Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 ISSN Print 2685-7553 ISSN Online 2581-1134 Model Pengendalian Banjir Terpadu Dengan Manajemen HuluTengah-Hilir Di Propinsi Lampung: Studi Kasus Way Bulok Kabupaten Pringsewu Anwar*1. Agustinus Purna Irawan2. Endro Prasetyo Wahono3 Program Pasca Sarjana. Doktor Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jakarta. Indonesia Program studi Magister Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Lampung. Indonesia e-mail: *1minakshaka2013@gmail. com , 2agustinus@untar. id , 3epwahono@eng. Abstract This study aims to develop an integrated flood control model in the Way Bulok watershed. Pringsewu Regency. Lampung. Using the HEC-RAS application, a design flood discharge analysis was carried out to evaluate the potential for flooding based on maximum daily rainfall data from 2014 to 2024. The methods used include dispersion analysis, distribution suitability test, and design rainfall calculation using the Log Pearson i method. The results show that the design flood discharge value increases with increasing recurrence period, ranging from 25. 17 mA/second to 123. 76 mA/second. Inundation modeling at three focal points . pstream, middle, and downstrea. shows no inundation at the two and 5-year return periods, while at the 10-year return period, one point experiences a maximum value without inundation. At the 25 year return period, two points experience inundation. This study concludes that the HEC-RAS model effectively predicts and controls flood potential in the Way Bulok Watershed, providing a strong basis for better water resource management and disaster mitigation strategies in the region. Keywords: flood control. Way Bulok watershed. HEC-RAS, design rainfall. Log Pearson i Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pengendalian banjir terpadu di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Bulok. Kabupaten Pringsewu. Lampung. Dengan menggunakan aplikasi HEC-RAS, analisis debit banjir rancangan dilakukan untuk mengevaluasi potensi banjir berdasarkan data curah hujan harian maksimum dari tahun 2014 hingga 2023. Metode yang digunakan meliputi analisis dispersi, uji kecocokan sebaran, dan perhitungan hujan rancangan menggunakan metode Log Pearson i. Hasil menunjukkan bahwa nilai debit banjir rancangan meningkat seiring dengan bertambahnya periode pengulangan, yang berkisar antara 25,17 mA/s hingga 123,76 mA/s. Pemodelan genangan di tiga titik fokus . ulu, tengah, dan hili. menunjukkan bahwa pada kala ulang 2 dan 5 tahun tidak terjadi genangan, sedangkan pada kala ulang 10 tahun satu titik mengalami nilai maksimum tanpa genangan. Pada kala ulang 25 tahun, dua titik mengalami genangan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa model HEC-RAS efektif dalam memprediksi dan mengendalikan potensi banjir di DAS Way Bulok, memberikan dasar yang kuat untuk pengelolaan sumber daya air yang lebih baik dan strategi mitigasi bencana di wilayah Kata kunci: pengendalian banjir. DAS Way Bulok. HEC-RAS, hujan rancangan. Log Pearson i Pendahuluan Banjir adalah salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Fenomena ini sering disebabkan oleh kombinasi dari curah hujan yang tinggi dan pengelolaan lahan yang tidak tepat. Perubahan pola curah hujan dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan dapat memperburuk risiko banjir di daerah aliran sungai (Qoyyim et al. , 2. DAS Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Way Bulok, sebagai salah satu wilayah yang rentan terhadap bencana ini, telah mengalami beberapa kejadian banjir bandang yang merusak infrastruktur dan mengancam keselamatan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model pengendalian banjir terpadu dengan menggunakan aplikasi HEC-RAS, yang dapat memberikan gambaran lebih akurat mengenai potensi banjir di DAS Way Bulok. Metode yang digunakan mencakup analisis dispersi, uji kecocokan sebaran, dan perhitungan hujan rancangan dengan metode Log Pearson i (Gunawan et al. , 2. Penelitian lainnya juga memanfaatkan simulasi Monte Carlo untuk memperkirakan kuantil banjir (Dey et al. , 2. Pentingnya pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana telah ditekankan dalam berbagai studi. Pemetaan risiko banjir dan penilaian kerentanan infrastruktur perkotaan sangat penting untuk perencanaan kota yang berkelanjutan (Nkeki et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk menganalisis debit banjir rancangan tetapi juga untuk memberikan rekomendasi praktis bagi pengelolaan risiko bencana di DAS Way Bulok. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan hasil penelitian ini dapat berkontribusi pada upaya mitigasi bencana dan pengelolaan sumber daya air yang lebih baik di wilayah tersebut. Metode Penelitian Pengumpulan data primer dalam penelitian ini berupa data topografi Sungai Way Bulok yang diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan, selain itu juga data dan informasi peristiwa dan lokasi kejadian banjir di sekitar DAS Way Bulok baik di bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir yang diperoleh dari instansi terkait. Selain pengumpulan data primer, dalam penelitian ini juga dibutuhkan data-data sekunder sebagai data pendukung dalam melakukan analisis dan pemodelan. 1 Curah Hujan Maksimum Data curah hujan diperoleh dari hasil pencatatan stasiun curah hujan atau disebut Pos Hujan (PH) pada nomor urut stasiun 001 dan 002. Pengukuran curah hujan maksimum dilakukan di DAS Way Bulok Kabupaten Pringsewu pada dua stasiun PH 001 dan PH 002 yang digunakan dalam penelitian ini berawal dari tahun 2014 hingga 2023. Selanjutnya dihitung hujan maksimum harian rata-rata untuk setiap tahunnya. Lokasi Daerah Aliran Sungai Way Bulok dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Peta DAS Way Bulok Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 2 Penentuan Hujan Rancangan Penentuan hujan rancangan dilakukan dengan berberapa tahapan yaitu analisis dispersi, uji kecocokan sebaran, dan perhitungan hujan rancangan. Pengukuran sebaran curah hujan dapat dilakukan dengan menggunakan metode Bayesian interval kepercayaan untuk koefisien variasi distribusi delta-lognormal (Yosboonruang et al. , 2. Dalam analisis ini dialakukan perhitungan yaitu simpangan baku, varians data. Koefisien skewness dan koefisien kurtosis. Kesimpulan dari data yang dianalisis diuji berdasarkan persamaan Slovin (Tejada et al. , 2. Rata-rata curah hujan . cUI): Oc ycUycn = jumlah data curah hujan DAS Way Bulok yaitu 10. Oc ycUycn = jumlah curah hujan selama 10 tahun. Kecukupan Data . ycu= ycu 1 ycu . Standar deviasi . Standar deviasi dihitung menggunakan persamaan (Gunawan et al. , 2. Oc. cUycn OeycUI)2 ycIycU = Oo ycuOe1 Koefisien variasi (C. digunakan untuk membandingkan variasi antar sifat-sifat kuantitatif dihitung dengan Persamaan . Cv = XIX Koefisien kepencengan /skewness (C. digunakan untuk koefisien yang membandingkan mean dan median (Doane & Seward, 2. , dihitung dengan persamaan: i3 ycu. Oc. cUycnOeycU) yaycI = . cuOe. cuOe. ycIycu3 . Koefisien kepuncakan/curtosis (C. yaitu ukuran puncak suatu distribusi. Data yang mempunyai nilai kurtosis tinggi akan memiliki ikutan yang berat dan kurtosisnya dikenal dengan sebutan kurtosis Sedangkan kondisi sebaliknya didefinisikan sebagai kurtosis platikurtik (Cain et al. Rana & Singhal, 2015. Wulandari & Bayu Nirwana, 2. Koefisien kepuncakan/curtosis (C. dihitung dengan Persamaan . i2 ycu2 . Oc. cUycnOeycU) yaya = . cuOe. cuOe. cuOe. ycIycu4 . Melalui nilai yang diperloeh dari Koefisien kepencengan /skewness (C. dan Koefisien kepuncakan/curtosis (C. digunakan untuk menentukan kriteria pemilihan distribusi. mengevaluasi asimetri distribusi data. Nilai Cs yang mendekatai 0 menunjukkan distribusi normal. Cs > 0 atau < 0 berarti ketidak simetrisan data. Dalam ilmu hidrologi. Cs dapat digunakan untuk memilih distribusi yan mampu menganalisa data dengan kepencengan positif seperti Log Pearson II atau gumbel. Selanjutnya dapat ditentukan jenis distribusi yang digunakan dengan ketentuan dalam pemilihan distribusi tercantum dalam Tabel 1 ((Bambang Triatmodjo, 2. Terdapat empat tipe Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 distribusi probabilitas dalam ilmu hidrologi, yaitu distribusi normal, log- normal, log pearson i, dan Model terbaik diperoleh melalui pengujian untuk semua model. Analisis distribusi probabilitas menggunakan metode goodness of fit test meliputi chi-square dan Sminov Kolmogorov (Upomo & Kusumawardani, 2. Selanjutnya, dilakukan pengujian kecocokan data menggunakan pengujian Chi Square dan uji Smirnov Kolmogorov (Upomo & Kusumawardani, 2. Hal ini dilakukan untuk menentukan kecocokan . he goodness of fot tes. dari data terhadap distribusi Tabel 1. Ketentuan dalam Pemilihan Distribusi Distribusi Persyaratan Cs = 0 Normal Ck = 3 Cs . = 0 Log Normal Ck . = 3 Cs = 1,139 Gumbel Ck = 5,4002 Log Pearson i Selain nilai diatas 3 Simulasi Banjir Genangan Dengan HEC-RAS Pemodelan genangan ini dilakukan dengan software HEC Ae RAS dan ditentukan 3 titik yang menjadi fokus studi dimana studi tersebut menjadi sebuah rujukan dalam menentukan solusi yang tepat dalam menanggu langi banjir yang terjadi pada DAS Way Bulok. Pendekatan pemetaan risiko banjir hibrida dan infrastruktur perkotaan penilaian kerentanan menggunakan model HEC-RAS pada bagaian hulu, tengah dan hilir (Nkeki et al. , 2. Model ini dilakukan secara bertahap dalam pengambilan data dengan kala ulang yang berulang yaitu 2, 5, 10, 25, dan 50 tahun dengan bagian hulu, tengah dan Pada perencanaan sebuah bangunan air untuk memperkirakan hidrograf banjir rancangan dengan cara hidrograf satuan . nit hidrogra. perlu diketahui dahulu sebaran hujan jam-jaman dengan suatu interval tertentu. Dalam studi ini tidak terdapat data pengamatan sebaran hujan jam-jaman sehingga untuk perhitungannya digunakan Rumus Mononobe, menggunakan Persamaan . (Wangsa et al. ycI yc 2/3 ya = yc24 . cN) . dimana RT adalah Intensitas hujan rerata dalam T jam . m/har. R24 adalah curah hujan efektif dalam 1 hari . , t adalah waktu konsentrasi hujan . , dan T adalah waktu mulai hujan. Debit limpasan dalam periode ulang (Q) dapat dihitung menggunakan Persamaan . (Wangsa et al. , 2. ycE = 0,278 ycu ya ycu ya ycu ya . Debit aliran sungai, diberi notasi Q adalah jumlah air yang mengalir melalui tampang lintang sungai tiap satuan waktu, yang biasanya dinyatakan dalam meter kubik per detik . 3/dt. Pada pengukuran debit, parameter yang diukur adalah tampang lintang sungai, elevasi muka air dan kecepatan aliran. Selanjutnya debit aliran dihitung dengan mengalikan luas tampang dan kecepatan aliran. Untuk Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 mendapatkan hasil yang teliti, lebar sungai dibagi menjadi sejumlah pias, dan diukur kecepatan aliran pada vertikal di setiap pias (Bambang Triatmodjo, 2. Metodologi yang digunakan dalam melakukan perhitungan aliran satu dimensi dalam HEC-RAS, mennggunakan Persamaan . (Husain, 2. yca ycO2 yca ycO2 ycs2 ycU2 2yci = ycs2 ycU2 2yci Eayce . dimana Z1. Z2 adalah elevasi pembalikan saluran utama. Y1. Y2 adalah kedalaman air pada penampang melintang. V1. V2 adalah kecepatan rata-rata . otal debit/total aliran daera. , a1, a2 adalah koefisien pembobotan kecepatan, g adalah percepatan gravitasi, he adalah kehilangan energi. Penggunaan perangkat lunak HEC-RAS mengikuti penelitian yang dilakukan sbelumnya (Husain. Hasil dan Pembahasan 1 Curah Hujan Maksimum Curah hujan maksimum pada DAS Way Bulok ditunjukkan pada Tabel 2. Perhitungan curah hujan harian pada Pos Hujan PH. 001 dan PH. 002 dalam satuan mm/tahun menunjukkan deviasi yang cukup pengukuran curah hujan adalah jauh lebih rumit untuk dicapai daripada yang biasanya. Curah hujan diukur secara konvensional dengan menggunakan beberapa jenis alat pengukur hujan seperti non-recording graduasi pengukur silinder atau pengukur penimbangan penimbangan dan pengukur tipping bucket. Tabel 2. Data Curah Hujan Harian Maksimum pada DAS Way Bulok Stasiun Stasiun PH 001 m/tahu. PH 002 . m/tahu. Hujan Maksimum Harian Rata-Rata . m/tahu. Tahun Total 006,40 Alat pengukur hujan tipping-bucket (TB) adalah alat yang paling andal, hemat biaya, dan banyak digunakan untuk mengukur kedalaman dan pengukuran intensitas curah hujan. Di sisi lain, keakuratan Alat pengukur TB diketahui menurun seiring dengan meningkatnya frekuensi. Besar Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 dampak pada pengukuran alat pengukur hujan dapat terjadi dengan meningkatkan intensitas curah hujan (Iliopoulou & Koutsoyiannis, 2019. Saad Al-Wagdany, 2. Panjang catatan curah hujan dan diperkirakan akan mempengaruhi kejadian banjir/kekeringan. Penting untuk memeriksa ketidakhomogenan dan mengidentifikasi adanya pergeseran atau tren terkait perubahan catatan curah hujan agar hidrologi lebih andal analisis. Uji homogenitas deret waktu diklasifikasikan dalam dua kelompok Aometode relatifAo dan Aoabsolut metode (Kiat Chang, 2. Hujan Maksimum Rata-Rata . m/tahu. Curah hujan harian maksimum rata-rata dari 10 data dapat dilihat pada Gambar 2. 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 Tahun Gambar 2. Grafik Curah Hujan Harian Maksimum DAS Way Bulok Berdasarkan data yang diperoleh dari tahun 2014 hingga tahun 2023 terjadi kenaikan maupun penurunan curah hujan yang terjadi di DAS Way Bulok. Curah hujan maksimum harian rata rata paling besar berada pada tahun 2019 sebesar 606,5 mm/tahun dan memiliki tren naik dari tahun tahun Dari hasil grafik terlihat curah hujan maksimum rata-rata paling kecil berada pada tahun 2023 yaitu sebesar 63 mm/tahun. Terjadinya tren naik turun curah hujan maksimum dipengaruhi oleh sebagai wilayah monsun. Indonesia mempunyai banyak curah hujan, terutama di musim panas dan musim gugur. Dampak orografis juga dapat meningkat jumlah curah hujan di lereng yang berangin perubahan dalam siklus curah hujan menyebabkan sebagian besar perubahan tersebut variasi curah hujan dengan berlalunya fenomena variabilitas atmosfer (Osilasi Madden-Julian/ MJO) (Permana & Supari, 2. 2 Pengukuran Dispersi Pengukuran disperse dilakukan dengan perhitungan simpangan baku, varians data. Koefisien skewness dan koefisien kurtosis. Tabel 3. Parameter Statistik Curah Hujan DAS Way Bulok Tahun Xi - ya I )2 (Xi - ya I )3 (Xi - ya -34,14 165,54 791,52 -19,64 385,73 575,73 -234,64 055,93 323,32 176,86 279,46 085,22 241,86 496,26 905,35 Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Tahun Xi - ya I )2 (Xi - ya I )3 (Xi - ya 305,86 550,34 306,87 0,36 0,13 0,05 -70,14 919,62 062,12 -128,74 573,99 735,16 -237,64 472,77 188,97 Total 006,40 899,76 620,67 Uji kecukupan data dihitung dengan Persamaan . Ae . sebagai dasar penentuan dalam pemilihan distribusi, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Ketentuan dalam Pemilihan Distribusi Distribusi Hasil Hitung Persyaratan Keterangan 0,41 Cs = 0 Tidak masuk 0,000051 Ck = 3 Tidak masuk 0,41 Cs . = 0 Tidak masuk 0,000051 Ck . = 3 Tidak masuk 0,41 Cs = 1,139 Tidak masuk 0,000051 Ck = 5,4002 Tidak masuk Selain nilai diatas Masuk Normal Log Normal Gumbel Log Pearson i Dari hasil pencocokan terhadap parameter distribusi yang digunakan maka digunakan distribusi hujan dengan metode Log Pearson i untuk data hujan pada DAS Way Bulok. 3 Uji Kecocokan data Uji kecocokan data dilakukan dengan menguji kecocokan antara data sehingga dapat dihasilkan keputusan dari uji chi kuadrat yaitu nilai kecocokan data dengan metode uji disperse data hujan. Uji chi-kuadrat digunakan untuk membandingkan distribusi suatu variabel kategori dalam sampel atau kelompok dengan sebaran pada sampel lain. Jika distribusinya variabel kategori tidak jauh berbeda pada kelompok yang berbeda, disimpulkan distribusi variabel kategori tidak berhubungan dengan variabel kelompok (Kim, 2. Hasil pengerjaan Uji Chi Kuadrat ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Perhitungan Uji Chi Kuadrat Jumlah Data Batas Kelas Anwar, et. Oi - Ei cyeO Oe ycyeO)ya ycyeO 63 - 198,9 198,9 - 334,8 334,8 - 470,6 -2,5 Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Jumlah Data Batas Kelas Oi - Ei cyeO Oe ycyeO)ya ycyeO 470,6 - 606,5 Total Hasil pengujian Chi Square yang dilakukan dengan nilai kepercayaan sebesar 5% dengan nilai X2 = 3,6 dan nilai X2 kritis = 5,9915 sehingga jika berdasarkan nilai X2 < X2 kritis, maka metode dispersi yang digunakan sudah tepat dan memenuhi. Selanjutnya uji Smirnov Kolmogorov digunakan untuk mendeteksi apakah suatu sampel berasal dari populasi yang penyebarannya normal atau tidak. Penting untuk menghindari kesalahan dalam melakukan keputusan. Hasil Uji Smirnov Kolmogorov ditunjukkan pada Tabel 6. Tabel 6. Uji Smirnov Kolmogorov terhadap distribusi Log Pearson Tipe i . eOOey. Ae Fyi Fyi Fyi - 63,00 0,0994 0,0994 0,00061 66,00 0,1051 0,0051 0,09490 171,90 0,2760 0,0760 0,02397 230,50 0,3328 0,0328 0,06715 266,50 0,4269 0,0269 0,07307 281,00 0,4574 -0,0426 0,14256 301,00 0,4999 -0,1001 0,20011 477,50 0,8266 0,1266 -0,02655 542,50 0,9010 0,1010 -0,00098 606,50 0,9483 0,0483 0,05173 Didapatkan nilai Dmax = 0,20011. Hasil ini yang akan digunakan dan dibandingkan dengan nilai Smirnov Kolmogorov yang dianalisis ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Nilai Dkirits Uji Smirnov Kolmogorov 0,05 0,01 0,45 0,51 0,56 0,32 0,37 0,41 0,49 0,27 0,34 0,23 0,26 0,29 0,36 0,21 0,24 0,27 0,32 0,19 0,22 0,24 0,29 0,18 0,23 0,27 Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 0,05 0,01 0,17 0,19 0,21 0,25 0,18 0,18 0,24 0,15 0,17 0,19 0,23 Dari hasil analisis Smirnov Kolmogorov dengan derajat kesalahan yang diijinkan 5% maka dapat dibandingkan dari hasil Dmaks = 0,20011 dan Do = 0,41. Dengan syarat Dmaks < Do. Maka pemilihan metode frekuensi Log Pearson Tipe i tersebut menurut hasil Uji Smirnov Kolmogorov sesuai dan tepat dengan sebaran data hujan di lapangan. Dengan kata lain Hipotesis nol (H. diterima, artinya sebaran data hujan dilapangan tersebut berasal dari sampel populasi yang menyebar normal, artinya sebaran data hujan dilapangan benar adanya dan dikatakan normal spread adalah contoh sebaran data curah hujan diambil dari beberapa data yang ada bukan dari satu data saja, dan bila sampel diambil dari satu data saja berarti penyebaran sampel tidak normal (Aslam, 2020. Narotama, 4 Perhitungan Hujan Rancangan Metode Log Pearson i terbukti efektif untuk analisis hujan rancangan di DAS Way Bulok, dengan fokus pada evaluasi ukuran sampel, parameter distribusi, dan ketergantungan dalam perkiraan puncak banjir tahunan. Penelitian ini menerapkan LP3 untuk menilai besaran gempa rencana, curah hujan maksimum tahunan, serta aliran sungai tahunan. Melalui eksperimen Monte Carlo, estimasi kuantil banjir diperoleh dengan pendekatan tipe banjir indeks menggunakan distribusi nilai ekstrim yang digeneralisasi, yaitu distribusi Wakeby yang dilengkapi Probability Weighted Moments (PWM) (Singh et al. , 2. Metode ini juga berguna untuk mengekstrapolasi data peristiwa banjir Setelah menentukan debit banjir yang sebenarnya, logaritma natural dari debit tersebut dihitung untuk mendapatkan rata-rata logaritma standar dan deviasi logaritma standar. Dengan demikian, analisis Log Pearson i memberikan wawasan yang lebih baik tentang curah hujan dan potensi banjir, serta mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih baik di wilayah tersebut. Hasil analisis metode Log Pearson i ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 8. Perhitungan dengan Metode Log Pearson Tipe i Tahun Log Xi Log X-Log ya 2,4257 0,05 0,0024 0,0001 2,4487 0,07 0,0052 0,0004 1,8195 -0,56 0,3103 -0,1729 2,6790 0,30 0,0914 0,0276 2,7344 0,36 0,1280 0,0458 2,7828 0,41 0,1650 0,0670 Anwar, et. I)2 (Log X-Log ya I)3 (Log X-Log ya Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Tahun Log Xi Log X-Log ya 2,4786 0,10 0,0104 0,0011 2,3627 -0,01 0,0002 0,0000 2,2353 -0,14 0,0200 -0,0028 1,7993 -0,58 0,3332 -0,1924 23,7660 0,00 1,0662 -0,2260 Total I)2 (Log X-Log ya I)3 (Log X-Log ya Nilai K yang digunakan sebagai variabel standar untuk X. sedangkan ini dapat ditentukan dengan nilai koefisien kemencengan yaitu G. Untuk menentukan nilai ini didapatkan dengan melihat tabel nilai K digunakan. Hasil dari hujan rancangan pada DAS Way Bulok ditunjukkan pada Tabel 9. Tabel 9. Perhitungan curah hujan dengan periode ulang T Log ya Log XT Pembulatan 2,3766 -0,0265 0,0142 0,3442 2,3815 240,713 2,3766 -0,0265 0,8434 0,3442 2,6669 464,408 2,3766 -0,0265 1,2818 0,3442 2,8178 657,355 2,3766 -0,0265 1,7722 0,3442 2,9866 969,617 2,3766 -0,0265 2,0247 0,3442 3,0735 1184,404 Analisis hujan rancangan didapatkan nilai pada kala ulang 2, 5, 10, 25, 50 adalah 241 mm, 465 mm, 658 mm, 970 mm, 1185 mm. sehingga tahapan lanjutan yang menggunakan nilai hujan rancangan pada kala ulang tersebut bias dilakukan. 5 Perhitungan Debit Rancangan Analisis debit rancangan yang dalam hal ini digunakan metode yang paling umum yaitu metode rasional untuk tiap hujan rancangannya. Untuk nilai yang digunakan dalam analisis ini adalah koefisien limpasan, kecepatan limpasan, waktu dan intesitas hujan dalam waktu. Sehingga nilai tersebut dapat dihasilkan nilai debit rancangan pada tiap kala ulang tertentu. Hasil debit rancangan pada metode rasional ditunjukkan pada Tabel 10. Koefisien limpasan (C) didasarkan kondisi daerah DAS Way bulok dengan karakteristik kondisi hujan dan luas serta bentuk daerah limpasan. Berdasaran keadaan DAS Way Bulok maka besarnya angka koefisien limpasan (C) yaitu daerah lahan terbuka, sebesar 0. Nilai debit banjir rancangan yang digunakan dalam analisis lanjutan. Dari hasil analisis dengan metode rasional dapat dinyatakan bahwa nilai tiap kala periode ulang dari 2, 5, 10, 25 dan 50 menghasilkan nilai berturut turut 25,1707 m3/s, 48,5658 m3/s, 68,7233 m3/s, 101,3094 m3/s, dan 123,7645 m3/s. Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Tabel 10. Perhitungan curah hujan dengan periode ulang T Periode Ulang R24 mm/jam 5,6790 5,6790 5,6790 5,6790 5,6790 Jam 0,9949 0,9949 0,9949 0,9949 0,9949 mm/jam 83,8352 161,7567 228,8944 337,4280 412,2187 25,1707 48,5658 68,7233 101,3094 123,7645 Dari data tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar periode pengulangan maka semakin meningkat pula nilai Q atau nilai debit rancangan hal ini disesuaikan dengan koefisien limpasan dan juga kecepatan aliran yang ada pada DAS Way Bulok, seperti diketahui bahwa Way Bulok telah mengalami banjir bandang yang menyebabkan melimpahnya air dari irigasi penyebabnya adalah luapan air dari sungai dan saluran irigasi yang ada wilayah tersebut tak mampu menampung volume air limpahan dari bagian hulu Way Lima, sungai yang ada di Kabupaten Pesawaran. Bahkan, meningkatnya debit air Way Bulok hingga melebihi ambang batas 6 Simulasi Banjir Genangan Dengan HEC-RAS Pemodelan Banjir Pada Kala ulang 2 tahun Dalam pemodelan ini digunakan 3 titik yaitu STA 192 . STA 1829 . STA 4000 . yang ditinjau pada DAS Way Bulok dari 3 titik daerah tersebut difokuskan menjadi daerah studi dengan debit yang menjadi input adalah sebesar 25,1707 m3/s dengan hasil pada Gambar 3-5. Gambar 3. Model genangan debit kala ulang 2 tahun pada Sta 192 . Gambar 4. Model genangan debit kala ulang 2 tahun pada Sta 1829 . Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Gambar 5. Model genangan debit kala ulang 2 tahun pada Sta 4000 . Dari hasil pemodelan genangan dihasilkan pada kala ulang 2 tahunan tidak mengalami banjir pada tiap ruas, ini tampak terlihat pada tinjauan 3 titik yang menjadi fokus studi sehingga dapat dinyatakan sungai masih mampu menampung debit banjir yang ada. Pemodelan Banjir Pada Kala ulang 5 tahun Pada kala ulang ini digunakan debit banji rencana yang disesuaikan dengan debit banjir kala ulang 5 tahun pada 3 titik tinjauan. Sehingga dihasilkan model genangan pada 3 titik ditunjukkan pada Gambar 6-8. Gambar 6. Model genangan debit kala ulang 5 tahun pada Sta 192 . Gambar 7. Model genangan debit kala ulang 5 tahun pada Sta 1829 . Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Gambar 8. Model genangan debit kala ulang 5 tahun pada Sta 4000 . Dari hasil pemodelan banjir pada kala ulang 5 tahun dihasilkan bahwa tiap titik yang menjadi tinjauan belum mengalami genangan yang meluap sehingga dinilai sungai masih mampu menampung debit banjir yang ada pada kala ulang 5 tahun. Pemodelan Banjir Pada Kala ulang 10 tahun Pada kala ulang ini digunakan debit banji rencana yang disesuaikan dengan debit banjir kala ulang 10 tahun pada 3 titik tinjauan. Sehingga dihasilkan model genangan pada 3 titik tinjauan ditunjukkan pada Gambar 9-11. Gambar 9. Model genangan debit kala ulang 10 tahun pada Sta 192. Gambar 10. Model genangan debit kala ulang 10 tahun pada Sta 1829 . Gambar 11. Model genangan debit kala ulang 10 tahun pada Sta 4000 . Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Dari hasil yang didapatkan dari pemodelan banjir pada tiga titik tinjauan banjir. Dapat dinyatakan bahwa dari 3 titik memiliki satu titik yang mengalami nilai maksimum pada sta 1829. Titik ini tidak menimbulkan genangan. Akan tetapi, debit pada kala ulang 10 tahun adalah debit maksimum yang dapat ditampung oleh sungai pada titik tersebut. Pemodelan Banjir Pada Kala ulang 25 tahun Pada kala ulang ini digunakan debit banji rencana yang disesuaikan dengan debit banjir kala ulang 25 tahun pada 3 titik tinjauan. Sehingga dihasilkan model genangan pada 3 titik tinjauan ditunjukkan pada Gambar 12-14. Gambar 12. Model genangan debit kala ulang 25 tahun pada Sta 192 . Gambar 13. Model genangan debit kala ulang 25 tahun pada Sta 1829 . Gambar 14. Model genangan debit kala ulang 25 tahun pada Sta 4000 . Dari hasil yang didapatkan dari pemodelan banjir pada tiga titik tinjauan banjir. Dapat dinyatakan bahwa dari 3 titik memiliki 2 titik yang mengalami banjir genangan. Pada titik Sta 192 mengalami banjir genangan pada badan sungai sebelah kiri setinggi 10 cm. Pada titik Sta 1. 829 mengalami banjir genangan pada badan sungai sebelah kiri dan kanan, untuk badang sungai sebelah kiri setinggi 42 Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 cm dan sebelah kanan setinggi 22 cm. dan untuk titik dengan Sta 4000 tidak mengalami banjir Pemodelan Banjir Pada Kala ulang 50 tahun Pada kala ulang ini digunakan debit banji rencana yang disesuaikan dengan debit banjir kala ulang 50 tahun pada 3 titik tinjauan. Sehingga dihasilkan model genangan pada 3 titik tinjauan ditunjukkan pada Gmbar 15-17. Gambar 15. Model genangan debit kala ulang 50 tahun pada Sta 192 . Gambar 16. Model genangan debit kala ulang 50 tahun pada Sta 1829 . Gambar 17. Model genangan debit kala ulang 50 tahun pada Sta 4000 . Dua titik mengalami banjir genangan yaitu Sta 192 mengalami banjir genangan dengan tinggi 42 cm pada bagian kiri sedangkan untuk titik tinjauan Sta 1829 pada bagian kiri dan kanan dengan tinggi genangan 90 cm untuk bagian kiri dan 40 cm untuk bagian kanan, sedangkan pada Sta 4000 tidak mengalami banjir. Anwar, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 April 2025 Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai debit banjir rancangan di DAS Way Bulok meningkat seiring dengan bertambahnya periode pengulangan, yang dipengaruhi oleh koefisien limpasan dan kecepatan aliran. Wilayah ini telah mengalami banjir bandang akibat luapan air dari sungai dan saluran irigasi yang tidak mampu menampung volume air dari hulu Way Lima, serta dampak negatif dari alih fungsi lahan. Pengelolaan banjir harus dilakukan secara jangka panjang dan jangka pendek. Strategi jangka panjang berfokus pada upaya preventif, sedangkan jangka pendek bertujuan untuk menangani masalah secara cepat guna mengurangi risiko korban. Upaya pengendalian banjir meliputi pengendalian sedimen dan pemanfaatan lahan sebagai daerah resapan air, serta pembangunan struktur sederhana seperti sumur resapan dan sistem pemanenan air hujan. Model pengendalian banjir menggunakan aplikasi HEC-RAS menunjukkan hasil positif, di mana pada kala ulang 2 dan 5 tahun, semua titik pengamatan (Sta 192. Sta 1829, dan Sta 4. dapat menahan debit banjir tanpa genangan. Namun, pada kala ulang yang lebih lama, beberapa titik mengalami genangan. Penelitian ini menegaskan bahwa aplikasi HEC-RAS efektif dalam memodelkan dan mengendalikan potensi banjir di DAS Way Bulok, sehingga dapat membantu dalam perencanaan mitigasi bencana di masa depan. Ucapan Terima Kasih Ucapan terimakasih kepada Program Pasca Sarjana. Doktor Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jakarta yang telah memberikan kesempatan, bimbingan atas terselesaikannya tugas akhir berikut naskah publikasi ini. Ucapan terimakasih juga diucapkan kepada semua pihak yang telah membantu. Daftar Pustaka