Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3. Issue 5. December 2025. E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi. org/10. 5281/zenodo. Tradisi Makan Bajamba dalam Membangun Kohesivitas dan Sense of Belonging di Nagari Kamang Mudiak The Tradition of Eating Bajamba in Fostering Cohesiveness and a Sense of Belonging in Nagari Kamang Mudiak Fakhriatul U. Miladiah1. Mela Desina 2. Nenny Litania3. Chairunnisa 4 1,2,3,4 Magister Psikologi. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. Riau. Indonesia ABSTRACT Makan bajamba is a traditional Minangkabau communal dining practice that embodies deep social, symbolic, and psychological meanings. Beyond fulfilling biological needs, this tradition functions as a cultural mechanism for strengthening social cohesion, collective identity, and a sense of belonging within indigenous communities. This study aims to Keywords explore the practice of makan bajamba and its contribution to fostering makan bajamba, cultural identity, social cohesion and sense of belonging among the people of Nagari social cohesion, sense of belonging. Kamang Mudiak. Agam Regency. West Sumatra. Employing a qualitative Minangkabau approach with a case study design, data were collected through Keywords: bajamba eating tradition, participant observation during a baralek gadang . raditional wedding cultural identity, social cohesion, sense ceremon. and in-depth interviews with bundo kanduang and juwaro of belonging. Minangkabau who play key roles in the ritual. The findings reveal that makan bajamba is a highly structured customary ritual that reflects values of equality, togetherness, and respect for Minangkabau social structure. Seating arrangements, food presentation, and the shared practice of eating from a single tray serve as symbolic expressions that strengthen emotional This is an open access article under the CC BY-SA bonds among community members. This collective experience enhances Copyright A 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda social cohesion and fulfills essential components of sense of belonging, particularly belongingness and valued involvement. Moreover, makan bajamba acts as a medium for intergenerational transmission of cultural values and identity amid the pressures of modernization. The study highlights the significance of local cultural practices in sustaining cultural identity while promoting psychosocial well-being within indigenous communities. ABSTRAK Tradisi makan bajamba merupakan salah satu praktik adat Minangkabau yang sarat makna sosial, simbolik, dan psikologis. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas makan bersama, tetapi juga sebagai medium pembentukan identitas budaya, kohesivitas sosial, dan sense of belonging dalam masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam praktik makan bajamba serta kontribusinya dalam membangun kohesivitas dan rasa memiliki pada masyarakat Nagari Kamang Mudiak. Kabupaten Agam. Sumatra Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui participant observation pada pelaksanaan baralek gadang serta wawancara mendalam dengan bundo kanduang dan juwaro yang terlibat langsung dalam pelaksanaan makan bajamba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makan bajamba merupakan sistem ritual adat yang terstruktur, mencerminkan nilai kesetaraan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap struktur sosial Minangkabau. Tata aturan dalam penyajian, susunan duduk, serta mekanisme makan bersama dalam satu talam berfungsi memperkuat ikatan emosional antaranggota masyarakat. Praktik ini menciptakan pengalaman kolektif yang memperkuat kohesivitas sosial dan memenuhi komponen sense of belonging, terutama belongingness dan valued involvement. Selain itu, makan bajamba berperan sebagai sarana transmisi nilai adat dan identitas budaya antargenerasi di tengah tantangan modernisasi. Penelitian ini menegaskan bahwa praktik budaya lokal seperti makan bajamba memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya sekaligus mendukung kesejahteraan psikososial masyarakat adat. ARTICLE INFO Article history: Received December 08, 2025 Revised 15 December 2025 Accepted 24 December 2025 Available online 25 December 2025 INTRODUCTION Tradisi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk (Selatan & Utara, 2. Dalam konteks masyarakat adat, tradisi berfungsi tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang menjaga keteraturan, *Corresponding Author Email: fakhriatulmiladiah@gmail. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, nilai kebersamaan, serta identitas kolektif suatu kelompok. Salah satu kelompok etnis di Indonesia yang memiliki sistem adat dan tradisi yang kuat adalah masyarakat Minangkabau. Kebudayaan Minangkabau dikenal kaya akan simbol, nilai, dan praktik sosial yang berfungsi mengatur relasi antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan adalah makan bajamba, yaitu tradisi makan bersama yang hidup dan berkembang dalam berbagai konteks sosial-adat masyarakat Minangkabau (Sukmawati & Tarmizi, 2. Bagi masyarakat Minangkabau, aktivitas makan tidak sekadar memenuhi kebutuhan biologis, melainkan menjadi sarana penting dalam membangun interaksi sosial, mempererat hubungan kekerabatan, serta meneguhkan nilai kebersamaan (Surya & Adhitama, 2. Melalui tradisi makan bersama, hubungan sosial yang renggang dapat dipererat kembali, sekaligus memperkuat silaturahmi antarsesama anggota masyarakat Minangkabau (Yuliniza, 2. Dengan demikian, makan bajamba memiliki makna sosial yang mendalam karena dilaksanakan dalam kerangka adat yang sarat nilai, etika, dan simbol kebudayaan. Perbedaan Makan Bajamba dan Makan Basamo dalam Tradisi Minangkabau Dalam adat Minangkabau, tradisi makan bersama dikenal dalam dua bentuk utama, yaitu makan bajamba dan makan basamo, yang meskipun tampak serupa, memiliki perbedaan makna, fungsi, dan konteks pelaksanaan. Makan bajamba merujuk pada tradisi makan bersama dalam satu wadah besar . yang dilakukan oleh kelompok kecil, biasanya tiga sampai tujuh orang, dengan tata cara yang ketat dan simbolik (Navis, 2. Tradisi ini umumnya dilaksanakan dalam acara adat besar dan bersifat sakral, seperti baralek gadang atau batagak pangulu. Sementara itu, makan basamo lebih menekankan pada aspek kebersamaan dan partisipasi kolektif tanpa struktur simbolik seketat makan bajamba. Makan basamo biasanya dilakukan dalam konteks yang lebih fleksibel, misalnya dalam kegiatan gotong royong, pertemuan kaum, atau acara sosial masyarakat, dengan tujuan utama mempererat hubungan sosial tanpa menonjolkan hierarki adat secara formal. Dengan demikian, makan bajamba bersifat lebih ritualistik dan simbolik, sedangkan makan basamo lebih bersifat sosial dan egaliter. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau mampu menyesuaikan praktik makan bersama sesuai dengan konteks adat dan sosial yang melingkupinya. Makan Bajamba dalam Pernikahan (Baralek Gadan. Salah satu konteks utama pelaksanaan makan bajamba adalah baralek gadang, yaitu pesta pernikahan adat Minangkabau. Dalam upacara ini, makan bajamba berfungsi sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kehormatan, niniak mamak, alim ulama, serta bundo kanduang dari pihak keluarga mempelai (Yuningsih, 2. Mempelai perempuan dalam adat Minangkabau disebut anak daro, sedangkan mempelai laki-laki dikenal sebagai marapulai. Pada baralek gadang, keluarga anak daro berperan sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan acara, termasuk pelaksanaan makan bajamba (Yuningsih, 2. Melalui tradisi ini, hubungan kekerabatan antara dua keluarga besar diperteguh secara Makan bajamba menjadi media legitimasi sosial terhadap pernikahan anak daro dan marapulai, sekaligus menandai diterimanya marapulai kedalam lingkungan keluarga dan kaum pihak perempuan. Dengan demikian, makan bajamba dalam baralek gadang tidak hanya berfungsi sebagai jamuan makan, tetapi juga sebagai sarana pengukuhan relasi sosial, status, dan identitas dalam struktur adat Minangkabau. Tata Aturan. Struktur Sosial, dan Nilai Kebersamaan Selain konteks acara, pelaksanaan makan bajamba juga diatur melalui susunan tempat duduk yang mencerminkan struktur sosial adat tanpa menghilangkan nilai kebersamaan. Niniak mamak menempati posisi terhormat sebagai pemimpin kaum, sementara bundo kanduang Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, memiliki tempat khusus yang merepresentasikan peran mereka sebagai penjaga moral dan adat dari sisi perempuan. Masyarakat umum duduk pada bagian berikutnya sebagai bentuk partisipasi dan dukungan terhadap acara adat (Navis, 2. Meskipun terdapat pembagian penempatan duduk, seluruh peserta tetap makan bersama dalam kelompok jamba masing-masing, sehingga nilai kesetaraan, musyawarah, dan kebersamaan tetap terjaga (Hakimy, 2. Sense of Belonging dan Kohesivitas dalam Makan Bajamba Dari perspektif psikologi sosial, praktik makan bajamba memiliki kontribusi penting dalam pembentukan sense of belonging, yaitu perasaan diterima, terhubung, dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Hagerty dkk. menegaskan bahwa sense of belonging merupakan kebutuhan psikologis fundamental yang berperan penting dalam kesejahteraan mental individu. Melalui makan bajamba, individu terlibat dalam interaksi tatap muka, berbagi makanan, serta mengikuti ritual yang sama, sehingga tercipta pengalaman emosional kolektif yang memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas. Selain itu, makan bajamba juga memperkuat kohesivitas sosial, yakni ikatan emosional yang menyatukan anggota kelompok. Aktivitas makan bersama secara serempak, dengan aturan dan simbol adat yang sama, menciptakan rasa kesatuan dan solidaritas. Kohesivitas ini pada akhirnya berkontribusi pada penguatan identitas budaya, di mana individu tidak hanya mengenali dirinya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat Minangkabau dengan nilai dan tradisi yang khas. Kniffin dkk. menyatakan bahwa aktivitas makan bersama merupakan salah satu sarana efektif dalam membangun koneksi sosial yang stabil dan bermakna, yang dalam konteks Minangkabau terwujud secara kuat melalui tradisi makan Relevansi dalam Konteks Modernisasi sebagai Identitas Budaya Dalam konteks masyarakat Minangkabau yang mengalami modernisasi, urbanisasi, dan globalisasi, praktik budaya seperti makan bajamba menjadi semakin penting sebagai sumber penguatan identitas budaya secara komunal. Tradisi ini berfungsi sebagai ruang pembelajaran sosial antargenerasi yang menjaga kesinambungan nilai adat serta memperkuat ikatan psikologis individu dengan kelompok budayanya (Yulinda, 2. Oleh karena itu, mengkaji hubungan antara makan bajamba dan sense of belonging menjadi relevan untuk memahami bagaimana praktik budaya lokal dapat berperan sebagai sumber kohesi sosial dan kesejahteraan psikologis di tengah perubahan sosial yang cepat. RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang bertujuan untuk memahami secara mendalam tentang praktik Makan Bajamba dalam konteks adat Minangkabau dan bagaimana praktik tersebut berkontribusi terhadap pembentukan rasa memiliki . ense of belongin. , kohesivitas, dan identitas budaya di kalangan masyarakat. Penelitian dilaksanakan di Nagari Kamang Mudiak. Kecamatan Kamang Magek. Kabupaten Agam. Provinsi Sumatra Barat. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu nagari yang masih mempertahankan tradisi Makan Bajamba sebagai bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau. Data penelitian diperoleh dari participant observer dan wawancara mendalam pada beberapa bundo kanduang serta juwaro . ndividu yang bertugas menghidangkan makanan ketika makan bajamb. Pelaksanaan makan bajamba yang menjadi wahana studi kasus adalah baralek gadang antara anak daro inisial WW dan marapulai inisial AA pada 2 November 2025. Peneliti melanjutkan pengambilan data berupa wawancara terpisah setelah participant observer Fakhriatul. , et. , al/ Tradisi Makan Bajamba Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, dilakukan pada bundo kanduan inisial A. E, dan Z serta juwaro inisial HH pada 28 November hingga 5 Desember 2025 secara online dan terpisah masing-masing informan narasumber. RESULT AND DISCUSSION Sejarah Makan Bajamba di Kamang Mudiak (Ampek Samba Ada. Makan Bajamba merupakan tradisi makan bersama yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana penting untuk memperkuat identitas komunal dan menjadi ruang pembelajaran sosial antargenerasi di tengah arus modernisasi (Yulinda, 2. Nilai-nilai yang tertanam didalamnya sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam, yang terintegrasi secara mendalam dengan filosofi adat lokal. Hal ini tercermin dalam prinsip fundamental Minangkabau, "Adat Basandi Syarak. Syarak Basandi Kitabullah" (Adat bersendikan Syariat. Syariat bersendikan Al-Qur'a. , yang menjadi landasan bagi berbagai praktik budaya, termasuk cara makan bersama sebagai sarana untuk mendapatkan keberkahan (Amir, 2. Secara etimologis, istilah "Makan Bajamba" berasal dari bahasa Minangkabau, yaitu "Ba" . dan "Jamba" . adah atau tempat makan bersam. (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas makan, melainkan merupakan ekspresi dari nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas yang menjadi fondasi kehidupan sosial Adab-adab dalam pelaksanaannya, seperti mendahulukan orang yang lebih tua dan makan dengan penuh kesopanan, mencerminkan paduan sempurna antara ajaran Islam dan filosofi adat lokal (Amir, 2. Di Nagari Kamang Mudiak, tradisi Makan Bajamba mengalami adaptasi unik yang menggabungkan praktik umum Minangkabau dengan konteks lokal yang spesifik. Berdasarkan hasil wawancara dengan bundo kanduang dan juwaro setempat, tradisi ini telah berkembang menjadi sistem ritual yang sangat terstruktur (Miladiah & Zariyus, 2. Lembaga adat setempat. Kerapatan Adat Nagari (KAN), mengadopsi budaya "Ampek Ibu" sebagai pedoman utama dalam pelaksanaannya, sebuah keputusan yang diambil untuk menciptakan aturan yang tidak membebani maupun merendahkan masyarakat (Miladiah & Admiyarlis, 2. Budaya "Ampek Ibu" menjadi fondasi historis bagi pemahaman Makan Bajamba di Kamang Mudiak. Istilah ini merujuk pada empat saudara perempuan beserta keluarganya yang tinggal dalam satu rumah gadang. Mereka memiliki tungku . terpisah, namun berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama dari satu wadah. Fenomena sosial inilah yang melahirkan tradisi Makan Bajamba dan kemudian berkembang menjadi praktik adat yang melibatkan seluruh masyarakat (Miladiah & Admiyarlis, 2. Keempat saudara ini juga terkait dengan empat suku di Kamang Mudiak, yaitu Payobada. Simabua. Tanjuang, dan Pisang, yang menunjukkan bagaimana tradisi ini merefleksikan struktur sosial matrilineal Minangkabau (Miladiah & Admiyarlis, 2. Seiring waktu, menu hidangan dalam Makan Bajamba di Kamang Mudiak, yang dikenal sebagai "Ampek Samba Adat", juga mengalami transformasi. Menu tradisional pada acara baralek gadang terdiri dari randang dagiang dengan ubi, pangek bada dengan kacang panjang, maco arai balado, dan talua dadar. Namun, demi kepraktisan dan untuk menghindari pemborosan . , dua menu terakhir diganti. Maco arai balado diganti dengan kalio ayam dengan kentang dan talua dadar diganti dengan pangek itiak lado ijau, karena kedua menu asli tidak layak disajikan jika dimasak satu hari sebelum makan bajamba (Miladiah & Admiyarlis, 2. Perubahan ini menunjukkan kemampuan tradisi untuk beradaptasi tanpa mengorbankan esensi nilainya, sejalan dengan prinsip adat Minangkabau yang dinamis (Miladiah & Admiyarlis, 2. Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Pelaksanaan Makan Bajamba juga tidak dapat dipisahkan dari peran para pemangku adat. Niniak mamak . emimpin laki-laki dari garis keturunan ib. dan bundo kanduang . emimpin perempua. memiliki peran sentral. Niniak mamak bertanggung jawab atas keputusan adat, sementara bundo kanduang adalah pemegang nilai-nilai moral dan pemimpin di rumah gadang (Az-zahroh & Fitri, 2023. Zainal, 2. Dalam acara tersebut, susunan tempat duduk mencerminkan hierarki sosial ini, di mana niniak mamak dan bundo kanduang ditempatkan di posisi terhormat. Meskipun demikian, seluruh peserta tetap makan dari satu talam yang sama, menegaskan nilai kesetaraan dan kebersamaan di dalam struktur yang teratur (Miladiah & Zariyus, 2. Lebih lanjut, aturan dalam Makan Bajamba dapat berubah tergantung pada jenis acara. Pada upacara batagak pangulu . engangkatan penghul. di Kamang Mudiak, aturan terbaru menetapkan bahwa menu utamanya adalah daging kerbau yang tidak boleh dicampur dengan bahan lain . Aturan ini bertujuan untuk menegakkan nilai keadilan agar semua peserta mendapatkan hidangan yang sama. Gulai dagiang kabau ini disajikan langsung di talam bersama nasi, tanpa menggunakan cipia samba . iring kecil untuk lau. , yang berbeda dengan penyajian pada acara baralek gadang (Miladiah & Husna, 2. Di tengah arus modernisasi, tradisi Makan Bajamba berfungsi sebagai sarana penting untuk memperkuat identitas komunal dan menjadi ruang pembelajaran sosial antargenerasi (Yulinda, 2. Sejarahnya di Kamang Mudiak menunjukkan bahwa tradisi ini tidak statis, melainkan dinamis dan responsif terhadap perubahan sosial. Kemampuan beradaptasi ini mencerminkan kekuatan budaya lokal dalam menghadapi tantangan modernitas sambil tetap mempertahankan nilai-nilai inti yang diwariskan selama berabad-abad (Miladiah & Admiyarlis. Miladiah & Elda, 2. Praktik dan Nilai Identitas Makan Bajamba Masyarakat Nagari Kamang Mudiak melaksanakan Makan Bajamba pada beberapa acara adat, seperti baralek gadang, batagak pangulu, dan khatam Quran apabila acara tersebut dilakukan secara adat. Tradisi Makan Bajamba biasanya dilaksanakan dalam ruang lingkup keluarga terdekat yang memiliki hubungan persaudaraan sedarah. Namun, tradisi Makan Bajamba juga bisa dilaksanakan untuk lingkup keluarga yang lebih luas seperti hubungan keluarga satu suku (Amelia & Erniwati, 2. Dalam pelaksanaan Makan Bajamba terdapat beberapa tata cara dan aturan-aturan yang unik, seperti jumlah dan jenis spesifik makanan yang akan dihidangkan serta penyajian makanan pada saat Makan Bajamba diatur sesuai dengan tata cara dalam aturan adat di Nagari Kamang Mudiak. Menu hidangan pada Makan Bajamba biasanya makanan khas Minangkabau yang memiliki makna penting dalam pelaksanaan suatu tradisi adat. Tata cara dan aturan unik dalam pelaksanaan makan bajamba tidak pernah tertuang secara tertulis dalam pembahasan lingkup ilmiah, sehingga pembahasan mengenai hal tersebut bersumber pada hasil observasi dan wawancara seutuhnya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan bundo kanduang inisial A. E, dan Z serta juwaro inisial HH di Nagari Kamang Mudiak, sebelum melaksanakan Makan Bajamba terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan diantaranya, yaitu memasak samba . auk pau. dan mempersiapkan peralatan yang akan digunakan pada saat pelaksanaan Makan Bajamba. Persiapan dan peralatan yang diperlukan harus sesuai dengan adat yang berlaku di Nagari Kamang Mudiak. Beberapa peralatan tersebut adalah talam atau piring besar, teko, gelas kaca, kibasuah . uci tanga. , dan cipia . Pada penelitian ini, peneliti akan lebih berfokus pada Makan Bajamba yang dilaksanakan oleh kaum perempuan di Nagari Kamang Mudiak. Yang mana waktu dan tempat Makan Bajamba Fakhriatul. , et. , al/ Tradisi Makan Bajamba Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, yang dilakukan pada waktu yang berbeda dengan laki-laki. Di mana Makan Bajamba kaum lakilaki dilaksanakan pada hari akad dan perempuan pada hari resepsi atau baralek gadang. Hal ini berakar kuat pada nilai-nilai adat yang bersendi kepada ajaran IslamAiAdat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Miladiah & Zariyus, 2. Pemisahan ini bukan sekadar aturan sosial, tetapi merupakan bentuk penghormatan terhadap prinsip kesopanan, etika pergaulan, dan menjaga batas aurat serta interaksi sesuai tuntunan syariat (Miladiah & Admiyarlis, 2. Dengan menempatkan laki-laki dan perempuan pada ruang dan waktu yang berbeda saat Makan Bajamba, masyarakat menjaga suasana kegiatan tetap tertib, bernilai ibadah, serta selaras dengan norma agama yang mereka junjung. Pada hari pelaksanaan Makan Bajamba untuk Perempuan, tata letak talam berada pada satu garis lurus dengan tamu undangan yang mengelilingi masing-masing talam (Miladiah & Husna, 2. Talam ini akan menjadi tempat atau wadah yang digunakan untuk Makan Bajamba. Biasanya, saat penyajian talam sudah diisi dengan nasi yang mana tiap talam diperuntukan untuk tiga hingga tujuh orang sesuai ukuran talam dengan seorang perwakilan dari tuan rumah (Miladiah & Elda, 2. Cara makan dalam satu talam melambangkan persatuan dan kesatuan Masyarakat tanpa melihat status sosial selama melaksanakan Makan Bajamba. Bundo kanduang akan berada di talam ateh atau dalam penggambarannya berlawanan dari area dapur dan dekat dari pintu masuk. Bundo kanduang merupakan tokoh wanita yang merupakan istri dari niniak mamak atau datuak pucuak . dan bisa juga melalui proses pemilihan dari masyarakat pada tiap suku untuk menjadi cendikiawati (Miladiah & Elda, 2. Sementara tuan rumah dalam artian keluarga dari tuan rumah baik saudara sedarah maupun sesuku, diharuskan untuk makan di setiap talam untuk menemani tamu makan (Miladiah & Admiyarlis, 2. Hal ini dikarenakan secara aturan, tuan rumah yang harus melayani dan menyuap makan terlebih dahulu yang baru dilanjutkan oleh tamu undangan. Pada adat yang berlaku, kewajiban tuan rumah untuk melayani tamu undangan pada masing-masing jambanyaAisesederhana menyendok samba dari cipia samba ke talam (Miladiah & Admiyarlis, 2. Pada prosesinya, setelah para tamu sudah duduk sesuai aturan yang telah ditetapkan, barulah juwaro membawakan talam yang berisikan kibasuah atau mangkok kaca bening dengan isi air untuk mencuci tangan, dalam waktu yang bersamaan juwaro menghitung jumlah tamu yang hadir (Miladiah & Husna, 2. Tiap jamba hanya satu kibasuah. Makan dalam satu talam mengajarkan etika kepada orang tua, dimana yang kecil harus mendahulukan orang tua tanpa merasa tersisihkan (Miladiah & Admiyarlis, 2025. Miladiah & Zariyus, 2. Hal berikutnya yang dikeluarkan adalah teko dan gelas yang terbuat dari kaca untuk tempat air minum (Miladiah & Husna, 2. Dalam adat istiadat Nagari Kamang Mudiak, tidak diizinkan menggunakan air minum kemasan dan harus menggunakan gelas kaca (Miladiah & Admiyarlis, 2. Gelas yang digunakan harus seragam, dari segi warna serta motif dan harus disajikan dalam satu waktu yang bersamaan. Hal tersebut memiliki makna tidak adanya perbedaan antara masyarakat Minangkabau yang berada di Nagari Kamang Mudiak (Miladiah & Elda, 2025. Miladiah & Zariyus, 2. Setelah dikeluarkannya teko dan gelas, dikeluarkanlah talam yang telah berisi nasi dan diikuti nasi tambah pada piring lain serta talam yang berisikan ampek samba adat berikut samba pendamping (Miladiah & Husna, 2. Penghidangan jamba wajib dimulai dari ateh yang merupakan jamba bundo kanduang dan berangsur turun hingga ke dapur (Miladiah & Husna. Setelah hidangan sudah disajikan semua, baru tuan rumah di setiap talam memulai menyendokan samba ke atas nasi di dalam talam. Terdapat aturan dalam pengambilan samba dalam Makan Bajamba, yang mana dimulai dengan menuangkan kuah sayur di atas nasi beserta Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, sayur kol, kemudian mengambil satu potong samba, dan tuan rumah memulai suapan pertama diikuti tamu undangan (Miladiah & Admiyarlis, 2. Setelah suapan pertama, tuan rumah menambahkan satu potong samba dari jenis yang berbeda dari sebelumnya dan berlaku seterusnya secara bertahap hingga seluruh jenis samba ada dalam talam (Miladiah & Admiyarlis, 2. Dalam menyendok samba juga memiliki aturan, yaitu keberadaan samba dengan jenis yang sama tidak boleh lebih dari satu potong pada talam dalam waktu bersamaan. Yang mana ketika potong pertama habis baru tuan rumah mengambil satu potong lain dari jenis samba yang sama (Miladiah & Elda, 2. Aturan lain dalam penyajian Makan Bajamba, jumlah potongan masing-masing samba dalam cipia yang disediakan tuan rumah untuk bundo kanduang yaitu tiga potong dan tamu undangan lainnya dua potong (Miladiah & Husna, 2. Sedangkan sebagai bundo kanduang, dilarang untuk menghabiskan hidangannya karena akan dianggap rakus dan berdampak pada nilai generalisasi pada kaumnyaAibundo kanduang merupakan cerminan masyarakatnya, maka bundo kanduang harus bijak dan berwibawa dimanapun dan kapanpun (Miladiah & Admiyarlis. Jika terdapat samba yang tidak disukai di dalam jamba, maka dilarang keras untuk mengangkat samba dan harus menghabiskan semua samba yang disajikan (Miladiah & Zariyus. Hal ini dikarenakan ketidaksopanan ketika menolak pemberian orang lain dan tidak Sehingga seiring berjalan waktu, diperoleh cara yang lebih halus dengan menggeserkan samba perlahan-lahan menggunakan ujung jari ketika akan menyuap (Miladiah & Admiyarlis, 2. Tanda bahwa Makan Bajamba sudah selesai diawali dengan selesai makannya bundo kanduang tertua begitu juga dalam mencuci tangan setelah makan, barulah yang lain bisa menyelesaikan makannya (Miladiah & Elda, 2. Setelah itu, akan dikeluarkan pisang dan lap tangan (Miladiah & Husna, 2. Khusus untuk bundo kanduang harus disajikan pisang gadang dan untuk tamu undangan lainnya bisa disajikan pisang jenis apapun. Pengambilan talam dan cuci tangan terlebih dahulu baru cipia samba yang dilakukan oleh juwaro (Miladiah & Husna, 2. Setelah selesai, juwaro akan membawa keluar minum kawa atau kue-kue jajanan pasar dengan empat syarat makanan yang terdiri dari kalamai, godok inti, pinyaram, dan ketan . isa dalam bentuk ketan kukus atau lemang dengan bamb. (Miladiah & Admiyarlis, 2. Dalam penyajiannya, minum kawa diletakan di atas satu piring yang dikelompokkan sesuai dengan jenis makanannya dan setiap jenis harus berjumlah 12 potong (Miladiah & Husna, 2. Diperbolehkan untuk menambahkan jenis makanan lain selain syarat yang empat. Pada saat minum kawa, dimulai dengan tuan rumah yang memotong sepertiga dari ketan atau lemang menggunakan sendok yang biasanya selalu disimpan oleh tuan rumah di saku bajunya, kemudian dicampur dengan makanan lain dari minum kawa (Miladiah & Admiyarlis, 2. Sebegaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sesungguhnya aturan unik atau tata cara makan bajamba tidak tertuang secara tertulis. Melainkan diwariskan melalui ungkapan dan praktik turun-temurun yang harus dihormati serta dijalankan dengan penuh kesadaran. Aturanaturan ini hidup dalam memori kolektif masyarakat dan menjadi pedoman etika dalam pelaksanaan adat. serta makna filosofis pada setiap langkah dan simbol dalam tradisi tersebut, sehingga proses Makan Bajamba berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh penghormatan kepada adat. Nilai Kohesivitas dan Sense of Belonging Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan tokoh adat, beberapa bundo kanduang dan juwaro di Nagari Kamang Mudiak, terdapat beberapa hal penting yang sangat berpengaruh positif baik secara sosial maupun psikologi individu yang melaksanakan Makan Bajamba. Pengaruh sosial dari tradisi ini diantaranya memperkuat solodaritas dan kebersamaan Fakhriatul. , et. , al/ Tradisi Makan Bajamba Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, antar masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana keterlibatan masyarakat sekitar membantu tuan rumah mulai dari persiapan acara hingga hari pelaksanaan Makan Bajamba (Miladiah & Elda, 2. Semua dilakukan dengan sukarela karena adanya nilai kebersamaan dalam Masyarakat Nagari Kamang Mudiak (Miladiah & Zariyus, 2. Tradisi adat makan bajamba dalam masyarakat Minangkabau merepresentasikan nilai kohesivitas sosial melalui praktik makan bersama dalam satu wadah yang menekankan kebersamaan, kesetaraan, dan rasa memiliki antaranggota komunitas. Dalam tradisi ini, individu duduk sejajar tanpa memandang status sosial, berbagi makanan, serta mematuhi norma dan etika adat yang sama, sehingga tercipta keterikatan emosional dan solidaritas kolektif (Miladiah & Admiyarlis, 2. Praktik tersebut memperkuat hubungan sosial, memelihara silaturahmi, serta menegaskan identitas bersama sebagai satu kesatuan masyarakat adat, menjadikan makan bajamba bukan sekadar ritual makan, melainkan sarana efektif dalam membangun dan mempertahankan kohesivitas sosial dalam budaya Minangkabau. Menurut Festinger dkk. mendefinisikan kohesivitas sebagai keseluruhan kekuatan yang membuat individu tetap berada dalam kelompok, baik karena ketertarikan interpersonal maupun tujuan bersama. Sedangkan. Kohesivitas yang dipahami melalui konsep sense of community, yaitu perasaan keterikatan dan kebersamaan yang kuat di antara anggota suatu komunitas, yang didasarkan pada keyakinan bahwa kebutuhan individu akan terpenuhi melalui komitmen untuk tetap bersama (McMillan & Chavis, 1. Tradisi makan bajamba bukan sekadar aktivitas bersama-sama makan, melainkan simbol kuat dari kohesivitas sosial yang mengikat anggota masyarakat sebagai satu kesatuan masyarakat Fase persiapan menjadi wahana penting untuk membangun kohesivitas sosial karena melibatkan banyak orang dalam upaya bersama sebelum acara utama dimulai. Pada tahap ini, anggota komunitas terutama para perempuan bergotong-royong menyiapkan makanan, menata talam, dan mengatur ruang makan di rumah gadang, yang menciptakan kesempatan untuk berinteraksi, berbagi tugas, dan saling membantu secara sukarela (Miladiah & Husna, 2. Kegiatan persiapan ini memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas karena setiap orang berkontribusi menurut kemampuan masing-masing demi keberhasilan acara adat yang akan dinikmati bersama melalui kerja kolektif (Miladiah & Admiyarlis, 2. Hal ini menjadikan hubungan antarindividu diperkuat dan rasa memiliki terhadap tradisi serta komunitas semakin Nilai-nilai yang diinternalisasi sejak persiapan seperti saling menghormati, kerja sama, dan tanggung jawab bersama mempertegas kohesivitas sebagai salah satu pilar kuat dalam pelestarian makan bajamba di Minangkabau. Adanya kebersamaan, solodaritas dan kohesivitas masyaratkat tidak luput dari adanya rasa memiliki antar masyarakat terlebih bagi mereka yang berada dalam suku yang sama (Miladiah & Zariyus, 2. Teori sense of belonging merupakan salah satu teori paling berpengaruh dalam memahami bagaimana individu merasa menjadi bagian penting dari suatu kelompok atau lingkungan. Teori ini memandang sense of belonging sebagai pengalaman keterlibatan personal dalam sebuah sistem sosial, sehingga seseorang merasakan dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem tersebut. Dengan kata lain, rasa memiliki bukan hanya muncul karena seseorang berada di dalam kelompok, tetapi karena ia merasa terhubung, diterima, dan dianggap bermakna oleh orang-orang di sekitarnya. Definisi yang diberikan Hagerty dkk. menekankan bahwa rasa memiliki berasal dari hubungan timbal balik antara individu dan lingkungan sosial yang memberikan tempat baginya untuk merasa dihargai. Yang mana sense of belonging ini terbagi menjadi dua komponen utama, yaitu belongingness dan valued involvement (Hagerty et al. , 1. Komponen pertama . merupakan perasaan diterima, dihargai, dan dipedulikan oleh kelompok. Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Sementara komponen kedua . alued involvemen. mendefiniskan perasaan bahwa kehadiran dan kontribusi seseorang dianggap berarti dan dibutuhkan oleh kelompok. Ketika seseorang merasakan belongingness, ia merasa aman secara emosional, memiliki tempat di dalam kelompok, dan keberadaannya diakui. Sedangkang valued involvement menegaskan bahwa individu tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga memiliki peran penting dalam dinamika sosial. Dengan terpenuhinya kedua komponen ini, seseorang akan mengalami rasa memiliki yang kuat, yang pada akhirnya meningkatkan keterlibatan sosial, rasa percaya diri, serta kesetiaan terhadap kelompok atau komunitas tersebut (Hagerty et al. , 1. Menurut McMillan & Chavis . , sense of belonging tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk melalui pengalaman sosial yang konsisten, interaksi yang bermakna, serta adanya hubungan emosional yang terjalin antaranggota komunitas. Dengan kata lain, individu merasa menjadi bagian dari komunitas ketika mereka tidak hanya berada secara fisik di dalam kelompok, tetapi juga terlibat dalam hubungan sosial yang memberikan keamanan, makna, dan kedekatan Terdapat empat unsur utama yang membentuk sense of belonging dalam komunitas, yaitu membership, influence, intergration and fulfillment of needs, dan shared emotional connection (McMillan & Chavis, 1. Membership merujuk pada rasa keanggotaan yang jelas, termasuk identitas bersama, batas-batas keanggotaan, dan rasa aman berada dalam kelompok. Influence adalah hubungan timbal balik di mana individu merasa memiliki pengaruh terhadap kelompok, dan sebaliknya kelompok juga memiliki pengaruh terhadap individu. Integration and fulfillment of needs menjelaskan bagaimana komunitas menyediakan kesempatan bagi anggota untuk memenuhi kebutuhan mereka, baik kebutuhan sosial, emosional, maupun budaya. Terakhir shared emotional connection, merupakan inti dari rasa memiliki karena terbentuk melalui pengalaman bersama, kegiatan kolektif, dan sejarah sosial yang dibagi bersama antaranggota. Dalam konteks tradisi Makan Bajamba, unsur shared emotional connection ini tampak sangat kuat. Hal ini disebabakan ritual makan bersama dalam satu talam tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga membangun hubungan emosional, solidaritas, dan ikatan budaya yang memperkuat rasa memiliki antaranggota komunitas. Praktik Makan Bajamba yang melibatkan sejumlah orang makan bersama dari satu talam menciptakan sebuah ruang fisik dan simbolik di mana setiap orang duduk bersama tanpa sekat status, berbagi makanan yang sama, dan menikmati hidangan secara kolektif. Hal ini menumbuhkan rasa persatuan dan kebersamaan sehingga setiap individu merasa menjadi bagian dari kelompok yang sama, bukan individu Penelitian pada komunitas Minangkabau menunjukkan bahwa tradisi tersebut membawa nilai kebersamaan, etika saling menghormati, serta membangun solidaritas antars esama anggota masyarakat (Yuliniza, 2. Lebih dari sekadar makan bersama. Makan Bajamba berfungsi sebagai media komunikasi sosial dan pembentukan identitas kolektif. Dalam konteks acara adat atau pernikahan, tradisi ini memungkinkan anggota dari berbagai latar belakang, usia, dan garis keturunan berbeda untuk duduk bersama, berbagi cerita, dan mempererat ikatan kekeluargaan serta komunitas. Dengan demikian. Makan Bajamba bukan hanya soal mengisi perut, tetapi menjadi ritual yang menguatkan rasa memiliki bersama terhadap budaya, adat, dan komunitas (Efrianti, 2. CONCLUSION Tradisi Makan Bajamba di Nagari Kamang Mudiak merupakan praktik adat yang memiliki akar historis, filosofis, dan religius yang kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Berlandaskan prinsip Adat Basandi Syarak. Syarak Basandi Kitabullah. Makan Bajamba tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas makan bersama, tetapi juga sebagai medium pewarisan nilai. Fakhriatul. , et. , al/ Tradisi Makan Bajamba Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, etika sosial, dan identitas budaya yang terstruktur dan bermakna. Konsep Ampek Ibu dan Ampek Samba Adat mencerminkan keterkaitan erat antara sistem kekerabatan matrilineal, struktur sosial, serta fleksibilitas adat dalam merespons perubahan zaman tanpa menghilangkan esensi nilai kebersamaan, keadilan, dan kesopanan. Pelaksanaan Makan Bajamba di Kamang Mudiak menunjukkan bahwa setiap tahapanAi mulai dari persiapan, tata letak, penyajian makanan, hingga penutupanAimengandung aturan adat yang sarat makna simbolik dan diwariskan secara turun-temurun melalui praktik kolektif. Peran sentral niniak mamak, bundo kanduang, dan juwaro menegaskan adanya tatanan sosial yang hierarkis namun tetap menjunjung kesetaraan, sebagaimana tercermin dalam praktik makan bersama dalam satu talam tanpa memandang status sosial. Pemisahan waktu dan ruang antara laki-laki dan perempuan juga memperlihatkan harmonisasi antara adat dan syariat Islam dalam menjaga etika, kesopanan, dan nilai religius. Lebih jauh. Makan Bajamba berfungsi sebagai sarana efektif dalam membangun dan memperkuat kohesivitas sosial serta sense of belonging masyarakat Nagari Kamang Mudiak. Melalui keterlibatan kolektif dalam persiapan dan pelaksanaan ritual, masyarakat mengalami proses kebersamaan yang menumbuhkan solidaritas, rasa memiliki, dan keterikatan emosional Tradisi ini menghadirkan ruang sosial yang memungkinkan terbentuknya shared emotional connection, memperkuat identitas kolektif, serta menjaga keberlanjutan nilai-nilai adat di tengah arus modernisasi. Dengan demikian. Makan Bajamba bukan sekadar ritual budaya, melainkan pilar penting dalam mempertahankan integrasi sosial, identitas budaya, dan keberlangsungan masyarakat adat Minangkabau. REFERENCES