Vol. 2 No. 6 Desember 2025 P-ISSN : 3047-3845 E-ISSN : 3047-3225. Hal 61 Ae 69 JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jeber Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/wpj3et98 PERAN GURU PKWU DI SMK MAAoARIF NU KAJEN PEKALONGAN DALAM MEMBANGUN KREATIVITAS DAN PRODUKSI PRODUK INOVATIF Taufiqoh Khasanaha*. Finta Nur Febriana b. Nadzifah AAoisyah Fauzi c. Hikma Fitriani d. Ferida Rahmawati e a Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. khasanah24070@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan b Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. febriana24045@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan c Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. fauzi24046@mhs. Universitas Islam Negeri Abdurrahman Wahid Pekalongan d Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. fitriani24080@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan eFakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. rahmawati@uingusdur. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan *Penulis Korespondensi: Taufiqoh Khasanah ABSTRACT Teachers of Entrepreneurship Education (PKWU) at SMK Maarif NU Kajen play a vital role in nurturing student creativity and driving the development of innovative products. This qualitative descriptive study explores how PKWU teachers support students in cultivating creativity and producing innovative work. The research identifies three principal roles of teachers: facilitators who use project-based learning and business simulations. mentors who provide academic guidance and emotional encouragement to boost confidence and resilience. and evaluators who assess studentsAo theoretical knowledge, attitudes, and innovative product outcomes. Key challenges include low student motivation, imbalance between theoretical instruction and practical activities, and insufficient development of soft skills. To overcome these issues, teachers implement strategies such as Project-Based Learning (PBL), integrate digital technologies, and offer continuous mentoring. The findings conclude that successful entrepreneurship education depends largely on teachersAo ability to effectively blend theory with practice, foster a stimulating and enjoyable learning environment, and develop studentsAo entrepreneurial mindset. This prepares students to become independent, creative, and competitive in the workforce. Keywords: Entrepreneurship Teacher. Creativity. Innovative Product. Project-Based Learning Abstrak Guru Pendidikan Kewirausahaan (PKWU) di SMK Maarif NU Kajen memiliki peran penting dalam mengembangkan kreativitas siswa dan mendorong lahirnya produk inovatif. Penelitian deskriptif kualitatif ini mengkaji bagaimana guru PKWU mendukung siswa dalam menumbuhkan kreativitas dan menghasilkan karya inovatif. Hasil penelitian menunjukkan tiga peran utama guru, yaitu sebagai fasilitator yang menerapkan pembelajaran berbasis proyek dan simulasi bisnis. mentor yang memberikan bimbingan akademik serta motivasi emosional untuk meningkatkan kepercayaan diri dan ketangguhan siswa. evaluator yang menilai pemahaman teori, sikap, dan hasil produk inovatif siswa. Tantangan yang ditemukan mencakup rendahnya motivasi siswa, ketidakseimbangan antara teori dan praktik, serta kurangnya soft skills. Untuk mengatasinya, guru menggunakan strategi Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL), memanfaatkan teknologi digital, dan memberikan pendampingan berkelanjutan. Kesimpulannya. Naskah Masuk 19 November 2025. Revisi 20 November 2025. Diterima 21 November 2025. Tersedia 27 November, 2025 Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 keberhasilan pendidikan kewirausahaan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengintegrasikan teori dan praktik dengan baik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta menumbuhkan karakter kewirausahaan siswa sehingga mereka siap menjadi mandiri, kreatif, dan kompetitif di dunia kerja. Kata Kunci: Guru Kewirausahaan. Kreativitas. Produk Inovatif. Pembelajaran Berbasis Proyek PENDAHULUAN Pengembangan sikap kemandirian dan daya saing merupakan aspek penting dalam pendidikan kewirausahaan, yang diharapkan dapat memberikan nilai lebih bagi pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Idealnya, sekolah menjadi wadah pendidikan yang mampu membentuk lulusan dengan mental dan keterampilan untuk bekerja secara mandiri sesuai dengan kompetensi yang diperoleh selama masa belajar . Pendidikan Kewirausahaan (PKWU) menjadi salah satu mata pelajaran strategis di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), karena bertujuan membentuk peserta didik agar memiliki sikap kreatif, produktif, dan mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi. Di era perkembangan teknologi dan persaingan pasar yang semakin kompetitif, tuntutan terhadap lulusan SMK tidak hanya sebatas menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan produk inovatif yang mampu Guru PKWU memiliki peran sentral dalam proses ini, yaitu sebagai fasilitator, pembimbing, dan motivator yang mendorong siswa untuk menggali potensi dan mengembangkan ide-ide kreatif melalui pembelajaran berbasis praktik dan proyek. SMK MaAoarif NU Kajen sebagai lembaga pendidikan vokasional berbasis keagamaan dan kultural berupaya menerapkan pembelajaran PKWU yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter kewirausahaan peserta didik. Pendidikan yang menanamkan karakter adalah suatu proses pembelajaran yang bertujuan membantu peserta didik memahami, menunjukkan kepedulian, serta berperilaku sesuai dengan nilai-nilai etika . Peserta didik mampu membedakan mana yang benar, sangat menghargai kebenaran tersebut, dan berani bertindak sesuai dengan keyakinannya, meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan maupun godaan dari dalam diri . Melalui berbagai kegiatan pembuatan produk, pelatihan, dan pendampingan usaha siswa, guru PKWU diharapkan mampu menumbuhkan keberanian siswa untuk berkreasi dan berinovasi sesuai dengan kebutuhan pasar lokal maupun global. Namun, efektivitas peran guru dalam membangun kreativitas dan produksi produk inovatif perlu dianalisis secara mendalam untuk melihat sejauh mana pembelajaran tersebut dapat berjalan sesuai tujuan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen dalam mengembangkan kreativitas siswa serta mendorong hasil karya inovatif. Studi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan model pembelajaran PKWU yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja serta dinamika perkembangan zaman. TINJAUAN PUSTAKA Landasan Konseptual Pendidikan Kewirausahaan di SMK Pendidikan Kewirausahaan (PKWU) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berfungsi sebagai instrumen vital untuk menginkorporasikan nilai-nilai kewirausahaan ke dalam ranah akademik. Pendidikan ini sangat penting dalam membentuk pola pikir, karakter, serta kemampuan berbisnis di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat . Dengan tujuan melahirkan individu yang mandiri, kreatif, adaptif dalam melihat peluang, serta berorientasi pada inovasi, pendidikan kewirausahaan selaras dengan prinsip edupreneurship yang menekankan pengembangan keunggulan dan inovasi melalui studi kasus aplikatif . Berlandaskan prinsip-prinsip edupreneurship, pendidikan dapat dirancang agar lebih sesuai dengan kebutuhan zaman, mendorong inovasi, dan memberdayakan peserta didik untuk dapat mengatasi berbagai tantangan sekaligus menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan tidak hanya membentuk individu yang siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga mencetak pengusaha yang mampu membuka peluang kerja baru. Sebagai bagian dari implementasi tujuan tersebut. Permendikbud No. 59 Tahun 2014 Pasal 5 ayat . menyatakan bahwa mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan termasuk dalam kelompok mata pelajaran umum . elompok B) yang wajib diajarkan pada jenjang SMA/MA. Mata pelajaran ini dirancang untuk mengembangkan keterampilan yang berbasis seni dan teknologi sekaligus melatih kecakapan hidup secara ekonomis. Dengan demikian, fokus utama PKWU adalah mempersiapkan peserta didik agar dapat menggabungkan kreativitas dengan pengetahuan praktis dan nilai-nilai Selain mengajarkan keterampilan praktis. PKWU juga menanamkan nilai-nilai ekonomi. JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Vol. No. Desember 2025, pp. 61 - 69 Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 budaya lokal, dan teknologi, sehingga peserta didik diberi peluang untuk mengenali serta memanfaatkan potensi lingkungan sekitar dalam menghasilkan produk yang inovatif dan memiliki nilai jual . Hal ini memperkuat pondasi PKWU sebagai amanat undang-undang pendidikan nasional yang mewajibkan pengembangan potensi peserta didik, termasuk penanaman karakter kemandirian. Keberhasilan program PKWU sangat bergantung pada internalisasi karakteristik wirausaha yang mencakup disiplin, etos kerja tinggi, kreativitas, dan inisiatif. Sifat-sifat ini diakui sebagai kompetensi esensial bagi lulusan kejuruan untuk sukses di dunia industri dan bisnis. Oleh karena itu, kurikulum PKWU harus menekankan keseimbangan antara teori dan praktik, serta memastikan integrasi pengembangan soft skills menjadi prioritas. 2 Peran Kunci Guru PKWU dalam Penciptaan Kelas Inovatif Dalam konteks tersebut, peran guru PKWU menjadi sangat strategis dan meluas tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan arsitek lingkungan belajar yang inovatif di SMK. Guru berperan utama dalam mengatasi tantangan instruksional, misalnya rendahnya minat siswa terhadap materi yang bersifat teoritis, sehingga dibutuhkan pendekatan yang dapat menghidupkan suasana belajar Salah satu strategi yang efektif adalah metode "Make Learning Fun" yang berfokus pada penciptaan suasana belajar dinamis dan menarik agar siswa tidak mudah merasa jenuh dan lebih aktif berpartisipasi. Suasana seperti ini menjadi pijakan dasar bagi tumbuhnya kreativitas dan semangat berwirausaha di kalangan siswa. Selain mengelola suasana kelas, guru juga memegang peran sebagai fasilitator dan pembimbing dengan dua pendekatan utama. Pertama, mendorong pembelajaran berbasis tindakan (ActionBased Learnin. yang mengarahkan siswa pada pengalaman praktik autentik, seperti penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning - PBL). Dalam pendekatan ini, siswa dihadapkan pada permasalahan kompleks yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan kritis untuk Kedua, guru dapat memanfaatkan sumber daya digital yang meliputi teknologi dan media interaktif misalnya simulasi, e-learning, dan konten visual untuk menyederhanakan materi yang kompleks menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Langkah ini terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, guru PKWU tidak sekadar menyampaikan teori kewirausahaan, melainkan menjembatani antara konsep teoretis dan kebutuhan praktis dunia usaha. Peran ini memastikan siswa mendapatkan pemahaman yang komprehensif sekaligus kapasitas untuk menghasilkan produk inovatif yang dapat bersaing di pasar. 3 Pendorong Kreativitas dan Kuantitas Produk Inovatif Selanjutnya, kreativitas dan kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah menjadi indikator utama keberhasilan program PKWU. Kemampuan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dari stimulasi lingkungan yang kondusif, bimbingan yang konsisten, dan praktik yang terstruktur. Kreativitas berperan sebagai katalis inovasi, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan baru dan pendekatan segar untuk menyelesaikan masalah di tengah peluang yang ada . Dalam konteks PKWU, kreativitas harus diwujudkan secara nyata dalam pengembangan produk dan jasa yang dihasilkan siswa. Data menunjukkan bahwa untuk mengoptimalkan kreativitas, siswa perlu menyeimbangkan literasi digital mereka dengan kemampuan kolaborasi dan partisipasi aktif. Selain kreativitas, realisasi produk inovatif yang dihasilkan siswa SMK memperlihatkan pengembangan kompetensi kewirausahaan dalam tiga dimensi: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimensi kognitif mengukur pemahaman konsep kewirausahaan secara teori, dimensi afektif menilai sikap dan motivasi seperti keyakinan diri dan semangat berwirausaha, sedangkan dimensi psikomotorik menitikberatkan pada keterampilan praktis dalam pembuatan produk bernilai jual dan pelaksanaan proses bisnis sederhana. Ketiga dimensi ini harus terintegrasi untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga berkapasitas bertindak sebagai wirausahawan muda yang mandiri dan kreatif . Dengan pola pembelajaran yang terpadu antara stimulasi lingkungan, bimbingan berkelanjutan, dan praktik terstruktur, siswa SMK dapat menghasilkan produk-produk inovatif yang memiliki nilai jual serta relevan dengan kebutuhan pasar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan kreativitas dan keterampilan produksi yang didukung oleh literasi digital, kolaborasi, dan partisipasi aktif sangat krusial untuk Peran Guru PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen Pekalongan dalam Membangun Kreativitas dan Produksi Produk Inovatif (Taufiqoh Khasana. Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 keberhasilan PKWU. Oleh karena itu. PKWU tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menyiapkan generasi muda yang siap berkompetisi dan berkontribusi nyata di dunia bisnis secara berkelanjutan. METODOLOGI PENELITIAN 1 Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sifat deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam serta menyeluruh tentang persepsi, pengalaman, dan pandangan subjektif dari narasumber terkait peranan guru PKWU dalam meningkatkan kreativitas dan menghasilkan produk inovatif. Metode deskriptif sendiri bertujuan menyajikan gambaran, penjelasan, dan interpretasi mendalam terhadap fenomena yang tidak bisa diukur secara statistik. 2 Tempat dan Fokus Penelitian Penelitian dilakukan di SMK MaAoarif NU Kajen, yang berlokasi di Jl. Pahlawan. Rowolaku. Kecamatan Kajen. Kabupaten Pekalongan. Jawa Tengah. Tempat ini dipilih sebagai lokasi langsung untuk mengamati aktivitas guru PKWU dan proses pembelajaran vokasi yang berlangsung. Target utama penelitian adalah peran guru PKWU dalam membangun kreativitas dan inovasi produk peserta didik. Pemilihan narasumber dilakukan secara purposive, yaitu menunjuk individu yang relevan dan memiliki pengetahuan yang kredibel terkait tema ini. Narasumber terdiri dari guru PKWU dan sejumlah siswa aktif yang terlibat dalam kegiatan belajar serta pembuatan produk inovatif. 3 Sumber Data. Teknik Pengumpulan Data, dan Instrumen Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan untuk menggali pandangan dan pengalaman subjektif narasumber yaitu dengan Guru PKWU SMK MaAoarif NU Kajen Pekalongan, dengan menggunakan panduan wawancara semi-terstruktur. Observasi bertujuan mengamati secara langsung peran guru dan proses pengembangan kreativitas serta praktik produksi produk dalam kelas, menggunakan lembar observasi sebagai instrumen pendukung. Data sekunder dikumpulkan lewat dokumentasi dan studi pustaka. Dokumentasi berupa dokumen kegiatan, foto-foto, kurikulum, dan hasil produk inovatif siswa yang relevan dengan tema penelitian. Sedangkan studi pustaka jurnal dan literatur terpercaya untuk memperkuat sekaligus memberikan landasan teoritis yang memadai bagi penelitian ini. 4 Tahapan dan Pengolahan Data Proses analisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, pendekatan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan deskripsi komprehensif terkait peran guru PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen dalam meningkatkan kreativitas serta inovasi produk peserta didik. Strategi ini diharapkan mampu memperoleh data yang akurat dan mendalam, serta mendukungpenyajian hasil penelitian yang relevan dengan karakteristik pendidikan kejuruandi SMK MaAoarif NU Kajen. yang melibatkan tiga tahapan utama: Reduksi Data (Data Reductio. : Mengidentifikasi, memilih, dan menyederhanakan data penting dari wawancara dan catatan lapangan. Data yang tidak relevan dengan fokus penelitian . eran guru, kreativitas, dan inovas. akan dieliminasi. Penyajian Data (Data Displa. : Menata hasil reduksi data ke dalam narasi agar mudah dipahami dan Pengambilan Kesimpulan (Conclusion Drawing/Verificatio. : Menarik kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah dan melakukan verifikasi terhadap keabsahan data. Penggunaan triangulasi sumber membantu memastikan keakuratan dan kedalaman hasil, yaitu dengan membandingkan data dari berbagai narasumber dan metode pengumpulan, sehingga gambaran mengenai peran guru PKWU dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi peserta didik menjadi lebih lengkap dan HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Peran Guru dalam Pendidikan Kewirausahaan Guru sebagai Fasilitator Guru berperan sebagai fasilitator dengan menyediakan pembelajaran praktik, seperti project-based learning dan simulasi bisnis kecil . Pembelajaran ini mengandung nilai-nilai kewirausahaan seperti kemandirian. JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Vol. No. Desember 2025, pp. 61 - 69 Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 kreativitas, keberanian risiko, kepemimpinan, ketekunan, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kolaborasi, dan keterampilan komunikasi . Di SMK Maarif NU Kajen, guru mengajarkan proses kewirausahaan mulai dari perencanaan produksi, pengelolaan biaya, pembuatan prototipe, pemasaran, hingga analisis SWOT. Guru menyediakan bahan baku dan mengawasi proses produksi, misalnya pembuatan sabun inovatif oleh siswa. Suasana belajar yang nyaman dan penggunaan teknologi seperti Google Classroom membantu siswa aktif berpartisipasi dan memahami siklus kewirausahaan secara menyeluruh. Guru sebagai Mentor Guru membimbing secara akademik dan emosional, membantu siswa mengatasi rasa kurang percaya diri saat membuat dan menjual produk. Guru memberikan pengalaman nyata melalui cerita alumni dan praktik di industri, mengajarkan keterampilan sosial, serta mendorong keberanian dan ketekunan menghadapi tantangan berwirausaha. Motivasi dan pelatihan dari guru meningkatkan karakter dan semangat kewirausahaan siswa sehingga mereka siap berbisnis . Guru sebagai Evaluator Guru melakukan evaluasi untuk memastikan pembelajaran tidak hanya teori, tapi juga mengembangkan kompetensi dan karakter kewirausahaan siswa. Evaluasi mencakup penilaian pemahaman materi, sikap, dan hasil produk inovatif. Model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. digunakan untuk menilai konteks, sumber daya, proses belajar, dan produk yang dihasilkan. Evaluasi juga mengidentifikasi kebutuhan pelatihan guru agar meningkatkan mutu pembelajaran dan capaian belajar . Tantangan dan Hambatan Guru Dalam pembelajaran pendidikan kewirausahaan (PKWU) di SMK MaAoarif NU Kajen, peranan penting diberikan untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan kemandirian siswa agar mereka siap memasuki dunia kerja atau membuka usaha sendiri. Meski demikian, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru PKWU, terdapat sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam proses pembelajarannya. Rendahnya Fokus dan Motivasi Belajar Siswa Menjadi Hambatan Utama Hambatan utama adalah kurangnya fokus dan semangat belajar siswa terutama terhadap materi teori yang dirasa monoton dan minim praktik langsung. Temuan ini juga didukung oleh penelitian Amelinda Anggraeni Putri dan tim . yang dipublikasikan dalam Jurnal Citra Pendidikan Anak. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat fokus belajar siswa pada pembelajaran PKn di SDN Sananwetan 02 dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu motivasi belajar yang kurang, minat siswa yang rendah, serta variasi gaya belajar yang berbeda-beda. Selain itu, faktor eksternal seperti kondisi kelas yang tidak mendukung, kurangnya variasi dalam metode pengajaran, serta manajemen kelas yang kurang efektif turut berkontribusi terhadap rendahnya konsentrasi belajar siswa . Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual, serta berbasis proyek agar siswa lebih aktif dan Ketidakseimbangan antara Pembelajaran Teori dan Praktik Pelajaran PKWU di SMK MaAoarif Nu Kajen terdiri dari teori di kelas dan praktik di bengkel dengan durasi praktik lebih dominan. Penelitian Madel Berta Bue dkk. menunjukkan bahwa ketidakseimbangan antara teori dan praktik negatif bagi hasil belajar siswa . Terlalu banyak teori membuat siswa paham konsep tapi kesulitan praktik, juga menurunkan motivasi dan kepercayaan diri. Hasil ini menegaskan pentingnya keseimbangan teori dan praktik agar siswa dapat mengembangkan keterampilan dan pengalaman nyata dalam kewirausahaan. Pembelajaran Daring Saat PKL Kurang Efektif Selama PKL, pembelajaran dilakukan daring melalui Google Classroom yang kurang efektif karena minim interaksi dan pengawasan langsung. Kondisi ini menyulitkan pengembangan keterampilan praktik kewirausahaan siswa. Diperlukan model pembelajaran daring yang lebih interaktif dan berorientasi pengalaman praktis. Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Hikmat dan rekan-rekannya . yang berjudul AuEfektivitas Pembelajaran Daring Selama Masa Pandemi Covid-19: Sebuah Survey OnlineAy . Mereka menyatakan bahwa pembelajaran online efektif untuk materi yang bersifat teoritis atau dengan sedikit praktik, tapi kurang efektif untuk materi yang memerlukan praktik dan aktivitas lapangan. Interaksi langsung yang minim antara guru dan siswa menyebabkan suasana belajar kurang aktif, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran menjadi Peran Guru PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen Pekalongan dalam Membangun Kreativitas dan Produksi Produk Inovatif (Taufiqoh Khasana. Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 Keterampilan Soft Skills Siswa Kurang Dikuasai Siswa kurang menguasai keterampilan sosial seperti komunikasi, percaya diri, dan kerja sama yang penting dalam kewirausahaan. Guru menganggap soft skills kurang dikembangkan karena fokus lebih pada hard skills teknis. Pembelajaran berbasis proyek diharapkan dapat melatih soft skills melalui kolaborasi Praktik produksi masih terbatas dan tidak konsisten Pembelajaran kewirausahaan masih fokus pada produksi tahap awal dan terbatas pada produk sederhana . isal sabun cai. Produk hanya didistribusikan di sekolah tanpa pemasaran yang luas. Hal ini menunjukkan kurangnya pemahaman pada aspek pemasaran dan pengelolaan usaha. Integrasi strategi pemasaran digital sangat dibutuhkan agar siswa memiliki kompetensi kewirausahaan yang lebih Menurut Gifari dan kawan-kawan . , strategi pemasaran digital memegang peran penting dalam mencapai keberhasilan wirausaha di era digital . Mereka menjelaskan bahwa penggunaan teknologi digital, seperti media sosial, optimasi mesin pencari (SEO), dan pemasaran berbasis konten, mampu memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan daya saing bisnis. Penelitian tersebut juga menyebutkan banyak pelaku usaha mengalami kendala karena masih terpusat pada produksi tanpa didukung strategi pemasaran digital yang efektif. Kondisi ini menyebabkan produk yang dihasilkan sulit dikenal luas dan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan pasar yang kian modern. Hambatan internal lebih dominan dibanding eksternal Menurut Najmah et al. , tantangan pokok dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan justru muncul dari faktor internal, seperti keterbatasan modal, kurangnya pengalaman manajerial, serta kesulitan mengatur waktu antara kegiatan akademik dan operasional bisnis . Guru menyatakan hambatan utama berasal dari faktor internal pembelajaran seperti metode pengajaran, kesiapan siswa, dan frekuensi praktik, bukan dari faktor eksternal keluarga atau lingkungan. Kesulitan dalam manajemen bisnis dan penguasaan keterampilan kewirausahaan menjadi hambatan utama. Strategi Guru dalam Membangun Kreativitas dan Produk Inovatif Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek Metode pembelajaran proyek memungkinkan siswa menangani masalah-masalah sehari-hari secara personal maupun kolektif dalam komunitas . Guru mengajak siswa langsung terlibat dalam kegiatan konkret, seperti praktik produksi, kunjungan industri, dan market day. Partisipasi aktif ini meningkatkan antusiasme dan kreativitas siswa dalam menghasilkan produk inovatif. Di SMK Maarif, pembelajaran PKWU menerapkan proyek nyata, misalnya perencanaan produksi dan pembuatan sabun secara langsung oleh siswa. Temuan ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa keterlibatan nyata dalam proyek mendorong pembelajaran bermakna dan inovasi kreatif. Pemanfaatan Teknologi Digital Teknologi digital dalam pendidikan meliputi penggunaan alat elektronik, jaringan, aplikasi, dan platform untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar . Penggunaan teknologi dapat meningkatkan motivasi siswa sampai 30% dibandingkan metode tradisional. Fitur visual dan interaktif membuat siswa lebih tertarik dan aktif berpartisipasi . Di SMK MaAoarif, guru memanfaatkan teknologi seperti Google Classroom untuk menyebarkan materi dan latihan soal secara digital. Hal ini mempermudah akses dan interaksi, serta mendukung praktik kewirausahaan secara efektif. Membangun Jiwa Kewirausahaan melalui Pendampingan dan Motivasi Peran guru tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menjadi motivator, fasilitator, dan evaluator yang menanamkan sikap disiplin, semangat, inovasi, dan komunikasi efektif. Wawancara di SMK Maarif menunjukkan guru membangun semangat siswa lewat kisah sukses kakak tingkat dan menekankan pentingnya modal serta keterampilan dalam berwirausaha . Pendekatan ini melatih keterampilan kritis, kreativitas, kepemimpinan, dan kerja sama. Nilai tanggung jawab, integritas, dan ketekunan juga ditanamkan, yang esensial untuk sukses di berbagai bidang. Mengingat lulusan SMK merupakan kelompok pencari kerja terbesar di Indonesia, strategi ini penting untuk menurunkan tingkat pengangguran dengan meningkatkan minat berwirausaha. Evaluasi Berbasis Kompetensi dan Hasil Produk Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan terhadap pemahaman teori, sikap, dan produk siswa. Penilaian bertujuan memberikan nilai tambah pedagogis dengan mendukung kelancaran pembelajaran dan JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Vol. No. Desember 2025, pp. 61 - 69 Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 meningkatkan mutu. Di SMK Maarif, evaluasi mencakup laporan biaya produksi, analisis SWOT, dan produk akhir seperti souvenir. Hasil evaluasi ini menjadi acuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran dan kompetensi siswa dalam inovasi produk. Suasana Pembelajaran yang Interaktif dan Tidak Tegang Penggunaan media interaktif seperti video dan presentasi membantu komunikasi visual yang menarik tanpa bergantung pada kata-kata saja. Pendekatan ini meningkatkan semangat dan konsentrasi siswa, memudahkan pemahaman, dan mendorong keterlibatan aktif . Strategi pengajaran yang menyenangkan menciptakan suasana belajar positif dan efektif, mempererat hubungan guru-siswa, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Suasana tanpa tekanan mendukung komunikasi dua arah dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran kewirausahaan. 1 Pembahasan Berdasarkan temuan di SMK MaAoarif NU Kajen, guru PKWU memiliki peran penting sebagai fasilitator, mentor, dan evaluator dalam mengembangkan kreativitas dan produk inovatif siswa. Sebagai fasilitator, guru menyediakan praktik nyata melalui project-based learning dan simulasi bisnis, serta membimbing siswa dalam perencanaan produksi dan pemasaran produk inovatif seperti sabun cair. Sebagai mentor, guru memberikan bimbingan akademik dan emosional untuk meningkatkan kepercayaan diri serta semangat usaha siswa melalui pengalaman nyata dari alumni dan praktik kerja lapangan. Dalam fungsi evaluator, guru menilai teori, sikap, dan produk siswa menggunakan model CIPP, untuk mengevaluasi keefektifan pembelajaran dari berbagai aspek dan membantu meningkatkan mutu pembelajaran serta kualitas produk inovatif. Tantangan pembelajaran yang ditemukan meliputi rendahnya motivasi siswa, ketidakseimbangan antara teori dan praktik, serta keterbatasan soft skills yang menghambat pencapaian hasil optimal. Pembatasan pada praktik pemasaran produk juga mengindikasikan pendekatan pembelajaran yang belum menyeluruh. Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru di SMK MaAoarif NU Kajen mengadopsi strategi pembelajaran inovatif, seperti metode berbasis proyek yang meningkatkan partisipasi dan kreativitas siswa. Teknologi digital dimanfaatkan untuk memotivasi siswa dan mempermudah akses materi, serta pendampingan intensif yang menguatkan jiwa kewirausahaan guna internalisasi nilai disiplin, tanggung jawab, dan ketekunan. Suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan mampu meningkatkan keterlibatan dan kemampuan berpikir kritis siswa. Media pembelajaran interaktif memfasilitasi komunikasi dua arah sehingga siswa tetap termotivasi tanpa tekanan berlebihan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan kewirausahaan di SMK MaAoarif NU Kajen sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengintegrasikan teori dan praktik secara seimbang, menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta memberikan pendampingan intensif. Hambatan, terutama terkait motivasi dan pengembangan soft skills, dapat diatasi dengan metode pembelajaran berbasis proyek dan pemanfaatan teknologi digital yang inovatif. Peran guru di sini tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembentuk karakter dan penggerak kreativitas yang berkontribusi pada kesiapan siswa menghadapi dunia usaha. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen memiliki kontribusi besar dalam mengembangkan kreativitas dan menghasilkan produk inovatif pada peserta didik. Peran guru tampak dalam tiga fungsi utama, yaitu sebagai fasilitator, mentor, dan evaluator. Sebagai fasilitator, guru berperan aktif dalam menciptakan pembelajaran berbasis proyek dan praktik kewirausahaan yang menumbuhkan sikap mandiri, kreatif, serta berani berinovasi. Sebagai mentor, guru memberikan bimbingan akademik dan motivasi emosional yang membantu siswa mengatasi rasa tidak percaya diri dan mendorong mereka untuk berani mencoba ide-ide baru. Sedangkan sebagai evaluator, guru menilai proses dan hasil pembelajaran siswa secara menyeluruh agar tercapai kompetensi kewirausahaan yang diharapkan. Adapun tantangan yang dihadapi guru dalam pembelajaran PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen meliputi rendahnya motivasi belajar siswa, ketidakseimbangan antara teori dan praktik, serta masih lemahnya penguasaan soft skills seperti komunikasi dan kepercayaan diri. Selain itu, praktik produksi dan pemasaran Peran Guru PKWU di SMK MaAoarif NU Kajen Pekalongan dalam Membangun Kreativitas dan Produksi Produk Inovatif (Taufiqoh Khasana. Taufiqoh Khasanah dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 61 Ae 69 produk masih terbatas sehingga belum sepenuhnya mencerminkan pengalaman bisnis nyata. Meskipun demikian, guru berupaya mengatasi hambatan tersebut melalui penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan teknologi digital, serta pendampingan berkelanjutan untuk menumbuhkan semangat Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan kewirausahaan di SMK MaAoarif NU Kajen sangat bergantung pada kemampuan guru PKWU dalam mengintegrasikan teori dan praktik secara seimbang, menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan, serta menumbuhkan karakter kewirausahaan pada diri siswa. Peran strategis guru tersebut diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan peluang usaha baru yang berdaya saing dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Sebagai saran, guru PKWU dianjurkan untuk memperkuat kolaborasi dengan dunia industri dan pelaku usaha guna memperluas kesempatan praktik langsung dan pemasaran produk siswa. Selain itu, pengembangan pelatihan soft skills secara intensif perlu mendapat perhatian agar siswa lebih percaya diri dan kompeten dalam menghadapi tantangan kewirausahaan masa depan. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis yang signifikan dengan menyediakan bukti empiris mengenai efektivitas peran guru dalam mengelola pembelajaran kewirausahaan secara terpadu. Hasil temuan dapat menjadi acuan bagi pengembangan model pembelajaran PKWU yang lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan siswa serta dinamika dunia usaha nyata. DAFTAR PUSTAKA