Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna Tradisi Lisan Plaho di Desa Koto Aro Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci The Meaning of Plaho Oral Traditions in Koto Aro Village. Siulak District. Kerinci Regency. Oktania1. Nazurty2. Nurfitri Susanti3 1,2,3 Sastra Indonesia. Universitas Jambi Oktania. sulak29101997@gmail. com, noorfitrisusantie82@gmail. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Artikel Diterima: 05 Mei 2022 Direvisi: 10 Juli 2022 Disetujui:11 Agustus 2022 Keywords Folklore Meaning Tools and Materials Plaho Kata Kunci Foklore Makna Alat dan bahan Plaho ABSTRAK Abstract Folklore is the customs of traditional traditions and folklore that are passed down from generation to generation. There are 3 kinds of folklore, namely oral folklore, partially oral folklore, and non-verbal folklore. This type of plaho research is a type of partially oral folklore research that combines two elements, namely ceremony and mantra. The meaning used is the cultural meaning in which this research focuses on the lexical and cultural meanings of the mantras and materials for this plaho oral The result of this research is the meaning of the mantra and the material tools contained in the implementation of the plaho oral tradition. It was found 10 spells and 35 kinds of materials and tools in this research. Abstrak Folklore adalah adat istiadat tradisi tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun. Ada 3 macam folklore yaitu foklore lisan, folklore sebagian lisan, dan folklore bukan Jenis penelitian plaho ini merupakan jenis penelitian foklore sebagian lisan yang mencampurkan dua unsur yaitu upacara dan Makna yang di pakai adalah makna kultural yang mana penelitian ini berfokus pada makna leksikal dan kultural dari mantra dan bahan alat tradisi lisan plaho ini. Hasil dari penelitian ini adalah makna dari mantra dan alat bahan yang terdapat dalam pelaksanaan tradisi lisan plaho. Di temukan 10 mantra dan 35 macam bahan dan alat dalam penelitian ini. Pendahuluan Sastra lisan atau sastra rakyat adalah karya sastra dalam bentuk ujaran . , tetapi sastra itu sendiri berkutat di bidang tulisan. Sastra lisan juga membentuk komponen budaya yang lebih mendasar, tetapi memiliki sifat-sifat sastra pada umumnya. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa Sastra Lisan adalah sebuah karya sastra yang berbentuk ujaran atau secara Lisan, salah satu contohnya adalah Mantra yang biasa digunakan Masyarakat Indonesia dalam melakukan Ritual di Daerah mereka. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Bentuk Sastra Lisan itu sendiri dapat berupa Prosa . eperti mite, dongeng, dan legend. Puisi Rakyat . eperti syair dan pantu. Seni Pertunjukan seperti Wayang, ungkapan tradisional . ontohnya pepatah dan peribahas. , nyanyian rakyat, perayaan tradisional, mantra dan banyak lagi yang lainnya. Salah satu sastra lisan yang akan diteliti adalah mantra. Mantra adalah salah satu bentuk karya Sastra yang sudah sangat tua dan terdapat banyak sekali di seluruh Nusantara. Sebagai Sastra Lisan yang telah lama ada, mantra tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat tradisional. Mantra termasuk ke dalam bentuk puisi rakyat yang diciptakan untuk berbagai macam kegunaan secara gaib dan diyakini oleh masyarakat pendukungnya. Biasanya mantra digunakan di saat melakukan ritual tertentu sesuai dengan apa tujuan dari mantra tersebut, begitu juga dengan bahasa dan ekspresinya. Karena bersifat sakral, maka mantra ini tidak boleh diucapkan oleh sembarang orang, hanya orang yang dipercaya dan pantas untuk melakukannya. AuSelain itu, pengucapan ini harus disertai dengan ritual upacara, ekspresi wajan dan Dengan suasana begitulah mantra tersebut berkekuatan gaib. Ay (Waluyo, 1987:. Kemunculan mantra disebabkan adanya kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Biasanya orang-orang yang memiliki paham Animisme dan Dinamisme mereka percaya kepada hantu, jin, dan setan serta benda keramat dan sakti yang sudah ada dari zaman dahulu. AuHantu, jin, dan setan itu menurut anggapan mereka , ada yang jahat mengganggu kehidupan manusia tetapi adapula yang baik yang membantu kehidupan manusia. Ay (Djamaris, 1993:. Meskipun termasuk dalam bentuk puisi, mantra mempunyai bentuk yang khas dan berbeda dengan bentuk puisi lainnya. Mantra tentu harus memiliki tenaga gaib yang tidak dimiliki oleh puisi pada umumnya. AuKekhasan mantra dapat dilihat dengan jelas dari cici-ciri mantra sebagai berikut. pemilihan kata sangat seksama. bunyi-bunyi diusahakan berulang-ulang dengan maksud memperkuat sugesti kata. banyak menggunakan kata-kata yang kurang umum digunakan dalam sehari-hari dengan maksud memperkuat daya sugesti kata . jika dibaca secara keras, maka mantra menimbulkan efek bunyi yang bersifat magis: bunyi tersebut diperkuat oleh irama dan metrum yang biasanya hanya dipahami secara sempurna oleh pawang ahli yang membaca mantra secara keras. Ay (Waluyo, 1987:. Di penelitian ini, penulis mengambil riset permasalahan ritual yang berkaitan dengan pemujaan roh nenek moyang yang terletak di Siulak (Kerinci bagian tenga. yaitu ritual plaho. Plaho berasal dari kata peliharo yang berarti pelihara ataupun memelihara. Kata plaho memiliki arti yang sangat mendalam, yang mana para leluhur ataupun nenek moyang memerintahkan anak keturunannya memelihara seluruh tradisi dari mereka terdahulu. Tradisi lisan plaho sendiri pada saat ini sudah jarang ditemui di Siulak, dikarenakan kemajuan era teknologi. Penerapan plaho ini sendiri dijalani oleh orang-orang tertentu. Oleh sebab itu suku Kerinci sendiri mempunyai pakar agama tertentu yang mereka Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x sebut dengan belian. Dikarenakan adanya pengaruh islam, belian ini terkadang disebut belian saleh yang merujuk pada orang taat melakukan ajaran agama. Belian saleh biasanya merupakan seorang wanita tetapi ada juga pria. Tidak hanya sebagai perantara komunikasi dengan roh leluhur, belian saleh juga berfungsi sebagai tabib ataupun dukun dan mengetuai bermacam ritual dalam rangka memuja roh leluhur . eperti tabib/dukun pedande di wilayah Bal. Tradisi lisan plaho merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Kerinci yang hingga saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat daerah Kerinci khususnya Siulak desa Koto Aro. Di dalam tradisi lisan plaho ini, masyarakat menggunakan ayam kampung berwarna hitam untuk persembahan . alam bahasa Jawa di sebut Sesaje. Ayam hitam diolah dengan dibersihkan dahulu lalu di masak menjadi gulai. Ayam hitam ini dimasak dengan tidak dipotongpotong bagian tubuhnya, tetapi langsung dibungkus dengan daun pisang dan disajikan untuk roh leluhur bersama nasi pada saat melakukan ritual plaho. Dalam pelaksanaan plaho ini terdapat mantra-mantra yang dituturkan oleh belian saleh untuk memanggil roh nenek moyang agar membantunya dalam prosesi ritual ini. Sejak zaman dahulu plaho sering dilakukan dalam rangka pengobatan masyarakat yang sakit. Namun dengan seiring berjalannya waktu, hanya orang-orang tertentu dan penyakit tertentu yang diobati oleh belian saleh dengan melakukan plaho. Pada saat sekarang ini orang-orang lebih memilih berobat ke dokter daripada ke belian saleh. Terkadang plaho ini dilakukan disaat penyakit yang diderita oleh orang tersebut tidak bisa diobati dengan ilmu kedokteran. Seperti halnya dengan santet dan penyakit yang tidak bisa dilihat dengan kacamata kedokteran. Jenis tradisi lisan yang penulis ambil ini adalah tradisi lisan berjenis Akh. Muwafik Saleh menyatakan Folklor adalah dimensi masa lampau yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran yang terbaik untuk melangkah di masa depan. Dalam arti ini folklor dalam pendidikan menjadi resolusi untuk mencerminkan dan menjaga kearifan lokal. Penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini adalah Afria, dkk . Kusmana, dkk . Warni, dkk . Metode Teknik yang peneliti ambil adalah teknik Observasi. Observasi diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi merupakan metode yang cukup mudah dilakukan untuk pengumpulan data. Menurut Supriyati . Observasi adalah suatu cara untuk mengumpulkan data penelitian dengan mempunyai sifat dasar naturalistik yang berlangsung dalam konteks natural, pelakunya berpartisipasi secara wajar dalam interaksi. Selain itu peneliti juga menggunakan teknik wawancara eksploratif terkait dengan tradisi lisan plaho di desa Koto Aro. Dalam teknik pengumpulan data kualitatif diperlukan peneliti sebagai Proses pengumpulan data dengan teknik observasi, instrumen yang Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x digunakan peneliti adalah catatan lapangan. Saat proses pengumpulan data melalui wawancara, instrumen yang digunakan peneliti adalah daftar pertanyaan dan data hasil transkripsi. Pada proses pengumpulan data melalui dokumen, instrumen yang digunakan adalah rekaman data. Peneliti sebagai instrumen sangat diperlukan dikarenakan peneliti sebagai subjek harus dekat dengan objek penelitiannya untuk mendapatkan hasil dan kualitas penelitian yang objektif. Peneliti sebagai instrumen pun akan lebih responsif. , adaptif, holistik emphasis . emahaman secara menyeluru. , ekspansif, dan memahami data dalam konteks lapangan. Hasil dan Pembahasan Hasil dari penelitian ini mencangkup dua hal yang sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yaitu mencari dan mendiskripsi makna leksikal dan kultural bahan yang digunakan dalam pelaksanaan ritual plaho di desa Koto Aro Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci. Data dalam penelitian ini diperoleh selama peneliti melakukan penelitian di lapangan yaitu di Desa Koto Aro. Peneliti menggunakan teori makna oleh Charles Carpenter Fries yaitu makna leksikal dan makna kultural. Makna Leksikal Mantra Dalam Sastra Lisan Plaho Berdasarkan teknik simak, catat, rekam, dokumentasi hasil wawancara dari 2 narasumber. Didapatkan sepuluh jenis plaho dengan sepuluh mantra juga tiga puluh lima bahan dan alat. Dalam pelaksana plaho ditemukan mantra dan alat bahan yang mempunyai makna leksikal dan makna kultural. Plaho nganjak uhang taman Plaho ini dilaksanakan ketika ada permintaan dari tuan rumah yang sakit, dan setelah diobati secara medis tetap tidak bisa sembuh. Plaho ini dilaksanakan di tempat yang dipercaya oleh belian saleh adalah tempat beristirahatnya mahluk gaib penununggu rumah yang merasa terganggu dengan kedatangan orang baru. Biasanya setelah pemindahan mahluk gaib ini rumah akan terasa nyaman dan tidak adanya rasa was-was yang dialami oleh penunggu baru rumah tersebut, lalu anggota keluarga yang tadinya sakit akan sehat kembali. Mantra: Dipurebeh pinang lah ditaman Batang kurukuk dingan batang enau Dikulepah ndih kayo uhang taman Idak munjadi beban anak lumah Idak tikurung lah didalam tanah Minin kau jirak sigentar bumi, paut tangan dingan duo belah. Idak tijunjai lah jilatang bangkit. Berkat lailahaillallah Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna leksikal: Dirobohkan pinang di depan rumah Pohon kurukuk dan pohon aren. Aku lepaskan engkau orang penunggu tanah ini. Tidak menjadi beban orang yang ada di rumah. Tidak lagi terkurung di dalam tanah. Sekarang kamu jirak sigentar bumi . stilah rumput hutan untuk pengobatan Kerinc. , memautkan kedua belah tangan. Tidak terurai jilatang bangkit . stilah adat masyarakat Kerinc. Berkat lailahailallah Makna kultural Mantra ini digunakan untuk memindahkan makhluk gaib yang menunggu rumah. Biasanya ditandai dengan adanya anggota keluarga yang sakit dan tidak bisa diobati dengan obat-obatan yang diberikan dokter. Ada tenaga gaib yang masuk kedalah tubuh salah satu anggota keluarga sehingga membuatnya sakit. Masyarakat Kerinci mempercayai adanya kehidupan lain di rumah tersebut sehingga harus dipindahkan agar tidak merasa terganggu oleh keluarga baru yang menunggu rumah tersebut. Bahan dan alat Bungo adun tujuh Makna leksikalIeBungo adun tujuhMengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan tujuh. Bungo berati bunga KBBI yaitu sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adun sama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBI bilangan setelah enam. Makna kulturalIebungo adun tujuh adalah bunga dengan tujuh macam dan warna. Digunakan sebagai syarat setiap plaho yang diletakkan di atas bakun bersama sirih dan beras. Sangkak Makna leksikalIeDalam KBBI sangkak adalah dahan kayu. Makna kulturalIesangkak dalam plaho berbentuk sama dengan sangkak ayam, hanya saja sangkak dalam pelaksaan plaho lebih kecil, didalamnya diletakkan mangkok yang sudah diisi beras dan telur ayam yang sudah di rebus. Cinano Makna leksikalIeCinano menurut masyarakat sama halnya dengan cerana dalam KBBI yang berarti wadah sirih yang terbuat dari kuningan atau Makna kulturalIedalam upacara plaho masyarakat menggunakan mangkuk yang berukuran sedang untuk tempat air yang dicampur bunga cina yang dicelupkan, lalu bunga cina tersebut dipercikkan kepada sajian dan orang yang kesurupan saat menari asyik. Menari asyik merupakan tarian yang sering dilakukan masyarakat Kerinci untuk berhubungan dengan roh sesek moyang, asyik diartikan sebagai sebuah penyucian jiwa dari segala bentuk perbuatan buruk yang dipercaya disebabkan oleh roh-roh jahat. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Kemenyan Makna leksikalIeMenurut KBBI kemenyan berarti dupa dari tumbuhan yang harum baunya ketika dibakar. Makna kulturalIe kemenyan digunakan sebagai salah satu bahan yang sangat wajib ketika hendak melakukan ritual adat di Kerinci. Dengan aromanya yang khas, kemenyan dipercaya dapat memanggil arwah nenek moyang untuk datang. Ikat Makna leksikalIeIkat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, loga ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIeikat dalam masyarakat Kerinci adalah beras yang diisi di dalam bakun dan di atasnya diletakkan bungo adun tujuh, sirih, pinang, dan telur rebus. Penyiha Makna leksikalIeHal ini sama halnya dengan berserak KBBI berarti bersebar kemana-mana, kocar-kacir, cerai-berai tidak karuan. Makna kulturalIepenyiha adalah campuran kundu . abu menta. , batang pisang, sitawa . unga pacing tawa. , cikrau . ayuran khas Kerinci yang hidup di raw. , selingin . ocor bebe. , dan penyalu . umput yang hidup bersama cikrau di raw. yang dipotong-potong lalu dimasukkan kedalam ember dan ditaburkan sedikit tepung beras. Ini digunakan untuk mendinginkan rumah, campuran bahan tadi disebarkan setiap sudut rumah. Sajin Makna leksikalIeSajinartinya sama dengan sajian dalam KBBI yaitu hidangan, sesuatu yang dihidangkan. Makna kulturalIesajin berisi nasi, ayam hitam kampung bagian paha kanan, sayap kanan, dada bagian kanan, dan kepala ayam yang telah dimasak gulai. Berbeda dengan jamba yang disuguhkan untuk roh nenek moyang, sajin ini disuguhkan untuk belian saleh yang dipercaya sebagai pelaksana plaho. Plaho magih salih makan Plaho ini dilakukan hanya setahap, yaitu dirumah. Namun plaho ini dilakukan dalam waktu tiga hari dari waktu penyiapan acara, memasak lemang sampai memasak gulai untuk makanan anak cucu yang turut hadir menyaksikan acara plaho tersebut. Mantra : Lah tielah lah maen ku kidan. Maih disambut duo suku duo, suku duo alah tegak dimumapah, suku mpat lah tegak mumbimbing, lah tielah lah maen ku bawah, maih disambut ndih harto dingan bendo, maih dijawat anak dingan pinang. Lah tibaeh alah maen kulateh, maih diubat ndih sakti ngan di junjujng, maih diawai indah dipangku, lah tielah kumaen kulakang, maih disambut kampung kurung kampung. Lah tielah lah maeh kuadap, maeh disambut kaki ku siiring, maeh dijawat kanti kusijalan, sado itulah dapat disio guru aeh. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna leksikal: Sudah selesai bermain ke kiri. Mari disambut dua suku dua, suku dua berdiri memapah, suku empat berdiri mebimbing, sudah selesai main ke bawah, mari menyambut harta dan benda, mari disalami anak dan pinang. Sudah dilakukan main keatas, mari di obati sakit yang di junjung, mari di pegang indah dipangku, sudah selesai main kebelakang, mari disambut kampung terkurung kampung, sudah dilakukan main ke depan, mari disambut kaki yang seiring, mari disambut teman yang sejalan, begitu saja bisa di minta wahai guru. Makna kultural Plaho ini termasuk ke dalam pelaksanaan plaho besar yang ada di Kerinci. Plaho ini dilakukan untuk menghormati nenek moyang yang telah menurunkan ilmu atau salih kepada belian yang adalah keturunannya. Biasanya plaho jenis ini dilakukan saat adanya belian yang sakit dan memimpikan hal yang buruk, sehingga dipercaya bahwa nenek moyang mereka yang telah tiada sedang mengisyaratkan kepada anak keturunannya untuk ingat kepadanya. Bahan dan alat Ikat Makna leksikalIe Ikat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, loga ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIeikat dalam masyarakat Kerinci adalah beras yang diisi di dalam bakun dan di atasnya diletakkan bungo adun tujuh, sirih, pinang, dan telur rebus dan uang yang digunakan sebagai upah atau syarat dari belian Sangkak Makna leksikalIeDalam KBBI sangkak adalah dahan kayu. Makna kulturalIe sangkak yang dipakai dalam tradisi plaho ini hampir mirip dengan sangkak ayam. Hanya saja sangkak yang dipakai ini lebih kecil. Sajin Makna leksikalIeSajin artinya sama dengan sajian dalam KBBI hidangan, sesuatu yang sihidangkan. Makna kulturalIesajin berisi nasi, ayam kampung hitam bagian paha kanan, sayap kanan, dada bagian kanan, dan kepala ayam yang telah dimasak gulai. Berbeda dengan jamba yang disuguhkan untuk roh nenek moyang, sajin ini disuguhkan untuk belian yang dipercaya sebagai pelaksana plaho. Penyihi Makna leksikalIe Penyihi ini sama halnya dengan sirih dalam KBBItumbuhan merambat, daunnya dimakan bercampur gambir. Makna kulturalIepenyihi bagi masyarakat Kerinci adalah sirih yang lengkap dengan pinang, kapur, gambir dan siap dimakan sebagai salah alat pemanggilan roh nenek moyang yang dianggap paling disukai nenek moyang. Keris Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna leksikalIe DalamKBBI keris adalah senjata tajam berkelok-kelok semakin keujung semakin lancip . iasanya ada sarung ny. Makna kulturalIekeris digunakan sebagai properti pendukung yang diletakkan bersama Sebagai simbol masyarakat Kerinci. Lemang Makna leksikalIeDalam KBBI lemang berarti makanan dari pulut diberi santan, dipanggang dalam tabung. Makna kulturalIelemang dalam upacara plaho ini dijadikan sebagai makanan untuk para keturunan nenek moyang Jamba Makna leksikalIe Jamba sama halnya dengan sajen dalam KBBI yang berarti makanan atau bunga bungaan dsb yang disajikan untuk persembahan kepada roh halus. Makna kulturalIejamba di daerah Kerinci sama halnya dengan sesajen yang ada di daerah jawa. Dimana terdapat nasi dan lauk pauk yang disajikan untuk nenek moyang. Namun jamba ini sendiri lebih sedikit daripada sesajen. Jamba hanya menggunakan dua piring kecil yang diisi sedikit nasi dan sedikit lauk. Cinano Makna leksikalIeCinano menurut masyarakat sama halnya dengan cerana dalam KBBI yang berarti wadah sirih yang terbuat dari kuningan atau Makna kulturalIedalam upacara plaho masyarakat menggunakan mangkuk yang berukuran sedang untuk tempat air yang dicampur bunga adun tujuh yang dicelupkan, lalu bunga adun tujuh tersebut dipercikkan kepada sajian dan orang yang kesurupan saat menari asyik. Bungo adun tujuh Makna leksikalIeMengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan Bongo berati bunga KBBI adalah sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adun sama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBI bunga dengan tujuh macam dan warna. Digunakan sebagai syarat setiap plaho yang diletakkan di atas bakun bersama sirih dan beras. Limau padang Makna leksikalIeLamau padang adalah jeruk nipis, dalam KBBI berarti jeruk yang buahnya kecil dan hanya diambil airnya . ntuk pelengkap masaka. Makna kulturalIemasyarakat mempercayai bahwa jenis jeruk ini aromanya sangat disukai oleh roh nenek moyang. Benang sepuluh Makna leksikalIeTerdapat dua suku kata yaitu benang dan sepuluh. Benang adalah barang hasil pintalan kapas berupa tali halus sebagai dasar Sepuluh dalam KBBIangka setelah sembilan. Makna kulturalIeBenang dengan warna dan jenis yang sama lalu di potong menjadi 10 dengan panjang 1 meter perhelai. Hal ini menyimbolkan urat yang ada di tubuh manusia. Kemenyan Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna leksikalIeMenurut KBBI kemenyan berarti dupa dari tumbuhan yang harum baunya ketika dibakar. Makna kulturalIekemenyan digunakan sebagai salah satu bahan yang sangat wajib ketika hendak melakukan ritual adat di Kerinci. Dengan aromanya yang khas, kemenyan dipercaya dapat memanggil arwa nenek moyang untuk datang. Plaho ngambi penyakit/ngambi alin Plahongambi penyakit atau ngambi alin dilakukan saat ada masyarakat yang sakit di desa Koto Aro. Yang dilakukan dengan cara mempersiapkan sesajian seperti ikat, menyan, jamba, penyihi dan bahan lainnya. Biasanya plaho ini dilakukan di rumah belian salih. Mantra : Hai adam Badengang bunyi nyo kumbang Datang nyo dimunerang laut Mao sumpit mao panah mao tuju para Mak nyo sungguh datang sibelum datang Sungguh tibo sibelum tibo Bantu bunyi nyo keno idak keno Badngong bunyi nyo Datang idak datang Aku tau asal mulo kau jadi Embun tirebang itu asal mulo kau jadi Berkat lailahaillallah Makna leksikal Hai adam Berdengung bunyi nya kumbang Datang nya menerangi laut Membawa sumput membawa panah membawa nampan Agar dia datang sungguh-sungguh datang sebelum datang Sungguh sampai sebelum sampai Bantu berbunyi terkena bunyi Bunyinya berdengung Datang tidak datang Aku tau asal mula dirimu ada Embun terbang itu asal mula engkau ada Berkat lailahailallah Makna kultural Plaho ini dipercaya dapah menyembuhkan orang yang sakit dengan meminta bantuan kepada roh nenek moyang. Mantra yang diucapkan oleh balian salih ini bermakna meminta kesehatan dan menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tenaga medis. Mantra akan berbeda ketika Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x penyakit yang dialami berbeda, namun mantra yang di atas selalu digunakan setiap ada plaho penyembuhan untuk masyarakat, hanya saja nantinya akan ditambah mantra yang sesuai dengan penyakit orang tersebut dan mantra tersebut hanya belian salih yang tau dan tidak boleh diketahui orang banyak, dikarenakan setiap belian memiliki mantranya masing-masing untuk menyembuhkan masyarakat. Bahan dan alat Sangkak Makna leksikalIeDalam KBBI sangkak adalah dahan kayu. Makna kulturalIe sangkak yang dipakai dalam tradisi plaho ini hampir mirip dengan sangkak ayam. Hanya saja sangkak yang dipakai ini lebih kecil. Penyihi Makna leksikalIe Ini sama halnya dengan sirih dalam KBBI tumbuhan merambat, daunnya dimakan bercampur gambir. Makna kulturalIe penyihi bagi masyarakat Kerinci adalah sirih yang lengkap dengan pinang, kapur, gambir dan siap dimakan sebagai salah satu alat pemanggilan roh nenek moyang yang dianggap paling disukai nenek moyang. Kemenyan Makna leksikalIeMenurut KBBI kemenyan berarti dupa dari tumbuhan yang harum baunya ketika dibakar. Makna kulturalIekemenyan adalah suatu hal yang wajib digunakan dalam ritual pemanggilan nenek moyang. Cinano Makna leksikalIe Cinano menurut masyarakat sama halnya dengan cerana dalam KBBI yang berarti wadah sirih yang terbuat dari kuningan atau Makna kulturalIedalam upacara plaho masyarakat menggunakan mangkuk yang berukuran sedang untuk tempat air yang dicampur bungo adun tujuh yang dicelupkan, lalu bunga tersebut dipercikkan kepada sajian. Ikat Makna leksikalIeIkat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, logam ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIeikat dalam masyarakat Kerinci adalah beras yang diisi di dalam bakul dan di atasnya diletakkan bungo adun tujuh, sirih, pinang, dan telur rebus dan uang yang digunakan sebagai upah atau syarat dari belian Plaho turun mandi Biasanya plaho turun mandi sama dengan turun mandi biasanya, namun bedanya plaho saat turun mandi hanya dilakukan untuk bayi perempuan, yang mana bayi perempuan akan disunat dengan cara mengoleskan pisau tumpul dan tidak melukai pada alat kelamin bayi perempuan tersebut sebagai isyarat bahwa bayi tersebut sudah di sunat. Awalnya pada zaman dahulu masyarakat beramai-ramai mengantarkan bayi untuk turun mandi di sungai, namun beda dengan bayi laki-laki di Kerinci, bayi perempuan diharuskan melakukan plaho untuk disunat, setelah itu belian yang Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x menyunati bayi perempuan tersebut memakan sirih dan air sirih yang telah berubah menjadi warna merah dioleskan ke kening, telapak tangan, dan telapak kaki bayi sebagai tanda bayi itu sudah disunat dan siap menjalani hidup yang baik kedepannya. Mantra Hai adam Tak mati kato Allah tak ngapo kato Muhammad. Lanto lanti siruntuk simerang galah, aku bunamo anak Sirimo Allah nan baranak Siringgo buto, nan baranak siringgo kabut. Ngununtun jnun kuntun pling mato kno singgung ngarigut. Aku ngato kato jin dingan tigo. Nan gagah tunduk nan berani takut. Budak mak sihat-sihat, kayo jago, kayo papah dingan ilmu. Imak timakan lemang tigo rueh, timinun siayi Berkat lailahaillallah. Makna leksikal Hai adam Tidak mati kata Allah tidak mengapa kata Muhammad. Luntang lantung habis di sebrang bambu . iasanya bambu yang telah menguning karena sudah lama di teban. , aku bernama anak Sirimo Allah yang mempunyai anak Siringgo buta, yang mempunya anak siringgo kabut. Jatuh jnus jatuh paling mata tersenggol menggigil. Aku menyampaikan kata jin yang tiga. Yang gagah tunduk yang berani takut. Anak agar sehat. Anda jaga. Anda papah dengan ilmu. Agar dimakan lemang tiga buah, di minum air kawa Berkat laillahaillallah Makna kultural Adanya plaho ini dipercaya dapat menjauhkan anak yang baru lahir dari makhluk halus, diberi keselamatan, dan didoakan agar anak yang baru lahir tersebut mendapatkan kehidupan yang sukses dan terhindar dari marabahaya. Plaho ini dilakukan saat anak berusia minimal satu bulan dan maksimal satu Plaho ini juga dilakukan karena tidak adanya sunat bagi anak perempuan pada saat dia sudah besar, sehingga para belian dikerinci melakukan ritual plaho ini pada bayi perempuan disaat melaksanakan turun Bahan dan alat Bungo adun tujuh Makna leksikalIeMengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan Bongo berati bunga KBBI adalah sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adun sama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBI bilangan setelah enam. Makna Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x kulturalIe bunga ini digunakan dalam setiap plaho. Bunga ini merupakan tujuh bunga yang berbeda dan dirangkai menjadi satu. Ayi palimo Makna leksikalIeAyi palimo terdiri dari dua suku kata yaitu ayi yang berarti air dalam KBBI . benda cair yang berasal dari sumur, sungai, laut, danau dsb. Palimo sama halnya dengan jeruk dalam KBBI . jenis pohon perdu yang menghasilkan buah terasa asam . erbagai macam jenisny. Artinya ayi palimo berarti air dari berbagai macam jeruk. Makna kulturalIeayi palimo adalah air yang dimasukkan macam-macam irisan jeruk dan dioleskan atau dimandikan kepada orang yang di jadikan objek plaho. Contohnya untuk keselamatan anak bayi setelah lahir maka di usapkan ayi palimo sebelum dimandikandisaat pelaksaan syukuran turun mandi. Ikat Makna leksikalIe Ikat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, logam ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIeikat digunakan sebagai bahan wajib dalam Biasanya ikat diisi dengan beras, sirih, pinang, dan bungo adun tujuh, dan uang sebagai upay yang diberikan kepada belian saleh. Bungo junjung mandi Makna leksikalIe Terdapat tiga suku kata yaitu bungo, junjung, mandi. Bungo KBBI adalah sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Junjung KBBI menyunggi, membawa diatas kepala, menurut, menaati . erintah atau petuju. mandi KBBI membasahi tubuh dengan air, dengan maksud membersihkan kotoran: bermandi: disiram atau ditimpa cahaya, bergelimang uang dsb. Makna kulturalIe bunga yang satu ini sama halnya dengan bungo adun tujuh, hanya saja bunga ini ditambah dengan satu bunga lagi yang bernama bunga papit. Jamba Makna leksikalIeJamba sama halnya dengan sajen dalam KBBI yang berarti makanan atau bunga bungaan dsb yang disajikan untuk persembahan kepada roh halus. Makna kulturalIejamba sama halnya dengan sesajen dalam bahasa jawa, namun jamba ini lebih sedikit, biasanya hanya dimasukkan kedalam dua piring saja. plaho palimo siahi Cara pelaksanaan plaho ini adalah dengan mengusap ayi palimo yang ada didalam lesung oleh belian kepada ibu hamil dari mulai kepala sampai kaki. Setelah itu air yang masih tersisa di dalam lesung dipindahkan ke dalam buluh dan di bawa ke sungai. Setelah sampai di sungai ibu hamil tersebut berdiri di dalam air yang dangkal dan mengusapkan sendiri ayi palimo yang ada di dalam buluh sebanyak tiga kali dari kepala sampai kaki. Lalu ibu hamil tersebut duduk dan menyelamkan kepala ke dalam air disertai melempar buluh yang masih diisi ayi palimo tersebut ke belakang. Mantra : Hai Adam Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Batang sauh batang tikarang Yak agung mungguncang besi Ku lucut ku lepehkan, kulepeh kupado hari Tapan lepeh kupado hari Ado lepeh kau sibujang hitam sigadih hitam Idak bulih tilintang tilanca seperti nago Tiluncu seperti belut Berkat lailahaillallah Makna leksikal: Hai Adam Pohon sauh pohon yang berkarang Yang agung mengguncang besi Aku buka ikatan aku lepaskan, lepaskan kepada hari Tangan mengadah lepas kepada hari Ada lepas kamu laki-laki remaja hitam perempuan remaja hitam Tidak boleh terlentang tergelincir seperti naga Tergelincir seperti belut Berkat laila hailallah Makna kultural Plaho palimo siahi adalah plaho yang dilakukan untuk memohon kelancaran agar ibu yang tengah hamil mudah dalam melahirkan juga agar ibu dan anak sehat saat proses persalinan. Banyak masyarakat yang mempercayai ritual ini untuk kelancaran ibu yang sedang hamil agar mudah dalam persalinan, namun pada saat sekarang ini sudah sangat sulit ditemukan masyarakat yang masih melakukan ritual ini. Ritual ini dilakukan saat usia kehamilan 7-9 bulan. Alat dah bahan Ayi palimo Makna leksikal IeAyi palimo terdiri dari dua suku kata yaitu ayi yang berarti air dalam KBBI benda cair yang berasal dari sumur, sungai, laut, danau Palimo sama halnya dengan jeruk dalam KBBI jenis pohon perdu yang menghasilkan buah terasa asam . erbagai macam jenisny. Artinya ayi palimo berarti air dari berbagai macam jeruk. Makna kultural IeArti ayi palimo di daerah Siulak Kerinci adalah air yang berisi potongan jeruk purut, jeruk kapas, jeruk bali, dan jeruk nipis yang telah di beri mantra atau doAoa. Yang dijadikan untuk menyiram atau memandikan ibu yang sedang hamil. Dengan tujuan agar mudah dalam melahirkan. Lesung makna leksikal Iekata lesungDalam KBBI tempat menumbuk padi terbuat dari kayu balok menyerupai perahu. Makna KulturalIe sama halnya seperti bahasa, masyarakat Kerinci menyebut lesung adalah alat untuk menumbuk Namun dalam peksanaan plaho palimo siahi lesung digunakan sebagai tempat ayi palimo yang akan digunakan untuk memandikan ibu hamil. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Buluh Makna leksikalIeBuluh dalam KBBI tanaman yang batangnya beruas-ruas dan berongga seperti bambu. Makna KulturalIebuluh dalam masyarakat kerinci sama dengan batang bambu. Namun dalam plaho buluh digunakan sebagai wadah sisa ayi palimo yang ada di dalam lesung. Bungo adun tujuh Makna leksikalIe . Mengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan Bongo berati bunga KBBIadalah sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adun sama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBI bilangan setelah enam. Makna kulturalIe bunga ini adalah tujuh macam bunga yang dirangkai menjadi satu. Makna leksikalIeJamba sama halnya dengan sajen dalam KBBI yang berarti makanan atau bunga bungaan dsb yang disajikan untuk persembahan kepada roh halus. Makna kulturalIejamba di daerah Kerinci sama halnya dengan sesajen yang ada di daerah Jawa. Dimana terdapat nasi dan lauk pauk yang disajikan untuk nenek moyang. Namun jamba ini sendiri lebih sedikit daripada sesajen. Jamba hanya menggunakan dua piring kecil yang diisi sedikit nasi dan sedikit lauk. plaho mintak tanah Ritual plaho ini hampir sama dengan plaho nganjak uhang taman. Pertama-tama belian saleh membacakan mantra pada bahan dan alat sajian dalam plaho. Setelah memantrai bahan dan alat sajian, belian saleh lalu menaburkan penyiha di setiap sudut tanah kosong sembari berdoa agar arwah nenek moyang selalu menjaga anak keturunan dari mara bahaya. Mantra: Ai. Mintak apun lah langit dijunjung, sireto nyo bulan ngan bintang, matohari nyo dingan di ujung. Sireto nyo dayan ku kundang. Ai. Pandai mungarang ndih sunting sunggo sunting. Jago salih alah iman ngan Pandai mungurukuk minyak ureh minyak. Diburusik ndih kanti ngan Jagolah ninek bujang salih bujang. Salih bujang alah iman mungunci, jangan dikunci ndih guru jalan guru, jangan dikunci tuan jalan tuan. Jagolah ninek hitam salih hitam. Makna leksikal : Ai. Minta maaf kepada langit dijunjung, serta bulan dan bintang. matahari yang ada di ujung, serta dayan . lmu daya. yang ku bawa. Ai. Pintar membuat karangan sunting . iasan kepala yang sama seperti pengantin sumatra bara. jaga salih dan iman yang satu. Pandai memakaikan minyak pakai minyak. Bermain dengan teman seperjalanan. Jagalah ninek bujang salih Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x bujang . alih yang dipakai laki-lak. salih bujang dan mengunci iman, jangan dikunci jalan guru, jangan dikunci jalan tuan. Jagalah nenek moyang salih Makna kultural : Plaho ini dilakukan ketika salah seorang anggota masyarakat akan mendirikan rumah di tanah kosong. Tanah kosong di Kerinci dianggap keramat dan dihuni oleh makhluk dari alam lain seperti jin. Sehingga harus diadakan ritual plaho agar penghuni tanah kosong tersebut tidak mengganggu prosesi pembuatan rumah dan keluarga yang akan menunggu rumah tersebut. Bahan dan alat: Lemang Makna leksikalIeDalam KBBI lemang berarti makanan dari pulut diberi santan, dipanggang dalam tabung. Makna kulturalIelemang sebagai sajian khusus ketika masyarakat akan mengadakan plaho besar yang terbuat dari beras ketan dan dimasak di dalam bambu. Ikat Makna leksikalIeIkat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, loga ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIe ini adalah ikat yang biasa digunakan dalam plaho-plaho yang ada di daerah Kerinci. Ikat sicupak Makna leksikalIe Terdapat dua suku kata yaitu ikat dan cupak. Ikat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, loga ds. yang dipakai untuk mengikatkan. Sedangkan cupak dalam KBBI adalah takaran beras yang memuat 1/2 gantang. Makna kulturalIe sama dengan ikat biasanya, hanya saja tempat dan beras didalamnya lebih sedikit. Dalam ikat ini berasnya hanya 1 kg sedangkan ikat biasa berisi 2 kg beras. Ikat ini juga meletakkan kain putih dan keris diatasnya. Jadah Makna leksikalIeMasyarakat menyebut jadah sebagai makanan yang terbuat dari ketan. Dalam KBBI ketan adalah beras pulut, yang dimasak sangat Makna kulturalIe jadah dalam masyarakat kerinci adalah makanan dari bahan baku tepung yang dibungkus memakai daun pisang dan di rebus. Pisang Makna leksikalIeMenurut KBBI pisang adalah jenis tanaman musa, buahnya berdaging dan dapat dimakan, ada bermacam-macam. Makna kulturalIePisang termasuk makanan yang selalu ada disetiap plaho. Karna diyakini pisang dapat mendinginkan suasana dan kesukaan roh nenek moyang. Benang sepuluh Makna leksikal IeTerdapat dua suku kata yaitu benang dan sepuluh. Benang adalah barang hasil pintalan kapas berupa tali halus sebagai dasar kain. Sepuluh dalam KBBI angka setelah sembilan. Makna kulturalIeBenang dengan warna dan jenis yang sama lalu di potong menjadi 10 dengan panjang 1 meter Lalu digulung menjadi satu. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna leksikalIeSajin artinya sama dengan sajian dalam KBBIhidangan, sesuatu yang dihidangkan. Makna kulturalIeSajin berisi nasi, ayam kampung hitam bagian paha kanan, sayap kanan, dada bagian kanan, dan kepala ayam yang telah dimasak gulai. Berbeda dengan jamba yang disuguhkan untuk roh nenek moyang, sajin ini disuguhkan untuk belian yang dipercaya sebagai pelaksana plaho. Jamba Makna leksikalIeJamba sama halnya dengan sajen dalam KBBI yang berarti makanan atau bunga bungaan dsb yang disajikan untuk persembahan kepada roh halus. Makna kulturalIejamba di daerah kerinci sama halnya dengan sesajen yang ada di daerah jawa. Dimana terdapat nasi dan lauk pauk yang disajikan untuk nenek moyang. Namun jamba ini sendiri lebih sedikit daripada sesajen. Jamba hanya menggunakan dua piring kecil yang diisi sedikit nasi dan sedikit lauk. Penyiha Makna leksikalIeHal ini sama halnya dengan berserak KBBI berarti bersebar kemana-mana, kocar-kacir, cerai-berai tidak karuan. Makna kulturalIeBerisi campuran kundu . abu menta. , batang pisang, sitawa . unga pacing tawa. , cikrau . ayuran khas kerinci yang hidup di raw. , selingin . ocor bebe. , dan penyalu . umput yang hidup bersama cikrau di raw. yang dipotong-potong lalu dimasukkan kedalam ember dan ditaburkan sedikit tepung Ini digunakan untuk mendinginkan rumah, campuran bahan tadi di sebarkan di setiap sudut rumah atau tanah. plaho ngejang aman/ ngulang aso/ janem Penyakit yang dibuat oleh makhluk gaib dan tidak bisa diobati secara medis dipercaya masyarakat Kerinci dapat disembuhkan dengan plaho ini. Plaho ini juga dianjurkan bagi masyarakat yang mengalami kemalangan. Pertamatama keluarga yang ditinggalkan oleh keluarganya memanggil belian salih yang masih merupakan keluarga agar mengetahui seluk-beluk keturunan nenek moyang mereka, lalu salah satu keluarga mebaringkan diri dan belian saleh mulai melantunkan mantra. Plaho ini akan membuat keluarga yang tertidur tadi dimasuki oleh roh keluarga yang baru meninggal tersebut, lalu roh itu akan berbicara dan menceritakan bagaimana dia bisa meninggal dan menyampaikan kata-kata agar membuat keluarga yang ditinggalkan menjadi lebih tegar. Mantra Mati kato Allah mati kato Muhammad. Puput tikling luak sungai ngaruntung sungai, payo lilit payo lingka. Matang pandak matang panjang, ayi suruk ayi pinteh, taman ndah taman tinggi, taman balebung taman bakali. Tidak bulih kau lalu di sini, aku lalu di sini tertutup terkunci sekalian dengan angguto kau. Kadarat idak beli makan, ka lubuk idak beli ayi. Kubawah idak buaka, kaateh idak bupucuk, di tengah digirak kumbang. Berkat laillahaillallah Makna leksikal Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Mati kata Allah mati kata Muhammad. Puput tikling luak sungai ngaruntung sungai . stilah adat di kerinc. , rawa kecil rawa besar lingkaran, sungai pendek sungai panjang, air lubuk air deras, taman rendah taman tinggi, taman berlobang taman yang digali. Tidak boleh kamu lewat di sini, aku lewat di sini tertutup terkunci semua anggota badanmu. Kedarat tidak membeli makan, ke sungai yang ada lubuk tidak membeli air. Kebawah tidak memiliki akar, keatas tidak memiliki pucuk, di tengah di ambil Berkat laillahailallah Makna kultural Plaho dilakukan ketika ada masyarakat yang terkena sihir atau gunaguna sehingga membutuhkan pengobatan secara supranatural agar sembuh. Hal ini ditandai dengan sakit yang belum pernah dialami selama ini dan tidak bisa diobati secara medis. Masyarakat juga sering melakukan plaho ini ketika ada keluarga yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan dianjurkan melakukan plaho ini agar tidak merasakn sedih berlarut-larut. Bahan dan alat bungo adun tujuh Makna leksikalIe Mengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan Bongo berati bunga KBBI adalah sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adun sama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBI bilangan setelah enam. Makna kulturalIeBungo adun tujuh adalah bunga dengan tujuh macam dan warna. Digunakan sebagai syarat setiap plaho yang diletakkan di atas bakun bersama sirih dan beras. Cinano Makna leksikalIe Cinano menurut masyarakat sama halnya dengan cerana dalam KBBI yang berarti wadah sirih yang terbuat dari kuningan atau Makna kulturalIe dalam upacara plaho masyarakat menggunakan mangkuk yang berukuran sedang untuk tempat air yang dicampur bungo adun tujuh yang dicelupkan, lalu bungo adun tujuh tersebut di percikkan kepada sajian dan orang yang kesurupan saat menari asyik. Ikat Makna leksikalIe Ikat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, loga ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIe ikat dalam masyarakat Kerinci adalah beras yang diisi di dalam bakul dan di atasnya diletakkan bungo adun tujuh, sirih, pinang, dan telur rebus dan uang yang digunakan sebagai upah atau syarat dari belian saleh. Kemenyan Makna leksikalIe Menurut KBBI kemenyan berarti dupa dari tumbuhan yang harum baunya ketika dibakar. Makna kulturalIekemenyan adalah suatu hal yang wajib digunakan dalam ritual pemanggilan nenek moyang Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x plaho ngayun luci Ngayun luci dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama yang berisi pelaksanaan penyiapan bahan alat oleh peserta upacara, pembacaan mantra dan doAoa serta asyiek dirumah. Dan tahap kedua membawa luci ke tanah lapang atau sawah dan melakukan pembacaan mantra dan doAoa dan asyik mengelilingi luci sebagai pesta yang dipersembahkan kepada nenek Kedatangan roh nenek moyang ditandai dengan adanya peserta yang kesurupan, setelah itu asyiek dihentikan dan belian saleh menyadarkan peserta tersebut dengan mantra sembari membawa kemenyan. Setelah itu, para peserta mengambil luci satu-satu dan digantung di sawah mereka masingmasing. Setelah luci digantung, akan ada anak-anak yang datang dan mengambil pisang, jadah, dan lemang yang digantung dibawah luci untuk dimakan, namun luci tidak boleh dirusak dan diambil. Mantra Bismillahirrahmanirrahim o. nek gandulo ngan mirat di bukit tungkat. Gerak-gerak jago-jago karno aku nak buseru mungimbau kayo. Karno aku mintak dipapah mintak dibimbing mintak ditulung mintak dibantu. Kureno aku nak nguji ilmu kayo. nek Depati Parbo ngan turun di lolo kecik ngan burusik dilulo gedang, gerak-gerak jago-jago karno aku nak buseru mungimbau kayo. Kureno aku mintak dipapah mintak dibimbing, mintak ditulung mintak dibantu. Kureno aku nak nguji ilmu kayo. Makna leksikal Bismillahirrahmanirrahim o. nenek gandulo yang berjalan ke bukit tongkat. Bergerak-gerak berjagajaga karna aku ingin memanggil Anda. Karna aku meminta dipapah meminta dibimbing meminta ditolong. Karena aku ingin menguji ilmu Anda. nenek depati parbo yang turun di desa Lolo Kecil yang bermain di Lolo Gedang, bergerak-gerak berjaga-jaga karna aku ingin memanggil Anda. Karena aku meminta dipapah meminta dibimbing meminta ditolong. Karena aku ingin menguji ilmu Anda. Makna kultural Ngayun luci adalah jenis plaho besar yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat kecamatan Siulak dengan tujuan agar mendapat berkah dengan harapan padi mereka tumbuh subur. Biasanya ngayun luci dilakukan oleh beberapa orang yang beranggotakan para belian salih perempuan dan laki-laki, namun terkadang ada juga anggota keluarga yang ikut dengan syarat membawa sajian. Pembacaan mantra saat upacara pertama dalam penyiapan bahan dan alat tidak boleh diketahui orang banyak dan mantra tersebut berubah-ubah di setiap pelaksanaan plaho ayun luci. Belian saleh mengemukakan bahwa mantra tersebut terlafaskan begitu saja setelah bahan dan alat terpenuhi semua seperti sudah di rasuki oleh nenek moyang. Alat dan bahan Luci Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Makna leksikalIeLuci sama halnya dengan wadah, dalam KBBI wadah berarti tempat untuk menaruh atau menyimpan sesuatu. Makna kulturalIeluci dalam ritual plaho ini berguna sebagai tempat buah buahan yang berasal dari Luci terbagi dua macam yaitu induk luci yang digantung paling atas ayunan dan anak luci di tengah lalu lemang, jadah, dan pisang digantung di bawah masing-masing luci. Selesai acara indukluci akan di bawa ke rumah gedang atau rumah adat untuk digantung sebagai permintaan terimakasih kepada leluhur sedangkan anak luci di bawa ke masing-masing sawah peserta ritual ngayun luci untuk di gantung dengan harapan sawah tersebut mendapat berkah dari tumbuh dengan subur. Kain panjang Makna leksikalIekain panjang Menurut KBBI kain yang panjang untuk menari, kain selendang. Makna kulturalIekain panjang dalam tradisi plaho ngayun luci digunakan sebagi alat pengayun luci yang telah dipasangkan di Ayunan Makna leksikalIe Ayunan berasal dari kata ayun KBBI bergerak kedepan dan kebelakang atau kekiri dan kekanan. Dengan ditambahkan imbuhan -an maka berubah arti menjadi suatu benda yang bisa bergerak kedepan dan kebelakang atau kekiri dan kekanan. Makna kulturalIeayunan adalah alat penggantung luci yang dibuat dua tingkat. Tingkat pertama digantungkan induk luci dan tingkat kedua digantungkan anak luci. Bakun Makna leksikalIeBakun Dalam KBBI berarti bakul yaitu keranjang dari anyaman bambu untuk tempat nasi. Makna kulturalIebakun dalam masyarakat kerinci diartikan sebagai tempat beras danbungo adun tujuh yang sudah dirangkai sebagai persyaratan pengadaan plaho ngayun luci ini. Ambung/jangki Makna leksikalIe Dalam KBBI jangki sama halnya dengan keranjang yang berrti bakul besar dari anyaman yang kasar-kasar. Makna kulturalIe jangki berarti wadah untuk mengangkut sajian yang akan dibawa ke lapangan untuk melaksakan ritual puncak ngayun luci. Makna leksikalIeCinano menurut masyarakat sama halnya dengan cerana dalam KBBI yang berarti wadah sirih yang terbuat dari kuningan atau Makna kulturalIe dalam upacara plaho masyarakat menggunakan mangkuk yang berukuran sedang untuk tempat air yang dicampur bunga cina yang dicelupkan, lalu bunga cina tersebut di percikkan kepada sajian dan orang yang kesurupan saat menari asyik. Sayak puhung Makna leksikalIe Sayak puhung menurut masyarakat adalah batok kelapa dalam bahasa. Menurut KBBI batok kelapa adalah tempurung kelapa. Makna kulturalIe tempat minum, bisa disamakan dengan kegunaan gelas. Sayak puhung biasanya digunakan untuk meminum air yang dibuat dari serbuk daun kopi yang telah dikeringkan. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Kuju Makna leksikalIe Kuju sama halnya dengan tombak KBBI berarti senjata tajam dan runcing, bermata dua, bertangkai panjang, untuk menusuk dari jarak dekat atau jauh. Makna kulturalIekuju digunakan sebagai properti pendukung yang ditancapkan sebelah menyan dan sesajian. Keris Makna leksikalIe MenurutKBBI keris adalah senjata tajam berkelok-kelok semakin keujung semakin lancip . iasanya ada sarung ny. Makna kulturalIekeris digunakan sebagai properti pendukung yang diletakkan bersama Sebagai simbol masyarakat Kerinci. Lemang Makna leksikalIeDalam KBBI lemang berarti makanan dari pulut diberi santan, dipanggang dalam tabung. Makna kulturalIelemang dalam upacara plaho ini digantung di bawah luci bersama jadah dan pisang. Setelah luci di gantungkan di sawah, makanan yang digantung dibawah luci di ambi anakanak untuk dimakan. Jadah Makna leksikal Ie Masyarakat menyebut jadah sebagai makanan yang terbuat dari ketan. Dalam KBBIketan adalah beras pulut, yang dimasak sangat Makna kulturalIe dalam masyarakat Kerinci jadah diartikan sebagai makanan yang terbuat dari tepung lalu di masak dengan dibungkus memakai daun pisang. Dalam plaho ngayun luci jadah digantungkan bersama pisang dan Pisang Makna leksikalIe Menurut KBBI pisang adalah jenis tanaman musa, buahnya berdaging dan dapat dimakan, ada bermacam-macam. Makna kulturalIepisang dalam plaho ngayun luci dijadikan sebagai bahan sajian yang digantung bersama lemang dan jadah dibawah luci. Jamba Makna leksikalIe Jamba sama halnya dengan sajen dalam KBBI yang berarti makanan atau bunga bungaan dsb yang disajikan untuk persembahan kepada roh halus. Makna kulturalIejamba di daerah Kerinci sama halnya dengan sesajen yang ada di daerah Jawa. Dimana terdapat nasi dan lauk pauk yang disajikan untuk nenek moyang. Namun jamba ini sendiri lebih sedikit daripada sesajen. Jamba hanya menggunakan dua piring kecil yang diisi sedikit nasi dan sedikit lauk. Panyihi Makna leksikalIePenyihi Ini sama halnya dengan sirih dalam KBBItumbuhan merambat, daunnya dimakan bercampur gambir. Makna kulturalIepenyihi bagi masyarakat Kerinci adalah sirih yang lengkap dengan pinang, kapur, gambir dan siap dimakan sebagai salah alat pemanggilan roh nenek moyang yang dianggap paling disukai nenek moyang. Bungo adun tujuh Makna leksikalIeMengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan Bongo berati bunga KBBI adalah sesuatu yang dianggap indah indah. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adun sama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBIbilangan setelah enam. Makna kulturalIebungo adun tujuh adalah bunga dengan tujuh macam dan warna. Digunakan sebagai syarat setiap plaho yang diletakkan di atas bakun bersama sirih dan beras Limau padang Makna leksikalIeLamau padang adalah jeruk nipis, dalam KBBI berarti jeruk yang buahnya kecil dan hanya diambil airnya . ntuk pelengkap masaka. Makna kulturalIe masyarakat mempercayai bahwa jenis jeruk ini aromanya sangat disukai oleh roh nenek moyang. Sangkak Makna leksikalIeDalam KBBI sangkak adalah dahan kayu. Makna kulturalIesangkak yang dipakai dalam tradisi plaho ini hampir mirip dengan sangkak ayam. Hanya saja sangkak yang dipakai ini lebih kecil. plaho naek niti mahligai Mantra: Ai Bukan gesik lah sumbarang gesik Ini gesik lah di tengah laman Bukan asyik lah sumbarang asyik Ini asyik kami mandi taman. Ai Sejak mano mulai dibukain Sejak bukain ito tigo ito Sejak mano mulai dimumain Sejak ditanah ado mulo ado Ai Dimulangkah dimunapak ateh batu Mao sihih alah dingan tigo gayo Mao lah pinang lah dingan dipurajut Jagolah ninek dingan rajo putih Putih hati lah jirenih nyo badan Makna leksikal Ai Bukan pasir sembarang pasir Ini pasir di depan rumah Bukan asyik sembarang asyik Ini asyik kami mandi taman Ai Dari mana mulai memakai kain sejak memakai kain lipat tiga lipat Dari mana mulai memainkan Sejak dari tanah ada mulai ada Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Ai Melangkah menginjak batu Membawa sirih 3 ikat Membawa pinang sers ikatannya Jagalah nenek moyang dengan raja putih Putih hatinya dan jernih badannya Makna kultural Plaho ini adalah plaho yang dilaksanakan secara khusus untuk penobatan gelar adat sko atau saleh. Ada dua tahapan dalam plaho ini. Yang pertama yaitu persiapan sesajian dan kedua acara puncak. Pada acara puncak akan ditampilkan tarian niti mahligai yang diiringin alat musik dan lantunan mantra-mantra untuk mendatangkan roh nenek moyang. Roh nenek moyang telah datang ditandai dengan adanya penari yang kesurupan. Alat dan bahan Sangkak Makna leksikalIeDalam KBBI sangkak adalah dahan kayu. Makna kulturalIesangkak dalam pelaksanaan plaho dijadikan sebagai pelengkap untuk tempat tinggalnya nenek moyang yang datang pada saat ritual dilaksanakan. Kemenyan Makna leksikalIe Menurut KBBI kemenyan berarti dupa dari tumbuhan yang harum baunya ketika dibakar. Makna kulturalIekemenyan adalah suatu hal yang wajib digunakan dalam ritual pemanggilan nenek moyang. Bungo adun tujuh Makna leksikalIeBungo adun tujuh Mengandung tiga suku kata yaitu bungo, adun dan tujuh. Bongo berati bunga KBBI adalah sesuatu yang dianggap indah indah. bagian tumbuhan yang merupakan bakal buah. Adunsama halnya dengan campuran dalam KBBI sesuatu yang dikumpulkan sehingga menyatu: sesuatu yang tercampur. Lalu tujuh dalam KBBI bilangan setelah enam. Makna kulturalIebungo adun tujuh adalah bunga dengan tujuh macam dan warna. Digunakan sebagai syarat setiap plaho yang diletakkan di atas bakun bersama sirih dan beras. Limau padang Makna leksikalIeLamau padang adalah jeruk nipis, dalam KBBIberarti jeruk yang buahnya kecil dan hanya diambil airnya . ntuk pelengkap masaka. Makna kulturalIe dalam plaho limau padang dijadikan sebagai pelengkap sajian, dengan aromanya yang khas mampu membawa suasana yang lebih gaib. Makna leksikalIe Beling dalam KBBI berarti pecahan kaca. Makna kulturalIebeling dalam plaho ini dijadikan sebagai salah satu properti tari, yang nantinya akan diinjak-injak oleh peserta plaho dalam tari asyik yang telah di doakan terlebih dahulu. Pedang Makna leksikalIeDalam KBBI pedang berarti parang panjang. Makna kulturalIepedang termasuk kedalam properti pelaksanaan tari asyik, yang mana Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x pedang akan di letakkan di tahah dengan di sangga oleh kayu dan penari akan berjalan dan menari di atasnya. Telur Makna leksikalIe Dalam KBBI telur berarti barang atau benda bercangkang yang mengandung zat hidup bakal anak yang dihasilkan oleh unggas, golongan ovipar. Makna KulturalIe dalam plaho naek niti mahligai ini ada banyak pertunjukan, salah satunya berjalan di atas telur. Namun telur yang ini tidak pecah ketika diinjak oleh para penari. Paku Makna leksikalIePaku KBBI berarti pasak dari besi. Makna kulturalIe paku juga digunakan sebagai media tari, yang nantinya akan diinjak oleh para penari tanpa luka sedikitpun. Bara api Makna leksikalIeTerdiri dari dua suku kata yaitu bara dan api. Bara dalam KBBI adalah sesuatu yang terbakar dan masih menyala. Sedangkan apiadalah kebakaran, semangat, perasaan menggelora. Makna kulturalIe sama halnya dengan paku, tombak, dan beling. Bara api digunakan sebagai media tari yang nantinya akan diinjak oleh para penari. Makna leksikalIeCinano menurut masyarakat sama halnya dengan cerana dalam KBBI yang berarti wadah sirih yang terbuat dari kuningan atau Makna kulturalIecinano dipercaya sebagai air pengobatan dan disukai oleh roh nenek moyang. Gong Makna leksikalIeDalam KBBI gong berarti paling terakhir. gamelan berupa canang besar. Makna kulturalIeGong adalah alat musik yang biasa digunakan dalam mengiringin nyanyian atau lantunan mantra dan doAoa yang ditujukan untuk pemanggilan roh nenek moyang di daerah Kerinci. Sap atau rebana Makna leksikalIeMenurut KBBI rebana adalah gendang kecil yang berkulit satu sisi. Makna kulturalIe biasanya masyarakat menjadikan rebana sebagai alat musik tradisional yang biasa digunakan untuk sikie rebana dalam tradisi Kerinci dan juga untuk mengiringi tari asyik. plaho tulak bla Plaho ini biasanya dilakukan di sudut lapangan bola yang ada di desa Koto Aro. Biasanya belian yang akan memimpin acara plaho melakukan ritual di kuburan nenek moyang yang menurunkan ilmu tersebut kepadanya. Mantra: Hai adam Pujur kajang-kajang siluang di tengah laman lagi jauh munggantung ikat. Sudah dekat munggantung tangan, kaki tiunju lengan tigenggang. imak diubat sihati kami bilo kayo bumulo tibo. Mintak di jago mintak dibena lah si bumi ini. Jago-jago kimak-kimak lah langkah kami, imak titulak bla ngan tibo imak tijago situbuh kami. Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Gerak-gerak jago-jago si jago insan, kami mungimbau lah kayo-kayo. Mintak dipapah mintak dibantu. Berkat lailahaillallah Makna leksikal Hai adam Pujur ikat-ikat siluang di tengah halaman masih jauh menggantung ikat. Sudah dekat menggantung tangan, kaki dijulurkan tangan direnggangkan. agar diobat hatinya kami kapan anda awalnya datang. Minta dijaga minta dibuatkan bumi ini. Jaga-jaga lihat-lihat langkah kami, agar tertolak bala yang datang agar terjaga tubuhnya kami. Gerak-gerak jaga-jaga sijago insan . stilah orang hebat dikerinc. , kami memanggil Anda semua. Minta dibimbing minta dibantu. Berkat laillahailallah Makna kultural Plaho tulak bla dilakukan ketika adnya musibah yang terjadi pada suatu keluarga atau masyarakat. Misalnya adanya kesialan yang terjadi, kemalingan, dan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di tengah masyarakat atau keluarga. Palho ini dipercaya bisa menangkal kesialan dan agar jalan hidup masyarakat jadi lebih mudan dan tidak ada halangan. Bahan dan alat Ikat Makna leksikalIeIkat dalam KBBI adalah tali untuk menyatukan sesuatu, tali untuk menambat. ari kayu, loga ds. yang dipakai untuk Makna kulturalIe masyarakat menyebut ikat adalah suatu hal yang wajib dalam ritual plaho ataupun hanya berobat saja kepada belian saleh. Ikat merupakan beras yang dimasukkan kedalam bakun dan diletakkan sirih Jamba Makna leksikalIeJamba sama halnya dengan sajen dalam KBBI yang berarti makanan atau bunga bungaan dsb yang disajikan untuk persembahan kepada roh halus. Makna kulturalIejamba adalah bentuk kecil dari sajen. Sajen biasanya dalam bentuk banyak, namun jamba hanya berbentuk nasi yang dimasukkan kedalam piring dan diletakkan di sudut rumah bersama air minum berupa teh atau kopi dan juga kemenyan. Penyihi Makna leksikalIe Penyihi Ini sama halnya dengan sirih dalam KBBI tumbuhan merambat, daunnya dimakan bercampur gambir. Makna kulturalIepenyihi bagi masyarakat Kerinci adalah sirih yang lengkap dengan pinang, kapur, gambir dan siap dimakan sebagai salah alat pemanggilan roh nenek moyang yang dianggap paling disukai nenek moyang. Keris Makna leksikalIeKBBI keris adalah senjata tajam berkelok-kelok semakin keujung semakin lancip . iasanya ada sarung ny. Makna kulturalIekeris merupakan salah satu benda pusaka peninggalan nenek moyang yang ada di Oktania. Nazurty. Nurfitri Susanti: Makna Tradisi Lisan Plaho di DesaA Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra Volume 1. No. September 2022 P-ISSN x-x https://online-journal. id/kal E-ISSN x-x Kerinci. Setiap belian saleh memiliki keris yang diturunkan oleh orang terdahulu sebagai pegangan yang memiliki kekuatan roh nenek moyang. PEMBAHASAN Subbab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang telah peneliti dapatkan selama berada dilapangan. Keseluruhan data yang terdapat pada hasil penelitian telah peneliti paparkan sebagaimana analisis makna sastra lisan plaho di desa Koto Aro. Siulak. Kerinci. Adapun teori makna yang digunakan adalah teori makna yang dikemukakan oleh Charles Carpenter Friest. Mantra menjadi sasaran yang tepat dalam penggunaan teori makna tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak objek lain dari kebudayaan di Indonesia khusunya Jambi yang dapat dikaji menggunakan pendekatan antropolinguistik dengan menggunakan teori makna oleh Fries. Makna adalah objek analisis yang dapat dikaji dengan berbagai cabang ilmu lainnya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Diah Pramesti, yang berjudul Makna Leksikal dan Makna Kultural Istilah Dalam Tradisi Ngarot di Kecamatan Lelea Indramayu. Dengan demikian, hasil penelitiannya tersebut dapat menjadi bahan perbandingan dalam penelitian ini. Selain itu terdapat juga penelitian lain mengenai analisis makna yaitu karya Hanifah Andini dkk yang berjudul Makna Kultural Pada Leksikon Perlengkapan Seni Begalan Masyarakat Desa Salakabang Kecamatan Kaligodang Kabupaten Purbalingga. Penelitian tersebut mendeskripsikan makna kultural dari nama-nama perlengkapan pada seni begalan yang ada di desa tersebut. Makna yang dipaparkan dalam penelitian ini dalah makna yang berhubungan dengan mantra dan alat bahan yang digunakan dalam tradisi persembahan untuk para leluhur yaitu ritual plaho yang sering dilakukan oleh masyarakat Kerinci terutama desa Koto Aro. Adanya kepercayaan animisme dan dinamisme oleh para masyarakat kerinci pada zaman dahulu menjadikan tradisi-tradisi yang bersifat gaib ini masih dilakukan oleh keturunannya sampai saat sekarang ini. Simpulan Plaho yang penulis bahas ini adalah plaho yang masih dilakukan oleh masyarakat desa Koto Aro Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci. Terdapat 10 macam plaho yang masih ada dan dilakukan masyarakat dengan paling sedikit ada lima alat dan bahan dalam satu plaho. Ada beberapa fungsi dari plaho dengan keunggulannya masing-masing seperti mendinginkan rumah, rasa syukur, penghormatan kepada nenek moyang, pengobatan, pelindung dari marabahaya, serta menjaga silaturahmi. Daftar Pustaka A.