Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 241 Ae 251 PERBAIKAN TATA LETAK IKM VULKANISIR BAN GUNUNG TIMUR DI KOTA DUMAI Ferdiansyah. Fitra. Habibur Rohman. Fathir N. Program Studi Teknik Industri. Sekolah Tinggi Teknologi Dumai e-mail: . ferdiansyaah14@gmail. com, . famukhtyfitra@gmail. com, . hburrahman362@gmail. fatiralstar89@gmail. ABSTRAK IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur yang berada di Kecamatan Dumai Barat. Kota Dumai, mengalami masalah pada tata letak fasilitas yang tidak efisien. Hal ini menyebabkan alur kerja tidak teratur, jarak perpindahan material lebih jauh, dan pemanfaatan ruang yang kurang Hal ini berdampak langsung terhadap efisiensi operasional dan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki tata letak fasilitas guna meningkatkan efisiensi alur produksi melalui pendekatan metode Systematic Layout Planning (SLP) dan metode berbasis Proses penelitian mencakup pengumpulan data lapangan, penyusunan operation process chart, from-to chart, activity relationship chart, relationship diagram, perhitungan kebutuhan ruang, serta perancangan dan evaluasi alternatif tata letak. Hasil analisis menunjukkan bahwa tata letak usulan dengan metode SLP mampu mengurangi total jarak perpindahan material dari 545,71 meter menjadi 346,8 meter, sedangkan metode grafik menghasilkan jarak perpindahan sebesar 391,3 meter. Tata letak usulan metode SLP menunjukkan efisiensi tertinggi dengan pengurangan jarak perpindahan sebesar 36,45%, peningkatan keteraturan alur kerja, serta pemanfaatan ruang yang lebih optimal. Pada akhirnya, penerapan metode SLP memberikan solusi strategis dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas IKM vulkanisir ban tersebut. Kata kunci: Efisiensi. IKM Vulkanisir Ban. Metode Grafik. Perancangan Ulang. Systematic Layout Planning. Tata Letak ABSTRACT Gunung Timur Tire Retreading SME, located in West Dumai District. Dumai City, is experiencing inefficiencies in its facility layout. These inefficiencies result in irregular workflows, longer material handling distances, and suboptimal space utilization, which directly affect operational efficiency and productivity. This study aims to improve the facility layout to enhance workflow efficiency through the application of the Systematic Layout Planning (SLP) method and a graph-based approach. The research process includes field data collection, preparation of the operation process chart, from-to chart, activity relationship chart, relationship diagram, space requirement calculation, as well as the design and evaluation of alternative layouts. The analysis results show that the proposed layout using the SLP method reduced the total material handling distance from 545. 71 meters to 346. 8 meters, while the layout using the graph-based method resulted in a distance of 391. 3 meters. The layout proposed using the SLP method demonstrated the highest efficiency, achieving a 36. 45% reduction in material handling distance, improved workflow organization, and more optimal space Eventually, the implementation of the SLP method offers a strategic solution to improve the operational efficiency and productivity of the tire retreading IKM. Keywords: Efficiency. Graph Based Method. Layout Redesign. Systematic Layout Planning. Tire Retreading PENDAHULUAN Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi salah satu pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah karena kemampuannya menyerap tenaga kerja, memanfaatkan sumber daya lokal, serta meningkatkan daya saing produk . Kota Dumai memiliki berbagai IKM yang berkontribusi terhadap perekonomian, salah satunya adalah IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur yang bergerak di bidang jasa peremajaan ban bekas. Seiring meningkatnya permintaan, efisiensi proses produksi menjadi hal yang krusial . Namun, permasalahan tata letak fasilitas yang kurang optimal seringkali menghambat aliran proses, memperpanjang jarak perpindahan material, dan menurunkan produktivitas . Perbaikan Tata Letak IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur di Kota Dumai Ferdiansyah. Fitra. Habibur Rohman. Fathir N. Tata letak yang tidak efisien dapat memicu aktivitas bolak-balik . , penumpukan material di stasiun kerja tertentu, serta meningkatkan biaya material handling . Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan perbaikan tata letak yang memperhatikan hubungan antar aktivitas, aliran proses, dan pemanfaatan ruang. Salah satu metode yang sering digunakan adalah Systematic Layout Planning (SLP), yang menyusun layout secara sistematis berdasarkan tingkat kedekatan fungsi antar area . Metode ini dapat dipadukan dengan metode berbasis grafik untuk memberikan visualisasi hubungan aktivitas dan mempermudah analisis jarak perpindahan . Berbagai penelitian telah membuktikan efektivitas SLP, antara lain pada industri makanan . , bengkel kereta api . , manufaktur skala besar . , . , serta UMKM seperti industri tempe . dan skincare . Integrasi SLP dengan lean manufacturing dan metode 5S juga terbukti meningkatkan keteraturan, mengurangi waktu proses, dan memaksimalkan efisiensi ruang . Studi di proyek konstruksi dan perakitan transportasi pun menunjukkan penurunan signifikan pada jarak perpindahan material serta peningkatan kelancaran alur kerja . , . Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang banyak diterapkan pada skala industri besar, kajian tata letak pada IKM sektor jasa peremajaan ban masih sangat terbatas, padahal sektor ini memiliki karakteristik operasional yang menyerupai manufaktur dengan tahapan produksi fisik . engupasan, pengisian bahan, vulkanisasi, pemeriksaa. Selain itu. IKM vulkanisir ban berperan besar dalam menyerap tenaga kerja di daerah dan mendukung sektor Maka dari itu, penelitian ini penting untuk mengisi celah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan tata letak fasilitas produksi pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur di Kota Dumai dengan menggunakan metode SLP dan metode berbasis grafik untuk meningkatkan efisiensi aliran proses produksi dan meminimalkan jarak perpindahan material. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menganalisis dan merancang ulang tata letak fasilitas pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur guna meningkatkan efisiensi alur produksi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di lapangan, wawancara dengan pemilik IKM, dan pengukuran fisik fasilitas, untuk memperoleh data primer terkait alur kerja, ukuran area kerja, serta intensitas hubungan antar stasiun kerja. Teknik pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan yang mengacu pada metode Systematic Layout Planning (SLP) dan metode berbasis grafik. Proses analisis dimulai dengan pembuatan From-To Chart (FTC) untuk mengetahui frekuensi perpindahan antar stasiun. Selanjutnya, dilakukan penyusunan Activity Relationship Chart (ARC) dan Activity Relationship Diagram (ARD) guna mengidentifikasi tingkat kedekatan antar Tahap berikutnya adalah perhitungan kebutuhan ruang, baik untuk area kerja utama maupun ruang sirkulasi. Berdasarkan informasi tersebut, dibuat alternatif layout menggunakan pendekatan SLP yang mempertimbangkan kedekatan fungsi dan hubungan antar aktivitas. Sebagai pembanding, dilakukan pula penyusunan layout alternatif menggunakan metode graph-based, yaitu dengan menyusun urutan kedekatan antar stasiun berdasarkan bobot hubungan dalam grafik hubungan. Perhitungan total jarak perpindahan material menggunakan metode rectilinear digunakan untuk mengevaluasi efektivitas masing-masing tata letak, sehingga dapat dibandingkan efisiensi antar layout awal, layout usulan metode SLP, dan layout usulan metode grafik. Tata letak terbaik ditentukan berdasarkan efisiensi jarak perpindahan dan keteraturan alur kerja. Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 241 Ae 251 HASIL DAN PEMBAHASAN Layout Awal IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur Bangunan fisik IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur ini berdiri diatas tanah seluas 243,95m2. Untuk itu, layout awal dari IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur dapat dilihat pada Gambar 1. 4,7m 6,2m 1,2m 10,6m Gudang Ban Bekas Pemeriksaan Ban Gudang Ban yang Sudah di Vulkanisir 1,45m 4,33m 2,72m 1,83m 2,72m 2,3m 1,1m 2,4m Pemasangan Lapisan Karet Baru 2,4m Curing dan Pembungkusan 2,4m Penambalan Ban dan Pengeleman Ban 1,76m Pengupasan Tapak Ban Ruang Tunggu 2,72m Pemeriksaan Ban Terakhir 4,7m 5,2m 2,5m Lahan Parkir 11,65m 14,35m Gambar 1. Layout Awal IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur Keterangan: Pemeriksaan Ban Bekas Gudang Ban Bekas Pengupasan Tapak Ban Penampalan dan Pengeleman Ban Pemasangan Lapisan Karet Baru Pembungkusan dan Penekanan Pemeriksaan Ban Terakhir Gudang Ban Setelah di Vulkanisir Ruang Tunggu Lahan Parkir Evaluasi layout awal IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur dimulai dengan menghitung jarak antar stasiun kerja menggunakan rumus rectilinear. Rumus perhitungan rectilinear dij =. i -xj | . i -yj | . Sebelum dilakukan perhitungan, titik koordinat tiap stasiun harus ditentukan berdasarkan block layout awal. Titik koordinat tiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Titik Koordinat Layout Awal Kode Stasiun Kerja Pemeriksaan Ban Bekas Gudang Ban Bekas Pengupasan Tapak Ban Penampalan dan Pengeleman Ban Pemasangan Lapisan Karet Baru Pembungkusan dan Penekanan Pemeriksaan Ban Terakhir Gudang Ban Setelah di Vulkanisir Ruang Tunggu Lahan Parkir Perbaikan Tata Letak IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur di Kota Dumai Ferdiansyah. Fitra. Habibur Rohman. Fathir N. Setelah titik koordinat stasiun-stasiun kerja pada layout awal IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur telah ditentukan, dilakukan perhitungan jarak rectilinear antar stasiun kerja dengan menggunakan Rumus 1. Perhitungan rectilinear pada stasiun-stasiun kerja yang sudah diketahui akan dianalisis dengan menggunakan FTC yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. FTC Layout Awal Total 11,45 10,06 Total Total 117,35 24,86 545,71 Tabel 2 merupakan FTC layout awal pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur. Dari gambar tersebut, dapat diketahui jarak terbesar berdasarkan FTC adalah jarak antara stasiun 2 yaitu ruang gudang ban bekas dengan stasiun 10 yaitu WC. Activity Relationship Chart (ARC) Tahapan dalam perancangan tata letak usulan metode SLP salah satunya dengan melakukan analisis terhadap derajat kepentingan aktivitas antar stasiun dengan menggunakan ARC. Analisis ini digunakan untuk menilai dan memvisualisasikan tingkat kedekatan antar aktivitas atau departemen dalam suatu sistem kerja, berdasarkan aliran material, komunikasi, atau kebutuhan layanan. Dalam ARC, setiap pasangan aktivitas diberi nilai kedekatan seperti A . utlak diperluka. E . angat pentin. I . O . edekatan bias. U . idak pentin. , dan X . idak diinginkan. Tingkat kedekatan antar aktivitas di IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur didapat dari hasil wawancara Penulis dengan pemilik IKM. ARC dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2. Pemeriksaan Ban Bekas Gudang Ban Bekas Pengupasan Tapak Ban Penampalan dan Pengeleman Ban Pemasangan Lapisan Karet Baru Pembungkusan dan Penekanan Pemeriksaan Ban Terakhir 1,2,5 1,2,4 Ruang Tunggu 1,2,4 Gudang Ban Setelah di Vulkanisir Lahan Parkir Gambar 2. Activity Relationship Chart Activity Relationship Diagram (ARD) Penentuan derajat hubungan aktivitas antar stasiun kerja yang telah diketahui dengan ARC, selanjutnya dilakukan analisis derajat hubungan kedekatan dengan ARD. Adapun ARD IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur dapat dilihat pada Gambar 3. Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 241 Ae 251 Keterangan Mutlak Sangat Penting Penting Biasa Tidak Penting Tidak Diinginkan Gambar 3. Activity Relationship Diagram Penentuan Luas Kebutuhan Daerah Penentuan luas kebutuhan daerah pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Luas Kebutuhan Daerah Departemen Jumlah Area Pemeriksaan Ban Bekas Area Gudang Ban Bekas Area Pengupasan Tapak Pan Area Pengeleman dan Penambalan Ban Area Pemasangan Karet Baru Area Pembungkusan dan Curing Area Pemeriksaan Ban Akhir Area Gudang Setelah di Vulkanisir Area Ruang Tunggu Area WC Area Lahan Parkir Ukuran . 1,45 4,33 2,32 1,76 2,72 2,72 2,72 2,72 1,83 Total Luas . 1,74 10,04 4,62 6,52 6,52 6,52 8,60 29,14 2,53 1,00 13,00 Luas Total 1,74 10,04 4,62 6,52 6,52 6,52 8,60 29,14 2,53 1,00 13,00 Kelonggaran Kebutuhan Luas . 2,00 13,05 5,31 7,50 7,50 7,50 9,89 37,88 2,53 1,00 15,60 109,76 Tabel 3 merupakan luas kebutuhan daerah pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur. Dari tabel ini dapat diketahui total luas kebutuhan yang diperlukan pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur sebesar 109,76 m2. Area penyimpanan menggunakan kelonggaran 30% dikarenakan area ini memerlukan ruang sirkulasi barang. Area produksi menggunakan 15% karena mempertimbangkan ruang kerja dan gerak Operator yang aman. Ruang tunggu dan WC menggunakan kelonggaran 0% karena area-area ini tidak terdapat aktivitas perpindahan material dan proses kerja. Sedangkan untuk lahan parkir menggunakan 20%, hal ini dikarenakan untuk mengakomodasi kebutuhan manuver kendaraan, jalur sirkulasi, serta menjaga keamanan dan kenyamanan kendaraan yang keluar-masuk. Perancangan dengan Menggunakan Metode Grafik Pada metode grafik akan ditentukan bobot antar stasiun yang kemudian akan dihubungkan antar stasiun berdasarkan bobot terbesar. Penentuan bobot ini dapat dilihat FTC pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bobot terbesar adalah bobot antara stasiun 2 dengan stasiun 10, maka stasiun 2 dan 10 akan dihubungkan. Grafik kedekatan antara stasiun 2 dan stasiun 10 dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Grafik Kedekatan Antara Stasiun 2 dan Stasiun 10 Perbaikan Tata Letak IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur di Kota Dumai Ferdiansyah. Fitra. Habibur Rohman. Fathir N. Selanjutnya, dilakukan pemilihan stasiun ke-3 hingga stasiun ke-11 dengan melihat grafik kedekatan setiap stasiun. Grafik kedekatan pada stasiun ke-11 dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Grafik Kedekatan Stasiun 2, 10, 4, 9, 11, 1, 7, 8, 3, 5 dan 6 Gambar 5 merupakan grafik kedekatan dari semua stasiun pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur. Grafik ini menunjukkan hubungan kedekatan antar stasiun kerja berdasarkan urutan dan intensitas aliran aktivitas. Semakin besar nilai bobot antar stasiun, maka semakin tinggi frekuensi perpindahan atau interaksi antar kedua stasiun tersebut. Perancangan Layout Usulan Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, layout usulan IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur dengan menggunakan metode SLP dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Block Layout Usulan Metode SLP Gambar 6 merupakan block layout usulan dengan metode SLP yang ditentukan berdasarkan analisis derajat kepentingan aktivitas menggunakan ARC serta derajat kepentingan ruang menggunakan ARD. Penyusunan layout usulan dilakukan dengan Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 241 Ae 251 pendekatan metode SLP. Selanjutnya, menentukan titik koordinat untuk setiap stasiun kerja. Titik koordinat pada layout usulan dengan metode SLP dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Titik Koordinat Layout Usulan Metode SLP Kode Stasiun Kerja Pemeriksaan Ban Bekas Gudang Ban Bekas Pengupasan Tapak Ban Penampalan dan Pengeleman Ban Pemasangan Lapisan Karet Baru Pembungkusan dan Penekanan Pemeriksaan Ban Terakhir Gudang Ban Setelah di Vulkanisir Ruang Tunggu Lahan Parkir Tabel 4 merupakan titik koordinat layout usulan dengan metode SLP. Setelah titik koordinat stasiun-stasiun kerja pada layout usulan metode SLP telah ditentukan, selanjutnya dilakukan perhitungan jarak rectilinear antar stasiun kerja dengan menggunakan Rumus 1. Perhitungan rectilinear pada stasiun-stasiun kerja yang sudah diketahui akan dianalisis dengan menggunakan FTC yang dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. FTC Metode SLP Total Total Tabel 5 merupakan FTC metode SLP yang didapat dari hasil perhitungan jarak rectilinear pada layout usulan yang disusun menggunakan metode SLP. Selanjutnya, analisis layout usulan dengan metode grafik. Block layout usulan dengan metode grafik dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Block Layout Usulan Metode Grafik Gambar 7 merupakan block layout usulan dengan metode grafik yang didapat dari grafik kedekatan pada Gambar 5. Selanjutnya, menentukan titik koordinat untuk setiap stasiun kerja. Titik koordinat pada layout usulan dengan metode grafik dapat dilihat pada Tabel 6. Perbaikan Tata Letak IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur di Kota Dumai Ferdiansyah. Fitra. Habibur Rohman. Fathir N. Tabel 6. Titik Koordinat Layout Usulan Metode Grafik Kode Stasiun Kerja Pemeriksaan Ban Bekas Gudang Ban Bekas Pengupasan Tapak Ban Penampalan dan Pengeleman Ban Pemasangan Lapisan Karet Baru Pembungkusan dan Penekanan Pemeriksaan Ban Terakhir Gudang Ban Setelah di Vulkanisir Ruang Tunggu Lahan Parkir Setelah titik koordinat stasiun-stasiun kerja pada layout usulan metode grafik telah ditentukan, selanjutnya dilakukan perhitungan jarak rectilinear antar stasiun kerja dengan menggunakan Rumus 1. Perhitungan rectilinear pada stasiun-stasiun kerja yang sudah diketahui akan dianalisis dengan menggunakan FTC yang dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. FTC Metode Grafik Total Total Tabel 7 merupakan FTC metode grafik yang didapat dari hasil perhitungan jarak rectilinear pada layout usulan yang disusun menggunakan metode grafik. Perbandingan Jarak Antar Layout Selanjutnya, dilakukan perbandingan jarak perpindahan antar stasiun untuk layout awal dan layout usulan. Perbandingan jarak perpindahan antar layout dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Perbandingan Jarak Antar Layout Stasiun Dari Pemeriksaan Ban Bekas Penerimaan Ban Bekas Pengupasan Tapak Baru Penambalan Ban dan Pengeleman Ban Pemasangan Karet Baru Pembungkusan dan Curing Pemeriksaan Ban Akhir Gudang Ban yang Sudah di Vulkanisir Ruang Tunggu Total 2,3,4,5,6,7,8,9,10,11 3,4,5,6,7,8,9,10,11 4,5,6,7,8,9,10,11 5,6,7,8,9,10,11 6,7,8,9,10,11 7,8,9,10,11 8,9,10,11 9,10,11 10,11 Awal 117,35 24,86 545,71 Usulan Metode SLP Usulan Metode Grafik Tabel 8 merupakan perbandingan jarak perpindahan antar stasiun kerja pada layout awal, layout usulan dengan metode SLP, dan layout usulan dengan metode grafik di IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur. Dari data tersebut, diketahui bahwa total jarak perpindahan pada layout awal sebesar 545,71, kemudian berhasil ditekan menjadi 346,8 pada layout hasil perancangan dengan metode SLP. Layout usulan menggunakan metode grafik menghasilkan jarak perpindahan sebesar 391,3. Hasil penelitian menunjukkan metode SLP mampu mengurangi jarak material handling sebesar 36,45%, yang sejalan dengan hasil studi Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 241 Ae 251 internasional seperti industri tekstil SME di Peru dengan efisiensi operasional meningkat 11,01% melalui penerapan lean dan SLP . , serta pengurangan biaya transportasi dan jarak melalui simulasi di workshop manufaktur Tiongkok . Studi tersebut menekankan bahwa kombinasi SLP dengan pemodelan simulasi mampu mengidentifikasi jalur perpindahan yang tidak efisien, mengurangi backtracking, serta mengoptimalkan kapasitas ruang kerja. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis SLP tidak hanya efektif di lingkungan manufaktur besar, tetapi juga adaptif untuk konteks SME dengan keterbatasan ruang. Selain itu, penelitian ini menekankan bahwa penataan ulang berbasis kedekatan aktivitas mampu menurunkan biaya penanganan material, mempercepat waktu siklus produksi, dan meningkatkan produktivitas . , . , . , . KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa perancangan ulang tata letak fasilitas pada IKM Vulkanisir Ban Gunung Timur menggunakan pendekatan Systematic Layout Planning (SLP) secara efektif meningkatkan efisiensi operasional. Tata letak hasil metode SLP menunjukkan penurunan jarak perpindahan material yang lebih signifikan dibandingkan dengan metode grafik, serta menghasilkan alur kerja yang lebih teratur dan pemanfaatan ruang yang lebih Temuan ini mengonfirmasi bahwa pendekatan sistematis yang mempertimbangkan kedekatan fungsional antar aktivitas mampu menciptakan layout yang lebih efisien, bahkan dalam konteks industri kecil dan menengah. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu hanya dilakukan pada satu IKM sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi, serta metode yang digunakan masih fokus pada efisiensi jarak tanpa menghitung biaya dan waktu secara detail. Ke depannya, penelitian ini dapat dikombinasikan dengan metode tata letak dan simulasi komputer atau analisis biaya untuk mendapatkan gambaran yang lebih DAFTAR PUSTAKA