SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 20 NO 1 JANUARY 2026 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga DESAIN WELLNESS AND BEAUTY CENTER DI SURABAYA DENGAN PENDEKATAN BIOPHILIC ARCHITECTURE Design of a Wellness and Beauty Center in Surabaya Using a Biophilic Architecture Approach | Received August 28, 2025 | Accepted October 31, 2025 | Available online January 31, 2026 | | DOI 10. 56444/sarga. 3125 | Page 58 - 68 | Sheryl Tabina Uistean1*. Failasuf Herman Hendra2. Brina Oktafiana3 sheryltabina@gmail. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Surabaya. Indonesia1* herman@yahoo. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Surabaya. Indonesia2 brina@itats. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Surabaya. Indonesia3 ABSTRAK Gaya hidup Masyarakat modern yang ditandai dengan mobilitas tinggi tekanan pekerjaan yang besar seringkali memicu stres, terutama di kota Ae kota padat seperti Surabaya. Hal ini menjadi dasar perancangan Wellness and Beauty Center yang mengusung konsep makro Biophilic Architecture untuk menciptakan suasana penyembuhan yang terhubung dengan alam. Proses perancangan dilakukan dengan mengidentifikasi permasalahan, studi kasus sejenis, analisis lokasi dan juga memperhatikan fasilitas kesehatan yang ada disekitar. Dengan memperhatikan kebutuhan Konsep makro Healing Through Nature selanjutnya diterapkan dalam desain ruang yang mengutamakan interaksi dengan alam, serta bentuk bangunan yang organik, dan pengaturan lahan yang harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Desain ini menciptakan fasilitas spa, yoga, meditasi, pusat kebugaran, serta area relaksasi yang saling terhubung. Bangunan ini dirancang selaras dengan karakter lahan, dengan bentuk massa yang melingkar, sehingga mendukung keselarasan visual sekaligus menciptakan suasana yang menentramkan. Desain ini menunjukkan bahwa penerapan Biophilic Architecture dapat berfungsi sebagai pilihan ruang penyembuhan di lingkugan perkotaan, serta memperkaya penerapan Biophilic Architecture. Pendekatan ini juga berkontribusi pada pengembangan arsitektur berkelanjutan, diiringi dengan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat. Kata kunci: Wellness and Beauty Center. Biophilic Architecture. Desain Organik. Kesehatan Holistik ABSTRCT The modern lifestyle, characterized by high mobility and intense work pressure, often triggers stress, especially in densely populated cities such as Surabaya. This became the basis for the design of the Wellness and Beauty Center, which embraces the macro concept of Biophilic Architecture to create a healing atmosphere connected to nature. The design process involved identifying problems, studying similar cases, analyzing the location and considering existing health facilities in the surrounding area. Taking into account the needs of the macro concept of Healing Through Nature, the design prioritizes interaction with nature, organic building forms, and harmonious land use in relation to the surrounding The design creates interconnected spa, yoga, meditation, fitness center, and relaxation The building is designed in harmony with the character of the land, with a circular mass, supporting visual harmony while creating a soothing atmosphere. This design demonstrates that the application of Biophilic Architecture can serve as a healing space option in urban environments, enriching the application of Biophilic Architecture. This approach also contributes to the development of sustainable architecture, accompanied by improving the overall health of the community. Keywords: Wellness and Beauty Center. Biophilic Architecture. Organic Design. Holistic Health SARGA - VOLUME 20 NO. 1 JANUARY 2026 Desain Wellness And Beauty Center Di Surabaya PENDAHULUAN Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia mengalami banyak perubahan gaya hidup dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat kini semakin sadar akan pentingnya Kesehatan, bukan hanya secara fisik, namun juga mental dan emosional. Dengan jumlah penduduk yang padat dan aktivitas kota yang tinggi, kebutuhan akan fasilitas kesehatan dan kecantikan pun meningkat cukup pesat. Namun, di kota Surabaya, layanan tersebut masih terpisah Ae pisah. Seperti pusat kebugaran, klinik kecantikan, dan spa yang berdiri sendiri Ae sendiri, sehingga menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lengkap dalam satu tempat. Pola hidup di perkotaan seperti Surabaya ini cenderung kurang baik, banyak masyarakat yang mengkonsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, serta tekanan kerja yang tinggi. Hal ini justru memperbesar risiko penyakit kronis, stres, dan juga turunnya kualitas hidup masyarakat (Kurniawan et al. , 2. Sebagai gambarannya, pada jurnal yang dikaji oleh (Febrianti & Prabawati, 2. , memperlihatkan bahwa kebutuhan akan fasilitas kesehatan preventif, semakin meningkat, seiring tingginya penyakit kronis yang ada di perkotaan saat ini. Di tingkat global, industri wellness menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Pada tahun 2022 saja, nilai pasarnya mencapai 5,6 triliun dolar AS. Angka ini memperlihatkan adanya pergeseran cara pandang masyarakat tentang kesehatan, dari yang semula hanya berfokus pada tubuh, kini menjadi pendekatan holistik yang juga mencakup pikiran dan lingkungan (Johnston et al. , 2. Namun, tren global ini belum sepenuhnya hadir di Indonesia, khususnya di kota Surabaya, di mana layanan Wellness dan Beauty Center terpadu masih jarang ditemukan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2024, sebagian besar fasilitas yang ada, seperti gym, spa, klinik kecantikan yang masih berdiri secara terpisah. Kondisi ini menunjukkan adanya celah layanan, namun juga sekaligus membuka peluang cukup besar untuk menghadirkan pusat kesehatan dan kecantikan yang komprehensif. Dalam arsitektur, dikenal konsep healing environment yang berfokus pada penciptaan ruang penyembuhan, umumnya pada konteks rumah sakit, atau kesehatan. Sementara itu, konsep healing through nature lebih menekankan peran langsung alam dalam memulihkan kondisi fisik dan psikologis manusia. Dari kedua konsep ini, biophilic architecture dapat dipahami sebagai pendekatan desain yang menurunkan gagasan healing through nature ke dalam bentuk penerapan konkrit melalui integrasi elemen alami pada bangunan (Rianne & Anggraeni, 2. Dengan demikian, biophilic architecture bukan hanya sebatas tren, melainkan strategi desain yang mampu menjawab kebutuhan menyeluruh masyarakat perkotaan. Pada penelitian sebelumnya juga mendukung efektivitas pendekatan ini. (Winata et al. misalnya, menemukan bahwa penerapan desian berkelanjutan berbasis alam di pusat kebugaran Bandung dapat meningkatkan kenyamanan pengguna. (Akinola & Ini-Ukim, 2. juga menegaskan bahwa arsitektur penyembuhan dapat memberi dampak yang positif, tidak hanya pada kondisi fisik saja, tetapi juga pada keseimbangan mental. Sementara itu, di ranah akademik lokal juga banyak membahas arsitektur berkelanjutan dan integrasi ruang kota dengan alam, seperti dalam kajian (Sarwo et al. , 2. dan juga studi konservasi dalam . Meskipun isu wellness and beauty secara spesifik masih belum banyak dikaji, namun kedua studi tersebut dapat memperkuat relevansi penelitian dengan konteks akademik di Indonesia. Berdasarkan kondisi dan literatur tersebut, penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana merancang wellness and beauty center terpadu di Surabaya yang dapat menggabungkan kesehatan fisik, estetika kecantikan, dan juga ruang pemulihan mental dalam satu tempat, dengan prinsip Biophilic Architecture? . tujuannya adalah menghadirkan rancangan fasilitas holistik yang tidak hanya fungsional, namun juga sehat, memberikan kenyamanan, dan juga menyatu dengan Harapannya, penelitian ini bisa memberikan model baru integrasi wellness dan beauty center di perkotaan seperti Surabaya, sekaligus memperkaya literatur lokal, dan juga dapat memberikan arahan praktis bagi arsitek, pengelola fasilitas, maupun pembuat kebijakan. SARGA - VOLUME 20 NO. 1 JANUARY 2026 Sheryl Tabina Uistean. Failasuf Herman Hendra. Brina Oktafiana REVIEW LITERATUR Wellness Center Wellness Center merupakan fasilitas yang dirancang untuk mendukung dan juga meningkatkan kualitas yang mencakup integrasi layanan kesehatan yang meliputi kesehatan fisik, mental, emosional, dan sosial. Menurut (Sekaran et al. , 2. , penerapan lingkungan penyembuhan di wellness center terkait dengan pengurangan stres perkotaan dan peningkatan kesejahteraan penghuni perkotaan. Tren internasional menunjukkan bahwa pengembangan wellness center semakin terfokus pada integrasi layanan yang berbeda di satu lokasi untuk memberikan efisiensi dan kemudahan akses (Hettler Bill, 2. Terkait dengan konteks desain ini, wellness center dinilai tidak hanya sebagai pusat layanan kesehatan, namun juga sebagai tempat melalui arsitektur, kegiatan restoratif, dan rehabilitatif yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, fungsi wellness center membangun dasar untuk merumuskan zonasi pusat, program ruang, dan juga strategi desain yang dibahas secara rinci dalam bagian hasil dan diskusi. Beauty Center Beauty Center merupakan fasilitas yang menawarkan layanan kecantikan dengan tujuan perawatan kulit, rambut dan tubuh (Johnston et al. , 2. Namun, dalam perkembangan terkini, layanan beauty center juga mencakup beberapa layanan dalam kecakupan kesehatan serta kesejahteraan mental dan emosional. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan praktik self Ae care dalam keseharian, dimana layanan perawatan dilakukan tidak sekedar untuk keperluan kecantikan, namun juga untuk perawatan kesehatan secara holistik. Menurut (Bodeker Geryy, 2. , dalam laporan Global Wellness Institute menunjukkan dalam laporan yang sama bahwa spa dan perawatan kecantikan adalah merupakan salah satu bentuk self Ae love yang dilakukan dalam keseharian dan restorasi dari pola pikir yang dapat mengganggu keseharian dan juga keseimbangan. Global Wellness Institute dalam konteks desain, beauty center tidak hanya dilihat sebagai tempat perawatan fisik saja, namun juga sebagai ruang restoratif yang dapat berfungsi untuk memenuhi aspek kenyamanan sensorik, privasi, dan pengalaman emosional. Dengan demikian, aspek desain yang berhubungan dengan pergerakan dalam ruang, kontrol cahaya, penggunaan material alami, dan juga organisasi sirkulasi ruang, menjadi panduan konseptual dalam perumusan zonasi dand esain yang angan diuraikan dalam bab hasil dan diskusi dibawah ini. Biophilic Architecture Biophilic Architecture merupakan pendekatan yang berfokus pada desain bangunan yang menekankan pentingnya ikatan antara manusia dengan alam yang ada disekitarnya. Menurut (Al Khatib et al. , 2. , prinsip Ae prinsip biophilia dalam desain secara positif dapat meningkatkan kenyamanan suatu ruang sekaligus dapat mengurangi tingkat stres para penggunanya. Pendekatan ini tidak hanya terbatas pada aspek visualnya saja, namun juga relevan dengan integrasi pengalaman multisensorik seperti suara alam, cahaya alami, dan aroma yang dihasilkan dari tumbuhan. Sedangkan (Yin et al. , 2. , menyatakan betapa pentingnya cahaya alami, keberadaan tanaman, dan juga integrasi bahan alami untuk dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang, terutama untuk mengurangi stres sehari Ae hari dan mempromosikan suasana yang menenangkan dan juga memberikan kedamaian . Selain itu pada literatur lainnya juga menyatakan bahwa elemen biophilic dapat berupa cahaya alami, akses menuju pemandangan alam, unsur air, bentuk organik, tanaman, material alami, dan juga pergerakan udara untuk meningkatkan kenyamanan ruang (Zhong et al. Selain memberikan dampak positif untuk mental penggunanya, biophilic architecture juga memiliki dampak yang positif terhadap keberlanjutan lingkungan. Menurut pendapat (Al Sayyed & Al-Azhari, 2. , bahwa integrasi tanaman, material lokal, dan strategi desain pasif dapat menciptakan ruang yang bermanfaat secara ekologis dan efisien energi. Dari perspektif desain ini, prinsip Ae prinsip biophilic architecture memungkinkan adanya ruang pemulihan yang memfasilitasi keterlibatan dengan alam dan juga mempromosikan pengalaman spasial yang lebih sehat dan utuh. SARGA - VOLUME 20 NO. JANUARY 2026 Desain Wellness And Beauty Center Di Surabaya METODE Penelitian perancangan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sebagai dasar perancangan arsitektur untuk menghasilkan rancangan Wellness and Beauty Center di Surabaya dengan fokus pada penerapan konsep Biophilic Architecture. Pendekatan ini dipilih guna memadukan kajian teoritis dengan analisis kondisi eksisting, sehingga menghasilkan desain yang kontekstual dan sesuai dengan tema Biophilic Architecture. Proses penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yang dimulai dengan pengumpulan data primer melalui obeervasi langsung di lokasi tapak, dokumentasi kondisi eksisting, serta pencatatan potensi dan juga kendala lingkungan. Selain itu, data sekunder diperoleh melalui studi literatur yang berkaitan dengan Wellness and Beauty Center dan juga mengenai penerapan elemen Ae elemen Biophilic dalam desain bangunan yang bersumber dari buku, jurnal, dan laporan resmi. Pada tahap berikutnya adalah analisis, yang meliputi analisis tapak serta analisis kebutuhan runag berdasarkan standart dan studi preseden terkait Wellness and Beauty Center berkonsep Biophilic. Selanjutnya dilakukan perumusan konsep makro dan mikro pada Pada tahap yang terakhir adalah tahap perancangan yang dilakukan melalui pengembangan bentuk massa, zoning, dan konfigurasi ruang dengan menerapkan elemen Ae elemen biophilic yang relevan. Pendekatan ini sesuai dengan penelitian oleh (Aabouelela, 2. ,yang menunjukkan bahwa integrasi elemen alami ke dalam ruang binaan dapat berkontribusi pada kesehatan mental serta kesejahteraan dan juga meningkatkan kualitas hidup penggunanya. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Wellness and Beauty Center di Surabaya berfokus pada penerapan konsep Biophilic Architecture dengan konsep makro yang digunakan yaitu Healing Through Nature, dengan menekankan integrasi elemen alami dalam ruang bangunan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pengguna. Pendekatan ini diterapkan mulai dari pengelolaan tapak hingga pembentukkan elemen dari desain bangunan. Tapak dirancang dengan memperhatikan potensi alami yang ada di lingkungan, seperti arah angin, pencahayaan dan juga vegetasi pada eksisting. Tatanan lahan juga dibentuk secara inklusif serta ramah lingkungan. Hal ini diperlihatkan melalui kehadiran taman terapeutik, jalur pedistrian dengan vegetasi di sekitarnya, serta adanya area transisi antara ruang dalam dan luar (Adhitya Citra Susanto et al. , 2. Sehingga pengguna dapat merasakan keterhubungan langsung dengan alam. Bentuk pada bangunan ini mengadopsi geometri organik yang dapat menciptakan kenyamanan visual dan juga psikologis. Selain itu adanya interaksi multisensori dengan elemen alami terbukti mampu menurunkan tingkat stres pengguna bangunan (Yin et al. , 2. Sehingga digunakannya bentuk bangunan dengan fasad melengkung, adanya bukaan bukaan lebar yang alami, serta maksimalnya pencahayaan yang masuk menjadi penekanan strategi utama desain dalam Material yang digunakan pada bangunan ini juga dipilih berdasarkna karakter ilmiah, seperti batu alam, kayu, dan juga bambu. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan tekstur dan juga suasana yang dapat selaras dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Selain itu penggunaan warna Ae warna alami diterapkan untuk dapat memberikan efek yang menenangkan secara psikologis, sekaligus dapat memperkuat koneksi antara pengguna dengan alam yang ada disekitar bangunan. Selain itu, vegetasi dan juga ruang terbuka hijau ditempatkan di antara area dengan aktivitas Vegetasi ini befungsi sebagai ruang relaksasi setelah beraktivitas. Integrasi vegetasi vertikal dan taman juga diterapkan agar elemen alam semakin menyatu di berbagai sudut bangunan. Mengingat kondisi iklim panas lembap yang dimiliki kota Surabaya, desain ini turut mengadopsi prinsip arsitektur pada tropis seperti orientasi bangunan yang optimal, penghawaan silang alami, serta penggunaan material lokal untuk menciptakan kenyamanan termal bagi penggunanya. Dengan demikian, penerapan Biophilic Architecture pada Wellness and Beauty Center ini tidak hanya dapat memperkuat nilai estetikanya saja, namun juga dapat mendukung fungsi kesehatan, kenyamanan, dan juga keberlanjutan lingkungan secara menyeluruh. SARGA - VOLUME 20 NO. 1 JANUARY 2026 Sheryl Tabina Uistean. Failasuf Herman Hendra. Brina Oktafiana Deskripsi Tapak Wellness and Beauty Center di rancang di Jalan Pakuwon Trade Center. Babatan. Kec. Wiyung. Surabaya. Berdiri diatas lahan seluas 10. 000 m2 . perancangan Kawasan ini mengintegrasikan prinsip Biophilic Architecture pada ruang, bentuk bangunan, dan tatanan lahan, dengan perhatian pada keberlanjutan dan juga efisiensi energi melalui pemanfaatan sumber daya alami. Kawasan ini nantinya dilengkapi fasilitas utama, service dan juga Gambar 1. Lokasi site . , bentuk site . Tampak SD IT Alam Nurul Islam. Yogyakarta dari Jembatan Pundung (Kana. Sumber: Dokumentasi dan Analisis Penulis . Bentuk Tatanan Lahan Tatanan lahan dalam perancangan Wellness and Beauty Center di Kota Surabaya dirancang dengan pendekatan Biophilic Architecture, yang mengimplementasikan penyatuan bangunan terhadap alam yang ada di sekitarnya. Pola sirkulasi pada site dirancang dengan bentuk melengkung mengikuti bentuk lahan dan pola organik dari alam, sehingga dapat menciptakan pergerakan yang alami dan juga tidak kaku. Area terbuka hijau ditempatkan sebagai elemen utama yang menjadi pengikat antar bangunan, serta difungsikan sebagai ruang komunal yang dapat mendukung kegiatan bersantai, reflektif, dan juga sosial. Selain itu juga sebagai ruang terbuka publik yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti tempat duduk alami, taman terapeutik, dan juga jalur pejalan kaki semi-tertutup. Pada bagian tengah kawasan diisi dengan taman utama yang berfungsi sebagai pusat orientasi sirkulasi. Taman ini juga dilengkapi dengan tempat bersantai yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas bersantai para pengantarnya, atau juga dapat sebagai tempat untuk aktivitas komunitas maupun relaksasi di tempat terbuka. Susunan bangunan dirancang mengitari taman pusat untuk menciptakan hubungan visual dan fungsional yang kuat antara ruang dalam dan luar. Penataan ini mendukung prinsip transparansi visual serta integrasi alami ke dalam ruang. Ketiga bangunan utama yang mengelilingi area pusat terdisi dari zona Wellness center, zona Beauty Center dan juga area penerimaan. Zona Wellness berfungsi untuk aktivitas terapi, relaksasi, dan juga kebugaran tubuh. Sedangkan untuk zona Beauty lebih difokuskan pada layanan perawatan Dan pada zona yang terakhir yaitu zona penerimaan mencakup area pengelola, gym equipment dan juga area untuk menunggu, pada zona ini digunakan untuk menunjang kegiatan utama pada kedua bangunan disampingnya. Orientasi bangunan diatur mengikuti arah Utara Ae Selatan untuk dapat memaksimalkan pencahayaan alami yang datang dari arah Timur menuju bagian SARGA - VOLUME 20 NO. JANUARY 2026 Desain Wellness And Beauty Center Di Surabaya Barat bangunan. Orientasi tersebut dilakukan untuk menjaga kenyamanan termal sekaligus efisiensi pada energi. Penerapan Biophilic Architecture pada rencana tapak diwujudkan melalui taman terapeutik pada pusat kawasan, koridor hijau antar bangunan, serta pada jalur pejalan kaki bervegetasi, yang menghadirkan pengalaman multisensori dan juga dapat memperkuat keterhubungan dengan alam sekitar. KETERANGAN: Gambar 2. Rancangan Tatanan Lahan Sumber: Analisis Penulis, 2025 Desain Arsitektur dan Material Desain arsitektur pada perancangan Wellness and Beauty Center ini mengedepankan bentuk organic yang mengalir dan harmonis dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Bentuk bangunan yang melengkung dan juga tidak kaku ini mendukung tema yang digunakan pada bangunan yaitu Biophilic Architecture dengan menciptakan suasana yang natural dan nyaman bagi pengguna bangunan. Fasad pada bangunnan ini juga menggunakan material alami dan lokal yang ramah lingkungan seperti kayu dan juga bata ekspos. Material ini juga dapat memperkuat kesan hangat dan dekat dengan alam. Penggunaan material ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika saja, namun juga dapat sebagai solusi keberlanjutan yang mendukung pengurangan jejak karbon yang sedang marak terjadi. Atap pelana dipilih pada bangunan ini sebagai bentuk atap pada massa utama karena memiliki keunggulan dari segi fungsional dan juga estetika yang sesuai dengan iklim tropis seperti kota Surabaya. Bentuk atap ini akan memungkinkan air hujan dapat mengalir dengan baik, sehingga dapat mengurangi risiko rembesan dan juga kerusakan pada strukturnya. Selain itu, atap pelana juga mendukung sirkulasi udara yang optimal melalui ventilasi di bagian ujung atap, sehingga dapat membantu menjaga suhu ruang. Material yang digunakan pada atap yaitu bitumen yang memiliki sifat kedap air, tahan cuaca tropis, ringan, dan juga mudah dipasang, sehingga dapat mengurangi beban struktur. Estetikanya sederhana namun fungsional, sejalan dengan konsep organik yang digunakan pada bangunan, dan juga dapat mendukung keberlanjutan melalui daya tahan yang panjang dan juga perawatan minimal sesuai dengan prinsip Biophilic Architecture. Bukaan jendela yang besar dan orientasi bangunan yang tepat memungkinkan masuknya pencahayaan alami secara optimal, sehingga dapat mengurangi kebutuhan energi untuk penerangan dalam bangunan. Pada keseluruhan desain dan pemilihan material ini dirancang untuk menciptakan ruang yang nyaman, estetis, dan berkelanjutan, sesuai dengan prinsip Ae prinsip Biophilic Architecture. SARGA - VOLUME 20 NO. 1 JANUARY 2026 Sheryl Tabina Uistean. Failasuf Herman Hendra. Brina Oktafiana Material pada atap merupakan bitumen. Bukaan yang lebar dapat memaksimalkan pencahayaan yang masuk Material pada secondary skin merupakan kayu dan bata ekspos. Gambar 4. Desain Bangunan Wellness and Beauty Center Sumber: Analisa Penulis, 2025 Prinsip Keberlanjutan dan Efisiensi Energi Perancangan Wellness and Beauty Center ini tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dengan memaksimalkan efisiensi energi dan pemanfaatan sumber daya alami. Bangunan dirancang agar pencahayaan alami dapat masuk secara optimal melalui orientasi yang tepat dan bukaan jendela yang besar, sehingga dapat mengurangi kebutuhan pencahayaan buatan. Meskipun ventilasi pada bangunan ini menggunakan sistem penghawaan buatan (AC), efisiensi energi tetap diperhatikan dengan pemilihan teknologi AC hemat energi dan juga pengaturan suhu yang tepat. Area terbuka hijau dan juga lanskap air ini juga dapat berfungsi sebagai penyeimbang iklim mikro, selain itu juga dapat menurunkan suhu yang ada disekitarnya dan juga dapat meningkatkan kualitas udara di lingkungan. Material lokal yang ramah lingkungan seperti kayu dan bata ekspos digunakan untuk mengurangi jejak karbon dan konsumsi energi selama konstruksi dan juga pemeliharaan. Sistem pengelolaan air hujan dapat dimanfaatkan untuk irigasi taman dan juga pengisian lanskap air, sementara itu material atap bitumen yang tahan lama dan ringan dapat mendukung efisiensi struktural dan perawatan yang minimal. Dengan integrasi elemen tersebut. Wellness and Beauty Center ini dirancang agar dapat memberikan kenyamanan, estetis, ramah lingkungan, dan juga hemat energi sesuai dengan prinsip Biophilic Architecture. Dengan penerapan strategi keberlanjutan tersebut. Wellness and Beauty Center tidak hanya dapat memberikan kenyamanan dan keindahan bagi penggunanya, namun juga dapat berkontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan serta efisiensi sumber daya alam untuk masa depan yang lebih baik Pencahayaan optimal, dan juga bukan lebar, dikombinasi dengan secondary skin untuk optimasi pencahayaan Gambar 5. Sketsa konsep pencahayaan alami pada bangunan Sumber: Analisa Penulis, 2025 SARGA - VOLUME 20 NO. JANUARY 2026 Desain Wellness And Beauty Center Di Surabaya Integrasi Prinsip Biophilic Architecture dalam Sistem Bangunan Integrasi prinsip Biophilic Architecture dalam sistem bangunan Wellness and Beauty Center diwujudkan melalui berbagai elemen yang menghubungkan pengguna bangunan dengan alam secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu penerapan utamanya adalah melalui pencahayaan alami yang dimaksimalkan dengan bukaan jendela yang besar dan juga orientasi bangunan yang tepat, sehingga pengunjung dapat merasakan perubahan Cahaya sepanjang hari dan juga dapat memiliki koneksi visual yang kuat dengan lingkungan luar. Selain itu, penggunaan material yang alami seperti kayu dan bata ekspos pada bangunan cukup memperkuat Kesan alami dan juga dapat memberikan sentuhan yang hangat dalam ruang interiornya. Selain pencahayaan dan juga material yang digunakan pada bangunan, sistem bangunan ini juga dirancang untuk mengakomodasi vegetasi dan juga elemen air yang menjadi bagian dari prinsip Biophilic Architecture. Lanskap air yang ada di dalam site ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, namun juga dapat membantu menyeimbangkan iklim makro dengan menurunkan suhu udara di sekitar bangunan. Area terbuka hijau dan jalur pedestrian yang ada di dalam bangunan dengan vegetasi di sekitarnya juga memungkinkan para penggunanya dapat berinteraksi dengan lingkungan alami, memberikan ruang relaksasi dan juga stimulasi sensorik yang penting untuk kesejahteraan fisik dan juga mental dari para penggunanya. Selain itu, pemilihan material alami seperti kayu, bambu, dan batu alam pada elemen interior juga dapat memberikan sensasi hangat dan menyatu dengan alam, sekaligus dapat menyeimbangkan suasana ruang yang menggunakan sistem penghawaan buatan. Aroma terapi dari vegetasi aromatik atau essential diffuser juga ditempatkan strategis untuk memperkuat pengalaman multisensorik dari pengguna bangunannya. Dengan pendekatan ini, bangunan tetap mampu menghadirkan nuansa Biophilic Architecture. Meskipun sistem ventilasi pada bangunan masih menggunakan penghawaan buatan, namun konsep Biophilic Architecture tetap dijaga melalui pengaturan suhu yang nyaman dan juga integrasi ruang terbuka hijau yang dapat memperbaiki kualitas udara. Sistem pengelolaan air hujan yang mendukung keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian dari sistem bangunan, menegaskan komitmen pada efisiensi sumber daya. Dengan demikian, keseluruhan sistem bangunan tidak hanya berfokus pada fungsi dan juga estetikanya saja, namun juga menghadirkan pengalaman alami yang holistik bagi penggunanya sesuai dengan prinsip pada Biophilic Architecture. Gambar 6. Penggunaan Material di Wellness and Beauty Center Pada bagian eskterior menggunakan material kayu yang berwarna coklat . Material yang digunakan pada interior kayu dengan dominasi warna coklat . Sumber: Analisa Penulis, 2025 Peran Ruang Terbuka dalam Mendukung Konsep Biophilic Architecture Ruang terbuka hijau memegang peranan penting dalam mendukung konsep Biophilic Architecture pada Wellness and Beauty Center ini. Area terbuka yang dipenuhi dengan vegetasi alami dan juga lanskap yang dirancang sedemikian rupa tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika saja, namun juga sebagai ruang yang mampu meningkatkan kualitas udara, menurunkan suhu mikro SARGA - VOLUME 20 NO. 1 JANUARY 2026 Sheryl Tabina Uistean. Failasuf Herman Hendra. Brina Oktafiana lingkungan, dan juga untuk menciptakan suasana yang menenangkan bagi pengguna bangunan. Dengan adanya ruang terbuka hijau, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan alam, yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan fisik dan mental serta dapat mengurangi stres Selain itu, ruang terbuka ini dirancang sebagai area multifungsi yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari relaksasi, meditasi, hingga interaksi sosial. Jalur pedestrian yang bervegetasi menghubungkan berbagai zona dalam kawasan, serta memungkinkan pengalaman berjalan yang nyaman dan menyatu dengan alam. Integrasi lanskap air sebagai elemen air dalam ruang terbuka ini semakin memperkaya sensasi alami dan juga membantu menyeimbangkan iklim makro kawasan, serta dapat menciptakan lingkungan yang sejuk dan juga nyaman sepanjang tahun. Dengan demikian, peran ruang terbuka hijau dalam Wellness and Beauty Center tidak hanya sebagai bagian penunjang estetikanya saja, namun juga sebagai elemen vital yang dapat merealisasikan prinsip Ae prinsip Biophilic Architecture. Ruang ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kenyamanan dan juga kesejahteraan pengguna bangunannya, sekaligus dapat mendukung keberlanjutan lingkungan secara keseluruhan. Gambar 6. Penggunaan Material di Wellness and Beauty Center. Eskterior kayu dengan warna coklat . Pada bagian furniture di bagian luar bangunan menggunakan material kayu dengan warna putih . Sumber: Analisa Penulis, 2025 KESIMPULAN Perancangan Wellness and Beauty Center di Kota Surabaya ini mengusung pendekatan Biophilic Architecture sebagai strategi desain utama yang bertujuan untuk menghadirkan ruang penyembuhan yang holistic di tengah lingkungan urban yang padat dan juga penuh tekanan. Pendekatan ini diimplementasikan melalui konsep makro Healing Through Nature yang dijabarkan ke dalam konsep mikro berupa bentuk bangunan organik, ruang interaksi dengan alam, serta tatanan lahan yang menyatu secara harmonis dengan elemen Ae elemen alami. Desain massa bangunan yang melengkung dan juga dinamis ini juga menyesuaikan dengan karakteristik tapak serta orientasi matahari untuk dapat menciptakan kenyamanan visual dan juga koneksi emosional dengan lanskap yang ada di sekitarnya. Penggunaan material alami, pencahayaan alami, dan juga integrasi elemen multisensorik seperti vegetasi aromatik dan visual koneksi menuju taman juga menjadi bagian dari strategi untuk menghadirkan suasana yang tenang dan juga restoratif. Meskipun sistem penghawaan buatan masih digunakan dalam bangunan sebagai respon terhadap iklim tropis lembab di Surabaya, nuansa Biophilic Architecture dapat tetap terwujud secara utuh melalui pemilihan material, sistem pencahayaan, dan juga pengelolaan ruang pada bangunan. Penambahan ruang transisi semi terbuka dan area komunal juga dapat memperkuat pengalaman refleksi, relaksasi, dan juga interaksi dengan alam dalam skala yang manusiawi. SARGA - VOLUME 20 NO. JANUARY 2026 Desain Wellness And Beauty Center Di Surabaya Melalui pendekatan ini. Wellness and Beauty Center ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas kesehatan dan juga kecantikan saja, namun juga dapat sebagai ruang penyembuhan psikis dan juga emosional bagi masyarakat urban. Selain itu, diharapkan desain ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan fasilitas serupa yang mengutamakan kesehatan Biophilic Architecture, keberlanjutan dan juga kedekatan antara manusia dengan alam disekitarnya. DAFTAR PUTAKA Aabouelela. Biophilic Design As An Approach Towards Integrating Nature Into The Design Of Residential Units To Improve Human Mental Health And Well-Being Section A-Research Paper Eur Article. https://doi. org/10. 48047/ecb/2023. Adhitya Citra Susanto. Hendra Siwi. , & Fatimah. Jurnal Ilmiah Rekayasa Dan Inovasi Accredited. , 107Ae114. http://journal. id/index. php/asiimetrik/ Akinola. , & Ini-Ukim. The Role of Healing Architecture in Promoting Physical and Mental Well-Being in Wellness Centres: A Case Study of Abuja. Nigeria. Civil Engineering and Architecture, 13. , 3160Ae3177. https://doi. org/10. 13189/cea. Al Khatib. Samara. , & Ndiaye. A systematic review of the impact of therapeutical biophilic design on health and wellbeing of patients and care providers in healthcare services In Frontiers in Built Environment (Vol. Frontiers Media SA. https://doi. org/10. 3389/fbuil. Al Sayyed. , & Al-Azhari. Investigating the role of biophilic design to enhance comfort in residential spaces: human physiological response in immersive virtual environment. Frontiers in Virtual Reality, 6. https://doi. org/10. 3389/frvir. Amin. Jejak Bangunan Oei Tiong Ham di Kota Lama Semarang . Bodeker Geryy. Initiative Micro-Trends 2025 About the Global Wellness Institute Initiatives. Global Wellness Institute. Febrianti. , & Prabawati. IMPLEMENTASI PELAKSANAAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI PUSKESMAS PUCANG SEWU KOTA SURABAYA. Hettler Bill. Six Dimensions of Wellness : Introduction and Summary. National Wellness Institute. July. Johnston. Yeung. , & Callender. GWI-WE-Monitor-2023_FINAL. Global Wellness Economy Monitor . https://globalwellnessinstitute. org/wp-content/uploads/2023/11/GWIWE-Monitor-2023_FINAL. Kurniawan. Sigit. Trompet. Yunir. Tarigan. Harbuwono. Soewondo, . Tahapary. , & de Mutsert. Lifestyle and clinical risk factors in relation with the prevalence of diabetes in the Indonesian urban and rural populations: The 2018 Indonesian Basic Health Survey. Preventive Medicine Reports, https://doi. org/10. 1016/j. Rianne. , & Anggraeni. Applying of human-centered design in green tea new product IOP Conference Series: Earth and Environmental Science , 1063. https://doi. org/10. 1088/1755-1315/1063/1/012045 Sarwo. Sudrajat. , & Maharani. PENERAPAN PENDEKATAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) PADA RUTE BRT TRANS SEMARANG KORIDOR 7 BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA The Application of The Transit Oriented Development (TOD) Approach on The BRT Trans Semarang Route at Corridor 7 Based On User Perception. SARGA: JOURNAL ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME , https://doi. org/10. 56444/sarga. Sekaran. Bima Pamungkas. Setyowati. Prihanto. , & Rahadini. Canopy 13 . CANOPY: Journal of Architecture WELLNESS CENTER WITH HEALING ENVIRONMENT APPROACH IN TANGERANG CITY. https://journal. id/journals/canopy/index Winata. Simarmata. , & Edward. Sustainable Interior Design for a Traditional Chinese Medicine Wellness Center in Bandung Using a Biophilic and Natural Analogues Approach. SARGA - VOLUME 20 NO. 1 JANUARY 2026 Sheryl Tabina Uistean. Failasuf Herman Hendra. Brina Oktafiana IOP Conference Series: Earth Environmental https://doi. org/10. 1088/1755-1315/1488/1/012074 Science . Yin. Zhu. , & Yuan. Health Impacts of Biophilic Design from a Multisensory Interaction Perspective: Empirical Evidence. Research Designs, and Future Directions. In Land (Vol. Issue Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI). https://doi. org/10. 3390/land13091448 Zhong. Schryder. , & Bekkering. Biophilic design in architecture and its contributions to health, well-being, and sustainability: A critical review. In Frontiers of Architectural Research (Vol. Issue 1, pp. 114Ae. Higher Education Press Limited Company. https://doi. org/10. 1016/j. UCAPAN TERIMAKASIH