MADRASAH Journal On Education and Teacher Profesionalism Vol. 4 No. 1 Maret 2026 Hal. Open Access: https://journal. id/index. php/madrasah ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK Aliyah Yasmin Rahmah Dillah1. Pradnyo Wijayanti2 Program Studi Pendidikan Matematika. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Surabaya e-mail: yasminaliyah0@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah Artikel: Diterima: 7 Februari 2026 Direvisi: 25 Februari 2026 Disetujui: 30 Maret 2026 KEYWORDS Critical Thinking. Multiple Intelligences. Minimum Competency Assessment (AKM). KATA KUNCI Berpikir Kritis. Kecerdasan Majemuk. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). CORRESPONDING AUTHOR Aliyah Yasmin Rahmah Dillah Universitas Negeri Surabaya Surabaya yasminaliyah0@gmail. ABSTRACT This study aims to describe students' critical thinking skills in solving AKMequivalent problems from the perspective of multiple intelligences. The research employed a descriptive qualitative approach. The subjects of the study were three seventh-grade students with different dominant intelligences, namely linguistic, logical-mathematical, and visual-spatial. The research instruments consisted of AKM-equivalent questions and interview guidelines, which were analyzed based on Facione's critical thinking indicators: interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, and self-regulation. The results of the study show that students with linguistic intelligence are able to understand the stimulus by writing down key information, formulating mathematical models, drawing conclusions from their work, explaining mathematical terms clearly, and regulating their thinking processes. Students with logical-mathematical intelligence can understand the stimulus by identifying important information, formulating accurate mathematical models and organizing systematic steps, performing precise calculations, conducting comprehensive evaluations, drawing conclusions in accordance with the context of the question, explaining mathematical terms found in the problem, and managing their thinking processes. Meanwhile, students with visualspatial intelligence can understand the stimulus through table visualization, formulate mathematical models, carry out accurate calculations, and explain and regulate their thinking processes. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal setara AKM ditinjau dari jenis kecerdasan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif Subjek penelitian terdiri atas tiga peserta didik kelas VII dengan kecerdasan dominan berbeda, yaitu linguistik, logis matematis, dan ruang Instrumen penelitian berupa soal setara AKM dan pedoman wawancara, yang dianalisis berdasarkan indikator berpikir kritis Facione, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, regulasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan linguistik dapat memahami stimulus dengan menuliskan informasi penting, merumuskan model matematika, menarik kesimpulan dari hasil pekerjannya, menjelaskan istilah matematika dengan bahasa yang jelas, serta dapat mengendalikan proses berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis dapat memahami stimulus dengan menuliskan informasi penting, merumuskan model matematika yang tepat dan menyusun langkah yang sistematis, melakukan perhitungan tepat dan melakukan evaluasi secara menyeluruh, dapat menarik kesimpulan sesuai dengan konteks pertanyaan, dan dapat menjelaskan istilah matematika yang terdapat pada soal serta dapat mengendalikan proses berpikir. Sementara itu, peserta didik Vol. 4 No. Maret 2026 Halaman | 1 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK dengan kecerdasan ruang visual dapat memahami stimulus melalui visualisasi tabel, merumuskan model matematika, melakukan perhitungan tepat, serta menjelaskan dan mengendalikan proses berpikir. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Pendidikan sangat dibutuhkan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas, memiliki keterampilan, dan mampu merubah cara berpikir seseorang menjadi lebih kritis. Pendidikan merupakan sumber daya insani yang sepatutnya mendapat perhatian terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya. Peningkatan mutu pendidikan dapat dikatakan juga sebagai peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu aspek penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah pengembangan berpikir kritis pada individu. Berpikir kritis adalah kemampuan dalam menganalisis dan mengevaluasi informasi yang didapat dari hasil pengamatan, pengalaman, penalaran, maupun komunikasi untuk memutuskan apakah informasi tersebut dapat dipercaya sehingga dapat memberikan kesimpulan yang rasional dan benar (Kartikasari, 2. Berpikir kritis merupakan salah satu yang harus dipersiapkan dalam era globalisasi dalam menghadapi tantangan kehidupan juga menghadapi persaingan global. Berpikir kritis tidak hanya menjadi salah satu kompetensi esensial abad ke-21, tetapi juga menjadi dasar untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan yang tepat, serta menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Dalam konteks pembelajaran di Indonesia, berpikir kritis menjadi salah satu fokus utama kurikulum yang terus diperbarui untuk mendukung pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi, telah mengintegrasikan berpikir kritis dalam evaluasi pembelajaran nasional melalui Asesmen Nasional yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat (Pusmenjar, 2. Berbeda dengan Ujian Nasional yang dilaksanakan di akhir jenjang. Asesmen Kompetensi Minimum dilaksanakan pada pertengahan jenjang pendidikan yaitu kelas V SD/MI, kelas Vi SMP/MTs, dan kelas IX SMA/SMK. Pemilihan jenjang kelas V. Vi dan XI dimaksudkan agar peserta didik yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di satuan pendidikan tersebut. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yaitu literasi dan Pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Nasional dilakukan berbasis komputer dan adaptif. Adapun tujuan dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah untuk mendapatkan informasi mengetahui capaian murid terhadap kompetensi yang diharapkan juga sebagai perbaikan kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar murid (Pusmenjar, 2. Hal tersebut juga dikatakan oleh Meriana dan Murniati . bahwa tujuan dilaksanakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah menghasilkan informasi mengenai tingkat kompetensi yang mengarah ke perbaikan kualitas pembelajaran serta hasil belajar peserta didik. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang ditetapkan oleh pemerintah selayaknya menjadi bagian dari target pemerintah dalam menyiapkan peserta didik menyongsong abad 21 dengan berbagai kecakapan yang harus dicapai (Pusmenjar, 2. Meskipun penerapan AKM telah dilakukan di berbagai jenjang pendidikan, terdapat berbagai tantangan dalam implementasinya. Salah satu tantangan utama adalah kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal AKM yang membutuhkan pemahaman mendalam dan analisis kritis. Hidayat dkk . berpendapat bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan yang dibutuhkan Vol. No. Maret 2026 Halaman | 2 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK dalam menyelesaikan masalah numerasi. Aswita dkk . juga menyatakan bahwa dalam menyelesaikan masalah di kehidupan sehari-hari khususnya yang disajikan dalam soal AKM Numerasi, tidak terbatas pada masalah terstruktur saja, tetapi juga masalah matematika yang tidak terstruktur sehingga dalam menyelesaikannya membutuhkan penalaran khusus dengan tidak terlepas dari konsep-konsep matematika. Yang dimaksud penalaran khusus ini yaitu berpikir kritis berupa pemahaman peserta didik mengenai suatu permasalahan, menggunakan semua informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi, hingga menarik kesimpulan. Selain itu, dilihat dari kenyataannya berdasarkan hasil evaluasi awal yang telah dilakukan selama terjun di lingkukan sekolah, banyak peserta didik yang masih kesulitan menyelesaikan soal-soal setara AKM numerasi konten aljabar karena terbatasnya berpikir kritis yang mereka miliki dalam memahami, mengidentifikasi, dan menganalisis soal yang diberikan. Bisa dilihat dari penelitian Arofa . yang melihat bahwasannya kemampuan numerasi peserta didik dalam menyelesaikan soal AKM masih rendah, dari total 36 peserta didik 23 diantaranya tergolong dalam kategori rendah dan hanya 1 peserta didik yang tergolong dalam kategori tinggi. Penelitian ini juga menunjukkan peserta didik yang dapat melakukan penalaran hanya peserta didik kategori tinggi selebihnya peserta didik hanya mampu dalam proses kognitif pemahaman dan penerapan konsep saja. Bisa juga dilihat dari hasil penelitian Anggraini dan Setianingsih . yang menyatakan bahwa peserta didik kurang mampu menyelesaikan soal AKM dengan tepat. Selain itu, rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika dapat kita lihat dari hasil survei internasional PISA. Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Nadiem Anwar Makarim, di Jakarta, mengatakan bahwa skor PISA Indonesia pada tahun 2022 turun 12 poin dari tahun sebelumnya dan peringkat Indonesia menempati peringkat ke-69 atau posisi ke-12 terbawah dalam daftar dengan total skor 1. Dalam grafik hasil rata-rata skor di bidang matematika, literasi, dan sains dalam PISA 2022, sebagian besar peserta didik di Indonesia mendapat nilai di bawah rata-rata OECD, meskipun ada juga beberapa peserta didik yang skornya di atas rata-rata OECD (OECD, 2. Perbedaan hasil yang didapat peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence. Dalam penelitian yang disampaikan oleh Maulida . Gardner yang merupakan seorang psikolog perkembangan dan profesor pendidikan penemu teori kecerdasan majemuk, meyakini bahwa manusia pada dasarnya memiliki setidaknya delapan kecerdasan berbeda dari manusia lainnya, yang menurut Gardner dapat digabungkan dan dibentuk menjadi satu Ausystem intelektual manusia. Sembilan kecerdasan menurut Gardner itu adalah: Logical-Mathematical . ecerdasan logis-matemati. Linguistic . ecerdasan bahas. Musical . ecerdasan musi. Spatial . ecerdasan spasial-visua. Bodily-Kinesthetic . ecerdasan kinestetik-jasman. , naturalist . ecerdasan natura. Interpersonal . ecerdasan introspeti. , dan Intrapersonal . ecerdasan sosia. Teori kecerdasan majemuk Gardner menekankan bahwa setiap individu memiliki kecerdasan yang beragam. Misalnya, peserta didik yang memiliki kecerdasan logis-matematis yang tinggi mungkin akan lebih responsif terhadap pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah, sementara peserta didik dengan kecerdasan interpersonal yang kuat mungkin akan lebih menghargai pembelajaran kolaboratif, namun hal tersebut belum bisa dipastikan bahwasannya peserta didik yang memiliki kecerdasan logis-matematis rendah akan kesulitan berpikir secara kritis untuk menyelesaikan masalah matematika. Dalam penelitian sebelumnya, peneliti mengaitkan berpikir kritis peserta didik dengan penyelesaian masalah matmatika. Misalkan penelitian yang dilakukan oleh Prameswari dan Kurniyati . yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir matematis peserta didik masih rendah hal ini terlihat pada belum tercapainya indikator analisis, evaluasi, dan inferensi dengan baik. Dalam penelitian Suwito dan Susanah . yang bertujuan bertujuan untuk mendeskripsikan pemikiran kritis peserta didik dalam menyelesaikan masalah AKM berdasarkan gaya kognitif field Vol. No. Maret 2026 Halaman | 3 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK Independent dan field-Dependent. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik dengan gaya kognitif field independent memenuhi semua indikator berpikir kritis dalam menyelesaikan materi geometri numerasi AKM dan masalah pengukuran yang terbagi dalam enam aspek keterampilan yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan dan pengaturan diri, sedangkan peserta didik dengan gaya kognitif field-dependent hanya memenuhi beberapa indikator pemikiran kritis yang terdapat pada aspek evaluasi, inferensi dan penjelasan. Dalam hal ini mengindikasikan bahwa masih terbatas penelitian yang mengkaitkan antara berpikir kritis dalam menyelesaikan soal AKM konten aljabar dengan kecerdasan majemuk sehingga peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendeskripsikan berpikir kritis peserta didik berdasarkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya dalam menghadapi soal-soal AKM konten aljabar dalam judul penelitian AuAnalisis Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Menyelesaikan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Aljabar Ditinjau dari Kecerdasan MajemukAy yang bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal setara AKM aljabar berdasarkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya. Konten aljabar dipilih dalam penelitian ini karena kompetensi dalam konten aljabar sangat relevan untuk memunculkan berpikir kritis peserta didik, hal tersebut dapat dilihat dari peserta didik dituntut untuk bernalar, memahami konsep, menganalisis pola, dan memecahkan masalah secara sistematis. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Menurut Sahir . , penelitian kualitatif berfokus pada data dan persepsi terhadap suatu fenomena untuk menghasilkan analisis deskriptif dalam bentuk kata-kata, sedangkan Jaya . menyatakan bahwa metode ini mampu menghasilkan kesimpulan yang tidak dapat diperoleh melalui analisis statistik. Berdasarkan pendapat tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam keterampilan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal setara Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) ditinjau dari kecerdasan yang dimiliki. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahap sebagai berikut. Tahap Persiapan Memilih Topik Penelitian Topik penelitian ditentukan berdasarkan pengamatan langsung di lingkungan sekolah yang menunjukkan rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik. Menyusun Proposal Penelitian Proposal disusun sebagai dasar perencanaan penelitian secara sistematis dan terstruktur dengan bimbingan dosen pembimbing. Menyusun Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan meliputi angket kecerdasan majemuk, soal setara AKM, dan pedoman wawancara. Tahap Pelaksanaan Memberikan Angket Kecerdasan Majemuk Angket diadopsi dari buku Maximizing Your Talent karya Paulus Winarto . untuk mengidentifikasi kecerdasan dominan peserta didik berdasarkan teori Gardner. Memilih Subjek Penelitian Subjek dipilih berdasarkan hasil angket, yaitu peserta didik dengan kecerdasan tinggi pada aspek logis-matematis, linguistik, dan visual-spasial, masing-masing satu orang. Memberikan Soal Setara AKM Vol. No. Maret 2026 Halaman | 4 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK Subjek penelitian mengerjakan soal setara AKM yang bersumber dari Scribd secara individu selama 30 menit. Melakukan Wawancara Wawancara dilakukan secara individual menggunakan pedoman yang telah divalidasi dosen pembimbing untuk menggali lebih dalam pemikiran peserta didik. Tahap Analisis Data Data dianalisis berdasarkan hasil pengerjaan soal setara AKM dan wawancara untuk menggambarkan kemampuan berpikir kritis peserta didik sesuai jenis kecerdasannya. Tahap Penyusunan Laporan Penelitian Hasil analisis disimpulkan dan disusun dalam laporan penelitian secara deskriptif, objektif, dan sesuai dengan data yang diperoleh tanpa manipulasi. Vol. No. Maret 2026 Halaman | 5 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK Gambar 1. Alur Prosedur Penelitian Sumber Data Penelitian Data penelitian diperoleh dari peserta didik SMP kelas VII, dengan pertimbangan bahwa mereka belum mengikuti ANBK, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis sebagai persiapan ANBK kelas Vi. Penentuan subjek menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu (Sutrisno et al. , 2. Subjek dipilih melalui angket kecerdasan majemuk, yaitu satu peserta didik dengan skor tertinggi pada kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan ruang visual. Pemilihan satu subjek pada setiap kecerdasan dianggap cukup untuk menggambarkan proses berpikir kritis secara mendalam, dengan mempertimbangkan fokus penelitian, kedalaman data, kemampuan komunikasi, dan kesediaan Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data meliputi angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Angket Digunakan untuk menentukan jenis kecerdasan majemuk peserta didik berdasarkan instrumen Paulus Winarto . Soal Satu soal uraian setara AKM diberikan untuk mengukur indikator berpikir kritis dan dikerjakan secara individu selama 30 menit. Wawancara Wawancara dilakukan setelah tes untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap jawaban peserta didik, menggunakan pedoman wawancara tidak terstruktur. Dokumentasi Dokumentasi meliputi hasil angket, hasil pengerjaan soal, rekaman wawancara, dan foto kegiatan sebagai data pendukung penelitian. Teknik Analisis Data Analisis data meliputi analisis angket kecerdasan majemuk dan analisis data kualitatif hasil tes serta wawancara. Analisis Data Angket Kecerdasan Majemuk Data angket dianalisis berdasarkan pedoman penyekoran dari buku Maximizing Your Talent (Winarto, 2. untuk menentukan subjek dengan kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan ruang visual tertinggi. Analisis Data Kualitatif Analisis data kualitatif dilakukan melalui tiga tahap menurut Sarosa . , yaitu: Reduksi Data, dengan menyaring data penting dari hasil pengerjaan soal AKM dan transkrip wawancara serta melakukan pengodean data. Penyajian Data, dengan menyusun data hasil tes dan wawancara secara sistematis untuk memudahkan penarikan makna. Penarikan Kesimpulan, dengan mengintegrasikan hasil analisis untuk menggambarkan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal setara AKM berdasarkan kecerdasan HASIL DAN PEMBAHASAN Vol. No. Maret 2026 Halaman | 6 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK Berpikir Kritis Peserta Didik yang Memiliki Kecerdasan Linguistik dalam Memecahkan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Aljabar Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan linguistik memahami stimulus yang dapat dilihat pada lembar jawaban bahwasannya peserta didik dengan kecerdasan linguistik menuliskan informasi penting dalam soal dan pertanyaan secara rinci dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Menunjukkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan linguistik tidak hanya mengidentifikasi informasi yang relevan, tetapi juga menunjukkan dalam menyampaikan alasan secara lisan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Fadilah dkk. yang menunjukkan bahwa anak berkecerdasan linguistik memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mereka juga mampu menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan secara lengkap dan terperinci. Pada tahap analysis, peserta didik dengan kecerdasan linguistik telah menunjukkan pemahaman terhadap konsep-konsep matematika yang relevan terhadap pertanyaan dalam soal. Lalu dalam menyusun strategi, langkah awal yang digunakan peserta didik dengan kecerdasan linguistik dalam menyelesaikan soal sudah tepat namun, terdapat kesalahan dalam menerjemahkan pertanyaan yang membuat langkah selanjutnya hingga penarikan kesimpulan kurang tepat. Merujuk indikator pada Tabel 2. 1, hal ini menandakan bahwa berpikir kritis peserta didik dengan kecerdasan linguistik dalam indikator analisis masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam mencermati secara detail pertanyaan yang diajukan dalam soal. Peserta didik dengan kecerdasan linguistik tidak hanya mengidentifikasi informasi yang relevan, tetapi juga menunjukkan dalam menyampaikan alasan secara lisan. Dalam melakukan perhitungan, peserta didik dengan kecerdasan linguistik melakukan sedikit kesalahan pada bagian mengalikan desimal. Hal tersebut terjadi karena rendahnya pemahaman peserta didik dengan kecerdasan linguistik mengenai konsep desimal dan proses evaluasi tidak dilakukan secara menyeluruh. Kesalahan ini juga memperlihatkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan linguistik cenderung tergesa-gesa dan kurang teliti dalam melakukan perhitungan numerik, serta kurang menyadari ketidaksesuaian antara hasil yang diperoleh dengan konteks Dapat dikatakan bahwa dalam mengevaluasi hasil, peseta didik dengan kecerdasan linguistik tidak menunjukkan berpikir kritis pada aspek evaluation. Pada tahap menyimpulkan, peserta didik dengan kecerdasan linguistik menghasilkan suatu kesimpulan dari data yang diolah namun, kesimpulan tersebut kurang tepat. Hal tersebut dikarenakan kesalahan dalam memahami konteks pertanyaan menyebabkan proses berpikir tidak berjalan secara utuh, dan peserta didik dengan kecerdasan linguistik tidak mengkaji ulang apakah kesimpulan yang didapat sesuai dengan pertanyaan atau tidak. Proses berpikir kritis peserta didik dengan kecerdasan linguistik dalam menyimpulkan apakah simpulan yang dihasilkan sudah sesuai dengan permintaan soal masih belum menunjukkan aspek inference. Meskipun demikian, peserta didik dengan kecerdasan linguistik memahami istilah yang terdapat pada soal seperti persentase, pecahan, dan desimal. Kejelasan berbahasa, kelengkapan informasi, dan ketepatan dalam memahami maksud soal yang ditunjukkan oleh peserta didik dengan kecerdasan linguistik mengindikasikan bahwa kecenderungan kecerdasan linguistik yang mendukung keterampilan berpikir kritis peserta didik dengan kecerdasan linguistik, khususnya dalam menyampaikan respon atas pertanyaan, memahami stimulus, dan mengevaluasi informasi secara mendalam. Dalam hal ini, selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Mujib dan Mardiyah . bahwa peserta didik yang memiliki kecerdasan linguistik mampu untuk membaca, memahami, menjabarkan, informasi, menafsirkan dengan baik, selain itu mampu menjelaskan dan membuat kesimpulan. Lalu dalam konteks indikator self-regulation pada berpikir kritis, peserta didik dengan kecerdasan linguistik telah menunjukkan bagaimana proses mengontrol diri ketika menemui soal Vol. No. Maret 2026 Halaman | 7 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK yang rumit yaitu dengan membaca berulang kali. Peserta didik dengan kecerdasan linguistik juga menunjukkan strategi yang dilakukan ketika bertemu dengan tantangan baik secara internal maupun Strategi tersebut adalah dengan berhenti sejenak untuk melamun dan mengosongkan pikiran agar bisa lebih fokus. Berpikir Kritis Peserta Didik yang Memiliki Kecerdasan Logis Matematis dalam Memecahkan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Aljabar Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan logis matematis memahami dan menceritakan kembali stimulus menggunakan bahasanya sendiri. Selain itu, dapat dilihat dari bagaimana peserta didik dengan kecerdasan kecerdasan logis matematis memilah mana informasi yang penting dan tidak dan memberikan alasan yang relevan dan logis terkait hal tersebut. Lalu, peserta didik dengan kecerdasan kecerdasan logis matematis menuliskan informasi penting tersebut dalam lembar jawaban. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis juga menyebutkan pertanyaan dalam soal dan bentuk representasi yang diminta meskipun lupa menuliskannya dalam lembar jawaban. Peserta didik dengan kecerdasan kecerdasan logis matematis memahami dan mengomunikasikan isi soal mulai dari apa yang diketahui hingga apa yang ditanyakan menunjukkan aspek interpretasi pada indikator berpikir kritis. Pada tahap analysis dan evaluation, peserta didik dengan kecerdasan logis matematis mengetahui konsep matematika yang digunakan dalam menyelesaikan soal setara AKM yang diberikan secara lengkap. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis menghubungan penyataan dan pertanyaan pada soal dengan konsep persentase, pecahan dan desimal sehingga dapat menyusun model matematika dengan tepat. Strategi yang diambil peserta didik dengan kecerdasan logis matematis dalam menyelesaikan soal dan melakukan perhitungan sistematis dan tepat. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis melakukan pengecekan kembali hasil pekerjaannya untuk meyakinkan bahwasannya hasil yang ditemukan itu sudah tepat. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis dalam mengidentifikasi hubungan antara pernyataan, pertanyaan, dan konsep matematika menunjukkan aspek analysis dalam menyelesaikan soal setara AKM. Selain itu, adanya evaluasi yang matang dan menyeluruh terhadap hasil penyelesaian soal setara AKM menunjukkan aspek evaluation pada indikator berpikir kritis. Pada tahap menyimpulkan, kesimpulan yang diambil oleh peserta didik dengan kecerdasan logis matematis sesuai dengan konteks soal dan dapat menjawab pertanyaan. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis telah menunjukkan bahwa ia tidak hanya memahami soal dan prosedur penyelesaian soal, tetapi juga menarik makna dan menyimpulkan informasi dari proses yang telah dilakukan secara tepat dan relevan. Dalam hal ini, selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mujib dan Mardiyah . yang menunjukkan bahwa peserta didik yang mempunyai kecerdasan logis matematis mampu membaca soal, mampu mengidentifikasi informasi-informasi, menuliskan simbol matematika secara lengkap, menuliskan simbol matematika yang berbeda, membuat rumus matematika dengan jelas, mengevaluasi, dan menyimpulkan. Dengan demikian, peserta didik dengan kecerdasan logis matematis dalam menyampaikan kesimpulan yang tepat dan sesuai dengan pertanyaan soal menunjukkan aspek inference pada indikator berpikir kritis. Selain itu, peserta didik dengan kecerdasan logis matematis memahami istilah yang terdapat pada soal seperti persentase, pecahan, dan desimal. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis menghubungkan istilah-istilah tersebut dengan konsep matematika yang telah mereka pelajari sebelumnya, serta dapat menggunakannya secara tepat sesuai dengan konteks soal yang dihadapi. Hal ini tercermin dari ketepatan dalam penggunaan rumus ketika menyusun strategi dan kecakapan dalam menguraikan arti istilah menggunakan bahasa mereka sendiri dalam bentuk penjelasan lisan. Dengan demikian, proses berpikir kritis peserta didik dengan kecerdasan logis matematis dalam Vol. No. Maret 2026 Halaman | 8 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK menjelaskan istilah matematika yang digunakan dalam soal menunjukkan indikator berpikir kritis pada aspek explanation. Lalu dalam konteks indikator self-regulation pada berpikir kritis, peserta didik dengan kecerdasan logis matematis akan membaca secara perlahan dan memahami kalimat demi kalimat jika menemui soal yang rumit. Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis juga akan berhenti sejenak untuk menyegarkan pikiran agar bisa lebih fokus. Berpikir Kritis Peserta Didik yang Memiliki Kecerdasan Ruang Visual dalam Memecahkan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Aljabar Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan ruang visual memahami stimulus dengan cara yang berbeda dari peserta didik dengan kecerdasan linguistik dan peserta didik dengan kecerdasan logis matematis. Dalam memahami informasi, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menuliskan informasi penting dalam tabel secara jelas dan lengkap yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman. Selain itu, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menuliskan dan menyebutkan secara tepat pertanyaan yang diajukan dalam soal dan bentuk representasi yang diminta. Peserta didik dengan kecerdasan ruang visual dalam memahami dan mengomunikasikan isi soal mulai dari apa yang diketahui hingga apa yang ditanyakan menunjukkan indikator berpikir kritis pada aspek interpretation. Pada tahap analysis, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual mengetahui konsep matematika yang digunakan dalam menyelesaikan soal setara AKM yang diberikan. Strategi awal yang digunakan oleh peserta didik dengan kecerdasan ruang visual dalam menyelesaikan soal sudah tepat namun, terdapat kesalahan pemahaman terhadap satu kalimat yang membuat langkah selanjutnya hingga penarikan kesimpulan kurang tepat. Meskipun demikian, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual merumuskan ulang strategi yang tepat untuk menyelesaikan pertanyaan Dalam hal ini, selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani dkk. yang menyatakan bahwa peserta didik dengan kecerdasan ruang visual mampu merancang strategi penyelesaian dengan tepat karena peserta didik kecerdasan ruang visual dibekali kemampuan untuk mengenali pola dan ide secara grafis atau tertulis. Dengan demikian, dalam melakukan analisis soal, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual tidak menunjukkan aspek analysis pada lembar jawaban dan ketika wawancara. Pada tahap evaluation, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual melakukan operasi perhitungan dari awal hingga akhir dengan benar. Peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menyatakan bahwasannya telah dilakukan evaluasi atau pengecekan kembali pada hasil pekerjaannya namun, pada lembar jawaban terlihat bahwa pengecekan kembali hanya sebatas ketepatan perhitungan numerik bukan ketepatan pada pemahaman koteks pertanyaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa peserta didik dengan kecerdasan ruang visual memiliki perhitungan yang akurat dalam menghitung dan adanya usaha untuk memeriksa kembali hasil kerja dan mengenali faktor yang memengaruhi kesalahan. Dengan demikian. Peserta didik dengan kecerdasan ruang visual belum menunjukkan aspek evaluation yang mendalam ketika mengerjakan soal dan ketika Dalam tahap inference, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menarik kesimpulan secara lisan dari data yang diolah namun tidak menuliskannya pada lembar jawaban. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Putri & Wijayanti, 2. bahwasannya peserta didik kecerdasan visual spasial hanya menyimpulkan hasil yang diperoleh secara lisan. Kesimpulan tersebut masih kurang tepat dikarenakan peserta didik dengan kecerdasan ruang visual melakukan kesalahan dalam memahami satu kalimat dalam stimulus yang menyebabkan proses berpikir tidak berjalan secara utuh dan peserta didik dengan kecerdasan ruang visual tidak mengkaji ulang apakah Vol. No. Maret 2026 Halaman | 9 ANALISIS BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) ALJABAR DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK kesimpulan yang didapat sesuai dengan pertanyaan atau tidak. Dengan demikian, aspek inference pada peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menunjukkan bahwa meskipun telah sampai pada tahap menyusun kesimpulan secara lisan, sedangkan dalam menilai keakuratan hasil kesimpulan terhadap pertanyaan masih belum ditunjukkan dalam hasil pekerjaan dan ketika wawancara. Selanjutnya pada tahap explanation peserta didik dengan kecerdasan ruang visual memahami istilah yang terdapat pada soal seperti persentase, pecahan, dan desimal. Peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menyatakan bahwasannya tidak ada istilah dalam soal yang sulit dipahami. Dengan demikian, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menunjukkan aspek explanation atau penjelasan dalam menjabarkan maksud dari pernyataan-pernyataan yang terdapat pada saat Lalu dalam konteks indikator self-regulation pada berpikir kritis, peserta didik dengan kecerdasan ruang visual akan membaca perlahan dan menggambarkannya dalam otak jika menemui soal yang rumit. Peserta didik dengan kecerdasan ruang visual juga akan berhenti sejenak untuk mengalihkan perhatian dengan menggambar agar bisa lebih fokus. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal setara AKM menunjukkan variasi sesuai dengan kecerdasan majemuk yang dominan, yaitu kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan ruang Variasi tersebut tampak pada perbedaan cara memahami informasi, menyusun strategi, mengevaluasi hasil, menarik kesimpulan, menjelaskan istilah, dan mengendalikan proses berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan linguistik menunjukkan kemampuan berpikir kritis pada aspek interpretation, self regulation, analysis, inference, dan explanation. Namun, peserta didik belum menunjukkan aspek evaluation secara optimal karena evaluasi hasil pekerjaan dilakukan secara Peserta didik dengan kecerdasan logis matematis menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang relatif lengkap pada seluruh aspek, yaitu interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self regulation, melalui pemahaman soal yang baik, penyusunan strategi yang tepat, perhitungan akurat, serta evaluasi dan penarikan kesimpulan yang sesuai konteks. Peserta didik dengan kecerdasan ruang visual menunjukkan kemampuan berpikir kritis pada aspek interpretation, analysis, explanation, dan self regulation melalui representasi visual dan pemodelan matematika. Namun, aspek evaluation dan inference belum ditunjukkan secara optimal karena kurangnya evaluasi menyeluruh dan tidak adanya penulisan kesimpulan. Saran Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan jenis kecerdasan majemuk yang diteliti agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara kecerdasan majemuk dan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal setara AKM. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menggunakan soal AKM dari berbagai konten numerasi selain aljabar, seperti bilangan, pengukuran dan geometri, serta data dan ketidakpastian, guna memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh dan melihat konsistensi kemampuan berpikir kritis pada konteks yang berbeda. REFERENSI