JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOLUME 7 NO 2 (FEBRUARI 2. HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN MAKNA HIDUP PADA MAHASISWA AKHIR Dhenia Ayu Khatira Universitas Negeri Padang dheniaayukhatira333@email. ABSTRACT This study aims to find out relationship between self-efficacy and the meaning of life. The Final students who are in the late adolescent category have two demands, first demands it is in the non-academic scope, the search for the meaning of life and the academic scope, the completion of the final project. This study aims to determine the relationship between self-efficacy and the meaning of life in final year students who are working on their thesis. Participants in this study were 102 students who were completing their The results of the data analysis conducted show that there is a relationship between self-efficacy and the meaning of life. This result implies that self-efficacy has an important role for the meaning of life, where the existence of self-efficacy makes it easier for individuals to find the meaning of their life. Keywords : Self-efficacy, meaning in life, students PENDAHULUANMahasiswa adalah individu yang sedang menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Menurut Winkel . alam Roellyana dan Listiyandini, 2. , mahasiswa akhir berada pada rentang usia 21-25 tahun. Santrock . mengatakan bahwa remaja dimulai dari usia 10 - 13 tahun dan berakhir pada rentang 18-22 tahun. Berdasarkan hal ini mahasiswa akhir dapat dikategorikan sebagai remaja akhir. Terdapat 3 perubahan yang terjadi pada remaja yaitu perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional (Santrock, 2. Hall . alam Arnett, 1. melihat bahwa masa remaja adalah puncak dari Austrom and stressAy yang terdapat 3 kunci elemen yang mengatakan bahwa masa remaja itu sulit, yaitu : konflik dengan orang tua, gangguan mood, dan perilaku berisiko. Dalam tahap perkembangan Erik H. Erikson yang kelima, remaja akhir juga sedang mengalami tahap Identity versus Identity Confusion, dimana terjadi krisis psikososial antara identitas diri dengan kebingungan identitas. Yesamine . alam Roellyana dan Listiyandini, 2. menjelaskan tuntuntan yang dihadapi oleh mahasiswa akhir yaitu dituntut memiliki jiwa optimisme, semangat hidup tinggi, berprestasi secara optimal dan mampu berperan aktif dalam menyelesaikan masalah akademik maupun nonakademik. Faktanya, mahasiswa akhir sendiri memiliki beban tersendiri dalam mengerjakan skripsi dan merasa kesulitan untuk menyelesaikannya. Menurut penelitian Asmawan . terdapat 2 faktor penghambat mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya adalah motivasi dan pemahaman dalam menulis skripsi, sedangkan faktor eksternal adalah sistem birokrasi dan dosen pembimbing. Berdasarkan paparan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa mahasiswa akhir yang termasuk dalam kategori remaja akhir memiliki permasalahan dalam lingkup non akademik yaitu pencarian jati diri dan lingkup akademik yaitu penyelesaian tugas akhir skripsi. Dalam pencarian jati diri tentu ada yang disebut dengan pencarian makna hidup. Menyangkut hal ini, dalam buku Viktor E. Frankl yang berjudul ManAos Search for Meaning . dipaparkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan sosial berasal dari universitas Johns Hopkins terhadap 7984 mahasiswa dari 48 perguruan tinggi negeri. Para mahasiswa tersebut ditanyakan mengenai apa hal yang Ausangat pentingAy bagi mereka saat ini. 16% dari mereka mengatakan bahwa Aumengumpulkan uang sebanyak mungkinAy adalah hal yang penting bagi mereka sedangkan 78% mengakui bahwa Aumencari tujuan dan makna hidupAy adalah prioritas mereka. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Adams . dikatakan Tahun-tahun kuliah sering kali ditandai dengan banyak perubahan penting dan transisi yang penuh gejolak, dan merupakan saat ketika siswa mencari tujuan dan makna dalam hidup mereka. Akibatnya, perguruan tinggi merupakan masa perkembangan identitas utama Namun, apa itu makna hidup dan apa pentingnya bagi mahasiswa? Viktor Frankl telah memberikan suara yang fasih tentang "Apa sifat dari makna?" pertanyaan. Untuk menjawab pertanyaan ini, ia mengajukan konsep "vakum eksistensial" Aipersepsi bahwa tidak ada makna atau tujuan di alam semesta. Pengalaman dari kekosongan eksistensial ini seharusnya dapat diperbaiki sejauh orang mengaktualisasikan "nilai". Frankl beralasan bahwa makna dihasilkan dari pilihan untuk membawa tiga kelas nilai utama ke dalam kehidupan seseorang: . nstansiasi termasuk menulis makalah, melahirkan anak, dll. elihat, menyentuh, atau cara apa pun untuk mengalam. ikap orang-orang terhadap penderitaan mereka yang menyedihka. (Lopez, & Snyder, 2. Pentingnya makna hidup bagi mahasiswa adalah siswa yang diminta untuk memikirkan nilai dan tujuan hidup mereka dan mempertimbangkan bagaimana pekerjaan dan kegiatan akademis mereka saat ini dapat menggunakan keterampilan mereka dan cara yang sesuai dengan nilai-nilai serta tujuan mereka (Adams, 2. Memiliki banyak sumber makna dalam hidup melindungi individu dari ketidakberartian (Lopez & Snyder, 2. Manfaat lain dari memiliki banyak sumber makna adalah bahwa ada lebih sedikit tekanan bagi masing-masing sumber untuk memenuhi keempat sumber makna (Lopez & Snyder, 2. Orang yang tidak dapat menemukan makna dalam hidup . aitu, yang tidak dapat memenuhi kebutuhan akan makn. atau orang yang pengalaman hidupnya sangat kurang bermakna, kemungkinan tidak bisa mencapai kebahagiaan. Tetapi kebermaknaan mungkin tidak JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOLUME 7 NO 2 (FEBRUARI 2. cukup untuk memastikan kebahagiaan. Makna hidup adalah prasyarat untuk kebahagiaan (Lopez & Snyder, 2. Self-Efficacy menurut Bandura adalah mengacu pada kemampuan yang dirasakan untuk belajar atau melakukan tindakan pada tingkat yang ditentukan (Wentzel & Wigfield, 2. Bastaman . alam Agustini, 2. berpendapat bahwa dalam menemukan makna hidup diperlukannya adanya harapan . , namun dalam mewujudkan harapan dibutuhkan semangat, optimis serta keyakinan seseorang . elf-efficac. Bandura . alam Hasanah. Dewi & Rosyida, 2. mengatakan terdapat 4 aspek dari Self-Efficacy yaitu : . Kepercayaan diri dalam situasi yang tidak menentu dan penuh dengan tekanan, . Keyakinan dalam kemampuan diri untuk mengatasi tantangan ataupun masalah yang akan muncul, . Keyakinan akan kemampuan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan, . Keyakinan akan kemampuan dalam menumbuhkan motivasi, kemanpuan kognitif, dan melakukan tindakan untuk mencapai suatu hasil METODE PENELITIAN Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian Self-Efficacy sebagai variabel independen . dan makna hidup sebagai variabel dependen . Populasi penelitian yang diambil adalah mahasiswa yang sedang melaksanakan skripsi, dimana sampel penelitian memiliki jumlah 102 orang dengan menggunakan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sampel. Kriteria sampel adalah mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas akhir ataupun skripsi. Kedua instrumen telah mendapatkan validitas dan reliabilitas. Pada instrumen pertama yang merupakan skala yang diadaptasi dari hamka . alam Sulistyowati, 2. dengant 40 item valid dengan indeks validitas 0,311-0,639 dan indeks reliabilitas 0,907. Sedangkan untuk skala makna hidup diadaptasi dari shafiyuddin . dengan 17 item valid dengan indeks 8459-0,8599 dan indeks reliabilitas 0,8592. Dalam penelitian ini teknik analisis yang digunakan adalah korelasi product moment. HASIL dan PEMBAHASAN Sampel dalam penelitian ini berjumlah 102 orang. Setiap subjek penelitian diminta untuk mengisi angket dari skala self-efficacy yang terdiri dari 25 item, yang diadaptasi dari Hamka . dan skala makna hidup yang terdiri dari 17 item yang diadaptasi shafiyuddin . Berdasarkan hasil uji normalitas (Tabel 1. ) didapatkan hasil signifikan 0. >0. Dimana memiliki arti bahwa data terdistribusi normal. Sedangkan untuk hasil uji linearitas (Tabel 2. ) memiliki hasil signifikan 0,000 . <0. sehingga dapat diketahui bahwa kedua variabel memiliki hubungan linear. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Selfefficacy Makna Hidup Asymp. Sig K-SZ . 0,832 0,623 Ket. Tabel 2 Hasil Uji Linieritas Hubungan Selfefficacy Makna Hidup 6,843 Sig 0,00 Tabel 3 Uji Korelasi antara Self-Efficacy dengan Makna Hidup Selfefficacy Pearson Coreelation Makna 0,686 Hidup Sig 2 tailed 0,000 68,6 % Berdasarkan tabel 3. Dapat diketahui nilai Sig. -taile. antara self-efficacy (X) dengan makna hidup (Y) adalah sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya memiliki korelasi signifikan antara variabel self-efficacy dengan variabel makna hidup. Lalu diketahui nilai r hitung untuk hubungan self-efficacy (X) dengan makna hidup (Y) adalah sebesar 0. 193, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan atau korelasi antara variabel selfefficacy dengan makna hidup. Hal ini memiliki arti semakin tinggi self-efficacy berarti JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOLUME 7 NO 2 (FEBRUARI 2. semakin tinggi makna hidup mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir ataupun Begitu pula semakin rendah self-efficacy maka semakin rendah pula makna hidup. Penelitian ini memusatkan pengujian mengenai hubungan self-efficacy dengan makna hidup pada mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir ataupun skripsi. Hasil dati penelitian ini membuktikan bahwa hipotesa peneliti diterima, dengan koefisien korelasi sebesar 0. 686 > 0. 193 dan nilai signifikansi 0. <0. yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel yaitu self-efficacy dengan makna hidup pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Hal ini sejalan dengan penelitian agustini . yang mendapatkan hasil bahwa terdapat 3 subjeknya yang berhasil menemukan makna hidupnya karena memiliki selfefficacy untuk dapat keluar dari rasa takut dan kebingunngan yang melanda dirinya. Dan 1 subjek yang meragukan kemampuan dirinya atau self-efficacynya sehingga masih belum dapat menemukan kebermaknaan dari hidupnya dan subjek tersebut masih dalam proses mencari makna hidupnya. Seperti yang diketahui skripsi merupakan tugas akhir dari mahasiswa sarjana strata-1. Darmono dan Hasan . alam Roellyana dan Listiyandini, 2. mengatakan dalam dunia perguruan tinggi mahasiswa akan mempelajari teori-teori dan menempuh SKS semester demi semester terkait dengan jurusan yang dipilihnya. Setelah sampai pada tingkat akhir dan telah mencapai jumlah SKS yang dijadikan prasyarat untuk menempuh ketahapan berikutnya, mahasiswa akan masuk pada tahap terakhir dalam dunia perkuliahan, yaitu tugas akhir atau yang disebut juga dengan skripsi. Mahasiswa memiliki beberapa sumber stress diantara lain dapat berasal dari orang tua dengan tuntutan prestasi yang mereka berikan pada mahasiswa, frekuensi ujian, kurikulum akademik, kesulitan tidur, kekhawatiran akan masa depan, kesepian yang melanda, kualitas makanan, kelas yang tidak nyaman dan tidak tersedia sarana belajar (Shah et al. , 2. Penulis menyimpulkan kekhawatiran masa depan dapat masuk dalam kategori makna Karena usia remaja adalah usia pencarian jati diri. Yusuf . alam Wardani, 2. berpendapat mahasiswa merupakan remaja dalam fase akhir, yang ditandai oleh adanya pemantapan dorongan hidup dan pencarian sesuatu yang dianggap bernilai. Dorongan hidup dan pencarian yang bernilai ini merupakan salah satu proses menemukan makna hidup. Dalam teori sosial kognitif, rendahnya efikasi diri akan menyebabka meningkatnya kecemasan dan perilaku menghindar. Individu akan menghindari aktivitas-aktivitas yang dapat memperburuk keadaan, hal ini bukan disebabkan oleh ancaman tapi karena merasa tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola aspek-aspek yang berisiko (Bandura, 1. Berdasarkan penelitian Ningrum . , mahasiswa yang memiliki optimism rendah, jika menghadapi kendala dalam proses penyusunan skripsi, mahasiswa tersebut akan mudah menyerah dan menghindar dari kendala tersebut. Self efficacy sendiri dapat memunculkan rasa optimis yang akhirnya menimbulkan emosiemosi positif dan menghindarkan seseorang dari emosi emosi negatif seperti depresi (Luszczynska. Scholz, & Schwarzer, 2. Seseorang yang mempunyai self efficacy tinggi akan membangun suatu kondisi emosional yang baik dan kondusif bagi dirinya untuk menghadapi permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan kondisi emosional yang baik inilah, orang tersebut akan lebih siap dalam menangani permasalahan dan mengatasi stres yang dirasakan. Sehingga self-efficacy yang tinggi dapat memberikan pengaruh positif pada mahasiswa yang sedang menjalani skripsi karena keyakinan mahasiswa untuk dapat menjalani tugas akhirnya. Dengan self-efficacy yang tinggi tersebut juga, sumber-sumber stress dapat dihadapi yang dimana salah satunya adalah pencarian jati diri dan makna hidup. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data mengenai hubungan self-efficacy dengan makna hidup pada mahasiswa akhir yang mengerjakan skripsi maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara self-efficacy dengan makna hidup pada mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi . Semakin tinggi self-efficacy individu maka semakin tinggi makna hidupnya, sebaliknya semakin rendah self-efficacy individu maka semakin rendah makna hidupnya Saran Berdasarkan hasil temuan pada penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran untuk mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi untuk mempertahankan ataupun jika memungkinkan untuk meningkatkan self-efficacy yang terdapat dalam dirinya agar JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOLUME 7 NO 2 (FEBRUARI 2. memudahkan individu dalam memaknai hidupnya. Bagi peniliti kedepannya untuk lebih dapat mengontrol variabel yang kemungkinan bisa mempengaruhi variabel self-efficacy seperti jurusan kuliah, jenis kelamin dan asal universitas agar dapat memperoleh informas yang lebih meluas dan mendalam yang berhubungan dengan penelitian hubungan antara selfefficacy dan makna hidup pada mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi. DAFTAR PUSTAKA