SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 Januari-Juni 2020 REPRESENTASI SUKU PAPUA DALAM NARASI FILM ANAK (Analisis Narasi Teks Film AuDenias. Senandung di Atas AwanAy dan AuDi Timur MatahariA. Primada Qurrota Ayun Universitas Diponegoro ayu@gmail. Abstrak Film merupakan salah satu media massa, fungsi dari media massa adalah menyampaikan informasi dan sebagai media pendidikan. Film anak, secara tidak langsung mampu menghadirkan sebuah representasi, penggambaran terhadap realitas melalui narasinya. Film AuDenias - Senandung di Atas AwanAy dan AuDi Timur MatahariAy, merupakan film yang mencoba menggambarkan representasi Suku Papua. Teori yang digunakan di dalam penelitian ini adalah Materialist Film Theory by Siegfried Kraucauer dan Representation of Stuart Hall. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan naratif teks milik Murphet dan alur cerita milik Stanton. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Suku Papua direpresentasikan sebagai sosok masyarakat yang termarginalkan, minoritas, bersifat etnosentris, dan berbeda dengan suku yang lain di Indonesia. Namun. Alenia Picture berusaha menawarkan hadirnya sosok Suku Papua yang baru, yaitu suku yang terbuka, diperhatikan dan mendapatkan hak berupa pendidikan serta kehidupan yang damai. Kata Kunci : Film Anak. Representasi. Naratif Teks Abstract Film is one of the mass media, the function of the mass media is to convey information and as a medium of education. Children's films, are indirectly able to present a representation, a depiction of reality through its narrative. The films "Denias - Senandung di Atas Awan" and "Di Timur Matahari", are films that try to portray the representation of the Papuan Tribe. The theory used in this research is Materialist Film Theory by Siegfried Kraucauer and Representation of Stuart Hall. This research is a qualitative research using Murphet's narrative text and Stanton's storyline. The results of this study indicate that the Papuan ethnic group is represented as a marginalized, minority, ethnocentric society, and is different from other ethnic groups in Indonesia. However. Alenia Picture tries to offer the presence of a new Papuan ethnic figure, a tribe that is open, cared for and has rights in the form of education and a peaceful life. Keywords: ChildrenAos Film. Stereotype. Narrative texs. PENDAHULUAN Au Ini Aceh, adanya di Sumatra. Kalau kita ada di pulau mana. Maleo? Di sinikah?. Bukan. Kalau ini Kalimantan. Kita ada di sini, di Pulau Papua. Jadi susunannya, ini Sumatra. Jawa, ini Kalimantan, ini Sulawesi dan ini Papua. Susunannya harus beginiAAy. utipan percakapan film AuDenias - Senandung di Atas AwanA. Diterbitkan oleh FISIP UMC Sudah sejak lama Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, yang terdiri atas lima pulau besar yaitu. Sumatra. Jawa. Kalimantan. Sulawesi, dan Papua. Lagu Sabang. Merauke kepulauan Indonesia di awali dari Sumatra kemudian berakhir di Papua. Tidak mengherankan jika dalam percakapan yang | 31 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 terjadi antara Maleo dan Denias dalam film AuDenias Ae Senandung di Atas AwanAy kepulauan Indonesia harus runtut seperti Suku Papua dalam konteks Indonesia, erat kaitannya dengan adanya perbedaan yang tajam dalam konstruksi Nasionalisme Indonesia dan Nasionalisme Papua. Bagi Indonesia. Papua merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Hal ini bertentangan dengan masyarakat Papua yang menganggap dirinya berbeda ras dengan masyarakat Indonesia. Thorning dan Kivimaki . alam Widjojo, 2009: . membahas mengenai masalah mendasar di Papua, yaitu adanya stereotip nasionalis Indonesia tentang orang Papua yang cenderung merendahkan harkat dan martabat orang Papua. Hal-hal ini berkaitan dengan hak-hak politik orang Papua sebagai warga negara Indonesia. Papua dimarjinalisasikan sebagai kelompok subordinat akibat dari relasi kekuasaan yang bersifat asimetris dengan kelompok dominan. Suku Papua kerap mendapat gambaran yang tidak baik pada media di Indonesia sejak dulu. Film merupakan salah satu media massa yang memiliki peran sebagai pemberi informasi pada khalayak luas. Hal yang menarik dilakukan oleh Rumah Produksi Alenia (Alenia Pictur. Rumah produksi milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, melalui film anak mereka mencoba menggambarkan bagaimana kehidupan Suku Papua, dan kehidupan daerah yang jarang terjamah oleh ekspose media massa. Film anak pertama buatan Alenia Picture mengenai Suku Papua adalah Denias. Ketika menonton film Denias, sosok tokoh utama dalam film ini adalah sosok yang jarang muncul di dalam filmfilm yang lain. Seorang anak yang sedang mengenyam pendidikan sekolah dasar, berkulit gelap, dan tinggal di sebuah Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 perkampungan di pedalaman Pulau Papua. Pulau yang terletak di wilayah timur Indonesia dan jauh dari ekspose media Sebuah gambaran yang berbeda dengan gambaran anak sekolah dasar yang sering ditampilkan di media massa lainnya. Kesuksesan film Denias di tahun Alenia Pictures mengambil scene mengenai daerah Indonesia bagian Timur. Sebut saja film Tanah Air Beta di tahun 2010, yang mengisahkan mengenai kehidupan di perbatasan Timor-timor. Kemudian film Serdadu Kumbang . yang mengambil latar belakang kehidupan anak-anak di pulau NTT. Film yang terbaru di tahun 2012 adalah film Di Timur Matahari, yang mengambil syuting di Papua, seperti film Denias tetapi dengan konsep cerita yang Rumah Produksi Alenia, mencoba menggambarkan Indonesia sebagai negara yang multikultural, yang memiliki beragam Secara keberagaman Indonesia diangkat kembali melalui film-film anak tersebut untuk menghadirkan konsep tersebut secara ideal. Salah satu lembaga yang konsen terhadap tayangan di Indonesia yaitu Remotivi Indonesia, menemukan bahwa tayangan televisi jika menampilkan mengenai suku yang berbeda, yang ditampilkan adalah mengenai pertentangan antar suku dan budaya. Cahasta . juga menambahkan bahwa salah dua serial FTV di SCTV. Gara-gara Gino . September 2. dan Seandainya Aku Bukan Gue . Oktober 2. merupakan contoh lain konstruksi narasi dengan prasangka suku, yaitu. sosial-ekonomi yang dilekatkan pada identitas suku. Suku A yang angkuh dan kaya dipertentangkan dengan suku B yang lugu dan miskin. Ethnic Runaway di Trans Konsep tayangannya adalah dua orang artis tinggal dan beraktivitas bersama komunitas masyarakat adat. Yang | 32 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 ditonjolkan Ethnic Runaway adalah Mengkonstruksi narasi bahwa mereka hidup dalam ketertinggalan peradaban. Menganggap masayarakat adat sebagai liyan . he other. Film seharusnya menampilkan menawarkan solusi untuk mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan, bukannya malah mempertajam perbedaan yang ada. Untuk itu kehadiran film-film anak mampu mengenalkan dan mendidik anak-anak multikulturalisme dan perbedaan yang ada di Indonesia. Film produksi Alenia Picture menjadi menarik untuk diteliti dikarenakan mencoba menggambarkan suku Papua dalam sebuah pandangan yang lain, yang berbeda dari gambaran yang ada selama Persoalan yang coba dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana film AuDenias. Senandung Di Atas AwanAy dan AuDi Timur MatahariAy merepresentasikan suku Papua melalui tokoh, karakter dan alur dalam sebuah film. Film dan Suku Papua merupakan sebuah kajian yang menarik untuk diteliti. Dalam penelitian sebelumnya yang berjudul Representasi Identitas Suku Papua dalam Serial Drama Remaja Diam Ae Diam Suka oleh Christiani . menunjukkan bahwa media massa melalui teks menggambarkan identitas Papua sebagai sesuatu yang bodoh, aneh dan primitif melalui teks yang disajikan dalam tayangan tersebut. Selain itu penelitian yang dilakukan Gumono . tentang Analisis Film Denias Dengan Pendekatan Prgamatik, menujukkan bahwa banyak Suku pedalaman Papua dalam mengenyam Masyarakat Papua khususnya di daerah pedalaman masih tertinggal jauh. METODE PENELITIAN Penelitian Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 dimaksudkan untuk memberikan gambaran bagaimana Film Denias Ae Senandung Di Atas Awan dan Di Timur Matahari merepresentasikan suku Papua dalam perspektif multikuturalisme. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif dan naratif teks. Analisis isi kualitatif oleh Siegfried Kracauer (Jensen & Jankwoski, 1991: . merupakan sebuah analisis yang melihat bagaimana content atau pesan dari sebuah media mengandung sebuah Analisis ini mencoba untuk melihat makna dari sebuah pesan dengan melihat unit-unit yang ada . ords, expressions, statements, et. Struktur naratif pada sebuah cerita anak-anak menurut Stanton . alam Kurniawan, 2009: 70-. terdiri dari beberapa elemen, yaitu . - Plot (Alu. , peristiwaperistiwa yang terdapat di dalam cerita yaitu berupa rangkaian peristiwa yang terbentuk melalui proses sebab akibat . Alur dalam sebuah cerita anak dibagi menjadi tiga bagian, yaitu. Bagian awal, biasanya digunakan informasi yang diperlukan dalam pemahaman cerita secara eksposisi. Bagian tengah dalam cerita ini menghadirkan konflik dan klimaks. Konflik merupakan tahap krusial dalam cerita karena keberadaan keinginan antar tokoh saling Sunarto menjelaskan biasanya dalam alur ini bisa dijumpai konflik yang ditemui oleh tokoh utamanya, apakah konflik yang terjadi dengan diri sendiri . erson-against-sel. , konflik dengan orang lain . ersonagainst-perso. , konflik dengan alam . erson-against-natur. , dan | 33 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 . erson-against-societ. Konflik dalam tahap ini akan sehingga mencapai pada klimaks cerita yaitu suatu momen dalam cerita saat konflik berlangsung memuncak dan mengakibatkan terjadinya penyelesaian yang tidak dapat dihindari. Bagian akhir, terdiri dari segala sesuatu dari klimaks menuju ke pemecahan atau hasil cerita. - Tokoh, merujuk pada orang atau individu yang hadir sebagai pelaku dalam sebuah cerita. - Latar . , adalah lingkungan tempa terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita - Tema, adalah makna cerita yang pengalaman hidup. - Judul, merupakan elemen yang paling dikenali oleh khalayak. Dalam cerita anak dapat dipastikan bahwa judul sangat berkorelasi dengan isi cerita. - Sudut Pandang . oint of vie. , merupakan cara pandang atau pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah cerita kepada khalayak. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Film berperan sebagai sarana untuk menyebarkan hiburan, menajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak dan sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum. Anti-realist view. Siegfried Kraucauer (Mast & Cohen, 1979: . , pencetus awal mengenai pandangan film sebagai sebuah gambaran atas realitas. Kraucauer, berargumentasi bahwa film adalah foto dari realitas dan merupakan bentuk gambaran yang ada secara ilmiah di dunia. Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 Alasan dari Kraucauer mengemukakan hal tersebut adalah karena sebuah film di produksi melalui hal-hal yang ada secara memungkinkan untuk menggambarkan dunia, bukan sekedar hasil seni. Film masyarakatnya, hal ini dikarenakan karakteristik di dalam sebuah film mampu membentuk semacam konsensus publik secara visual. Ferdinand Saussure dan Jacques Lacan (Littlejohn & Foss, 2009: . mengembangkan teori materialist dalam melihat film, yaitu dengan melihat bagaimana struktur dari bahasa bermain di dalam sebuah film. Tujuan dari teori ini adalah melihat bagaimana sejarah dari sebuah konten film. Teori ini terkonsen melalui teks, sistem bahasa, dan makna yang dihasilkan dalam sebuah film. Film anak, menurut MacDaugall . 6: . adalah sebuah film yang menampilkan nilai yang dimiliki anak-anak di masa anak-anak. Anak-anak memiliki sebuah dunia sendiri yang menjadi awal dari mereka untuk menggambarkan dunia diluar diri mereka. Berdasarkan pemikiran Locke (Nurnisya, 2. , ide dalam diri manusia berdasarkan atas pengalaman empiris. Locke melihat pikiran manusia bagaikan sebuah tabula rasa, seperti kertas putih yang kosong dimana individu bisa dengan bebas mengisi kertas tersebut. Penerima pesan yaitu anak-anak dilihat sebagai tabula rasa yang dapat diisi dengan ide-ide dari pengiriman pesan melalui media Anak-anak merupakan heavy viewer. George Gerbner (Griffin, 2000: . menegaskan bahwa pengguna televisi pada tingkat heavy viewer akan terus mengembangkan keyakinan bahwa realita dunia sesuai dengan apa yang ditampilkan di media Representasi merupakan sebuah proses sosial pemaknaan melalui sistem | 34 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 Representasi menurut Hall. Aupada hakikatnya menghubungkan antara sesuatu, konsep, dan tanda dalam sebuah proses produksi makna lewat bahasa yang secara sederhana dipahami sebagai suatu proses produksi makna tentang konsep yang ada dalam pikiran kita lewat bahasaAy . 7:15-. Representasi sangat berhubungan dengan penggambaran kembali budaya dan Menurut Hall . 7: . , representasi berarti menggunakan bahasa untuk mengungkapkan sesuatu yang bermakna, atau untuk mewakili, dunia penuh arti, untuk orang lain. Representasi merupakan bagian penting dari sebuah proses pertukaran makna, dimana makna diproduksi dan dipertukarkan antara anggota melalui budaya. Bahasa, tanda, merepresentasikan sesuatu hal. Theorist dijelaskan oleh Hall . 7: 24-. melalui tiga pendekatan untuk menjelaskan bagaimana representasi dari pemaknaan melalui bahasa. Ketiga pendekatan itu adalah reflective approach, intentional approach, dan constructivist approach. Reflective approach, menganggap bahwa bahasa memiliki fungsi sebagai kaca, yang mampu merefleksikan makna sebenarnya akan suatu hal yang ada di dunia ini. Bahasa dalam pendekatan ini dijadikan sebagai sebuah sistem sederhana untuk merefleksikan atau mengimitasi kebenaran yang ada di dunia, disebut sebagai Intentional berkebalikan dengan reflective approach, dimana bahasa sebagai sebuah sistem pemikiran sosial. Artinya, pemikiran pribadi seseorang dapat dinegosiasikan melalui bahasa untuk disebarluaskan kepada orang lain. Constructionist approach, melihat bagaimana bahasa dapat Dalam pendekatan ini kita sendirilah yang menggunakan sistem representasi. Sistem Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 merepresentasikan konsep yang kita miliki. Disini aktor sosial yang menggunakan sistem konsep dari budaya mereka, melalui bahasa, kemudian sistem representasi mengkonstruksikan makna untuk membuat dunia menjadi lebih bermakna dan untuk Film anak Denias dan Di Timur Matahari bagaimana kehidupan di wilayah Papua. Identitas Papua dicoba digambarkan melalui kedua film tersebut. Gudykunst . 2: . , menyatakan bahwa identitas merupakan hal yang penting dalam menampilkan diri dan berkomunikasi antarbudaya. Identitas baginya terdiri dari identitas rasial . ang berdasarkan pada karakteristik individ. , . dentitas digunakan oleh individu pada saat berkomunikasi pada budaya yang lebih bersa. , identitas suku . dentifikasi diri dan pengetahuan tentang budaya suku Ae tradisi, customs, nilai, dan perilak. , dan identitas sosial . engacu pada pengetahuan anggota kelompok buday. Analisis naratif digunakan dalam menganalisis cerita anak dengan cara mengurai film ini menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah dibagi dalam bentuk adegan . , kemudian kedua dijadikan sekuen-sekuen tertentu, lalu yang ketiga adalah menganalisis shots tertentu agar mampu memberikan gambaran naratif secara efisien, dan melihat bagaimana individu . mampu memberikan informasi naratif secara relevan. Hasil dari studi naratif dari kedua film anak tersebut melalui adegan, sekuen, dan shots menunjukkan hal berikut . Alur cerita yang disajikan dalam kedua film ini mencoba menampilkan bagaimana kondisi Papua, sebagai wilayah yang serba terbatas dan sering terjadi Konflik terkadang terjadi akibat adanya permasalahan yang kompleks. Disamping itu alur cerita film ini juga menggambarkan, bagaimana masyarakat | 35 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 luar Papua ditampilkan sebagai mereka yang lebih baik dari segi ekonomi, pendidikan, sedangkan masyarakat Papua lebih rendah. Papua selalu dianggap terbelakang sehingga menyebabkan segala fasilitas dan infrastruktur di Papua berkembang secara terlambat. Belum lagi dari adat istiadat dan kebudayaan di Papua, yang sering digambarkan secara kuno dan tidak mau menerima hal baru. Kedua film anak ini dari segi alur cerita, mencoba untuk menampilkan realitas Papua sesuai dengan gambaran yang ada selama ini. Tetapi hal yang menarik dari alur cerita ini adalah bagaimana konflik dan permasalahan yang sehingga di akhir cerita. Sehingga Papua memperoleh kehidupan yang lebih layak ketimbang yang mereka rasakan selama Dari segi tema film anak, tema persahabatan, pendidikan, perbedaanperbedaan yang coba disatukan, dan indahnya kebersamaan dalam kehidupan yang damai. Tema ini sangat menarik untuk mengambil hati para penonton dan memberikan sebuah solusi, mengingat permasalahan perbedaan suku merupakan permasalahan yang kompleks di Indonesia. Tokoh film merupakan sosok yang penting dalam menggambarkan bagaimana sosok anak dari Papua. Kedua tokoh film anak ini memiliki identitas ras sebagai anak asli Papua, yang memiliki kulit gelap, rambut ikal keriting, dan tinggal di Papua. Tokoh film memegang peranan penting dalam membangun konflik baik secara vertikal dan horisontal. Keberadaan tokoh protagonis dan antagonis, secara apik ditampilkan dalam film ini. Setting alur cerita film anak ini menampilkan bagaimana keindahan Pulau Papua yang dikontraskan dengan keadaan yang ada disana. Setting film ini secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan bagaimana Papua yang digambarkan sebagai sebuah pulau yang kaya, tetapi Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 pada kenyataannya banyak infrastruktur yang tidak memadahi dan tergolong Setting cerita dalam film AuDenias Senandung di Atas AwanAy mengambil setting di Pulau Papua, suku Meagoni. Denias di gambarkan sebagai seorang anak suku pedalaman Papua yang tinggal di Honai (Rumah penduduk di Papu. Sekolah Denias pun bernama sekolah darurat, yang menggambarkan sebuah bangunan seadanya, hanya memiliki atap dan pembatas dinding berupa kayu, tanpa pintu, dan terletak di sebuah pegunungan. Setting cerita dalam film AuDi Timur MatahariAy mengambil setting di Pulau Papua. Setting utamanya menggambarkan mengenai keadaan Pulau Papua, yang penuh dengan padang rumput yang luas, sungai yang jernih, pohon-pohon yang banyak, dan keindahan alam Papua Gaya bercerita kedua film anak ini mencoba menampilkan sesuai dengan rasionalitas di mata pengarang dalam Papua mendapatkan hak-hak kultural mereka. Melalui film ini menampilkan, sutradara bagaimana kebenaran yang ada di sana di pandang dari segi khalayak, dan disetujui. Dari segi point of view. Alenias mencoba menawarkan dua sudut pandang yang berbeda. Di Film Denias, sudut pandang orang utama, tokoh utama . irstperson-centra. , mengenai pengalaman hidup dari Denias. sedangkan di Film Di Timur Matahari. Sudut pandang orang ketiga, dimana pengarang serba tahu . hird-personomniscien. yaitu pengarang mengacu pada setiap tokoh dalam bentuk orang ketiga . ia atau merek. , dan menceritakan apa yang didengar, dilihat, dan dipikirkan oleh beberapa tokoh. Identitas Kultural Suku Papua dalam kedua film ini ingin menunjukkan bahwa setiap suku di Indonesia memiliki hak yang sama untuk menunjukkan Sehingga | 36 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 mengherankan apabila representasi suku Papua begitu erat dengan identitas ras, suku, dan sosial mereka. Dalam dua film ini dengan menampilkan sosok pemain utama yang memiliki warna kulit hitam dan berambut ikal . rang asli Papu. Suku Papua juga ditampilkan sebagai suku yang memegang tinggi nilai-nilai moral dan budaya suku tersebut. Hal ini dapat dilihat dari beberapa scene yang menggambarkan mengenai . pacara pemasangan koteka, upacara potong jari serta mandi lumpur, dan hukum ada. Dari identitas sosial, kedua film ini mencoba menampilkan bagaimana kekuasaan terbesar yang akan mempengaruhi suatu hasil keputusan. Masyarakat Papua, dalam film ini direpresentasikan mudah berkomunikasi dengan suku lain, tetapi mereka juga melakukan akomodasi secara divergen apabila apa yang ditawarkan tidak sesuai dengan kebudayaan atau adat istiadat Film ini secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa masyarakat Papua adalah masyarakat yang minoritas di tanahnya sendiri ketimbang masyarakat dari luar Papua. Di tambah lagi, dengan adanya hukum adat, membuat mereka makin menjadi minoritas di sana. Sedangkan pelaku stereotip, datangnya dari suku Papua sendiri dalam memandang Jawa dan begitu pula sebaliknya. Mereka merasa berbeda dengan Jawa dan tidak mau disamakan dengan kehidupan di Jawa. Etnosentrisme juga terjadi dalam diri suku Papua. Hal ini terlihat dari bagaimana keinginan mereka untuk mematuhi hukum adat, ketimbang menerima masukan dari luar yang dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan dan adat istiadat mereka. Secara menganggap bahwa hukum adait adalah yang terbaik daripada berdiskusi dalam menyelesaikan permasalahan. Hal in mempertahankan hak kultural yang dimiliki yaitu dengan menjalankan Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2020 kehidupan seperti adat istiadat yang telah mereka lakukan selama ini. Di dalam film AuDenias. Senandung di Atas AwanAy, penonton disajikan bagaimana infrastruktur pendidikan di Papua tidaklah memenuhi. Berbeda sekali dengan infrastruktur pendidikan di Jawa. Padahal jika kita merujuk pada prespektif multikulturalisme di Indonesia, setiap warga negara di Indonesia berhak untuk Sedangkan dalam film AuDi Timur MatahariAy. Alenia Pictures mencoba menampilkan kehidupan di Papua yang serba kekurangan tetapi segala sesuatunya disana mahal. Tidak mengherankan jika banyak terjadi konflik akibat adanya denda adat yang nominalnya sangat fantastis. Hal ini adalah efek perekonomian di pedalaman Papua, yang menjual segala barang-barang dengan harga yang sangat berbeda dengan pulau Jawa. Padahal. Papua menyumbang pertambangannya, tetapi kehidupan rakyat Papua sangat jauh dari kesejahteraan. KESIMPULAN Kesimpulan dari analisis film anak tersebut menarik untuk didiskusikan lebih Selama ini, media massa kerap dimiliki Indonesia dengan adanya konflik dan kekerasan. Pemberitaan- pemberitaan yang ditampilkan, membuat masyarakat masyarakat Indonesia yang mampu berbhineka tunggal ika. Namun, disisi lain terdapat pihak yang mendukung agar bangsa Indonesia yang merupakan negara multikultural mampu hidup berdampingan dengan segala perbedaan yang ada, dengan cara mengakui keberadaan mereka dan memberikan hak-hak kultural pada mereka tanpa terkecuali. Film-film anak produksi Alenia Pictures bagaimana masyarakat Papua selalu mendapat stereotip yang negatif. Adanya | 37 SOSFILKOM Volume XIV Nomor 01 stigma negatif mengenai masyarakat Papua. Alenia Pictures mengangkat kehidupan di Papua dalam sebuah film. Temuan di dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hingga saat ini masih terjadi ketidakadilan yang di terima oleh masyarakat Papua. Wacana mengenai Papua terbelakang, kuno, dan tidak berpendidikan sangat tampak jelas di dalam kedua film Belum lagi terdapat beberapa scene yang membandingkan antara Papua dan Jawa. Film ini mencoba menyadarkan khalayak penonton, bahwa selama ini anggapan stereotip mengenai Papua bukan karena suku itu sendiri, melainkan mereka berstereotip karena sejarah yang ada dan Indonesia Papua. Padahal seharusnya sebagai negara yang multikultural. Indonesia bisa menerima dan mengakomodasi segala perbedaan yang Implikasi dari studi ini adalah bagaimana sebaiknya media massa menampilkan hal yang relevan sesuai dengan kenyataan di masyarakat, tanpa menonjolkan stigma tentang sebuah suku yang sudah ada. Suku Papua, merupakan salah satu suku di Indonesia dan dia memiliki hak yang sama untuk disajikan dengan setara dengan suku Ae suku yang DAFTAR PUSTAKA