Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus KONDISI BIOPSIKOSOSIAL ANAK JALANAN (Pendekatan Partisipatif untuk Mempelajari Kondisi Biopsikososial dan Harapan Anak Jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandun. Risma Neta Lestari1. Astrid Nabillah2. Bilqist Khairunnisa Rahma3. Neta Nabila Tricintiya4. Nabilah Naila Nurohmah5. Yani Achdiani6. Gina Indah Permata Nastia7 1,2,3,4,5,6,7Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Universitas Pendidikan Indonesia Article history Received: 18 November 2024 Revised : 10 Desember 2024 Accepted: 19 Desember 2024 *Corresponding author Email: 1rismaneta10@gmail. No. Doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis kondisi biopsikososial anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung, dengan pendekatan partisipatif. Penelitian ini melibatkan anak jalanan untuk menggali pengalaman, pandangan dan harapan mereka tentang mengidentifikasi kebutuhan, pemberdayaan dan merancang solusi yang sesuai. Peneitian ini bertujuan untuk memahami kondisi biopsikosial anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung melalui keterlibatan anak jalanan sebagai subjek aktif dalam proses penelitian. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam pada tiga anak perempuan yang dipilih menggunakan teknik purposive. Hasil penelitian menegaskan, bahwa kondisi biopsikososial anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Bandung menghadapi masalah kesehatan, keterbatasan pendidikan, dan stigma sosial. Meskipun hidup dalam kesulitan fisik dan emosional, anak-anak jalan tetap memiliki harapan dan cita-cita, seperti menjadi dokter atau tentara. Namun, tantangan ekonomi dan akses yang terbatas menjadi hambatan oleh karenanya, dibutuhkan intervensi sosial dan kebijakan untuk meningkatkan akses kesehatan, pendidikan dan dukungan psikososial bagi anak jalanan, guna memberikan kesempatan baik dalam menyongsong masa depan. Kata kunci: Anak Jalanan. Biopsikososial. Kesejahteraan. Pendekatan partisipatif ABSTRACT This study analyzes the biopsychosocial conditions of street children in Pasir Kaliki Village. Cicendo District. Bandung City, using a participatory approach. This study involves street children to explore their experiences, views, and expectations about biopsychosocial conditions so that researchers can identify needs, and empowerment and design appropriate This study aims to understand the biopsychosocial conditions of street children in Pasir Kaliki Village. Cicendo District. Bandung City through the involvement of street children as active subjects in the research process. Using a Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus qualitative descriptive method, data were collected through participatory observation and in-depth interviews with three girls selected using a purposive technique. The results of the study confirmed that the biopsychosocial conditions of street children in Pasir Kaliki Village. Bandung face health problems, limited education, and social stigma. Despite living with physical and emotional difficulties, street children still have hopes and dreams, such as becoming doctors or soldiers. However, economic challenges and limited access are major Therefore, social and policy interventions are needed to improve access to health, education, and psychosocial support for street children, to provide good opportunities in facing the future. Keywords: Street Children. Biopsychosocial. Welfare. Participatory approach PENDAHULUAN Fenomena anak jalanan telah menjadi permasalahan sosial yang kompleks di berbagai negara, terutama di negara-negara Menurut Rano Karno dalam Suyanto . anak jalanan adalah anakanak yang tersisih, termarginalisasi, sera teralienasi dari afeksi atau kasih sayang karena keadaan yang memaksanya untuk berhadapan dengan lingkungan kota yang keras serta tidak kondusif. Keberadaan anak jalanan umumnya tersebar di beberapa zona atau tempat tertentu, pada tempat atau lokasi tersebut biasanya digunakan untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti melakukan aktivitas ekonomi dan aktivitas keseharian. Direktorat Kesejahteraan Anak. Keluarga, dan Lanjut Usia. Departemen Sosial . dalam Oktaviani . menjelaskan bahwa anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya, dengan rentang usia antara 6 sampai dengan 18 tahun. Waktu yang mereka habiskan di jalanan biasanya lebih dari 4 jam per hari. Secara umum, anak jalanan menghabiskan waktunya di jalan untuk mencari nafkah, baik atas kemauan sendiri maupun karena dorongan dari orang tuanya. Menurut Aptekar dan Stoecklin dalam Puruhita et al. anak jalanan adalah mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk bekerja, bermain, atau tinggal, dengan atau tanpa keluarga. Kondisi ini dipicu oleh kemiskinan yang memaksa anak-anak terjun ke jalan untuk mencari penghasilan guna memenuhi Selain kemiskinan, faktor lain seperti pengasuhan yang tidak mampu dan kekerasan dalam rumah tangga juga turut menyebabkan bertambahnya jumlah anak jalanan. Anak jalanan tidak hanya menghadapi kesulitan ekonomi dan kebutuhan fisik dasar, tetapi juga mengalami tekanan psikologis dan sosial akibat stigma dan kondisi lingkungan yang kurang kondusif. Kondisi ini menghambat perkembangan optimal anak-anak tersebut, baik secara fisik, mental, maupun sosial, yang merupakan aspek utama kesejahteraan mereka(Aisyah et al. , 2. Konsep kesejahteraan sosial mencakup upaya untuk mencapai kondisi kehidupan yang layak bagi setiap individu, termasuk anak jalanan, agar mereka dapat Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus berkembang secara optimal dalam aspek biologi, psikologis, dan sosial (Husna, 2. Pendekatan menawarkan cara untuk memahami kondisi jalanan melalui integrasi aspek biologi, psikologis, dan sosial (Erlanga et al. Pendekatan menyeluruh, dari kondisi fisik mereka hingga hubungan sosial yang membentuk pengalaman hidup sehari-hari. Dalam konteks ini, aspek biologi meliputi sedangkan aspek psikologis meliputi kondisi emosional serta tantangan psikologis yang dihadapi. Aspek sosial mencakup interaksi dengan teman sebaya, keluarga, dan masyarakat umum. Fenomena anak jalanan merupakan masalah sosial yang mendesak, terutama di wilayah perkotaan seperti Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung. Daerah tersebut dikenal memiliki populasi anak jalanan yang cukup besar dan mengalami berbagai tantangan fisik, psikologis, serta sosial. Berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kementrian Sosial per 15 Desember 2020, yaitu terdapat sebanyak 67. 368 jumlah anak terlantar di Indonesia dan 2. 800 di di Kota Bandung (Jurnalpos, 2. Penelitian terdahulu oleh Putri . telah menyoroti kondisi psikososial anakanak yang terlibat dalam aktivitas mengemis, menggunakan pendekatan psikososial dari Erikson, khususnya tahap industry vs. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa anak-anak yang menghadapi tekanan dan kekurangan otonomi cenderung mengalami perasaan rendah diri dan hambatan dalam perkembangan psikososial mereka akibat kondisi jalanan. Berbeda dari penelitian tersebut, penelitian ini memperluas cakupan dengan pendekatan biopsikososial yang komprehensif, mencakup aspek biologis, seperti status kesehatan dan kebutuhan dasar, di samping aspek psikologis dan sosial. Penelitian ini juga langsung untuk lebih mendalami harapan dan aspirasi anak jalanan, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi intervensi yang lebih tepat sasaran dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Penelitian memahami kondisi biopsikosial anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung dengan melibatkan anak jalanan sebagai subjek aktif dalam proses penelitian. Melalui pendekatan partisipatif, penelitian ini bertujuan untuk menggali aspek kesehatan fisik, kondisi emosional, dan interaksi sehingga dapat perspektif mengenai tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari anak METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi partisipatif untuk menggali kondisi biopsikosial anak jalanan. Metode kualitatif digunakan mengumpulkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata atau perilaku yang diamati (Moleong dalam Rachmawati et al. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi langsung, wawancara dan dokumentasi. Dalam Triangulasi membandingkan data yang diperoleh dari tiga sumber berbeda, yaitu wawancara dengan anak jalanan, pendamping sosial dan data dokumentasi terkait kondisi anak Selain itu, informan dipilih secara purposive, yaitu memilih tiga anak jalanan informasi terkait topik penelitian. Informan yang dipilih dalan penelitian ini adalah anak-anak jalanan dengan karakteristik, yaitu berusia antara 10-12 tahun dan tinggal atau menghabiskan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus waktu di jalanan seperti mengemis. Hal Pertama, anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung keragaman latar belakang yang dapat memberikan perspektif luas mengenai Kedua, ketiga anak jalanan dipilih sebagai informan karena memiliki Meskipun banyak anak jalanan lainnya, ketiga informan dipilih berdasarkan intensitas keterlibatannya dalam kehidupan jalanan dan kemampuan berbagi pengalaman yang mencakup tantangan fisik, psikologis, dan sosial, serta mewakili beragam latar belakang anak jalanan yang lain. Ketiga, dalam pendekatan pertisipatif yang digunakan, peneliti mengambil peran sebagai fasilitator yang mendampingi anakanak jalanan untuk mengungkapkan pengalaman dan kondisi yang dialami secara langsung. Alih-alih hanya menjadi pengamat, peneliti terlibat dalam dialog anak-anak sehingga memungkinkan untuk aktif berpartisipasi dalam proses penelitian. Berikut adalah inisial anak jalanan yang dilibatkan dalam penelitian. No. Inisial Usia Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Perempuan Tabel 1. Target Informan Data yang diperoleh dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 2-3 Oktober 2024 di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Biologis Anak Jalanan Penelitian ini melibatkan ketiga informan sebagai informan utama dengan informan V . A . , dan D . , memiliki kondisi biologis dan fisik yang berbeda. D, yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik, terlihat lebih sehat meskipun kekurangan nutrisi. Sementara A dan V, yang berasal dari keluarga dengan ekonomi Menurut Reece et al. dalam Dailami et al. , biologi berasal dari kata AubiosAy yang berarti AukehidupanAy dan AulogosAy yang berarti AuilmuAy, sehingga biologi mempelajari kehidupan manusia. Dalam hal ini, kondisi biologis mencakup faktor-faktor kebutuhan dasar manusia, seperti kondisi (Puspitasari & Primanto, 2. Bagi anak diterpengaruh oleh gaya hidup yang keras di jalanan yang menyebabkan masalah kesehatan yang mempengaruhi kualitas Hasil observasi di Jl. Pasir Kaliki pada 2 Oktober 2024, bahwa anak-anak jalanan sering kekurangan akses ke fasilitas kesehatan, karena kurangnya kebersihan dan nutrisi yang baik yang memicuk munculnya penyakit ringan seperti batuk atau pilek, serta masalah serius seperti infeksi kulit, gangguan pencernaan, atau Hasil observasi lanjutan pada 3 Oktober menunjukkan, bahwa ketiga anak yang diamati, yaitu V . A . , dan D . , memiliki kondisi fisik yang berbeda. D berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik, terlihat lebih terjaga meskipun masih kekurangan Sementara A dan V, berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit, menunjukkan tanda-tanda malnutrisi, seperti tubuh yang lebih kurus dan lemah. Perbedaan dampak perbedaan akses kesehatan dan ekonomi keluarga. Anak jalanan sering hidup di lingkungan yang keras, di mana perawatan kesehatan bukanlah prioritas, penghalang mendapatkan perawatan yang Data tersebut diperoleh peneliti Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus melalui triangulasi dengan memverifikasi informasi yang didapatkan dari wawancara dengan anak-anak jalanan dan observasi Kebersihan dan Perawatan Fisik Anak-anak Dalam melakukan pengamatan atau observasi langsung untuk mendapatkan gambaran akurat tentang kehidupan sehari-hari anakanak jalanan. Sebagai bagian dari pendekatan partisipatif, peneliti tidak hanya mengandalkan wawancara atau survei, tetapi juga terlibat langsung dalam lingkungan tempat anak-anak jalanan berada, menyaksikan bentuk interaksi, serta merasakan langsung tantangan yang Seperti halnya A dan V tampak menunjukkan kondisi fisik yang kurang Mereka terlihat kurus, memakai pakaian yang lusuh, serta memiliki rambut yang kotor dan kemerahan akibat paparan sinar matahari yang berlebihan. Rambut mereka tampak berantakan dan kering, yang menunjukkan kurangnya perawatan diri serta seringnya mereka berada di luar ruangan dalam kondisi cuaca yang panas. Selain itu, kuku-kuku mereka juga panjang dan kotor, menandakan kurangnya perhatian terhadap kebersihan pribadi. Berdasrkan observasi peneliti, bahwa kondisi pakaian mereka juga menunjukkan tanda-tanda kemiskinan. A dan V memakai pakaian tidur yang sudah lusuh dan kotor, tidak memiliki pakaian bersih dan layak untuk dipakai sehari-hari. Hal ini mencerminkan keterbatasan sumber daya yang mereka miliki, baik untuk perawatan diri maupun untuk menjaga kesehatan. Hidup di lingkungan yang kotor, penuh debu, dan tanpa akses sanitasi yang layak membuat mereka rentan terhadap penyakit kulit, infeksi, dan gangguan kesehatan Sebaliknya. D tampak dalam kondisi yang lebih baik dari segi perawatan fisik. mengenakan pakaian yang bersih dan terlihat lebih terawat dibandingkan A dan D juga memakai pakaian panjang dan kerudung, yang mencerminkan perbedaan kebersihan dan penampilan. Namun, meskipun D tampak lebih terawat, ia juga memiliki keterbatasan dalam hal akses terhadap perawatan kesehatan dan kebersihan, terutama ketika ia jatuh sakit. Kesehatan Fisik Kesehatan fisik anak-anak jalanan sangat terpengaruh oleh keterbatasan akses mereka terhadap layanan kesehatan yang Berdasarkan wawancara yang dilakukan selama observasi. V, dan D hanya mengandalkan obat-obatan yang dijual di warung untuk mengatasi penyakit Mereka pemeriksaan lebih lanjut ketika mengalami sakit, kecuali jika kondisi kesehatan mereka sudah cukup parah. Misalnya, ketika demam atau flu ringan, mereka lebih memilih untuk mengobati diri sendiri dengan obat-obatan yang terjangkau dari warung karena faktor ekonomi yang sangat Salah satu responden V. AuKalau sakit biasanya cuman beli obat di warung aja buat ngobatinnya, kalau sudah parah baru di bawa ke dokter buat periksa, dulu pas aku sakit tipus baru aku di bawa ke dokterAy (Hasil Penelitian, 2. Berdasarkan tersebut, bahwa anak-anak jalanan sering kali mengandalkan obat-obatan yang dibeli di warung untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan dan baru mencari perawatan medis dari dokter ketika kondisi kesehatan sudah mencapai tahap yang lebih Temuan ini sejalan dengan penelitian F. Rachmawati et al. bahwa anak jalanan sering kali tidak memiliki akses cukup terhadap fasilitas kesehatan, dan mengandalkan solusi sementara untuk mengatasi masalah kesehatan mereka. Keterbatasan ekonomi dan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai menjadi faktor yang menghalangi untuk mendapatkan perawatan yang tepat waktu dan optimal. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus Selain itu, kondisi jalanan yang penuh meningkatkan risiko mereka terpapar berbagai penyakit. Tinggal di lingkungan yang tidak higienis membuat mereka rentan terhadap penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan, diare, dan infeksi kulit. Paparan polusi udara dari kendaraan memperburuk kondisi kesehatan mereka, terlebih bagi anak-anak jalanan yang sering perlindungan yang memadai. Nutrisi dan Pertumbuhan Fisik Aspek lain dari kondisi biologis anak jalanan yang sangat dipengaruhi oleh kehidupan di jalan adalah status nutrisi Dari pengamatan fisik, anak-anak seperti A dan V terlihat kurus dan kekurangan gizi. Hal ini disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur dan kualitas makanan yang kurang baik. Anak-anak ini sering kali hanya makan seadanya, dengan porsi yang tidak memadai untuk perkembangan mereka secara optimal. Karena prioritas mereka adalah mencari nafkah di jalan, kebutuhan nutrisi sering kali diabaikan, baik oleh mereka sendiri maupun oleh keluarga mereka. Keterbatasan akses terhadap makanan bergizi juga disebabkan oleh faktor Uang yang mereka dapatkan dari mengamen atau menjual krupuk lebih sering digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga atau untuk membeli kebutuhan pokok yang lebih mendesak. Akibatnya, asupan makanan mereka tidak memenuhi standar gizi yang diperlukan untuk anak-anak seusia mereka. Kondisi malnutrisi ini tidak hanya mempengaruhi penampilan fisik mereka, tetapi juga tulang, otot, dan perkembangan otak Sebaliknya, meskipun D tampak lebih sehat secara fisik, ia juga menghadapi keterbatasan dalam hal nutrisi. Sama seperti A dan V. D hanya mengandalkan makanan yang bisa diperoleh dari penghasilan jalanan, yang sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi seharihari. Ketika diajak untuk membeli makan di salah satu tempat makan di sekitar tempat mereka bekerja. V, dan D dengan antusias menyatakan: AuKita pengen banget makan ayam ini dari lama, tapi kita harus nabung dulu dan sampai sekarang belum kesampeanAy(Hasil Penelitian, 2. Pernyataan keterbatasan ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari, di mana bahkan untuk makan makanan sederhana seperti ayam goreng, mereka harus menabung terlebih dahulu, dan keinginan tersebut belum terpenuhi hingga saat itu. Dampak Jangka Panjang Terhadap Kesehatan Dampak jangka panjang dari kondisi biologis yang dialami oleh anak-anak jalanan ini sangat mengkhawatirkan. Kekurangan gizi dan akses yang buruk terhadap perawatan kesehatan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan di masa depan. Malnutrisi pada masa kanak-kanak pertumbuhan fisik, menurunkan daya perkembangan kognitif mereka, yang berakibat pada kesulitan belajar dan keterlambatan perkembangan mental. Selain itu, minimnya perhatian terhadap kebersihan pribadi dan kesehatan fisik juga meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari. Dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung, serta minimnya dukungan dari sistem kesehatan, anak-anak jalanan berada dalam situasi yang sangat rentan terhadap masalah kesehatan yang serius. Jika tidak ditangani dengan segera, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup membatasi kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat dan produktif. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus Secara keseluruhan, kondisi biologis kompleksitas masalah yang mereka hadapi setiap hari. Keterbatasan akses terhadap kebersihan, perawatan kesehatan, dan nutrisi yang layak menunjukkan perlunya intervensi yang lebih besar dari pemerintah dan masyarakat untuk memastikan bahwa hak-hak dasar mereka sebagai anak dapat Kondisi Psikologis Anak Jalanan Kondisi psikologis anak jalanan momen-momen kesenangan yang ditemui di tengah Meskipun hidup di jalanan sering kali diwarnai dengan ketidakpastian dan kesulitan, anak-anak jalanan sering kali menemukan kebahagiaan dalam bentuk interaksi sosial, permainan bersama temanteman, atau bahkan momen kecil yang memberi rasa kebebasan. Berdasarkan teori psikologi, bahwa psikologi merupakan menjelaskan serta merangkum polapola mental dan perilaku dalam kaitannya dengan lingkungan sosial dan budaya. Istilah AupsikologiAy berasal dari kata bahasa Inggris AupsychologyAy, yang juga dikenal sebagai Auilmu jiwaAy dalam istilah teknis. Kata AuphylogyAy memiliki dua arti, yang berasal dari kata AuYunani,Ay yang berarti AuPsycheAy yang berarti jiwa dan AyLogosAy yang berarti Jadi sederhananya, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa (Uliyanda et al. , 2. Berdasarkan observasi yang dilakukan di Jl. Pasir Kaliki, anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini, yaitu V . A . , dan D . , memiliki berbagai pengalaman emosional dan psikologis yang dipengaruhi oleh situasi mereka sehari-hari di jalanan. Secara umum, anak-anak ini tampak beradaptasi dengan lingkungan mereka dan menunjukkan bahwa mereka menemukan kebahagiaan dan rasa senang di jalanan, namun terdapat aspek-aspek psikologis yang lebih mendalam terkait dengan emosional yang mereka hadapi. Rasa Senang di Jalanan Hasil wawancara menunjukkan bahwa anak-anak ini merasa senang berada di jalanan karena mereka menganggap jalanan sebagai tempat untuk bermain dan bekerja. A, dan D menyatakan bahwa jalanan menjadi tempat di mana mereka bisa bertemu dengan banyak teman-teman sebaya dan berinteraksi dengan mereka. Perasaan senang ini berasal dari rasa kebebasan yang mereka rasakan di jalanan, di mana mereka bisa bermain tanpa aturan yang ketat dan merasakan kebersamaan dengan teman-teman mereka yang juga berada di jalanan. Mereka menggambarkan jalanan sebagai tempat yang penuh aktivitas dan interaksi sosial, yang membuat mereka tidak merasa kesepian meskipun sering kali harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Pernyataan disampaikan oleh V. A, dan D, yang AuAku seneng di jalanan soalnya disini banyak temen-temen juga yang sama mengamen sama jualan, terus disini aku juga kenal sama temen-temen baru. Disini aku bisa bekerja sambil main dan seneng juga karena bisa dapet uang hasil kerja," (Hasil Penelitian, 2. Pernyataan tesebut mengindikasikan, bahwa meskipun anak-anak jalanan menghadapi kehidupan yang penuh tantangan dan kesulitan, namun masih mampu merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Interaksi sosial dengan teman sebaya menjadi salah satu sumber kebahagiaan, di mana anak jalanan dapat berbagi pengalaman, dukungan emosional dan saling menghibur di tengah kesulitan yang dihadapi. Menurut (Fatia et , 2. , interaksi sosial berperan sebagai mekanisme koping yang membantu mengatasi stres dan ketegangan psikologis akibat kondisi kehidupan yang keras. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus Selain itu, kepuasan yang diperoleh dari hasil kerja di jalanan memberikan rasa pencapaian dan tujuan dalam hidupnya. Meskipun pekerjaan yang dilakukan sering kali bersifat informal dan tidak stabil, anakanak jalanan seringkali merasa bangga dengan apa yang didapatkan, meskipun dalam jumlah kecil. Kepuasan tersebut berfungsi sebagai penguatan psikologis yang membantu untuk bertahan dan terus berjuang, serta memberikan rasa kontrol keterbatasan yang ada. Tantangan Psikologis: Ketakutan dan Rasa Sedih Meskipun anak-anak ini tampak senang dalam beberapa situasi, kehidupan di jalanan tidak lepas dari berbagai tantangan psikologis yang mereka hadapi. Salah satu tantangan terbesar adalah diakibatkan oleh tekanan kehidupan seharihari. Berdasarkan wawancara, anak jalanan seringkali merasakan rasa takut dan sedih, terutama karena hidup di jalanan yang penuh dengan ancaman dan tekanan. Rasa takut dan sedih muncul bukan hanya karena dimarahi oleh orang tua atau keluarga, tetapi juga karena kondisi keras yang dialami di jalan. Anak jalanan sering menghadapi bahaya dan kesulitan dalam mencari nafkah, dan ketika pulang larut malam setelah bekerja di jalan, harus menghadapi kenyataan yang penuh dengan ancaman, baik fisik maupun emosional. AuKalau kita pulangnya kemaleman, suka dimarahi sama orang tua, soalnya biasanya kita pulang malam ini karena lagi ngejar target atau kalua lagi hujanAy (Hasil Penelitian, 2. Rasa takut terhadap kemarahan orang tua membuat mereka mengalami tekanan emosional yang cukup besar, terutama karena mereka tidak hanya berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga berusaha membantu keluarga mereka yang berada dalam kondisi ekonomi sulit. Ketika mereka merasa sedih, anakanak ini cenderung mencari pelarian dengan bermain bersama teman-teman mereka di jalan. Ini merupakan bentuk Coping Mechanism . ekanisme pertahana. yang mereka gunakan untuk mengatasi perasaan negatif. Bermain dengan temanteman memberikan mereka ruang untuk melupakan sejenak beban yang mereka hadapi, meskipun solusi ini hanya sementara dan tidak mengatasi akar masalah dari tekanan emosional yang mereka alami. Pola ini menunjukkan bahwa anak-anak jalanan memiliki keterbatasan dalam hal dukungan emosional yang memadai, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitar. Self-Concept (Konsep Dir. Kepercayaan Diri Konsep anak-anak seringkali dipengaruhi oleh pandangan negatif masyarakat terhadapnya. Stereotip yang beredar mengenai anak-anak jalanan, yang sering dikaitkan dengan kemiskinan, kekotoran dan perilaku menyimpang yang dapat memberikan dampak besar pada cara pandang diri sendiri. Lingkungan sosial yang negatif bisa menurunkan kepercayaan diri anak-anak, membuat merasa terasing dan tidak dihargai. Dalam kasus anak-anak seperti V. A, dan D, mereka awalnya menunjukkan rasa takut dan malu untuk lingkungan sekitar dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri. Hasil observasi yang dilakukan dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa melalui pendekatan yang perlahan dan penuh perhatian, anak-anak jalanan dapat mulai membuka diri. Interaksi positif dan dukungan emosional yang tepat sangat penting dalam membantu meningkatkan Hasil Fidienillah et al. , menegaskan bahwa lingkungan sosial yang negatif dapat menurunkan kepercayaan diri anak-anak yang membuatnya merasa terasing dan tidak dihargai. Ketika anak merasa diterima, maka mulai menunjukkan sikap lebih terbuka dan percaya diri, seperti yang Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus terlihat pada perubahan sikap anak-anak dalam penelitian ini. Konsep diri anak-anak jalanan sering kali dibentuk oleh pandangan negatif dari lingkungan sekitar mereka. Masyarakat umumnya memandang anak jalanan dengan stereotip negatif, mengasosiasikan mereka dengan kemiskinan, kekotoran, dan perilaku menyimpang. Hal ini dapat memengaruhi bagaimana anak-anak ini memandang diri mereka sendiri dan menurunkan tingkat kepercayaan diri Hasil penelitian Fidienillah et al. , menegaskan bahwa lingkungan sosial yang negatif dapat menurunkan anak-anak membuatnya merasa terasing dan tidak Meskipun hidup dalam kondisi yang sangat sulit, anak-anak jalanan masih mempertahankan harapan dan impian untuk masa depan. Mimpi untuk menjadi dokter, tentara, atau profesi lainnya menunjukkan bahwa masih memiliki pandangan positif tentang potensi diri mereka, meskipun realitas yang ada sering kali menghalangi untuk mewujudkannya. (Ainin et al. , 2. , menegaskan bahwa meskipun anak-anak jalanan mengalami banyak tantangan, namun seringkali memiliki kemampuan untuk menjaga harapan, yang menjadi sumber motivasi untuk terus berjuang. Hal tersebut menandakan bahwa meskipun konsep diri mereka dipengaruhi oleh kondisi yang sulit, namun tetap percaya bahwa perubahan bisa terjadi jika diberikan dukungan yang tepat. Dampak Jangka Panjang Terhadap Psikologis Anak Jalanan Kondisi psikologis anak jalanan yang kekerasan, dan minimnya dukungan emosional dapat memberikan dampak jangka panjang yang serius. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh stres dan tanpa bimbingan yang memadai berisiko mengalami berbagai gangguan psikologis di masa dewasa, seperti gangguan kecemasan, depresi, serta masalah dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Selain itu, kehidupan di jalanan yang penuh dengan stigma negatif dapat membentuk pola pikir bahwa mereka tidak layak mendapatkan kehidupan yang menghambat perkembangan potensi diri Dampak psikologis ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup mereka saat ini, tetapi juga dapat mempengaruhi masa depan mereka. Anak-anak yang tidak mendapatkan dukungan psikologis yang memadai berisiko untuk terjebak dalam siklus kemiskinan dan ketidakberdayaan yang sulit diputus. Oleh karena itu, intervensi psikososial yang lebih intensif dan berkelanjutan diperlukan untuk membantu anak-anak jalanan dalam mengatasi tantangan emosional dan psikologis yang mereka hadapi setiap hari. Secara keseluruhan, kondisi psikologis anak antara perasaan senang yang mereka temukan di lingkungan jalanan dan tantangan emosional yang lebih mendalam yang muncul akibat kehidupan yang tidak Meskipun menunjukkan kebahagiaan di tengah keterbatasan, kebutuhan mereka akan dukungan emosional dan psikologis yang lebih besar sangat jelas terlihat. Kondisi Sosial Anak Jalanan Menurut Keith Jacobs, dalam Amiman et al. sosial adalah sesuatu yang tercipta dan terjadi dalam lingkungan Kondisi sosial anak jalanan sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka masyarakat sekitar, dan lingkungan jalanan yang menjadi tempat mereka beraktivitas. Berdasarkan hasil observasi di Jl. Pasir Kaliki, anak-anak yang diamati, yaitu V . A . , dan D . , menunjukkan bahwa kehidupan sosial mereka di jalanan penuh dengan dinamika yang kompleks. Meskipun menghadapi berbagai tantangan sosial, anak-anak ini mampu membentuk jaringan sosial yang Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus kuat di antara teman sebaya, sambil tetap menjaga hubungan dengan keluarga yang memiliki situasi hidup yang berbeda-beda. Aktivitas Sehari-Hari Anak-anak jalanan yang terlibat dalam observasi menjalani aktivitas seharihari yang mencerminkan beban hidup yang mereka pikul. V dan A, yang merupakan kakak beradik, menghabiskan sebagian besar hari mereka dengan mengamen untuk mencari nafkah tambahan, sementara D menjual kerupuk. Aktivitas ini mereka lakukan setelah pulang sekolah, yang menunjukkan bahwa meskipun mereka masih bersekolah, kehidupan di jalanan adalah bagian integral dari upaya mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Pernyataan disampaikan oleh V. A, dan D, yang Aukita kalau pagi sekolah sampai sekitar jam 11 siang, abis itu pulang ke rumah terus langsung ke jalan buat kerja, tiap hari kayak gituAy (Hasil Penelitian. Rutinitas harian mereka bukan hanya tentang mencari uang, tetapi juga mencakup interaksi sosial yang intens dengan orang-orang di sekitar mereka. Mereka berangkat ke jalan setelah pulang sekolah dan bisa berada di sana hingga larut malam, terutama jika mereka berusaha mengejar target penghasilan tertentu. Dalam beberapa kasus, mereka bisa bekerja di jalanan hingga jam 12 malam. Pernyataan tersebut sebagaimana disampaikan oleh V dan A, yang menyatakan: AuKalau lagi kejar target pulangnya bisa malem bangett, kayak waktu itu pernah pulang jam 12 malem gituAy (Hasil Penelitian, 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebutuhan ekonomi menjadi pendorong utama bagi mereka untuk tetap berada di jalan meskipun kondisi fisik dan mental mereka terancam oleh kelelahan. Tempat Tinggal dan Hubungan Keluarga Kondisi sosial anak jalanan juga ditentukan oleh hubungan mereka dengan keluarga dan tempat tinggal yang menjadi sandaran ketika mereka tidak berada di Dalam kasus V dan A, meskipun mereka kakak beradik, mereka tinggal di tempat yang terpisah. V dan A adalah saudara dengan ayah yang berbeda, dan ayah mereka telah meninggal dunia. tinggal bersama ibu, adik-adiknya, nenek, dan kakeknya, sementara V tinggal dengan Mereka hidup dalam situasi mencerminkan kesulitan ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh keluarga mereka. Perpecahan dalam unit keluarga sering kali disebabkan oleh masalah ekonomi, di mana orang tua tidak dapat menyediakan tempat tinggal yang memadai bagi semua anakanaknya. Ini menciptakan keterpisahan anak-anak tersebut dalam menghadapi kehidupan di Namun, meskipun hidup dalam kondisi yang terpisah, anak-anak seperti V dan A tetap menjaga hubungan keluarga yang erat, terutama dengan saudarasaudaranya. D, di sisi lain, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya. Meskipun keluarganya tetap utuh, mereka juga berada dalam kondisi ekonomi yang sulit, yang memaksa D untuk bekerja di jalanan. Keluarga ini tinggal di daerah Sukajadi. Bandung, yang secara geografis berdekatan dengan tempat D berjualan kerupuk. Hubungan yang dekat dengan keluarga ini, meskipun positif, tetap diwarnai oleh beban ekonomi yang menuntut partisipasi D dalam mencari nafkah. Interaksi dengan Teman Sebaya Salah satu aspek sosial yang sangat kuat dalam kehidupan anak jalanan adalah hubungan mereka dengan teman sebaya. Anak-anak seperti V. A, dan D menunjukkan interaksi sosial yang baik dengan teman-teman jalanan mereka. Mereka menjalin hubungan yang erat dengan teman sebaya yang mereka temui di Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus jalanan, membentuk jaringan sosial yang saling mendukung di tengah-tengah kondisi hidup yang keras. Jalanan bukan hanya menjadi tempat mereka bekerja, tetapi juga menjadi tempat di mana mereka bisa merasa diterima dan diakui oleh teman-temannya. Anak-anak ini saling mengenal satu sama lain dan sering kali bermain bersama ketika mereka tidak sedang mencari nafkah. Interaksi sosial yang terjadi di jalanan ini menciptakan rasa solidaritas di antara anak-anak jalanan, di mana mereka saling melindungi dan berbagi informasi tentang bagaimana cara bertahan hidup di lingkungan yang penuh Pernyataan sebagaimana disampaikan oleh V, yang AuKita kenalan nya disini sama tementemen, di jalanan jadi kenal banyak temen baru yang lagi kerja juga, seneng bisa dapet temen baru, terus kerja bareng temen jugaAy (Hasil Penelitian, 2. Pernyataan ini menunjukan anakanak di jalanan merasa senang karena mereka bisa bekerja sambal bermain bersama teman sebaya nya. Selain itu, persahabatan yang terjalin di jalanan memberikan mereka tempat berlindung dari kesepian dan isolasi. Karena banyak dari mereka memiliki latar belakang keluarga yang tidak stabil, teman-teman emosional yang sangat penting. Mereka merasa lebih kuat ketika berada dalam kelompok, dan kelompok ini sering kali membantu mereka mengatasi ketakutan dan kecemasan yang muncul akibat kehidupan di jalanan. Interaksi dengan Orang Dewasa dan Masyarakat Sekitar Meskipun anak-anak jalanan memiliki hubungan sosial yang kuat dengan temanteman sebaya, interaksi mereka dengan orang dewasa dan masyarakat umum sering kali lebih kompleks. Pada awalnya, anak-anak seperti V. A, dan D tampak takut dan malu untuk berinteraksi dengan orang dewasa yang tidak mereka kenal, termasuk Sikap pengalaman mereka sebelumnya dengan masyarakat yang cenderung memandang anak jalanan secara negatif, sering kali dengan stereotip yang menganggap mereka sebagai gangguan sosial atau bahkan pelaku kejahatan kecil. Pernyataan tersebut sebagaimana disampaikan oleh V dan A, yang AuAwalnya kita takut sama malu juga sama kakak-kakak, tapi ternyata kakakkakaknya baikAy (Hasil Penelitian, 2. Setelah beberapa waktu, anak-anak ini mulai merasa lebih nyaman berinteraksi dengan peneliti, terutama setelah mereka diberikan makanan dan diajak berbicara secara ramah. Mereka menunjukkan bahwa dengan adanya pendekatan yang baik dari orang dewasa, mereka mampu membuka diri dan bahkan bersikap ramah serta ingin Interaksi ini menunjukkan bahwa meskipun mereka sering kali dikucilkan oleh masyarakat, mereka tetap merindukan interaksi positif dengan orang dewasa yang peduli terhadap kondisi mereka. Selain itu, hubungan mereka dengan Sebagai anak-anak yang bekerja di jalanan, mereka sangat bergantung pada kebaikan dan belas kasihan orang-orang yang lewat untuk memberi uang atau membeli barang-barang yang mereka jual. Namun, meskipun mereka berinteraksi dengan banyak orang dewasa setiap hari, hubungan ini sering kali bersifat dangkal dan tidak memberikan Lingkungan Tempat Tinggal dan Kehidupan Sosial di Jalanan V dan A tinggal di daerah Pajajaran. Kota Bandung, sementara D tinggal di daerah Sukajadi. Kota Bandung. Kehidupan sosial anak-anak ini di jalanan sangat ditentukan oleh dinamika lingkungan sekitar mereka. Jalanan menjadi tempat di mana mereka melakukan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus mengamen dan berjualan, tetapi juga menjadi tempat di mana mereka membentuk identitas sosial mereka. Meskipun jalanan bisa menjadi tempat yang berbahaya, dengan risiko kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi, bagi anak-anak ini, jalanan juga merupakan tempat di mana mereka belajar bertahan hidup, berinteraksi teman-teman memberikan mereka rasa memiliki. Anak-anak ini telah terbiasa dengan kehidupan di jalanan sehingga mereka tidak lagi melihatnya sebagai tempat yang Menurut peneliti, salah satu hal menarik yang terjadi selama observasi adalah kesadaran bahwa bagi anak-anak jalanan, kehidupan di jalan tidak selalu seseram yang dibayangkan oleh orang luar. Mereka sudah terbiasa dengan lingkungan ini dan belajar menavigasi tantangan yang muncul setiap hari. Dukungan Sosial dan Tantangan yang Dihadapi Meskipun anak-anak jalanan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman-teman sebaya, mereka menghadapi banyak tantangan dalam hal dukungan sosial yang lebih luas. Dukungan dari keluarga mereka sering kali terbatas oleh kondisi ekonomi yang buruk, sementara dukungan dari masyarakat umum sering kali terhalang oleh stereotip negatif terhadap anak-anak jalanan. Di samping itu, mereka sering kali merasa dikucilkan oleh masyarakat sekitar gangguan atau ancaman. Hal ini membuat mereka merasa kurang diterima dan dihargai oleh lingkungan luar, yang dapat memperburuk perasaan isolasi sosial. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya peran masyarakat dan pemerintah dalam memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak jalanan, terutama dalam bentuk program intervensi sosial yang bisa membantu mereka mengakses pendidikan. Secara keseluruhan, kondisi sosial anak jalanan mencerminkan realitas yang penuh tantangan namun diwarnai oleh solidaritas dan jaringan sosial yang kuat di antara Mereka menunjukkan ketahanan luar biasa dalam menghadapi kerasnya kehidupan di jalanan, namun tetap membutuhkan dukungan yang lebih baik dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk bisa mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Harapan dan Impian Anak Jalanan Menurut Godfrey . dalam Siswadi . Teori harapan adalah pandangan terdorong untuk mencapai tujuan hidup mereka karena adanya harapan yang memberi makna dan arah dalam hidup Harapan menjadi fondasi motivasi yang kuat dalam diri individu untuk meraih tujuan tertentu. Menurut teori ini, orang termotivasi untuk mencapai sesuatu ketika mereka memiliki harapan, karena harapan memberikan dorongan psikologis yang penting dalam menghadapi tantangan. Dengan adanya harapan, manusia memiliki visi akan perubahan yang ingin mereka capai, serta motivasi untuk berusaha secara Sebaliknya, tanpa harapan, tindakan manusia bisa kehilangan arah dan tujuan, yang membuat mereka lebih rentan Meskipun hidup dalam kondisi yang sulit dan penuh tantangan, anak-anak jalanan masih memiliki harapan dan impian tentang masa depan yang lebih baik. Harapan dan impian ini menjadi bukti bahwa meskipun keadaan mereka saat ini tampak tidak mendukung, mereka tetap memiliki semangat untuk memperbaiki kualitas hidup dan meraih cita-cita yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga anak jalanan yang diamati, yaitu V. A, dan D, mereka mengungkapkan berbeda-beda, semuanya mencerminkan keinginan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus memiliki kehidupan yang lebih stabil dan Harapan dalam Pendidikan Salah satu harapan terbesar yang dimiliki oleh anak-anak jalanan adalah Meskipun kondisi ekonomi keluarga memaksa mereka bekerja di jalanan, mereka tetap bersekolah dan menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting. A, dan D masih mengikuti sekolah formal meskipun harus membagi waktu antara belajar dan bekerja di jalanan. Mereka merupakan kunci untuk membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik, dan ini tercermin dalam impian mereka untuk menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. Anak-anak ini memandang pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk keluar dari kehidupan di jalan. V, misalnya, pernah tertinggal dalam pendidikan selama tiga tahun akibat masalah kesehatan dan ekonomi, namun ia tetap berusaha untuk melanjutkan sekolahnya. Keinginannya menunjukkan betapa besar tekadnya untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Demikian pula. A dan D melihat pendidikan sebagai hal yang esensial, meskipun mereka harus bekerja keras di jalanan setiap hari untuk membantu keluarga mereka. Namun, meskipun mereka memiliki semangat untuk belajar, keterbatasan fasilitas dan sumber daya menjadi hambatan yang nyata. Anak-anak ini sering kali tidak memiliki akses yang memadai untuk belajar, seperti alat tulis, buku, dan terutama teknologi. Dalam wawancara, mereka menyatakan bahwa mereka ingin memiliki ponsel, bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi lebih untuk membantu mereka belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Pernyataan tersebut sebagaimana disampaikan oleh V. A, dan D, yang menyatakan: AuAku pengen beli HP buat sekolah, sama buat belajar buat ngerjain PR soalnya kita ga punya HP jadi suka susah buat belajar atau buka grup wa sekolahAy (Hasil Penelitian, 2. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki motivasi untuk terus belajar, tetapi terhalang oleh keterbatasan material yang mereka hadapi. Cita-Cita untuk Masa Depan Meskipun hidup di jalanan mungkin membuat banyak orang berpikir bahwa anak-anak jalanan tidak memiliki visi atau tujuan hidup yang jelas, kenyataannya mereka tetap memiliki cita-cita yang besar Berdasarkan wawancara yang dilakukan, masingmasing anak memiliki impian yang sangat spesifik tentang profesi yang ingin mereka capai di masa depan. D, misalnya, bercita-cita menjadi seorang dokter. Pernyataan tersebut sebagaimana disampaikan oleh D, yang AuCita-cita aku pengen jadi dokter, pengen sekolah terus kuliah biar bisa jadi dokterAy (Hasil Penelitian, 2. Cita-cita keinginannya untuk membantu orang lain dan mungkin terinspirasi oleh pengalaman ketidakmampuan orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri, untuk mengakses layanan kesehatan yang layak. Cita-cita D untuk menjadi dokter juga mungkin merupakan refleksi dari keinginannya untuk mengubah hidupnya serta hidup orang lain melalui profesi yang memiliki dampak besar terhadap masyarakat. Di sisi lain. V dan A bercita-cita menjadi Profesi ini mencerminkan aspirasi mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih stabil dan terhormat di masa depan. Menjadi tentara mungkin juga menarik bagi mereka karena profesi ini menawarkan rasa disiplin, kekuatan, dan perlindungan, yang ketidakamanan yang mereka rasakan di Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus Pernyataan tersebut sebagaimana disampaikan oleh V, yang menyatakan: AuKalau aku cita-citanya pengen jadi tentaraAy (Hasil Penelitian, 2. Pernyataan serupa disampaikan oleh A ,yang menyatakan: Auaku juga sama pengen jadi tentaraAoAo (Hasil Penelitian, 2. Impian menunjukkan bahwa mereka mencari cara untuk merasa lebih kuat dan berdaya di dunia yang sering kali tidak memberikan mereka kekuatan atau kendali atas hidup Impian-impian gambaran bahwa anak-anak jalanan memiliki harapan yang sangat besar untuk masa depan, meskipun mereka hidup dalam kondisi yang sangat terbatas. Mereka melihat diri mereka tidak hanya sebagai korban dari situasi saat ini, tetapi sebagai individu yang memiliki potensi untuk meraih masa depan yang lebih baik jika mereka mendapatkan dukungan yang Keinginan untuk Hidup yang Lebih Baik Selain harapan dalam pendidikan dan cita-cita untuk masa depan, anak-anak jalanan juga memiliki keinginan untuk memperbaiki kondisi hidup mereka secara Mereka kehidupan yang lebih stabil, aman, dan nyaman, di mana mereka tidak harus terusmenerus bergantung pada kehidupan di jalan untuk memenuhi kebutuhan dasar Dalam wawancara, anak-anak ini mengungkapkan bahwa mereka senang bisa bermain dan bekerja di jalan karena itu kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka. Namun, di balik rasa senang tersebut, ada keinginan yang mendalam untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, di mana mereka tidak harus menghadapi ketidakpastian yang datang dengan kehidupan di jalanan. Salah satu contoh konkret dari keinginan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup adalah keinginan mereka untuk memiliki ponsel. Bagi banyak orang, ponsel mungkin hanya alat komunikasi, tetapi bagi anak-anak ini, ponsel adalah simbol dari akses yang lebih baik ke pendidikan dan teknologi. Dengan ponsel, mereka berharap bisa belajar lebih efektif dan mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan lebih mudah. Ini menunjukkan bahwa mereka menginginkan alat-alat yang dapat membantu mereka beradaptasi dengan tuntutan pendidikan modern, meskipun kondisi ekonomi mereka membatasi akses terhadap teknologi Keinginan ini mencerminkan bahwa anak-anak optimisme terhadap masa depan. Mereka memperbaiki kondisi hidup mereka, dan mereka siap untuk bekerja keras demi Namun, keterbatasan akses terhadap sumber daya dan dukungan sosial membuat mereka sulit mewujudkan harapan-harapan tersebut tanpa bantuan dari pihak luar. Tantangan Mewujudkan Harapan dan Impian Meskipun anak-anak jalanan memiliki harapan dan impian yang besar, realitas kehidupan di jalan membuat mereka menghadapi banyak tantangan dalam Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Banyak dari mereka terpaksa bekerja di jalan untuk membantu menambah penghasilan keluarga, yang mengurangi waktu dan energi yang seharusnya mereka curahkan untuk belajar. Ini membuat anak-anak jalanan berada dalam situasi yang dilematis, di mana mereka harus memilih antara bekerja untuk kelangsungan hidup saat ini atau bersekolah untuk masa depan yang lebih Selain itu, minimnya dukungan dari masyarakat dan lingkungan sekitar juga menjadi kendala. Anak-anak jalanan sering kali dipandang sebelah mata oleh Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus masyarakat, yang menganggap mereka sebagai gangguan sosial atau bahkan Stigma ini membuat mereka sulit untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, baik dalam bentuk pendidikan, perlindungan, maupun akses terhadap sumber daya yang dapat membantu mereka mencapai cita-cita mereka. Keterbatasan pendidikan berkualitas juga menjadi tantangan utama bagi anak-anak jalanan. Meskipun mereka masih bersekolah, kondisi pendidikan yang mereka terima mendukung perkembangan intelektual mereka secara optimal. Kurangnya akses terhadap fasilitas belajar yang layak, seperti buku, alat tulis, dan teknologi, membuat mereka tertinggal dibandingkan anak-anak lain yang memiliki akses yang lebih baik. Pentingnya Dukungan Mewujudkan Impian Harapan dan impian anak-anak jalanan menunjukkan bahwa mereka masih memiliki optimisme dan semangat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, untuk mewujudkan impianimpian tersebut, mereka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat umum perlu berperan lebih aktif dalam memberikan dukungan yang mereka butuhkan, baik dalam bentuk bantuan ekonomi, pendidikan, maupun perlindungan sosial. Program-program seperti pemberian beasiswa, penyediaan tempat belajar yang layak, serta dukungan psikososial bagi anak-anak jalanan bisa menjadi langkah mencapai impian mereka. Selain itu, penting juga untuk menghilangkan stigma negatif terhadap anak-anak jalanan, sehingga mereka bisa diterima oleh masyarakat dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti anak-anak lainnya. Secara keseluruhan, harapan dan impian anak-anak jalanan mencerminkan potensi besar yang dimiliki oleh mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Meskipun mereka hidup dalam kondisi yang penuh keterbatasan, mereka masih memiliki visi yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai, serta semangat untuk terus berjuang mewujudkannya. Dukungan yang tepat dari pihak luar dapat menjadi faktor kunci yang membantu mereka keluar ketidakberdayaan, serta meraih masa depan yang lebih cerah. SIMPULAN Hasil Penelitian ini menggambarkan kondisi biopsikososial anak-anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung, yang menghadapi berbagai tantangan dalam aspek biologis, psikologis, dan sosial. Dari segi biologis, anak jalanan mengalami keterbatasan dalam akses terhadap perawatan kesehatan, nutrisi yang buruk, dan kondisi lingkungan yang tidak higienis yang mengarah pada gangguan kesehatan seperti infeksi kulit dan masalah pencernaan. Tantangan tersebut semakin diperburuk dengan ketergantungan pada pengobatan seadanya perawatan medis. Meskipun menghadapi kondisi fisik yang sulit, anak-anak jalanan masih menunjukkan ketahanan psikologis, meskipun mengalami tekanan emosional seperti rasa takut dan kecemasan yang berhubungan dengan hidup di jalanan dan pandangan negatif masyarakat. Namun, berbagai kesulitan, anak-anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki tetap memiliki harapan dan impian untuk masa depan yang lebih baik. Mereka sangat menghargai pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, meskipun terbatas oleh akses yang minim terhadap fasilitas pendidikan dan teknologi. Selain itu, anak jalanan memiliki cita-cita yang beragam, seperti menjadi dokter atau tentara yang memperbaiki kehidupan dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Meski Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 2 Desember 2024 Hal : 159 - 175 Available Online at jurnal. id/focus ketergantungan pada pekerjaan di jalanan, dan stigma sosial masih menjadi hambatan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan artikel ini. Terima kasih kami sampaikan kepada Dr. Yani Achdiani. Si. dan Gina Indah Permata Nastia. Kesos. Kesos. , selaku dosen pengampu Mata Kuliah Kesejahteraan Sosial, yang telah kesabaran dan memberikan Arahan yang berharga dalam proses penelitian dan Kami juga berterima kasih kepada para informan, khususnya anak-anak jalanan di Kelurahan Pasir Kaliki. Kecamatan Cicendo. Kota Bandung, yang dengan ikhlas bersedia berbagi pengalaman dan cerita mereka, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan lebih komprehensif. Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan dukungan dan masukan dalam proses penyelesaian artikel ini. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan anak jalanan serta menjadi bahan acuan dalam upaya mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi mereka. DAFTAR PUSTAKA Ainin. Hairunnisa. Hudhori. , & Novitri. Menyemai Harapan: Membangun Inklusi Sosial melalui Pendidikan Karakter bagi Anak Jalanan. Pengabdian Cendekia, 1. , 39Ae42. Aisyah. , & Antika. Ketahanan Psikologis pada Anak Jalanan: Dasar Pengembangan Layanan Intervensi bagi Konselor Komunitas. Quanta Journal, 8. , 40Ae45. https://doi. org/https://doi. org/10. 22460/qu Amiman. Mokalu. , & Tumengkol. Peran Media Sosial Facebook Terhadap Kehidupan Masyarakat Di Desa Lalue Kecamatan Essang Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal Ilmiah Society, 2. Dailami. Yulius Tahya. Gyta. Harahap. Duhita. Sutrisno. Hidana. Supinganto. Puspita. Purbowati. Yusal. Alang. , & Apriyanti. Biologi Umum. Widina Bhakti Persada Bandung. https://doi. org/https://repository. com/uk/publications/326856/biologiumum#cite Erlanga. Kuncoro. Ardilla. Winingsih. Lapiana. Yektyastuti. , & Fitri. Psikologi Pendidikan. Edupedia Publisher. https://doi. org/https://press. org/ind php/pedia/article/view/20 Fatia. Khairunida. Salsabila. Putri, . Dewi. Yulia. , & Syarkawi. Analisis Coping Mechanism Mahasiswa Tingkat Akhir Uhamka Dalam Menyelesaikan Skripsi. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur: Berbeda. Bermakna. Mulia, 10. , 72Ae84. Fidienillah. Rafsanjani. , & Iqlima. Interaksi Sosial Siswa Tunadaksa Dengan Teman Kelas Sebaya di Sekolah. Jurnal Anak Bangsa, 3. , 142Ae157. Husna. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian Dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 20. Jurnalpos. April . Diskusi Insos