PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Email : pintoe@utu. Volume 2 | Nomor 2 | Desember 2024 e-ISSN: & p-ISSN: Doi Submitted: 30/09/2024 Accepted: 29/12/2024 Published: 31/12/2024 Pemanfaatan dan Pemberian Makanan Tambahan Melalui Olahan Stik Daun Kelor sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Desa Kuta Tinggi Mustafa Kamal1*. Muharta2. Diyan Fariza3. Miya Amalia Putri4. Dina Amelia5. Ova Nirlanda6. Marni7. Raiyan Nailufar8 1,3, 5Fakultas Pertanian. Universitas Teuku Umar 6,7,8 2,4 Fakultas Teknik. Universitas Teuku Umar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Teuku Umar *Email: mustafakamal@utu. ABSTRAK Kegiatan pengabdian dilakukan dengan tujuan mengatasi masalah stunting di Desa Kuta Tinggi melalui pemanfaatan daun kelor sebagai bahan dasar makanan tambahan. Daun kelor dipilih karena kandungan nutrisinya yang tinggi, termasuk protein, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan anak. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat desa tentang cara mengolah daun kelor menjadi stik yang menarik dan mudah dikonsumsi oleh anak-anak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemberian makanan tambahan berupa stik daun kelor secara signifikan dapat meningkatkan status gizi anak-anak di desa tersebut, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang untuk mencegah stunting. Dengan demikian, olahan stik daun kelor dapat menjadi solusi efektif dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan stunting di daerah pedesaan. Kata Kunci: Stunting. Daun Kelor. Stik. Kesehatan ABSTRACT This study aims to address the problem of stunting in Kuta Tinggi Village through the utilisation of moringa leaves as a base for supplementary food. Moringa leaves were chosen due to their high nutritional content, including protein, vitamins, and minerals that are important for children's growth. The methods used include socialisation and training to the village community on how to process moringa leaves into attractive sticks that are easily consumed by children. The results showed that providing supplementary food in the form of moringa leaf sticks can significantly improve the nutritional status of children in the village, as well as increase community awareness of the importance of fulfilling balanced nutrition to prevent stunting. Thus, processed moringa leaf sticks can be an effective and sustainable solution in stunting prevention efforts in rural areas. Keywords: Stunting. Moringa Leaf. Sticks. Health PENDAHULUAN Stunting merupakan isu strategis nasional yang terjadi diberbagai wilayah di Indonesia. Indonesia merupakan peringkat ke 5 kejadian stunting pada balita di dunia. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita . ayi dibawah 5 tahun akibat dari kekuarangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk ukuran usianya. Kekurangan gizi terjadi saat bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek . dan sangat pendek . everely stunte. adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO Ae MGRS (Multicentre Growth Reference Stud. Beberapa hasil penelitian PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al menunjukkan bahwa bayi yang lahir dengan kondisi BBLR akan memiliki resiko 1,74% kali mengalami hambatan dalam pertumbuhan TB/U 5,87% kali mengalami stunting pada bayi usia dua tahun (Marthina Raga Lay, et. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%, atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018. Asian Development Bank menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat tertinggi kedua di Asia Tenggara untuk anak dengan penderita stunting dibawah lima tahun dengan prevalensi mencapai 31,8% pada tahun 2022. Salah satu penyebab terjadinya stunting yaitu asupan nutrisi yang kurang seimbang, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, terbatasnya layanan kesehatan dan masih kurangnya makanan bergizi serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Gizi merupakan salah satu faktor penentu tumbuh kembang anak yang optimal. Kekurangan gizi yang terjadi sekarang dapat menyebabkan berbagai masalah, salah satunya adalah masalah gagal tumbuh sehingga anak menjadi lebih pendek . dari standar. Salah satu upaya dalam pencegahan stunting adalah dengan pemanfaatan tanaman lokal sebagai bahan Tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk pencegahan stunting adalah daun (Eriyahma & Biologi, 2. Kuta Tinggi adalah salah satu desa yang berada di wilayah pemerintahan Aceh Singkil. Berdasarkan data yang ditarik dari aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat . -PPGBM), inputan data pada bulan Desember 2024 yang penarikannya dilakukan pada 2 Januari 2024 menunjukkan bahwa sebanyak 1002 balita mengalami stunting. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah penanganan stunting yang efektif untuk memperkecil angka stunting khususnya wilayah Aceh Singkil. Penanganan stunting dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan pendekatan edukatif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang inovasi pengolahan makanan berkualitas dari potensi lingkungan sekitar khususnya di pekarangan rumah. Indonesia memiliki kelimpahan SDA yang bervariatif dan sangat berpotensi mendukung kesejahteraan masyarakat. Potensi bahan alam dapat dimanfaatkan untuk berbagai aspek misalnya inovasi kelor menjadi stik untuk kebutuhan bidang pangan (Boy Baunsele et al. , 2. Kelor merupakan salah satu tanaman sayuran yang multiguna. Hampir semua bagian dari tanaman kelor ini dapat dijadikan sumber makanan karena mengandung senyawa aktif dan gizi (Thaifur, 2. Daun kelor juga kaya vitamin A dan C, khususnya Betakaroten. Daun kelor termasuk satu diantara delapan mega superfood . angan supe. , yang merupakan pangan fungsional yang bergizi tinggi dan kaya fitokimia yang bermanfaat bagi tubuh dan kesehatan. kandungan nutrisi yang lengkap pada daun kelor tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif sumber nutrisi lengkap yang dapat ditambahkan dalam pengolahan makanan bagi anak dalam masa pertumbuhan. Sebuah Penelitian menyebutkan bahwa penggunaan 2-3g daun kelor yang dicampurkan kedalam makanan balita yang mengalami gizi kurang dapat menaikan bobot badan yang lebih tinggi dibanding balita yang diberi 1 butir telur perharinya. Oleh sebab itu WHO menganjurkan bagi anak-anak dan bayi dalam masa pertumbuhan untuk mengkonsumsinya karena manfaat dari kandungan daun kelor yang besar. Daun kelor mengandung Potasium tiga kali lipat daripada pisang. kalsium empat kali lipat daripada vitamin C tujuh kali lipat daripada jeruk. vitamin A empat kali lipat daripada wortel. dan protein dua kali lipat daripada susu(Marthina Raga Lay, et. , 2. Dalam pengabdian ini, salah satu upaya yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi adalah melalui program KKN berupa Pemanfaatan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) seperti stik daun kelor untuk anak-anak balita dan remaja. Salah satu makanan PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al tambahan yang diberikan dalam program KKN adalah stik daun kelor, yaitu cemilan sehat yang terbuat dari daun kelor yang kaya akan nutrisi seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan protein. Pembuatan stik ini melibatkan mahasiswa KKN yang bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk mengolah daun kelor menjadi cemilan bergizi bagi anak-anak balita dan remaja. Stik daun kelor dibuat dengan mencampurkan daun kelor yang telah dikombinasikan dengan tepung terigu, telur, dan bumbu-bumbu, lalu adonan dibentuk menjadi stik panjang dan digoreng hingga kering dan renyah. Rasanya yang enak dan gurih membuat stik ini digemari anak-anak. Tujuan pemberian makanan tambahan berupa stik daun kelor adalah untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak balita dan remaja di daerah dampingan KKN, sehingga diharapkan dapat membantu mencegah dan mengatasi masalah gizi kurang pada mereka. Permasalahan stunting pada anak balita, yang sedang terjadi, dapat diatasi dengan melibatkan kader bidan desa serta masyarakat setempat. Perhatian terhadap kebutuhan gizi balita menjadi kunci, dengan pengolahan daun kelor menjadi stik daun kelor yang kaya gizi. Harapannya, stik daun kelor ini dapat menjadi pilihan efektif sebagai makanan tambahan dalam pencegahan stunting, sambil meningkatkan pengetahuan kader bidan desa dan para ibu tentang pentingnya makanan tambahan. Upaya pencegahan malnutrisi di Desa Kuta Tinggi, yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Universitas Teuku Umar melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), melibatkan pemanfaatan daun kelor dalam bentuk stik bagi balita usia 1-5 tahun dan remaja yang mengalami stunting atau kekurangan gizi. Daun kelor mengandung banyak nutrisi penting seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian stik daun kelor memiliki beberapa manfaat yaitu. meningkatkan asupan gizi balita dan remaja yang mengalami stunting atau kekurangan gizi, mencegah dan mengatasi masalah gizi kurang pada anak-anak, menyediakan camilan sehat yang disukai anak-anak karena rasanya enak dan gurih, memanfaatkan sumber daya lokal berupa daun kelor yang kaya nutrisi. Dengan demikian, program KKN ini tidak hanya memberikan solusi jangka pendek melalui pemberian stik daun kelor, tetapi juga membangun kemandirian pangan jangka panjang bagi masyarakat Desa Kuta Tinggi. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan mereka dengan memastikan bahwa anak-anak sehat juga mendapatkan asupan gizi yang cukup. Selain itu, pentingnya penanaman pohon kelor di sekitar rumah masyarakat juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari dengan menyediakan makanan bergizi secara mudah dan METODE Kegiatan ini dilakukan di Desa Kuta Tinggi. Kecamatan Simpang Kanan. Kabupaten Aceh Singkil pada tanggal 15 Juli 2024. Desa Kuta Tinggi dikelilingi oleh tanaman sawit dan tanaman kelor luas milik masyarakat dimana sebagaian masyarakat bekerja sebagai Dengan memanfaatkan daun kelor, perbedaannya dalam program kerja utama bidang pengabdian masyarakat ini berupa edukasi tentang stunting, dalam upaya pencegahan, pengendalian dan edukasi tentang manfaat tanaman kelor sebagai asupan nutrisi yang baik untuk pendamping ASI serta pembuatan stik daun kelor. Program pengabdian ini merupakan bagian dari program kerja bidang utama KKN Universitas Teuku Umar. Berikut adalah beberapa tahapan kegiatan pengabdian masyarakat yang akan Tahap persiapan Kesepakatan dilakukan dengan warga desa dan bidan desa Kota Tingi. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan mereka, diketahui bahwa sebagian anak mengalami gangguan tumbuh kembang. Oleh karena itu, tujuan utama Program Aksi Kesehatan Universitas Teuku Umar adalah membantu permasalahan tersebut dengan mengedukasi para ibu akan pentingnya memberikan makanan seperti daun kelor kepada bayi dan remaja, serta memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Dengan penanaman pohon kelor, masyarakat desa saling bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan, termasuk tempat dan waktu pelaksanaan, serta koordinasi yang baik. Tahapan pelaksanaan kegiatan Edukasi kepada ibu-ibu tentang stunting melalui daun kelor Penyiapan bahan stik daun Proses pembuatan stik daun kelor Gambar 1. Bagan alir kegiatan Ket: Tahap 1 : Melakukan edukasi kepada ibu-ibu tentang pencegahan stunting melalui pengelohan daun kelor Tahap 2 : Penyiapan bahan stick daun kelor Tahap 3 : Proses pembuatan stick daun kelor Metode pelaksanaan kegiatan Pre-test untuk mengetahui pengetahuan ibu-ibu tentang daun kelor dalam pencegahan stunting Pendidikan kesehatan Menyampaikan materi terkait stunting, pengenalan daun kelor, mulai dari kandungan, dan manfaat. Pengolahan menjadi stick daun kelor untuk makanan tambahan balita dan remaja Dilanjutkan dengan monitoring, review serta umpan balik kepada ibu-ibu yang hadir. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al HASIL DAN PEMBAHASAN Program Kerja Mahasiswa Universitas Teuku Umar. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi para ibu mengenai manfaat Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada anak balita dan remaja. PMT berperan penting dalam menunjang tumbuh kembang anak, memperkuat daya tahan tubuh, dan mempercepat pertumbuhan tubuh. PMT pada proses ini terbuat dari daun kelor yang kaya nutrisi, cocok untuk bayi dan dewasa muda. Selain memberikan pelatihan PMT kepada ibu-ibu, upaya ini juga melibatkan pemberdayaan masyarakat melalui penanaman pohon kelor. Dengan adanya pohon kelor di sekitar lingkungan, masyarakat dapat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari, dan ini merupakan cara yang bagus untuk mengatasi masalah gizi di masyarakat. Kegiatan pembuatan olahan stick daun kelor dimulai dengan penggunaan bahan dasar daun kelor segar. Daun kelor segar diambil dari rumah tetangga dan kemudian dipilah serta dipisahkan dari tangkainya sebelum dibersihkan dengan menggunakan air Setelah itu, daun kelor di blender hingga cair jika perlu tambahkan sedikit air untuk mempermudah proses penggilingan. Kemudian campurkan tepung terigu dan tepung tapioca dalam wadah besar, tambahkan daun kelor yang sudah dihauluskan, lalu masukkan bawang putih halus, garam, margarin, baking soda diaduk rata. Lalu tambahkan telur dan air es sedikit demi sedikit sehingga adonan kalis dan bias dipulung. Kemudian ambil sebagian adona, giling dengan penggilingan hingga pipih. Potong adonan yang sudah pipih sesuai dengan bentuk yang diinginkan bisa menggunakan dengan cetakan stick atau memotong manual dengan pisau. Selanjutnya panaskan minyak goring dalam wajan, goring stick daun kelor hingga kuning kecoklatan lalu angka dan tiriskan. Setelah dingin masukkan dalam kemasan stunding pouch kedap udara agar tetap renyah. Gambar 2. Proses pembuatan stik daun kelor Gambar 3. Produk stik daun kelor siap untuk dikonsumsi Proses pembuatan stik kelor dilakukan di posko KKN, setelah produk olahan stik daun kelor siap, stik daun kelor ini di bawa ke balai posyandu untuk diberikan kepada anak-anak balita dan remaja, semua anak - anak balita dan remaja diminta untuk mencicipi stik daun kelor yang sudah jadi. Para ibu hamil serta ibu yang menyusui ditanyai tentang rasa stik daun kelor terhadap cita rasa yang dihasilkan. Sekitar 90 % peserta ibu -ibu percaya bahwa mengolah daun kelor itu sangat mudah dan bisa dilakukan di rumah, setiap peserta yang hadir mengatakan bahwa mereka memiliki pengalaman yang yang sangat positif terhadap pemanfaatan daun kelor. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al Stik daun kelor sangat disukai oleh ibu-ibu karena mudah dan terjangkau, sehat untuk dikonsumsi setiap harinya, bisa disajikan untuk anak-anak sebagai pengganti cemilan, menurut mereka anak menyukainya karena warna hijau yang dihasilkan sangat cantik dan dimasukkan ke dalam standing pouch yang dapat menarik perhatian anakanak dan cita rasa gurih yang dihasilkan dari bumbu dan rempah-rempah. Untuk menghindari stunting, sangat penting memberikan makanan-makanan yang sehat dan bergizi untuk anak-anak usia 1 tahun keatas, dengan bertambahnya usia anak-anak maka kebutuhan tubuh untuk tumbuh kembang akan meningkat. Oleh karena itu, anak - anak memerlukan asupan makanan yang bergizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dan pemberian makanan yang lebih mudah diserap tubuh lebih banyak untuk tumbuh kembang anak secara optimal. Bahan - bahan yang digunakan untuk membuat stik daun kelor antara lain: daun kelor, tepung terigu, tepung tapioka, telur, penyedap rasa, bawang merah, bawang putih, garam, minyak goreng, daun seledri, margarin, dan baking soda. Sedangkat alat yang digunakan mencakup kompor gas, blender, toples, spatula, wajan, saringan, ampia, piring, standing pouch, dan gas. Gambar 4. Pengukuran tinggi dan berat badan Pertumbuhan anak sangat penting untuk di ukur dengan pengukuran tinggi dan berat badan anak-anak, sehingga dapat menentukan apakah pertumbuhan anak sudah berkembang secara optimal atau belum. Secara garis besar, ada tiga indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan anak di Indonesia. Indikator tersebut adalah berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), tinggi badan menurut usia (TB/U), dan berat badan menurut usia (Uce, 2. Indikator BB/TB menentukan status gizi anak dengan membandingkan berat dengan berat ideal menurut tinggi badan anak. Ukuran ini kemudian diinterpretasikan anak termasuk obesitas, punya kecenderungan gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, atau gizi buruk. Indikator TB/U membandingkan tinggi badan seorang anak dengan anak yang sama jenis kelamin seusianya. Interpretasinya adalah tinggi, normal, perawakan pendek, dan perawakan sangat pendek. Adapun indikator BB/U membagi anak menjadi berat badan normal, berat badan kurang, dan berat badan Indikator ini membandingkan berat badan seorang anak dengan anak seusianya (Antolis. Ratu, & Mexitalia, 2. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al Gambar 5. Pembagian stik daun kelor Salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah banyak diteliti kandungan gizi dan kegunaannya baik untuk bidang pangan dan kesehatan adalah bagian daun. Di bagian tersebut terdapat ragam nutrisi, di antaranya kalsium, besi, protein, vitamin A, vitamin B dan vitamin C. Untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia, anakanak membutuhkan nutrisi tersebut (Rahayu & Hasibuan, 2. Stik daun kelor, makanan bergizi dan gurih yang terbuat dari daun kelor segar, menjadi pilihan makanan yang disukai anak-anak dan remaja yang dapat merangsang rasa ingin tahu meraka terhadap tanaman daun kelor. Edukasi kegiatan ini dimulai dengan meminta izin kepada kader posyandu untuk mengikutsertakan anak-anak KKN dalam program posyandu. Selanjutnya, memberikan arahan kepada ibu-ibu tentang pencegahan stunting. Materi penjelasan tentang manfaat daun kelor, baik untuk anak-anak maupun remaja, disampaikan secara rinci. Proses pembuatan stik daun kelor juga diberikan, diikuti dengan tinjauan hasil penyuluhan dan pembagian kepada peserta, disertai dengan sesi foto bersama kader. Penyuluhan ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh informasi baru mengenai stunting dan cara-cara mudah mencegahnya melalui pengolahan daun kelor. Kandungan zat gizi daun kelor lebih tinggi jika dibandingkan dengan sayuran lainnya yaitu berada pada kisaran angka 17. 2 mg/100 g. Selain itu, di dalam daun kelor juga terdapat kandungan berbagai macam asam amino, antara lain asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan methionine (Adisty. Vanesa. Wahyuni, & Khairani, 2. Gambar 6. Bersama kader bidan desa PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al Melalui Posyandu di desa kuta tinggi termasuk salah satu sistem pelayanan masyarakat dibidang kesehatan. Kegiatan yang dilaksanakan selama ini berjalan sangat lancar, pencatatan yang masih dilakukan secara manual menjadi permasalahan tersendiri seperti hilangnya data ataupun tentang efisiensi waktu. Sebelum Pengetahuan Setelah Keterampilan Gambar 7. Grafik Peningkatan keterampilan hasil pelatihan Berdasarkan grafik diatas, sebelum kami melakukan kegiatan pelatihan pembuatan stik daun kelor ini pengetahuan target tentang pengolahan daun kelor sebagai stik berada di angka 20%, namun setelah kami melakukan pelatihan pengetahuan target meningkat menjadi 80%. Kemudian, tingkat keterampilan target dalam mengolah daun kelor menjadi stik yang mulanya hanya 50% juga ikut meningkat menjadi 80%. Hal ini menandakan bahwa pelatihan dan pembuatan stik daun kelor yang kami lakukan di desa Kuta Tinggi memberikan dampak positif dalam peningkatan pengetahuan & keterampilan masyarakat Kuta Tinggi. Namun, presentase tersebut belum sepenuhnya mencapai target, dikarenakan keterbatasan waktu serta tempat dalam pelaksanaannya. SIMPULAN DAN SARAN Setelah kegiatan pelatihan dan demo masak stik daun kelor, menunjukkan bahwa pemanfaatan daun kelor sebagai bahan dasar makanan tambahan dalam bentuk stik dapat menjadi solusi efektif dalam upaya pencegahan stunting di Desa Kuta Tinggi. Melalui pelatihan yang diberikan kepada masyarakat, terjadi peningkatan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada pengetahuan & keterampilan target dalam mengelola daun kelor menjadi makanan penambah gizi. Banyak peserta yang menganggap materi yang disampaikan mudah dipahami dan bermanfaat, dengan 4/5 udience menyatakan kegiatan ini sangat berguna. Selain itu, remaja perempuan yang yang ikut hadir dalam demo memasak ini diharapkan dapat menyebarkan pengetahuan ini kepada teman sebaya mereka, sehhingga dapat memberikan kontribusi dalam upaya pencegahan stunting di masyarakat. Pengolahan daun kelor menjadi produk seperti stik juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi desa, khususnya dalam peningkatan dalam pemanfaatan potensi lokal. Dengan demikian, olahan stik daun kelor tidak hanya memberikan manfaat kesehatan yang nyata tetapi juga dapat diterapkan sebagai strategi PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Kamal et al berkelanjutan untuk mengatasi masalah ekonomi di daerah pedesaan. Saran dari pengabdian ini yaitu Pengembangan Produk: Perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut terhadap variasi produk olahan daun kelor agar lebih menarik dan dapat diterima oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak. Peningkatan Sosialisasi: Meningkatkan frekuensi dan jangkauan sosialisasi serta pelatihan kepada masyarakat mengenai manfaat daun kelor dan cara pengolahannya, sehingga lebih banyak orang yang dapat memanfaatkan potensi Kerjasama dengan Pihak Lain: Menjalin kerjasama dengan lembaga kesehatan, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah untuk mendukung program pemberian makanan tambahan ini, baik dari segi pendanaan maupun penyebaran DAFTAR PUSTAKA