PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR Sudirman2, Abdul Jalil1 Institut Agama Islam DDI Polewali Mandar Email : sudirman@ddipolman.ac.id, abduljalil011@iai.ddipolman.ac.id ABSTRAK Adanya fenomena yang berkembang di masyarakat terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu Komite Sekolah merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Tujuan dari penelitian ini: (1) untuk mengetahui peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan disekolah, (2) untuk mengetahui dukungan yang diberikan komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan disekolah, (3) untuk mendeskripsikan peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan mutu pendidikan disekolah, (4) untuk menggambarkan sejauh peran komite sekolah sebagai mediator antar pemerintah dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Penelitian ini mengggunakan metode kualitatif. Data yang diperoleh melalui alat pengumpul data yang digunakan adalah metode wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini beberapa pihak sekolah dapat diketahui bahwa belum atau tidak semua peran komite sekolah dilakukan. Dalam menjalankan tugas dan perannya masih ada kekurangan. Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan diwujudkan dalam bentuk pemberian pertimbangan terhadap penyediaan dan penggunaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh sekolah. Komite sekolah juga memberikan pertimbangan terhadap penggunaan dan pemanfaatan anggaran atau dana yang diperoleh sekolah, memberikan masukan tentang rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS). Kata kunci : Peran Komite Sekolah; Prestasi Belajar; Peserta Didik. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan dihampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia disatu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi Halaman 1 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil. Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Visi reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan revormasi kehidupan nasional yang tertera dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah terwujudnya masyarakat indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, kesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin (Mulyasa, 2012 : 3). Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor: 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatan mutu pendidikan, bukan hanya sekedar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu sekolah. Adanya fenomena yang berkembang dimasyarakat terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu Komite Sekolah merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Adanya fenomena yang berkembang dimasyarakat terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu Komite Sekolah merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. SMP DDI Polewali Mandar merupakan salah satu sekolah swasta yang ada di Kota Polewali Mandar, yang dalam hal kualitas pendidikan sekolah Halaman 2 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR tersebut berada jauh dibawah sekolahsekolah swasta lain yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Hal itu bisa dilihat dari jumlah kelulusan siswanya namun dalam hal ekstrakulikuler sekolah ini bisa dikatakan lebih unggul dari sekolah lainnya. kurangnya kemauan siswa untuk belajar mungkin bisa jadi salah satu fakor tetapi peran serta guru dan komite sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan juga diperlukan. Namun di SMP DDI Polewali Mandar, komite sekolah yang ada kurang berfungsi dan bisa dikatakan pasif dalam melakukan perannya untuk membuat SMP DDI Polewali Mandar itu bisa sejajar dengan sekolah lain dalam hal mutu pendidikannya. Metode Penelitian 1. Jenis dan Pendekan Penelitian Penelitian ini memiliki jenis dan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan dengan cara memandang obyek kajian sebagai suatu sistem artinya obyek kajian dilihat sebagai satuan yang terdiri dari unsur yang terkait dan mendeskripsikan fenomena – fenomena yang ada (Arikunto, 2013: 209). Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini tidak berkenaan dengan angka – angka tetapi mendeskripsikan, menguraikan dan menggambarkan peran komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP DDI Polewali Mandar. Penelitian ini diharapkan dapat diketahui upaya atau peranan komite sekolah. Dimana dalam penelitian tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut; (1) Sumber data langsung berupa situasi yang dialami yang merupakan sumber kunci, (2) Bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar, (3) Lebih memperhatikan proses daripada hasil semata, (4) Dalam menganalisis data cenderung induktif, (5) Lebih mementingkan makna. 2. Lokasi Penelitian Dalam melakukan penelitian tentang peran komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah menengah pertama, peneliti mengambil lokasi penelitian di SMP DDI Polewali. 3. Fokus Penelitian Fokus penelitian ini antara lain tentang peran serta komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan; (1) Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan disekolah, (2) Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam meningkatkan mutu pendidikan, (3) Peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan mutu pendidikan disekolah, (4) Peran komite sekolah sebagai mediator antar pemerintah dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. 4. Sumber Data Penelitian Adapun sumber data dari penelitian ini adalah: a. Sumber Data primer Sumber data primer adalah data yang di kumpulkan atau diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara. Sumber data primer diperoleh dari hasil penelitian di lapangan secara langsung dari sumbernya dan pihak-pihak yang bersangkutan dengan masalah yang akan dibahas, yaitu : kepala sekolah, komite sekolah, guru dan staf karyawan di SMP DDI Polewali Mandar. b. Sumber Data Sekunder Sumber data sekunder adalah data yang digunakan untuk membantu menyelesaikan data primer berupa arsip-arsip dan dokumen dari instansi terkait. Untuk memperoleh sumber data sekunder, peneliti menggunakan teknik dokumentasi. Hal ini dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan data Halaman 3 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR melalui informasi secara tertulis, gambargambar dan bagan-bagan yang berhubungan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah susunan organisasi sekolah, susunan organisasi komite sekolah serta profil dari SMP DDI Polewali Mandar. 5. Metode Pengumpulan Data Pada setiap penelitian, baik yang bersifat terbuka, diduplikasikan, maupun yang rahasia atau kalangan yang sangat terbatas selalu digunakan alat-alat pengumpulan data yang tersusun baik serta disesuaikan dengan tujuan penelitian. Relevansi teknik pengumpulan data itu tergantung pada tipe permasalahan, jenis penelitian, serta kondisi penelitian itu sendiri. Agar sesuai dengan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu wawancara, dan dokumentasi. Untuk memeroleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, dilakukan dengan menggunakan dua metode. a. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang menjawab atas pertanyaan ini (Moleong, 2012: 135). Tujuan wawancara antara lain (1) mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lainlain kebulatan, (2) mengkonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu, (3) memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, (4) memverifikasi, mengubah, memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain. Adapun jenis wawancara yang penyusun gunakan adalah wawancara tidak terstruktur yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan (Arikunto, 2013: 231). Wawancara ini ditujukan kepada Kepala, Komite Sekolah, Guru, staf dan karyawan SMP DDI Polewali Mandar untuk mendapatkan informasi tentang peran komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP DDI Polewali Mandar. b. Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal / variasi yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar, majalah, prasasti, ntulen, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2013: 234). Metode ini digunakan sebagai pelengkap guna memeroleh data sebagai bahan informasi yang digunakan dalam penelitian ini misalnya: arsip, jumlah pegawainya dan sebagainya. Teknik dokumentasi ini dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan data yang berhubungan dengan penelitian. Dokumen yang digunakan dalam penelitikan ini adalah berupa dokumen tentang susunan organisasi sekolah, profil sekolah dan susunan organisasi komite sekolah di SMP DDI Polewali Mandar itu sendiri. 6. Objektivitas dan Keabsahan Data Untuk mengabsahkan data diperlukan teknik pemerikasaan. Teknik keabsahan data didasarkan pada empat kriteria yaitu kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability) (Moleong, 2012: 173). Untuk menjamin keabsahan data yang akan diperoleh dalam penelitian ini, data yang terkumpul akan dicek keabsahannya melalui metode triangulasi yaitu teknik pemeriksaan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan Halaman 4 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data-data itu. Dalam hal ini triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui data lain yaitu dengan cara membandingkan data mengecek baik derajat kepercayaan sesuai informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 2012: 178). Teknik pemeriksaan keabsahan data itu dilakukan dengan jalan: a. Membandingkan data hasil wawancara dengan hasil pengamatan; b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi; c. Membandingkan apa yang dikatakan orang–orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu; d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang; e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang bersangkutan Dalam penelitian ini penulis menggunakan triangulasi dengan cara sebagai berikut yaitu dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. Untuk lebih jelasnya maka dapat digambarkan dalam bagan triangulasi sebagai berikut. Gambar 1. Gambar triangulasi Adapun menggunakan alasan triangulasi peneliti tersebut adalah: a. Untuk memeroleh data yang sama atau sejenis dengan permasalahan dalam penelitian; b. Untuk memeroleh data yang sama, atau sejenis dalam tujuan dan manfaat penelitian. 7. Metode Analisis Data Metode analisis data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data kedalam pola, katagori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2012: 103). Analisis mempunyai kedudukan yang sangat penting jika dilihat dari tujuan penelitian. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, menganalisis data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2012: 248). a. Pengumpulan data yaitu mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan dan peneliti mencatat semua data secara objektif sesuai dengan hasil wawancara dilapangan. Analisis selama pengumpulan data dilakukian menggunakan multi sumber bukti. Klasifikasi dengan informasi tentang draf kasar dari laporan penelitian. b. Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis menonjol, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulannya finalnya Halaman 5 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR dapat ditarik dan diverifikasi (Miles, 2012: 17). c. Penyajian Data yaitu menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dalam pengambilan tindakan (Miles, 2012: 17). Penyajian data merupakan analisis merancang deretan kolomkolom dalam sebuah matrik untuk data kualitatif dan menentukan jenis bentuk data yang dimasukkan dalam kotak-kotak matrik. d. Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan yang dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu kegiatan mencari arti, mencatat keteraturan pola-pola, penjelasan konfigurasi yang mungkan atau sebab dan proporsi (Rachman, 2009: 3). Penarikan kesimpulan dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data yang dibandingkan dengan data-data lain sehingga diperoleh kesamaankesamaan dan peraturan. Secara skematis proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan data dapat digambarkan, sebagai berikut: (Sumber: Miles, 2012: 20) Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling memengaruhi dan terkait. Pertama-tama peneliti melakukan penelitian dilapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Karena banyaknya data yang dikumpulkan maka diadakan reduksi data. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data, selain pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Apabila ketiga hal tersebut dilakukan, maka diambil suatu keputusan atau verifikasi. 8. Prosedur Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti membagi dalam empat tahap, yaitu tahap sebelum ke lapangan, pekerjaan lapangan, analisis data dan penulisan laporan. Pada tahap pertama pra lapangan, peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan atau diperlukan peneliti sebelum terjun dalam kegiatan penelitian yaitu: (1) Menyusun rancangan penelitian; (2) Mempertimbangkan secara konseptual, teknis serta logistik terhadap tempat yang akan digunakan dalam penelitian; (3) Membuat surat izin penelitian; (4) Latar penelitian dan nilai guna serta melihat dan sekaligus megenal unsurunsur sosial dan keadaan alam latar penelitian; (5) Menentukan informasi yang akan membantu peneliti dengan syarat–syarat tertentu; (6) Mempersiapkan perlengkapan penelitian; (7) Dalam penelitian, peneliti harus bertindak sesuai dengan etika terutama berkaitan dengan tata cara peneliti berhubungan dengan masyarakat atau dalam hal ini warga sekolah harus menghormati seluruh nilai yang ada di dalam masyarakat. Pada tahap kedua yaitu pekerjaan lapangan peneliti dengan bersungguhsungguh dengan kemampuan yang dimiliki berusaha untuk memahami latar penelitian. Dengan segala daya, usaha serta tenaga yang dimiliki oleh peneliti dipersiapkan benar-benar dalam menghadapi lapangan penelitian. Tahap ketiga yaitu analisis data. Setelah semua data yang diperoleh di lapangan Halaman 6 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR terkumpul maka peneliti akan mereduksi serta menyajikan data tersebut setelah ini dilakukan verifikasi data. Peneliti berusaha untuk mencari pola hubungan serta hal-hal yang sering timbul. Setelah tahap analisis data selesai dan telah diperoleh kesimpulan, penulis masuk tahap keempat yaitu penulisan laporan. Dalam penulisan laporan penelitian sesuai dengan hasil yang diperoleh dilapangan. Hasil dan Pembahasan Kehadiran komite sekolah sejauh ini hanyalah sebagai bagian formalitas semata itu semua karena kurangnya pengetahuan secara mendalam tentang fungsi dan peran komite sekolah dari wali murid di satuan pendidikan. Masih banyak orang beranggapan bahwa komite sekolah memiliki peran seperti BP3 di masa lalu yang hanya bertugas sebagai pengumpul dana bantuan pendidikan saja. Dalam era otonomi sekolah sekarang ini ruang gerak dari para guru dan kepala sekolah lebih luas termasuk dalam mengelola anggaran pendidikan di sekolah. Dengan adanya keleluasaan gerak kepala sekolah mengelola anggaran tersebut menyebabkan peranan komite sekolah menjadi besar, sebab keputusan yang berkaitan dengan penyelengggaraan pendidikan di satuan pendidikan selalu melibatkan semua pihak. Kenyataan yang ada di lapangan mengenai peran komite sekolah tidak selamanya benar-benar dijalankan atau dengan kata lain belum terlaksana dengan baik sesuai peran yang terdapat dalam peraturan dan yang seharusnya dilakukan oleh komite sekolah. Apalagi komite sekolah yang ada di sekolah swasta yang keberadaannya tidak begitu diperhitungkan karena adanya yayasan, jadi apa yang menjadi tugas, fungsi dan peran sertanya dalam meningkatkan mutu pendidikan tidak begitu terlihat. Seperti halnya komite sekolah yang ada di SMP DDI Polewali Mandar yang merupakan salah satu sekolah swasta yang dijadikan tempat penelitian. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa wacana yang menyebutkan bahwa keberadaan komite sekolah hanya sebagai formalitas memang benar adanya. Hal itu terjadi karena komite sekolah kurang memahami tujuan, fungsi dan apa saja yang menjadi perannya secara keseluruhan di sekolah, kurang berperannya komite sekolah juga dikarenakan kesibukan dari masingmasing pengurus dari komite sekolah. Di sekolah swasta sendiri kurangnya peran dari komite juga dikarenakan keberadaan yayasan. Meskipun demikian komite sekolah tetap harus menjalankan perannya sebagaimana tercantum dalam AD/ART sekolah walaupun hanya sebagian kecil saja. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa komite sekolah kurang berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, pelaksanaannya hanya dalam bentuk pemberian masukan dalam hal sarana dan prarana saja padahal masih banyak ada bentuk pertimbangan lain yang harusnya diberikan oleh komite sekolah seperti mengidentifikasi potensi sumber daya pendidikan dalam masyarakat, memberikan pertimbangan tentang tenaga kependidikan yang dapat diperbantukan di sekolah dan lain-lain. Kurang berperannya komite sekolah dalam pemberian pertimbangan khususnya di sekolah swasta disebabkan oleh karena di sekolah swasta kedudukannya sejajar dengan yayasan, lain halnya dengan sekolah negeri di mana komite sekolah mempunyai kedudukan tertinggi dan semua hal yang berhubungan dengan sekolah harus diketahui oleh komite sekolah. Di sekolah swasta, yayasan lebih memunyai kedudukan jadi apa yang berkaitan dengan operasional Halaman 7 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR sekolah harus dengan persetujuan yayasan walaupun kadang juga meminta pertimbangan dari komite sekolah. Selain itu peran komite sebagai pendukung sekolah baik dalam pencapaian tujuan sekolah dan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dukungan yang diberikan komite sekolah berupa materil dalam bentuk sarana yang belum ada di sekolah dan dibutuhkan oleh sekolah selain itu juga berupa pemantauan terhadap kondisi dari pada tenaga pendidik dan kependidikan dalam hal ini adalah staf karyawan, selain itu dukungan yang diberikan juga berupa pemantauan kondisi sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Melakukan koordinasi dukungan sarana dan prasrana di sekolah, memantau kondisi anggaran pendidikan sekolah, dan mengevaluasi pelaksanaan dukungan anggaran sekolah. Kenyataan yang ada dilapangan komite sekolah dalam hal ini yang ada di sekolah swasta hanya memberikan dukungan dalam bentuk materil saja itu pun tidak program sekolah. Selain itu komite sekolah juga berperan serta dalam rangka transparansi penggunaan alokasi dana pendidikan termasuk dalam mengawasi penggunaan dana bantuan dari pusat yang mengalir ke sekolah agar lebih dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan dana baik yang berasal dari masyarakat maupun pemerintah dapat benar-benar efektif dan termonitor alokasinya, apakah sesuai dengan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang diajukan satuan pendidikan/sekolah. Namun dalam lapangan peran tersebut belum semuanya dilaksanakan oleh komite sekolah. Komite sekolah hanya melakukan kontrol terhadap penggunan dana yang berasal dari pemerintah pusat dan daerah saja seperti dana bantuan operasional sekolah, sedangkan penggunaan dana yang berasal dari orang tua murid komite sekolah tidak melakukan kontrol bahkan mereka tidak tau berapa jumlah dana tiap bulannya yang diperoleh sekolah dari orang tua murid. Untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan peran aktif dari komite sekolah, komite sekolah seharusnya tidak hanya mengawasi penggunaan dana yang berasal dari pemerintah daerah atau pusat saja tetapi juga mengawasi penggunaan dana yang berasal dari masyarakat atau wali murid. Tidak ikut sertanya komite sekolah dalam transparansi dana yang berasal dari orang tua murid sangat dimungkinkan terjadinya penyelewengan dana tersebut untuk hal yang tidak ada kaitannya dengan sekolah. Untuk menghindari kemungkinan tersebut komite sekolah bersama dengan yayasan dan orang tua murid dapat mengadakan diskusi periodik untuk membahas perolehan dan penggunaan dana baik yang berasal dari pemerintah pusat atau daerah dan juga dana yang diperoleh dari orang tua murid. Sehingga penggunaan dana tersebut tepat sasaran yaitu untuk kemajuan sekolah. Sedangkan peran komite sebagai mediator sejauh ini wujudnya berupa penghubung antara kepala sekolah dengan masyarakat, kepala sekolah dengan dewan pendidikan serta kepala sekolah dengan sekolah itu sendiri dalam hal ini Guru, staf karyawan dan murid, selain itu komite juga ikut serta dalam membuat usulan kebijakan dan beberapa program pendidikan kepada sekolah. Menjadi penampung aspirasi masyarakat dalam hal ini berupa pengaduan dan keluhan terhadap kebijakan dan program pendidikan dan menyampaikannya keluhan tersebut kepada instansi terkait dalam bidang pendidikan di sekolah. Dengan adanya peran komite sekolah sebagai mediator antara sekolah dengan masyarakat maka akan Halaman 8 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR memermudah masyarakat dalam menyalurkan apa yang menjadi aspirasi mereka, dan apa yang menjadi aspirasi dari masyarakat dapat dijadikan masukan untuk sekolah sehingga sekolah dapat mengoreksi apa saja kekurangan yang ada disekolah dan secara bersama-sama antara masyarakat, sekolah, komite sekolah dan yayasan dapat mencari jalan keluarnya. Dengan demikian apa yang menjadi tujuan sekolah dapat tercapai dengan lancar dan mutu pendidikan pun dapat diperbaiki lagi. Kurangnya peran dari komite sekolah khususnya di sekolah swasta tentunya memunyai dampak terhadap kemajuan dari sekolah tersebut, sekolah tersendat dalam meningkatkan mutu pendidikan karena sekolah harus berpikir sendiri usaha apa yang harus dilakukan dalam meningkatkan mutu dan dalam mewujudkan tujuan dari sekolah tersebut. Seharusnya komite sekolah dan yayasan pada sekolah swasta tentunya harus dapat berjalan bersamasama dalam meningkatkan mutu pendidikan dan tujuan sekolah. Kalau komite sekolah bisa menjalankan perannya secara keseluruhan dan lebih tanggung jawab dalam menjalankan perannya maka sekolah akan lebih mudah dalam meningkatkn mutu pendidikan sekolah tersebut. Dampak tidak berperannya komite sekolah secara aktif dalam mendukung segala sesuatu yang dilakukan sekolah akan sangat besar, sekolah tidak mendapat masukan dari komite sekolah untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan, tidak ada yang mengevaluasi jalannya kegiatan di sekolah jadi sekolah akan berjalan statis tidak ada kemajuan. Tidak adanya peningkatan mutu dari suatu sekolah menyebabkan kurangnya kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya, itu salah satu dampak dari kurangnya mutu pendidikan di sekolah. Lain halnya jika komite sekolah benar-benar ikut serta dalam menjalankan perannya dalam sekolah dan komite sekolah terjun langsung dalam sekolah maka jelas akan ada perbedaan yang besar antara komite sekolah yang berperan aktif dengan komite yang tidak berperan aktif. Jika komite sekolah berperan aktif maka akan ada peningkatan mutu pendidikan disekolah karena sekolah akan dipantau atau dicek terus oleh komite sekolah. Jika komite sekolah dan yayasan pada sekolah swasta berjalan secara bersama-sama dan benar-benar aktif dalam menjalankan perannya masing-masing maka mutu dari sekolah tersebut akan mengalami peningkatan kearah yang lebih baik lagi dan apa yang menjadi tujuan dari sekolah bisa terwujud dengan baik. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. Penulis dapat menarik kesimpulan sebagai pernyataan singkat yang diharapkan dapat memberikan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian yaitu peran serta komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP DDI Polewali Mandar; (a) Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan diwujudkan dalam bentuk pemberian masukan terhadap proses pengelolaan pendidikan di sekolah, memberikan masukan terhadap proses pembelajaran kepada guru-guru. Selain itu komite sekolah juga memberikan pertimbangan terhadap penyediaan dan penggunaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh sekolah. Komite sekolah juga memberikan pertimbangan terhadap penggunaan dan pemanfaatan anggaran atau dana yang diperoleh sekolah, memberikan masukan tentang rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS), menyelenggarakan rapat rancangan anggaran pendapatan dan belanja Halaman 9 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK SMP DDI POLEWALI MANDAR sekolah (RAPBS), pertimbangan perubahan dan ikut mengesahkan RAPBS bersama kepala sekolah (b) Peran komite sekolah sebagai pendukung Bentuk pemantauan terhadap kondisi dari pada tenaga pendidik atau tenaga kependidikan dalam hal ini adalah staf karyawan, selain itu dukungan yang diberikan juga berupa pemantauan kondisi sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Melakukan koordinasi dukungan terhadap sarana dan prasarana di sekolah, memantau kondisi anggaran pendidikan sekolah, dan mengevaluasi pelaksanaan dukungan anggaran sekolah. c) Peran komite sekolah sebagai pengontrol Bentuk pengawasan terhadap proses pengambilan keputusan di sekolah, melakukan penilaian terhadap kualitas kebijakan yang diambil sekolah, melakukan pengawasan terhadap proses dan kualitas perencanaan dan program sekolah, melakukan pengawasan terhadap organisasi sekolah, melakukan pengawasan terhadap alokasi anggaran untuk pelaksanaan program sekolah dan melakukan pengawasan terhadap partisipasi sekolah pada program sekolah. Selain itu komite sekolah juga berperan serta dalam rangka transparansi penggunaan alokasi dana pendidikan termasuk dalam mengawasi penggunaan dana bantuan dari pusat yang mengalir ke sekolah agar lebih dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan dana baik yang berasal dari masyarakat maupun pemerintah dapat benar-benar efektif dan termonitor alokasinya, apakah sesuai dengan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang diajukan satuan pendidikan/sekolah. d) Peran serta komite sekolah sebagai mediator Peran komite sebagai mediator sejauh ini wujudnya berupa penghubung antara kepala sekolah dengan masyarakat, kepala sekolah dengan dewan pendidikan serta kepala sekolah dengan sekolah itu sendiri dalam hal ini guru, staf karyawan dan murid, selain itu komite juga ikut serta dalam membuat usulan kebijakan dan beberapa program pendidikan kepada sekolah. Menjadi penampung aspirasi masyarakat dalam hal ini berupa pengaduan dan keluhan terhadap kebijakan dan program pendidikan dan menyampaikannya keluhan tersebut kepada instansi terkait dalam bidang pendidikan di sekolah. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2013. prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor: 044/U/2002 tanggal 2 april 2002 tentang Perubahan BP3 Menjadi Komite Sekolah. Milles. 2012. Analisis data kualitatif. Jakarta: UI Press Meleong, Lexy. 2012. Metode penelitian kualitatif. Bandung : Mulyasa. 2012. Kurikulum Berbasis kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Rachman, Maman. 2009. Strategi dan langkah-langkah penelitian. Semarang: IKIP Semarang Presss. Halaman 10