Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Analysis of The Financial Feasibility of Cocoa Farming in North Luwu District. South Sulawesi Province Eka Triana Yuniarsih. Sunanto, dan Wardah Halil Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 17,5 Makassar e-mail: ekatriana. yuniarsih@yahoo. Received: 2 Maret 2021. Accepted: 7 Mei 2021. Published: 25 Juni 2021 ABSTRAK Prospek harga dan peluang pasar, kelayakan dan stabilitas usaha perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pengelolaan perkebunan kakao. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usahatani kakao dan biaya jasa yang diterima petani sebagai pertimbangan untuk keberlanjutan usahatani kakao. Penelitian dilakukan di areal sentra produksi kakao yaitu di Desa Tamboke. Kecamatan Suka Maju. Kabupaten Luwu Utara. Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling yaitu sebanyak 40 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis anggaran parsial dengan parameter B/C dan R/C ratio, analisis kemanfaatan dan sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kakao di Kab. Luwu Utara layak secara finansial dalam hal keuntungan usahatani, biaya jasa yang diterima oleh petani dan manfaat yang diperoleh melalui skenario perubahan baik melalui peningkatan biaya output atau penurunan harga kakao. Namun petani belum memanfaatkan usahataninya secara optimal, terutama dalam budidaya dan pengolahan biji kakao, sehingga akan menghasilkan nilai tambah bagi usahatani kakao. Kata Kunci: Kelayakan, finansial, kakao ABSTRACT Price prospects and market opportunities, business feasibility and stability need to be considered in planning and managing cocoa plantations. This study aims to analyze the financial feasibility of cocoa farming and the service fees received by farmers as a consideration for the sustainability of cocoa farming. The research was conducted in the cocoa production center area, namely in Tamboke Village. Suka Maju District. North Luwu Regency. South Sulawesi Province. Sampling was done by purposive sampling technique, namely as many as 40 respondents. The data analysis used is a partial budget analysis with the parameters B / C and R / C ratio, employee benefit and sensitivity analysis. The results showed that cocoa farming in the district. North Luwu is financially viable in terms of farm profits, service costs received by farmers and benefits obtained through changing scenarios either through an increase in output costs or a decrease in cocoa prices. However, farmers have notused their farming optimally, especially in the cultivation and processing of cocoa beans, so that it will produce added value for cocoa farming. Keywords: Feasibility, finance, cocoa Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. PENDAHULUAN Kakao (Theobroma caca. merupakan komoditas perkebunan penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulse. , lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu keluarga petani dan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Arsyad et al. , 2. , selain itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri (Rifin dan Nurdiyani. Daerah sentra produksi kakao di Indonesia salah satu diantaranya adalah Sulawesi Selatan. Pengembangan kakao di Sulawesi telah berlangsung lama yaitu sejak tahun 1980-an. Luas areal perkebunan kakao di Sulsel berkisar 240. hektar dimana 87,4% dikelola oleh rakyat, 6,0% Perkebunan Besar Negara, 6,7% perkebunan besar swasta (BPS, 2. Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra produksi kakao nasional dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemerosotan yang signifikan, sebesar 24,46% (BPS, 2. Nilai ekspor kakao yang turun di Sulawesi Selatan sangat erat kaitannya dengan penurunan produktivitas tanaman kakao. Perubahan iklim yang tidak menentu menimbulkan permasalahan diantaranya yang paling krusial yakni serangan hama Vascular Streak Dieback (VSD) dan Penggerek Biji Kakao (PBK). Rendahnya mutu biji kakao yang ditunjukkan dengan kualitas biji kakao berdampak pada harga jual. Masalah lain adalah permasalahan yang dialami petani sendiri seperti kurangnya pengetahuan tentang budidaya kakao terutama dalam penanggulangan hama penyakit pada kakao, perilaku petani yang tidak fokus dalam berusahatani kakao karena petani memiliki mata pencaharian lain sehingga tanaman kakao terbengkalai, dan modal petani yang rendah terutama dalam pembiayaan saprodi dan terbatasnya suplai sarana produksi (Purwaningsih, et al, 2. Rendahnya produktivitas kakao di beberapa sentra produksi kakao juga banyak disebabkan oleh kondisi perawatan dan pemeliharaan kebun. Banyak tanaman yang diusahakan petani kondisinya tidak terawat dan tidak produktif karena sudah berumur tua, di atas 25 tahun (Rubiyo dan Siswanto, 2. Sebagian besar lahan pertanaman kakao di Sulawesi Selatan p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 memiliki tingkat kesuburan tanah yang sangat beragam dari sangat rendah sampai tinggi. itu penanaman tanaman kakao yang dilakukan oleh masyarakat sering kali mengabaikan pertimbangan konservasi lahan, akibatnya proses kehilangan kesuburan tanah semakin meningkat setiap tahunnya (Sapar et al, 2. Upaya peningkatan pendapatan petani tidak lepas dari peningkatan produksi melalui perbaikan budidaya kakao dengan mengalokasikan input produksi secara tepat dan berimbang. Pemerintah melaksanakan upaya untuk melakukan perbaikan dan peningkatan produktivitas kakao kakao, kegiatan tersebut diantaranya peremajaan pertanaman kakao yang rusak, rehabilitasi pertanaman yang kurang baik, intensifikasi pertanaman yang kurang produktif (Fredrik, 2. dan bantuan penyediaan bibit unggul dan subsidi saprodi dalam upaya meningkatkan produksi kakao. Akan tetapi upaya tersebut harus terus dilakukan karena masih terdapat kesenjangan hasil produksi kakao diakibatkan faktor biofisik yang kurang sesuai sehingga membutuhkan pengelolaan yang lebih intensif dan berpengaruh pada biaya output yang Kajian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melakukan analisis kelayakan finansial usahatani kakao sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan pengembangan kakao lebih lanjut. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Pengkajian dilakukan di Desa Tamboke. Kecamatan Suka Maju. Kabupaten Luwu Utara. Propinsi Sulawesi Selatan pada bulan Maret 2016 sampai Nopember 2017. Sumber dan Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari petani kakao sebanyak 40 orang yaitu 20 orang dari kelompok tani Salu Sumpu dan 20 orang dari kelompok tani Bukit Muhajirin, kemudian diambil secara acak sederhana karena pada umumnya petani menggunakan teknologi pola budidaya, panen dan pasca panen yang cenderung homogen. Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Data primer dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuisioner, data tersebut meliputi karakteristik rumah tangga petani kakao . mur, pendidikan, pengalaman dan penguasaan laha. , data biaya input produksi . ibit, pupuk, pestisida, dan upah tenaga kerj. sedangkan data output usahatani kakao meliputi jumlah produksi dan harga kakao. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jendral Perkebunan. Analisis Data Analisis data yang digunakan adalah Analisis anggaran parsial, dengan parameter yang diukur adalah sebagai berikut (Hendayana, 2. Analisis penerimaan atas biaya, rumus yang digunakan adalah : ycI/ya = ycNycI (Q. ycNya (Ocn Xi. Analisis keuntungan atas biaya, rumus yang digunakan adalah : yaA/ya = ycNycI Oe ycNya (Q. pQ Oe Ocn Xi. ycNya (Ocn Xi. Keterangan: TR = Total Revenue/penerimaan (R. B = Benefit . Q = Quantum/Jumlah produksi . pQ = harga produksi (Rp/k. TC = Total Cost/Biaya pembelian input (R. Xi = Jenis Input X ke I . =1,2,3,A. pXi= harga input X ke I . =1,2,3,A. Analisis imbalan kerja, rumus yang digunakan yaya = (Q . pQ) Ae (OcXi. FC OcHOK Keterangan: IK = Imbalan kerja (Rp/bula. = Jumlah produksi dalam satuan . pQ = Harga per unit produksi (Rp/k. OcXi = Jumlah input X ke I . =1,2,3,A,. pXi = Harga satuan input X ke I (R. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 OcXi. pXi = Jumlah pengeluaran (R. OcHOK = Jumlah hari orang kerja . ari/or. FC = Fixed Cost . iaya teta. Dengan kaidah keputusan: Jika IK Ou UMR, dikatakan usahatani layak Jika IK < UMR, dikatakan usahatani tidak Analisis sensitivitas Dilakukan beberapa skenario perubahan yang diprediksi terjadi, hal ini dilakukan untuk introduksi jika terjadi perubahan lingkungan ekonomi seperti adanya inflasi. Skenario yang diprediksi adalah: Skenario 1 : Biaya produksi naik sebesar 30% dan harga kakao tetap Skenario 2 : Biaya produksi naik 15% dan harga kakao turun 10% Skenario 3 : Biaya produksi naik 20 % dan harga kakao naik 15% HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani Kakao Kemampuan fisik seseorang akan meningkat selama beberapa tahun dari awal hingga mencapai puncaknya pada umur 25Ae 45 tahun. Kemampuan fisik tubuh akan menurun secara bertahap sepanjang bertambahnya umur setelah kemampuan fisik tubuh mencapai puncaknya (Maulina dan Syafitri, 2. Berikut ini data responden yang dikumpulkan melalui wawancara di lapangan. Petani kakao rata-rata memiliki umur 44 Dilihat sebarannya, kondisi umur responden cenderung tersebar mendekati normal. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani kakao adalah petani yang memiliki umur produktif untuk bekerja di usaha perkebunan kakao. Lama pendidikan petani kakao Sulsel rata-rata memiliki pendidikan yang cukup, sesuai anjuran pemerintah yaitu pendidikan sembilan tahun yang sama dengan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Tabel 1. Karakteristik petani kakao di Kabupaten Luwu Uraian Rataan Umur petani . Pendidikan . Pengalaman UT . Penguasaan Lahan . Masa kerja sangat berhubungan baik dengan kinerja positif maupun negative, akan memberi pengaruh Masa kerja sangat berhubungan baik dengan kinerja positif maupun negative, akan memberi pengaruh positif pada kinerja apabila dengan semakin lamanya masa kerja maka tenaga kerja akan semakin berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaannya (Maulina dan Syafitri. Begitupula dengan petani kakao memiliki pengalaman kerja yang cukup lama rata-rata berkisar dari 21 tahun bekerja sebagai petani Pengalaman petani sangat mempengaruhi kegiatan usahatani kakao yang dapat dilihat dari hasil produksinya. Pengalaman setiap petani kakao berbeda-beda, ada petani yang punya motivasi untuk menambah pengetahuan berusahatani dan ada juga petani yang hanya mendengar tanpa mengintroduksi teknologi dilahannya. Teknologi dapat diintroduksi dengan baik jika pengalaman yang cukup dan pendidikan yang memadai karena pengalaman tanpa pendidikan maka pengetahuan tidak mudah diadopsi karena petani bersikap tertutup terhadap informasi baru. Status penguasaan lahan oleh petani kakao adalah milik sendiri. Perbedaan ini terjadi karena beberapa faktor seperti pemilik lahan tidak mampu Koefisien Keragaman (%) mengolah lahannya sendiri karena usia atau karena memiliki pekerjaan lain selain bertani kakao. Faktor keberhasilan pengelolaan lahan sangat bergantung kepada petani pemilik lahan terutama dalam pengorganisasian penggunaan faktor-faktor Lahan yang dimiliki petani rata-rata seluas 1 hektar dan didalamnya, rata-rata ditanami kakao sekitar 638 pohon dengan jumlah persil rata-rata satu persil. Volume panen kakao rata-rata 12 kali panen biasa dan 2 kali panen raya per tahun dengan volume produksi kakao rata-rata 74 kg per hektar per satu kali panen. Koefisien keheterogenan yang terjadi dalam data yang sedang Semakin besar nilai standar deviasi, maka semakin besar jarak rata-rata setiap unit data terhadap rata-rata hitung, begitu pula sebaliknya. Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa nilai rata-rata dari karakteristik responden dapat digunakan sebagai representasi dari keseluruhan data karena nilai Standar Deviasi sangat kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sedangkan jika sebaliknya maka nilai rata-rata dari suatu data merupakan representasi yang buruk dari keseluruhan data. Tabel 2. Impelementasi teknologi budidaya kakao No. Uraian Peremajaan kakao Rehabilitasi kakao berupa sambung samping Pengendalian OPT Penggunaan bibit berlabel Petani melakukan sambung samping secara mandiri Fermentasi pada biji kakao yang dihasilkan Pengolahan limbah kakao menjadi pupuk Persentase (%) 92,65 83,82 98,53 88,24 49,95 70,59 Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Analisis Struktur Biaya dan Penerimaan Usahatani Kakao di Kabupaten Luwu utara Input produksi yang digunakan dan cara pengelolaanya sebagian masih konvensional. Petani sudah menggunakan bibit berlabel. Pupuk yang digunakan oleh petani sebagian besar sudah menggunakan rekomendasi pemupukan sesuai anjuran dari pemerintah dan dengan adanya bantuan pupuk dari pemerintah, kebutuhan pupuk masih dapat diatasi karena ada subsidi dari Proses penanganan panen sebagian besar sampai pada penjualan biji kakao yang telah dipanen dan dalam bentuk basah, dan sebagian ada yang hanya melakukan penjemuran 1-2 hari. Alasan petani adalah masalah harga yang diperoleh dari pedagang hampir sama dengan harga biji kakao yang sudah melalui proses fermentasi, oleh karena itu hampir sebagian besar petani lebih memilihi menjual biji kakaonya dalam bentuk Biaya tenaga kerja yang dilkeluarkan berdasarkan item pekerjaan yang dilakukan. Biaya yang paling tinggi baik di Sulsel adalah biaya panen, dimana jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak dari pekerjaan lainnya. Jumlah tenaga kerja yang digunakan tergantung luasan lahan yang ditanami kakao. Biasanya untuk mengurangi biaya tenaga kerja, keluarga petani dilibatkan untuk membantu pekerjaan di kebun, sehingga bias menghemat pengeluaran biaya tenaga kerja. Produksi kakao saat ini tergolong rendah, salah satu penyebabnya dikarenakan umur tanaman yang sangat tua sehingga banyak tanaman yang perlu direhabilitasi dan dilakukan peremajaan agar tanaman bisa tetap berproduksi kembali. Dari kegiatan usahatani tersebut, maka dikumpulkan data-data mengenai biaya input dan output serta keuntungan yang diperoleh oleh petani berdasarkan karakteristik beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Tabel 3. Struktur biaya dan alokasi penerimaan usahatani kakao di Kab. Luwu Utara Uraian Jumlah Input Bibit kakao . Pupuk Urea Pupuk NPK Pupuk ZA Pestisida Pupuk Kandang Tenaga Kerja . HOK @50. Total Biaya Output Produksi . g/h. Harga Kakao (Rp/k. Total Penerimaan Pendapatan R/C B/C Proporsi Terhadap Biaya (%) Penerimaan (%) Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Tabel 3 menunjukkan Struktur biaya dan alokasi proporsi penerimaan produksi kakao di Kab. Luwu Utara. Pendapatan petani kakao ditentukan oleh jumlah produksi yang dihasilkan, harga produk, jumlah input serta harga input yang digunakan dalam usahatani. Diketahui bahwa dari nilai R/C dan B/C dapat disimpulkan usahatani kakao menunjukkan gambaran yang layak karena R/C>1. Akan tetapi melihat produksi kakao yang mencapai 828 kg/ha maka tingkat kelayakan yang dicapai melebihi kapasitas karena potensi kakao yang biasanya mencapai 500 kg/ha. Proporsi biaya terbesar yaitu pada biaya tenaga kerja. Biasanya biaya tenaga kerja akan tinggi pada saat musim panen dikarenakan pada saat itulah banyak tenaga kerja harian yang digunakan. Pemanenan dilakukan dua belas sampai empat belas kali per tahun, pemanenan terbagi menjadi panen puncak dan panen biasa. Panen puncak adalah panen di mana hasil produksi mencapai hasil tertinggi, pada survei dilakukan sedang terjadi panen puncak. Sebaliknya biaya sarana produksi relatif rendah karena pemakaiannya relatif sedikit dan tidak digunakan sepanjang tahun, kecuali untuk pupuk. Imbalan Kerja pada Usahatani Kakao Di Sulawesi Selatan Imbalan kerja (IK) adalah balas jasa atau sejumlah perolehan pendapatan usahatani per orang kerja per satuan waktu tertentu sebagai dampak dari curahan kerja yang diberikan pada kegiatan usahatani terebut (Hendayana, 2. Dalam kegiatan usahatani kakao diketahui bahwa nilai IK yaitu Rp. 000,- . Jika dihitung per bulan maka imbalan kerja yang diperoleh petani mencapai Rp. 000,- . Diketahui bahwa Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kab. Luwu Utara mengikuti standart Upah Minimum Propinsi (UMP) Sulawesi Selatan yaitu Rp. 000,- (BPS, 2. Dengan demikian dari hasil perhitungan IK maka diperoleh kesimpulan bahwa Usahatani kakao di Kab. Luwu Utara layak menjadi mata pencaharian petani dan selanjutnya petani semakin giat melakukan p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 usahatani kakao, karena pendapatan dari usahatani tersebut sangat menguntung sebagai sumber mata pencaharian mereka. Hal ini juga didukung oleh kondisi ekologi kab. Luwu Utara yang merupakan kawasan perkebunanan kakao dan prospek keberlanjutan usahatani kakao sangat besar sehingga kebutuhan tenaga kerja pada usahatani kakao juga sangat tinggi. Analisis Sensitivitas Usahatani Kakao di Kab. Luwu Utara Pada analisis sensitivitas dilakukan tiga skenario yang telah disebutkan pada metodologi. Skenario dilakukan terkait adanya peruabahan pada aspek pendapatan sebagai akibat dari adanya perubahan kondisi ekonomi diantaranya perubahan harga input atau output, terjadinya inflasi, dan kondisi ekonomi lainnya. Perubahan pada masingmasing skenario tersebut diterapkan pada data struktur biaya yang dalat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan perubahan pada pendapatan petani. Peningkatan input sebesar 30% yang tidak diikui perubahan harga kakao . , mempengaruhi pendapatan petani yang semula 75,32% menurun menjadi 75,24% atau penurunannya mencapai 0,08%. Akan tetapi jika dilihat pada nilai R/C ratio, penurunan pendapatan tersebut tidak berdampak besar pada keuntungan yang diperoleh petani, dimana besar R/C masih lebih besar dari 1. Pada Skenario 2 terjadi peningkatan input sebesar 15% dan terjadi penurunan harga kakao sebesar 10% karena adanya penurunan pada harga kakao dunia, sehingga berdampak pada harga yang diperoleh petani, akan tetapi dampak ini tidak berpengaruh besar terhadap keuntungan yang diperoleh petani begitu pula dengan skenario 3, dimana terjadi kenaikan biaya produksi sampai 20 % dan disisi lain petani mendapat keuntungan dengan adanya kenaikan harga kakao sebesar 15%. Dengan demikian sama halnya dengan skenario 1, pada skenario 2 dan skenario 3 pun tidak berdampak besar pada keuntungan yang diperoleh petani dimana R/C lebih besar dari 1. Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Tabel 4. Perubahan Struktur Biaya dan pendapatan Berdasarkan skenario Perubahan Hasil Skenario Uraian Nilai (%) Bibit kakao . Pupuk Urea Pupuk NPK Pupuk ZA Pestisida Pupuk Kandang Tenaga Kerja Total Biaya Total Penerimaan Pendapatan R/C B/C Dari analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa petani kakao masih bertahan untuk melanjutkan usahatani kakao walaupun terjadi kenaikan biaya produksi sampai 30% dan penurunan harga kakao sebesar 10%. Skenario ini dapat disebabkan adanya kenaikan bahan baku baik jenis dan jumlah sarana produksi dan upah tenaga kerja yang saat ini ketersediaannya sudah mulai berkurang, atau biaya penyusutan alat yang belum diperhitungkan pada komponen biaya produksi. Proyeksi tersebut sangat berkaitan dengan komponen teknologi yang dilakukan oleh petani dan tidak lepas dari kondisi ekonomi saat ini. Pada penurunan penerimaan sebesar 10%, disebabkan karena harga kakao yang berfluktuasi dan kualitas kakao yang tidak sesuai standar ekspor, sehingga akan berpengaruh pada harga yang dikenakan oleh pedagang kepada petani. Akan tetapi kondisi tersebut idak berpengaruh pada keberlanjutan usahatani kakao. Walaupum demikian petani diharapkan dapat meningkatkan kualitas kakao yang dihasilkan dengan inovasi teknologi yang diberikan terutama penanganan pasca panen sehingga pendapatan petani lebih meningkat. Indikasi rendahnya penerapan teknologi adalah pada budidaya dan penanganan pasca panen. Aspek ketersediaannya adalah pupuk, dimana peran pupuk yang sangat dominan diantaranya adalah meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Akan tetapi kendala harga pupuk yang semakin meningkat dan komoditas perkebunan yang tidak mendapatkan subsidi pupuk seperti komoditi tanaman pangan, sehingga petani melakukan pemupukan seperlunya saja. Petani juga perlu memperhatikan teknik pemupukan sehingga pupuk dapat diserap oleh tanah secara sempurna, hal ini penting untuk diperhatikan disebabkan banyaknya pupuk yang ditebar tidak optimal diserap oleh tanah dan bila hujan lebat akan hanyut terbawa arus air. Kakao yang dihasilkan petani saat ini kurang memenuhi syarat untuk lolos ekspor dan harganya pun tergolong rendah. Penanganan pasca panen tidak dilakukan dengan optimal, petani beralasan bahwa harga yang dikenakan antara harga kakao melalui proses fermentasi dengan kakao yang hanya dijemur 1-2 hari tidak jauh berbeda dan alasan petani bahwa waktu dibutuhkan untuk melakukan fermentasi dengan harga yang diperoleh tidak jauh berbeda, resikonya pun rendah, dan pasar outuput pada tingkat pedagang pengumpul cukup banyak dan mereka datang langsung ke lokasi usahatani. Mengingat potensi Kabupaten Luwu Utara merupakan wilayah pengembangan kakao maka Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 17 Nomor 1. Juni 2021 DOI: 10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. motivasi untuk meningkatkan produksi dan pendapatan pada usahatani kakao perlu Kualitas kakao yang diproduksi oleh petani perlu diperhatikan. Kakao merupakan sumber devisa bagi Negara, maka kebijakan pemerintah saat ini mengarah pada perbaikan budidaya dan pasca panen, selain itu prilaku dan pola berfikir petani perlu dirubah dari penanganan kakao hanya cara menjemur, saat ini harus dilakukan dengan proses fermentasi. Perbaikan kualitas SDM baik tingkat petani, penyuluh harus ditingkatkan untuk mengelola usahatani dari hulu sampai hilir. KESIMPULAN Usahatani kakao di Kab. Luwu Utara sebagai wilayah pengambangan kakao di Sulawesi Selatan secara finansial dinilai cukup layak baik dari keuntungan dari usahataninya, imbalan jasa yang diterima petani dan skenario perubahan yang dilakukan melalui kenaikan biaya output dan penurunan harga kakao. Walaupun demikian meningkatkan hasil dan pendapatan perlu ditingkatkan, karena petani belum sepenuhnya mengusahakan usahataninya secara optimal terutama dalam aspek budidaya dan pengolahan biji kakao agar dapat meningkatkan nilai tambah bagi usahatani kakao. DAFTAR PUSTAKA