Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai Upaya Pemanfaatan Teknologi untuk Pendidikan Norma Sari1*. Dody Hartanto2. Sri Winiarti3 1Fakultas Hukum. Universitas Ahmad Dahlan. Indonesia 2Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan. Indonesia 3Fakultas Teknologi Industri. Universitas Ahmad Dahlan. Indonesia INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Histori Artikel: Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di bidang pendidikan menghadirkan peluang sekaligus tantangan, terutama terkait aspek etika, perlindungan konsumen, dan keamanan data. Guru tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga sebagai konsumen dan mediator teknologi AI di lingkungan sekolah. Namun, masih terdapat keterbatasan pemahaman dan kesadaran guru dalam memanfaatkan AI secara etis dan bertanggung jawab. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran guru mengenai etika konsumen AI serta pemanfaatannya yang aman dan selaras dengan nilai-nilai pendidikan. Kegiatan dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dengan melibatkan 46 guru melalui pendekatan pendampingan partisipatif berupa rangkaian pelatihan tematik dan workshop. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test sebagai alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur perubahan tingkat pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru yang signifikan setelah mengikuti pelatihan. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas program dalam memperkuat literasi etis dan kesadaran guru terhadap penggunaan AI di pendidikan. Selain itu, kegiatan ini menghasilkan luaran berupa buku panduan Etika Konsumen Kecerdasan Artifisial bagi Guru sebagai referensi praktis Kegiatan pengabdian ini berkontribusi pada penguatan kapasitas profesional guru dalam menghadapi transformasi digital pendidikan secara etis dan bertanggung jawab. Submit: 30 September 2025 Revisi: 14 Desember 2025 Diterima: 19 Desember 2025 Publikasi: 26 Desember 2025 Periode Terbit: Desember 2025 Kata Kunci: artificial intelligence, literasi digital, literasi etika, perlindungan dan privasi data Correspondent Author: Norma Sari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia Email: norma. sari@law. Pendahuluan Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun signifikan, termasuk dalam sektor pendidikan. AI tidak lagi dipahami semata sebagai inovasi teknologi, melainkan sebagai instrumen strategis yang berpotensi mentransformasi proses pembelajaran, manajemen pendidikan, serta relasi antara pendidik dan peserta didik. Laporan terbaru UNESCO menegaskan bahwa AI dapat meningkatkan efisiensi administrasi pendidikan, mempersonalisasi pengalaman belajar, serta memperluas akses terhadap sumber daya pendidikan yang berkualitas secara lebih merata (UNESCO, 2. Dengan Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 kemampuannya dalam mengolah data secara masif dan memberikan rekomendasi berbasis algoritma. AI dinilai mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan kontemporer, khususnya dalam konteks pembelajaran yang adaptif dan berpusat pada peserta didik. Meskipun demikian, integrasi AI ke dalam praktik pendidikan tidak dapat dilepaskan dari berbagai implikasi etis, sosial, dan pedagogis yang kompleks. Pemanfaatan teknologi AI membuka peluang besar dalam peningkatan efektivitas dan efisiensi pembelajaran, namun pada saat yang sama menimbulkan risiko yang perlu diantisipasi secara serius. Isu-isu seperti perlindungan data pribadi, transparansi algoritma, bias sistem, serta pergeseran peran dan tanggung jawab manusia dalam proses pendidikan menjadi perhatian utama dalam diskursus global mengenai AI di bidang Oleh karena itu, sebagaimana dikemukakan oleh Holmes et al. pembahasan mengenai AI dalam pendidikan tidak hanya berkutat pada aspek teknis dan inovatif, tetapi juga menyentuh dimensi tanggung jawab moral, nilai-nilai kemanusiaan, serta prinsip keadilan dan akuntabilitas. Pada jenjang pendidikan menengah, khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA), pemanfaatan AI memiliki potensi yang cukup AI memungkinkan penyesuaian materi, metode, dan kecepatan pembelajaran sesuai karakteristik individu peserta didik, sehingga proses belajar dapat berlangsung secara lebih efektif dan efisien (Kristic et al. , 2. Namun demikian, penerapan AI yang optimal di lingkungan sekolah tidak dapat dilepaskan dari prasyarat pendukung, antara lain ketersediaan kompetensi digital guru, serta kebijakan institusional yang jelas dan berpihak pada perlindungan hak-hak pengguna. Tanpa kesiapan tersebut, penggunaan AI justru berpotensi menimbulkan permasalahan baru, khususnya terkait etika dan privasi data. SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, yang berlokasi di Jalan Kapas No. Semaki. Kecamatan Umbulharjo. Kota Yogyakarta, merupakan salah satu sekolah menengah swasta yang memiliki sejarah panjang sejak didirikan pada tahun 1950. Sebagai institusi pendidikan yang terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman, sekolah ini dihadapkan pada tantangan dalam mengadopsi dan mengintegrasikan teknologi AI ke dalam sistem Tantangan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan sumber daya manusia, memanfaatkan, dan mengendalikan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Permasalahan utama yang dihadapi oleh para guru sebagai konsumen teknologi AI adalah masih terbatasnya pemahaman dan kesadaran mengenai potensi manfaat sekaligus risiko penggunaan AI dalam konteks pendidikan. samping itu, belum adanya panduan praktis dan kebijakan yang jelas terkait etika penggunaan AI serta perlindungan data pribadi menjadi kendala Dalam konteks ini, etika konsumen AI menjadi isu yang penting dan mendesak untuk dibahas, terutama dalam profesi guru yang memiliki tanggung jawab moral dan pedagogis terhadap peserta didik. Mutiah et al. menegaskan bahwa perhatian terhadap etika konsumen AI tidak hanya berfungsi sebagai panduan praktis dalam penggunaan teknologi, tetapi juga sebagai kerangka reflektif yang Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 memperkuat posisi guru dalam menghadapi dinamika dan disrupsi teknologi digital. Sejalan dengan hal tersebut. Williamson dan Eynon . menekankan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan harus diimbangi dengan kebijakan yang memadai serta penguatan kapasitas etis para aktor pendidikan, agar penggunaan teknologi tidak mengaburkan Guru tetap memegang peran sentral sebagai pengambil keputusan pedagogis, sementara AI berfungsi sebagai alat bantu yang mendukung, bukan menggantikan, peran profesional pendidik. Dengan membangun kesadaran etika konsumen AI, guru diharapkan mampu menggunakan teknologi secara selektif, kritis, dan bertanggung jawab, serta selaras dengan tujuan pendidikan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia (Williamson & Eynon, 2020. Risdianto et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran guru sebagai konsumen AI, khususnya terkait aspek perlindungan, keamanan, dan etika penggunaan AI dalam bidang pendidikan. Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta memiliki bekal pengetahuan dan sikap kritis yang memadai dalam memanfaatkan teknologi AI secara aman, etis, dan bertanggung jawab, sehingga pemanfaatannya dapat mendukung kualitas pembelajaran tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme pendidik. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang menggunakan pendekatan e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. articipatory community engagemen. yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan literasi etis guru dalam memanfaatkan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) di bidang pendidikan. Program dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dan berlangsung selama dua semester akademik, dengan tujuan memastikan keberlanjutan proses pembelajaran, refleksi, serta penerapan hasil kegiatan secara bertahap dan kontekstual. Pendekatan ini dipilih agar guru tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi berperan aktif sebagai subjek yang terlibat dalam proses pemahaman, diskusi, dan pengambilan keputusan terkait penggunaan AI secara etis, aman, dan bertanggung jawab (Yani Ahmad. Tim pelaksana pengabdian terdiri atas tiga narasumber dengan latar belakang keilmuan yang saling melengkapi, sehingga mampu memberikan perspektif multidisipliner sesuai kebutuhan guru di lapangan. Dr. Norma Sari. Hum. berperan dalam menyampaikan materi mengenai perlindungan konsumen dan etika penggunaan AI, khususnya dalam membantu guru bersikap kritis terhadap produk dan layanan berbasis AI yang digunakan di lingkungan sekolah (Nazaretsky et al. , 2025. Walter, 2. Ir. Sri Winarti. Cs. memberikan pemaparan mengenai konsep dasar, perkembangan, serta ragam penerapan AI dalam konteks pendidikan, sehingga guru memiliki pemahaman teknologis yang memadai sebagai dasar pengambilan keputusan (Wang et al. Sementara itu. Prof. Dr. Dody Hartanto berkontribusi dalam membahas peran AI dalam mendukung fungsi pedagogis dan psikososial guru, dengan penekanan bahwa AI harus ditempatkan sebagai alat bantu yang Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. menggantikannya (Al-Ali & Miles, 2025. Meylani, 2. Untuk mencapai tujuan pengabdian, kegiatan dilaksanakan melalui dua bentuk utama, yaitu rangkaian pelatihan tematik dan penyusunan buku panduan etika konsumen AI bagi guru. Rangkaian pelatihan disusun secara membangun pemahaman konseptual sekaligus keterampilan reflektif guru. Pelatihan pertama dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2025 dengan tema AuPerlindungan Konsumen AI bagi GuruAy. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan pada lima prinsip utama dalam kebijakan dan etika AI, yakni transparansi, akuntabilitas, keadilan, privasi, dan keamanan data. Materi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran guru agar lebih kritis dan selektif sebelum menggunakan aplikasi atau platform AI dalam kegiatan Pelatihan kedua mengangkat tema AuPeran AI bagi GuruAy dan difokuskan pada pemahaman bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung tugas-tugas pedagogis, administratif, dan pendampingan siswa, tanpa mengurangi peran sentral guru sebagai pendidik dan Dalam sesi ini, diskusi diarahkan pada batasan penggunaan AI, potensi risiko ketergantungan teknologi, serta pentingnya pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai Pelatihan ketiga membahas AuLatar Belakang Kemunculan AIAy dengan tujuan meningkatkan literasi digital guru melalui pemahaman mengenai sejarah, perkembangan, serta dinamika sosial dan etis dari teknologi AI. Dengan pemahaman tersebut, guru diharapkan mampu menempatkan AI secara proporsional dalam praktik pendidikan sehari-hari. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Sebagai tindak lanjut dari seluruh menyelenggarakan kegiatan workshop pada tanggal 13 Juni 2025 yang berfokus pada penyusunan buku panduan berjudul Etika Konsumen Kecerdasan Artifisial bagi Guru: Untuk Pendidikan Etis dan Kritis di Era Digital. Penyusunan buku panduan ini merupakan hasil kolaborasi antara tim pengabdian dan para guru, sehingga kontennya mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan. Buku ini dirancang tidak hanya sebagai referensi konseptual, tetapi juga sebagai panduan praktis yang dapat digunakan guru dalam pengambilan keputusan sehari-hari terkait penggunaan AI di sekolah. Buku panduan disusun secara sistematis dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami, mencakup penjelasan prinsip-prinsip etika utama seperti transparansi, akuntabilitas, keadilan, privasi, dan keamanan data, serta aplikasinya dalam konteks pembelajaran. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan contoh-contoh skenario yang umum dihadapi guru, seperti evaluasi keamanan aplikasi AI, perlindungan data pribadi siswa, serta respons terhadap rekomendasi algoritma yang berpotensi bias. Pada setiap skenario disertakan langkah-langkah reflektif yang dapat digunakan guru sebagai Dengan pendekatan ini, buku panduan tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kebiasaan berpikir kritis dan etis di kalangan pendidik. Hasil Pelaksanaan dan Pembahasan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk menilai efektivitas pelatihan dalam Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 meningkatkan pemahaman dan kesadaran guru terkait perlindungan pengguna dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di bidang pendidikan. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pretest dan post-test yang diberikan kepada seluruh peserta pelatihan, yaitu sebanyak 46 guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Pendekatan ini digunakan sebagai alat evaluasi pembelajaran . earning evaluatio. guna melihat perubahan tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah intervensi berupa pelatihan dan pendampingan, sesuai dengan karakter pengabdian kepada masyarakat. Pre-test diberikan pada tahap awal kegiatan, sebelum peserta memperoleh materi perlindungan konsumen terhadap aplikasi AI, serta praktik penggunaan aplikasi AI dalam konteks pendidikan. Tujuan dari pre-test adalah untuk memetakan tingkat pemahaman awal guru terkait konsep AI, potensi manfaat dan risikonya, serta aspek etika dan perlindungan data Selanjutnya, post-test diberikan setelah seluruh rangkaian materi pelatihan disampaikan, sebagai sarana untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan pengabdian. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Gambar 1. Grafik Hasil Pre-test dan Post-test Pelatihan Edukasi AI Hasil pengolahan data pre-test dan posttest divisualisasikan dalam bentuk grafik histogram sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar tersebut menampilkan distribusi nilai pre-test . itunjukkan dengan warna bir. dan distribusi nilai post-test . itunjukkan dengan warna mera. Secara umum, visualisasi ini memperlihatkan adanya pergeseran distribusi nilai ke arah yang lebih tinggi pada hasil post-test dibandingkan dengan pre-test. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan. Meskipun demikian, grafik juga menunjukkan bahwa terdapat sejumlah peserta yang mengalami peningkatan nilai yang relatif kecil, serta beberapa peserta yang nilainya cenderung Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan mampu memberikan dampak positif secara umum, namun tingkat peningkatan pemahaman antar peserta tidak bersifat Variasi ini wajar dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mengingat latar belakang pengetahuan, pengalaman, dan kesiapan peserta yang beragam. Guru yang sebelumnya memiliki pemahaman awal yang Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. rendah cenderung menunjukkan peningkatan nilai yang lebih signifikan, sementara guru yang telah memiliki pengetahuan dasar yang baik sejak awal menunjukkan peningkatan yang relatif moderat. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Untuk memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai perubahan pemahaman individu, data pre-test dan post-test juga divisualisasikan dalam bentuk grafik tiga dimensi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. Visualisasi Data Hasil Pelatihan Test Guru Visualisasi ini menampilkan distribusi nilai berdasarkan tiga parameter utama, yaitu sumbu X yang merepresentasikan indeks individu peserta . , sumbu Y yang menunjukkan nilai pre-test, dan sumbu Z yang menunjukkan nilai post-test. Perbedaan warna pada grafik digunakan untuk menggambarkan perubahan nilai, di mana warna biru menunjukkan nilai yang lebih rendah dan warna merah menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Berdasarkan Gambar 2, terlihat bahwa mayoritas peserta mengalami peningkatan nilai post-test dibandingkan nilai pre-test. Beberapa peserta bahkan menunjukkan lonjakan nilai yang cukup signifikan, terutama mereka yang pada awalnya memiliki nilai pre-test rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa materi pelatihan yang disampaikan relevan dengan kebutuhan peserta dan mampu menjembatani kesenjangan pengetahuan yang sebelumnya ada. Namun demikian, terdapat pula sejumlah peserta yang hanya mengalami perubahan nilai yang kecil atau relatif stagnan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain peserta tersebut telah menguasai sebagian besar materi sejak awal, atau mengalami keterbatasan dalam menyerap materi baru selama pelatihan Selain itu, sebagian kecil peserta menunjukkan penurunan nilai pada post-test, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor nonteknis seperti kelelahan, kurang fokus saat pengisian post-test, atau kondisi eksternal Untuk memperkuat hasil evaluasi secara menggunakan Uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Uji ini dipilih karena bersifat non-parametrik dan sesuai digunakan untuk membandingkan dua data berpasangan . re-test dan post-tes. ketika asumsi distribusi normal tidak sepenuhnya terpenuhi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai statistik uji sebesar 0,0 dengan nilai p-value sebesar 1,39 y 10AA . ,0000001. Nilai p-value yang jauh lebih kecil dari batas signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis nol (HCA) dapat ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test peserta pelatihan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman guru terkait AI, perlindungan konsumen, dan etika penggunaan AI bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari intervensi berupa kegiatan pelatihan dan pendampingan yang diberikan dalam program pengabdian kepada masyarakat ini. Hasil ini menguatkan bahwa pendekatan pelatihan yang bersifat edukatif, reflektif, dan kontekstual efektif dalam meningkatkan kapasitas guru sebagai konsumen AI yang kritis dan bertanggung jawab. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, temuan ini tidak dimaknai sebagai generalisasi ilmiah, melainkan sebagai bukti kebermanfaatan program bagi mitra sasaran. Peningkatan pemahaman guru diharapkan berdampak lanjut pada praktik penggunaan AI yang lebih aman, etis, dan selaras dengan nilai-nilai pendidikan, serta memperkuat peran guru sebagai pengambil keputusan utama dalam proses pembelajaran di era digital. Evaluasi efektivitas program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan edukasi kecerdasan artifisial (AI) bagi guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dilakukan secara sistematis untuk menilai sejauh mana kegiatan e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. ini mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran peserta terkait pemanfaatan AI secara etis, aman, dan bertanggung jawab. Evaluasi ini penting dalam konteks pengabdian, karena keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan oleh mitra sasaran, khususnya dalam peningkatan kapasitas pengetahuan dan kompetensi profesional guru. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, evaluasi dilakukan melalui pengukuran pre-test dan post-test terhadap 46 guru peserta pelatihan. Instrumen evaluasi ini digunakan sebagai alat ukur pembelajaran . earning mengetahui perubahan tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah intervensi berupa rangkaian pelatihan dan pendampingan. Pendekatan ini lazim digunakan dalam kegiatan berorientasi pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, karena mampu memberikan gambaran objektif mengenai efektivitas kegiatan yang dilaksanakan. Analisis Statistik sebagai Evaluasi Program Pengabdian Sebagai bagian dari evaluasi kuantitatif, dilakukan analisis data menggunakan uji statistik untuk melihat perbedaan nilai pre-test dan post-test. Salah satu metode yang digunakan adalah uji t berpasangan . aired t-tes. Uji ini digunakan untuk membandingkan dua sampel berpasangan, yaitu nilai pre-test dan post-test dari peserta yang sama, dengan asumsi bahwa data berdistribusi normal. Tujuan penggunaan uji t berpasangan dalam konteks pengabdian ini bukan untuk melakukan generalisasi ilmiah, melainkan untuk memperkuat bukti evaluatif Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. bahwa pelatihan yang diberikan menghasilkan perubahan yang bermakna pada peserta. Hasil uji t berpasangan menunjukkan nilai t-statistik sebesar -8,54 dengan nilai p-value sebesar 5,63 y 10a . ,0000000000. Nilai p-value yang jauh lebih kecil dari batas signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis nol (HCA) dapat ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Nilai t-statistik yang negatif mengindikasikan bahwa nilai post-test secara signifikan lebih tinggi dibandingkan nilai pre-test. Dengan demikian, secara evaluatif dapat dinyatakan bahwa kegiatan pelatihan yang diberikan berhasil meningkatkan pemahaman peserta secara signifikan. Hasil ini sejalan dengan analisis sebelumnya menggunakan Uji Wilcoxon SignedRank Test yang juga menunjukkan adanya Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 perbedaan signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Penggunaan dua pendekatan statistik, baik parametrik . maupun non-parametrik (Wilcoxo. , memberikan penguatan bahwa peningkatan pemahaman peserta bersifat konsisten dan tidak bergantung pada satu asumsi statistik tertentu. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, konsistensi hasil ini memperkuat keyakinan bahwa perubahan yang terjadi merupakan dampak dari intervensi program, bukan semata variasi acak. Visualisasi Hasil Evaluasi Pelatihan Hasil sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3, yang menampilkan perbandingan nilai pre-test dan post-test serta distribusi perbedaan nilai antar Gambar 3. Visualisasi hasil pelatihan dengan metode Uji T dan Uji Wolcoxon Pada bagian kiri Gambar 3 ditampilkan boxplot perbandingan nilai pre-test . itunjukkan dengan warna bir. dan post-test . itunjukkan dengan warna mera. Visualisasi ini menunjukkan bahwa median dan rentang nilai post-test secara umum lebih tinggi dibandingkan Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 pre-test. Distribusi nilai post-test juga terlihat lebih rapat dan bergeser ke arah yang lebih peningkatan pemahaman peserta secara kolektif setelah mengikuti pelatihan. Tidak ditemukannya outlier ekstrem pada boxplot menunjukkan bahwa peningkatan nilai terjadi secara relatif konsisten di antara peserta. Hal ini penting dalam konteks pengabdian, karena menunjukkan bahwa program tidak hanya berdampak pada sebagian kecil peserta, tetapi memberikan manfaat yang relatif merata. Dengan kata lain, pelatihan mampu menjangkau guru dengan latar belakang kompetensi yang beragam peningkatan pemahaman mereka. Pada bagian kanan Gambar 3 ditampilkan histogram distribusi perbedaan nilai antara pretest dan post-test. Histogram ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta mengalami perbedaan nilai positif, yang ditunjukkan oleh batang histogram yang lebih tinggi di sisi kanan . ilai Terdapat beberapa peserta yang mengalami perubahan nilai mendekati nol, yang mengindikasikan bahwa pemahaman mereka relatif stabil sebelum dan sesudah pelatihan. Namun, secara umum distribusi ini mendukung hasil uji t dan Wilcoxon, yaitu bahwa peningkatan nilai yang terjadi bersifat signifikan dan sistematis. Implikasi Pedagogis dan Profesional bagi Guru Selain peningkatan skor secara statistik, hasil evaluasi ini juga mengindikasikan adanya efektivitas pedagogis dari desain pelatihan yang Pola distribusi peningkatan nilai yang relatif merata menunjukkan bahwa materi, metode penyampaian, dan aktivitas pelatihan e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. mampu memfasilitasi pemahaman konseptual sekaligus aplikatif terkait kecerdasan artifisial bagi guru (Wahdah et al. , 2025. Yumna et al. Hal ini penting karena pelatihan AI bagi guru tidak hanya menuntut pemahaman teknis, tetapi juga kemampuan reflektif dan etis dalam menggunakan teknologi tersebut. Dari perspektif pengembangan profesional guru, temuan ini memiliki signifikansi yang Peningkatan pemahaman tidak hanya terjadi pada guru dengan kemampuan awal tinggi, tetapi juga pada guru dengan kemampuan awal sedang hingga rendah (Hidayat et al. , 2025. Ishartono et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang digunakan bersifat inklusif dan adaptif, sehingga mampu menjembatani kesenjangan kompetensi di antara Dengan demikian, program ini professional development yang relevan dengan kebutuhan guru di era transformasi digital (Harmadi et al. , 2025. Purwani et al. , 2. Meskipun demikian, hasil evaluasi juga menunjukkan adanya sejumlah kecil peserta yang mengalami perubahan nilai yang kecil atau bahkan penurunan. Kondisi ini perlu dicermati secara reflektif sebagai bagian dari proses perbaikan berkelanjutan. Faktor-faktor seperti perbedaan gaya belajar, kelelahan saat pelatihan, keterbatasan waktu, atau kebutuhan pendampingan yang lebih intensif dapat menjadi Oleh karena itu, evaluasi lanjutan, misalnya melalui survei kualitatif atau diskusi reflektif, perlu dilakukan untuk memahami kebutuhan spesifik peserta tersebut. Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Luaran: Buku Panduan Etika Konsumen AI bagi Guru Selain luaran berupa peningkatan pemahaman yang terukur melalui evaluasi kuantitatif, kegiatan pengabdian ini juga menghasilkan luaran konkret berupa buku panduan Etika Konsumen Kecerdasan Artifisial bagi Guru. Buku ini disusun sebagai tindak lanjut dari pelatihan dan dirancang untuk menjadi referensi praktis yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh guru. Isi buku disusun secara sistematis dalam delapan bab. Bab 1 membahas pendahuluan mengenai perkembangan pesat AI di bidang pendidikan dan posisi guru tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai konsumen dan mediator teknologi. Bab 2 menguraikan konsep AI serta peran guru sebagai konsumen AI, termasuk contoh aplikasi yang umum digunakan seperti ChatGPT. Grammarly, dan Canva AI. Bab 3 membahas etika penggunaan AI di pendidikan dengan penekanan pada privasi data, keadilan algoritmik, transparansi, dan akuntabilitas. Bab 4 mengulas risiko dan tantangan etis, seperti kesenjangan akses, dan penurunan humanisasi Selanjutnya. Bab 5 menyajikan strategi praktis bagi guru sebagai konsumen AI yang etis, termasuk penyusunan SOP etika AI dan refleksi berbasis studi kasus. Bab 6 membahas peran guru dalam mendidik siswa menjadi konsumen AI yang kritis. Bab 7 menyoroti pentingnya kebijakan dan budaya sekolah dalam mengatur penggunaan AI. Bab 8 berisi rekomendasi bagi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari guru, kepala sekolah, hingga pembuat kebijakan. Keberadaan buku ini memperkuat dampak jangka panjang program pengabdian, karena Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 memberikan panduan yang dapat digunakan secara mandiri oleh guru setelah kegiatan pelatihan berakhir. Sintesis Hasil Pengabdian Secara pembahasan menunjukkan bahwa program kecerdasan artifisial bagi guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman peserta. Peningkatan ini terbukti secara kuantitatif melalui analisis statistik dan secara kualitatif melalui pola distribusi nilai serta respons peserta terhadap materi pelatihan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat dinilai berhasil dan relevan sebagai upaya penguatan kapasitas guru dalam menghadapi tantangan pemanfaatan AI di dunia pendidikan secara etis dan bertanggung jawab. Simpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan edukasi kecerdasan artifisial (AI) bagi guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta telah terlaksana dengan baik dan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman serta kesadaran guru dalam memanfaatkan AI secara etis, aman, dan bertanggung jawab di bidang pendidikan. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata mitra, khususnya terkait rendahnya literasi etika AI, perlindungan konsumen, dan keamanan data dalam penggunaan teknologi digital di lingkungan Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan mampu meningkatkan pemahaman guru secara Penguatan Literasi Etika Artificial Intelligence bagi Guru SMA sebagai UpayaA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Hal ini dibuktikan melalui perbandingan nilai pre-test dan post-test yang dianalisis menggunakan pendekatan statistik sebagai alat evaluasi program pengabdian. Baik uji parametrik . ji t berpasanga. maupun uji non-parametrik (Wilcoxon Signed-Rank Tes. menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai sebelum dan sesudah pelatihan. Visualisasi hasil evaluasi juga memperlihatkan pola peningkatan yang relatif merata di antara peserta, yang mengindikasikan bahwa pelatihan bersifat inklusif dan efektif menjangkau guru dengan latar belakang kompetensi yang beragam. Selain peningkatan skor secara kuantitatif, kegiatan ini juga menunjukkan efektivitas pedagogis dari desain pelatihan yang diterapkan. Materi yang disusun secara bertahap, kontekstual, dan reflektif terbukti mampu memfasilitasi pemahaman konseptual sekaligus aplikatif terkait AI, khususnya dalam aspek etika penggunaan, perlindungan data, dan peran guru sebagai pengambil keputusan utama dalam proses pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa pelatihan AI bagi guru tidak cukup berfokus pada aspek teknis, tetapi harus disertai dengan penguatan nilai-nilai etis dan tanggung jawab profesional. Luaran pengabdian berupa buku panduan Etika Konsumen Kecerdasan Artifisial bagi Guru semakin memperkuat keberlanjutan dampak Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai referensi konseptual, tetapi juga sebagai panduan praktis yang dapat digunakan guru dalam menghadapi berbagai situasi nyata terkait penggunaan AI di sekolah. Dengan cakupan materi yang sistematis, mulai dari pengenalan AI, risiko dan tantangan etis, hingga strategi pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah, buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. berkelanjutan bagi guru dan institusi Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini dapat disimpulkan berhasil dalam meningkatkan kapasitas guru sebagai konsumen AI yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab. Program ini berpotensi untuk direplikasi atau dikembangkan lebih lanjut di sekolah lain sebagai bagian dari upaya penguatan profesionalisme guru dan adaptasi pendidikan terhadap transformasi digital. Ke depan, diperlukan pendampingan berkelanjutan serta pemanfaatan AI di pendidikan dapat berlangsung secara etis, aman, dan selaras dengan tujuan pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Daftar Pustaka