Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. (Prin. , (Onlin. ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Volume 7. No. Desember 2018 Volume 7. No. Desember 2018 Pengetahuan Orangtua Mengenai Pendidikan Seksual Bagi Anak dengan Gangguan Spektrum Rahma Kusumandari E-mail: rahmakusumandari@untag-sby. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract Parents play an important role in sexual education for their children. The role also owned by parents who have children with autism spectrum disorder (ASD). However, information about sexual education for children with ASD is This condition caused parents feel confused about when and how to provide sexual education to their children who have ASD. This study aims to determine the level of parental knowledge about sexual education in children with ASD. The measuring instrument used in this study was a test of knowledge about sexual education in children with ASD. Respondents in this study involved 80 parents who had children with ASD in Surabaya. The results showed that 28% of respondents had a moderate level of knowledge regarding sexual education in children with ASD. Nearly half or 48% of respondents have a good level of knowledge, and 15% of respondents have a lack of knowledge. Most parents have insufficient knowledge in terms of understanding sexuality, the stage of sexual development, and the topic of sexual education that is appropriate for the age of the children with ASD. Keywords: sexual education, parental knowledge, autism spectrum disorder Abstrak Orangtua memegang peranan penting dalam pendidikan seksual bagi Termasuk orangtua yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autis (GSA). Akan tetapi, informasi tentang pendidikan seksual bagi anak dengan GSA ini terbatas. Kondisi tersebut mengakibatkan orangtua merasa bingung tentang kapan dan bagaimana memberikan pendidikan seksual pada anaknya yang memiliki GSA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan orangtua tentang pendidikan seksual pada anak GSA. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengetahuan tentang pendidikan seksual pada anak GSA. Responden dalam penelitian ini adalah 80 orangtua yang memiliki anak GSA di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 28% responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang mengenai pendidikan seksual pada anak dengan GSA. Hampir separuh atau 48% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan 15% responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Sebagian besar orangtua memiliki pengetahuan yang kurang dalam aspek pengertian seksualitas, tahap perkembangan seksual, dan topik pendidikan seksual yang sesuai dengan usia anak GSA. Kata kunci: pendidikan seksual, pengetahuan orangtua, gangguan spektrum Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Gita Widya. | 187 Rahma Kusumandari Volume 7. No. Desember 2018 Pendahuluan Anak-anak dengan gangguan spektrum autis menampilkan kekurangan yang tampak nyata dalam hal interaksi sosial dan komunikasi serta adanya serangkaian aktivitas dan ketertarikan yang terbatas. Gangguan spektrum autis (GSA) merupakan dimanifestasikan dengan adanya kelemahan pada komunikasi dan interaksi sosial dalam berbagai konteks. memiliki pola perilaku, ketertarikan, dan aktivitas yang terbatas dan dengan gejala-gelaja yang muncul pada masa awal perkembangan. gejala-gejala tersebut mengakibatkan hambatan yang signifikan pada fungsi sosial, okupasi, dan beberapa area penting lainnya (American Psychiatric Association (APA). Anak-anak dengan GSA ini memiliki keterbatasan dalam melakukan interaksi sosial sehingga mereka memiliki hambatan untuk belajar dari interaksi sosial sebagaimana yang dimiliki anak lain pada umumnya. Salah satunya adalah pembelajaran tentang perilaku seksual yang tepat. Menurut Chan dan John . anak-anak pada umumnya mendapatkan pengetahuan seksual dan membangun hubungan dengan orang lain melalui proses komunikasi dan interaksi sosial dengan teman sebaya, orangtua, guru, atau dari media. Anak-anak dengan GSA mengalami perkembangan dan perubahan fisik yang normal dan memunculkan karakteristik seks sekunder saat remaja (Pask. Hughes, & Sutton, 2016. Sullivan & Caterino, 2008. Gabriels & Bourgondien, 2. Akan tetapi, perubahan emosi dan meningkatnya dorongan seksual yang mengiringinya saat remaja dapat terlambat atau berlangsung lebih lama (Sullivan & Caterino, 2. Dengan kata lain, perkembangan seksual dari anak-anak dengan GSA tidak diiringi dengan perkembangan sosial emosi yang matang. Oleh karena itu, perkembangan seksual pada anak-anak GSA Hambatan yang dimiliki oleh anak dengan GSA dapat meningkatkan kemungkinan anak merasa perubahan dan perkembangan fisik yang dialami dalam perkembangan seksualnya sebagai pengalaman yang negative (Dewinter. Vermeiren. Vanwesenbeeck, & Nieuwenhuizen, 2. Lebih lanjut lagi. Dewinter dkk . menyebutkan bahwa hambatan yang dimiliki anak dengan GSA dapat meningkatkan probabilitas munculnya perilaku seksual yang bermasalah. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 188 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Faktor resiko pada perkembangan seksual anak dengan GSA mengindikasikan bahwa diperlukan pendidikan seksual yang tepat bagi anak-anak dengan GSA. Travers dan Tincani . mengungkapkan bahwa pendidikan seksualitas pada individu dengan gangguan spektrum autis dapat bermanfaat untuk: . mencegah adanya kekerasan seksual, . memfasilitasi terciptanya sebuah hubungan, pernikahan dan pengasuhan, . mencegah munculnya perilaku bermasalah, . mempromosikan kesehatan dan Orangtua adalah pemeran utama dalam pemberian pendidikan seksualitas pada Mereka memberikan dasar pada perkembangan seksualitas anak dengan mendemonstrasikan dan memberikan model bagaimana berinteraksi dengan tepat di rumah, serta bertanggung jawab menjelaskan standar moral mereka pada anak (Travers & Tincani, 2. Beberapa metode pendidikan sesksualitas pada anak GSA yang dikaji oleh Sullivan dan Caterino . juga menekankan peran penting orangtua sebagai guru dalam pendidikan seksualitas pada anak. Meskipun diketahui bahwa orangtua memegang peranan penting pada pendidkan seksual pada anak, akan tetapi orangtua kerap kali ragu untuk memberikan pendidikan seksual pada anaknya. Selain karena masing menganggap tabu, orangtua seringkali merasa tidak nyaman dan khawatir tentang bagaimana cara yang tepat untuk berkomunikasi terkait masalah seksual dengan anak (Morawska. Walsh. Grabski, & Fletcher, 2. Kekhawatiran ini salah satunya disebabkan karena orangtua tidak memahami masalah seksual secara mendalam sehingga khawatir tidak dapat menjawab semua pertanyaan anak dengan tepat (Isler. Beytut. Tas, & Conk, 2. Orangtua seringkali menyerahkan pendidikan seksual anak pada pihak sekolah. Beberapa literatur menyebutkan bahwa program pendidikan seksual di sekolah seringkali kurang efektif dalam pengimplementasiannya dan tidak cukup memenuhi kebutuhan siswa (Goldman. Temuan tersebut menguatkan argumen bahwa pendidikan seksual harus diberikan sejak dini dan melalui peran keluarga (Colarossi dkk, 2. Selain itu, orangtua dari anak-anak yang memiliki hambatan intelektual enggan mendiskusikan tentang seksualitas karena mempercayai bahwa kondisi anaknya akan menjauhkannya dari pengalaman seksualitas. Membicarakan masalah tersebut, dikhawatirkan akan meningkatkan keinginan anak untuk melakukan eksperimen seksual (Isler dkk, 2. Penelitian yang dilakukan Ballan . menunjukkan bahwa orangtua Rahma Kusumandari Page I 189 Rahma Kusumandari Volume 7. No. Desember 2018 mengalami kebingungan tentang apa, kapan, dan bagaimana menjelaskan kepada anaknya tentang seksualitas. Fakta yang menunjukkan bahwa orangtua memiliki pengetahuan yang rendah mengenai perkembangan seksual pada anaknya yang memiliki GSA juga ditunjukkan dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewinter, dkk . Dewinter, dkk . menemukan bahwa pengalaman seksual yang dimiliki remaja dengan GSA lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan yang dimiliki orangtua mengenai perkembangan seksual anaknya. Dari 43 responden, 50% diantaranya tidak mengetahui bahwa anaknya telah melakukan masturbasi dan mengalami orgasme. Sebagian besar orangtua merasa tidak yakin bahwa anaknya yang memiliki ASD akan mengalami pengalaman seksual yang sama dengan anak lain pada umumnya. Ketidakyakinan ini berpengaruh pada bagaimana orangtua membangun komunikasi dan melakukan pendidikan seksual bagi Berdasarkan hasil kajian literatur dan hasil penelitian yang ada sebelumnya, terlihat adanya kesenjangan antara pentingnya peran orangtua dalam melakukan pendidikan seksual dengan pengetahuan yang dimiliki tentang seksualitas pada anaknya yang memiliki GSA. Sejauh ini belum ada publikasi mengenai tingkat pengetahuan orangtua mengenai pendidikan seksual bagi anak dengan GSA di Indonesia. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana pengetahuan orangtua mengenai pendidikan seksual bagi anaknya yang memiliki GSA. Berdasarkan fakta yang menunjukkan minimnya informasi mengenai seksualitas dan bagaimana melakukan pendidikan seksual bagi anak dengan GSA, maka peneliti mengasumsikan bahwa para orangtua yang memiliki anak dengan GSA memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pendidikan seksual bagi anaknya. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wacana mengenai pemetaan kebutuhan edukasi bagi orangtua mengenai pendidikan seksual bagi anak dengan GSA. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Isler, dkk . menyebutkan bahwa dari 40 orangtua yang menjadi responden, 75 % ortu tidak pernah menerima informasi tentang pendidikan seksual bagi anaknya yang memiliki GSA. Lebih jauh lagi, hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,5% dari responden tidak pernah memberikan pendidikan seksual pada anaknya, dan 32,5% tidak pernah bicara ttg masalah seksual pada anaknya. Selain itu, di Indonesia beberapa penelitian yang mengkaji tentang Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 190 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. pendidikan seksual bagi anak dengan GSA secara spesifik memiliki fokus penekitian pada perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, cara membersihkan organ reproduksi, dan mengidentifikasi perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan (Permatasari, 2. Pada penelitian ini, pengetahuan orangtua mengenai pendidikan seksual pada anak GSA yang dikaji meliputi: . pengetahuan tentang pengertian seksualitas, . pengetahuan tentang tahap perkembangan seksual, . pengetahuan tentang topik pendidikan seksual yang sesuai dengan kondisi anak, . pengetahuan tentang mentode pembelajaran yang sesuai untuk anak dengan GSA, dan . pengetahuan tentang metode pendidikan seksual bagi anak GSA. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan orangtua mengenai pendidikan seksual bagi anaknya yang memiliki GSA. Responden dari penelitian ini adalah 80 orangtua yang memiliki anak dengan GSA di Surabaya. Tidak dilakukan seleksi lebih lanjut mengenai tingkat pendidikan dari orangtua yang menjadi responden dalam penelitian ini. Responden merupakan wali murid dari 6 sekolah dasar yang ada di Surabaya, baik itu SD inklusi, maupun Sekolah Luar Biasa (SLB). Pemilihan responden didasarkan pada data dari sekolah tentang siswa yang memiliki GSA, kemudian peneliti menghubungi orangtua untuk meminta kesediaannya untuk menjadi responden dalam penelitian. Responden diminta mengisi tes pengetahuan tentang pendidikan seksual bagi anak dengan GSA dan langsung mengembalikan lembar tes pada saat itu juga. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengetahuan tentang pendidikan seksual bagi anak dengan GSA. Tes pengetahuan ini disusun oleh peneliti dan aitem yang disusun memiliki respon jawaban benar dan salah. Setiap jawaban yang benar dari satu aitem akan mendapat nilai 1 dan setiap jawaban yang salah mendapat Jumlah aitem dalam tes pengetahuan ini berjumlah 17 aitem dengan beda pada rentang 0,2 Ae 0,49 dan indeks kesukaran pada rentang 0,2 Ae 0,89. Fernandes (Pancoro SP, 2. menyebutkan bahwa butir soal yang baik memiliki tingkat kesulitan antara 0,25 Ae 0,75 dan daya beda > 0,2. Ahman (Rukmini, 2. mengkalisifikasikan butir soal dengan daya beda diantara 0,20 Ae 0,4 0 termasuk memuaskan, dan daya beda diatas Rahma Kusumandari Page I 191 Rahma Kusumandari Volume 7. No. Desember 2018 0,40 termasuk sangat bagus. Contoh dari pertanyaan dalam tes pengetahuan yang diberikan adalah: Auanak yang memiliki gangguan autis tidak akan merasakan ketertarikan pada lawan jenis karena pada dasarnya ia kurang mampu menjalin interaksi sosialAy, dan Auperkembangan seksual manusia diawali saat memasuki masa pubertasAy. Proses pengambilan data penelitian dilakukan di sekolah masing-masing tempat anak dari para responden menempuh pendidikan. Proses pengambilan data ada yang dilakukan dengan memberikan tes pengetahuan sebelum seminar yang diisi oleh peneliti mengenai pendidikan seksual pada anak, dan ada yang bersamaan dengan pertemuan wali murid yang diadakan oleh pihak sekolah. Orangtua yang diminta menjadi responden dalam penelitian ini adalah mereka yang lebih banyak meluangkan waktu dalam mengasuh anaknya yang memiliki GSA. Hasil Langkah pertama yang dilakukan dalam melakukan analisis hasil penelitian ini adalah dengan melakukan skoring pada tes pengetahuan yang diberikan kepada Kemudian, data yang diperoleh di olah untuk mendapatkan gambaran tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh responden. Selain itu, juga dilakukan tabulasi pada data hubungan responden dengan anak yang memiliki GSA. Data demografis dari responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Data Demografis Responden KategorI Jumlah Asal Sekolah SLB X SLB Y SD Inklusi A SD Inklusi B SD Inklusi C SD Inklusi D Status Orangtua Ayah Ibu Wali Prosentase Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengisi angket adalah ibu, yaitu sejumlah 78% dari total responden. Sisanya, ada 14% adalah ayah, dan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 192 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. 8% adalah wali yang lain karena anak tidak diasuh langsung oleh orangtuanya. Sosok wanita atau ibu tampaknya menjadi populasi yang paling dominan. Apabila dikaitkan dengan kriteria responden penelitian bahwa orangtua yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah mereka yang lebih banyak meluangkan waktu dalam proses pengasuhan anak, maka dapat disimpulkan bahwa wanita atau ibu menjadi sosok yang paling banyak mengambil peran dalam proses pengasuhan anak. Hasil analisis data tes pengetahuan responden menunjukkan bahwa 15% dari total responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai pendidikan seksual untuk anak dengan GSA, dan 28% memiliki tingkat pengetahuan yang sedang. Hampir separuh, sejumlah 48% dari responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan 11% dari responden tingkat pengetahuannya tergolong baik sekali. Data hasil penelitian tersebut dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Orangtua Tingkat pengetahuan Jumlah responden Prosentase Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Total Hasil analisis lebih lanjut mengenai frekuensi tingkat pengetahuan orangtua pada masing-masing aspek pengetahuan yang diuji disajikan pada tabel 4 berikut ini: Tabel 3. Distribusi Frekuensi Aspek Pengetahuan Orangtua Kurang Cukup Aspek Pengertian seksualitas Tahapan perkembangan seksual Topik yang sesuai dengan usia anak GSA Metode pendidikan seksual yang sesuai untuk GSA Baik Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode pendidikan seksual yang sesuai bagi anak dengan GSA. Akan tetapi sebagian besar responden memiliki pegetahuan yang kurang Rahma Kusumandari Page I 193 Rahma Kusumandari Volume 7. No. Desember 2018 dalam hal pengertian seksualitas, tahapan perkembangan seksual dan topik pendidikan seksual yang sesuai dengan usia anak GSA. Pembahasan Orangtua merupakan sosok yang memiliki pernan penting dalam memberikan pendidikan seksual bagi anak (UNESCO, 2009. SIECUS, 2. Pada prakteknya, sosok orangtua yang dimaksud tidak selalu orangtua kandung, tapi bisa siapapun yang memang memiliki banyak peran dalam pengasuhan anak. Berdasarkan data yang terkumpul dari para responden yang merupakan orangtua yang memiliki lebih banyak peran dalam pengasuhan anak yang memiliki GSA, didapatkan bahwa sebagian besar responden adalah ibu. Meski demikian, ada beberapa laki-laki atau ayah yang juga turut menjadi responden. Selain itu, ada beberapa responden yang merupakan wali lain yang mengasuh anak dengan GSA dikarenakan orangtua dari anak tersebut sudah meninggal atau ada yang karena sebab lain tidak dapat mengasuh anaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 28% dari responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang mengenai pendidikan seksual pada anak GSA. Bahkan 46 % dari responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan 11 % memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik. Bedasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki cukup pengetahuan mengenai pendidikan seksual bagi anaknya yang memiliki GSA. Hanya 15% dari responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Hasil penelitian yang diperoleh mengindikasikan bahwa orangtua sudah memiliki cukup pengetahuan dalam melakukan pendidikan seksual. Akan tetapi, belum ada data yang menunjukkan apakah orangtua sudah melakukan hal tersebut dan sejauh mana kemampuan orangtua dalam melakukannya. Pengukuran tingkat pengetahuan orangtua ini tidak terlepas dari alat ukur yang berupa tes pengetahuan orangtua mengenai pendidikan seksual pada anak dengan GSA. Aspek-aspek dalam tes pengetahuan tersebut meliputi: . pengertian seksualitas, . tahapan perkembangan seksual, . topik pendidikan seksual yang sesuai dengan usia anak GSA, dan . metode pendidikan seksual bagi anak GSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode pendidikan seksual yang sesuai bagi anak dengan GSA. Akan tetapi. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 194 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. sebagian besar responden memiliki pegetahuan yang kurang dalam hal pengertian seksualitas, tahapan perkembangan seksual dan topik pendidikan seksual yang sesuai dengan usia anak GSA. Pengetahuan orangtua mengenai pengertian seksualitas meliputi pemahaman bahwa seksualitas bukan hanya tentang fungsi biologis dari sistem reproduksi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Bruess dan Greenberg . bahwa seksualitas setidaknya mengandung komponen sosial, psikologis, moral dan biologis. Hasil pengumpulan data yang menunjukkan bahwa orangtua memiliki pengetahuan yang kurang dalam aspek pengertian seksualitas megindikasikan bahwa para orangtua masih terpaku pada hal biologis dalam mendefinisikan seksualitas. Seksualitas masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu karena dianggap hanya berhubungan dengan permasalahan Pengetahuan orangtua mengenai pendidikan seksualitas pada anak dengan GSA juga meliputi pengetahuan tentang tahap perkembangan seksual dan topik pendidikan seksual yang sesuai dengan usia anak GSA. Data dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki pengetahuan yang kurang pada aspek pengetahuan tentang tahapan perkembangan seksual dan topik perkembangan seksual yang sesuai. Kondisi ini dapat menyebabkan orangtua menjadi kebingungan tentang apa yang harus ia ajarkan kepada anaknya terkait saat memberikan pendidikan seksual. Temuan ini mendukung hasil penelitian dari Ballan . yang menyebutkan bahwa orangtua mengalami kebingungan tentang apa, kapan, dan bagaimana menjelaskan kepada anaknya tentang seksualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik pada aspek metode pendidikan seksual yang sesuai untuk GSA. Pengetahuan ini dimungkinkan dimiliki oleh orangtua karena orangtua sudah terbiasa memberikan pengajaran kepada anak pada aspek lain, meskipun bukan tentang pendidikan seksual. Orangtua sudah mendapatkan banyak informasi mengenai bagaimana cara belajar pada anak dengan GSA. Prinsip metode pendidikan seksual yang diberikan pada anak GSA sama dengan metode pembelajarannya untuk aspek yang lain. Metode yang digunakan harus memperhatikan karakteristik pemrosesan informasi yang digunakan oleh anak GSA (Koller, 2. Rahma Kusumandari Page I 195 Rahma Kusumandari Volume 7. No. Desember 2018 Secara random, peneliti melakukan wawancara kepada delapan responden. Hasilnya mereka menyebutkan bahwa mereka belum pernah mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai pendidikan seksual untuk anak GSA. Meski demikian, mereka merasa bahwa pendidikan seksual bagi anaknya merupakan hal yang penting. Sejumlah lima responden menyebutkan agar anaknya dapat mandiri dan terhindar dari kejahatan seksual, dua responden menyebutkan agar anaknya dapat menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma, dan satu orang menyebutkan karena khawatir anaknya memiliki kebutuhan seksual yang lebih tinggi dari anak yang lain pada Meski demikian, semua responden menyebutkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara yang sebenarnya untuk melakukan pendidikan seksual pada anaknya. Selama ini, mereka memberikan pendidikan seksual hanya seputar menjaga kebersihan atau melarang anaknya untuk tidak menirukan perbuatan jelek dari teman-temannya. Akan tetapi, para responden yang diwawancara oleh peneliti merasa ragu apakah anaknya benar-benar bisa memahami apa yang diajarkan. Holmes dan Himle . menyebutkan bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa banyak orangtua yang tidak melakukan diskusi terkait aspek-aspek umum dari seksualitas. Mereka lebih banyak membahas tentang pencegahan dari tindakan kekerasan, kebersihan, dan privacy. Temuan tersebut senada dengan hasil penelitian ini, yaitu orangtua yang diwawancarai oleh peneliti menyebutkan bahwa mereka memberikan pendidikan seksual pada anaknya hanya seputar pada menjaga kebersihan dan melarang anaknya melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Sayangnya, penelitian ini hanya melakukan wawancara secara random pada sebagian kecil responden sehingga data yang diperoleh mengenai pendidikan seksual apa saja yang sudah mereka berikan kepada anaknya belum terhimpun secara Meski demikian, secara teoritis berdasarkan skor tes pengetahuan yang didapatkan dalam penelitian ini, sebagian besar orangtua memiliki pengetahuan yang Akan tetapi, cukupnya pengetahuan yang dimiliki belum tentu dapat membuat orangtua yakin dalam memeberikan pendidikan seksual pada anaknya. Kurangnya keyakinan orangtua untuk memberikan pendidikan seksual kepada anaknya yang memiliki GSA jugatampak dari hasil wawancara. Para responden yang diwawancara oleh peneliti menyebutkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara yang Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 196 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. benar untuk melakukan pendidikan seksual dan mereka juga tidak yakin bahwa anaknya akan dapat memahami pendidikan seksual yang diberikan olehnya. Hasil wawancara tersebut mendukung hasil penelitian Ballan . yang menemukan bahwa orangtua memiliki minat yang tinggi untuk berkomunikasi dengan anaknya mengenai seksualitas. Akan tetapi mereka menunjukkan ketakutan dan kekhawatiran untuk melakukan diskusi Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun orangtua memiliki pengetahuan yang cukup tentang pendidikan seksual bagi anak dengan GSA, hal tersebut belum cukup untuk membuat orangtua yakin dalam memberikan pendidikan seksual bagi anaknya. Beberapa penelitian menunjukkan beberapa alasan yang membuat orangtua menjadi ragu dan khawatir, diantaranya adalah: . orangtua masih menganggap pendidikan seksual sebagai hal yang tabu (Morawska dkk, 2. , . orangtua merasa tidak memiliki pemahaman yang dalam sehingga khawatir tidak dapat menjawab pertanyaan anak dengan tepat (Isler dkk, 2. , . orangtua tidak menyadari bahwa anaknya yang memiliki GSA juga memiliki pengalaman seksual (Dewinter dkk. Berdasarkan hasil analisis data, tampak bahwa sebagian besar orangtua memiliki aspek pengetahuan yang kurang mengenai tahap perkembangan seksual anak. Hal tersebut menyebabkan orangtua bingung dalam menentukan topik pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan seksual anaknya. Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua yang menjadi responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup memadai mengenai pendidikan seksual bagi anak mereka yang memiliki GSA. Meski demikian, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa orangtua kurang memiliki pengetahuan pada aspek pengertian seksualitas, tahapan perkembangan seksual, dan topik pendidikan seksual yang sesuai dengan usia anak GSA. Referensi