Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2947-2955 Analisis Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Analysis of Food Diversification Consumption Patterns in Increasing Food Security of Farming Households Nurul Lailah Atiki. Yuliana Bakari*. Mohammad Zubair Hippy Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Negeri Gorontalo Jln. Prof. Ing. Habibie. Mountong. Kec. Tilongkabila. Kab. Bone Bolango. Gorontalo, 96119 *Email: yulianabakari@ung. (Diterima 24-04-2025. Disetujui 04-07-2. ABSTRAK Desa Saritani, yang terletak di daerah terpencil dengan akses distribusi terbatas, memiliki ketahanan pangan yang belum terjamin meskipun mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Tujuan dari Penelitian ini yaitu untuk mengkaji pola konsumsi diversifikasi pangan rumah tangga petani dan faktor-faktor yang memicu diversifikasi pangan di Desa Saritani. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Boalemo. Metode yang dipakai yakni Metode kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda digunakan, dengan data dikumpulkan dengan cara survei, wawancara, dan kuesioner. Temuan penelitian menemukan bahwa angka kecukupan energi harian . 2 kkal/gram/har. belum terpenuhi. Variabel pendidikan ibu rumah tangga berpengaruh nyata namun negatif, sementara jumlah tanggungan keluarga juga berpengaruh negatif atas diversifikasi pangan. Pengeluaran rumah tangga memiliki pengaruh positif, sedangkan ketersediaan pangan tidak berpengaruh signifikan meskipun memiliki hubungan positif. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi untuk meningkatkan diversifikasi pangan dan ketahanan pangan di Desa Saritani. Kata kunci: Diversifikasi. Rumahtangga Petani. Pola Konsumsi. Ketahanan Pangan ABSTRACT Saritani Village, located in a remote area with limited distribution access, remains food-insecure despite the predominance of agriculture-based livelihoods. This study aims to examine household food consumption pattern and identify the key factors influencing food diversification among farming households in Saritani Vilage. Wonosari Sub-district. Boalemo Regency. A quantitative research design was employed, utilizing multiple linear regression analysis. Data werw collected through surveys, inetrviews, and structured Results indicate that the average daily energy adequacy . ,732 kcal/gram/da. remains below the recommended threshold. The education level of housewives demonstrated a statistically significant but negative effect on food diversification. Similarly, the number of household dependents had a negative In contrast, household expenditure positively influenced diversification, while food availability, although positively correlated, did not exhibit a statistically significant effect. These findings highlight the need for strategic interventions to promote food diversification and improve food security in rural, agriculture-dependent communities such as Saritani Village. Keywords: Diversification. Farming Households. Comsuption Pattern. Food Security PENDAHULUAN Diversifikasi pangan mencakup tiga konteks yang didalamnya mengandung konsumsi pangan, produksi dan ketersediaan. Diversifikasi pangan terkonotasi pada adanya pilihan bahan pangan alternatif untuk mengurangi ataupun menggantikan konsumsi pangan beras. Hal ini didukung oleh (Zuhry et al. , 2. yang berpendapat bahwa tanaman pangan tertinggi 2017 yaitu padi dan terendah yaitu kacang hijau. Komoditas pangan nasional yang dapat dikembangkan lagi yaitu jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah. Tidak hanya itu (Ariani, 2. berpendapat yang sama bahwa konsumsi pangan Masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan kuantitas dan keragamannya baik mencakup pangan pokok maupun jenis pangan lainnya. Padahal pangan lain selain selain beras yang tersedia masih cukup banyak. Menyediakan berbagai jenis makanan yang cukup padat gizi untuk dikonsumsi manusia merupakan Analisis Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Nurul Lailah Atiki. Yuliana Bakari. Mohammad Zubair Hippy salah satu contoh upaya diversifikasi pangan. Adanya kegiatan kuliner yang berpusat pada sumber makanan daerah semakin menegaskan hal ini. Diversifikasi pangan dapat meningkatkan kesejahteraan pangan di masyarakat dengan memastikan bahwa rumah tangga mampu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro, protein, dan lemak selain karbohidrat. Produksi pangan lokal juga akan mendukung berbagai usaha pengolahan pangan, yang secara tidak langsung akan mendukung pertumbuhan ekonomi. (Saputro et al. , 2. Secara umum, jumlah anggota keluarga, pendidikan ibu rumah tangga, dan tingkat keuangan rumah tangga dapat memengaruhi diversifikasi pangan. Permintaan pangan akan meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan. Pola konsumsi pangan juga bergantung pada pendidikan rumah tangga, menurut Rizka . yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan formal ibu rumah tangga, semakin memahami pentingnya pangan yang dikonsumsi rumah tangga dari segi kualitas untuk meningkatkan kesehatan. Karena selera anggota keluarga berbeda-beda, maka jumlah pangan yang dikonsumsi juga perlu lebih beragam seiring dengan bertambahnya jumlah anggota rumah tangga. (Suyastiri, 2. Menurut (Suyastiri, 2. jagung dan umbi-umbian yang merupakan pangan pengganti beras dapat mengurangi ketergantungan pada konsumsi beras walaupun masih didominasi oleh beras, hal ini sangat menarik untuk diteliti di provinsi Gorontalo, khususnya kabupaten Boalemo dengan jumlah orang pada tahun 2022. Dengan konsumsi pangan dominan adalah padi-padian yaitu rata-rata konsumsi perkapita mencapai 78. namun minuman dan juga makanan jadi merupakan kelompok komoditas tertinggi yang di konsumsi perbulan yakni mencapai 124. Umbi- umbian menjadi bahan pangan paling sedikit di konsumsi oleh penduduk kabupaten Boalemo yaitu hanya 5. 064 perkapita sebulan. (Gorontalo, 2. Kabupaten Boalemo memiliki salah satu desa yang letaknya di ujung barat daya dan merupakan desa terluas di Kecamatan Wonosari yaitu Desa Saritani dengan luas wilayah 64,68 meterpersegi. Desa ini memiliki kondisi akses jalan yang tidak memadai dan sangat jauh dari pusat kota dengan jarak tempuh 22 km. Maka dari itu sulitnya akses distribusi dalam melengkapi kebutuhan sandang, pangan dan papan untuk masyarakatnya. Namun Desa Saritani memiliki areal pertanian yang sangat luas yakni sebesar 1138,39 ha (Mamangkay et al. , 2. Sehingga mayoritas masyarakat di Desa Saritani merupakan petani. Jagung menjadi komoditas yang paling banyak dibudidayakan di desa tersebut. Sehingga masalah ini menjadi suatu pertanyaan yang mendasari riset ini yaitu bagaimana struktur konsumsi diversifikasi pangan di Desa Saritani. Hal ini yang mendasari penelitian yakni untuk mengetahui bagaimana pola konsumsi diversifikasi pangan pada rumah tangga petani dan menganalisis unsur-unsur yang dapat memengaruhi diversifikasi pangan oleh rumah tangga petani di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo METODE PENELITIAN Desa Saritani. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Boalemo, menjadi lokasi penelitian ini. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif merupakan metodologi yang digunakan dalam penelitian Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk mengumpulkan data mengenai suatu penyakit yang ada, khususnya gejala yang muncul selama proses penelitian. Penelitian deskriptif hanya dapat menjelaskan "apa adanya" tentang variabel atau kondisi gejala. penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menguji hipotesis tertentu. Memang benar bahwa penelitian deskriptif terkadang bertujuan untuk memvalidasi hipotesis, namun hal ini tidak lazim terjadi. Maka dari itu penelitian tipe deskriptif tidak dimaksudkan untuk dapat menguji hipotesis (Zellatifanny & Mudjiyanto, 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, kuisioner, dokumentsi, wawancara, dan Penelitian ini mengambil Desa Saritani sebagai lokasi penelitian dengan jumlah rumah tangga petani sebanyak 355. Pemilihan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa di wilayah tersebut merupakan wilayah yang penghasil pangan lokal jagung terbanyak namun angka kemiskinan tinggi (Gorontalo, 2. pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil 1020% sampel dari populasi yang ada (Gay. Millis. Geoffrey,. Airasian, 2. Maka dari itu, dari sebanyak 355 populasi rumah tangga petani di desa saritani, peneliti mengambil 10% dari populasi tersebut sehingga sampel yang dibutuhkan yaitu sebanyak 38 rumah tangga petani. Untuk mengkaji rumusan masalah pertama menggunakan deskriptif dan rumusan masalah kedua menggunakan teknik analisis data dengan cara regresi linier berganda. Menurut Ghozali . Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2947-2955 Pemeriksaan data penelitian menggunakan nilai minimum, maksimum, rata-rata . , simpangan baku, total, rentang, kurtosis, dan kecondongan distribusi dikenal sebagai statistik deskriptif. Dengan menggunakan data yang dikumpulkan, pendekatan ini berupaya memberikan gambaran luas tentang fenomena yang terkait dengan variabel penelitian. Pola diversifikasi konsumsi makanan berfungsi sebagai data deskriptif dalam penelitian ini. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mencari hubungan atau pengaruh antara variabel bebas (X) yaitu faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi pangan yakni berupa pendapatan. Tingkat Pendidikan ibu, dan jumlah anggota keluarga. Dan variable terikat (Y) yakni diversifikasi Penelitian ini dianalisis dengan metode analisis data dengan menggunakan SPSS . tatistical program for social scienc. untuk menguji dugaan yang telah diputuskan apakah dapat diterima atau ditolak, dalam perhitungan statistic menggunakan model analisis regresi linier berganda Y = b0 bX1 b2X2 b3X3 b4X4 e Keterangan: Y1 = diversifikasi pangan rumah tangga petani X1 = Pengeluaran rumah tangga petani (Rp/bula. X2 = Tingkat Pendidikan ibu rumah tangga X3 = Jumlah anggota keluarga . X4 = Ketersedian pangan b0 = Konstanta b1 = Koefisien regresi (I = 1,2,. = Koefisien error/penyimpangan HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian Desa Saritani merupakan desa yang unggul dalam bidang pertanian seperti Padi. Jagung. Kelapa, dan Sayuran dengan luas wilayah mencapai 120. 000 km2. Sehingga masyarakat memiliki sumber pangan lokal yang dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan Berikut merupakan penjabaran hasil dari Pola konsumsi diversifikasi pangan pada desa Saritani dan apa saja faktor-faktor yang dapat memengaruhi diversifikasi pangan didesa tersebut. Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan Pola konsumsi Masyarakat setiap daerah sangat berbeda dan sangat bergantung pada potensi daerah dan struktur budaya daerah itu sendiri. Saat ini padi-padian masih merupakan pangan yang dominan di konsumsi khususnya beras. Desa Saritani merupakan sebuah daerah yang memiliki potensi dibidang pertanian hal ini sangat menguntungkan Masyarakat dalam ketersedian pangan pokok lokal yang beragam seperti beras, jagung dan umbi-umbian. Berdasarkan hal tersebut pola konsumsi pangan rumah tangga petani di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo dapat dilihat sebagai berikut. Pangan Beras Jagung umbi-umbian Ikan Telur Daging Susu Minyak dan Lemak Gula Sayur Buah TOTAL Tabel 1. Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan Konsumsi Kg/Bulan Gram/Hari Kkal/Gram/Hari Sumber: Analisis Data Primer . Persentase Analisis Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Nurul Lailah Atiki. Yuliana Bakari. Mohammad Zubair Hippy Berdasarkan tabel di atas menunjukan pola konsumsi diversifikasi pangan di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo. data diatas dapat menyimpulkan bahwa konsumsi pangan di Desa Saritani yaitu sebesar 1. 732 kkal/gram/hari. dari hasil data tersebut Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo dapat dikatakan belum mampu mencapai angka kebutuhan energi perhari. Berdasarkan acuan data Susenas tahun 2019-2023 menganjurkan kebutuhan energi yang dibutuhkan perhari yaitu 2. 100 kkal/gram/hari (Badan Pangan Nasional, keterbatasan akses pasar, jalan, dan distribusi merupakan faktor utama yang harus Akibatnya, masyarakat sulit mengkonsumsi ragam makanan sehingga hanya bergantung pada pangan lokal yang ada disekitarnya. Berdasarkan data konsumsi pangan diatas beras menjadi konsumsi tertinggi dengan presentase 79% dengan konsumsi perhari 984 kkal/gram/hari. Hal ini dikarenakan rumahtangga petani masih sangat mengandalkan beras menjadi pemenuhan karbohidrat utama dalam kebutuhan seharihari. Mengingat beras memang masih menjadi kebutuhan yang paling utama di Indonesia (Rumawas et al. , 2. Minyak dan lemak merupakan konsumsi terbesar kedua setelah beras yaitu dengan presentase 95% dengan konsumsi 207 kkal/gram/hari. Berdasarkan penelitian (Hanifa et al. , 2. konsumsi lemak berlebihan, terutama yang berasal dari pengolahan dengan cara digoreng memengaruhi Kesehatan seseorang terutama dapat meningkatkan resiko obesitas dan penyakit Kebiasaan mengoreng makanan yang sangat umum di Masyarakat Desa Saritani merupakan hal yang perlu untuk dilakukan edukasi bagaimana pentingnya melakukan pengolahan makanan yang lebih sehat. Jagung yang berada di urutan ketiga, persentasenya 10. 30% dengan konsumsi 178 kkal/gram/hari. Masyarakat saritani menjadikan jagung sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras (Widianita, 2. Biasanya Masyarakat di Desa Saritani mencampurkan beras dengan jagung atau yang biasa disebut dengan nasi milu, atau nasi jagung untuk dikonsumsi sehari-hari. Oleh sebab itu. Masyarakat Desa Saritani memanfaatkan potensi pertanian jagung untuk meningkatkan keragaman Ikan merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi dengan konsumsi perharinya 130 kkal/gram/hari. Kondisi ini merupakan hal yang positif dikarenakan ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat bergizi, mengandung asam lemak omega-3 yang baik bagi Kesehatan jantung dan otak (Sulistyadewi et al. , 2. Namun, sangat disayangkan konsumsi protein hewani lainnya seperti daging, telur, dan susu masih tergolong relatif rendah. Maka dalam Upaya meningkatkan diversifikasi pangan dan kualitas gizi Masyarakat Desa Saritani memerlukan dorongan untuk memperkenalkan sumber protein hewani lainnya yang lebih bervariatif. Konsumsi protein hewani seperti daging jarang dikonsumsi dikarenakan daging tidak selalu tersedia dan terjangkau oleh Masyarakat yang dikarenakan oleh faktor harga dan ketersedian lokal. Masyarakat Desa Saritani mengkonsumsi daging hanya pada acara-acara tertentu. Umbi-umbian berada pada urutan kelima dengan konsumi perharinya mencapai 92 kkal/gram perhari, presentase konsumsinya sebesar 5. Konsumsi umbi-umbian menunjukan bahwa meskipun konsumsi umbi-umbian masih termasuk dalam kategori pangan lokal yang cukup kaya akan karbohidrat dan serat, tetapi porsi yang dikonsumsi masih tergolong kecil dibandingkan dengan beras (Soraya & Sc, 2. Masyarakat Desa Saritani mengkonsumsi umbi-umbian disaat dalam keadaan tidak ada kebutuhan pangan lainnya untuk dikonsumsi. Masyarakat akan mengandalkan umbi-umbian yang ditanam disekitar pekarangan rumah untuk dikonsumsi. Sementara di sisi lain, konsumsi sayur dan buah di Desa Saritani masih tergolong rendah, yakni masing-masing hanya mencapai 1. 36% dan 0. Rendahnya konsumsi sayur dan buah hal ini berkaitan dengan rendahnya produksi atau keterbatasan akses terhadap produk pertanian segar. Dalam hal ini, pertanian berbasis keluarga atau pertanian organik lokal dapat menjadi Solusi yang baik (Nurjati, 2. Masyarakat desa saritani mengkonsumsi sayur dan buah dari hasil pertanian sendiri seperti buah-buahan lokal seperti pisang, pepaya, mangga dll. Begitupun dengan sayuran, meraka memanfaatkan pekarangan rumah ataupun lahan pertanian yang dimiliki untuk memproduksi sayuran lokal seperti kangkung, terong, dll. Selain itu, konsumsi gula berada di peringkat 8 dengan konsumsi perharinya 22 kkal/gram/hari dengan presentasenya mencapai 1. angka ini tentunya memerlukan perhatian, meskipun tidak sangat tinggi, konsumsi gula yang berlebihan dapat beresiko masalah Kesehatan seperti, diabetes. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2947-2955 obesitas, dan gangguan metabolisme lainnya. World Health Organization (WHO) menyarankan agar konsumsi gula tidak lebih dari 10% total kalori harian (Sudarta, 2. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Diversifikasi Pangan Pada penelitian ini faktor-faktor yang dipengaruhi oleh diversifikasi pangan rumahtangga petani di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Bone Bolango yaitu: Pengeluaran rumah tangga (X. Jumlah anggota keluarga (X. Tingkat Pendidikan Ibu Rumah Tangga (X. , dan Ketersediaan (X. Untuk mengetahui keterkaitan hubungan antar masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Diversifikasi Pangan Variabel Koefisien Thitung Sig Regresi Constant <0. Pengeluaran RTP (X. Jumlah Anggota Keluarga (X. Ket Pendidikan Ibu Rumah Tangga (X. 5 Ketersediaan Pangan (X. 6 R-Squared (R. 7 Durbin-Watson(D-W) 8 Adjusted R2 9 Fhitung 10 F Sig <0. Sumber: Data SPSS diolah . Ket: ** = Berpengaruh pada tarif signifikan 5% . TB= Tidak Berpengaruh Nyata Berdasarkan tabel di atas, maka persamaan dari fungsi regresi berganda pengaruh diversifikasi pangan rumahtangga petani terhadap pengeluaran rumahtangga, jumlah anggota keluarga. Pendidikan ibu rumahtangga, dan ketersediaan, dapat ditulis sebagai berikut: Y = b0 b1X1 - b2X2 - b3X3 b4X4 e Y = 30. 081X1 - 0. 393X2- 0. 496X3 0. 118X4 e Dari rumus di atas menunjukan bahwa variabel pengeluaran rumahtangga petani dan ketersediaan memiliki dampak positif dan variabel jumlah anggota keluarga dan Pendidikan ibu rumahtangga memiliki dampak negatif terhadap diversifikasi kebutuhan pangan rumahtangga petani di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo. Pengeluaran Rumahtangga (X. Tabel 8 menunjukan variabel pengeluaran rumahtangga (X. berpengaruh positif terhadap diversifikasi pangan dengan nilai koefisien 0,081. variabel pengeluaran rumahtangga memiliki nilai t sig 0. 321 yang dimana nilai probabilitas . lebih besar dari nilai tersebut. sehingga dapat dikatakan variabel pengeluaran rumahtangga tidak berpengaruh nyata terhadap diversifikasi pangan rumahtangga petani. Maka dari hasil lapangan di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo pengeluaran tertinggi mencapai > Rp1. 000 Ae Rp3. 000 perbulannya. Dengan pengeluaran tersebut tidak dapat memenuhi diversifikasi konsumsi pangan rumahtangga petani. Melihat kondisi saat ini hargaharga pangan cenderung meningkat sehingga kebutuhan gizi yang diperlukan rumahtangga petani tidak terpenuhi. Mayoritas penduduk Desa Saritani lebih memilih mengkonsumsi bahan pangan yang diproduksi sendiri seperti umbi-umbian, jagung, sayur-sayuran, dan buah-buah sehingga tidak perlu melakukan pengeluran dalam mengkonsumsi pangan tersebut, faktor lainnya dipengaruhi oleh pengeluaran non pangan seperti biaya Listrik, biaya Pendidikan, biaya transportasi, biaya Kesehatan, dan Tabungan. Analisis Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Nurul Lailah Atiki. Yuliana Bakari. Mohammad Zubair Hippy Masyarakat cenderung akan memilih mengurangi pengeluaran untuk barang yang dianggap tidak penting dan lebih mengutamakan barang-barang yang essensial, penurunan daya beli dan lebih ketat dalam membuat Keputusan terhadap pengeluaran rumahtangga, memilih pangan yang lebih murah dan kurang bervariasi, bahkan menutupi kekurangan pengeluaran rumahtangga dengan meminjam uang baik dari kerabat, teman, dan Lembaga keuangan informal ( N a s i r , 2 0 2 5 ) . Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Purwati et al. , 2. yang menyatakan bahwa variasi pola konsumsi pangan pada tingkat pengeluaran rumah tangga didukung oleh bukti faktual. Kelas menengah bawah memiliki kebiasaan makan yang lebih sederhana dan mengutamakan konsumsi sumber kalori . yang murah, sedangkan kelas menengah atas memiliki kebiasaan makan yang lebih bervariasi dan asupan gizi yang lebih lengkap yang meliputi sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral. Jumlah Anggota Keluarga (X. Variabel jumlah tanggungan keluarga (X. memiliki efek negatif terhadap diversifikasi pangan yang artinya semakin tinggi jumlah tanggungan keluarga, maka semakin rendah angka diversifikasi pangan rumahtangga petani. Dengan angka signifikansi sebesar 0,018 yang berarti jumlah tanggungan keluarga berpengaruh nyata terhadap diversifikasi pangan rumahtangga petani. Asumsi ini dibenarkan dengan hasil analisis yang menunjukan nilai t sig . lebih kecil dari nilai probabilitas . Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo rumahtangga petani dengan tanggungan keluarganya banyak, pengeluaran untuk pangannya cenderung akan lebih meningkat. Hal ini dikarenakan jumlah kebutuhan yang harus dipenuhi akan jauh lebih banyak. Sehingga mereka akan lebih memilih mengkonsumsi pangan yang lebih murah dan lebih terjangkau, konsumsi pangan nya akan lebih sedikit, tidak bervariasi dan cenderung itu-itu saja. Sebaliknya rumahtangga dengan anggota keluarganya lebih sedikit, mereka membutuhkan kebutuhan pangan yang sedikit, sehingga mereka mampu untuk membeli bahan pangan yang lebih bervariasi dan bernutrisi. (Heriyanti, 2. jumlah anggota keluarga sangat menentukan jumlah kebutuhan keluarga. Samakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka pengeluaran untuk konsumsi pangan juga meningkat. Sebaliknya jumlah anggota keluarga yang sedikit kebutuhan konsumsi panganya akan sangat rendah sehingga memiliki akses yang luas untuk mengkonsumsi ragam, dan variasi pangan dalam rumahtangga tersebut. (Purwati et al. , 2. Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap konsumsi pangan rumah tangga, dengan kata lain semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka pengeluaran konsumsi akan semakin tinggi, berdasarkan hasil penelitiannya tentang faktorfaktor yang memengaruhi kualitas konsumsi pangan rumah tangga penerima Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. (Seno Putra, 2. mendapatkan hasil penelitian yang sama bahwa konsumsi pangan rumahtangga sangat dipengaruhi oleh jumlah besaran tanggungan keluarga. Pendidikan Ibu Rumahtangga (X. Pendidikan ibu rumahtangga berpengaruh signifikan dan dampaknya negatif terhadap diversifikasi pangan rumahtangga petani. Yang dimana jika semakin tinggi Pendidikan ibu rumahtangga petani maka semakin rendah diversifikasi pangan rumahtangganya. Hasil analisis yang menunjukan nilai t sig . lebih kecil dari nilai probabilitas . dan nilai koefisien regresi sebesar -0,494 dengan ini membuktikan pengaruh tersebut. Penelitian ini searah dengan penelitian yang ditelaah oleh (Dewanti, 2. yang menyebutkan bahwa tingkat pendidikan tidak selalu selaras dengan pola konsumsi yang dilakukan. Seseorang memiliki pilihan untuk mengkonsumsi dan memenuhi selera dari makanan yang dikonsumsi sehingga tidak selalu beriringan dengan pengetahuan. Dari penelitian yang dilakukan mayoritas Pendidikan yang dimiliki oleh ibu rumahtangga petani di Desa Saritani hanyalah tamatan sekolah dasar hingga yang tidak menempuh Pendidikan sama Meskipun hal tersebut, mereka cenderung sangat memanfaatkan sumber pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan keluarga rumahtangga petani, dengan sumber daya alam yang melimpah seperti buah, sayuran dan hasil pertanian lainnya mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2947-2955 keluarga rumahtangganya. Dengan Pendidikan yang rendah tidak dapat membatasi mereka dalam hal pengetahuan tentang keberagaman makanan. Dan memilih mengutamakan pangan yang murah dan bervariasi untuk memenuhi kebutuhan keluarga rumahtangga petani. Ibu rumahtangga dengan Pendidikan lebih diatas biasanya akan memiliki akses lebih luas ke pasar, dan lebih memilih membeli produk olahan makanan yang praktis seperti makanan siap saji. Mereka cenderung memilih makanan yang terstandarisasi, dan mengurangi keragaman dalam konsumsi sehari- hari. Sebaliknya dengan ibu rumahtangga petani yang memiliki Pendidikan rendah mereka akan lebih memanfaatkan sumber pangan yang mereka produksi sendiri atau saling berbagi bahan pangan dengan tetangganya. Keterbatasan waktu dan prioritas merupakan salah satu faktor kurangnya keberagaman pangan rumahtangga, dimana ibu rumahtangga dengan Pendidikan lebih tinggi yang pekerjaan diluar rumah dengan aktivas yang padat mereka sulit untuk mengatur waktunya untuk mencari, dan menyiapkan makanan yang beragam, mereka akan lebih memilih membeli makanan yang lebih praktis, seperti makanan produk olahan, dan siap saji sehingga mengurangi keberagaman pangan. Berbanding dengan ibu rumahtangga petani dengan Pendidikan yang rendah, mereka akan lebih banyak waktu dirumah dan memiliki lebih banyak kesempatan dalam memanfaatkan bahan pangan lokal dan beragam. Ketersediaan Pangan (X. Hasil penelitian menunjakan Variabel ketersediaan pangan terdapat hubungan yang positif namun pengaruhnya tidak signifikan terhadap diversifikasi pangan. Hal ini dikonfirmasi adanya variabel ketersediaan memiliki nilai t sig 0. 387 yang berarti nilai ini lebih besar dari nilai probabilitas . meskipun memiliki kecenderungan bahwa peningkatan ketersediaan pangan dapat meningkatkan diversifikasi pangan, hubungan keduanya tidak cukup kuat dan konsisten untuk dianggap signifikan secara statistik. Ketersedian pangan yang cukup sangat berpeluang dalam mengakses berbagai pangan yang beragam yang pada hakikatnya dapat meningkatkan diversifikasi pangan. Namun meskipun hasil penelitian ini menunjukan hubungan yang positif. Pengaruhnya tidak signifikan, sehingga mengindikasikan bahwa faktor lain mungkin lebih dominan dalam memepengaruhi pola konsumsi. Melihat hasil penelitian yang ditemukan di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo mereka cenderung selalu mengkonsumsi makanan yang telah menjadi kebiasaan mereka sehari-harinya, seperti beras dan jagung. Meskipun tersedianya berbagai jenis pangan, kurangnya pengetahuan dan manfaat dari penggolahannya menjadi hambatan untuk Masyarakat tertarik untuk mencoba pangan yang lebih bervariasi. akses dan infrastuktur yang kurang memadai menjadi tantangan bagi Masyarakat desa saritani dalam mendapatkan bahan pangan yang beragam baik karena keterbatasan akses fisik maupun keterbatasan jaringan distribusi pangan. (Rizka, 2. menyatakan hal yang sama dalam penelitiannya yang berjudul kajian diversifikasi konsumsi pangan untuk meningkatkan katahanan pangan rumahtangga nelayan. Dalam hasil penelitiannya menunjukan bahwa variabel ketersediaan tehadap pangan tidak berpengaruh signifikan terhadap konsumsi pangan rumahtangga. KESIMPULAN Pola konsumsi di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo yaitu beras masih menjadi konsumsi pangan tertinggi yakni 56,79%, sedangakan konsumsi pangan yang paling rendah yaitu daging dan susu yakni 0,00 %. Aspek-aspek yang memengaruhi diversifikasi pangan di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo yaitu jumlah anggota keluarga dan Pendidikan ibu rumahtangga. sedangkan jumlah pengeluaran dan ketersediaan pangan tidak memiliki pengaruh terhadap diversifikasi pangan. Maka dari itu Perlunya upaya dalam meningkatkan pangan lokal sesuai potensi dan sumber daya yang dikuasai, salah satunya dengan melakukan pendampingan UMKM pangan lokal dalam memperluas usaha serta promosi dan edukasi pangan lokal. Melakukan peningkatan kualitas konsumsi pangan dimasyarakat dengan sosialisasi ataupun penyuluhan terkait pengetahuan tentang pangan dan gizi keluarga. Perlunya kesadaran pemerintah dalam mengembangkan Swasta LSM Di desa Saritani kecamatan Wonosari Analisis Pola Konsumsi Diversifikasi Pangan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Nurul Lailah Atiki. Yuliana Bakari. Mohammad Zubair Hippy Kabupaten Boalemo bersama GEF-GSP akan perlunya keberangaman makanan, dan mengurangi jumlah konsumsi beras. DAFTAR PUSTAKA