(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. PENGARUH KADAR GULA DARAH TERHADAP RISIKO TERJADINYA INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDIRI THE EFFECT OF BLOOD GLUCOSE LEVELS ON THE RISK OF URINARY TRACT INFECTIONS IN DIABETES MELLITUS PATIENTS Info Artikel Diterima:10 september 2025 Direvisi:6 Desember 2025 Disetujui:30 September 2025 Lilia Danina Putri1. Maruni Wiwin Diarti2. Iswari Pauzi3. Erlin Yustin Tatontos4 1,2,3,4 Departemen Teknologi Laboratorium Medis. Poltekkes Kemenkes Mataram. Nusa Tenggara Barat. Indonesia (E-mail penulis korespondensi: daninaaside@gmail. ABSTRAK Latar Belakang :Hiperglikemia menciptakan kondisi urin yang mendukung pertumbuhan bakteri, ditambah dengan penurunan sistem imun dan gangguan pengosongan kandung kemih. Hiperglikemia dapat meningkatkan kejadian ISK disebabkan karena glukosa juga hadir dalam urin . yang menciptakan media yang subur untuk pertumbuhan bakteri. Meskipun kasus DM cukup tinggi di wilayah Puskesmas Kediri, penelitian tentang hubungan antara kadar gula darah dan risiko ISK masih terbatas. Oleh karena itu, penting dilakukan kajian untuk mengetahui apakah kadar gula darah memengaruhi risiko terjadinya ISK pada pasien DM. Tujuan : : Mengetahui pengaruh kadar gula darah terhadap risiko terjadinya infeksi saluran kemih pada pasien diabetes melitus. Metode : : Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan crosectional. Sebanyak 30 pasien DM sebagai responden dengan kadar gula darah >200 mg/dl diperiksa urinnya yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan Teknik purposive sampling. Urin pasien diperiksa dengan metode sedimen urin untuk mendeteksi adanya bakteri sebagai indikator ISK. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Hasil dari pemeriksaan bakteri pada sedimen urin 30 responden, 23 responden dinyatakan positif mengalami ISK. Hasil uji Chi-Square . =0,. 200 mg/dL were selected as respondents. Their urine samples, which met the inclusion and exclusion criteria, were examined using purposive sampling technique. Urine analysis was conducted using the urine sediment method to detect the presence of bacteria as an indicator of urinary tract infection (UTI). The data were analyzed using (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. the Chi-Square test. Result: Out of 30 respondents, 23 respondents tested positive for urinary tract infection (UTI) based on bacterial findings in the urine sediment. The Chi-Square test results showed a p-value of 002 . < 0. , indicating a statistically significant relationship between blood glucose levels and the incidence of UTI. Conclusion: Blood glucose levels have an effect on the incidence of urinary tract infections (UTI. in diabetic patients. Keywords: Diabetes Mellitus. Blood Glucose Levels. Urinary Tract Infection (UTI) PENDAHULUAN Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu tantangan kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahun. International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa pada tahun 2019 terdapat sekitar 463 juta penderita DM di seluruh dunia, dan jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 700 juta pada tahun 2045. Penyakit ini berkontribusi besar terhadap angka kesakitan dan kematian melalui komplikasi akut maupun kronis, sehingga memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Di Indonesia. DM termasuk ke dalam sepuluh penyebab utama kematian. Data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi DM pada kelompok usia Ou15 tahun sebesar 10,9% dengan tren yang terus naik. Indonesia bahkan berada di posisi ke-7 dunia dengan jumlah penderita DM terbanyak, yaitu 19,5 juta jiwa pada tahun 2021. Kondisi ini menggambarkan beban kesehatan masyarakat yang cukup Di tingkat regional. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan 63. kasus DM pada tahun 2021. Kabupaten Lombok Barat menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus cukup tinggi, di mana tercatat 543 pasien DM di Puskesmas Kediri. Angka tersebut menegaskan bahwa DM merupakan masalah kesehatan masyarakat yang nyata di daerah ini. Penderita DM memiliki kerentanan lebih besar terhadap komplikasi, salah satunya infeksi saluran kemih (ISK). Faktor penyebabnya antara lain tingginya kadar gula darah yang mengakibatkan glikosuria sehingga urin menjadi tempat yang ideal bagi pertumbuhan bakteri patogen, khususnya Escherichia coli. Selain itu, neuropati diabetik dapat menghambat pengosongan kandung kemih, menyebabkan retensi urin, sementara gangguan sistem imun semakin memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa penderita DM memiliki risiko ISK hingga tiga kali lipat dibandingkan individu tanpa DM. METODE Penelitian ini merupakan kajian observasional analitik dengan rancangan potong lintang . ross-sectiona. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kediri. Kabupaten Lombok Barat, pada bulan Mei hingga Juni Sampel penelitian berjumlah 30 penderita DM dengan kadar gula darah lebih dari 200 mg/dl yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan dengan metode Point of Care Testing (POCT). Deteksi ISK dilakukan melalui pemeriksaan sedimen urin dengan mikroskop, di mana diagnosis ISK ditegakkan jika ditemukan leukosit >5 per lapangan pandang serta adanya bakteri. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square untuk melihat ada tidaknya korelasi antara kadar gula darah dan kejadian ISK. HASIL Data hasil penelitian karakteristik pasien DM di Puskesmas Kediri berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah. Persentase(%) Laki-laki Perempuan Total 43,3% 56,7% Berdasarkan jenis kelamin, 17 responden . ,7%) adalah perempuan, sementara 13 responden . ,3%) adalah laki168 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penderita DM dalam penelitian ini adalah Data hasil penelitian karakteristik pasien DM di Puskesmas Kediri berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur Jumlah. Persentase(%) <55 >55 Total Berdasarkan usia, 17 responden . %) berusia di atas 55 tahun, sedangkan 13 responden . %) berusia di bawah 55 tahun. Artinya, sebagian besar penderita DM dalam penelitian ini berada pada kelompok usia Berdasarkan hasil penelitian kadar gula darah dan sedimen urin dapat dilihat pada Tabel 3 Kadar Gula Darah Dan Sedimen Urin Kode Kadar gula Darah mg/dl Sedimen Urin Leukosit Bakteri Banyak >10-20 Banyak 0-15 Banyak 0-10 Banyak 10-20 0-10 Jumlah 10-20 0-10 0-15 Banyak 10-20 0-10 10-20 Banyak Penelitan ini dilakukan pada 30 orang pasien yang memiliki kadar gula darah tinggi. Dari hasil pemeriksaan kadar gula darah, diketahui bahwa sebanyak 30 orang memiliki kadar gula darah (GDP/GDS) di atas 200 mg/dl dengan rata rata hasil pemeriksaan gula darah 350 mg/dl. Dari 30 sampel yang diperiksa, sebanyak 23 orang dinyatakan berisiko mengalami Infeksi Saluran Kemih (ISK), sementara 7 orang lainnya dinyatakan negatif. Pemeriksaan sedimen urin pada pasien yang berisiko mengalami ISK menunjukkan berbagai temuan, seperti adanya bakteri dan Leukosit >5 LP dalam sedimen urin. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan maka dilakukan uji Chi-Square dan dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Hasil uji Chi-Square Uji Chi-Square menghasilkan nilai p=0,002 . <0,. , yang berarti terdapat korelasi bermakna antara kadar glukosa darah dengan kejadian ISK pada penderita DM. Berdasarkan crosstab, diketahui bahwa 94,7% pasien dengan kadar gula darah sangat tinggi mengalami ISK, sedangkan pada kategori kadar gula cukup tinggi, hanya 45,5% yang mengalami ISK. Nilai Pearson Chi-Square sebesar 9,453 . dengan signifikansi 0,002, diperkuat oleh FisherAos Exact Test . =0,. , semakin menegaskan adanya hubungan signifikan antara kedua variabel. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya korelasi signifikan antara kadar gula darah tinggi dengan meningkatnya risiko infeksi saluran kemih pada pasien DM. Dari 30 responden, 23 orang . ,7%) dinyatakan positif ISK. Temuan ini mengonfirmasi peran hiperglikemia dalam memicu kerentanan terhadap infeksi pada penderita DM. Secara patofisiologi, hiperglikemia menjadikan urin sebagai media yang sesuai bagi kolonisasi bakteri, khususnya Escherichia Neuropati diabetik dapat menghambat kontraksi kandung kemih dan menyebabkan retensi urin, sehingga peluang kolonisasi bakteri semakin besar. Ditambah lagi, gangguan pada sistem imun, termasuk disfungsi neutrofil dan limfosit, memperburuk kerentanan terhadap infeksi. Temuan penelitian Fitriani et al. yang melaporkan adanya hubungan bermakna antara kadar gula darah tidak terkontrol dengan kejadian ISK pada pasien DM di RSUD dr. Moewardi Surakarta. Penelitian Regina et al. juga menemukan adanya korelasi antara glikosuria dengan peningkatan bakteri dalam urin pasien DM. Selain itu, studi Ali et al. menyebutkan bahwa pasien perempuan memiliki risiko 3,5 kali lebih tinggi untuk menderita ISK dibandingkan laki-laki, sesuai dengan hasil penelitian ini di mana mayoritas responden positif ISK adalah perempuan. Meski demikian, masih terdapat beberapa pasien dengan kadar gula darah tinggi yang tidak mengalami ISK. Hal ini mungkin disebabkan faktor protektif lain, seperti perilaku kebersihan pribadi, kepatuhan mengonsumsi obat, kecukupan cairan, hingga variasi respon imun antar individu. Penggunaan antibiotik sebelumnya juga bisa menurunkan kemungkinan ditemukannya bakteri pada urin, meskipun kadar gula darah tetap tinggi. Pengendalian kadar gula darah tidak hanya mencegah komplikasi kronis seperti nefropati atau retinopati diabetik, tetapi juga berkontribusi dalam menurunkan risiko infeksi akut seperti ISK. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di layanan primer perlu memberikan edukasi yang lebih intensif kepada pasien DM mengenai pentingnya menjaga kontrol glikemik melalui diet, kepatuhan terapi, serta pemantauan rutin kadar gula darah. Namun, penelitian ini memiliki Pertama, jumlah sampel yang relatif kecil . membatasi generalisasi hasil. Kedua, pemeriksaan ISK hanya menggunakan sedimen urin tanpa kultur, sehingga identifikasi spesies bakteri penyebab tidak dapat dilakukan. Ketiga, penelitian ini belum memasukkan variabel tambahan seperti lama menderita DM, riwayat terapi, maupun riwayat infeksi sebelumnya. KESIMPULAN DAN SARAN Jumlah pasien DM di Puskesmas Kediri tercatat sebanyak 432 orang. Dari penelitian terhadap 30 responden dengan kadar gula darah tinggi, ditemukan bahwa 23 orang positif mengalami ISK. Uji Chi-Square . =0,. memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna antara kadar gula darah dan kejadian ISK. Disarankan agar penderita DM rutin memantau kadar gula darah, menjaga pola hidup sehat, dan mengendalikan glikemik untuk mencegah komplikasi infeksi. Penelitian selanjutnya diharapkan melibatkan jumlah sampel lebih besar, menggunakan pemeriksaan kultur urin untuk identifikasi bakteri, serta memasukkan variabel tambahan seperti HbA1c, status imunitas, dan kebersihan UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Mataram. Puskesmas Kediri, para pembimbing, serta semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA