Tamasya: Jurnal Pariwisata Indonesia Volume 2. Nomor 3. September 2025 E-ISSN . : 3064-3260. P-ISSN . : 3064-3287. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/tamasya. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/Tamasya Strategi Pengembangan Potensi Makam Watu Cenik Wonogiri sebagai Wisata Ziarah guna Meningkatkan Kunjungan Wisatawan Alifah Nurul Hidayat 1*. Situ Asih 2 Program Studi Pariwisata Buddha. Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya. Indonesia Email : alifahnh1157@gmail. *Penulis Korespondensi: alifahnh1157@gmail. Abstract. Wonogiri Regency in Central Java Province has great potential for sustainable tourism development, particularly through the integration of nature and religious tourism. This study aims to analyze the development strategy of the Watu Cenik Tomb in Sendang Village as a pilgrimage destination, which involves the historical value of the tomb of the Kyai Solo Sumarto IX family, the natural landscape of the Gajah Mungkur Reservoir, and cultural traditions such as Grebeg Syawalan. Using Richard Butler's Sustainable Tourism theory with the Tourism Area Life Cycle (TALC) model, this study applies a descriptive qualitative method through intensive interviews, observations, and documentation of stakeholders such as tourism managers, local communities, and tourists. The results of the study show that Watu Cenik has the potential to be an attractive pilgrimage destination, but its appeal is not yet optimal, with visits limited to private pilgrimages and the local community. The efforts of BUMDes Sendang Pinilih, such as the construction of homestays, shuttle services, and social media promotion, have increased visitor numbers, but additional facilities such as souvenir kiosks, local culinary offerings, photo spots, tour guides, and infrastructure improvements are still needed to attract more visitors and support the creative economy. The research conclusion emphasizes the importance of intensive digital promotion, integrated tour packages, and stakeholder collaboration to realize sustainable tourism that preserves cultural heritage while improving community welfare. Suggestions for further research include integrating mixed methods with quantitative analysis to measure economic impact and comparisons with similar destinations. Keywords: development, pilgrimage, sustainable, tourism. Wonogiri Kabupaten Wonogiri di Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, khususnya melalui integrasi wisata alam dan religi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan potensi Makam Watu Cenik di Desa Sendang sebagai destinasi wisata ziarah, yang melibatkan nilai sejarah makam keluarga Kyai Solo Sumarto IX, lanskap alam Waduk Gajah Mungkur, dan tradisi budaya seperti Grebeg Syawalan. Menggunakan teori Pariwisata Berkelanjutan Richard Butler dengan model Tourism Area Life Cycle (TALC), penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara intensif, observasi, dan dokumentasi terhadap pemangku kepentingan seperti pengelola wisata, masyarakat lokal, dan wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Watu Cenik memiliki daya tarik sebagai objek wisata ziarah yang belum optimal, dengan kunjungan terbatas pada ziarah pribadi dan komunitas lokal. Upaya BUMDes Sendang Pinilih, seperti pembangunan homestay, layanan shuttle, dan promosi media sosial, telah meningkatkan kunjungan, namun masih diperlukan pengembangan fasilitas tambahan seperti kios suvenir, kuliner lokal, spot foto, pemandu wisata, serta perbaikan infrastruktur untuk menarik lebih banyak pengunjung dan mendukung ekonomi kreatif. Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya promosi digital intensif, paket wisata terintegrasi, dan kolaborasi stakeholder untuk mewujudkan wisata berkelanjutan yang melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saran untuk penelitian lanjutan meliputi integrasi metode campuran dengan analisis kuantitatif untuk mengukur dampak ekonomi dan perbandingan dengan destinasi serupa. Kata kunci: berkelanjutan, pengembangan, wisata. Wonogiri, ziarah LATAR BELAKANG Pariwisata mencakup semua aspek yang terkait dengan perjalanan wisata, seperti perusahaan, objek wisata dan atraksi, serta kegiatan yang mendukung penyelenggaraan pariwisata (Fauzi et al. , 2. Dalam konteks ini. Kabupaten Wonogiri di Provinsi Jawa Naskah Masuk: 21 Juli 2025. Revisi: 12 Agustus 2025. Diterima: 20 September 2025. Terbit: 30 September 2025 Strategi Pengembangan Potensi Makam Watu Cenik Wonogiri sebagai Wisata Ziarah guna Meningkatkan Kunjungan Wisatawan Tengah menawarkan peluang besar untuk pengembangan industri pariwisata (Suranny, 2. Wonogiri adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Indonesia. Kabupaten ini terletak di bagian tenggara provinsi tersebut, berbatasan dengan Kabupaten Pacitan dan Ponorogo (Jawa Timu. di timur. Kabupaten Gunungkidul (DIY) di selatan, serta Kabupaten Sukoharjo. Karanganyar, dan Sragen di barat dan utara. Keberadaannya yang strategis ini menjadikan Wonogiri sebagai pintu gerbang antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekaligus kawasan penyangga Waduk Gajah Mungkur yang menjadi ikon utama kota tersebut. Wonogiri menawarkan berbagai objek wisata yang dapat dikategorikan ke dalam wisata alam, wisata budaya, serta wisata minat khusus (Nugroho et al. , 2. Kabupaten Wonogiri menjadi daerah yang mendukung pariwisata berkelanjutan yang diimplementasikan dalam bentuk desa wisata, salah satunya adalah Desa Sendang dengan potensi atraksi wisata berbasis alam dan budaya (Syahari et al. , 2. Daerah ini menonjolkan Waduk Gajah Mungkur sebagai simbol utama serta ritual Grebeg Syawalan yang diadakan setiap tahun dengan melibatkan warga setempat secara aktif, menciptakan pesona istimewa yang melekat pada desa tersebut. Desa Sendang memiliki daya tarik wisata yang dikelola oleh BUMDes Sendang Pinilih, yaitu Watu Cenik dan Puncak Joglo (Putri et al. , 2. Watu Cenik merupakan sebuah batu besar alami yang menjulang dramatis, serta Puncak Joglo dengan spot observasi yang ikonik, menyuguhkan panorama spektakuler Waduk Gajah Mungkur dari ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Pengunjung dapat menikmati pemandangan waduk air yang jernih, termasuk hamparan hijau perbukitan dan sawah terasering, terutama saat matahari terbenam atau terbit, yang sering disebut sebagai "titik matahari terbit/terbenam" alami. Selain keindahan alam yang memukau. Watu Cenik juga menyimpan nilai sejarah yang mendalam, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman lebih dari sekadar Di tempat tersebut terdapat makam keluarga Raden Ngabehi Poncoprabowo, yang lebih dikenal sebagai Kyai Solo Sumarto IX, seorang bangsawan terhormat dari Kadipaten Mangkunegaran salah satu kerajaan kecil di Surakarta yang berdiri pada abad ke18. Tokoh ini bukan hanya seorang pemimpin spiritual, tetapi juga sosok yang berperan dalam dinamika politik kerajaan Jawa pada masa itu. Aspek ini berpotensi menjadi daya tarik sebagai wisata ziarah di Watu Cenik untuk mendorong peningkatan jumlah pengunjung wisata. Tradisi ziarah kubur tetap menjadi salah satu praktik keagamaan yang kuat dan eksis di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, mencerminkan nilai spiritual yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari (Mirdad et al. Praktik ini telah berevolusi dari ritual pribadi menjadi pusat kunjungan massal yang menarik peziarah setiap tahun, sehingga berkembang menjadi bentuk wisata religi yang Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 E-ISSN . : 3064-3260. P-ISSN . : 3064-3287. Hal. mengintegrasikan dimensi spiritual dengan elemen rekreasi dan budaya. Awalnya, ziarah berbentuk ritual keagamaan murni, yang selanjutnya berevolusi menjadi wisata ziarah . ilgrimage touris. Wisata ziarah didefinisikan sebagai perjalanan wisata yang bertujuan melibatkan unsur agama, sejarah, tradisi adat istiadat, serta keyakinan yang dianut oleh peserta tur atau komunitas masyarakat (Muliadi et al. , 2. Nilai sejarah mendalam dari makam keluarga Kyai Solo Sumarto IX di Watu Cenik, mencerminkan potensi serupa dengan situs wisata religi lainnya di Jawa. Menurut penelitian (Mardiyana et al. , 2. , wisata religi di Gunung Srandil merupakan situs keramat yang telah ada sejak zaman dahulu dan diwariskan secara turun-temurun dari leluhur, di mana kawasan ini dianggap sebagai objek wisata religi yang dikramatkan oleh kalangan masyarakat setempat yang memegang keyakinan tersebut secara berkelanjutan. Namun, berbeda dengan Gunung Srandil yang telah berkembang menjadi pusat ziarah massal, potensi Watu Cenik masih terbatas pada kunjungan pribadi atau komunitas keagamaan, sehingga menimbulkan celah . dalam pengembangan wisata religi berbasis alam yang terintegrasi di Wonogiri. Meski begitu, kebanyakan wisatawan belum menyadari bahwa Watu Cenik bisa menjadi destinasi wisata ziarah yang khas dan menarik, mengingat kunjungan untuk berziarah biasanya hanya dilakukan oleh keturunan langsung dari keluarga Poncoprabowo atau komunitas keagamaan di sekitar. Faktor penyebabnya adalah kurangnya promosi yang luas, sehingga situs makam tersebut lebih dikenal sebagai tempat suci yang bersifat pribadi daripada sebagai objek wisata yang terbuka untuk umum. Selain itu, potensi makam ini belum tergarap secara optimal, dimana aksesibilitas, fasilitas pendukung, dan promosi masih terbatas, sehingga belum mampu bersinergi penuh dengan daya tarik wisata lainnya. Oleh karena itu, strategi pengembangan potensi makam ini menjadi krusial untuk menciptakan wisata religi berbasis alam yang berkelanjutan, yang tidak hanya melestarikan warisan budaya tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Sendang melalui homestay, kerajinan tangan, dan kuliner lokal, serta meningkatkan pendapatan daerah Wonogiri secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas berbagai strategi pengembangan, mulai dari perencanaan infrastruktur hingga pemasaran digital, guna mewujudkan visi tersebut. KAJIAN TEORITIS Teori Pariwisata Berkelanjutan yang dikembangkan oleh Richard Butler . menekankan pentingnya keseimbangan tiga pilar utama yaitu, ekonomi . eperti peningkatan pendapatan masyarakat melalui pariwisat. , sosial-budaya . elestarian warisan dan nilai loka. , serta lingkungan . erlindungan sumber daya alam dari degradas. dalam pengembangan Strategi Pengembangan Potensi Makam Watu Cenik Wonogiri sebagai Wisata Ziarah guna Meningkatkan Kunjungan Wisatawan destinasi wisata, dengan model "Tourism Area Life Cycle" (TALC) yang mengilustrasikan proses kehidupan suatu tahapan dari tahap awal . i mana pengunjung terbatas dan autenti. , keterlibatan . eningkatan partisipasi loka. , pengembangan . nvestasi infrastruktu. , konsolidasi . eseimbangan pertumbuha. , hingga stagnasi atau ringkasan jika tidak dikelola secara adaptif, yang dapat dihindari melalui strategi berkelanjutan. Menurut Butler dalam artikel (Zanuba et al. , 2. , kecocokan antara destinasi wisata dan segmen pasar yang dituju krusial untuk mendukung perkembangan dan kelangsungan destinasi, serta kecocokan optimal dapat diraih lewat manajemen yang efisien, kreativitas, serta penyesuaian dengan evolusi kebutuhan dan selera pengunjung. Teori ini sangat terkait langsung dengan pengembangan religi-alam di Desa Sendang. Wonogiri, di mana Waduk Gajah Mungkur sebagai ikon alam dan perbukitan di sekitarnya berfungsi sebagai basis ekosistem yang rentan terhadap overtourism, sementara makam bersejarah Kyai Solo Sumarto IX di Watu Cenik mendukung pemberdayaan ekonomi komunitas melalui inisiatif seperti homestay, kuliner lokal berbasis tradisi Jawa, dan kerajinan tangan yang dihasilkan oleh BUMDes Sendang Pinilih. Dengan penerapan model TALC. Desa Sendang yang kini masih berada dalam tahap eksplorasi . engan kunjungan wisatawan yang terbatas hanya untuk ziarah pribadi dan wisata ala. berpotensi berkembang ke tahap konsolidasi melalui investasi infrastruktur, seperti fasilitas pendukung yang berkelanjutan serta promosi digital yang bertanggung jawab, guna mengatasi transmisi infrastruktur dan promosi yang terjadi di Wonogiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif sebagai pendekatan utama untuk menguraikan dan menafsirkan fenomena pengembangan potensi Makam Watu Cenik sebagai destinasi wisata ziarah secara komprehensif, dengan penekanan khusus pada eksplorasi mendalam terhadap konteks budaya, pengalaman spiritual, serta pandangan subjektif dari para pemangku kepentingan seperti pengelola wisata, masyarakat lokal, dan wisatawan. Penelitian kualitatif deskriptif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, menguraikan, dan menafsirkan fenomena secara mendalam melalui data non-numerik, seperti kata-kata, pengalaman, dan konteks subjektif. Lokasi penelitian dipilih di Objek Wisata Watu Cenik, yang terletak di Desa Sendang. Wonogiri. Jawa Tengah yang memungkinkan pengamatan langsung terhadap dinamika pengembangan wisata ziarah dan potensinya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara intensif dengan informan penting, observasi. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 E-ISSN . : 3064-3260. P-ISSN . : 3064-3287. Hal. serta dokumentasi untuk mengeksplorasi strategi pengembangan, hambatan, dan aspirasi secara interaktif. Pendekatan ini memfasilitasi analisis holistik yang menghasilkan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan potensi wisata ziarah guna mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan secara berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Wonogiri di Provinsi Jawa Tengah menawarkan peluang signifikan untuk kemajuan industri pariwisata (L. Putri, 2. Lanskap alam, warisan budaya, dan sumber daya manusia berperan sebagai fondasi utama dalam pengembangan sektor wisata di wilayah tersebut, salah satunya adalah Watu Cenik. Watu Cenik merupakan salah satu tempat wisata yang dikelola oleh BUMDes yang terletak di Desa Sendang. Kecamatan Wonogiri. Kabupaten Wonogiri. Provinsi Jawa Tengah. Desa sebagai destinasi wisata telah menjadi komponen krusial dalam proses pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia (Dewi et al. Nama Watu Cenik berasal dari bahasa Jawa, yang merujuk pada susunan batu-batu kecil yang terletak di sekitar dan di atas batu besar. Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati panorama Waduk Gajah Mungkur dengan jelas dari puncak bukit. Waduk Gajah Mungkur telah menjadi ikon kota Wonogiri, dan terdapat berbagai titik untuk menikmati luasnya perairan waduk tersebut, termasuk di Watu Cenik. Gambar 1. Objek Wisata Watu Cenik. Sumber: Peneliti, 2025 Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 5. 000 per orang dan Rp 2. 000 untuk parkir sepeda motor, wisatawan sudah bisa menjelajahi wisata di atas bukit yang menawarkan pemandangan menakjubkan. Di pagi hari, pengunjung dapat menyaksikan terbitnya matahari dengan jelas serta panorama Gunung Lawu yang megah. Udara sejuk di sore hari juga sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati matahari terbenam di area perbukitan. Selain Strategi Pengembangan Potensi Makam Watu Cenik Wonogiri sebagai Wisata Ziarah guna Meningkatkan Kunjungan Wisatawan pemandangan alamnya yang menarik, wisata ini juga kaya akan budaya dan sejarah. Terdapat makam yang bersejarah yang terletak di objek wisata tersebut. Walaupun berada di ketinggian sekitar 300 mdpl, wisata ini memiliki akses yang mudah dijangkau bagi wisatawan. Makam tersebut merupakan makam keluarga Raden Ngabei Poncoprabowo. Sehingga adanya makam keluarga Raden Ngabei Poncoprabowo atau Kyai Solo Sumarto dapat menjadi peluang wisata ziarah sebagai upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Gambar 2. Makam di Watu Cenik. Sumber: Peneliti, 2025 Menurut cerita lisan yang diturunkan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat dan keturunan keluarga. Kyai Solo Sumarto termasuk di antara Saksi mata berdirinya awal Mangkunegaran pada tahun 1757, saat Raden Mas Said . emimpin pemberontak Trunajay. membangun kerajaan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap Kesultanan Mataram. Namun, di balik kontribusinya. Poncoprabowo atau nama asli Kyai Solo Sumarto terlibat dalam konflik internal yang rumit dengan pihak keluarga kerajaan utama. Konflik ini dipicu oleh tuduhan nepotisme, di mana ia berjanji memihak keluarga dalam urusan istana, yang melanggar norma-norma feodal saat itu. Akibatnya. Raden Poncoprabowo dan seluruh keluarganya diusir secara paksa dari istana Mangkunegaran di Surakarta. Pengusiran ini bukan hanya kehilangan status sosial, tetapi juga pemicu perjalanan panjang yang penuh tantangan, mereka melarikan diri ke pedalaman, menghindari pengawasan kerajaan, dan akhirnya menetap di Desa Sendang yang terpencil di kawasan perbukitan Wonogiri. Lokasi ini, dengan medan yang sulit dijangkau, memberikan perlindungan alami bagi mereka untuk membangun kehidupan baru, sambil mempertahankan tradisi keagamaan dan budaya Jawa. Kini. Makam Keluarga tersebut yang terdiri dari beberapa batu nisan sederhana masih terawat dengan baik oleh warga desa. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 E-ISSN . : 3064-3260. P-ISSN . : 3064-3287. Hal. Makam Raden Ngabei Poncoprabowo ini menjadi salah satu makam bersejarah dan menjadi potensi sebagai wisata ziarah di tempat ini. Menurut salah satu pengelola wisata Watu Cenik, makam ini sering dikunjungi wisatawan setelah adanya tradisi Grebeg Syawalan yang sudah dilaksanakan selama 2 tahun terakhir ini tepatnya di setiap bulan syawal. Wisatawan yang berkunjung umumnya merupakan bagian dari Panitia Njeng Sunan yang merupakan kelompok perwakilan masyarakat Njeng Sunan Surakarta yang menjadi pelaksana tradisi Grebeg Syawalan di desa tersebut tepatnya di Watu Cenik dan bertujuan untuk mempertahankan adat istiadat Jawa. Selain itu ada juga wisatawan yang berziarah merupakan masyarakat lokal maupun komunitas lokal di desa tersebut. Hal ini menunjukan bahwa adanya tradisi Grebeg Syawalan ini juga berperan penting dalam mengenalkan keberadaan Makam Raden Ngabei Poncoprabowo kepada masyarakat luas, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan minat terhadap warisan budaya serta sejarah Jawa. Dalam artikel (Choirunnisa & Karmilah, 2. budaya adalah cara hidup dan berkembang yang diwariskan secara turuntemurun dari generasi awal ke generasi berikutnya dalam suatu kelompok masyarakat. Seorang penduduk asli di Desa Sendang berpendapat bahwa mengubah makam tersebut menjadi destinasi wisata ziarah memang memiliki daya tarik tersendiri, tetapi itu saja tidak cukup untuk menarik arus pengunjung yang besar. Oleh karena itu, pengembangan harus dilengkapi dengan fasilitas pendukung tambahan agar lebih efektif dan menarik. Sebagai contoh, area ini dapat dikembangkan dengan membangun kios-kios suvenir yang menawarkan produk lokal, seperti kerajinan tangan atau oleh-oleh khas desa tersebut. Pembukaan kawasan kuliner di lokasi ini bisa menjadi pendekatan untuk memajukan wisata ini, dengan menyediakan berbagai pilihan hidangan, mulai dari makanan tradisional hingga modern, seperti nasi tiwul khas Wonogiri yang terbuat dari singkong fermentasi dengan cita rasa unik dan gurih. Selain itu juga adanya menu inovatif seperti ayam goreng rempah atau es krim lokal yang menyegarkan dan disajikan dalam suasana yang nyaman dengan pemandangan sekitar, serta spot-spot foto instagramable untuk menarik perhatian generasi muda. Selain itu, kehadiran pemandu wisata yang berpengetahuan luas tentang cerita sejarah makam dan tokohtokoh terkait akan memberikan pengalaman edukasi yang mendalam. Dengan langkah-langkah ini, destinasi wisata ziarah tidak hanya bisa menarik wisatawan dari luar daerah, tetapi juga mendorong kegiatan ekonomi kreatif seperti usaha kecil menengah, meningkatkan pendapatan desa melalui penjualan produk dan jasa, serta membuka lapangan kerja baru bagi warga (Pitana, 2009 dalam artikel Ernawati, 2. menyatakan bahwa pariwisata berperan pembangunan ekonomi karena pariwisata menjadi sektor unggulan dalam perolehan devisa dan penciptaan lapangan kerja termaksud Indonesia. Sehingga, wisata ini bisa Strategi Pengembangan Potensi Makam Watu Cenik Wonogiri sebagai Wisata Ziarah guna Meningkatkan Kunjungan Wisatawan menjadi model pengembangan wisata berkelanjutan yang menghubungkan warisan budaya dengan kesejahteraan masyarakat. Salah satu wisatawan yang pernah datang ke tempat wisata ini menyampaikan bahwa lokasi ini cukup menarik dan cocok untuk berkemah karena memiliki lahan yang luas. Selain itu, keberadaan kompleks pemakaman di sana menciptakan nuansa sejarah yang mendalam, diperkaya dengan nilai-nilai spiritual. Namun, sebagai wisatawan, ia merasa tidak sepenuhnya puas karena fasilitas di sana kurang diperbaiki, seperti kayu-kayu yang ditumpuk dekat tebing yang sudah tampak lapuk dan berpotensi membahayakan para pengunjung. Di samping itu, warung-warung di area tersebut sebaiknya diperbaiki agar lebih tertata dan bisa diubah dengan gaya desain tradisional yang mampu menarik minat wisatawan sendiri. Gambar 3. Spot Kayu yang Sudah Gambar 4. Warung di Watu Cenik Rapuh. Sumber: Peneliti, 2025 Sumber: Peneliti, 2025 BUMDes Sendang telah berupaya keras untuk memajukan destinasi wisata Watu Cenik guna meningkatkan jumlah pengunjung. Langkah-langkah tersebut meliputi pembangunan homestay baru yang menyediakan akomodasi nyaman dan autentik, pengadaan layanan shuttle untuk mempermudah akses transportasi bagi wisatawan, penyusunan paket wisata yang menarik seperti kombinasi tandem paralayang dan wahana speadboat, serta kampanye promosi aktif melalui akun media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Upaya ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur tetapi juga diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan domestik dan internasional, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat melalui peningkatan pendapatan dari sektor pariwisata. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 E-ISSN . : 3064-3260. P-ISSN . : 3064-3287. Hal. Gambar 5. Pembangunan Homestay. Sumber: Peneliti, 2025 Selain itu, pembukaan kompleks makam sebagai destinasi wisata ziarah bagi masyarakat umum telah dilakukan, namun masih banyak orang, baik warga lokal maupun wisatawan, yang belum mengetahui keberadaan situs tersebut serta nilai sejarahnya yang kaya. Di era digital saat ini, sektor pariwisata semakin mengandalkan media sosial sebagai instrumen utama (Kharismawati & Hidayat, 2. Secara fundamental, pemasaran digital merupakan kombinasi seni dan ilmu yang menggunakan berbagai perangkat serta strategi untuk memasarkan produk atau jasa melalui platform daring (Chandra, 2. Oleh karena itu, diperlukan strategi promosi yang intensif dan inovatif untuk mengenalkan makam ini secara luas, misalnya melalui kampanye digital di platform seperti TikTok dan YouTube, kolaborasi dengan influencer pariwisata, serta penyelenggaraan acara edukasi seperti seminar sejarah atau festival budaya. Di samping itu, pengembangan paket wisata yang menarik sangat diharapkan, seperti kombinasi ziarah dan kuliner tradisional, untuk menarik segmen wisatawan yang lebih Dukungan terhadap pengembangan fasilitas tambahan juga krusial, termasuk pembangunan toilet umum yang bersih dan ramah lingkungan, area parkir yang lebih luas dan aman, papan informasi interaktif tentang sejarah makam, serta jalur pedestrian yang diperbaiki untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan pengunjung. Langkah-langkah ini tidak hanya akan meningkatkan jumlah wisatawan di Watu Cenik tetapi juga mendukung pelestarian warisan budaya serta memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar melalui peningkatan pendapatan dari wisata. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini mengungkap potensi Watu Cenik di Wonogiri sebagai destinasi wisata berkelanjutan melalui integrasi lanskap alam, wisata ziarah Makam Raden Ngabei Poncoprabowo, dan nilai sejarah, yang dapat ditingkatkan melalui pengembangan infrastruktur, fasilitas, serta promosi digital. Hal ini berpotensi menarik wisatawan ziarah untuk Strategi Pengembangan Potensi Makam Watu Cenik Wonogiri sebagai Wisata Ziarah guna Meningkatkan Kunjungan Wisatawan meningkatkan kunjungan. Upaya BUMDes Sendang, seperti homestay, shuttle, dan kampanye media sosial, telah mendongkrak kunjungan, namun wawasan dari penduduk, wisatawan, dan pengelola menunjukkan perlunya pengembangan lebih komprehensif, termasuk kios suvenir, kuliner lokal, spot foto, pemandu wisata, dan perbaikan fasilitas, guna menarik lebih banyak pengunjung serta mendorong ekonomi kreatif bagi masyarakat. Berdasarkan itu, disarankan agar BUMDes dan pihak terkait percepat implementasi fasilitas tambahan melalui kolaborasi pemerintah daerah, komunitas lokal, dan investor swasta untuk pengembangan berkelanjutan dan inklusif. Perkuat kampanye promosi dengan influencer dan platform digital, serta menawarkan paket wisata terintegrasi seperti ziarah-kuliner, untuk menjangkau segmen wisatawan lebih luas, meningkatkan pendapatan desa dan lapangan kerja tanpa merusak pelestarian budaya. Penelitian ini terbatas pada data kualitatif dari wawancara dan observasi terbatas, tanpa analisis kuantitatif mendalam seperti survei pengunjung besar-besaran atau data ekonomi untuk mengukur dampak pendapatan. Untuk penelitian selanjutnya, integrasikan metode campuran dengan data empiris lebih luas, seperti analisis statistik kunjungan dan studi dampak ekonomi, serta perbandingan dengan destinasi wisata serupa di wilayah lain, guna memperkuat validitas temuan dan rekomendasi. DAFTAR REFERENSI Chandra. Kekuatan Algoritma dalam Komunikasi Pemasaran Digital Aplikasi Tiktok. Maha Widya Duta: Jurnal Penerangan Agama. Pariwisata Budaya. Dan Ilmu Komunikasi, 7. https://doi. org/10. 55115/duta. Choirunnisa. , & Karmilah. Strategi Pengembangan Pariwisata Budaya Studi Kasus: Kawasan Pecinan Lasem. Kampung Lawas Maspati. Desa Selumbung. Jurnal Kajian Ruang, 1. http://jurnal. id/index. php/kr https://doi. org/10. 30659/jkr. Dewi. Dienaputra. , & Rakhman. Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Lambangjaya. BARISTA: Jurnal Kajian Bahasa Dan Pariwisata, https://doi. org/10. 34013/barista. 394 https://doi. org/10. 34013/barista. Ernawati. Potensi Ekowisata Nusa Lembongan dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Tamasya: Jurnal Pariwisata Indonesia, 2. https://doi. org/10. 62383/tamasya. Fauzi. Zainy. Nasution. Hastini. , & Simanjuntak. Perancangan Aplikasi Pariwisata Berbasis Android di Kota Padang Sudempuan. Jurnal Education and Development, 11. https://doi. org/10. 37081/ed. https://doi. org/10. 37081/ed. Tamasya Ae Volume 2. Nomor 3. September 2025 E-ISSN . : 3064-3260. P-ISSN . : 3064-3287. Hal. Kharismawati. , & Hidayat. Analisis Kritis atas Peran Instagram dalam Representasi Pariwisata dan Konstruksi Identitas Budaya: Studi Kasus Pada Makam Raja Yogyakarta. Jurnal Djava, https://doi. org/10. 62771/pk https://doi. org/10. 62771/pk. Mardiyana. Dienaputra. Yuliawati. Novianti. , & Khadijah. Potensi Wisata Religi Serta Makna Ziarah di Gunung Srandil Kabupaten Cilacap. Jurnal Inovasi Penelitian, 1. , 2263. Mirdad. Helmina, & Ajira. Pembentukan Wisata Religi dalam Tradisi Ziarah Kubur. Jurnal Bidayah, 15. https://ejournal. id/index. php/bidayah https://doi. org/10. 47498/bidayah. Muliadi. Fasya. , & Ilham. Wisata Ziarah sebagai Identitas Sosial: Studi Antropologi Budaya di Makam Sultan Malikussaleh Kecamatan Samudera. Kabupaten Aceh Utara. Aceh Anthropological Journal, 4. https://doi. org/10. 29103/aaj. Nugroho. Gandasasmita. , & Manuwoto. Arahan Pengembangan Objek Wisata Menuju Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Wonogiri. Jurnal Kawistara, 5. Putri. Pengaruh Pariwisata terhadap Peningkatan PDRB Kota Surakarta. Cakra Wisata: Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 21. Putri. Setiyono. , & Herawati. Upaya Pengembangan E-Tourism (Studi Kasus Pengelolaan Wisata Watu Cenik dan Puncak Joglo oleh Bumdes Sendang Pinilih Kabupaten Wonogir. Jurnal Studi Politik Dan Pemerintahan, 13. http://w. Suranny. Analisis Permintaan dan Penawaran Wisata pada Desa Wisata Sendang Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inisiasi. Syahari. Kusumastuti, & Istanabi. Konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat pada Komponen Desa Wisata Desa Sendang Wonogiri. Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 24. Zanuba. Rahayu. , & Istanabi. Kesesuaian Penerapan Konsep Pariwisata Berkelanjutan di Objek Wisata Umbul Sigedang-Kapilaler Kabupaten Klaten. Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 26.