Journal of Mental Health Vol 2 . October 2025, page 78-84 Received 7 October. Revised 12 October. Accepted 13 October 2025 p-ISSN 3089-2880 e-ISSN 3089-2589 Penerapan art therapy menggambar dan mewarnai terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien gangguan persepsi Shinta Lestariyanah RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal. Jawa Tengah. Indonesia Email Korespondensi: nocksinta90@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Halusinasi pendengaran bentuk gangguan persepsi sensori yang ditandai dengan mendengar suara atau bisikan yang tidak nyata. Gejala ini dapat memicu perilaku agresif dan kecenderungan isolasi sosial. Pendekatan non-farmakologis seperti art therapy dinilai bermanfaat dalam membantu pasien mengelola halusinasi secara mandiri. Tujuan: Mendekripsikan penerapan art therapy menggambar dan mewarnai dalam asuhan keperawatan pada Pasien dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran di RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal. Metode: Studi kasus ini melibatkan tiga pasien (Tn. Tn. A, dan Tn. W) yang menunjukkan gejala halusinasi pendengaran. Implementasi keperawatan dilakukan selama tiga hari . Ae18 Juni 2. melalui pendekatan bertahap, yaitu teknik menghardik halusinasi, edukasi minum obat, distraksi melalui menggambar dan mewarnai, latihan bercakapcakap, dan anjuran menjadikan menggambar sebagai rutinitas. Analisa data yang digunakan yaitu distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Adanya penurunan signifikan pada indikator verbalisasi mendengar bisikan dan perilaku halusinasi. Skor ketiga pasien mengalami penurunan dari kategori AumeningkatAy pada hari pertama menjadi AumenurunAy pada hari ketiga, yang menunjukkan efektivitas dari intervensi art therapy. Kesimpulan: Art therapy terbukti efektif dalam mengurangi intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai alternatif terapi nonfarmakologis dalam praktik keperawatan jiwa. KATA KUNCI: art therapy. gangguan persepsi sensori. halusinasi pendengaran. keperawatan jiwa. terapi menggambar ABSTRACT Background: Auditory hallucinations are a form of sensory perception disorder characterized by hearing unrealistic voices or whispers. This symptom can trigger aggressive behavior and a tendency toward social isolation. Non-pharmacological approaches such as art therapy are considered beneficial in helping patients manage hallucinations independently. Objective: To describe the application of drawing and coloring art therapy in nursing care for patients with sensory perception disorders: auditory hallucinations at Dr. Soeselo Regional General Hospital in Tegal Regency. Methods: This case study involved three patients (Mr. Mr. A, and Mr. W) who exhibited symptoms of auditory hallucinations. Nursing implementation was carried out over three days (June 16Ae18, 2. through a step-by-step approach, namely the technique of rebuking hallucinations, medication education, distraction through drawing and coloring, conversation practice, and encouragement to make drawing a routine. Data analysis used frequency distribution and percentages. Results: There was a significant decrease in the indicators of verbalizing hearing whispers and hallucinatory behavior. The scores of the three patients decreased from the AuincreasedAy category on the first day to the AudecreasedAy category on the third day, indicating the effectiveness of art therapy intervention. Conclusion: Art therapy has been proven effective in reducing the intensity and frequency of auditory hallucinations in patients with sensory perception disorders. This intervention can be used as an alternative nonpharmacological therapy in psychiatric nursing practice. KEYWORDS: art therapy. auditory hallucinations. drawing therapy, psychiatric nursing. perception disorder Copyright A 2025 Journal This work is licensed under a Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License Journal of Mental Health Vol 2 . October 2025, page 78-84 Received 7 October. Revised 12 October. Accepted 13 October 2025 p-ISSN 3089-2880 e-ISSN 3089-2589 PENDAHULUAN Halusinasi didefinisikan sebagai persepsi sensorik seseorang yang terjadi tanpa adanya rangsangan. Salah satu jenis halusinasi yang paling umum adalah halusinasi pendengaran, yaitu kemampuan untuk mendengar suara atau bunyi. Halusinasi harus menjadi fokus bersama kita karena jika tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat menyebabkan konsekuensi negatif bagi kesejahteraan pasien, kesejahteraan orang lain, dan lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena pasien seringkali menunjukkan ejekan, ancaman, dan perintah untuk membantu mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri atau orang lain (Povi Nursiamti & Norman Wijaya Gati, 2. Berbagai metode yang dapat digunakan untuk mengendalikan kondisi ini adalah bercakap-cakap, penggunaan obat minimal, ghardik, dan aktivitas di rumah. Di antara berbagai aktivitas yang dapat dengan mudah diterapkan, salah satu yang paling umum adalah terapi seni atau seni terapi. Terapi seni didefinisikan sebagai cara untuk memahami dan memberdayakan orang lain melalui terapi seni yang sensitif. Ada banyak jenis aktivitas terapi yang berbeda, seperti melukis konstruksi, kolase, cetak grafis, dan ilustrasi (Hidayat et al. , 2. Art therapy memiliki potensi terapeutik dan dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan dukungan psikologis serta meredakan gangguan emosional. Selain itu, hal ini dapat mendorong seseorang untuk mengekspresikan diri (Akhan & Atasoy, 2. Dibandingkan dengan media lain, penggunaan ilustrasi dalam seni rupa memiliki keunggulan dalam menampilkan simbol-simbol yang muncul dari kegelapan sebagai ekspresi pasien. Menurut Ceauou . , dasar psikologis untuk menjelaskan neuropsikologi melalui ilustrasi gambar adalah bahwa media gambar berfungsi sebagai simbol instrumental otak yang berfungsi serupa dengan bahasa verbal. media gambar berfungsi sebagai representasi tingkat kortikal tertentu. setiap pelajaran pada tingkat kortikal tertentu akan diamati melalui adanya gangguan khusus dalam media gambar. Berfungsi sebagai alat neurosains, media gambar dapat digunakan sebagai metode analisis diagnosis psikologis. Menurut Winda . , terapi melukis dan menggambar dianggap efektif untuk pasien dengan skizofrenia. Terapi ini dapat meningkatkan motivasi, hubungan interpersonal, dan kepatuhan terhadap obat. Terapi ini juga memperbaiki pola tidur, mengurangi kecemasan, depresi, dan kemarahan, serta mengatasi gejala positif dan Tujuan penelitian ini adalah mendekripsikan penerapan intervensi Art Therapy menggambar dan mewarnai terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. METODE Design Desain penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif. Pertanyaan Penelitian Bagaimana Penerapan Art therapy Menggambar Pada Pasien Pengan Halusinasi Di Ruang Bougenville RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal? Sampel dan setting Studi kasus mengambil 3 responden di Ruang Bougenville RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal, untuk dikaji bagaimana penerapan Art therapy menggambar pada pasien dengan halusinasi pendengaran untuk mengetahui sebelum dan sesudah diberikan intervensi Art therapy menggambar. Variabel Variabel independent Art Therapy dan variable dependen kemampuan mengontrol Journal of Mental Health Vol 2 . October 2025, page 78-84 Received 7 October. Revised 12 October. Accepted 13 October 2025 p-ISSN 3089-2880 e-ISSN 3089-2589 Instrumen Alat Pengumpulan data menggunakan lembar pengkajian format asuhan keperawatan jiwa. SOP Art Therapy menggambar bebas dan mewarnai dan cheklist lembar observasi dan evaluasi sesuai Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) Pengumpulan data Metode pengumpulan data pada studi kasus yaitu dengan Wawancara. Observasi. Pemeriksaan fisik dan status mental dan Dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di ruang Bougenville RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal selama 3 hari berturut-turut . -18 juni 2. dengan responden 3 pasien Analisa data Analisa data dalam sudi kasus ini meliputi pengkajian keperawatan, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang dijelaskan secara deskriptif. Penyajian data disajikan secara narasi atau deskriptif sederhana. Dari data yang telah diperoleh penulis disajikan dan dibahas dalam bentuk narasi dan tabel Pertimbangan etis Studi kasus ini menjaga prinsip etika studi kasus yaitu: Lembar persetujuan (Informed consen. Tanpa nama (Anonimit. Kerahasiaan (Confidentialit. Manfaat (Beneficenc. Keadilan (Justic. HASIL Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden Kriteria Frekuensi Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia responden . Pendidikan Tidak sekolah SMP SMA/K D3/S1 Pekerjaan Tidak bekerja Karyawan swasta Wirausaha Buruh Petani Lama sakit . O1 Persentase (%) Tabel 1 didapatkan data dari 3 responden jenis kelamin responden adalah laki-laki . %), sebagian besar responden berusia 26-35 tahun dengan jumlah responden 2 . 67%) dan 1 responden berusia 36-45 tahun . 33%). Tingkat Pendidikan responden, 2 responden . 67%), tingkat Pendidikan SMP dan 1 responden . tingkat Pendidikan SMA. 3 responden . %) berstatus tidak bekerja dan lamanya sakit semua responden O1 tahun dengan jumlah 3 responden . %). p-ISSN 3089-2880 e-ISSN 3089-2589 Journal of Mental Health Vol 2 . October 2025, page 78-84 Received 7 October. Revised 12 October. Accepted 13 October 2025 Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kemampuan pasien Mengontrol Halusinasi Kemampuan Mengontrol Halusinasi Menghardik Bercakap-cakap Minum obat Kegiatan terjadwal Sebelum Persentase Sesudah Persentase Tabel 2 menunjukkan bahwa sebelumnya 3 responden belum bisa melalukan cara mengontrol halusinasi menghardik, bercakap, cakap-cakap, minum obat dan kegiatan Setelah dilakuakan penerapan cara mengontrol halusinasi 3 responden . %) mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, bercakap, cakap-cakap, minum obat dan kegiatan terjadwal. Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kemampuan pasien Melakukan Intervensi Art Therapy Menggambar Dan Mewarnai Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi Kemampuan Pasien melakukan Intervensi Art Therapy Menggambar Dan Mewarnai Mampu Tidak mampu Total Frekuensi Persentase (%) Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 3 respoden . %) penelitian, semuanya memiliki kemampuan untuk melakukan Intervensi Art Therapy Menggambar Dan Mewarnai Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi. Tabel 4 Kemampuan Pasien dalam Mengontrol halusinasi pendengaran sebelum dan sesudah dilakukan Art Therapy Menggambar dan Mewarnai Nilai Tingkat Halusinasi Menurun Cukup Menurun Sedang Cukup Meningkat Meningkat Total Art Therapy Menggambar dan Mewarnai Sebelum Presentase Setelah Presentase Tabel 4 menunjukan bahwa berdasarkan tingkat halusinasi ketiga Responden sebelum dilakukan penerapan Art Therapy menggambar dan mewarnai hasilnya meningkat dengan presentase 100%, sedangkan setelah dilakukan penerapan Art Therapy menggambar dan mewarnai hasilnya tingkat halusinasi 3 responden . %) menurun. PEMBAHASAN Gangguan persepsi sensorik halusinasi merupakan salah satu masalah kesehatan Halusinasi adalah jenis gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan dalam persepsi sensorik, memungkinkan hal-hal palsu muncul dalam berbagai bentuk seperti suara, penglihatan, rasa, sentuhan, atau bau (Cahayatiningsih & Rahmawati, 2. Menurut Oktaviani et al. , ( 2. Tanda dan gejala halusinasi pendengaran bisa berupa: mendengar suara-suara yang berbicara, memerintah. Journal of Mental Health Vol 2 . October 2025, page 78-84 Received 7 October. Revised 12 October. Accepted 13 October 2025 p-ISSN 3089-2880 e-ISSN 3089-2589 mengejek, atau mengancam, serta perilaku seperti bicara atau tertawa sendirian, marahmarah tanpa sebab, dan memindahkan telinga ke area tertentu. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Anda dan pasangan Anda mengalami gejala gangguan persepsi berikut: halusinasi, yang didefinisikan sebagai tersenyum atau tertawa, berbicara, reaksi yang tidak sesuai dengan yang dinyatakan, gerakan setelah mengalami halusinasi, kurang konsentrasi, kurang interaksi dengan orang lain, dan berpura-pura mendengar sesuatu (Cahayatiningsih & Rahmawati, 2. Implementasi keperawatan pada hari 1, tanggal 16 Juni 2025 Pukul 10. 00 WIB dengan penerapan kepada ketiga klien cara menghardik dan menggambar bebas. Hasil evaluasi pada hari 1 terdapat penurunan Verbalisasi mendengar bisikan dan Perilaku halusinasi. Tn. S mengalami penurunan verbalisasi dari 5 (Meningka. menjadi 4 (Cukup Meningka. dan Perilaku halusinasi 5 (Meningka. menjadi 4 (Cukup meningka. Tn. mengalami penurunan verbalisasi dari 5 (Meningka. menjadi 4 (Cukup Meningka. dan Perilaku halusinasi 5 (Meningka. menjadi 4 (Cukup meningka. sedangkan Tn. penurunan verbalisasi dari 5 (Meningka. menjadi 4 (Cukup Meningka. Implementasi keperawatan pada hari ke 2. Tanggal 17 juni 2025 Pukul 10. WIB dengan penerapan mengontrol halusinasi dengan minum obat dan mengajarkan melakukan distraksi terapi menggambar dan mewarnai dengan media HVS. Hasil evaluasi pada hari 2 terdapat penurunan Verbalisasi mendengar bisikan dan Perilaku halusinasi. Tn. S mengalami penurunan verbalisasi dari 4 . ukup Meningka. menjadi 3 . dan Perilaku halusinasi 4 . ukup meningka. menjadi 3 . Sedangkan Tn. A dan Tn. hanya mengalami penurunan pada indikator perilaku halusinasi yang sebelumnya 4 (Cukup meningka. menjadi 3 (Sedan. Implementasi keperawatan pada hari ke 3. Tanggal 18 juni 2025 Pukul 10. WIB dengan penerapan mengontrol halusinasi dengan minum obat dan mengajarkan melakukan distraksi terapi menggambar dan mewarnai dengan media HVS. Melatih klien untuk Bercakap-cakap dengan teman, mengajarkan melakukan distraksi terapi menggambar dan mewarnai, menganjurkan untuk memasukkan kegiatan menggambar dalam kegiatan sehari-hari. Hasil evaluasi pada hari 3 terdapat penurunan Verbalisasi mendengar bisikan dan Perilaku halusinasi. Tn. S mengalami penurunan verbalisasi dari 3 (Sedan. menjadi 1 . dan Perilaku halusinasi 3 . menjadi 1 . Tn. A mengalami penurunan verbalisasi dari 4 . ukup Meningka. menjadi 1 . dan Perilaku halusinasi 3 . menjadi 1 . sedangkan Tn. W penurunan verbalisasi dari 4 . ukup Meningka. menjadi 1 . dan Perilaku halusinasi 3 . menjadi 1 . Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani et al. , . menyatakan bahwa gejala halusinasi dapat dicegah dengan mengobati dan menangani halusinasi pasien secara Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, penerapan dilakukan pada dua pasien halusinasi. Penelitian ini didukung oleh Wulansari & Susilowati . , dikatakan bahwa setelah terapi okupasi diterapkan, kedua responden mengalami penurunan skor halusinasi mereka, dengan total 14 dan 5 skor masuk ke dalam kategori halusinasi Kedua responden mengalami perubahan yang awalnya terjadi pada halusinasi mereka dan akhirnya menjadi halusinasi sedang. Selain menghardik, implementasi minum obat, bercakap-cakap dan menggambar bebas juga bisa menurunkan tanda gejala halusinasi pendengaran. Penelitian ini sejalan dengan Cahayatiningsih & Rahmawati . , yang menjelaskan bahwa tanda gejala halusinasi pendengaran dapat dipicu oleh percakapan. Percakapan juga dapat digunakan sebagai upaya distraksi pasien agar halusinasi teralihkan, sehingga keluhan halusinasi mulai berkurang hingga tidak menghalangi proses pemulihan. Halusinasi pendengaran dapat dijelaskan sebagai berikut: halusinasi berbicara dengan orang lain atau dengan orang yang bersangkutan. aktivitas teratur . enggambar beba. dan penggunaan obat secara teratur. Fakta bahwa keempat metode ini tidak dilakukan secara teratur oleh penderita halusinasi akan menyebabkan penderita terus-menerus terganggu oleh halusinasi yang bersangkutan (Famela et al. , 2. Journal of Mental Health Vol 2 . October 2025, page 78-84 Received 7 October. Revised 12 October. Accepted 13 October 2025 p-ISSN 3089-2880 e-ISSN 3089-2589 Terapi menggambar dan mewarnai ilustrasi bermanfaat untuk mengekspresikan dan menggugah perasaan serta emosi penderita halusinasi. Menggambar membantu pembaca memahami dan menghargai perasaannya melalui ekspresi artistik dan proses Selain itu, proses kreatif membantu mereka membangun hubungan dengan orang Selain itu, terapi menggambar juga dapat membantu pasien terlibat dalam aktivitas motorik, sehingga pasien tidak terjebak dalam realitas imajiner yang mereka ciptakan sendiri (Muda et al. , 2. Kekuatan dan Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dari pelaksanakan penelitian dan penerapan yang telah dilakukan yaitu rentang waktu pretest dan posttest yang cukup singkat dan Terapi ini lebih berfokus pada manajemen gejala . engurangi frekuensi dan intensitas halusinas. daripada mengatasi penyebab dasar gangguan halusinasi dan kekuatan studi kasus ini dapat dijadikan acuan atau bahan referensi untuk penelitian lain. Implikasi Hasil Penelitian Temuan efektivitas Art therapy dalam mengurangi halusinasi pendengaran tidak hanya memperkaya opsi terapi, tetapi juga menggeser paradigma penanganan gangguan persepsi sensori ke arah pendekatan yang lebih holistik, integratif, dan berpusat pada Implementasi hasil ini memerlukan kolaborasi multidisiplin antara klinisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan komunitas untuk memastikan dampak yang berkelanjutan dan KESIMPULAN Adanya perubahan ketiga klien setelah dilakukan penerapan terapi menggambar bebas dan mewarnai. Ketiga klien mampu mengontrol tanda dan gejala halusinasi setelah diberikan Art Therapy menggambar bebas dan mewarnai. Intervensi Art Therapy dapat dijadikan terapi komplementer pada pasien dengan gangguan halusinasi. Conflict Of Interest Statement Tidak ada Funding Source Tidak ada Author Acknowledgement Penulis mengucapkan terimakasih kepada pasien yang telah bersedia menjadi responden dan kepada rekan sejawat di ruang Bougenville RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal. REFERENSI