PENELITIAN ASLI HUBUNGAN WORK LIFE BALANCE DAN KELELAHAN KERJA PADA KARYAWAN Alinda Arsy1. Purnamawati Tjhin2 Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta Barat. DKI Jakarta, 11440. Indonesia Departemen Anatomi. Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta Barat. DKI Jakarta, 11440. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Kelelahan kerja . merupakan Tanggal Dikirim: 07 Mei 2026 masalah kesehatan kerja yang berdampak pada Tanggal Diterima: 20 Mei 2026 produktivitas, kualitas pelayanan, dan kesejahteraan Tanggal DiPublish: 02 Juni 2026 Di Indonesia, prevalensi kelelahan kerja Kata kunci: Burnout. Kelelahan dilaporkan mencapai 63,78%. Tingginya tuntutan Kerja. Kesehatan Kerja. pekerjaan, khususnya pada pelaksanaan program Karyawan SPPG. Program pemerintah Makanan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi Makanan Bergizi Gratis (MBG). mengganggu keseimbangan kehidupan kerja . ork life Work-life balance balance/WLB) dan meningkatkan risiko kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tujuan: untuk menganalisis hubungan antara work life Penulis Korespondensi: balance dan kelelahan kerja pada karyawan SPPG. Purnamawati Tjhin Metode: merupakan studi observasional analitik dengan Email: purnamawati@trisakti. desain potong lintang . ross-sectiona. Sebanyak 47 karyawan SPPG Pasar Minggu. Jakarta Selatan, dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Copenhagen Burnout Inventory (CBI) dan Work life balance Scale (WLBS). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji FisherAos Exact Test dengan tingkat kemaknaan statistik 0,05. Hasil: Tidak tingkat WLB kategori tinggi maupun sangat tinggi. Sebagian besar responden berada pada kategori WLB sangat rendah . ,8%) dan rendah . ,7%). Tingkat kelelahan kerja menunjukkan kondisi yang sangat tinggi, dengan 87,2% responden berada pada kategori sangat tinggi dan 12,8% pada kategori tinggi. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara work life balance dan kelelahan kerja . = 0,. Kesimpulan: Kelelahan kerja pada karyawan SPPG tergolong sangat tinggi, namun work life balance tidak berhubungan secara signifikan dengan kelelahan kerja. Upaya skrining dan edukasi kesehatan kerja tetap mencegah kelelahan kerja dan kesejahteraan pekerja. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 11 No. 1 Juni, 2026 (Hal 18-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Arsy. Alinda, and Purnamawati Tjhin. AuHubungan Work Life Balance Dan Kelelahan Kerja Pada Karyawan. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat . 18Ae26. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2026 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Pada era globalisasi dan transisi menuju industri 5. 0, perencanaan sumber daya manusia (SDM) menjadi strategi krusial bagi organisasi dalam menjamin keberlanjutan kinerja dan kualitas pelayanan. SDM yang kompeten dan adaptif berperan penting dalam menentukan arah kebijakan, mendorong inovasi, serta mewujudkan keunggulan kompetitif, baik pada sektor swasta maupun institusi . Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan SDM adalah menjaga kesehatan kerja dan kesejahteraan pekerja di tengah tuntutan kerja yang semakin Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, pemerintah Indonesia meluncurkan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang pelaksanaannya melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). SPPG memiliki peran strategis dalam pengelolaan logistik dan distribusi makanan bergizi kepada kelompok sasaran. Tingginya tuntutan akurasi, ketepatan waktu, dan tanggung jawab operasional berpotensi meningkatkan tekanan kerja dan risiko kelelahan kerja pada karyawan. Generasi Z adalah orang yang lahir pada pertengahan 1990 sampai awal 2010 dan mengalami pertumbuhan ditengah perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung cepat dan tumbuh di era pesatnya perkembangan internet dan teknologi informasi. Generasi Z menunjukkan kepedulian tinggi terhadap permasalahan lingkungan dan sosial, serta dibesarkan di era yang menempatkan pendidikan dan pencapaian karier sebagai fokus utama yang dapat menimbulkan tekanan psikologis seperti kelelahan kerja dan kecemasan. Kelelahan kerja merupakan masalah kesehatan kerja yang ditandai oleh kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat paparan stres kerja berkepanjangan, yang berdampak pada penurunan produktivitas, kualitas pelayanan, serta kesejahteraan . Di Indonesia, prevalensi kelelahan kerja dilaporkan mencapai 63,78%, menunjukkan bahwa kelelahan kerja masih menjadi permasalahan serius di berbagai sektor pekerjaan. Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan kelelahan kerja adalah work life balance, yaitu kemampuan individu dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa work life balance yang baik berhubungan dengan rendahnya tingkat kelelahan kerja. Namun, penelitian lain menunjukkan hasil yang tidak konsisten, di mana work life balance tidak berhubungan secara signifikan dengan kelelahan kerja, yang mengindikasikan adanya pengaruh faktor kontekstual dan karakteristik lingkungan kerja tertentu. Hingga saat ini, belum banyak penelitian yang mengkaji hubungan work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam konteks pelaksanaan program pemerintah Makanan Bergizi Gratis yang relatif baru Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan memberikan gambaran empiris awal mengenai peran work life balance terhadap kelelahan kerja pada unit pelayanan gizi dengan tuntutan operasional tinggi. Berdasarkan latar belakang, temuan penelitian terdahulu, serta kesenjangan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Metode 1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang . Desain ini dipilih untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yang diukur pada satu waktu pengamatan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah work life balance, sedangkan variabel terikat adalah kelelahan 2 Pengaturan dan Sampel Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2025 di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta. Populasi penelitian adalah seluruh karyawan aktif pada unit tersebut. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling, sehingga seluruh karyawan yang memenuhi kriteria inklusi direkrut sebagai responden Kriteria inklusi meliputi karyawan aktif SPPG yang telah bekerja minimal dua bulan, bersedia menjadi responden, serta mampu membaca dan memahami bahasa yang digunakan dalam kuesioner. Tidak ada kriteria eksklusi yang digunakan. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 47 responden, yang mencakup seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi, sehingga dianggap representatif untuk analisis penelitian. 3 Pengukuran dan Pengumpulan Data Data yang digunakan merupakan data primer yang dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan Copenhagen Burnout Inventory (CBI) yang dikembangkan oleh Kristensen et al. dan telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Instrumen ini terdiri dari 19 item dengan skala Likert 5 poin dan telah teruji validitas serta reliabilitasnya, dengan nilai CronbachAos Alpha > 0,85, nilai Content Validity Index (CVI) seluruh subskala Ou 0,963, serta nilai I-CVI setiap item Ou 0,889. Usia diukur menggunakan skala dewasa muda dimulai dari umur 20 sampai 30 tahun dan dewasa yang dimulai dari 31 sampai 40 tahun. Work life balance diukur menggunakan Work life balance Scale (WLBS) yang diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Maimunah F et al. , terdiri dari 17 item yang mencakup empat dimensi, menggunakan skala Likert 5 poin. Instrumen ini memiliki reliabilitas dan validitas yang baik dengan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,864 serta hasil Confirmatory Factor Analysis (GFI = 0,986. CFI = 0,923. TLI = Kuesioner dibagikan secara langsung kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi setelah diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian dan menandatangani lembar informed consent. Kerahasiaan data responden dijamin sepenuhnya, dan data hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. 4 Analisis Data Data penelitian dianalisis menggunakan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 29. 1 untuk Macbook. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi work life balance dan tingkat kelelahan kerja Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara work life balance sebagai variabel bebas dan kelelahan kerja sebagai variabel terikat. Uji statistik yang digunakan adalah FisherAos Exact Test karena syarat uji Chi-square tidak terpenuhi, dengan tingkat kemaknaan statistik ditetapkan pada p < 0,05. 5 Pertimbangan Etika Penelitian ini telah memperoleh persetujuan dari Tim Kaji Etik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dengan nomor 045/KER/FK/08/2025. Seluruh responden berpartisipasi secara sukarela dan telah memberikan persetujuan tertulis setelah memperoleh penjelasan lengkap mengenai tujuan, prosedur, serta manfaat penelitian. Hasil Penelitian ini melibatkan 47 responden yang merupakan karyawan aktif di lokasi Tabel 1. Karakteristik responden Variabel Usia . 20 Ae 30 (Dewasa mud. 31 Ae 40 (Dewas. Frekuensi . Persentase (%) Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Work life balance Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Kelelahan kerja Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia dewasa . Ae40 tahu. sebanyak 55,3%, sedangkan kelompok usia dewasa muda . Ae 30 tahu. sebesar 44,7%. Responden didominasi oleh laki-laki sebanyak 68,1%, sementara perempuan sebesar 31,9%. Pada variabel work life balance (WLB), tidak terdapat responden yang berada pada kategori tinggi maupun sangat tinggi. Sebagian besar responden memiliki tingkat WLB sangat rendah sebesar 46,8%, diikuti kategori rendah sebesar 27,7%, dan kategori sedang sebesar 25,5%. Sementara itu, pada variabel kelelahan kerja, mayoritas responden mengalami kelelahan kerja pada kategori sangat tinggi sebesar 87,2%, sedangkan sisanya berada pada kategori tinggi sebesar 12,8%. Tidak terdapat responden pada kategori sedang, rendah, maupun sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami kelelahan kerja dalam kategori tinggi hingga sangat tinggi. Hasil analisis bivariat antara work life balance dan kelelahan kerja ditunjukkan pada Tabel 2. Pada tahap awal, dilakukan uji Chi-square menggunakan tabel kontingensi 3y2 karena kategori WLB hanya terdiri atas sedang, rendah, dan sangat rendah, sedangkan kategori kelelahan kerja terdiri atas tinggi dan sangat tinggi. Namun, hasil uji menunjukkan bahwa lebih dari 20% sel memiliki nilai expected count kurang dari 5 sehingga syarat penggunaan uji Chi-square tidak terpenuhi. Oleh karena itu, dilakukan penggabungan kategori pada variabel WLB, yaitu kategori rendah dan sangat rendah digabung menjadi kategori Aurendah-sangat rendahAy, sehingga terbentuk tabel kontingensi 2y2. Akan tetapi, setelah dilakukan penggabungan kategori, masih terdapat lebih dari 20% sel dengan nilai expected count kurang dari 5. Dengan demikian, analisis hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja dilanjutkan menggunakan uji FisherAos Exact Test karena lebih sesuai untuk data dengan frekuensi harapan kecil. Tabel 2. Hubungan antara Work life balance dan Kelelahan Kerja Work life balance Sedang Rendah - Sangat Rendah Tinggi n (% ) 3 . Kelelahan Kerja Sangat Tinggi n(%) 9 . Nilai p # uji Fisher Exact Test Pengujian hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada tabel 2 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan . = 0,. Meskipun demikian, secara deskriptif terlihat bahwa proporsi responden dengan tingkat kelelahan kerja sangat tinggi lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan work life balance rendahAesangat rendah, yaitu sebesar 91,4%, dibandingkan pada kelompok dengan work life balance sedang sebesar 75,0%. Temuan ini mengindikasikan bahwa responden dengan work life balance yang lebih rendah cenderung mengalami tingkat kelelahan kerja yang lebih tinggi. Namun, perbedaan tersebut belum cukup kuat untuk menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik. Hal ini dapat dipengaruhi oleh jumlah sampel yang relatif kecil serta distribusi data yang tidak merata pada beberapa kategori variabel penelitian. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Berdasarkan hasil analisis univariat, sebagian besar responden memiliki tingkat work life balance (WLB) yang tergolong rendah hingga sangat rendah. Tidak terdapat responden yang berada pada kategori tinggi maupun sangat tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Rendahnya tingkat WLB pada responden dapat dipengaruhi oleh tingginya tuntutan pekerjaan, ritme kerja yang cepat, serta keterbatasan waktu untuk memenuhi kebutuhan personal maupun sosial di luar . Karakteristik pekerjaan pada pelayanan pemenuhan gizi kemungkinan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya WLB. Pekerjaan dalam pelayanan publik, khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, menuntut ketepatan waktu, tanggung jawab tinggi, serta beban kerja yang cenderung padat. Selain itu, keterbatasan tenaga kerja, sistem kerja yang kurang fleksibel, dan tekanan dalam mencapai target pelayanan dapat meningkatkan konflik antara peran pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian Mahardika et al. menyatakan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dipengaruhi oleh tuntutan organisasi, pembagian waktu kerja, dan kemampuan individu dalam mengelola peran Pada variabel kelelahan kerja, seluruh responden berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi, dengan mayoritas mengalami kelelahan kerja sangat tinggi . ,2%). Tingginya tingkat kelelahan kerja ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dijalani responden memiliki tekanan kerja yang cukup besar. Temuan ini sejalan dengan penelitian Kuncoro et al. pada perawat di ruang isolasi COVID-19 yang menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja berperan dalam memengaruhi tingkat kelelahan kerja, terutama pada lingkungan kerja dengan tekanan pelayanan yang tinggi dan tuntutan operasional yang berat. Kelelahan kerja dapat muncul akibat beban kerja berlebih, durasi kerja yang panjang, kurangnya waktu istirahat, serta tingginya tekanan operasional yang berlangsung secara terus-menerus. Selain itu, pekerjaan pelayanan yang membutuhkan konsentrasi, ketelitian, dan tanggung jawab tinggi juga dapat meningkatkan risiko kelelahan fisik maupun emosional. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan . = 0,. Meskipun demikian, secara deskriptif terlihat bahwa proporsi responden dengan kelelahan kerja sangat tinggi lebih besar pada kelompok dengan work life balance rendahAesangat rendah . ,4%) dibandingkan kelompok dengan work life balance sedang . ,0%). Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa semakin rendah work life balance, maka tingkat kelelahan kerja cenderung semakin tinggi, walaupun hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Tidak ditemukannya hubungan yang bermakna antara work life balance dan kelelahan kerja dapat dijelaskan oleh distribusi data yang kurang bervariasi. Pada penelitian ini, hampir seluruh responden memiliki tingkat kelelahan kerja yang tinggi hingga sangat tinggi sehingga terjadi ceiling effect, yaitu kondisi ketika data terkonsentrasi pada kategori tertinggi dan menyebabkan kemampuan analisis statistik dalam mendeteksi perbedaan antar kelompok menjadi terbatas. Selain itu, jumlah sampel yang relatif kecil juga dapat memengaruhi kekuatan uji statistik sehingga hubungan antar variabel tidak terdeteksi secara signifikan. Di samping itu, kelelahan kerja pada konteks pelayanan pemenuhan gizi kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain di luar work life balance, seperti beban kerja fisik, tekanan operasional, durasi kerja, sistem shift, serta keterbatasan sumber daya Faktor-faktor tersebut dapat menjadi determinan yang lebih dominan dalam memengaruhi munculnya kelelahan kerja dibandingkan keseimbangan kehidupan kerja secara individual. Temuan ini didukung oleh penelitian Santosa yang menyatakan bahwa beban kerja dan tekanan kerja merupakan faktor utama yang berhubungan dengan tingginya kelelahan kerja pada pekerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Jeriyansah et al. yang melaporkan bahwa work life balance tidak berpengaruh signifikan terhadap kelelahan kerja karena adanya faktor lain yang lebih dominan dalam memengaruhi kelelahan kerja pegawai. Namun demikian, hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Irianti dan Permana yang menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara work life balance dan kelelahan kerja, di mana semakin baik work life balance maka tingkat kelelahan kerja semakin rendah. Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja bersifat kontekstual serta dipengaruhi oleh karakteristik organisasi, jenis pekerjaan, budaya kerja, dan sistem operasional pada masing-masing tempat kerja. Hasil penelitian Christin et al. menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja memiliki pengaruh terhadap kelelahan kerja, di mana individu dengan work life balance yang lebih baik cenderung memiliki tingkat kelelahan kerja yang lebih rendah sehingga dapat mendukung kinerja yang optimal. Secara teoritis, rendahnya work life balance tetap berpotensi meningkatkan risiko kelelahan kerja. Ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan waktu pemulihan dapat memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada kelelahan fisik maupun emosional. Aktivasi stres kronis secara terus-menerus dapat mengganggu regulasi hormon stres melalui aktivasi sumbu hipotalamusAepituitariAeadrenal sehingga individu lebih rentan mengalami kelelahan . Oleh karena itu, meskipun hubungan pada penelitian ini tidak signifikan secara statistik, work life balance tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kesehatan kerja karyawan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial. Work life balance bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kelelahan kerja, sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif melalui pengelolaan beban kerja, pengaturan waktu kerja dan istirahat, penambahan sumber daya manusia, serta penciptaan lingkungan kerja yang lebih mendukung kesejahteraan karyawan. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi memiliki tingkat work life balance yang rendah hingga sangat rendah serta mengalami kelelahan kerja pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Hasil analisis bivariat menggunakan uji FisherAos Exact Test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan . = 0,. Meskipun demikian, secara deskriptif terlihat kecenderungan bahwa responden dengan work life balance rendahAesangat rendah memiliki proporsi kelelahan kerja sangat tinggi yang lebih besar dibandingkan responden dengan work life balance sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada lingkungan kerja pelayanan publik bersifat kompleks dan kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang lebih dominan. Tingginya prevalensi kelelahan kerja pada seluruh responden mengindikasikan bahwa faktor organisasi, seperti beban kerja, tekanan operasional, ritme kerja, durasi kerja, serta keterbatasan waktu pemulihan, diduga memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap terjadinya kelelahan kerja dibandingkan work life balance secara individual. Oleh karena itu, upaya pencegahan kelelahan kerja perlu dilakukan secara komprehensif melalui pengelolaan beban kerja yang proporsional, penyediaan waktu istirahat yang memadai, peningkatan dukungan organisasi, serta pelaksanaan pemantauan kesehatan kerja secara berkala. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan jumlah sampel yang lebih besar dan distribusi data yang lebih bervariasi agar kemampuan analisis statistik dalam mendeteksi hubungan antarvariabel menjadi lebih optimal. Selain itu, penelitian mendatang perlu mempertimbangkan faktor organisasi dan lingkungan kerja lainnya, seperti beban kerja, sistem kerja, durasi kerja, dan dukungan sosial kerja, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai determinan kelelahan kerja pada karyawan. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan seluruh karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang telah memberikan kerja sama dan fasilitas selama proses pengumpulan data. Selain itu, penulis mengapresiasi seluruh responden yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini tidak menerima dukungan pendanaan dari lembaga pemerintah, komersial, maupun nirlaba. Referensi