Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 1, 2025, pp. 30 Ae 36 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Efektivitas Intervensi Inovasi Terapi Kombinasi Relaksasi Autogenik dan Aromaterapi Lavender Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Husein Rajeshti1a*. Nunung Herlina1 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia huseinrajeshti@gmail. HIGHLIGHTS Relaksasi Autogenik. Aromaterapi Lavender. Kombinasi Relaksasi Autogenik dan Aromaterapi Lavender ARTICLE INFO Article history Received date Jan 04th 2025 Revised date Feb 11th 2025 Accepted date Mar 14th 2025 Keywords: Intensi. Keperawatan. Mahasiswa. Pengetahuan ABSTRACT/ABSTRAK In 2020, the American Heart Association reported 350,000 out-of-hospital cardiac arrests, with low global survival rates. Based on this, education on basic life support (BLS) for the general public is crucial, especially among student populations. This skill is essential for health students, including nursing students. Intention plays a key role in initiating BLS actions, as it reflects a person's conscious decision to perform a behavior. Individuals with strong intentions are more likely to carry out the behavior, whereas those without intention tend not to act. This study aimed to examine the relationship between the level of knowledge and the intention of undergraduate nursing students to perform basic life support at Muhammadiyah University of East Kalimantan. This research used a quantitative method with a descriptive correlational design and a crosectional approach. The sample consisted of 269 fifth- and seventhsemester undergraduate nursing students who had attended BLS training, selected through total sampling based on inclusion criteria. Bivariate analysis using the Chi-Square test showed a significant relationship between knowledge level and studentsAo intention to help . = 0. 000, p < The study concludes that the level of knowledge significantly correlates with nursing students' intention to perform basic life support. The findings emphasize that improving BLS knowledge may enhance students' readiness to act in emergencies. Copyright A 2025 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Husein Rajeshti Jurusan Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Jl. Ir. Juanda No. Sidodadi. Samarinda Ulu. Samarinda. Email: huseinrajeshti@gmail. PENDAHULUAN Henti jantung adalah kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat fatal jika tidak segera ditangani (Heidenreich et al. , 2. Menurut American Page . Heart Association . , insiden henti jantung di luar rumah sakit mencapai 350. kasus per tahun dengan angka keselamatan yang rendah. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya kemampuan masyarakat awam dalam melakukan pertolongan pertama, termasuk bantuan hidup dasar (BHD) (Astuti & Jannah, 2. Mahasiswa keperawatan sebagai calon tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk mampu memberikan BHD dalam situasi gawat darurat (Mayanlambam & Devi. Namun, studi menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan BHD mahasiswa masih belum optimal serta cenderung menurun dalam waktu singkat setelah pelatihan (Wijaya et al. , 2022. Mardegan et al. , 2. Selain pengetahuan, intensi juga berperan penting dalam perilaku menolong. Individu yang memiliki intensi kuat cenderung lebih siap melakukan pertolongan, sebaliknya intensi yang lemah menjadi penghambat tindakan (Wikamorys & Rochmach, 2017. Yasin et al. , 2. Sayangnya, riset terkait hubungan antara pengetahuan dan intensi dalam konteks mahasiswa keperawatan di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Timur, masih Hasil wawancara awal terhadap 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur menunjukkan sebagian besar mengalami penurunan pengetahuan BHD dan memiliki keraguan dalam bertindak. Fenomena ini menandakan adanya celah dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan mahasiswa dalam situasi henti jantung. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan intensi mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur dalam memberikan bantuan hidup dasar. METODOLOGI PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional (Tanzeh & Arikunto, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Keperawatan semester 5 dan 7 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur yang telah mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikat Bantuan Hidup Dasar (BHD), dengan total sebanyak 269 mahasiswa (Populasi, 2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi: mahasiswa aktif pada semester berjalan, dan . mahasiswa yang bersedia menjadi responden dengan memberikan persetujuan. Adapun kriteria eksklusi adalah mahasiswa yang tidak hadir saat pengumpulan data berlangsung. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun dalam format Google Form dan disebarkan melalui tautan daring. Untuk menjamin kualitas data dan meminimalkan bias, dilakukan beberapa langkah kontrol kualitas, antara lain: . validasi instrumen melalui uji validitas dan reliabilitas sebelumnya pada 30 mahasiswa dengan hasil nilai Cronbach's alpha > 0,7 untuk kedua variabel. petunjuk pengisian disusun secara jelas dan disertai informed consent sebelum responden mengisi . sistem dibatasi hanya satu kali pengisian per akun email mahasiswa. verifikasi data dilakukan dengan pemeriksaan duplikasi dan ketidakkonsistenan isian sebelum analisis. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis bivariat dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan intensi mahasiswa dalam memberikan bantuan hidup dasar. Taraf signifikansi ditetapkan pada = 0,05. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden . Karakteristik Jenis Kelamin Perempuan Laki Ae laki Frekuensi . Presentase (%) Page . Total Usia . Total Pengalaman Pernah Tidak Pernah Total Berdasarkan tabel 1 didapatkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 206 responden . ,6%). Usia 21 tahun yaitu sebanyak 114 orang responden . ,4%). Pengalaman Tidak Pernah sebanyak 214 responden . ,6%) dan Angkatan 2020 sebanyak 140 respinden . %). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mahasiswa S1 Keperawatan Dalam Memberikan Pertolongan Bantuan Hidup Dasar Tingkat Pengetahuan Pengetahuan Baik Pengetahuan Cukup Pengetahuan Kurang Total Frekuensi . Presentase (%) Berdasarkan tabel 2 diketahui sebagian besar responden memiliki pengetahuan terkait pertolongan bantuan hidup dasar yang kurang yaitu sebesar 119 responden dengan presentase . 2%), yang memiliki pengetahuan Baik yaitu sebesar 104 responden dengan presentase . ,7%). Sedangkan sisanya memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 46 responden dengan presentase . 1%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Intensi Mahasiswa S1 Keperawatan Dalam Memberikan Pertolongan Bantuan Hidup Dasar Intensi Menolong Intensi Tinggi Intensi Rendah Total Frekuensi . Presentase (%) Berdasarkan tabel 3 diketahui sebagian besar responden memiliki intensi menolong yang tinggi yaitu sebanyak 140 responden . %), sedangkan sisanya memiliki intensi menolong yang rendah yaitu sebanyak 8 responden . %). Tabel 4 Chi-Square Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Intensi Mahasiswa S1 Keperawatan Dalam Memberikan Pertolongan Bantuan Hidup Dasar Tingkat Pengetahuan Pengetahuan Baik Pengetahuan Cukup Pengetahuan Kurang Total Intensi Menolong Intensi Tinggi Intensi rendah Total Value Page . Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa Tingkat Pengetahuan responden pengetahuan baik dengan intensi tinggi sebanyak 77 orang . %) untuk yamg pengetahuan baik dengan intensi rendah sebanyak 27 orang . %) dengan jumlah sebanyak 104 orang . 7%). Responden dengan pengetahuan cukup dengan intensi tinggi sebanyak 13 orang . 3%) untuk yamg pengetahuan cukup dengan intensi rendah sebanyak 33 orang . 7%) dengan jumlah sebanyak 46 orang . 1%). Sedangkan untuk responden dengan pengetahuan kurang dengan intensi tinggi sebanyak 50 orang . %) untuk yamg pengetahuan kurang dengan intensi rendah sebanyak 69 orang . %) dengan jumlah sebanyak 119 orang . 2%). Berdasarkan hasil analisis data dengan uji chi squre didapatkan nilai signifikansi 0. 000, berdasarkan nilai tersebut karena nilai p < 0. 05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat di simpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan dengan Intensi mahasiswa dalam memberikan pertolongan bantuan hidup dasar. PEMBAHASAN Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden berjenis kelamin Perempuan . ,6%). Temuan ini sejalan dengan Rahmawati . yang menyatakan bahwa profesi keperawatan didominasi perempuan. Hal ini dapat dikaitkan dengan karakteristik perempuan yang identik dengan kesabaran, ketelatenan, empati, dan insting keibuan yang tinggi (Siswanto, 2. Karakteristik ini membuat perempuan lebih cenderung memiliki keinginan membantu orang lain. Namun, perbedaan dalam pola pengambilan keputusan antara laki-laki dan perempuan juga berdampak pada respon terhadap situasi Purnomo . menjelaskan bahwa perempuan lebih mempertimbangkan risiko sebelum bertindak, sedangkan laki-laki lebih impulsif, yang bisa mempengaruhi kesiapan dalam memberikan pertolongan Usia Sebagian besar responden berusia 21 tahun . ,4%), yang masuk dalam kategori remaja akhir (King, 2. Usia merupakan indikator kedewasaan dan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif dan daya tangkap seseorang dalam menyerap dan menerapkan pengetahuan (Santoso et al. , 2. Hal ini sejalan dengan pendapat Rizka . bahwa usia mahasiswa keperawatan mayoritas berada pada rentang 17Ae23 tahun, yang dianggap usia produktif dalam proses pembelajaran dan pembentukan perilaku Pengalaman Menghadapi Korban Henti Jantung Mayoritas responden . ,6%) belum memiliki pengalaman menghadapi korban henti jantung. Ketidakterpaparan secara langsung terhadap kasus riil membuat mahasiswa kurang percaya diri dalam melakukan tindakan BHD. Hal ini sesuai dengan Turangan . dan Lestari . yang menekankan bahwa pengalaman langsung merupakan faktor penting dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Tanpa pengalaman nyata, proses pembelajaran menjadi kurang kontekstual dan dapat berdampak pada rendahnya kesiapan mahasiswa saat menghadapi kondisi darurat. Gambaran Tingkat Pengetahuan Berdasarkan tabel 2 tingkat pengetahuan responden didapatkan yang paling banyak yaitu responden yang kurang sebanyak 119 responden dengan persentase . 2%). Maka dapat disimpulkan bahwa masih banyak mahasiswa yang memilki pengetahuan kurang. Berdasarkan hal ini peneliti berasumsi bahwa yang memiliki pengetahuan kurang merupakan mahasiswa angkatan 2021 dikarenakan mereka mengikuti pelatihan bantuan hidup dasar satu tahun yang lalu, sedangkan untuk mahasiswa angkatan 2020 mereka memiliki pengetahuan yang baik walaupun sudah dua tahun yang lalu mengikuti pelatihan BHD Page . dikarenakan 1 bulan yang lalu mereka mengikuti mata kuliah keperawatan gawat darurat yang berhubungan dengan BHD. Artinya pengetahuan yang dimiliki oleh angkatan 2021 tentang bantuan hidup dasar hanya dapat bertahan kurang lebih 6 bulan, hal ini di dasarkan oleh Presentase pada pengetahuan yang mana didapatkan kurangnya pengetahuan BHD dalam menghadapi korban henti Hal ini diperkuat juga dengan teori retensi Menurut Asmawati . AuRetensi adalah salah satu fase dalam tindakan belajar yang menekankan pada penyimpanan informasi baru yang diperoleh dan pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa retensi pengetahuan seseorang akan berkurang sebesar 20% setiap bulannya dari informasi yang telah diterima, jika tidak di refresh kembali (Hermanto, 2022. Custers,2. Pengetahuan juga berorientasi pada intelejensi, daya pikir dan penguasaan ilmu serta luas sempitnya wawasan yang dimiliki Dengan demikian pengetahuan merupakan akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh secara formal maupun non formal yang memberikan kontribusi pada seseorang didalam pemecahan masalah (Ana, 2. Pengetahuan tentang bantuan hidup dasar pada pasien henti jantung mengantisipasi dalam melakukan penanganan yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa keperawatan agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat bila suatu saat menghadapi pasien henti jantung. Pengetahuan yang dimiliki biasanya dapat mempengaruhi sikap dan kepedulian keluarga untuk siap dan membantu memberikan pertolongan atau menghadapi pasien henti jantung (Ana. Adapun faktor Ae faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan menurut (Notoatmodjo, 2. yaitu Pendidikan adalah proses yang mengarahkan individu terhadap perkembangan individu lain untuk keinginan tertentu. Pekerjaan adalah zona dimana seorang individu memperoleh pengalaman dan pengetahuan secara langsung maupun tidak langsung. Usia adalah tingkat kedewasaan dan kekuatan individu dalam berpikir dan bekerja. Adapun Faktor eksternalnya yaitu Lingkungan adalah keadaan di sekitar individu dan berdampak pada pertumbuhan dan perilaku individu. Sosial budaya merupakan norma dalam masyarakat yang mempengaruhi sikap dalam memperoleh informasi. Gambaran Intensi Menolong Berdasarkan tabel 3 intensi menolong responden didapatkan hasil yang paling banyak yaitu responden dengan intensi tinggi sebanyak 140 responden dengan persentase . %). Maka dapat disimpulkan bahwa banyak mahasiswa yang memilki intensi menolong yang tinggi. Berdasarkan hal ini peneliti berasumsi bahwa intensi menolong yang tinggi dapat meningkatkan seorang individu dalam memberikan pertolongan bantuan hidup dasar dikarenakan memiliki niat menolong yang tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Temala . menunjukkan sebagian besar responden memiliki intensi yang tinggi untuk memberikan pertolongan pertama pada korban lakalantas . ,2%) hal ini dipengaruhi oleh sikap dan norma subjektif yang merupakan prediktor terkuat dalam memberikan pertolongan pertama pada korban laka lantas. Hasil ini serupa dengan penelitian Sudarwati . yang menyatakan bahwa intensi seseorang dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawat daruratan juga sangat tinggi yang mana mayoritas respondennya memiliki intensi yang tinggi untuk memberikan Pertolongan, yaitu sebanyak 61,2% hal ini dipengaruhi oleh sikap dan norma subjektif yang tinggi. Penelitian Magid et al . juga mengatakan intensi melakukan RJP pada mahasiswa sebagai bystander Page . mendapatkan hasil bahwa intensi melakukan RJP pada mahasiswa sebagai bystander tinggi, yaitu 51%, hal ini dipengaruhi oleh Sikap dan norma subjektif yang merupakan prediktor terkuat terhadap tingginya intensi melakukan CPR pada Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Intensi Mahasiswa S1 Keperawatan dalam memberikan pertolongan pertama bantuan hidup dasar di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan intensi . =0,. Artinya, pengetahuan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tinggi rendahnya intensi seseorang dalam memberikan bantuan hidup dasar. Penelitian ini memperkuat temuan Salsabila . dan Kusumaningtyas . bahwa pengetahuan memiliki hubungan positif terhadap intensi. Namun demikian, masih ditemukan 26% responden dengan pengetahuan baik tetapi intensi rendah. Fenomena ini perlu dikritisi, karena menunjukkan bahwa pengetahuan semata tidak cukup untuk mendorong tindakan. Peneliti menduga bahwa faktor psikologis seperti rasa takut, cemas, dan khawatir menjadi penghambat utama. Ketakutan akan memperburuk kondisi korban, kekhawatiran melakukan kesalahan, serta ketidaktahuan tentang tanggung jawab hukum menjadi faktor penghambat yang signifikan (Utariningsih. Ana, 2023. Syarifudin, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan BHD perlu tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga membangun kesiapan mental dan keberanian bertindak. Pelatihan simulasi, praktik lapangan, dan integrasi pendekatan psikologis harus dimasukkan dalam kurikulum untuk membentuk kesiapan holistik mahasiswa. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa S1 Keperawatan memiliki pengetahuan yang kurang mengenai bantuan hidup dasar . ,2%), meskipun intensi menolong tergolong tinggi . %). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan intensi menolong . = 0,. , namun masih ditemukan mahasiswa dengan pengetahuan baik tetapi intensi rendah. Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti rasa takut, kurang percaya diri, dan kekhawatiran membuat kesalahan saat menolong. Berdasarkan temuan tersebut, institusi pendidikan disarankan untuk mengintegrasikan pelatihan BHD berbasis simulasi ke dalam kurikulum secara berkala, serta memperkuat aspek psikologis dalam pelatihan guna membentuk keberanian Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel psikologis dan menggunakan desain longitudinal agar dapat mengevaluasi perubahan pengetahuan dan intensi dari waktu ke waktu. DAFTAR PUSTAKA