PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . AKSI KOLEKTIF PADA GERAKAN SOSIAL: SEBUAH PERSPEKTIF PSIKOLOGI COLLECTIVE ACTION IN SOCIAL MOVEMENT: A PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE Akhmad Saputra Syarif & Rizka Halida Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia saputra@ui. rizka@ui. ABSTRAK Penelitian ini berusaha untuk menutupi banyak kekurangan pada tinjauan perkembangan studi aksi kolektif. Sejak 2007, tidak banyak studi terutama di Indonesia yang memberikan gambaran masif tentang aksi kolektif. Padahal pada tahun-tahun setelahnya kehidupan manusia mengalami perkembangan yang pesat, terutama dengan keberadaan dunia maya. Aksi kolektif di keseharian juga mengalami perkembangan seperti munculnya digital activism, orang-orang lebih menyukai berdonasi dibandingkan aksi protes atau para pria berkelompok untuk mendukung feminimisme. Perubahan aksi kolektif baik secara kuantitatif dan kualitatif ini perlu ditunjang dengan studi yang membahas perkembangan aksi kolektif dalam berbagai perspektif. Penelitian ini menggunakan metodologi systematic literature review (SLR). Jangkauan studi yang sangat luas dari 1984 sampai 2024 menawarkan wawasan historis sekaligus kontemporer tentang evolusi aksi kolektif. Hasil yang ditemukan mencakup definisi aksi kolektif yang selama ini dipakai oleh Wright et al. , . tidak dianggap cukup mampu untuk menjelaskan perubahan aksi kolektif saat ini. Selain itu, antesenden dari aksi kolektif mengalami perkembangan bukan saja relative deprivation yang selama ini banyak dipercayai. Pengukuran aksi kolektif memerlukan pertimbangan lebih lanjut agar dapat mewakili berbagai ideologi. Individu dimungkinkan tidak melakukan aksi kolektif bukan karena tidak tergerak oleh muatan yang dibawanya namun lebih ketidaksesuaian dengan bentuk dari aksi kolektif tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur aksi kolektif, terutama di era modern yang semakin kompleks dan terhubung secara global. Kata Kunci: aksi kolektif, gerakan sosial, protes sosial ABSTRACT This research aims to address numerous gaps in the review of collective action studies. Since 2007, there have been relatively few studies, particularly in Indonesia, that provide a comprehensive overview of collective action. This is despite the rapid development of human life in subsequent years, especially with the advent of the digital world. Collective action in everyday life has also evolved, with phenomena such as digital activism, a preference for donating over protesting, and men forming groups to support feminism. These quantitative and qualitative changes in collective action require studies that explore its development from various perspectives. This research employs the systematic literature review (SLR) Spanning a broad period from 1984 to 2024, it offers both historical and contemporary insights into the evolution of collective action. The findings indicate that the definition of collective action used so far by Wright et al. , . is insufficient to explain the changes in collective action. In addition, the antecedents of collective action have evolved, no longer limited to relative deprivation, which has long been believed. Even the http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 tools used to measure collective action need to be reconsidered, as they must represent various ideologies. This is because individuals may not engage in collective action, not because they are not moved by its content, but because it does not align with the form of collective action itself. This research are conducted with the hope of providing significant contributions to the literature on collective action, especially in the modern era, which is becoming increasingly complex and globally connected. Keywords: collective action, social movement, social protest PENDAHULUAN AuPoster berwarna biru dengan tulisan AoPERINGATAN DARURATAo, ini . memang daruratAy Najwa Shihab (BBC, 2. Masyarakat Indonesia pada tahun 2024 menyaksikan salah satu gerakan besar yang pernah dilakukan. Gerakan tersebut merupakan jawaban dari panggilan peringatan darurat dengan gambar Garuda berlatar biru yang pada saat itu viral di berbagai lini media masa. Menyebabkan, ribuan masyarakat berbondong-bondong memadati gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta. Bukan saja di Jakarta, banyak masyarakat di kota-kota lain pula mengambil langkah serupa. Semua datang dengan satu misi untuk mengawal keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Gejolak ini muncul setelah delapan dari sembilan partai yang ada di DPR menyepakati untuk menjalankan sebagian keputusan yang sebelumnya ditetapkan oleh MK. Keputusan tersebut mengatur syarat pencalonan kepala daerah yang terdapat pada rancangan perubahan undang-undang (UU) pemilihan kepada daerah. Padahal Masyarakat menyambut dengan antusias putusan MK tersebut karena akan mengubah arus kekuatan pengusung calon. Sebelumnya, partai-partai membentuk koalisi besar untuk mendominasi persaingan pemilihan kepala daerah yang dinilai oleh banyak pakar sebagai tindakan yang tidak berimbang (BBC, 2. Gerakan peringatan darurat tersebut adalah bentuk dari aksi kolektif. Aksi kolektif didefinisikan oleh Wright et al. , . sebagai tindakan yang ditunjukkan oleh disadvantage group untuk meningkatkan kondisi kelompok mereka. Model yang paling terkenal dalam memprediksi aksi kolektif adalah SIMCA . ocial dentity model of collective Model tersebut merupakan hasil dari meta-analisis yang dilakukan oleh van Zomeren et al. , . pada penelitian-penelitian psikologi sosial yang ada sebelumnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi aksi kolektif. Hasil dari meta-analisis tersebut menyimpulkan bahwa ada tiga inti motivasi yang mendorong Individu untuk melakukan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 aksi kolektif, yakni: . Identifikasi dirinya terhadap kelompok, . Kemarahan mereka terhadap perilaku tidak adil . , . Kepercayaan terhadap efikasi kelompok tentang tindakan aksi. Selain itu, banyak diantara studi menggunakan skala dari Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. untuk mengukur aksi kolektif (Avichail et al. Hayward et al. , 2018. Nguyen et al. , 2021. Pauls et al. , 2. Meski terbilang cukup lengkap karena memiliki definisi dan kelengkapan pengukuran, namun studi tentang aksi kolektif bukan tanpa cela. Permasalahan yang meliputi studi-studi aksi kolektif muncul karena imbas dari perkembangan manusia yang sangat progresif terutama sejak tahun 2007 karena perkembangan internet. Hal tersebut berdampak pada keseluruhan perilaku yang dilakukan manusia terutama dalam melakukan aksi kolektif. Pada beberapa tahun belakangan dikenal sebuah bentuk aktivisme lain yang berbasis internet, yakni aktivisme Aktivisme digital adalah partisipasi politik dan protes yang diorganisir dalam jaringan digital (Kaun & Uldam, 2. Selain membentuk jenis lain dari aktifisme, perkembangan informasi yang super cepat membuat berita dapat tersampaikan secara luas tanpa melihat kelompok individu yang mengkonsumsi berita tersebut. Hal ini menyebabkan berita pelanggaran norma dapat tersebar pada bukan saja kelompok yang menjadi korban, namun juga pada kelompok mayoritas. Membuat kondisi tersebut dapat memicu joint collective action sebagai aksi solidaritasAikelompok disavantaged dan kelompok advantaged, misalnya kelompok kaum kulit putih Amerika yang melakukan aksi untuk kemaslahatan kelompok kaum kulit hitam . lack lives matter collective actio. Fenomena aksi solidaritas tersebut membuat definisi Wright et al . Aiaksi kolektif hanya dilakukan oleh kelompok disadvantageAiperlu untuk diganti dengan definisi yang lebih mewakili aksi kolektif yang berkembang di lapangan. Masalah konseptual tersebut berlanjut dikarenakan kelompok disadvantage saat ini memiliki kecondongan lebih cenderung melakukan ingroup collective action . eperti donas. untuk meningkatkan kondisi mereka dibandingkan melakukan outgroup collective action . eperti demonstras. (Stroebe et al. , 2019. Namun aksi kolektif dalam berbagai literatur hanya briorientasi pada motivasi yang membuat Individu untuk tergerak dalam demonstrasi. Bukan saja pada konsep dasar aksi kolektif yang harusnya mengalami perkembangan. SIMCA yang menjadi framework dalam memprediksi aksi kolektif juga mendapatkan banyak pengembangan, seperti: Encapsulated Model of Social http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Identity in Collective Action (EMSICA) (Louis et al. , 2. , the Elaborated Social Identity Model (ESIM) (Thomas et al. , 2. , dan the Disidentify. Innovate. Moralization and Energization Model (DIME) (Louis et al. , 2. Melihat perkembangan yang pesat tersebut dibutuhkan sumber yang valid untuk menjadi sumber informasi tentang perkembangan aksi kolektif saat ini. Tujuan utama penelitian ini untuk melakukan ulasan literatur secara sistematis sehingga diperoleh identifikasi topik-topik yang mencakup perkembangan definisi, antecedent dan pengukuran aksi kolektif. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sytematic Literature Review (SLR). Metode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kumpulan literatur secara komprehensif mengenai topik tertentu dengan meminimalisir bias pada penyeleksian dan menyediakan proses penyaringan yang dapat di replikasi (Malkamyki et al. , 2. Penulis menggunakan tiga data basis jurnal, yakni: Scopus. Web of Science dan Sage. Selain itu, agar dapat menemukan penelitian yang sesuai. Penulis menggunakan kombinasi kata kunci berikut: . ollective action" OR "group behavior" OR "social movements" OR "collective behavior") AND "social psychologyAy. Pencarian literatur dilakukan pada September 2024. Studi yang peneliti gunakan harus memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut: . studi tersebut harus terindeks Scopus. Web of Science atau Sage. ditulis dengan bahasa Inggris. terbit setelah tahun 1970. Tahun tersebut digunakan sebagai standar penyeleksian karena tahun tersebut menandai kesepahaman para ilmuan tentang definisi aksi kolektif. Pada rentang tahun 1930-1970, para ahli masih berdebat mengenai perbedaan tradisi teori yang digunakan dalam memaknai aksi kolektif dengan perilaku kolektif (Oliver, 2. studi menggunakan penelitian empiris. tipe dokumen literatur adalah artikel. berada pada subjek area psikologi, dan. versi lengkap dapat diakses oleh penulis. Selain itu, penulis juga menetapkan kriteria eksklusi yakni studi menggunakan metodologi kualitatif. Kriteria ekslusi tersebut dibuat dikarenakan penelitian dengan metodologi kualitatif bersifat eksploratif sehingga sangat bergantung pada konteks yang spesifik (Aspers & Corte, 2. Penelitian kualitatif memiliki keterbatasan generalisasi sehingga sangat sulit membandingkannya dengan penelitianhttp://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 penelitian dengan tema serupa . Bobo & Akhurst, 2023. Tekin & Drury, 2023. Vestergren et al. , 2. Penulis mengikuti PRISMA guidelines dengan maksud meningkatkan kejelasan dan transparansi penelitian (Liberati et al. , 2. Secara keseluruhan, penulis menemukan sebanyak 722 artikel (Scopus = 42 artikel. Web of Sience = 276 dan Sage = . Dengan bantuan computer-based reference management system (Mandele. dalam memeriksa duplikasi artikel, tersisa 402 artikel yang selanjutnya akan diseleksi peneliti dengan membaca judul dan abstrak dengan bantuan web-based systematic review management tool . menyisakan 103 artikel. Terakhir, seleksi artikel dilakukan dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditentukan sebelumnya dan menghasilkan 67 artikel yang akan digunakan dalam penelitian ini. Alur PRISMA dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. PRISMA flowchart HASIL PENELITIAN Analisis deskriptif digunakan penulis terlebih dahulu untuk memperlihatkan karakteristik umum studi yang digunakan dalam penelitian SLR ini. Dari 67 studi yang http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 dianalisis, lebih dari 50% studi-studi tersebut . 6%) menggunakan orang dewasa sebagai partisipan penelitian, sementara 15 studi lain menggunakan mahasiswa. Lebih lanjut, jumlah partisipan yang paling banyak digunakan dalam studi berkisar dari 5011000 partisipan . 3%). Berdasarkan negara, 16 studi melibatkan lebih dari satu negara . Badea et al. Smeekes et al. , 2023. Stroebe et al. , 2. , sementara 76,1% diantaranya menggunakan satu negara sebagai tempat penelitian . Cocco et al. , 2024. Morales et , 2020. Pollmanns & Asbrock, 2. Studi yang dilakukan oleh Hasbyn Lypez et al . melibatkan paling banyak negara, dengan 11 negara di Eropa. Sementara United State of America (USA) menjadi negara yang paling banyak dilibatkan dengan 21 Studi . Bird et al. , 2024. Choma et al. , 2024. Hayward et al. , 2. Selain itu, dibandingkan dengan metodologi longitudinal dan eksperimen, cross-sectional muncul sebagai metodologi penelitian yang paling banyak digunakan dalam studi . 7%). Berdasarkan tahun, 2023 adalah tahun dengan studi aksi kolektif terbanyak yakni Pada saat sebelumnya, di tahun 2022, mengalami jumlah penurunan studi menjadi Sementara itu pada tahun 2024 terdapat jumlah studi yang sama dengan studi yang terbit pada rentang tahun 2019-2021, masing-masing memiliki 8 studi. Meskipun pada tahun 1984-2016 hanya memiliki tidak lebih dari dua studi, akan tetapi studi-studi tentang aksi kolektif terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Definisi aksi kolektif Definisi aksi kolektif yang paling tua dipakai dalam studi Martin et al . Rujukan aksi kolektif dalam studi tersebut diambil dari salah satunya Aristotle . yang menjelaskan revolusi sebagai salah satu bentuk aksi kolektif. Lebih lanjut, aksi kolektif dimaknai sebagai perjuangan untuk hati dan pikiran individu, dimana perasaan memegang peran penting. Menurut defenisi tersebut individu akan melakukan aksi kolektif saat mereka menyadari diri mereka sebagai dissadvanted dan merasa marah secara moral akan perlakuan tidak adil kepada mereka (Martin et al. , 1984. Definisi tersebut muncul dikarenakan fondasi teori dari aksi kolektif pada zaman tersebut adalah relative deprivation sehingga merasakan ketidakadilan adalah syarat mutlak terjadinya aksi kolektif (Martin et al. , 1984. Akan tetapi, semakin berkembangnya attecendent dari aksi kolektif, para ilmuan membutuhkan definisi aksi http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 kolektif yang lebih umum. Wright et al . adalah rujukan yang paling banyak digunakan dalam mendefinisikan Aksi kolektif . Renger et al. , 2020. Saab et al. , 2016. Tausch & Becker, 2. Definisi tersebut memuat pernyataan bahwa aksi kolektif adalah perilaku yang ditunjukkan oleh disadvantage group untuk meningkatkan kondisi mereka. Lebih lanjut, banyak dari studi . Gkinopoulos & Mari, 2023. Renger et al. , 2020. Saab et al. , 2. menggunakan pengembangan definisi Wright et al . dalam membagi aksi kolektif menjadi dua. Pembagian tersebut digunakan untuk menjelaskan aksi kolektif dengan lebih mendalam, yakni cooperative collective action atau normative collective action, seperti demonstrasi damai atau petisi dan hoostile collective action atau non-normarive collective action, seperti riots, atau penyerangan secara fisik. Lebih lanjut, definisi yang dibawa oleh Wright et al . menyiratkan bahwa aksi kolektif hanya akan bisa terjadi jika kelompok berada pada kondisi disadvantaged, padahal di realitas sering kali ditemui banyak diantara kelompok tersebut tidak mengalami kondisi yang disadvantaged namun tetap ikut serta dalam melakukan aksi kolektifAigerakan feminisme misalnya. Gerakan feminisme biasanya melibatkan kaum perempuan yang melakukan aksi kolektif untuk menyuarakan suara mereka tentang descrimination based on sex. Meski demikian, kaum Pria yang notabenenya advantaged group dan tidak merasakan kondisi disadvantaged tersebut, tetapi banyak pula diantaranya turut melakukan aksi kolektif untuk mewakili aspirasi dari kaum MikoCajczak & Becker . dan Shepherd et al . , yang mengangkat tema yang serupa, alih-alih memakai definisi dari Wright et al . , mereka mengembangkan definisi aksi kolektif bukan saja yang dilakukan pada disadvantaged group tapi juga pada advantaged group apabila mereka merasakan ada pelanggaran norma terjadi. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Hornsey et al . bahwa joint collective action memiliki dinamikanya tersendiri jika dibandingkan dengan definisi yang dibawa oleh Wright et al . Hornsey et al . menyebutkan bahwa kondisi psikologis dari joint collective action akan sangat berbeda dengan bentuk aksi kolektif lainnya, apalagi ketika kedua kelompok memiliki sejarah konflik yang panjangAimisalnya black and white american. Berbeda dengan advantaged group collective action yang dilakukan terpisah dengan disadvantaged group collective action, joint collective action akan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 dilakukan bersama-sama dalam satu tempat dan waktu antara disadvantaged group dan advantaged group. Perkembangan definisi aksi kolektif bukan saja berdasarkan jenis kelompok yang terlibat, namun juga berdasarkan arah aksi tersebut dilakukan. Stroebe et al . melakukan penelitian aksi kolektif dengan arah ingroup. Aksi kolektif tersebut berbentuk donasi atau social sharing. Berbeda dengan banyak aksi kolektif yang memiliki arah outgroup seperti demonstrasi ataupun petisi. Stroebe et al . menawarkan alternatif aksi kolektif yang tidak menggunakan bahasa politik, namun lebih cenderung ke prosocial behaviour akan tetapi tetap memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan kondisi Untuk mengakomodir jenis aksi kolektif yang dipakai dalam penelitiannya. Stroebe et al . mendefinisikan ingroup collective action adalah perilaku yang dibentuk dengan cara menjalin komunikasi dengan anggota lainnya dalam kelompok yang juga mengalami ketidakadilan, serta melakukan tindakan menolong. Selain itu, revisi mengenai definisi aksi kolektif juga dilakukan untuk mengakomodir tindakan Individu dalam mengatasnamakan kelompok sebagai bagian dari aksi kolektif. Hal ini dilakukan dikarenakan aksi kolektif sering kali dilihat sebagai based-group behaviour, padahal aksi kolektif untuk menantang dan mempertahankan status quo dapat dilakukan secara kelompok dan mandiri . Cervone et al. , 2024. Choma et al. , 2. Agostini & van Zomeren . mendefinisikan ulang aksi kolektif sebagai tindakan apa pun yang digunakan oleh individu sebagai anggota kelompok untuk meningkatkan posisi dari disadvantaged group tertentu secara keseluruhan dan untuk mempertahankan nilai-nilai, moral, atau ideologi kelompok. Antesenden dari aksi kolektif Para ilmuan memiliki ketertarikan dalam melihat faktor-faktor yang dapat menjadi memprediksi terjadinya aksi kolektif. Pada bagian review ini, peneliti akan membagi faktor-faktor tersebut menjadi tujuh, yakni: faktor kognitif, faktor emosional, faktor identitas sosial, faktor komunikasi dan kontak, faktor politik dan ideologi faktor kepribadian dan keyakinan pribadi, dan faktor sosial dan budaya. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 1 Faktor kognitif dan Identitas Dominasi pendekatan kognitif dalam menjelaskan aksi kolektif terjadi pada tahun Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya psikologi sosial di daratan EropaAi teori identitas sosial (Tajfel, 1. berada di tengah pusaran tersebut . an Stekelenburg & Klandermans, 2013. Identitas sosial juga adalah prediktor yang banyak dipakai dalam memprediksi aksi kolektif pada studi-studi yang dianalisis penulis . Badea et , 2021. Hornsey et al. , 2006. MikoCajczak & Becker, 2. Turner-Zwinkels & van Zomeren . mendefinisikan bahwa identitas sosial adalah aspek psikologi yang membuat seseorang memedulikan kelompok mereka dan memotivasi mereka untuk melindungi urusan kelompok atau bertindak atas nama kelompok. Pengembangan identitas juga banyak dipakai dalam studi-studi lainnya, seperti self categorization (Chayinska et al. , 2. dan sport identity (Cocco et al. , 2024. Pada tahun 2008. Van Zomeren melakukan meta-analisis terhadap studi-studi aksi kolektif, dan menyimpulkan terdapat tiga motivasi inti yang dimiliki individu untuk melakukan aksi kolektif, yakni: identitas sosial, efikasi kelompok, dan kemarahan terhadap perilaku tidak adil. Model Van Zomeren yang menggunakan ke tiga jenis motivasi tersebut kemudian disebut sebagai SIMCA . ocial identity model of collective SIMCA berkembang dengan tujuan untuk memberikan gambaran dinamika kelompok pada saat sebelum, saat berlangsung dan setelah collective action. Encapsulated Model of Social Identity in Collective Action (EMSICA. Thomas et al. , 2. dan Elaborated Social Identity Model (ESIM. Drury & Reicher, 2. menggambarkan dinamika yang terjadi pada saat collective action berlangsung, sementara Disidentify. Innovate. Moralization and Energization Model (DIME. Louis et al. , 2. digunakan untuk menggambarkan kondisi kelompok setalah aksi kolektif dilakukan, terutama saat aksi tersebut tidak berhasil mencapai tujuannya. Louis et al . menjelaskan saat collective action tidak berhasil maka ada empat kemungkinan bagi Individu yaitu disidentification, innovation, moralization, dan energization. Selain itu, grievances digunakan pula dalam beberapa studi dalam memprediksi aksi kolektif . Bergstrand, 2. Meski tidak sepopuler identitas sosial, namun grievances adalah variabel yang paling klasik jika dibandingkan antecedents lainnya . an Stekelenburg & Klandermans, 2013. Hubungan diantaranya . rievances dan aksi kolekti. adalah hubungan positif dimana semakin grievance individu ataupun kelompok http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 maka semakin kuat variabel tersebut memprediksi aksi kolektif (Bergstrand, 2. Fondasi framework teori yang digunakan studi-studi tersebut untuk menjelaskan grievances dalam memprediksi aksi kolektif adalah relative deprivation atau social justice theory (B. Klandermans, 2. Berdasarkan studi-studi sebelumnya, perceived efficacy . Cohen-Chen & Van Zomeren, 2018. MikoCajczak & Becker, 2022. Saab et al. , 2. dan perceived social polarization . Roblain & Green, 2. juga memprediksi aksi kolektif dengan hubungan positif diantaranya. Dalam penelitiannya. Saab et al . mendefinisikan efficacy sebagai kepercayaan yang dimiliki Individu atau kelompok bahwa aksi kolektif yang mereka akan lakukan memiliki kemungkinan yang besar untuk mendapatkan perubahan yang dinginkan. Sementara itu, social polarization berdasar dari framework teori identitas sosial yang secara defenisi adalah keterlibatan persepsi bahwa terdapat dua kelompok yang memiliki grievance berbeda dan saling berebut kekuasaan (P. Klandermans, 2. Varibel need for clousore yang biasanya banyak dikutip oleh ahli dalam menggambarkan kondisi Individu dalam cognitive uncertantity juga menjadi salah satu antecedent yang digunakan oleh De Cristofaro et al . dalam memprediksi aksi Meskipun hubungan diantara keduanya dimediasi oleh binding moral foundations dan political conservatism. Need for clousore adalah kondisi dimana individu membutuhkan jawaban yang pasti untuk menghindari kebingungan dan ambiguitas (Kruglanski, 2. De Cristofaro et al . menyatakan keterlibatan individu dalam aksi kolektif adalah usaha untuk mendapatkan jawaban terhadap masalah. 2 Faktor Emosional Pembahasan aksi kolektif menggunakan bingkai faktor kognitif pada tahun 1980an dianggap terlalu dingin atau kaku, sehingga terjadi peningkatan tuntutan untuk membahas aksi kolektif pada faktor-faktor yang lebih fleksibel. Para ahli berusaha mencari penjelasan aksi kolektif pada faktor yang lebih AuwarmAy yakni faktor emosi . an Stekelenburg & Klandermans, 2. Penulis mengidentifikasi beberapa antecedent yang termasuk faktor emosional, keseluruhannya merupakan jenis dari emosi negatif yaitu kemarahan, ketakutan, kecemasan, malu dan merasa bersalah . Shepherd et al. , 2013, 2018b. Stathi et al. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Selain itu, rasa kasihan . juga digunakan dalam memprediksi aksi intensi kolektif pada kelompok disadvantaged group, namun rasa kasihan tidak memprediksi ally action (Lantos et al. , 2. Selain itu, bentuk faktor emosi lainnya yakni collective nostalgia ditemukan oleh Smeekes et al . dapat memprediksi pula intensi aksi Aksi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan national 3 Faktor Komunikasi dan Kontak Sosial Manusia adalah makhluk sosial sehingga perilakunya bukan saja dipengaruhi oleh faktor individual yang dimilikinyaAimisalnya kognitif dan emosi. Namun juga dipengaruhi oleh faktor sosial yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. Pada studistudi yang dipakai dalam penelitian ini, peneliti mengidentifikasi beberapa faktor sosial yang memprediksi aksi kolektif. Faktor sosial tersebut mempengaruhi individu dari komunikasi atau kontak yang dimilikinya. Variabel yang paling banyak disebut adalah negaive contact dan positive contact . Hayward et al. , 2018. Meleady & Vermue, 2019. Pollmanns & Asbrock, 2023. Prati et al. , 2023. Stathi et al. , 2019. Selain itu, bentukbentuk komunikasi baik dilakukan secara luring, seperti frekuensi perbincangan antara anak dan orang tua tentang politik (Cornejo et al. , 2. , dan nonviolent communication (NVC) (Avichail et al. , 2. , dan daring, seperti. konsumsi media (Selvanathan & Lickel, 2. dan social media engagement (Thomas et al. , 2. disebut dapat membuat kelompok berpartisipasi dalam aksi kolektif. 4 Faktor Politik dan Ideologi Choma et al . dengan sociopolitical ideologies dan Bird et al . dengan political despair mencoba untuk memprediksi aksi kolektif. Choma et al . menemukan bahwa kaum konservatif akan lebih cenderung untuk melakukan aksi kolektif ketika dihadapkan pada kondisi yang mengahruskan, berbeda dengan mereka yang menganut ideologi liberal. Sementara. Bird et al . menemukan bahwa political despair berhubungan positif dengan aksi kolektif. Sementara itu pembahasan lain dari faktor politik dan idologi adalah persoalan kepemimpinan. Penelitian tentang kepemimpinan dan bagaimana hubungannya dengan aksi kolektif melibatkan dua jenis kepemimpinan, yakni. Pro-change dan pro-status quo leaders (SubaiN et al. , 2. Selain itu perceptions about government performance (Swart et al. , 2. dan exposure to http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 conspiracy theories (Gkinopoulos & Mari, 2. meski hanya disebut sekali sebagai antecedent dalam studi-studi yang dianalisis namun terbukti memprediksi aksi kolektif. 5 Faktor Budaya dan Believe Selain faktor-faktor di atas, faktor terakhir yang banyak disoroti adalah faktor budaya, seperti. community-based values (Badea et al. , 2. , social affirmation (Kende et , 2. , moral violation (Pauls et al. , 2. , self-respect (Renger et al. , 2. , diversity (Knab & Steffens, 2. , dan faktor believe, seperti. perceived prejudice (Stathi et al. , serta perceived ostracism (Stathi et al. , 2019. Pengukuran aksi kolektif Meski 28 diantara 67 studi yang dianalisis tidak mencantumkan referensi adaptasi skala yang digunakan, namun terlihat ada kemiripan item-item yang dipakai oleh mereka terhadap skala-skala aksi kolektif yang umum digunakan, yakni dari Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. Kepopularitasan penggunaan skala dari Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. tersebut juga terlihat dari studi-studi yang menyebutkan asal studi adaptasi skala aksi kolektif mereka . Avichail et al. , 2024. Hayward et al. , 2018. Nguyen et al. , 2021. Pauls et al. , 2. Item skala kesediaan aksi kolektif Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. saya akan berpartisipasi di sebuah demonstrasi untuk melawan kebijakan ini, juga dipakai pada skala yang digunakan oleh studi yang tidak menyebutkan adaptasi skala mereka . Corcoran et al. , 2. Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. menyatakan skala lain untuk mengukur kesediaan Individu untuk mengikuti aksi kolektif adalah skala dari Selvanathan & Lickel . , dan Tausch et al . Studi yang diulas juga menggunakan skala Becker et al . dan Brunsting & Postmes . Perbedaan diantara keduanya terletak dari bagaimana aksi kolektif yang diukur disajikan dalam skala. Becker et al . membagi aksi kolektif menjadi aksi kolektif yang dilakukan di ruang public dan private. Brunsting & Postmes . mengukur aksi kolektif dengan mengukur aksi kolektif online dan offline yang ingin diikuti oleh partisipan. Berbeda dengan Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. Cervone et al . mengukur aksi kolektif dengan Belief-Aligned Collective Action Scale. Skala tersebut mengukur aksi kolektif dengan unidimensi dan multidimensi. Cervone et al . http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 membagi skala aksi kolektif menjadi dua, yaitu normative collective action dan normativa collective action. Solidarity collective action ditemukan pula menjadi tema yang sering muncul dari berbagai studi yang diulas. Solidarity collective action adalah aksi kolektif yang dilakukan advantage group untuk mewakili aspirasi dari disadvantage group (Iyer & Leach, 2. Skala Solidarity collective action yang dipakai oleh studi-studi tersebut adalah skala dari Brunsting & Postmes . Gyrska et al. , 2020. Iyer & Leach . Reimer et al. , 2017. SubaiN et al . Skala-skala kesediaan aksi kolektif lainnya yang dipakai dalam studi-studi yang diulas adalah skala aksi kolektif yang berdasarkan jenis-jenis aksi kolektifnya, seperti. domain spesicic collective action scale (B. Choma et al. , 2. dan type of polical participation scale (Sabucedo & Arce, 1. Terakhir, skala dari Foster & Matheson . dan Lalonde & Cameron, . Greenaway et al. , 2. yang juga disebut di beberapa studi mengukur tentang aksi kolektif yang pernah diikuti oleh partisipan. DISKUSI Tujuan utama penelitian ini untuk menghadirkan kesimpulan yang luas tentang aksi kolektif dalam pandangan psikologi sosial. Meski peneliti menyadari bahwa perkembangan aksi kolektif pada mulanya berasa dari dua bidang ke ilmuan yakni sosiologi dan psikologi. Perbedaan diantara keduanya terlihat dari bagaimana aksi kolektif dijelaskan. Sosiologi menggunakan pendekatan messo dan makro level tentang pola interaksi simbolik sosial yang muncul, psikologi menjelaskan mengapa individu melibatkan diri pada aksi kolektif dengan mengandalkan pendekatan mikro level. Penggunaan sosial psikologi dalam memandang aksi kolektif akan menjadi mekanisme yang komprehensif karena bidang ilmu tersebut berkembang dari cabang ilmu sosial dan psikologi (Farr, 1. Pada rentang tahun 1970-2024 tersebut peneliti melihat perkembangan pemahaman aksi kolektif yang besar, salah satunya adalah dari bagaimana definisi aksi kolektif mencoba untuk memenuhi tuntutan perkembangan aksi kolektif di lapangan. Pada rentang tahun 1939-1970 penggunaan definisi aksi kolektif masih belum menemui Hal ini terlihat dari bagaimana ilmuan membedakan definisi aksi kolektif dengan perilaku kolektif. Perbedaan diantara keduanya terlihat dari aksi kolektif http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 dianggap merupakan tindakan yang memiliki tujuan sehingga sering kali dikaitkan dengan strikes atau protes, sementara perilaku kolektif dimaknai sebagai perilaku yang muncul begitu saja dari kerumunan. Perilaku kolektif dianggap harusnya bersifat tidak rutin, dan tidak normatifAi contohnya perilaku brutal kerumunan . an Stekelenburg & Klandermans, 2. Barulah pada tahun-tahun setelahnya, aksi kolektif dan perilaku kolektif dianggap sebagai padanan kata yang sama (Oliver, 2. Teori yang paling klasik dalam menjelaskan aksi kolektif adalah relative deprivation. Sehingga tema-tema polarisasi terhadap dua kelompokAiadvantaged group dan disadvantaged groupAibanyak dijadikan definisi dalam menggambarkan aksi kolektif (DeLamater, 2. Satu diantaranya adalah definisi yang ditawarkan oleh Wright et al. Namun definisi tersebut tidak cukup memadai untuk mencakup perkembangan aksi kolektif setelahnya, baik dalam segi kualitatif dan kuantitatif. Perubahan aksi kolektif secara kualitatif yang dimaksud melibatkan bagaimana aksi kolektif dilakukan, termasuk di dalamnya perkembangan yang disebabkan oleh internet, media sosial, email dan gawai yang memberikan masyarakat sebuah dunia baruAidunia maya. Termasuk arah aksi kolektif tersebut dilakukan apabila aksi kolektif pada banyak literatur hanya menyorot aksi yang dilakukan ke pada outgroup, misalnya aksi kolektif kepada pemerintah ataupun penguasa, perkembangan penelitian aksi kolektif juga mulai menyorot tentang aksi kolektif yang mengarah ke dalam atau biasanya disebut ingroup collective action. Hal tersebut ditengarai menurunnya jumlah aksi kolektif yang dilakukan masyarakat, hanya sekitar 5% kelompok yang disadvatage melakukan aksi kolektif kepada outgroup (Jost et al. , 2017. sehingga banyak diantara peneliti menawarkan alternatif jawaban tentang mengapa fenomena tersebut terjadi. Satu diantaranya adalah Stroebe et al . yang menjelaskan bahwa berkurangnya aksi kolektif yang terjadi dikarenakan masyarakat melakukan tindakan aksi kolektif alternatif yakni ingroup collective actionAimelakukan donasi misalnya. Perubahan preferensi masyarakat tentang jenis aksi kolektif tersebut membuat definisi aksi kolektif tidaklah lagi mumpuni untuk dipakai dikarenakan definisi tersebut hanya mencakup aksi kolektif yang mengarah ke outgroup collective action. Perkembangan aksi kolektif dapat pula dilihat secara kuantitatif yang tidak hanya dilakukan oleh mereka yag sedang berada dalam kelompok advantaged, namun juga mereka yang berada dalam kelompok advantaged, misalnya keikutsertaan pria pada aksi http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 kolektif tentang isu kesetaraan gender atau keikutsertaan warga Amerika berkulit putih pada aksi kolektif tentang isu diskriminasi berdasarkan ras. Definisi aksi kolektif tersebut perlu berkembang untuk mengakomodir segala perkembangan tersebut . Hornsey et , 2006. MikoCajczak & Becker, 2. Lebih lanjut, penulis juga mensintesa antecedent yang memprediksi intensi Individu untuk melakukan aksi kolektif. Penulis mengelompokkan antecedent tersebut menjadi lima faktor yaitu kognitif, emosional, komunikasi dan kontak sosial, politik dan ideologi, dan yang terakhir budaya serta believe. Faktor kognitif tidak pernah absen menjadi prediktor dalam banyak penelitian aksi kolektif. Hal ini dikarenakan prasyarat individu untuk bergerak dalam mengatasnamakan kelompok hanya terjadi saat individu tersebut mengidentifikasikan diri mereka dengan kelompok tertentu (Abrams et al. , 1. Penulis juga memasukkan grievance pada kelompok antecedent yang memprediksi aksi kolektif. Meski padanan kata grievance dalam bahasa Indonesia adalah AokeluhanAo yang lebih cenderung terkesan emosional, namun grievance merupakan hasil dari relative deptivation yang dilakukan oleh Individu/kelompok. Relative deptivation terjadi ketika Individu/kelompok membandingkan kondisi yang mereka punyai dengan Individu/kelompok lainnya (Bierhoff et al. , 2. Saat mereka mendapati kelompok mereka berada pada posisi disadvantage maka akan lahir grievance yang dapat menjadi prediktor dari aksi kolektif. Perbandingan kondisi ingroup dan outgroup tersebut bekerja pada level kognitif Individu. Apabila yang menjadi perbandingan Individu adalah dirinya sendiri dengan orang lain maka perbandingan itu disebut sebagai egoistic deprivation, namun apabila yang dibandingkan adalah kelompoknya dengan kelompok lain maka perbandingannya disebut sebagai fraternalistic deprivation (Runciman, 1. Foster & Matheson . menyarankan untuk menggunakan kedua jenis relative deprivation tersebut untuk menangkap hubungan yang utuh antara Individu dan kelompoknyaAi double relative deprivation. Peneliti juga mengelompokkan antecedent aksi kolektif ke dalam faktor emosional karena berada di pusaran diskusi aksi kolektif. Pada masa-masa tersebut aksi kolektif dianggap merupakan respon irasionalitas dari ketidakpuasan. Kerangka yang dipakai faktor emosi dalam memprediksi aksi kolektif adalah intergroup emotion theory. Kerangka tersebut menjelaskan saat individu mengkategorisasikan dirinya sebagai anggota sebuah kelompok, apa pun kondisi yang menerpa kelompoknya akan dianggap http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 berkorelasi dengan dirinya . elf-relevan. dan memicu spesifik emosi. Emosi tersebut yang memicu kesediaan untuk melakukan aksi (Gordijn et al. , 2. Salah bentuk emosinya adalah marah, perasaan tersebut muncul dalam sebuah kelompok sebagai penanda bahwa terdapat bahaya sebagai bentuk dari ketidakadilan atau pelanggaran yang dilakukan terhadap individu atau kelompok oleh Individu atau kelompok lainnya (Scherer, 2. Studi yang menggunakan perasaan marah dalam memprediksi aksi kolektif adalah Shepherd et al. , . Bukan saja marah, namun perasaan emosi lainnya seperti pitty, malu atau cemas . Shepherd et al. , 2013, 2018b. Stathi et al. , 2. juga dapat menjadi peringatan kepada Individu/kelompok tentang kondisi Individu atau kelompok yang sedang tidak baik-baik saja. Faktor selanjutnya adalah komunikasi dan kontak, seperti. negaive contact dan positive contact . Hayward et al. , 2018. Meleady & Vermue, 2019. Pollmanns & Asbrock, 2023. Prati et al. , 2023. Stathi et al. , 2019. Negaive contact akan memperkuat self-categorization dan membuat keanggotaan dalam kelompok menjadi penting. Aberson . menjelaskan bahwa negative contact tersebut akan memicu munculnya prasangka dan ancaman yang akan menjadi alasan disadvanted group untuk melakukan aksi kolektif. Dijelaskan pula bagaimana kontak mempengaruhi advantaged group untuk terlibat pada aksi kolektif yang dilakukan oleh disadvanted group. Gaertner et al . menjelaskan bahwa positive contact dengan outgroup akan melemahkan identitas sosial karena ingroup akan melihat kemiripan kelompoknya dengan kelompok outgroup, hal ini bisa pun terjadi sebaliknya. Pada saat outgroup menemukan kesamaan, kontak tersebut akan membuat mereka yang tergabung pada high-status group akan mengidentifikasikan diri mereka dengan lower-status group yang akan memprediksi aksi kolektif yang dilakukan oleh high-status group atas nama lower-status group. Perubahan terjadi pada faktor komunikasi karena perkembangan internet yang juga semakin meluas. Sehingga berita, ataupun informasi dapat tersampaikan secara cepat. Beberapa studi mengangkat tema tentang hubungan media dengan aksi kolektif . Selvanathan & Lickel, 2021. Thomas et al. , 2. Kerangka yang dipakai dalam menjelaskan komunikasi di dunia maya dalam memicu aksi kolektif adalah social identity theory (Thomas et al, 2. Melalui postingan, berbagi dan berkomentar secara online, orang-orang dalam berbagai belahan dunia akan terpicu oleh sebuah masalah dan saling terhubung pada bagaimana harapan mereka tentang dunia (Smith et al. , 2. Tindakan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 tersebut memicu perasaan solidaritas, salah satu bentuk tindakan solidaritas yang paling mungkin terjadi adalah aksi kolektif (Bennett & Segerberg, 2. Penelitian aksi kolektif yang menggunakan antecendent dari faktor komunikasi adalah Cornejo et al . yang meneliti tentang frekuensi perbincangan antara anak dan orang tua tentang politik dalam memprediksi aksi kolektif. Perbincangan tersebut berpengaruh tidak langsung pada partisipasi anak di aksi kolektif melalui pengetahuan yang didapatkan oleh anak pada saat perbincangan terjadiAipolitical socialization. Mekanisme yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah transmition yang menyebutkan bahwa percakapan dapat menjadi sarana yang paling efektif dalam menyampaikan opini dan pengalaman politik orang tua pada anak (Cornejo et al. , 2. Faktor politik dan ideologi juga digunakan peneliti untuk mengelompokkan Hal ini dikarenakan peran ideologi juga sangat sentral dalam memprediksi aksi kolektif . ao, 2. , sayangnya tema-tema serupa masih sangat jarang ditemui di berbagai literatur . o, 2020, dan jost 2. Contoh nyata di lapangan sangat mencukupi untuk menjelaskan hubungan kedua variabel tersebut. aksi kolektif yang menjadikan ideologi sebagai alasan utama, seperti aksi kolektif tentang pro-trumb, atau larangan beraktivitas karena Covid . Dimensi ideologi yang sering digunakan pada penelitian aksi kolektif adalah right-wing authoritarianism (RWA) dan social dominance orientation (SDO) (Choma et al. , 2. RWA sering kali dicirikan memiliki reaksi hukuman yang ketat pada pelanggaran sosial dan penganutnya memiliki kepatuhan kaku terhadap tatanan sosial (Altemeyer, 1981. Duckittetal. , 2. , sementara SDO dicirikan memiliki preferensi sistem sosial yang terorganisir dengan bentuk hirarkiAibeberapa kelompok memegang kekuasaan dan kendali yang lebih besar atas kelompok lain (Ho et , 2012, 2. Beberapa kerangka yang dipakai dalam menjelaskan hubungan ideologi dengan aksi kolektif antara lain system justification theory dan social dominance theory (Ho & Kteily, 2020. Jost et al. , 2017. Perhatian ahli tentang hubungan diantara keduanya dimulai pada saat Van Zomeren . menjelaskan bahwa moralitas harusnya menjadi prediktor aksi kolektif seperti identitas sosial. Pandangan tersebut membuka peluang tentang nilai-nilai individu termasuk pandangannya mengenai keadilan . ystem justification theor. dapat menjelaskan aksi kolektif. Beberapa diantaranya yang http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 mengangkat tema yang serupa dalam ulasan studi ini adalah Bird et al . SubaiN et al . Choma et al . dan Gkinopoulos & Mari . Terakhir, pengaruh faktor budaya dan believe dalam aksi kolektif hubungan yang sangat signifikan karena budaya membentuk norma, nilai, dan makna yang mendasari tindakan bersama dalam masyarakat. Contohnya, karakter budaya dapat menambah kemungkinan konflik intercultural, dengan memperkuat intercultural misunderstandings (Triandis, 2000. Williams, 2. Hal tersebut bisa terjadi karena budaya secara umum diterima dan dapat dipertimbangkan sebagai standar untuk mengkomunikasikan norma atau etika kepada anggota baru dalam masyarakat. Oleh karena itu, budaya berfungsi sebagai shared understanding tentang bagaimana dan seharusnya masyarakat berjalan (Schwartz & Ros, 1. Tema-tema yang muncul terkait peran budaya di masyarakat adalah community-based values (Badea et al. , 2. atau diversity (Knab & Steffens, 2. Instrumen yang dipakai berdasarkan studi terdahulu berasal dari Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. Skala tersebut sering kali disebut pula sebagai one-sided measures dikarenakan skala tersebut alih-alih menggunakan dua bentuk jenis dari aksi kolektif yakni normative dan nonnormative collective action, sayangnya hanya menggunakan unilaterally (Cervone et al, 2. Bukan saja Van Zomeren et al . 4, 2008, 2011, 2. , banyak skala lainnya pula menggunakan one-sided measures, seperti: Selvanathan & Lickel . , dan Tausch et al . Instrumen one-sided measures tersebut hanya berorientasi pada aksi kolektif dengan tujuan mengancam sistem dan melibatkan kelompok minoritas. Padahal aksi kolektif ada pula yang berbentuk konservatif dengan mendukung sistem. Kondisi tersebut menurut Duncan . membentuk Aua knowledge gapAy. Skala tersebut dapat menimbulkan kebingungan dalam menjelaskan tendensi individu tentang aksi kolektif, seperti simpati terhadap isu yang dibawa, namun tidak suka dengan bentuk aksi kolektif. Ketika menggunakan skala one-sided measures individu menjawab tidak memiliki intensi untuk melakukan aksi kolektif, namun pada saat yang sama, individu tersebut akan di anggap tidak mendukung isu yang dibawa. Cervone et al . menyebut skala yang pada umumnya dipakai tidak dapat membedakan antara inactive atau tidak peduli dengan mereka yang menentang tujuan utama tindakan aksi kolektif. Cervone et al . menawarkan skala baru yang dinamakan Belief-aligned Collective Action scale http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 (BCA) yang terbukti memiliki hubungan yang kuat dengan teori-teori yang dijelaskan sebelumnya, seperti: dengan menggunakan BCA, ditemukan bahwa kemarahan secara positif berhubungan dengan aksi kolektif, sementara BCA berhubungan negatif dengan system justification. Cervone et al . menemukan bahwa BCA dapat digunakan dalam berbagai konteks masalah pada berbagai tipologi ideologi. topik yang berhubungan dengan right-wing . dan left-wing . ajak kekayaa. Temuan tersebut menjadi sangat penting dikarenakan lebih dari 50 tahun, bias ideologi selalu menjadi masalah utama dalam penelitian-penelitian di psikologi sosial terutama yang berkaitan dengan aksi kolektif (Cervone et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian dalam studi ini memberikan kontribusi dalam menjelaskan perkembangan aksi kolektif dengan menekankan pada tiga tema besar yakni. antecedents, dan pengukuran aksi kolektif. Peneliti di awal telah memberikan penjelasan lengkap tentang bagaimana definisi aksi kolektif berubah demi menyesuaikan tuntutan zaman yang juga turut berkembang seiring waktu. Peneliti juga menampilkan lima sub tema untuk memberikan penjelasan yang cukup lengkap tentang antecedents yang dipakai dalam berbagai penelitian yang diulas. Subtema yang terlibat adalah faktor kognitif, faktor emosional, faktor komunikasi dan kontak sosial, faktor politik dan ideologi, dan faktor budaya dan believe. Peneliti juga melaporkan tentang skala aksi kolektif yang dipakai pada studi-studi Secara keseluruhan, implikasi penelitian ini adalah aksi kolektif telah mengalami perkembangan yang pesat, terutama pada antecedents dalam memprediksi aksi kolektif. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan drastis kehidupan manusia yang dipicu oleh penemuan dan kepopuleran internet di kalangan masyarakat. Di Indonesia, banyak aksi kolektif pula dilakukan bukan saja pada dunia realitas, namun juga di dunia Aksi kolektif dilakukan ketika mengawal keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang diawali dari panggilan darurat yang tersebar di berbagai sosial media. Hasil riset ini memberikan alternatif kepada masyarakat mengenai berbagai bentuk aksi kolektif, baik yang dilakukan didunia maya atau bahkan dalam bentuk donasi. Selain itu, semakin maraknya digitalisasi, peneliti dianggap perlu memperlebar fokus ke ruang maya sebagai bagian penting dalam menyuarakan suara. Pemerintah Indonesia pun seharunya perlu http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 mendengar suara tersebut sejak dari awal melalui dunia maya dan melakukan tindakantindakan preventif agar gelombang aksi kolektif yang lebih besar dapat diatasi. DAFTAR PUSTAKA