EDUSCOPE. Juli, 2024. Vol. 10 No. 01 p-ISSN :2460Ae4844 e-ISSN : 2502 Ae 3985 Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Meningkatkan Green Entrepreneurship Indah Nurhidayah1. Nudiya Amburika2. Novi Zahrotul Chasanah3. Rohmad Lukman Hakim4. Muhammad Jalu Bagas Putra5. Ospa Pea Yuanita Meishanti6 Universitas KH. Wahab Hasbullah e-mail korenpondensi: indahnurhidayah65@gmail. ABSTRACT Banana is a versatile plant that is utilized from the roots to the skin, which is usually processed into banana chips in the home industry. However, the increase in banana chip production has caused an increase in banana peel waste that is disposed of without optimal utilization. This causes negative environmental impacts such as bad odors. Therefore, innovation and awareness are needed to manage banana peel waste sustainably in order to reduce negative impacts on the environment and create value-added products that encourage the development of Green entrepreneurship. This study aims to utilize banana peel waste as a raw material in the production of organic bar soap. The method applied is by using a workshop . Training in making organic soap from kepok banana peel waste is designed to strengthen the spirit of sustainable entrepreneurship among students of KH. Wahab Hasbullah University. The results of this study provide a significant contribution to improving Green entrepreneurship practices through sustainable innovation in utilizing kepok banana peel waste into organic bar soap. By adopting the concept of making organic bar soap, researchers can not only reduce the negative impact of banana peel waste on the environment, but also create quality products. Organic bar soap has the potential to meet consumer demand who are increasingly concerned with natural and sustainable products. KEYWORDS: banana peel, green entrepreneurship, sustainable innovation, organic soap ABSTRAK Pisang merupakan tanaman serbaguna yang dimanfaatkan dari akar hingga kulitnya, yang biasanya diolah menjadi keripik pisang dalam industri rumahan. Namun, peningkatan produksi keripik pisang menyebabkan peningkatan limbah kulit pisang yang dibuang tanpa pemanfaatan Hal ini menyebabkan dampak lingkungan negatif seperti bau busuk. Oleh karena itu, perlu inovasi dan kesadaran untuk mengelola limbah kulit pisang secara berkelanjutan guna mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan menciptakan produk bernilai tambah yang mendorong perkembangan Green entrepreneurship. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan baku dalam produksi sabun batang organik. Metode yang diterapkan adalah dengan menggunakan workshop . Pelatihan pembuatan sabun organik dari limbah kulit pisang kepok, dirancang untuk memperkuat semangat kewirausahaan berkelanjutan di kalangan mahasiswa Universitas KH. Wahab Hasbullah. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam rangka peningkatan praktik Green entrepreneurship 64 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship melalui inovasi berkelanjutan dalam pemanfaatan limbah kulit pisang kepok menjadi sabun batang organik. Dengan mengadopsi konsep pembuatan sabun batang organik, para peneliti tidak hanya dapat mengurangi dampak negatif limbah kulit pisang terhadap lingkungan, tetapi juga menciptakan produk yang berkualitas. Sabun batangan organik berpotensi memenuhi permintaan konsumen yang semakin peduli dengan produk alami dan berkelanjutan. KATA KUNCI: kulit pisang, green entrepreneurship, inovasi berkelanjutan, sabun organik Article History Received: 19 Juli 2024 Revised: 25 Juli 2024 Accepted: 31 Juli 2024 PENDAHULUAN Pembangunan ekonomi merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan citacita bangsa yang termaktub dalam UUD 1945. Untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan meningkatkan intelektualitas bangsa. Indonesia perlu memperkuat kemandiriannya dalam ranah ekonomi. Salah satu di antara esensi berkembangnya pemikiran ekonomi adalah dengan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menitikberatkan pada suatu tujuan yakni kesejahteraan. Kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan melalui inovasi berkelanjutan (Pratama dan Yustika, 2. Inovasi berkelanjutan merupakan suatu produk, layanan, atau proses untuk menghasilkan manfaat sosial dan lingkungan jangka panjang sekaligus menciptakan keuntungan ekonomi bagi perusahaan dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang (Lee, 2. Pisang merupakan tanaman serbaguna yang dimanfaatkan dari akar hingga Di Indonesia. Pisang Kepok (Musa paradisiaca L. ) banyak ditanam sebagai tanaman pekarangan atau perkebunan skala kecil. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara dan tumbuh baik di wilayah tropis dan subtropis (Danang, 2. Selain buahnya yang dapat dimanfaatkan secara langsung. Musa paradisiaca L. juga diolah menjadi keripik pisang dalam industri rumahan. Namun, peningkatan produksi keripik pisang menyebabkan peningkatan limbah kulit pisang yang sering dibuang tanpa pemanfaatan optimal. Perlakuan tidak tepat terhadap limbah ini dapat menyebabkan dampak lingkungan yang negatif, termasuk bau yang mengganggu. Oleh karena itu, perlu inovasi dan kesadaran untuk mengelola limbah kulit pisang secara berkelanjutan guna mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan (Mekhiran, et al. Penggunaan limbah kulit pisang sebagai bahan baku untuk menciptakan produk bernilai tambah menjadi dasar yang kokoh dalam mendorong perkembangan Green EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 65 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship Konsep ini menekankan pada bagian khusus dari kewirausahaan yang fokus pada solusi terhadap masalah lingkungan dan perubahan sosial tanpa merugikan Lebih dari sekadar melahirkan produk dan layanan ramah lingkungan. Green entrepreneurship dianggap sebagai paradigma bisnis baru dengan motivasi yang lebih luas (Saari & Salo, 2. Green entrepreneurship adalah peningkatkan ekosistem bisnis dan tempat bisnis beroperasi serta pada saat yang sama mendorong perubahan praktik bisnis yang berdampak pada lingkungan alam dan masyarakat. Green entrepreneurship merupakan respons terhadap meningkatnya tuntutan untuk menghentikan bisnis yang merusak lingkungan dan meningkatnya kesediaan konsumen untuk membayar pengurangan kegiatan yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Pengusaha ramah lingkungan memanfaatkan peluang bisnis yang dapat menghasilkan peningkatan keberlanjutan ekologi (Saari & Salo, 2. Green entrepreneurship merupakan berwirausaha dengan ramah lingkungan (Meishanti et all, 2. Permasalahan Isu lingkungan, seperti penipisan lapisan ozon, pemanasan global, dan pencemaran air, tanah, dan udara, menjadi perhatian serius. Upaya saat ini menuju Green Economy menegaskan kesadaran akan pentingnya lingkungan untuk masa depan. Namun, perjalanan menuju ekonomi hijau membutuhkan waktu dan kerjasama antara pemerintah, perusahaan, institusi pendidikan, masyarakat, dan konsumen. Dalam konteks ini, wirausahawan memiliki peran penting dengan memperhatikan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan masyarakat dalam praktiknya. (Ardianingsih, 2. Kesejahteraan masyarakat, sebagai peningkatan kualitas hidup, dapat ditingkatkan melalui inovasi berkelanjutan yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan dalam jangka panjang. (Lee, 2. Bisnis UMKM yang menghasilkan keripik pisang dalam jumlah besar seringkali menghasilkan limbah kulit pisang yang terbuang sia-sia tanpa pengolahan lanjutan. Dalam rangka meningkatkan nilai ekonomis secara berkelanjutan, program ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan baku dalam produksi sabun batang organik. Pemanfaatan limbah kulit pisang dalam produksi sabun batang organik dapat menciptakan peluang bisnis yang berbasis ramah lingkungan. Dengan mengadopsi konsep pembuatan sabun organik, kita tidak hanya dapat mengurangi dampak negatif limbah kulit pisang terhadap lingkungan, namun juga dapat menciptakan produk yang berkualitas. Sabun batang organik memiliki potensi untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin peduli dengan produk alami dan Dengan merancang bisnis ini secara inovatif, peneliti tidak hanya dapat mengatasi permasalahan limbah kulit pisang, namun juga dapat meraih kesuksesan EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 66 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship dalam industri yang mengutamakan keberlanjutan dan kesadaran lingkungan. METODE Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan workshop . Pelatihan pembuatan sabun organik dari limbah kulit pisang kepok, dirancang untuk memperkuat semangat kewirausahaan berkelanjutan di kalangan mahasiswa Universitas KH. Wahab Hasbullah, dan mengajak mereka untuk terlibat aktif dalam dunia bisnis yang ramah lingkungan. Prosedur pelaksanaan penelitian ini terdiri dari 4 tahapan. Tahap pertama dimulai dengan mengundang para mahasiswa untuk bersama-sama hadir dalam pelatihan pembuatan sabun dari limbah organik yaitu kulit pisang. Tahap berikutnya adalah menyelenggarakan sesi edukasi yang berfokus pada pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan utama dalam pembuatan sabun padat Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya akan memperoleh keterampilan praktis dalam pembuatan produk yang ramah lingkungan, akan tetapi juga dapat mendalami konsep daur ulang untuk mengurangi limbah. Dalam sesi edukasi, peneliti juga membahas konsep green entrepreneurship, dimana mahasiswa akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang kepentingan bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, diharapkan setiap peserta tidak hanya menjadi pembuat sabun yang terampil, tetapi juga penggiat bisnis yang peduli lingkungan, dan siap untuk memberikan kontribusi positif dalam dunia Tahapan selanjutnya adalah menghadirkan pengalaman langsung kepada para peserta melalui kegiatan praktikum, di mana peserta akan berkesempatan untuk menjalani proses pembuatan sabun dengan menggunakan berbagai alat dan bahan yang telah dipersiapkan. Tahap terakhir dalam proses pelatihan ini adalah melakukan evaluasi menyeluruh serta mengumpulkan tanggapan peserta melalui kuisioner untuk menilai sejauh mana keberhasilan pelatihan pembuatan sabun dalam meningkatkan green entrepreneurship. Pendapat dan pengalaman peserta sangat berharga untuk memastikan kualitas pelatihan ini. Melalui kuisioner tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi keberhasilan pelatihan serta mendapatkan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan program ini di masa depan. Adapun prosedur pembuatan sabun organik dari limbah kulit pisang adalah sebagai berikut: EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 67 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship Menyiapkan air sebanyak 165 liter, dan NaOH sebanyak 74,80 Kemudian NaOH dilarutkan kedalam airdan diaduk hingga homogen. Lalu tunggu hingga larutan tersebut Menyiapkan minyak sawit dan rempah-rempah . aun pandan, sereh, dan jah. yang telah dipotong, kemudian merebusnya hingga mendidih. Minyak kelapa sawit yang telah mendidih dituangkan kedalam minyak kelapa dan diaduk hingga homogen. Setelah itu tunggu hingga campuran tersebut dingin. Memasukkan ekstrak kulit pisang dan aduk hingga homogen. Mencampurkan campuran minyak dengan larutan NaOH. Menyiapkan cetakan dan melapisi dengan kertas minyak lalu Menuangkan adonan sabun kedalam cetakan dan membiarkan sabun disuhu ruangan sampai sabun Membersihkan kulit pisang dan dengan menggunakan Gambar 1. Skema Pembuatan Sabun Organik HASIL dan PEMBAHASAN Pembahasan terhadap hasil penelitian dan pengujian yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian teoritik, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil dan pembahasan tidak ditulis secara terpisah . embahasan diberikan setelah hasi. dengan atau tanpa menggunakan sub judul dengan cetakan tebal. Hasil percobaan sebaiknya ditampilkan dalam berupa grafik atau pun tabel. Untuk grafik dapat mengikuti format untuk diagram dan gambar. Kegiatan pelatihan terkait pengolahan limbah kulit pisang kepok (Musa paradisiaca ) menjadi sabun batang organik dilaksanakan pada hari Kamis, 04 Juli 2024 di Univeristas KH. Wahab Hasbulloh Jombang. Kegiatan pelatihan dimulai dengan edukasi terkait pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan utama dalam pembuatan sabun organik. Penelitian ini melibatkan sejumlah tahapan yang dimulai dengan penyelenggaraan sesi edukasi yang difokuskan pada pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan utama dalam pembuatan sabun padat organik. Edukasi mencakup berbagai kondisi, peristiwa, dan proses pengubahan sikap serta perilaku individu atau kelompok dengan tujuan mendewasakan manusia. Upaya edukasi dapat dilakukan EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 68 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship melalui metode pengajaran dan pelatihan, dengan jenis-jenisnya mencakup formal, non formal, dan informal. Dalam konteks pelatihan pembuatan sabun batang organik, pendekatan formal diterapkan di Universitas KH. Wahab Hasbullah Jombang. Tujuan utama dari edukasi ini adalah untuk memberdayakan individu, mencerdaskan kehidupan, dan berkontribusi pada perkembangan masyarakat Indonesia dengan mencetak insan-insan beriman dan berbudi pekerti luhur. Edukasi diharapkan mampu memberikan pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, serta membentuk kepribadian yang matang, mandiri, dan bertanggung jawab. Pada tahap edukasi ini, peneliti tidak hanya menjelaskan alasan pemilihan limbah kulit pisang sebagai bahan utama, tetapi juga memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai potensi pemanfaatan limbah di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan menyoroti potensi limbah di lingkungan sekitar, edukasi ini bertujuan untuk merangsang kreativitas mahasiswa dalam menghasilkan ide dan inovasi yang Pentingnya edukasi ini terletak pada pemahaman potensi limbah, yang tidak hanya memberikan pengetahuan praktis tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif dan menciptakan hal baru atau inovatif. Dalam konteks ini, penekanan pada pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi sebuah produk bernilai ekonomi menjadi contoh konkret. Edukasi ini mengajarkan bahwa bahkan dengan limbah sederhana seperti kulit pisang, kita dapat menciptakan produk yang memiliki nilai ekonomi. Pentingnya memahami potensi limbah tidak hanya terbatas pada peningkatan pengetahuan individu, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Misalnya, dengan memanfaatkan limbah kulit pisang untuk membuat sabun organik, bukan hanya menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan penghasilan, tetapi juga memberikan solusi terhadap masalah pengangguran dengan menciptakan peluang Hal ini dapat berkontribusi pada pengurangan tingkat pengangguran dan kriminalitas di masyarakat. Pada edukasi ini mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan praktis dalam membuat sabun organik dari limbah kulit pisang, tetapi juga membawa perubahan positif dalam cara mereka memandang limbah dan peluang di sekitar lingkungan mereka. Inovasi sederhana seperti ini dapat menjadi awal bagi mahasiswa untuk terlibat dalam praktik berkelanjutan, menggali potensi di sekitar mereka, dan menciptakan dampak positif dalam lingkungan dan masyarakat. Pada sesi edukasi green entrepreneurship, mahasiswa diperkenalkan dengan prinsipprinsip dasar lingkungan dan implikasi bisnis terhadap ekosistem. Edukasi ini juga melibatkan pemahaman mengenai cara mengidentifikasi peluang bisnis yang berkelanjutan dan mengelola risiko yang terkait dengan praktik bisnis tersebut. Dalam konteks pembahasan green entrepreneurship, aspek etika dan tanggung jawab sosial EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 69 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship menjadi fokus penting. Diskusi melibatkan upaya konkret, seperti pengurangan jejak karbon, pengelolaan limbah, dan kontribusi positif pada keberlanjutan masyarakat. Pemahaman mendalam ini tidak hanya membekali mahasiswa dengan wawasan praktis, tetapi juga membantu mereka membentuk pandangan holistik terhadap peran bisnis dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan sosial. Sepanjang proses pembelajaran ini, mahasiswa diperkenalkan secara mendalam dengan perkembangan dan inovasi di dalam green entrepreneurship. Fokusnya mencakup pada pemanfaatan energi terbarukan, penerapan bahan baku daur ulang, dan pengembangan produk yang mendukung prinsip ramah lingkungan. Pengenalan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada mahasiswa mengenai dinamika terkini dalam praktik bisnis berkelanjutan. Terfokus pada energi terbarukan, mahasiswa juga diarahkan untuk memahami berbagai sumber energi yang dapat berfungsi sebagai opsi yang ramah lingkungan. Selain itu, fokus pada penggunaan bahan baku daur ulang membahas strategi untuk mengurangi jejak lingkungan melalui pemanfaatan kembali material yang sudah ada. Mahasiswa diajak untuk memahami konsep sirkularitas dalam rantai pasok dan dampaknya pada keberlanjutan lingkungan. Pengembangan produk yang ramah lingkungan menjadi titik berat lainnya, di mana mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana inovasi dalam desain, produksi, dan distribusi dapat mendukung praktik bisnis yang berkelanjutan. Ini melibatkan penekanan pada penemuan solusi kreatif untuk mengurangi dampak lingkungan serta penerimaan pasar terhadap produk berbasis keberlanjutan. Dengan demikian, wawasan yang diberikan selama edukasi menciptakan landasan pengetahuan yang kokoh dan keterampilan yang relevan. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep dalam green entrepreneurship, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi pada transformasi positif dalam dunia bisnis menuju praktik berkelanjutan. Top of Form Edukasi terkait green entrepreneurship memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk mahasiswa menjadi calon entrepreneur yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap dampak lingkungan dan sosial dari bisnis Lebih dari sekadar memberikan pengetahuan praktis, pendekatan ini merangsang sikap kewirausahaan dan inovatif di antara mahasiswa, membantu mereka melihat peluang bisnis yang sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Pentingnya edukasi ini terletak pada penciptaan pemimpin bisnis masa depan yang memiliki visi holistik terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan mereka. Dengan demikian, mahasiswa yang mendapatkan edukasi green entrepreneurship tidak hanya menjadi pengusaha yang sukses secara finansial, tetapi juga berkontribusi positif EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 70 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship terhadap penyelesaian masalah lingkungan dan sosial. Pembahasan ini, kita juga dapat menyoroti bahwa edukasi green entrepreneurship tidak hanya tentang memahami konsep-konsep keberlanjutan, tetapi juga tentang mendorong pola pikir dan nilai-nilai yang mendukung keberlanjutan dalam dunia bisnis. Mahasiswa diajak untuk berpikir jangka panjang, mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan bisnis, dan mencari solusi inovatif untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial. Selain itu, pembahasan dapat menyoroti bagaimana edukasi green entrepreneurship menciptakan lingkungan belajar yang menginspirasi kolaborasi antar mahasiswa. Melalui proyek-proyek dan studi kasus, mahasiswa dapat belajar secara praktis tentang implementasi konsep-konsep keberlanjutan dalam dunia nyata, membangun keterampilan praktis yang diperlukan untuk menjadi pengusaha hijau. Dengan demikian, pembahasan mengenai edukasi green entrepreneurship tidak hanya relevan untuk menciptakan bisnis yang berkelanjutan, tetapi juga untuk membentuk generasi baru pemimpin bisnis yang memiliki kesadaran dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial. Edukasi ini tidak hanya merubah cara berbisnis, tetapi juga merubah mindset dan nilai-nilai yang menjadi dasar dari setiap keputusan dan tindakan mahasiswa di dunia bisnis. Gambar 2. Edukasi Pemanfaatan Limbah Pisang dan Green Entrepreneurship Tahapan kedua yang dilakukan setelah proses edukasi adalah pelatihan praktis yang terfokus pada pembuatan sabun batang organik menggunakan limbah kulit pisang Langkah ini diambil sebagai respons terhadap minimnya pemanfaatan limbah kulit pisang di masyarakat, sehingga kulit pisang menjadi komponen kunci dalam pembuatan sabun organik ini. Dalam persiapan pelatihan, beberapa alat dan bahan perlu disiapkan agar kegiatan pembuatan sabun batang organik dapat berjalan dengan lancar. Beberapa peralatan yang diperlukan dalam kegiatan ini mencakup bunsen, hand blender/mixer, timbangan, gelas ukur, pengaduk, kertas minyak, dan cetakan sabun. Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan meliputi kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L. minyak kelapa sawit, minyak kelapa. Natrium Hidroksida (NaOH), air, daun pandan. EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 71 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship sereh, dan jahe. Pentingnya mencantumkan alat dan bahan yang dibutuhkan memberikan gambaran komprehensif kepada peserta pelatihan. Hal ini juga mencerminkan pendekatan praktis dan terstruktur dalam menyelenggarakan kegiatan pelatihan untuk menghasilkan sabun organik menggunakan limbah kulit pisang sebagai bahan utama. Gambar 3. Pelatihan Pembuatan Sabun Organik Pada tahap terakhir, peneliti menyebarkan kuisioner terkait pelatihan pembuatan sabun organik dari limbah kulit pisang kepok. Penyebaran kuisioner tersebut bertujuan untuk mengevaluasi dampak efektivitas pelatihan pembuatan sabun dalam meningkatkan kesadaran dan keterlibatan mahasiswa dalam praktik green Hasil kuisioner mencerminkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep green entrepreneurship, dengan mayoritas responden menyatakan setuju terhadap konsep tersebut. Temuan ini menunjukkan pemahaman yang kuat dari mahasiswa tentang relevansi dan pentingnya mengadopsi praktik bisnis berkelanjutan, mendorong keterlibatan yang lebih aktif dalam domain green entrepreneurship. Selain itu, terlihat minat yang tinggi dari mahasiswa untuk terlibat dalam green entrepreneurship, khususnya melalui produksi sabun organik. Hal ini menunjukkan potensi besar dalam mengembangkan kegiatan bisnis berfokus pada keberlanjutan di kalangan mahasiswa, membuka peluang untuk merancang program atau kegiatan lanjutan yang dapat mendorong dan mengembangkan keterampilan green entrepreneurship mereka. Selanjutnya, respon positif terhadap inovasi penggunaan limbah kulit pisang dalam produksi sabun menunjukkan bahwa pendekatan ini dianggap sebagai solusi kreatif untuk mengatasi masalah pengolahan sampah organik, sejalan dengan upaya menciptakan produk yang ramah lingkungan. Hasil penelitian juga menggambarkan gambaran baru terkait jenis usaha yang dapat dijalankan oleh mahasiswa di masa depan EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 72 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship melalui produksi sabun batang organik, memberikan indikasi bahwa pelatihan pembuatan sabun tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga merangsang pemikiran kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Terakhir, harapan bahwa produksi sabun menggunakan limbah kulit pisang dapat menjadi produk inovasi ekonomi berkelanjutan diterima dengan positif oleh mayoritas mahasiswa, menunjukkan bahwa mahasiswa melihat potensi ekonomi dalam praktik green entrepreneurship yang mereka pelajari. Dengan demikian, hasil kuisioner ini memberikan gambaran positif terkait dampak pelatihan pembuatan sabun dalam memunculkan kesadaran dan minat mahasiswa terhadap green entrepreneurship, membentuk dasar untuk merancang strategi lebih lanjut dalam mengembangkan keterampilan kewirausahaan berkelanjutan di kalangan mahasiswa yakni (Meishanti, 2. sustainability awareness atau kesadaran berkelanjutan adalah kesadaran yang bersifat berkelanjutan dengan tujuan untuk menjaga serta menghargai lingkungan sekitar dengan mengedepankan dampak yang akan terjadi pada aspek sosial, ekonomi, dan Hasil penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam konteks meningkatkan praktik green entrepreneurship melalui inovasi berkelanjutan dalam penggunaan limbah kulit pisang kepok menjadi sabun batang organik. Dengan memanfaatkan limbah organik untuk memproduksi sabun, bukan hanya sekedar menciptakan solusi kreatif terhadap masalah pengelolaan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang Inovasi ini memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan mengurangi jumlah limbah organik yang masuk ke tempat pembuangan sampah. Penggunaan limbah kulit pisang sebagai bahan baku untuk sabun organik tidak hanya menciptakan produk ramah lingkungan, tetapi juga mengurangi jejak karbon dalam proses produksi. Sabun batang organik juga dapat membawa sejumlah keuntungan tambahan bagi kesehatan kulit. Keberlanjutan sabun batang organik terwujud dalam ketiadaan bahan pengawet kimia, yang menjadikannya ramah lingkungan dengan waktu kadarluarsa yang singkat. Kandungan antioksidan dari daun pandan dapat membantu memperbaiki kesehatan kulit, memberikan tambahan nilai positif. Kombinasi sereh dan jahe tidak hanya memberikan aroma terapi alami, tetapi juga menyuguhkan manfaat anti bakteri alami, yang memperkaya fungsi sabun batang organik. Selain itu, kehadiran gliserin dalam sabun organik memberikan efek melembabkan yang bermanfaat untuk kulit. Sabun batang organik juga menyajikan aroma terapi dari bahan-bahan alami yang memberikan efek dapat meredakan stress dan memperbaiki mood. Dengan demikian, sabun batang organik tidak hanya menjadi pilihan yang ramah lingkungan, tetapi juga EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 73 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship solusi holistik untuk perawatan kulit yang berkelanjutan. Gambar 4. Produk Sabun Batang Organik Inovasi ini dapat membuka peluang bisnis baru di bidang green entrepreneurship, khususnya dalam industri produk kecantikan dan perawatan pribadi. Sabun organik yang diproduksi dari limbah kulit pisang memiliki potensi untuk menjadi produk andalan di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penggunaan limbah kulit pisang sebagai bahan baku untuk sabun organik dapat merangsang pemikiran kreatif dan inovatif di kalangan mahasiswa atau pelaku bisnis yang tertarik dalam green entrepreneurship. Ini dapat memotivasi mereka untuk mencari lebih banyak peluang inovatif dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan dalam praktik green entrepreneurship, inovasi ini dapat menjadi model inspiratif bagi pihak-pihak terkait, termasuk instansi pendidikan, pemerintah, dan pelaku industri, untuk mendukung dan mempromosikan pendekatan berkelanjutan dalam pengembangan produk dan bisnis. Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan manfaat nyata dalam memajukan konsep green entrepreneurship melalui penerapan inovasi berkelanjutan limbah kulit pisang kepok menjadi sabun batang Dengan memberdayakan limbah organik sebagai sumber daya yang bernilai, tidak hanya menciptakan produk yang ramah lingkungan, tetapi juga merangsang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di sektor green entrepreneurship. KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan harus mengindikasi secara jelas hasil-hasil yang diperoleh, kelebihan dan kekurangannya, serta kemungkinan pengembangan selanjutnya. Kesimpulan dapat berupa paragraf, namun sebaiknya berbentuk point-point dengan menggunakan numbering atau bullet. EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 74 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship Saran-saran untuk untuk penelitian lebih lanjut untuk menutup kekurangan Tidak memuat saran-saran diluar untuk penelitian lanjut. Pemanfaatan limbah kulit pisang dari bisnis UMKM yang dijadikan bahan dalam pembuatan sabun batang organik menciptakan peluang bisnis yang berbasis ramah Dengan mengadopsi konsep pembuatan sabun batang organik, peneliti tidak hanya dapat mengurangi dampak negatif limbah kulit pisang terhadap lingkungan, namun juga dapat menciptakan produk yang berkualitas. Sabun batang organik memiliki potensi untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin peduli dengan produk alami dan berkelanjutan. Untuk itu, dalam pembuatan sabun batang organik tidak hanya memformulasikan dalam pembuatan sabun, tetapi juga perlu memperhatikan standarisasi penggunaan yang mendapatkan persetujuan BPOM. Oleh karena itu perlu adanya prioritas uji keamanan dan persetujuan BPOM serta melibatkan ahli dalam formulasi produk organik yang aman. Dengan menjaga kualitas, keamanan, dan keberlanjutan, penelitian ini memiliki potensi untuk menjadi subjek yang sukses dalam mengatasi limbah dan mempromosikan praktik inovatif yang berorientasi pada DAFTAR RUJUKAN Ardianingsih,. Feby. Edukasi Ekonomi Hijau Dalam Menumbuhkan Semangat AuGreen EntrepreneurshipAy. Jurnal ABDIMAS. Edisi Khusus Dies Natalis Unikal Ke-40. Vol. Danang. Pengaruh Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca. L) terhadap Jumlah Spermatozoa Mencit (Mus Musculu. Jantan yang dipapar Asap Rokok. (Skripsi Sarjana. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampun. http://repository. id/19134/1/COVER. BAB 1%2 C BAB 2. DAPUS. diakses tanggal 18 Februari 2024. Lee. What is Sustainable Innovation?. Network for business sustainability. (Onlin. , . ttps://nbs. net/what-is-sustainable-innovation-and-how-tomake-innovationsustainable/, diakses tanggal 02 Desember 2. Prathama. , & Yustika. Ekonomi Inovasi Taklimat Pembangunan Ekonomi Berbasis Pengetahuan. INDEF. Meishanti. Ipteks bagi Green Entrepreneurshipmelalui Edu Eco-frienzym di MA Bahrul Ulum Jombang. PENDIDIKAN: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKATVol. No. Desember2023Hal. https://ejournal. id/index. php/abdimaspen/article/view/4143/1781 Meishanti. Rozikin. Salunnadya. E-Modul Virus Pendekatan EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024 75 Indah. Nudiya. Novi. Rohmad. Muhammad. Ospa: Inovasi Berkelanjutan Limbah Musa Paradisiaca L. Green Entrepreneurship Sains Teknologi Islam Untuk Meningkatkan Critical Thinking Dan Membangun Sustainability Awereness Siswa. Jurnal Eduscope. Januari, 2024. Vol. 9No. https://ejournal. id/index. php/eduscope/article/view/4848/2144 Saari. & Salo. Green Entrepreneurship. In book: Responsible Consumption and Production, . DOI:10. 1007/978-3-319-95726- 5_6. EDUSCOPE Vol. 10 No. 01 Juli 2024