Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article Analysis of Adherence to Taking Anti-tuberculosis Drugs in Patients with Pulmonary TBC Analisis Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TBC Paru Ardika Pratiwi1. Akhmad Dwi Priyatno2. Chairil Zaman3. Nurul Fitriah4. Andri Irawan5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang. Indonesia *Corresponding Author: Ardika Pratiwi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang Email: ardikapratiwi@gmail. Keyword: Medication Adherence. Pulmonary Tuberculosis Kata Kunci: Kepatuhan Minum obat. TBC Paru A The Author. 2025 Abstract The large number of Tuberculosis cases in the world and Indonesia's number 2. Puskesmas Gasing Laut contributes a large number of patients. There is a risk of increasing the number of Tuberculosis patients if not handled properly. This study was conducted in May-June The population and samples of this study were patients with pulmonary tuberculosis who were still undergoing treatment at the Gasing Laut Health Center. This research is quantitative with analytic survey method with cross sectional approach. Data analysis used Chi square test with a meaning level of 95% and multivariate analysis using multiple logistic regression test. The results of this study obtained a pvalue on the age variable p value 0. gender variable p value 0. 217, education variable 0. 441, knowledge 0. 001, occupation 1,000, attitude 0. 035, family support 0. 080, side effects of drugs pvalue 0. 010, distance from home to health center 1,000. So it can be concluded that there is a correlation between the variables of knowledge, attitude, family support and side effects of drugs with adherence to taking anti-tuberculosis drugs and conversely there is no correlation between the variables of age, gender, education, occupation and distance from home to the health center while the most dominant variable is knowledge with an OR value = 30. % CI: 2. so that respondents with high knowledge have a 30. 332 times higher chance of adherence to taking Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) than respondents with low knowledge. Abstrak Article Info: Received : July 4, 2025 Revised : August 20, 2025 Accepted : August 25, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Besarnya kasus Tuberkulosis di dunia dan Indonesia menempati nomor urut ke 2. Puskesmas Gasing Laut menyumbang jumlah penderita yang tidak sedikit. Adanya resiko peningkatan jumlah penderita Tuberkulosis apabila tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei-Juni 2025. Populasi dan sampel penelitian ini adalah penderita TBC paru yang masih menjalani pengobatan di Puskesmas Gasing Laut. Penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Analisis data menggunakan uji Chi square dnegan tingkat kemaknaan 95% dan analisa multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda. Hasil penelitian ini didapatkan nilai pvalue pada variabel usia p value 0. 637, variable jenis kelamin p value 0. 217, variable pendidikan 0. pengetahuan 0,001, pekerjaan 1. 000, sikap 0. 035, dukungan keluarga 0. 080, efek samping obat pvalue 0. Jarak tempuh rumah ke Puskesmas 1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya korelasi antara variable pengetahuan, sikap, sukungan keluarga dan efek samping obat dengan kepatuhan minum obat anti Tuberkulosis dan sebaliknya tidak didapatkan korelasi antara variable usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan jarak tempuh rumah ke puskesmas sedangkan variabel yang paling dominan adalah pengetahuan nilai OR = 30,332 . % CI : 2,408-382,. sehingga responden dengan pengetahuan tinggi memiliki peluang 30,332 kali lebih tinggi pada kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dibandingkan responden yang berpengetahuan rendah. PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) adalah penyebab utama kematian di antara penyakit kronis menular. Tingginya sosioekonomi yang luas dari tuberkulosis (TB) membuatnya menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, meskipun faktanya penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan. Oleh karena itu, staf layanan kesehatan, yang sangat penting dalam setiap langkah manajemen penyakit, harus menjadi bagian dari setiap upaya untuk mengurangi Anda dapat menyebarkan TB melalui udara. Partikel kecil di udara yang disebut droplet nuclei . erukuran sekitar 15 mikro. bertanggung jawab atas penularan . Menurut World Health Organization. TB menjadi masalah besar dalam kesehatan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Pada 2022. TB merupakan penyebab kematian terbesar kedua setelah COVID-19. Kasus TB secara global turun sedikit dari 10,7 juta pada 2022 menjadi 10,8 juta pada Sebelumnya, pada 2020 jumlahnya 10,4 juta dan pada 2021 sekitar 6,4 juta. Pada 2023, terjadi 7,1 juta kasus baru, dengan angka kasus baru per 100. 000 orang Tingkat keberhasilan pengobatan untuk TB sensitif obat adalah 88%, namun hanya 68% untuk TB yang resistan obat, termasuk jenis sangat Tiga puluh negara dengan beban tinggi menyumbang 87% dari semua kasus TB pada 2023. Pakistan . ,3%). Cina . ,8%). Filipina . ,8%), dan India . % dari tota. merupakan lima negara yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total dunia. Pada tahun 2023, laki-laki menyumbang 55% dari kasus tuberkulosis, perempuan 33%, dan anak-anak serta remaja 12%. Akan ada sekitar 1,25 juta kematian pada tahun 2023 . % UI: 1,13-1,37 jut. , dengan 1,09 juta terjadi pada populasi HIVnegatif dan 161. 000 pada populasi HIVpositif . Antara tahun 2021 dan 2023, terjadi peningkatan jumlah kasus tuberkulosis yang baru terdiagnosis sebesar 45%, dengan Indonesia menjadi kontributor terbesar kedua yaitu 45%. Dengan 000 kasus dan 134. 000 kematian. Indonesia berada di urutan kedua di dunia untuk tuberkulosis, setelah Cina, menurut Global TB Report 2024. Tujuan dari Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021tentang Pengendalian Tuberkulosis adalah untuk memberantas tuberkulosis pada tahun 2030, dengan tingkat insiden 65 kasus per 100. 000 orang dan tingkat kematian 6 kasus per 100. 000 orang. Dibandingkan ditetapkan, hasil ini cukup mengecewakan . Menurut Kemenkes RI . , terjadi peningkatan yang cukup besar dari 677. ,7% dari tota. pada tahun 2022 200 kasus . ,5% dari tota. TB di Indonesia pada tahun 2023. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2023 menetapkan target cakupan 90%, yang mana persentase ini belum tercapai. Jawa Barat. Papua Tengah. Banten. DKI Jakarta. Papua Selatan. Papua Barat. Papua, dan Jawa Timur adalah sembilan provinsi yang telah mencapai target >90% untuk deteksi kasus TB. Jika dibandingkan dengan tahun 2022, dimana hanya empat provinsi yang mencapai target >85%, maka posisi ini merupakan sebuah kemajuan. Di Indonesia, 86,5% pasien TB yang menjalani terapi 5 provinsi dengan angka keberhasilan pengobatan 90% atau lebih untuk seluruh pasien TB di Tahun 2023 antara lain Lampung . ,8%). Gorontalo . ,2%). Sumatera Selatan . ,8%). Nusa Tenggara Barat . ,8%), dan Riau . ,7%) . Angka Treatment Coverage (TC) Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2021 sebesar 40,1%, dan mengalami peningkatan di Tahun 2022 menjadi 53,7% serta di Tahun 2023 juga mengalami peningkatan menjadi 64,33%. Di Tahun 2023 Kab/Kota terbanyak ditemukan kasus TB yaitu Kota Palembang 559 kasus tuberkulosis, sedangkan Kota Pagar Alam memiliki kasus tuberkulosis paling sedikit, yaitu 371 kasus. Angka keberhasilan pengobatan Succes Rate (SR) di Provinsi Sumatera Selatan meningkat dari 48,6% pada tahun 2021 menjadi 83,4% pada tahun 2022 dan mencapai 91,6% pada tahun 2023. Kab/Kota dengan tingkat keberhasilan pengobatan paling rendah yaitu 73,1% di capai oleh Kota Pagar Alam dan paling tinggi yaitu 96,5% di capai oleh Kabupaten Banyuasin . Menurut Data di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, 1. 549 kasus di tahun 2021 menjadi 1. 731 kasus di tahun 2022 115 kasus di tahun 2023, jumlah pasien tuberkulosis (TB) yang ditemukan dan diobati di Kabupaten Banyuasin meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2023, angka keberhasilan pengobatan Succes Rate (SR) untuk semua pasien TB yang diobati di Kabupaten Banyuasin https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 meningkat menjadi 96,5%, dari 62,8% pada tahun 2021 dan 75,4% pada tahun 2022 . PMO dengan kepatuhan minum obat tuberculosis . Treatment Coverage (TC) di Puskesmas Gasing Laut Tahun 2022 sebesar 54,5%. Tahun 2023 sebesar 65,2%, dan pada tahun 2024 terjadi peningkatan capaian TC yang cukup signifikan di Puskesmas Gasing Laut yaitu sebesar 134,8%. Puskesmas Gasing laut berada di peringkat ke 1 dari seluruh Puskesmas di Kabupaten Banyuasin. Untuk tahun 2025 target sasaran TC berjumlah 23 orang, dan jumlah kasus TB yang ditemukan sampai dengan bulan maret Tahun 2025 sebanyak 10 orang . ,37%). Angka keberhasilan pengobatan (SR) Tahun 2022 sebesar 85%, pada Tahun 2023 sebesar 91,6% dan tahun 2024 sebesar 86,6%. Karena tingginya tingkat penularan TB paru, maka sangat penting untuk melacak kepatuhan pengobatan pada pasien TB. Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Gasing Laut. Minimnya informasi mengenai kepatuhan pengobatan tuberkulosis pada pasien Puskesmas Gasing Laut mendorong dilakukannya penelitian ini. Istilah Aukepatuhan minum obatAy mengacu pada seberapa serius seorang pasien meminum obatnya. Dalam hal pengobatan tuberkulosis paru, salah satu faktor terpenting adalah seberapa baik pasien mematuhi rencana pengobatan mereka. Kepatuhan merupakan hal yang rumit karena ada banyak hal yang dapat mempengaruhinya. Kepatuhan minum obat selama terapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk namun tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, profesi, dan lain-lain. Tingkat kepatuhan pasien dapat mendekati 50% di negara-negara industri, tetapi turun di bawah 50% di negara-negara terbelakang dalam hal kondisi yang membutuhkan obat jangka panjang, menurut data yang dikumpulkan dari populasi ini . Menurut penelitian Zaman dkk, . , terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan. Ada hubungan yang kuat antara kepatuhan dan motivasi dan dukungan keluarga . Begitupun dilakukan oleh Salsabila dkk. mengidentifikasi hubungan yang signifikan antara dedikasi petugas kesehatan, tingkat pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan METODE Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif yang mengandalkan metodologi cross-sectional. Untuk tujuan mempelajari dinamika hubungan antara variabel independen dan dependen, studi crosectional mengumpulkan data atau mengamatinya secara bersamaan. Metode ini melibatkan pengamatan tunggal terhadap setiap individu, dengan ukuran yang mencerminkan ciri-ciri atau variabel yang ada selama evaluasi. Populasi penelitian ini adalah penderita TB Paru yang masih menjalani pengobatan di Puskesmas Gasing Laut Tahun 2025 yaitu sebanyak 32 orang dan menggunakan total Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sebelumnya dilakukan uji validitas dan Sebelum pengambilan data responden terlebih dahulu diminta untuk mengisi form lembar persetujuan menjadi responden. Setelah data terkumpul maka akan dilakukan analisa yang digunakan adalah Analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dari setiap variabel . epatuhan minum obat, usia, jenis kelamin. Pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, sikap, dukungan keluarga, efek samping obat, jarak tempuh rumah ke puskemsa. kemudian dilanjutkan dengan analisa bivariat dengan analisis Chi square pada batas kemaknaan p < 0,05 dengan tingkat kepercayaan 95% yang berarti ada hubungan, nilai p value . < 0,25 maka variabel penelitian dapat masuk ke dalam https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 permodelan analisis multivariat dengan uji regresi logistik berganda. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa Univariat Dari hasil analisis univariat diperoleh diperoleh . istribusi frekuensi variabl. dependen/variabel terikat . epatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT)) dan variable independen/variabel bebas . sia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, sikap, dukungan keluarga, efek samping obat dan jarak tempuh rumah ke Puskesma. Berikut tabel hasil penelitian kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT): Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Variabel Kepatuhan Minum Obat Patuh Tidak Patuh Usia Tua Muda Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tinggi Rendah Pengetahuan Tinggi Rendah Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Sikap Baik Tidak Baik Dukungan Keluarga Mendukung Tidak Mendukung Efek Samping Obat Ada Tidak Ada Jarak Tempuh Rumah ke Puskesmas Jauh Dekat Sebagaimana ditabel 1. Dapat terlihat bahwa variabel yang lebih banyak yaitu responden yang patuh dalam minum obat sebesar 21 responden . ,6%), usia yang tua > 35 tahun sebesar 27 responden . ,4%), jenis kelamin laki-laki 17 responden . ,1%), pendidikan rendah 23 responden . ,9%), pengetahuan tinggi 17 responden . ,1%), tidak bekerja lebih Frekuensi Persentase banyak yaitu 17 responden . ,1%), sikap baik sebanyak 23 responden . ,9%), mendapat dukungan keluarga 17 responden . ,1%), untuk efek samping obat lebih banyak yang tidak ada sebesar 24 responden . %), jarak tempuh rumah ke puskemas yang lebih banyak yaitu dekat sebesar 28 responden . , 5%). https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Tabel 2. Analisis Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TBC Paru Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Patuh Tidak Patuh Usia Tua Dewasa Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tinggi Rendah Pengetahuan Tinggi Rendah Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Sikap Baik Tidak Baik Dukungan Keluarga Mendukung Tidak Mendukung Efek Samping Obat Ada Tidak Ada Jarak tempuh rumah ke Puskesmas Jauh Dekat Berdasarkan tabel 2, menunjukkan p-nilai 0,637. Oleh karena itu, pada pasien TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa, pada tahun 2025, tidak ditemukan korelasi antara usia dan kepatuhan terhadap penggunaan obat anti tuberkulosis (OAT) secara signifikan. Analisis statistik memperlihatkan variabel jenis kelamin nilai p-value yakni 0,217. Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa, pada tahun 2025, tidak ditemukan korelasi antara jenis kelamin dan kepatuhan tuberkulosis (OAT) secara signifikan. Pada variabel pendidikan nilai p-value mencapai 0,441. Pada pasien TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa, pada Jumlah 0,637 0,425 0,217 0,281 0,441 2,250 0,001 32,000 1,000 1,091 0,035 7,200 0,080 5,333 0,010 0,088 1,000 1,667 tahun 2025, tidak ditemukan korelasi antara tingkat pendidikan dan kepatuhan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara signifikan. Hasil memperlihatkan bahwasanya nilai p-value yakni 0,001. Ini menunjukkan bahwa pada tahun 2025, ditemukan adanya korelasi antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan dalam konsumsi OAT pada pasien TBC Paru secara signifikan di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Pekerjaan menunjukkan p-value sebesar 1,000. Hal ini terdapat korelasi antara status pekerjaan dengan kepatuhan mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara signifikan pada https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 pasien TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Tahun 2025. Untuk variabel sikap didapatkan nilai pvalue mencapai 0,035, yang menandakan ditemukan korelasi antara sikap dan kepatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara signifikan pada pasien TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Tahun 2025. Perolehan nilai Odds Ratio (OR) yakni 7,200, responden dengan sikap positif berpotensi 7,2 kali lebih besar untuk patuh menjalani pengobatan OAT dibandingkan dengan responden dengan sikap negatif atau kurang Dukungan memperlihatkan nilai p-value yakni 0,080, yang menunjukkan bahwasanya tidak ditemukan korelasi antara dukungan mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara signifikan pada pasien TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Tahun 2025. Variabel efek samping obat menunjukan nilai p-value mencapai 0,010, yang memperlihatkan bahwasanya ditemukan korelasi antara efek samping obat dan kepatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada pasien TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Tahun 2025. Nilai OR mencapai 0,159 mengindikasikan bahwasanya responden mengalami efek samping berpeluang hanya 0,088 kali untuk tetap patuh dalam mengonsumsi OAT dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami efek samping. Sedangkan jarak tempuh rumah ke puskesmas nilai p value = 1,000, maka tidak ditemukan korelasi antara jarak tempuh rumah ke Puskesmas dengan kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita TBC Paru di Puskesmas Gasing Laut Kecamatan Talang Kelapa Tahun 2025. Analisa multivariat Sebanyak sembilan variabel independen sederhana pada tahap seleksi bivariat. Variabel yang nilai p tidak melebihi 0,25 langsung ditambahkan ke dalam analisis multivariat pada tahap pemodelan yaitu variabel jenis kelamin, pengetahuan dan efek samping, sedangkan variabel nilai p melebihi 0,25 tidak disertakan dalam analisis multivariat. Pada step 3 permodelan didapatkan nilai p value dan nilai OR. Variabel nilai p paling besar dan nilai OR mendekati 1 yaitu variabel Jenis kelamin. Variabel tersebut dikeluarkan dan tidak diikutkan kembali pada step selanjutnya sehingga yang masuk dalam regeresi logistik ganda di step terakhir hanya dua variabel yaitu pengetahuan dan efek samping obat yang dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Regresi Logistik Ganda (Akhi. Variabel Pengetahuan Efek Samping Obat Constant 3,412 -2,352 -2,112 Tabel 3 merupakan tabel regresi logistik ganda step 4 dengan variabel jenis kelamin telah dikeluarkan. Tabel diatas merupakan tabel terakhir pada tahapan multivariat. Sehingga didapatkan bahwa variabel paling dominan diurutkan dari variabel dengan OR paling besar yaitu pengetahuan dengan nilai P value 95% CI Lower Upper 2,408 382,129 0,008 1,191 0,008 30,332 0,68 0,095 0,448 0,121 Nagelkerke R Square : 0,610 Cox & Snell R Square : 0,441 OR = 30,332 . % CI : 2,408-382,. sehingga responden dengan pengetahuan tinggi memiliki peluang 30,332 kali lebih tinggi pada kepatuhan minum Obat anti Tuberkulosis (OAT) responden yang berpengetahuan rendah https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Hubungan Antara Usia Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru pasien TB paru untuk sembuh, sehingga mereka tetap patuh mengikutiAypengobatan meskipun prosesnya memerlukan waktu yang lama. Sebagaimana temuan pengujian statistik chi-square, diketahui bahwasanya tidak ditemukan adanya hubunga antara usia dan kepatuhan pasien TB di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Kabupaten Banyuasin, pada tahun 2025. Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Sejalan dengan penelitian Zaman dkk . berjudul AuAnalisis Minimum Obat TB Paru di Wilayah Kerja UPTD PuskesmasAy X Kota Palembang, bahwasanya tidak ditemukan korelasi antara minimum obat TB dan pasien secara signifikan . Studi Analisis Faktor Kepatuhan Terapi Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap pada Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Serpong 1 Kota Tangerang Selatan, yang mempengaruhi kepatuhan terapi OAT kombinasi dosis tetap. studi Patoni . mendukung hal ini . Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, sekitar 75% penderita tuberkulosis berada pada rentang usia 15Ae59 tahun, yang merupakan kelompok usia produktif dengan tingkat aktivitas dan mobilitas tinggi, sehingga lebih rentan terhadap paparan kuman. Pada usia ini, daya tahan tubuh bisa menurun karena tekanan kerja dan stres, meningkatkan risiko infeksi Mycobacterium tuberculosis. Sementara itu, kelompok lansia juga termasuk rentan karena penurunan fungsi organ dan sistem imun akibat proses penuaan, sehingga lebih mudah terinfeksi TB paru . Berdasarkan temuan penelitian ini serta dukungan studi sebelumnya dan sejumlah teori, peneliti berpendapat bahwasanya usia tidak berkaitan dnegan kepatuhan minum OAT. Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh keinginan kuat seluruh Jenis kelamin tidak berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien TB secara signifikan di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Kabupaten Banyuasin pada tahun 2025, sebagaimana temuan pengujian statistik chi-square. Hasil ini konsisten dengan temuan studi Elizah dkk. Analisis Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Surulangun Tahun 2024, bahwasanya jenis kelamin tidak berkorelasi dengan kepatuhan dalam pengobatan TB Paru . Dalam penelitian yang berjudul Analisis Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Paru pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Multiwahana Palembang. Zaman membuktikan bahwasanya tidak ditemukan korelasi antara jenis kelamin dan kepatuhan minum OAT secara signifikan di wilayah tersebut pada tahun 2023 . Jenis kelamin memang menjadi satu diantara faktor yang kerap dikaji dalam kaitannya dengan kepatuhan terapi, mengingat laki-laki dan perempuan berbeda terkait interaksi sosial, pengaruh lingkungan, gaya hidup, serta aspek biologis dan fisiologis. Namun. Elizah et al. menekankan bahwa kesetaraan akses informasi kesehatan, termasuk informasi TBC Paru, memungkinkan laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang setara dalam menunjukkan kepatuhan terhadap terapi. Berdasarkan hasil penelitian ini, temuan sebelumnya, serta teori yang relevan, https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 peneliti berpendapat bahwasanya baik lakilaki kemungkinan yang serupa untuk bersikap patuh atau tidak patuh dalam mengonsumsi OAT secara rutin. Faktor yang membedakan lebih terletak pada pemahaman individu mengenai penyakit TB Paru itu sendiri. Oleh karena itu, edukasi yang komprehensif mengenai prosedur pengobatan dan langkah-langkah pencegahan penularan kepada keluarga atau lingkungan sekitar sangat diperlukan bagi pasien TB Hubungan Antara Pendidikan Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Di Puskesmas Gasing Laut, pada tahun 2025, tidak ditemukan korelasi antara mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) Kesimpulan didasarkan pada temuan pengujian statistik uji chi-square. Sebagaimana temuan studi milik Kusmiyani et al. yang menemukan bahwasanya pendidikan dan kepatuhan pasien terhadap terapi OAT. Studi yang sama dari Kusmiyani et al. juga menguatkan temuan ini, dengan menyimpulkan bahwa pendidikan tidak berhubungan . Pendidikan kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai cara menjaga membahayakan kesehatan diri sendiri maupun orang lain, serta memberikan pemahaman tentang akses layanan kesehatan yang tepat saat mengalami gangguan kesehatan . Berdasarkan hasil penelitian ini, temuan sebelumnya, serta teori yang relevan, penulis berpendapat bahwa baik individu dengan tingkat pendidikan tinggi maupun rendah memiliki kemungkinan yang sama dalam menunjukkan kepatuhan terhadap terapi OAT. Keluarga dan tenaga kesehatan yang mendukug sangat memengaruhi, terutama melalui pemberian edukasi yang berkelanjutan mengenai penyakit TB dan tata laksana pengobatannya Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Sebagaimana temuan pengujian statistik uji chi-square, diketahui bahwasnaya pada tahun 2025 di Puskesmas Gasing Laut, pengetahuan dan kepatuhan mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) secara Temuan tersebut sejalan dengan temuan studi milik Papeti et al. yang kepatuhan minum OAT di Puskesmas Kombos. Kota Manado . Alfa . juga menemukan hasil serupa pada studi Hubungan Pengetahuan. Sikap, dan Tindakan Penderita TB Paru dengan Kepatuhan . Selain itu, temuan serupa lainnya milik Nopiayanti et al. yaitu Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat pada Penderita TB di Kota Tasikmalaya, membuktikan adanya korelasi yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum OAT . , . Pengetahuan individu tentang kesehatan memengaruhi cara seseorang dalam menjaga kesehatannya serta dalam menghindari risiko penyakit. Pengetahuan yang memadai mencakup pemahaman mengenai jenis penyakit, mekanisme penularan, pencegahan, gejala klinis, serta potensi komplikasi. Selain itu, pengetahuan turut menentukan kepatuhan terhadap https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Menurut Rahmasari & Sartika . , rendahnya pengetahuan pasien mengenai TB yang disebabkan oleh kurangnya informasi dari tenaga kesehatan pencegahanAidapat ketidakteraturan dalam konsumsi obat . Berdasarkan hasil penelitian ini, temuan sebelumnya, serta teori yang relevan, pendapat peneliti bahwa sebagian pasien dalam studi ini masih memiliki tingkat pengetahuan yang terbatas mengenai pengobatan TB Ruang lingkup pengetahuan yang dimaksud mencakup pemahaman tentang jadwal dan cara minum obat, pencegahan serta penularan penyakit, pengenalan gejala, kebersihan lingkungan, dan efek samping dari pengobatan. Dengan tingkat pengetahuan yang baik, individu akan lebih mampu dalam mengelola berkontribusi terhadap peningkatan derajat kesehatan pribadi maupun lingkungan Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Sebagaimana temuan pengujian statistik chi-square, diketahui bahwasanya status pekerjaan tidak ada hubungan dengan tingkat kepatuhan secara signifikan pada pasien TB di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Kabupaten Banyuasin pada tahun 2025. Temuan tersebut serupa dengan temuan studi milik Kusmiyani et al. , yaitu Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien TB Paru di Puskesmas Samuda dan Bapinang Kotawaringin Timur, bahwasanya tidak ditemukan korelasi antara status pekerjaan dan kepatuhan minum OAT secara signifikan. Studi milik Novalisa et al. juga mendukung bahwasanya status pekerjaan tidak berhubungan dengan kepatuhan terhadap pengobatan TB di Puskesmas Sungai Betung . Secara umum, pekerjaan sering kali dikaitkan dengan tingkat risiko paparan terhadap penyakit infeksi, tergantung pada jenis pekerjaan, lingkungan kerja, serta kondisi sosial ekonomi pekerja. Lingkungan kerja yang tidak mendukung atau tidak sehat dapat meningkatkan kemungkinan individu terinfeksi TB paru . Namun demikian, faktor pekerjaan tidak selalu berpengaruh langsung pada kepatuhan dalam pengobatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, hasil-hasil terdahulu, serta teori yang relevan, pendapat peneliti bahwa individu yang bekerja cenderung memiliki keterbatasan waktu untuk mengakses layanan kesehatan secara rutin. Namun, di sisi lain, individu memperhatikan gejala-gejala yang timbul pada dirinya dan menunjukkan sikap tanggap terhadap kondisi kesehatannya, sehingga berpotensi lebih patuh dalam mengonsumsi OAT demi mendukung proses Hubungan Antara Sikap Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Di Puskesmas Gasing Laut pada tahun 2025, sikap berhubungan dengan kepatuhan mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) Kesimpulan didasarkan pada hasil uji statistik chisquare. Sebagaimana dengan temuan studi milik Elizah et al. yaitu Analisis Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Paru di https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Wilayah Kerja Puskesmas Tahun 2024, bahwasanya sikap pasien berhubungan dengan kepatuhan menjalankan terapi OAT . Hasil serupa juga ditemukan dalam Listyarini . , berjudulAyHubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita TB Paru terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis . AySelain itu. Nopiayanti et al. dalam studi Faktor-Faktor Berhubungan dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat pada Penderita TB di Kota TasikmalayaAy bahwasnaya sikap berhubungan dengan tingkat kepatuhan minum OAT secara Sikap kecenderungan untuk menanggapi secara positif ataupun negatif pada suatu objek atau perilaku. Dalam konteks kepatuhan pengobatan, sikap merupakan salah satu determinan penting yang memengaruhi perilaku pasien. Sikap yang positif terhadap pengobatan akan mendukung kepatuhan komplikasi akut maupun risiko jangka panjang . Sikap juga memengaruhi kesadaran individu untuk secara aktif memeriksakan diri dan mengikuti prosedur pengobatan secara konsisten, sebagaimana dikemukakan oleh Notoatmodjo . , bahwasanya sikap adalah bentuk kesiapan ataupun kecenderungan individu untuk bereaksi terhadap objek atau situasi tertentu berdasarkan pengalaman dan penghayatan . Berdasarkan hasil penelitian ini, temuantemuan sebelumnya, serta teori yang mendasarinya, peneliti berpendapat bahwa terdapat hubungan antara sikap pasien dan kepatuhan mengonsumsi obat pada penderita TB paru. Semakin positif sikap yang dimiliki pasien terhadap pentingnya konsumsi obat secara rutin, maka kemungkinan pasien tersebut berperilaku patuh menjalankan pengobatan semakin Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Sebagaimana temuan pengujian statistik chi-square, dukungan keluarga hubungan dengan tingkat kepatuhan pasien TBC di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Kabupaten Banyuasin pada tahun 2025. Temuan ini serupa dengan temuan studi Pitoy et al. , meskipun penelitian tersebut menunjukkan tidak ditemukan korelasi antara dukungan keluarga dan kepatuhan mengonsumsi obat secara pembanding yang relevan dalam konteks dampak dukungan sosial pada kepatuhan pasien . Menurut Nurhanani et al. , keputusan patuh atau tidak terhadap pengobatan seluruhnya berada di tangan pasien. Sementara sekitarnya, termasuk keluarga, tenaga kesehatan, serta akses terhadap layanan kesehatan, berperan sebagai faktor pendukung dalam mendorong keberhasilan Individu yang berada dalam lingkungan yang mendukung cenderung situasi kesehatannya lebih memadai dibandingkan mereka dengan lingkungan yang kurang memadai . Berdasarkan temuan penelitian ini, temuan sebelumnya, serta teori yang mendasari, menurut peneliti bahwa sebagian besar keluarga pasien berperan aktif dalam memberikan dukungan selama proses pengobatan, baik melalui pendampingan, motivasi, maupun akses layanan kesehatan. Namun demikian, keberhasilan pengobatan tetap sangat ditentukan oleh komitmen individu pasien. Beberapa pasien, meskipun telah mendapat dukungan keluarga, https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 pengobatan akibat efek samping obat atau karena faktor dominasi peran dalam keluarga, seperti posisi sebagai kepala keluarga yang cenderung sulit dipengaruhi, bahkan oleh anggota keluarga terdekat. Hubungan Antara Efek Samping Obat Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Di Puskesmas Gasing Laut, pada tahun 2025, ditemukan hubungan antara efek samping obat dan kepatuhan mengonsumsi OAT secara signifikan pada pasian TB. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil analisis statistik uji chi-square. Sejalan dengan temuan Ruben et al. dalam penelitiannya yang berjudulAuKorelasi Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien TB Paru,Ayyang menyimpulkan adanya korelasi antara efek samping obat dan tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi . Hasil serupa juga dilaporkan oleh Wiratmo et al. melalui studi berjudulAuRiwayat Pengobatan. Efek Samping Obat dan Penyakit Penyerta Pasien Tuberkulosis Paru terhadap Tingkat Kepatuhan Berobat,Aybahwasanya samping obat berhubungan dengan kepatuhan pasien secara signifikan . Efek samping selama terapi OAT FDS (FixedDose Combinatio. dapat timbul akibar satu diantara maupun kombinasi komponen obatnya, seperti Rifampisin (R). Isoniazid (H). Pirazinamid (P). Streptomisin (S), dan Etambutol (E). Pirazinamid diketahui dapat menyebabkan nyeri sendi, sementara Rifampisin sering menimbulkan mual, penurunan nafsu makan, dan gangguan Streptomisin dapat memicu pusing dan gangguan keseimbangan. Isoniazid menimbulkan efek berupa gatal-gatal dan Secara umum, gejala yang paling sering dikeluhkan oleh pasien TB mencakup mual, gatal-gatal, hilangnya nafsu makan, pusing, serta kesemutan . Sebagaimana temuan penelitian ini beserta sejumlah studi terdahulu dan teori yang mendukung, pendapat peneliti bahwa timbulnya efek samping dari terapi OAT menjadi salah satu faktor utama yang Efek samping yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko ketidakteraturan dalam konsumsi pengobatan secara sepihak oleh pasien. Dengan demikian, memberikan informasi memadai oleh pegawai kesehatan sangat krusial, utamanya terkait kemungkinan efek samping yang dapat muncul, serta cara penanganannya, agar pasien tidak merasa cemas dan melanjutkan pengobatan hingga Hubungan Antara Jarak Tempuh Rumah Ke Puskesmas Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Penderita TB Paru Sebagaimana temuan pengujian statistik uji chi-square, disimpulkan bahwasanya tidak ditemukan korelasi antara arak tempuh dari tempat tinggal ke Puskesmas dan tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara signifikan pada pasien TB di Puskesmas Gasing Laut. Kecamatan Talang Kelapa. Kabupaten Banyuasin. Tahun 2025. Sejalan dengan temuan Kusmiyani et al. dalam studinya berjudulAyAnalisis Faktor Berhubungan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien TB Paru di Puskesmas Samuda dan Bapinang Kotawaringin Timur,Ayyang membuktikan bahwasanya jarak tempuh ke Puskesmas tidak berhubungan dengan kepatuhan pasien TB Paru dalam menjalani https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 pengobatan . Hasil serupa ditemukan pada temuan Samory et al. , yang berjudulAyFaktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pasien terhadap Pengobatan Tuberkulosis Paru Puskesmas Urei-Faises (URFAS), di mana tidak ditemukan korelasi antara jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan tingkat kepatuhan pasien secara signifikan . Demikian pula, studi milik Novalisa et al. , yaitu Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Penggunaan Obat Tuberkulosis pada Pasien di Puskesmas, sebelumnya dengan menyimpulkan bahwa jarak ke fasilitas kesehatan tidak berpengaruh secara signifikan pada kepatuhan mengonsumsi obat TB di Puskesmas Sungai Betung . Secara teoritis, jarak merupakan salah satu faktor yang dapat menjadi hambatan dalam Aksesibilitas terhadap fasilitas kesehatan, termasuk jarak dari rumah ke lokasi pelayanan, kerap diasumsikan sebagai penentu dalam kepatuhan pengobatan, terutama pada pasien penyakit kronis seperti TB paru . Namun, temuan penelitian ini berbeda. Sebagaimana temuan penelitian, didukung oleh studi-studi terdahulu serta teori yang relevan, peneliti berpendapat bahwa sebagian besar responden tetap dapat menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan dengan relatif mudah, meskipun tidak tersedia transportasi umum. Hal ini disebabkan oleh kepemilikan kendaraan pribadi oleh mayoritas responden, serta jarak rumah ke Puskesmas yang pada umumnya masih dapat dijangkau. Selain itu, untuk wilayah yang cukup jauh dari Puskesmas, distribusi obat dilakukan melalui Puskesmas Pembantu (Pust. atau Pos Kesehatan Desa (Poskesde. yang lebih dekat dengan tempat tinggal pasien, sehingga kendala jarak dapat diatasi KESIMPULAN Temuan studi yang dilaksanakan di Puskesmas Gasing Laut menghasilkan beberapa kesimpulan variabel usia, kelamin, antara jenis kelamin, pendidikan, dukungan keluarga. Jarak tempuh rumah ke puskesmas didapatkan tidak berhubungan dengan kepatuhan konsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita TBC Paru dan pada variable pengetahuan, mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita TB Paru di Puskesmas Gasing Laut Kabupaten Banyuasin tahun Variabel pengetahuan yiatu variabel yang paling mendominasi korelasi dengan tuberkulosis (OAT) pada pasien TB Paru di Puskesmas Gasing Laut Kabupaten Banyuasin Tahun 2025. SARAN