Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 This Journal is available in Telkom University online Journals Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Journal homepage: https://journals. id/IJDPR IJDPR LITERASI MEDIA DALAM MENANGKAL INFORMASI HOAKS JELANG KONTESTASI POLITIK 2024 MEDIA LITERACY IN FIGHTING HOAX INFORMATION AHEAD OF THE 2024 POLITICAL CONTESTATION Titih Nurhaipah1. Zaqia Ramallah2 Universitas Majalengka, titihnur13@gmail. Univeritas Multimedia Nusantara Diterima 31 Oktober 2023 Direvisi 23 Januari 2024 Disetujui 26 Januari 2024 ABSTRAK Indonesia saat ini sedang menjalani tahun politik menjelang perhelatan pemilihan umum . pada tahun 2024 mendatang. Media sedang gencar menyajikan ragam informasi politik untuk dikonsumsi oleh publik. Penyebaran informasi hoaks atau berita palsu ini akan sangat menyesatkan membuat suasana tidak kondusif terutama terkait informasi-informasi politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman terkait pentingnya literasi informasi, khususnya untuk menangkal informasi hoaks dalam suasana pesta politik yang akan segera terselenggara di Indonesia. Selain itu, mengeksplorasi tentang landasan literasi media yang diperuntukkan bagi masyarakat akademis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang tidak bertujuan menggeneralisasi suatu fenomena. Hasil dari penelitian yakni literasi menjadi kemampuan dasar bagi publik, terutama publik akademis yang mengonsumsi informasi dalam kehidupannya. Riset ini diharapkan menjadi tambahan pengetahuan bagi publik untuk cerdas dalam konsumsi informasi utamanya informasi politik. Hal ini diperlukan untuk dapat digunakan sebagai rambu agar terhindar dari informasi palsu . Dengan demikian terdapat tiga landasan literasi media untuk menambah . kemampuan akses informasi politik. filter dan . Rujukan informasi politik yang akurat. Kata Kunci: hoaks, informasi, kontestasi politik, literasi ABSTRACT Indonesia is currently undergoing a political year ahead of the general elections . The media is intensively presenting a variety of political information for consumption by the public. The spread of hoax information or fake news will be very misleading, create an atmosphere that is not conducive, especially regarding political information. This research aims to provide an understanding of the importance of information literacy, especially to ward off hoax information in an atmosphere of political parties that will soon be held in Indonesia. In addition, it explores the foundations of media literacy for the academic community. The method used is a qualitative approach which does not aim to generalize a phenomenon. The result of the research is that literacy is a basic ability for the public, especially the academic public who consumes information in their lives. This research is expected to be an additional source of knowledge for the public to be discerning in consuming information, especially political information. This is necessary to be used as a sign to avoid false information . Thus there are three foundations for media literacy to increase . the ability to access political information. information filters. Reference to accurate political information. Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 Keywords: hoax, information, literacy, political contest PENDAHULUAN Literasi media atau kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang disajikan melalui media menjadi semakin penting di era digital ini. Informasi sekarang tersedia dalam jumlah yang sangat besar dan mudah diakses melalui internet, media sosial, dan platform lainnya. Namun, banyak informasi yang tersebar di media belum tentu benar atau dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memiliki keterampilan literasi media yang memadai untuk dapat memilah informasi yang benar dari informasi yang salah atau menyesatkan. Dengan kemampuan literasi media, individu dapat memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipercaya untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Selain itu, dengan memahami cara kerja media, individu dapat memahami bagaimana informasi disajikan dan dikomunikasikan, serta mengenali tanda-tanda manipulasi informasi atau berita palsu. Oleh karena itu, literasi media menjadi sangat penting untuk memperkuat kemampuan kritis individu dalam memilih dan menyaring informasi yang diterima. Keterampilan i ni juga penting dalam membantu individu menghindari pengaruh negatif dari informasi yang tidak dapat dipercaya atau menyesatkan. Dengan demikian, meningkatkan kemampuan literasi media harus menjadi prioritas dalam pendidikan dan pembelajaran untuk menghasilkan individu yang lebih cerdas, kritis, dan bijaksana dalam menyikapi informasi yang disajikan melalui media. Kemampuan literasi media ini bertujuan agar setiap individu mampu mengelola informasi-informasi yang dikonsumsinya. Karena pada era digital terdapat banyak informasi yang dengan mudah diperoleh dan disebarluarkan tanpa ada kejelasan informasi tersebut benar atau palsu/bohong. Berita palsu atau yang juga dikenal dengan istilah hoax adalah informasi yang sengaja dibuat atau disebarluaskan dengan tujuan untuk menipu dan memanipulasi publik (Batoebara. Suyani, & Nuraflah, 2. Berita palsu seringkali disebarkan melalui media sosial atau platform online lainnya, sehingga mudah menyebar dan sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya. Berita palsu memiliki dampak yang sangat berbahaya, karena dapat menyesatkan persepsi manusia dan memengaruhi keputusan dan tindakan yang diambil. Misinformasi yang disebarkan dapat memicu ketakutan, kebencian, dan konflik sosial, bahkan dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia. Dengan demikian, berita palsu dinyatakan sebagai informasi sesat dan berbahaya. Pemerintah dan organisasi lainnya terus berupaya untuk menanggulangi penyebaran berita palsu dengan melakukan edukasi dan kampanye kesadaran publik, serta mengembangkan teknologi yang mampu mendeteksi dan menangani konten palsu secara efektif. Penting bagi kita sebagai konsumen informasi untuk selalu bersikap kritis dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Penyebaran informasi hoaks atau berita palsu ini akan sangat menyesatkan, membuat suasana tidak kondusif terutama terkait informasi-informasi politik. Pemilihan umum atau pemilu selalu menjadi momen penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Namun sayangnya, selama proses pemilu seringkali terdapat informasi hoaks. Pada setiap tahapan pemilu, berbagai isu dan tuduhan yang tidak benar seringkali dilontarkan untuk memanipulasi pandangan publik terhadap partai atau calon tertentu. Informasi hoaks juga seringkali digunakan untuk membangkitkan rasa kebencian atau perpecahan antar kelompok publik. Hal ini sangat berbahaya, karena dapat memengaruhi keputusan rakyat dalam memilih para pemimpin negara dan wakil rakyat. Penyebaran informasi hoaks juga dapat membahayakan stabilitas keamanan dan ketertiban publik. Untuk itu, sangat penting bagi Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 publik Indonesia untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi penyebaran informasi hoaks, seperti dengan membentuk satuan tugas khusus dan mengajak publik untuk berpartisipasi aktif dalam melawan hoaks. Dalam pemilu, keberhasilan suatu kandidat atau partai harus ditentukan oleh program dan kinerjanya, bukan dengan berita palsu atau informasi hoaks yang tidak berdasar. Dengan memperkuat kualitas informasi dan meningkatkan literasi digital, diharapkan publik Indonesia dapat berpartisipasi dalam proses pemilu dengan lebih baik dan cerdas. Pemilihan umum atau pemilu merupakan salah satu bentuk implementasi kehidupan demokrasi bagi Indonesia sebagai negara demokratis (Suprayitno, 2. Pemilu merupakan proses pemilihan para pemimpin negara dan wakil rakyat yang berlangsung secara periodik. Pemilu di Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955 dan terus berlanjut hingga saat ini. Pemilu menjadi sangat penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia, karena melalui pemilu rakyat memiliki hak suara untuk memilih para pemimpin negara dan wakil rakyat yang akan mewakili kepentingan mereka. Dengan pemilu, rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan arah dan kebijakan negara. Selain itu, pemilu juga memperkuat prinsip pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat. Dalam sistem demokrasi, rakyat memiliki kekuasaan tertinggi untuk menentukan nasib negara dan bangsa. Oleh karena itu, pemilu merupakan sarana untuk mewujudkan prinsip demokrasi yang dianut oleh Indonesia sebagai negara demokratis. Dalam pelaksanaan pemilu. Indonesia telah menunjukkan komitmen dan kemampuan untuk melaksanakan pemilu secara adil, transparan, dan demokratis. Pemilu telah memberikan bukti bahwa rakyat Indonesia dapat berpartisipasi dalam proses demokrasi dan menentukan nasib bangsanya. Melalui pemilu. Indonesia terus berupaya untuk memperkuat sistem demokrasi dan meningkatkan kualitas hidup demokrasi di Indonesia. Kontestasi politik pada tahun 2024 akan menjadi momen penting bagi negara dan publik Indonesia. Di tengah pandemi yang belum mereda, publik perlu memperhatikan bahaya penyebaran informasi yang salah dan tidak akurat terkait calon-calon politik. Dalam era digital yang semakin maju, penyebaran informasi dapat terjadi dengan sangat cepat dan mudah, sehingga publik perlu lebih waspada dan cerdas dalam memilih sumber informasi yang dapat dipercaya. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya kekacauan dan ketidakstabilan politik yang dapat merugikan negara dan masyarakat secara keseluruhan. Faktanya, sebagai konsumen informasi seringkali dihadapkan pada tantangan untuk membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Sebagian besar publik masih belum memiliki kemampuan untuk secara efektif menilai kredibilitas informasi yang mereka terima, sehingga mereka mudah terjebak pada informasi yang salah atau palsu. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa faktor yang memengaruhi, seperti keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak karena memang dipengaruhi juga oleh tingkat pendidikan yang rendah (Fanaqi & Chairunnisa, 2. Bahkan atas nama kebebasan berpendapat, sebagian besar pengguna media sosial mengunggah dan membagikan tulisan, gambar, video, ke dalam akunnya. Meskipun terkadang mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan tersebut sesungguhnya bisa saja melanggar etika dalam berkomunikasi di media sosial (Rahmawati & Krisanjaya. Hal tersebut dikarenakan tingkat literasi media yang rendah sehingga menyebabkan hoaks tersebar begitu massif di masyarakat. Terlebih lagi, banyaknya generasi muda pengetahuannya minim terkait konten media yang positif menjadikan mereka lebih banyak mendapatkan dampak negatif dari akses internet (Rahmawan. Wibowo, & Maryani, 2. Dengan demikian, publik perlu memperhatikan bahaya penyebaran informasi. Maka modal utama bagi publik kini adalah melek media. Melalui literasi media yang perlunya untuk terus menerus diperkenalkan, digaungkan dan diedukasikan pada publik. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji literasi media dalam menangkal informasi hoaks dan mengeksplorasi tentang landasan literasi media bagi publiknya. Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 METODE Pendekatan kualitatif secara khas menekankan pemahaman mendalam tentang konteks dan makna, memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi kerumitan dan variasi dalam fenomena yang dipelajari. Dalam konteks menangkal informasi hoaks jelang kontestasi politik 2024, pendekatan ini dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana meningkatkan kemampuan literasi media publik untuk menangkal hoaks. Penelitian kualitatif dapat memungkinkan para peneliti untuk mengumpulkan data yang terperinci dan mendalam tentang pengalaman dan persepsi individu dan kelompok dalam menghadapi informasi hoaks. Dalam konteks menghadapi informasi hoaks, penelitian kualitatif dapat memungkinkan para peneliti untuk memahami secara lebih terperinci bagaimana individu dan kelompok merespons informasi hoaks, termasuk bagaimana mereka mengidentifikasi hoaks, bagaimana mereka menyebarluaskan informasi tersebut, dan bagaimana hoaks tersebut memengaruhi pandangan dan tindakan mereka terhadap suatu isu. Melalui pendekatan kualitatif yang mendalam, para peneliti dapat memperoleh wawasan yang lebih kaya dan kompleks tentang bagaimana orang merespons informasi hoaks, dan hal ini dapat berkontribusi pada upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif dari hoaks di masyarakat. Melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis konten media sosial, peneliti dapat mempelajari bagaimana masyarakat mengakses, menilai, dan menyebarkan informasi hoaks serta bagaimana mereka menggunakan media sosial untuk mencari informasi yang akurat dan terpercaya. Bogdan dan Taylor (Kaelan, 2. mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, catatan-catatan yang berhubungan dengan makna, nilai serta pengertian. Dengan pendekatan ini, akan membangun pemahaman faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan literasi media dalam menangkal informasi hoaks, peneliti dapat membantu mengembangkan strategi dan program edukasi yang lebih efektif untuk meningkatkan literasi media dan kesadaran tentang hoaks jelang kontestasi politik 2024. Dalam hal ini, pendekatan penelitian kualitatif dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memerangi penyebaran informasi hoaks dan memperkuat demokrasi. Analisis data dalam penelitian ini bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2. Penelitian tentang literasi media dalam menangkal informasi hoaks inipun tidak memiliki tujuan untuk menciptakan Teknik analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian dilakukan dengan cara: . pengumpulan data pada saat pra penelitian, selama penelitian, dan pasca penelitian. Pengumpulan data tersebut terkait literasi media dalam menangkal informasi hoaks terutama informasi politik. penyajian data dan pemilihan data yang dibutuhkan serta relevan dengan penelitian, kemudian disajikan. menarik simpulan dari data yang telah disajikan untuk menjadi interpretasi atau hasil penelitian. Informasi diperoleh melalui wawancara dengan informan dalam hal ini masyarakat akademis yakni siswa dan HASIL DAN PEMBAHASAN Media massa memiliki peran yang sangat penting dalam menyajikan informasi yang akurat dan berdasarkan realitas sosial. Media massa memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pandangan publik tentang suatu peristiwa atau isu tertentu. Oleh karena itu, sangat penting bagi media massa untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan berdasarkan pada realitas sosial yang sebenarnya, sehingga dapat memberikan gambaran yang objektif dan akurat bagi publik. Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 Media massa dapat menyajikan informasi berdasarkan realitas sosial dengan melakukan riset yang mendalam terhadap suatu peristiwa atau isu tertentu. Dengan cara ini, media massa dapat memastikan bahwa informasi yang disajikan bukan hanya berdasarkan pada opini atau pandangan pribadi, tetapi juga didasarkan pada fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, media massa juga dapat menyajikan informasi berdasarkan realitas sosial dengan memperhatikan keterwakilan suara dari berbagai kelompok dalam publik. Dalam menyajikan informasi, media massa harus memastikan bahwa suara dan pandangan dari berbagai kelompok dalam publik, seperti minoritas atau kelompok yang kurang terwakili, juga diakomodasi. Dengan menyajikan informasi berdasarkan realitas sosial, media massa dapat memberikan gambaran yang lebih objektif dan akurat tentang suatu peristiwa atau isu tertentu, sehingga dapat membantu publik untuk membuat keputusan yang lebih tepat dan bijaksana. Menurut Dennis McQuail . (West & Turner, 2. , media secara normatif harus bersikap Berita di media massa adalah cermin realitas sosial yang merefleksi dari kehidupan Namun penyajian realitas sosial oleh para komunikator media massa melalui berita dengan berbagai alasan teknis, ekonomis atau pun ideologis adalah diatur sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan realitas sesungguhnya (Zamroni, 2. Realitas yang tersaji dalam sebuah informasi di media banyak mempertimbangkan keterkinian atau informasi terkini. Hal apa yang sedang ramai menjadi buah bibir publik, maka menjadi ladang bagi media untuk menyajikan informasi tersebut. Pemilu 2024 merupakan momentum penting bagi negara kita untuk menentukan masa depan yang lebih baik. Namun, di era digital seperti saat ini, arus informasi yang beredar di media sosial bisa menjadi ombak besar yang mengganggu keamanan dan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi (Beta. Syobah. Tahir. Syahab, & Amin, 2. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana penghasil informasi yang Kita harus bersikap kritis dan selektif dalam memilih sumber informasi yang dapat Dengan begitu, kita bisa mengetahui berbagai informasi terkini yang berkaitan dengan pemilu 2024, seperti profil calon, visi dan misi partai politik, serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam tata cara pemilihan. Selain itu, media sosial juga dapat menjadi sarana interaksi dan dialog antara calon dan pemilih. Melalui platform ini, calon dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pemilih dan memperkenalkan diri dengan lebih baik. Hal ini akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pemilu, serta membangun kepercayaan antara calon dan pemilih. Namun demikian, penting untuk diingat bahwa media sosial hanya merupakan salah satu sumber informasi. Oleh karena itu, kita harus tetap memperhatikan dan memilah-milah informasi yang beredar di media sosial, serta memeriksa kebenaran informasi tersebut. Hanya dengan cara tersebut, kita dapat memastikan bahwa kita memperoleh informasi yang terpercaya dan berkualitas dalam rangka mendukung proses demokrasi yang sehat. Gambar 1. Temuan Isu Hoaks oleh Kemenkominfo, 2019 Sumber: Kominfo. id, 2019 Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 Dari total 1. 731 hoaks sejak Agustus 2018 hingga April 2019 yang diidentifikasi, diverifikasi dan divalidasi oleh tim AIS Kemekominfo, hoaks kategori politik mendominasi di angka 620 item hoaks. Disusul 210 hoaks kategori pemerintahan, 200 hoaks kategori kesehatan, 159 hoaks terkait fitnah, 113 hoaks terkait kejahatan dan sisanya hoax terkait isu agama, bencana alam, mitos, internasional dan isu lainnya (Kemenkominfo, 2. Melihat data yang dikeluarkan tim AIS Kemenkominfo bahwa penyebaran informasi hoaks tentang politik mendominasi di angka 620. Pemerintah selalu berupaya mencari kesimbangan antara kebebasan demokrasi dalam hal informasi dan akses pada internet (Amalliah, 2. Untuk membantu permasalahan yang menjadi perhatian serius karena hoaks dapat mempengaruhi opini publik dan bahkan memicu konflik sosial. Beberapa hoaks politik yang sering tersebar di media sosial antara lain tentang isu pemilu, kudeta, dan aksi Hoaks politik ini seringkali menggunakan narasi yang menarik dan provokatif untuk menarik perhatian pengguna media sosial. Banyak hoaks politik juga dikemas dalam bentuk gambar atau video yang diubah secara digital untuk membuatnya terlihat lebih Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk selalu melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan politik. Berdasarkan hasil penelitian faktor internal dan eksternal yang berperan menghambat literasi (Makmur & Samsudin, 2. Dinamika literasi informasi juga mengikuti perkembangan teknologi dan informasi yang terus berubah dengan cepat. Oleh karena itu, individu perlu terus memperbarui pengetahuan mereka tentang teknologi dan informasi terbaru agar dapat tetap berkompeten dalam mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif dan efisien. Maka pendidikan dan pelatihan literasi informasi di sekolah, kampus, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bahwa individu memiliki kemampuan yang cukup dalam memilih, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan baik. Akses Informasi Politik Hal utama dalam literasi adalah kemampuan memahami suatu informasi. Dalam hal ini kemampuan akses informasi politik di media sangat penting dalam menjaga partisipasi aktif dan kesadaran politik publik. Dalam era digital saat ini, informasi politik dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform media, seperti situs web berita, media sosial, dan aplikasi mobile. Namun, meskipun informasi politik semakin mudah diakses, penting untuk diingat bahwa tidak semua informasi politik yang ditemukan di media benar atau akurat. Oleh karena itu, kritis untuk memeriksa sumber dan validitas informasi politik sebelum menyebarkannya ke publik. Selain itu, media juga harus memastikan bahwa informasi politik yang disampaikan kepada publik tidak memihak kepada satu sisi atau pihak tertentu, dan menghindari terjebak pada bias politik atau komersial. Dalam upaya menjaga integritas informasi politik di media, publik perlu dilatih untuk menjadi konsumen media yang cerdas dan kritis, dan media harus memprioritaskan kualitas dan integritas informasi di atas kepentingan bisnis dan politik. Pada dasarnya informasi politik nantinya berujung pada terciptanya partisipasi rakyat terhadap agenda politik yang menjadi hal penting dalam kehidupan demokrasi, khususnya demokrasi perwakilan (Mahmudah, 2. Informasi politik yang transparan dan mudah diakses oleh publik dapat membangun kesadaran dan pemahaman yang kuat tentang proses politik dan kepentingan Hal ini dapat memungkinkan rakyat untuk memilih pemimpin yang tepat dan mempengaruhi keputusan politik yang dibuat oleh pemerintah. Dalam sebuah demokrasi perwakilan, partisipasi rakyat sangat penting untuk menjaga kualitas dan integritas dari sistem demokrasi tersebut. Partisipasi rakyat dapat dilakukan melalui partisipasi dalam pemilihan umum, memberikan masukan pada kebijakan publik, dan terlibat dalam berbagai forum atau kelompok masyarakat yang berfokus pada isu-isu politik. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga-lembaga terkait harus memberikan informasi politik yang akurat. Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 terpercaya, dan mudah diakses oleh masyarakat. Hal ini dapat meningkatkan partisipasi rakyat dalam agenda politik dan memperkuat demokrasi perwakilan sebagai sistem politik yang partisipatif dan inklusif. Di masa depan keterbukaan informasi menjadi hal wajib untuk mengukuhkan kepercayaan publik. Tujuan akhirnya adalah untuk menangkal informasi hoaks. Penyebaran informasi hoaks tentang politik banyak tersebar di media sosial, namun di sisi lain banyak publik yang merasa efektivitas informasi diperoleh melalui media sosial pula. Berdasarkan hasil penelitian bahwa media yang dianggap lebih efektif dalam menyebarkan informasi politik adalah seperti dalam bagan berikut: Media yang Efektif dalam penyebaran Informasi Politik Media Penyiaran/broadcast Media Cetak Media Sosial Gambar 2. Media yang efektif dalam penyebaran informasi politik Sumber: Olahan Peneliti, 2023 Masyarakat akademis yakni siswa dan mahasiswa beranggapan bahwa media yang efektif untuk menyebarkan informasi politik adalah melalui media sosial baik di Instagram. Tiktok, dan YouTube. AuMenurut aku sih, efektif baca infonya di Instagram atau sekarang mah di TikTok kan juga banyak tuh informasi politik tapi menarik ada visual dan musiknya juga. Lebih Ay (Hasil wawancara NF, 2. Dalam era digital saat ini, media sosial seperti Instagram. TikTok, dan YouTube telah menjadi platform yang sangat populer untuk menyebarkan informasi politik. Banyak pengguna media sosial yang menggunakan platform ini untuk membagikan opini, kampanye politik, dan informasi terkait politik kepada pengikut mereka. Salah satu keuntungan dari menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi politik adalah kemampuan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas dan beragam. Sebuah postingan atau video di Instagram. TikTok, dan YouTube dapat dengan mudah menyebar di seluruh dunia dan dapat dilihat oleh orang-orang dari berbagai latar belakang dan keyakinan politik. Selain itu, media sosial juga memungkinkan pengguna untuk secara aktif terlibat dalam diskusi dan debat tentang isu-isu politik dengan pengikut mereka. Dalam beberapa kasus, diskusi dan debat di media sosial dapat menjadi sangat intens dan kontroversial, namun hal ini juga memperkuat kesadaran politik dan mengajarkan pengguna tentang berbagai pandangan dan opini yang berbeda-beda. Namun, ada juga beberapa kelemahan dalam menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi politik. Salah satunya adalah kecenderungan untuk memperkuat bias yang sudah ada. Pengguna sering kali hanya mengikuti akun atau sumber informasi yang sejalan dengan pandangan politik mereka, sehingga mereka cenderung tidak mengeksplorasi perspektif lain yang berbeda-beda. Selain itu, banyak informasi politik yang disebarkan di media sosial seringkali tidak diverifikasi atau dapat dipercaya. Hal ini memperkuat penyebaran informasi yang salah atau hoaks yang dapat merugikan individu atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dan juga membuka diri untuk mendengar pandangan dan opini yang berbeda106 Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 Dengan menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab, kita dapat memperkuat partisipasi politik dan mendukung kemajuan demokrasi di era digital ini. Berkaitan dengan keadaan publik kini, yang lebih akrab dengan media sosial dibandingkan dengan jenis media yang lain. Sehingga peran literasi media sangat penting. Meskipun seringkali publik beranggapan bahwa merasa telah menguasai media tersebut, sehingga belajar literasi dirasa tidak perlu (Potter, 2. Dalam era digital seperti sekarang, media telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Namun, seringkali terlalu percaya pada informasi yang didapatkan dari media sosial tanpa melakukan verifikasi atau memeriksa sumbernya. Ini dapat menyebabkan penyebaran informasi yang tidak benar atau hoaks, yang dapat memicu kebingungan dan bahkan konflik. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya atau bertindak berdasarkan informasi tersebut. Dalam kondisi belajar, meskipun merasa literasi media sudah cukup, tetap perlu ditingkatkan. Dengan memperkuat literasi media, akan lebih mampu memahami berbagai aspek media dan dapat memanfaatkannya secara lebih efektif dan bijak dalam kehidupan sehari-hari. Media massa lainnya masih memiliki daya tarik untuk menyebarkan informasi politik dan masih sangat ramai pula para politisi menggunakan media massa seperti televisi. Elit politik masih memegang pandangan bahwa penyebaran informasi melalui televisi lebih efektif daripada melalui media sosial. Mereka percaya bahwa televisi dapat menjangkau orang-orang yang tidak akrab dengan teknologi digital, seperti orang tua atau orang yang tinggal di daerah AuKayaknya di TV lewat iklan asa lebih gampang inget ya. Terus di TV mah ga usah ngebaca teh, jadi efektif oge buat nyebarin informasi politik mah. Ay (Hasil wawancara WN, 2. Elit politik juga menganggap bahwa televisi memiliki daya tarik yang kuat karena dapat menampilkan gambar dan suara dengan lebih jelas dan nyata, yang membuat informasi lebih mudah dipahami dan diingat oleh penonton. Selain itu, televisi juga dapat menjangkau audiens yang lebih luas, karena dapat menampilkan informasi kepada sejumlah besar orang dalam waktu yang relatif singkat. Media broadcast seperti televisi memang masih banyak penikmatnya dan dianggap efektif untuk menyebarkan informasi politik. Berikutnya adapun hal yang juga tidak terlewatkan mengenai penyebaran informasi politik melalui media cetak. Beberapa informan memiliki anggapan media yang efektif adalah media cetak. AuSaya masih sering lihat baliho gitu. Masih efektif asana mah di media cetak oge. Bisa baca detail naon visi misi. Ay (Hasil wawancara AI, 2. Penyebaran informasi politik melalui media cetak seperti baliho, spanduk, dan lainnya telah menjadi salah satu cara yang paling umum digunakan dalam kampanye politik. Meskipun era digital telah mengubah cara orang berinteraksi dengan politik, namun media cetak masih dianggap sebagai media yang efektif untuk menjangkau massa yang lebih luas. Baliho dan spanduk adalah contoh media cetak yang paling sering digunakan dalam kampanye politik. Spanduk memiliki bentuk dan fungsi yang sama dengan baliho, hanya saja umumnya terbuat dari bahan yang lebih ringan seperti kertas atau plastik. Baliho dan spanduk biasanya dipasang di tempat-tempat yang strategis seperti jalan raya, lampu lalu lintas, atau bangunan publik. Informasi politik yang ditampilkan dalam media cetak ini dapat berupa gambar, slogan, atau pesan singkat yang menggugah perhatian dan memberikan informasi singkat tentang kandidat atau partai politik tertentu. Selain baliho dan spanduk, media cetak lain yang sering digunakan untuk penyebaran informasi politik adalah brosur, leaflet, atau selebaran. Bentuk media cetak ini biasanya lebih detail dalam menyajikan informasi tentang program, visi, dan misi dari kandidat atau partai politik yang bersangkutan. Namun, penyebaran informasi politik melalui media cetak juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan utama adalah biaya yang dibutuhkan untuk mencetak media tersebut, terutama untuk mencapai target audiens yang lebih luas. Selain itu, media cetak tidak dapat Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 memberikan kesempatan kepada target audiens untuk berinteraksi secara langsung dengan kandidat atau partai politik, seperti yang dapat dilakukan melalui debat atau forum politik. baligho dan spanduk seringkali mengalami kerusakan atau rusak karena kondisi cuaca atau tindakan vandalisme. Selain itu, media cetak seperti koran dan majalah juga merupakan media yang penting dalam penyebaran informasi politik. Koran dan majalah biasanya memuat berita dan opini tentang politik, termasuk tentang kampanye politik dan pemilihan umum. Berita dan opini ini dapat memengaruhi pandangan dan keputusan politik publik, sehingga media cetak ini memiliki peran yang sangat penting dalam demokrasi. Kendati demikian, penyebaran informasi politik melalui media cetak masih menjadi pilihan yang populer bagi para politisi dan partai politik untuk mencapai target audiens yang lebih luas dan menarik perhatian khalayak. Sejauh media cetak tersebut digunakan secara efektif dan efisien, strategi pemasaran politik ini dapat memberikan dampak positif bagi kampanye politik. Namun, pandangan ini mungkin kurang tepat jika dilihat dari sudut pandang teknologi informasi yang terus berkembang. Penggunaan media sosial semakin populer di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Dengan adanya platform media sosial, informasi dapat dengan mudah disebarkan secara massal dengan biaya yang jauh lebih murah daripada menggunakan televisi ataupun media cetak. Tidak hanya itu, media sosial juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memilih informasi yang ingin mereka konsumsi, sehingga mereka dapat lebih selektif dan kritis dalam memilih informasi yang mereka butuhkan. Media sosial juga dapat memfasilitasi interaksi dan diskusi antara pengguna, yang memungkinkan terjadinya perdebatan dan pengembangan ide yang lebih luas. Secara keseluruhan, walaupun elit politik masih percaya bahwa televisi ataupun media cetak lebih efektif dalam penyebaran informasi, namun pandangan ini mungkin perlu diperbarui dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, terutama dengan semakin populernya penggunaan media sosial di kalangan masyarakat. Filter Informasi Politik Douglas Kellner . menjelaskan bahwa satu cara yang bisa digunakan untuk menciptakan masyarakat yang cerdas bermedia adalah dengan memanfaatkan budaya mereka sendiri, yakni kearifan lokal (Fanaqi & Chairunnisa, 2. Menciptakan masyarakat yang cerdas bermedia dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memanfaatkan budaya mereka. Budaya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat karena membentuk pola pikir, cara pandang, dan perilaku seseorang. Oleh karena itu, memanfaatkan budaya sebagai media pembelajaran dapat membantu meningkatkan kualitas literasi media pada masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan kegiatan yang memadukan budaya dan media, seperti festival film, pameran foto, atau kompetisi penulisan cerita rakyat yang dituangkan dalam bentuk media. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, masyarakat dapat belajar memahami media dan teknologi dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. Selain itu, penggunaan bahasa lokal dalam media juga dapat membantu meningkatkan literasi media masyarakat. Dalam bahasa lokal, terdapat banyak cerita, ungkapan, dan pepatah yang mengandung nilai-nilai penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan bahasa lokal dalam media, masyarakat akan lebih mudah memahami pesan yang disampaikan dan mampu mengambil keputusan yang lebih bijak. Tidak hanya itu, penggunaan media sosial yang bijak juga bisa membantu meningkatkan literasi media masyarakat. Masyarakat dapat belajar menggunakan media sosial dengan baik dan benar, seperti memilah informasi. Maka pentingnya filter informasi adalah untuk mengendalikan diri supaya informasi yang masuk adalah informasi yang baik dan benar. Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 Disamping itu, harus menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kebebasan juga dibatasi oleh aturan, etika dan norma sosial yang ada (Tosepu, 2. Literasi media sangat penting dalam era digital saat ini, karena kita terus-menerus dibanjiri dengan berbagai macam informasi dari berbagai sumber, termasuk informasi hoaks. Dengan memiliki literasi media yang baik, kita dapat menambah pengetahuan kita tentang caracara untuk menyaring dan memverifikasi informasi yang diterima sehingga kita dapat terhindar dari paparan informasi hoaks. Melalui literasi media, kita dapat mempelajari tentang bagaimana cara mencari sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya, serta bagaimana cara membedakan informasi yang benar dari informasi hoaks. Dengan kemampuan ini, kita dapat membantu mencegah penyebaran informasi hoaks yang dapat merugikan banyak orang. Selain itu, literasi media juga dapat membantu meningkatkan kemampuan kita untuk berpikir kritis dan analitis dalam menghadapi berbagai informasi. Dengan memahami cara kerja media dan bagaimana informasi diproduksi dan disebarkan, kita dapat menghindari jebakan pikiran atau bias yang dapat mempengaruhi pemikiran kita. Literasi media dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam membantu kita mengambil keputusan yang tepat dan berkomunikasi secara efektif di era digital yang semakin kompleks Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk terus meningkatkan literasi media kita agar kita dapat mengoptimalkan keuntungan dari media yang ada dan terhindar dari paparan informasi hoaks. Informasi Politik Akurat Dalam rangka menciptakan iklim dan suhu politik yang damai, media sebagai salah satu pilar penting dalam sistem demokrasi sekaligus rujukan baik data dan informasi yang akurat dan benar (Prianto, 2. Dalam konteks kehidupan demokrasi, media memainkan peran yang sangat penting dalam menciptakan iklim politik yang damai dan sehat. Sebagai salah satu pilar penting dalam sistem demokrasi, media memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya kepada publik. Media juga memiliki peran penting dalam mengawasi dan memantau keramaian jelang pesta politik 2024. Dengan memberikan laporan dan berita yang independen dan obyektif, media dapat membantu publik untuk memahami informasi politik yang ada saat ini. Keadaan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab sosial bagi media sendiri. Namun bagi publiK juga harus ikut memantau dan berperan aktif terutamanya perihal penyebaran informasi hoaks. Kemampuan literasi memiliki peran penting dalam menambah rujukan informasi politik yang akurat. Di era digital saat ini, informasi politik dapat dengan mudah ditemukan melalui berbagai platform media sosial dan situs web. Namun, tidak semua informasi yang tersedia adalah benar dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, literasi sangat diperlukan untuk dapat membedakan antara informasi yang akurat dan yang tidak. Bagi penikmat informasi di media sosial, media sosial menjadi rujukan utama untuk mendapatkan informasi (Beta et al. , 2. Informasi yang tersaji di media sosial menjadi candu bagi khalayaknya. Dengan demikian perlu adanya rem untuk penyebaran informasi agar menghalau hoaks. Melalui literasi, seseorang dapat memahami informasi tentang cara kerja politik dan mengenal berbagai sumber informasi yang dapat dipercaya, seperti situs web resmi pemerintah, media mainstream yang telah terpercaya, atau jurnalisme investigasi yang kredibel. Selain itu, literasi juga dapat membantu seseorang memahami bagaimana politik dipengaruhi oleh kepentingan tertentu, dan bagaimana cara memeriksa fakta dan data yang digunakan dalam berita politik. Dengan memiliki kemampuan literasi yang baik, seseorang dapat membantu menambah rujukan informasi politik yang akurat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat umum. Sebagai konsumen informasi, literasi dapat membantu kita untuk memverifikasi kebenaran berita dan menghindari terjebak dalam propaganda politik atau hoaks. Banyak media lakukan pengkotakan informasi dengan pola algoritma ABC. Indonesian Journal of Digital Public Relations (IJDPR) Vol. No. Januari 2024 Pola algoritma ABC adalah salah satu metode yang digunakan oleh media sosial untuk menampilkan informasi kepada pengguna. Pola algoritma ABC, mengiring informasi-informasi ke beranda pengguna media sosial menyesuikan dengan informasi yang sering di cari (Beta et , 2. Pola ini mengacu pada kebiasaan pengguna dalam menggunakan media sosial, dimana mereka sering mencari informasi yang relevan dengan minat dan preferensi mereka. Berdasarkan pola ini, media sosial akan menampilkan konten yang paling sesuai dengan minat pengguna, sehingga meningkatkan kemungkinan konten tersebut untuk mendapatkan lebih banyak interaksi dan dukungan dari pengguna. Misalnya, jika seorang pengguna sering mencari dan membaca artikel tentang politik, media sosial akan menampilkan konten tentang informasi-informasi politik di beranda pengguna tersebut. Hal ini memudahkan pengguna untuk menemukan konten yang relevan dengan minat mereka dan meningkatkan keterlibatan pengguna dalam penggunaan media Dengan begitu, media sosial yang dengan kecanggihannya akan banyak menyajikan informasi-informasi yang sangat tidak terbendung. Oleh karenanya, kemampuan literasi menjadi penting untuk mengembangkan rujukan informasi politik yang akurat. Bagi para pemimpin politik, literasi dapat membantu mereka memilih kata-kata yang tepat dan mempertimbangkan dampak dari tindakan atau kebijakan politik yang diambil. Untuk publik sendiri, meningkatkan literasi merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan informasi yang sehat dan berbudaya tinggi. SIMPULAN Literasi menjadi kemampuan dasar bagi publik, terutama publik akademis yang mengonsumsi informasi dalam kehidupannya. Informasi-informasi yang tersebar di media massa, khususnya media sosial memang perlu tahapan-tahapan yang dapat digunakan sebagai rambu agar terhindar dari informasi palsu . Literasi media sangat berperan penting untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Karena manusia kini berada di era digital yang semakin maju, penyebaran informasi dapat terjadi dengan sangat cepat dan mudah, sehingga setiap individu perlu lebih waspada dan cerdas dalam memilih sumber informasi yang dapat dipercaya. Apalagi di Indonesia saat ini sedang menjalani tahun politik menjelang perhelatan pemilihan umum . pada tahun 2024. Dengan demikian terdapat tiga landasan literasi media untuk menambah: . kemampuan akses informasi . filter informasi. Rujukan informasi politik yang akurat. DAFTAR PUSTAKA