunakan 0%, 60%, 80%, dan 100%. Larva uji yang digunakan sebanyak 40 ekor. Parameter yang diamati adalah mortalitas dan kecepatan kematian. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah kematian ulat grayak adalah 66 ekor dari jumlah total larva 120 ekor. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak daun Belimbing wuluh berpotensi sebagai insektisida alami terhadap ulat Grayak (S. Berdasarkan analisis probit konsentrasi yang efektif untuk membunuh 50% larva ulat grayak adalah 59,9%. Kata kunci: Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L. LC50. Mortalitas. Ulat Grayak (Spodoptera frugiperd. Pendahuluan Indonesia adalah negara yang beriklim tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati flora dan fauna. Terlihat dari banyaknya keanekaragaman flora di Indonesia yang tumbuh subur salah satunya adalah Belimbing Pohon belimbingwuluh terkadang tumbuh liar atau ditanam karena tumbuhan ini memiliki manfaat. Selain bermanfaat sebagai penambah rasa asam alami pada makanan, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional untuk berbagai penyakit di antaranya yaitu batuk, diabetes, diare dan tekanan darah tinggi (Hayati et al. , 2. Selain manfaat di atas menurut Kumar et al. , ekstrak buah dan daun Belimbing wuluh memiliki manfaat yakni antidiabetes, antimikroba, antifertalitas dan antibakteri. Daun belimbing wuluh mengandung senyawa metabolit sekunder seperti tannin, saponin dan flavonoid dan bisa dijadikan insektisida alami untuk mengusir serangga hama pada tanaman. Serangga merupakan kelompok hewan paling banyak jenisnya, peranan serangga sangat penting bagi Received: 23 Februari 2023. Accepted: 10 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Peranan tersebut dapat menguntungkan dan dapat pula merugikan, peranan menguntungkan diantaranya adalah sebagai pollinator, musuh alami bagi serangga lain dan sebagai dekomposer. Peranan yangmerugikan adalah dapat menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada tanaman seperti organ penting tumbuhan menjadi rusak, dan dapat dikategorikan sebagai hama (Mokodompit et al. , 2. Salah satu serangga hama pada tanaman pertanian adalah Spodoptera yang pada fase larva, hama ini dikalangan petani dikenal dengan nama ulat grayak. Salah satu ulat grayak yang lumrah dikenal oleh petani adalah Spodoptera litura, tetapi pada awal tahun 2019 lalu, muncul spesies baru dari genus Spodoptera, yakni Spodoptera frugiperda. Hama ini merupakan satu hama baru yang menyerang tanaman Jagung di Sumatera (Kementan, 2. frugiperda sangat merugikan dalam bidang pertanian seperti yang dilaporkan oleh Shylesha et al. , bahwa keberadaan dan perkembangan populasi S. frugiperda di Karnataka. India perlu diwaspadai karena mengakibatkan kerusakan yang cukup parah pada tanaman, seperti membuat gerekan pada daun muda tanaman dan hanya meninggalkan lapisan epidermis yang transparan. Selain itu, hama ini juga menyerang beberapa tanaman lain, seperti Kacang tunggak. Kacang tanah. Kentang. Kedelai. Kapas, dan lain-lain. Tanaman yang diserang oleh serangga hama biasanya dikendalikan dengan menggunakan insektisida kimia (Wismaningsih, et al. , 2. Pemakaian insektisida kimia memang sangat mudah dan cepat membunuh serangga sasaran. Akan tetapi, efek yang ditimbulkan berupa residu yang dapat merusak dan masuk ke dalam komponen lingkungan karena bahan aktif sangat sulit terurai di lingkungan. Mencermati berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan insektisida kimia, maka perlu dicari alternatif lain yang lebih ekonomis dan tidak merusak lingkungan dan tanaman itu sendiri. Oleh karena itu, penggunaan insektisida alami merupakan salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan (Listiyati et al. , 2. Beberapa penelitian yang sudah dilakukan dari penggunaan ekstrak insektisida alami daun Belimbing wuluh yaitu penelitian Syah et al. , menyebutkan bahwa ekstrak daun Belimbing wuluh mengandung saponin 3,61 %, tannin 4,11%, dan flavonoid 1,76 % yang mana kandungan tersebut berpengaruh terhadap mortalitas larva Spodoptera litura. Selanjutnya penelitian Rini et al. , hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa daun Belimbing wuluh dapat dijadikan sebagai insektisida alami dalam membunuh hama nimfa wereng batang cokelat. Penggunaan ekstrak insektisida alami untuk mengendalikan hama ulat grayak (S. yang sudah dilakukan oleh Salaki et al. ,menyatakan bahwa pestisida alami Serai wangi, daun Cengkeh dan Kayu manis mampu membunuh larva S. Danar, . melakukan uji penapisan perlakuan biji Mimba menunjukkan hasil bahwa dapat memperpanjang waktu perkembangan larva, menurunkan konsumsi pakan larva, dan menghambat perkembangan bobot pupa larva Pada saat ini telah banyak dikembangkan bahan alami yang ramah lingkungan untuk mengendalikan hama S. Mengingat kandungan metabolit sekunder yang terdapat di dalam daun Belimbing wuluh yang bisa dijadikan sebagai insektisida alami untuk mengendalikan serangga hama. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian tentang uji toksisitas ekstrak daun Belimbing wuluh (A. bilimbi L. ) terhadap ulat Grayak (S. Metodologi Persiapan alat dan bahan Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Ekstrak daun Belimbing wuluh dibuat dengan metode maserasi dan pengujian dilakukan dengan metode celup daun . eaf dipping method. Dasar penentuan konsentrasi pada penelitian ini menggunakan hasil penelitian sebelumnya yaitu penelitian Syah . Pengaruh Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (A. bilimbi L. ) Terhadap Mortalitas dan Perkembangan Larva Spodoptera litura, konsentrasi yang efektif untuk membunuh 50% larva adalah 84,2%. Pada penelitian ini konsentrasi yang digunakan 0%, 60%, 80%, dan 100% dengan 3 Data mortalitas dan kecepatan kematian ditabulasi dan dianalisis menggunakan program SPSS 16. Pengamatan jumlah larva S. frugiperda yang mati dilakukan selama 24 jam dengan 6 kali Received: 23 Februari 2023. Accepted: 10 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon pengambilan data . jam sekal. Data yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk menghitung mortalitas, dan kecepatan kematian. Mortalitas Mortalitas menunjukkan tingkat kemampuan atau jumlah kematian hama yang disebabkan oleh insektisida yang digunakan. Mortalitas S. frugiperda yang dihitung setelah 24 jam setelah aplikasi. Mortalitas dapat dihitung dengan rumus . engacu pada Krisman et al. , 2. ycu ycA(%) = y 100 yc Keterangan: = Mortalitas (%) = Jumlah hama yang mati . = Jumlah hama uji . Kecepatan kematian Kecepatan kematian ulat grayak ditujukan untuk mengetahui cepat atau lambatnya larva yang mati dalam satuan waktu tertentu. Kecepatan kematian ulat grayak dapat dilihat pada interval waktu pengamatan. Interval waktu kecepatan kematian ulat grayak terbagi menjadi 3 kategori yakni kategori cepat yaitu intervalwaktu pengamatan 4-8 jam setelah aplikasi, kategori sedang yaitu interval waktu pengamatan 1216 jam setelah aplikasi, dan kategori lambat yaitu interval waktu pengamatan 20-24 jam setelah aplikasi (Ahadi, 2. Analisis Data Data yang telah didapat disajikan dalam bentuk tabel, selanjutnya dianalisis dengan analisis statistik. Analisis statistik yang digunakan adalah: Analisis Data Mortalitas Tahap Pertama yaitu melakukan faktor koreksi uji menggunakan pendekatan Abbot, jika perlakuan pada kontrol <5 maka angka kematian dapat digunakan, sedangkan jika angka kematian pada kontrol berkisar antara 5% sampai dengan 20% maka akan dilakukan koreksi data dengan menggunakan rumus Abbot . engacu pada Fuadzyet al. , 2. ycEyc(%) = ycEycu Oe ycEyca y 100 100 Oe ycEyca Keterangan: = Mortalitas terkoreksi (%) = Persentase mortalitas pada perlakuan (%) = Persentase mortalitas pada kontrol (%) Analisis Probit Analisis probit berfungsi untuk mengetahui LC50 dari ekstrak insektisida alami terhadap mortalitas larva frugiperda (Aradilla, 2. Analisis probit menggunakan SPSS 16. 0 dan dapat dibuktikan dengan grafik interpolasi yaitu hasil uji sebenarnya diplotkan dalam grafik dengan sumbu X = konsentrasi ekstrak daun Belimbing wuluh dan sumbu Y = persentase kematian larva. Cari kisaran antar titik yang terdapat kematian 50% organisme uji dan dihubungkan dengan garis. Pada konsentrasi atau dosis 50% sumbu Y ditarik garis sampai memotong garis antara 2 titik tersebut. Titik potong tersebut diproyeksikan ke sumbu X, sehingga diperoleh LC50. Received: 23 Februari 2023. Accepted: 10 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Kriteria penilaian keefektifan suatu insektisida . engacu pada Ulfa, 2. Tabel 1. Kriteria keefektifan suatu insektisida. Kategori Skor Sangat efektif 75-100% Efektif 50-74,9% Cukup efektif 25-49,9% Tidak efektif <25% Hasil dan Pembahasan 1 Potensi Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (A. bilimbi L. ) terhadap Mortalitas dan Kecepatan Kematian Ulat Grayak (S. Pengamatan mortalitas larva instar 3 ulat Grayak (S. dilakukan selama 24 jam dengan 6 kali pengambilan data . jam sekal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah larva yang mati pada masing-masin perlakuan adalah 18, 22 dan 26 ekor, sedangkan pada perlakuan kontrol tidak terjadi kematian larva. Selanjutnya dihitung persentase mortalitas ulat Grayak pada setiap perlakuan, persentase mortalitas yang didapatkan menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun Belimbing wuluh, maka semakin besar persentase mortalitas larva S. Jumlah larva yang mati dan persentase mortalitas pada masing-masing konsentrasi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Jumlah larva yang mati dan persentase mortalitas pada masing-masing konsentrasi Konsentrasi Total larva Jumlah larva mati Mortalitas (%) . (%) Awal perlakuan larva ulat Grayak masih mengkonsumsi daun Jagung sehingga metabolit sekunder yang telah menempel pada daun Jagung akan ikut masuk ke dalam tubuh ulat Grayak. Berdasarkan hasil penelitian Pattagading . , ekstrakdaun Belimbing wuluh (A. bilimbi L. ) mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu tannin . ,11%), flavonoid . ,76%), saponin . ,61%). Gejala awal ulat Grayak setelah mengkonsumsi pakan yang telah direndam ekstrak daun Belimbing wuluh yaitu pergerakan larva yang melambat, hanya menetap pada satu tempat, dan kotoran yang dikeluarkan banyak. Ulat Grayak yang telah mati dapat dilihat tubuh larva mengkerut, berwarna hitam, kaki menghadap ke atas, dan keluarnya cairan atau lendir. Hal ini diduga akibat senyawa metabolit sekunder yang ada pada ekstrak daun Belimbing wuluh yang berfungsi sebagai racun kontak dan racun perut. Kondisi larva yang mati menunjukkan ukuran tubuh menyusut atau kecil, berwarna hitam, dan tubuhnya mengering, hal ini diduga akibat senyawa bioaktif yang ada pada ekstrak daun Belimbing wuluh terjadi kontak langsung dengan tubuh larva . ihat pada Gambar . Menurut Darmanto . , dinding tubuh merupakan bagian tubuh serangga yang dapat menyerap senyawa bioaktif terkandung dalam insektisida alami dalam jumlah yang besar. Ketika larva mengalami kontak dengan ekstrak daun Belimbing wuluh maka akan menyebabkan senyawa metabolit sekunder masuk melalui kulit dan mulut serangga sehingga mengakibatkan kematian pada serangga. Danusulistyo . , menyebutkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai racun kontak adalah senyawa saponin, karena saponin dapat menghambat ekdisis . ergantian kuli. Racun kontak ini dapat membuat dinding tubuh larva menjadi rusak atau mengkerut. Berdasarkan pengamatan, pada konsentrasi 60%, larva mengkonsumsi daun lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 80% dan 100%. Hal ini terlihatdari jumlah daun yang tersisa, akan tetapi jumlah larva yang mati sedikit dan awal kematian dimulai pada 16 jam setelah aplikasi. Konsentrasi 80% dan 100%,jumlah pakan yang dikonsumsi larva sedikit dan awal kematian lebih cepat yaitu dimulai Received: 23 Februari 2023. Accepted: 10 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon pada 8 jam setelah perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang ada pada ekstrak daun Belimbing wuluh telah berfungsi sebagai toksik pada larva, ditunjukkan dengan kondisi larva yang mati memiliki ciri-ciri tubuh yang lembek, keluarnya cairan atau lendir, dan kaki larva yang menghadap ke atas, hal ini diduga akibat senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai racun perut. Kondisi larva yang mati akibat racun perut dapat dilihat pada Gambar 2. Sumber: Koleksi pribadi Gambar 1. Dampak senyawa saponin terhadap larva Menurut Kaihenna et al. , senyawa yang berfungsi sebagai racun perut adalah tannin, senyawa ini akan menghalangi serangga dalam mencerna makanan dan dapat menurunkan kemampuan mencerna makanan dengan cara menurunkan aktivitas enzim pencernaan . rotease dan amilas. yang berperan dalam mengkatalis protein menjadi asam amino yang dibutuhkan untuk pertumbuhan larva, terikatnya enzim oleh tannin, maka meyebabkan kerja enzim menjadi terhambat, sehingga proses metabolisme sel dapat terganggu dan larva akan kekurangan nutrisi, jika proses ini berlangsung terus, maka akan berdampak pada kematian larva. Sumber: Koleksi pribadi Gambar 2. Larva yang mati akibat metabolit sekunder ekstrak daun Belimbing wuluh. larva yang mati pada konsentrasi 60%, larva yang mati pada konsentrasi 80%, . larva yang matipada konsentrasi 100%. Berdasarkan jumlah kematian larva akibat senyawa toksik ekstrak daun Belimbing wuluh dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka mortalitas larva ulat Grayak juga meningkat, hal ini berhubungan dengan jumlah metabolit sekunder yang ada pada ekstrak daun Belimbing wuluh . ihat pada Tabel . Menurut Leatemia dan Isman . semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka akan menyebabkan mortalitas larva juga tinggi, meskipun daun sawi yang dikonsumsi larva dengan porsi yang sangat kecil. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin tinggi juga jumlah toksik yang terkandung di dalam ekstrak. Sehingga walaupun sedikit jumlah daun yang dikonsumsi larva. Received: 23 Februari 2023. Accepted: 10 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon tetapi jumlah toksik yang terakumulasi lebih banyak dibandingkan pada perlakuan dengan konsentrasi rendah, sehingga mortalitas jugatinggi sebanding dengan tingginya konsentrasi. Pangnakorn et al. menyatakan bahwa setiap senyawa toksik yang masuk ketubuh larva akan terakumulasi dan perlahan akan merusak sistem tubuh serta menghambat pertumbuhan larva yang akan berujung pada kematian. Berdasarkan penelitian Yunita et al. , kematian larva juga diakibakan oleh ketidakmampuan larva untuk mendetoksifikasi senyawa toksik yang masuk ke dalam tubuhnya. Pengamatan kecepatan kematian ulat grayak S. frugiperda dilakukan setiap 4 jam, 8 jam,12 jam, 16 jam, 20 jam sampai 24 jam setelah aplikasi. Kecepatan kematian ulat grayak akibat ekstrak daun Belimbing wuluh dapat dilihat pada Tabel 4. Perlakuan (%) Tabel 3. Jumlah larva yang mati dan Interval waktu kematian S. Mortalitas Jam Interval (%) 24 Kematian . Jumlah Lethal Consentration (LC. Gambar 3. Grafik interpolasi penentuan LC50 Lethal Consentration (LC. merupakan konsentrasi yang dapat menyebabkan kematian 50% dari jumlah larva uji, penentuan LC50 dilakukan dengan analisis probit dan grafik interpolasi menggunakan SPSS Interpolasi LC50 dapat dilihat pada Grafik 3. Berdasarkan hasil analisis probit, diketahui nilai LC50 24 jam pengamatan didapatkan pada konsentrasi 59,9% . ihat lampiran . Konsentrasi 59,9% telah dapat mematikan 50% larva S. Berdasarkan Kriteria penilaian keefektifan suatu insektisida bahwa konsentrasi 59,9% merupakan konsentrasi yang Received: 23 Februari 2023. Accepted: 10 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon efektif untuk dijadikan sebagai insektisida alami terhadap ulat Grayak. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun Belimbing wuluh berpotensi sebagai insektisida alami terhadap ulat Grayak (S. dengan jumlah kematian 66 ekor dari jumlah total 120 ekor larva. Berdasarkan analisis probit konsentrasi yang efektif untuk membunuh 50% larva ulat grayak adalah 59,9%. Daftar Pustaka