JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 7 No 1 Februari 2020 PENGUKURAN KINERJA MESIN BAKING CONE 1 DENGAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE): STUDI KASUS PABRIK ES KRIM Sandra Lukita1*. Evania. Yovita Rosalia2. Felicia Layrensius3. Mariani4 1,2,3,4 Jurusan Teknik Industri. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, 60236 *m25416078@john. ABSTRAK PT X adalah perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan es krim. PT X memproduksi berbagai jenis produk es krim, salah satunya adalah es krim cone. Produksi di PT X 80% dilakukan menggunakan mesin. PT X agar dapat bersaing kompetitif dengan perusahaan harus menjaga ketersediaan dan kualitas dari produknya, namun sering kali produksi tidak berjalan sesuai dengan perencanaan produksi yang telah dibuat sehingga menyebabkan ketersediaan produk di pasar menjadi Hal tersebut disebabkan salah satunya karena kinerja mesin, yang mana dibahas dalam penelitian ini adalah mesin Baking Cone 1. Pengukuran kinerja mesin Baking Cone 1 dilakukan dengan menggunakan Overall Equipment Effectiveness (OEE). Metode OEE adalah salah satu alat pengukuran kinerja pada industri manufaktur yang dapat mengukur berbagai jenis kerugian produksi dan menunjukkan bidang yang dapat ditingkatkan. Hasil pengukuran OEE menunjukkan efektivitas mesin baking cone tiga bulan terakhir adalah sebesar 82%. Nilai tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan world class OEE artinya efektivitas mesin masih dapat ditingkatkan. Penyebab dari OEE yang rendah adalah availability dan performance rate. Availibility dapat ditingkatkan dengan mengurangi down time, performance rate dapat ditingkatkan dengan perawatan mesin berkala. Kata kunci: Efektivitas. OEE, down time ABSTRACT PT X is a company engaged in the ice cream manufacturing industry. PT X manufactures various types of ice cream products, one of which is ice cream. 80% Production at PT X is carried out using In order to compete with other company. PT X must support and prioritize the quality of its products, but often the production is not in accordance with the production plans that have been made, causing an increase in product contribution in the market to be bad. This is one that supports engine performance, which is recommended in this study is the baking cone machine1. The performance measurement of the Baking Cone 1 engine is performed using Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE method is one of the measuring instruments in the manufacturing industry that can measure various types of production and the addition of fields that can be improved. OEE measurement results show the performances of baking cone machines 1 the last three months amounted to 82%. This value is still lower compared to world-class OEE which means that machines can still be improved. The causes of low OEE are availability and level of performance. Availability can be increased by reducing downtime machines, the level of performance can be increased by periodic engine Keywords: Effectiveness. OEE, down time DOI: https://dx. org/10. 24853/jisi. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi PENDAHULUAN PT X adalah perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan es krim. PT X memproduksi berbagai jenis es krim, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni: es krim stik, cup, cone, dan literan. Produksi pada PT X 80% prosesnya dilakukan menggunakan mesin, salah satunya digunakan mesin baking cone 1. Mesin baking cone 1 digunakan untuk membuat cone es krim pada produk es krim cone. Pemenuhan permintaan pada PT X dilakukan dengan sistem make to stock, oleh karena itu dilakukan penjadwalan produksi sehingga stock level produk dalam kegiatan pemenuhan tetap berada pada level aman stok dan dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan baik. Fleischer. Weismann, & Niggeschmidt . dan Huang et al. mengatakan dalam penelitiannya bahwa persaingan dalam perusahaan tergantung pada ketersediaan dan produktivitas dari fasilitas Kegiatan penjadwalan produksi yang dilakukan oleh perusahaan sering mengalami hambatan yang menyebabkan produksi tidak dapat berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat dan ketersediaan produk menjadi Salah satu penyebab produksi tidak dapat berjalan sesuai perencanaan adalah kinerja dari mesin, yang mana akan dibahas dalam penelitian ini adalah kinerja pada mesin baking cone 1. Pengukuran kinerja pada mesin baking cone 1 dilakukan dengan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE). Metode OEE adalah salah satu alat pengukuran kinerja pada industri manufaktur yang dapat mengukur berbagai jenis kerugian produksi dan menunjukkan bidang yang dapat ditingkatkan (Muchiri & Pintelon, 2. OEE dapat melakukan pengukuran untuk sistem yang memiliki kompleksitas tinggi, melakukan mengukur efektivitas eksternal sampai batas tertentu (Jonsson & Lesshammar, 1. Pengukuran kinerja mesin dengan menggunakan OEE telah digunakan dalam berbagai bidang antara lain dilakukan oleh Suliantoro. Susanto. Prastawa. Sihombing, & Mustikasari . Aziz . , dan Gupta & Garg . Suliantoro. Susanto. Prastawa. Sihombing, & Mustikasari . menerapkan OEE dalam melakukan pengukuran kinerja P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X mesin reng pada pabrik produksi atap baja Aziz . dalam penelitiannya menerapkan OEE dalam mengukur kinerja mesin compressor grasso pada pabrik seafood. Gupta & Garg . menerapkan OEE dalam pabrik manufaktur mobil di India. Berdasarkan penelitian Ae penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, metode OEE adalah metode yang tepat untuk melakukan pengukuran kinerja mesin baking cone 1 di PT X. TINJAUAN PUSTAKA Overall Equipment Effectiveness (OEE) Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan salah satu metode untuk melakukan monitor dan meningkatkan efektivitas dari proses manufaktur . esin, manufacturing cells, assembly line. OEE sering digunakan sebagai kunci dari Total Productive Maintenance (TPM) dan Lean Manufacturing serta memberikan langkah konsisten untuk mengukur efektivitas dari TPM dengan memberikan semua pengukuran efektivitas produksi (Willmott & McCarthy, 2. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi OEE, yakni: Plant operating time. Planned production time, availability, performance, product quality. Plant operating time merupakan jumlah waktu pabrik dan peralatan tersedia untuk beroperasi. Planned production time merupakan waktu produksi yang direncanakan diluar kegiatan tanpa produksi seperti makan siang, scheduled maintenance, atau periode ketika tidak memproduksi apapun. Availability dipeng-aruhi oleh down time loss, dimana down time loss merupakan segala kegiatan yang menyebabkan produksi yang telah direncanakan berhenti pada jangka waktu Performance dipengaruhi oleh speed loss, berbagai faktor yang menyebabkan produksi tidak berjalan pada kecepatan Product quality dipengaruhi oleh product quality loss, dimana memproduksi produk yang tidak sesuai dengan quality standards (Vorne Industries, 2. OEE dihitung berdasarkan tiga faktor yang mempengaruhinya, yakni availability, performance, dan quality dengan formula sebagai berikut: OEE = avail. y perf. y quality . Berikut ini merupakan tabel Word Class OEE. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 7 No 1 Februari 2020 Tabel 1. World Class OEE Pareto diagram adalah histrogram yang mengurutkan data dari frekuensi terbesar hingga terkecil (Evans & Lindsay, 2. Faktor OEE World Class Availibility Performance Quality OEE 99,9% Perhitungan faktor-faktor pada OEE adalah ssebagai berikut. Availability rate dipengaruhi oleh down time loss. Perhitungan availability rate dapat dilakukan dengan persamaan 2 berikut ini. % Avail. Performance rate dipengaruhi oleh speed loss. Perhitungan performance rate dapat dilakukan dengan persamaan 3 berikut % perf. Quality rate dipengaruhi oleh quality Perhitungan quality rate dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan 4 berikut ini. % quality. Berdasarkan Tabel 1 setiap faktor pada OEE memiliki kelas nilai yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perhitungan OEE mesin yang baik berdasarkan penilaian yang diakui di dunia adalah diatas 85%. Availability rate, performance rate, dan quality rate yang baik berdasarkan penilaian yang diakui di dunia secara berturut-turut adalah diatas 90%, 95%. Pareto Pareto adalah salah satu metode analisis yang berfokus pada aspek yang paling penting memudahkan pengambilan keputusan. Prinsip 80:20, menyelesaikan 20% masalah yang berdampak pada 80% akibat atau efek (Koch, 1. Pareto digambarkan dalam bentuk diagram yang biasa disebut Pareto chart atau Pareto METODE PENELITIAN Pada bab ini akan diulas tahapan penelitian yang dilalui dalam melakukan pengukuran OEE mesin baking cone 1. Tahapan diawali dengan pengumpulan datadata seperti data produksi, data kerusakan mesin, dan kapasitas mesin. Tahapan kedua data-data Data kerusakan dikelompokkan berdasarkan jenis kerusakannya. Tahapan ketiga adalah perhitungan OEE dari mesin. Tahap keempat adalah melakukan evaluasi perhitungan OEE yang diperoleh. HASIL DAN PEMBAHASAN Availability Mesin Baking Cone 1 Availability dipengaruhi oleh down time Down time loss adalah segala sesuatu yang menyebabkan produksi yang telah dijadwalkan berhenti sehingga tidak sesuai dengan yang direncanakan. Availability diperoleh dari perbandingan Net operating time dengan planned production time. Planned production time pada PT X adalah sepanjang 160 jam selama satu minggu. Tabel 2 menampilkan perhitungan dari avalability mesin baking cone 1 selama tiga bulan yakni bulan Oktober 2018 Ae November 2018. Tabel 2. Availability Mesin Baking Cone Week Down Time Loss . 0,25 Operating Availability Time . JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Tabel 2 menunjukkan availability pada mesin baking cone 1. Availability pada mesin baking cone 1 terendah terjadi pada minggu ke Pada minggu ke 46 ini, mesin banyak mengalami down time loss yang sebagian besar disebabkan karena unplanned maintanance. Selain itu, downtime pada minggu ke 46 ini juga disebabkan karena pneumatik bocor dan batter pump macte. Berdasarkan OEE World Class. Availability yang baik adalah sebesar 90% keatas, dilihat dari rata-rata availability mesin di atas yakni sebesar 90,2%, maka availability mesin termasuk baik. Quality Mesin Baking Quality dipengaruhi oleh quality loss. Quality loss adalah produk yang tidak memenuhi standar, termasuk produk yang perlu di rework. Tabel 3 menunjukkan quality pada mesin baking cone 1 tiga bulan terakhir. Performance Mesin Baking Cone 1 Performance dipengaruhi oleh speed Speed loss adalah semua faktor yang Gambar 1 menunjukkan hasil perhitungan performance rate dari mesin baking cone 1 tiga bulan terakhir. Tabel 2. Quality Mesin Baking Cone 1 Good Total Week Quality Pieces . Pieces . 6201,31253 6893,56747 7726,77734 8079,85147 8168,26666 8262,7481 5072,0567 6293,39508 7889,43358 8222,62179 6136,21008 7015,30625 4100,9653 6313,9425 7031,4975 7843,7073 8169,6415 8294,5867 8384,4681 5151,5967 6435,5151 8033,3636 8332,6818 6252,3901 7204,1262 4203,6553 Tabel 3 menunjukkan quality dari mesin baking cone 1. Rata-rata quality pada mesin baking cone 1 tiga bulan terakhir adalah sebesar 98,2%, oleh karena itu masih diperlukan improvement terhadap kualitas kerja mesin karena berdasarkan OEE world class nilai quality yang baik adalah sebesar 9% ke atas. Gambar 1. Performance Mesin Baking Cone 1 Performance rate pada akhir-akhir minggu terakhir mengalami kenaikan dan Performance paling rendah terjadi pada minggu 52 yakni sebesar 77%. Performance paling tinggi adalah sebesar Rata-rata performance 3 bulan terakhir adalah sebesar 93%. Berdasarkan OEE world class performance yang baik adalah sebesar 95% ke atas yang artinya masih diperlukan improvement pada performance mesin baking cone 1 ini. OEE Mesin Baking Cone 1 Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi OEE yakni availability, performance, dan. Perhitungan OEE mesin baking cone 1 setiap minggunya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. OEE Mesin Baking Cone 1 Week Availability Quality Performance OEE 99,8% JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 7 No 1 Februari 2020 Wrapper loncat-loncat Gambar 2. OEE Mesin Baking Cone 1 Gambar 2 menunjukkan OEE yang mengalami kenaikan dan penurunan setiap OEE yang memiliki nilai paling tinggi berada pada minggu ke 45 dan minggu ke 49 sebesar 94%, sementara OEE yang memiliki nilai terendah berada pada minggu ke 46 sebesar 58%. Rata-rata OEE 3 bulan terakhir adalah sebesar 82%. Berdasarkan OEE world class rata-rata OEE 3 bulan terakhir ini masih perlu ditingkatkan karena OEE yang baik sebesar 85% ke atas. 5 Identifikasi Down Time Loss Mesin Baking Cone 1 Berdasarkan perhitungan availability mesin baking cone 1, down time loss Down time loss yang di alami dikelompokkan sesuai dengan Tabel 5. Palu Slip dan Pengapian Mati Pengapian Mati 0,58 26,25 Pengapian mati dan tombak macet Pneumatik bocor 0,25 0,67 Tabung Cylinder 0,25 Tabel 5 menunjukkan persebaran waktu dari down time loss yang dialami mesin baking Pareto digunakan untuk memudahkan dalam menganalisis down time loss. Gambar 3 merupakan pareto dari down time mesin baking Gambar 3. Pareto Down Time Mesin Backing Cone 1 Berdasarkan Gambar 3 down time yang paling banyak memakan waktu adalah maintenance, kemudian diikuti oleh pengapian Dari pareto di atas, masalah yang harus di selesaikan ada 1 dari 14 masalah yakni waktu maintenance. Konsep yang digunakan adalah 94/7,14 artinya menyelesaikan 7,14% masalah, berdampak 94% terhadap waktu down time. Tabel 5. Down Time Type Down time type Baut pengunci tombak Baut ring tombak Butter Pump Macet Total down time loss per type Total time loss per type 0,25 0,25 0,50 Garpu Slip 0,92 Listrik padam 3,67 Maintenance 158,25 Palu slip 0,17 Palu Slip dan Conveyor macet Palu Slip dan Mesin 2,00 0,50 Gambar 4. Diagram Fishbone Gambar 4 menunjukkan beberapa kemungkinan penyebab seringnya terjadi down time pada mesin baking cone 1. Dilihat dari segi operatornya, penyebab down time mesin terjadi adalah karena kelalaian operator sendiri. Kelalaian operator dapat diatasi dengan pemberlakuan peraturan selama proses JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi meminimalkan kelalaian yang terjadi selama proses produksi. Pelatihan dibutuhkan bagi operator agar dapat mengoperasikan mesin dengan baik dan benar. Operator yang sakit menyebabkan kelalaian operator terjadi sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan yang dapat dilakukan pada klinik yang ada pada PT Campina Ice Cream Industry. Sparepart menyebabkan mesin berhenti dan produksi Pencegahan mesin berhenti dapat dilakukan dengan menjadwalkan penggantian sparepart yang lama sebelum mesin tersebut mengalami kendala dan berhenti secara tibatiba pada saat produksi. Mesin yang sudah tua juga bisa menjadi penyebab mesin sering mengalami down time, perlunya dilakukan perhitungan lebih lanjut mengenai keuntungan penggantian mesin baru atau tetap melakukan perbaikan mesin. 6 Peningkatan Kinerja Mesin Baking Cone 1 Peningkatan kinerja mesin baking cone 1 dapat dilakukan dengan meningkatkan Efektivitas dari mesin. Analisis efektivitas mesin dilakukan dengan menggunakan OEE. OEE performance, dan quality. Peningkatan nilai OEE dapat dilakukan dengan melakukan peningkatan availability, performance, dan Berdasarkan analisis pada sub-bab sebelumnya rata-rata availability mesin baking cone 1 tiga bulan terakhir sudah bagus, sedangkan performance dan quality mesin tiga bulan terakhir menunjukkan masih perlu dilakukan peningkatan terhadap kedua faktor Performance mesin dipengaruhi oleh total hasil produksi dan operating time. Operating time dipengaruhi oleh down time Berdasarkan identifikasi down time loss yang terjadi pada mesin baking cone 1 selama tiga bulan terakhir maka peluang perbaikan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis yang dilakukan oleh penulis adalah mengontrol waktu unplanned maintenance. Berdasarkan pareto yang dibuat pada Gambar 3, dengan menyelesaikan masalah waktu yang digunakan untuk melakukan maintenance maka akan berdampak 94% terhadap produktivitas mesin dan dapat P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X meningkatkan efektivitas mesin. Maintenance terjadi karena hal yang tidak dapat diduga, untuk itu diperlukan teknisi yang handal agar dapat memperbaiki kesalahan mesin dengan cepat dan tepat sehingga mesin dapat berjalan Preventive maintenance juga perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan pada mesin yang dapat mengganggu jalannya mesin. Penyebab down time terbanyak kedua adalah perapian mati. Beberapa alternatif disarankan untuk pencegahan terhadap mesin yang berhenti ketika perapian mati yaitu menggunakan gas cadangan ketika tekanan gas Gas cadangan dapat berupa biogas. LPG, genset, maupun listrik. Gas cadangan ini tentu saja memerlukan perhitungan lebih lanjut apakah layak atau tidak digunakan. Berdasarkan perhitungan biaya, biogas memiliki biaya yang paling terjangkau dibandingkan dengan 3 alternatif lainnya. KESIMPULAN Penelitian ini mempelajari pengukuran kinerja mesin baking cone 1 pada PT X. Hasil pengukuran menunjukkan OEE dari mesin baking cone 1 yakni sebesar 82 % masih berada dibawah OEE World Best yang menandakan perlunya dilakukan peningkatan Pengingkatan kinerja dapat dilakukan dengan melakukan peningkatan kualitas dan performance mesin. Peningkatan dapat dilakukan dengan melakukan preventive maintanance dan juga memikirkan beberapa alternatif sumber gas agar produksi dapat berjalan tanpa hambatan karena berdasarkan masalah down time, pengapian mati menjadi penyebab kedua terbesar down time selain unplanned maintanance. Pengapian mati tersebut disebabkan karena tekanan gas yang tiba-tiba turun sehingga produksi tidak dapat DAFTAR PUSTAKA