EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational REKONSTRUKSI KURIKULUM BERBASIS MULTIKULTURAL UNTUK MENANGGAPI TANTANGAN KEBERAGAMAN DI INDONESIA Putri Ainur Rohmah1. Ida Zahara Adiba2 Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI1,2 e-mail: putrainur93@gmail. com1, idazaharaadibah@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kurikulum berbasis multikultural di tingkat sekolah dasar sebagai respons terhadap tantangan keberagaman social, budaya dan agama yang semakin kompleks di Indonesia. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan sekaligus tantangan yang memerlukan pendekatan pendidikan yang mampu membentuk generasi inklusif, toleran, dan adil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan mengombinasikan metode studi pustaka dan studi kasus. Lokasi studi kasus dilakukan di SDN Kenalan, sebuah sekolah yang berada dalam lingkungan masyarakat majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik nilai-nilai multikultural telah diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran, konten lokal, serta budaya sekolah, meskipun belum tertuang secara eksplisit dalam dokumen kurikulum formal. Tantangan yang dihadapi meliputi ketiadaan kebijakan operasional dan rendahnya kesiapan guru dalam menyusun strategi pembelajaran berbasis Berdasarkan hasil temuan, penelitian ini menawarkan model rekonstruksi kurikulum yang terdiri dari empat elemen utama: tujuan dan indikator pembelajaran multikultural, bahan ajar kontekstual, strategi pembelajaran partisipatif, dan budaya sekolah yang inklusif. Model ini diharapkan menjadi kontribusi dalam pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih responsif terhadap pluralitas masyarakat Indonesia. Kata Kunci: Kurikulum Multikultural. Keberagaman. Pendidikan Dasar ABSTRACT This study aims to reconstruct a multicultural-based curriculum at the elementary school level in response to the increasingly complex challenges of social, cultural, and religious diversity in Indonesia. This diversity represents both a wealth and a challenge that requires an educational approach capable of developing an inclusive, tolerant, and just generation. This research uses an exploratory qualitative approach, combining literature and case study methods. The case study location was SDN Kenalan, a school located in a pluralistic community. The results indicate that the practice of multicultural values has been integrated into learning activities, local content, and school culture, although not yet explicitly stated in formal curriculum Challenges faced include the lack of operational policies and low teacher preparedness in developing multicultural-based learning strategies. Based on the findings, this study proposes a curriculum reconstruction model consisting of four main elements: objectives and indicators of multicultural learning, contextual teaching materials, participatory learning strategies, and an inclusive school culture. This model is expected to contribute to the development of education policies that are more responsive to the plurality of Indonesian Keywords: Multicultural Curriculum. Diversity. Elementary Education PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keberagaman sosial yang sangat tinggi, baik dari segi etnis, agama, bahasa, maupun budaya. Dalam dunia pendidikan, variasi ini mengharuskan adanya metode pengajaran yang mampu mengakomodasi berbagai latar Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational belakang siswa, sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai dan kehidupan berdampingan yang harmonis (Tilaar, 2024. Arifin, 2. Dengan demikian, pendidikan multikultural menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dimasukkan ke dalam kurikulum di semua tingkat, terutama di tingkat sekolah dasar yang menjadi dasar pembentukan karakter bangsa (Branks, 2006: Nieto, 2. (Sutjipto, 2. menyatakan bahwa walaupun kurikulum nasional secara umum memuat nilai-nilai multikultural, penerapan di sekolah sering kali hanya berfokus pada penyampaian informasi, tanpa memperhatikan aspek sikap dan keterampilan sosial yang seharusnya menjadi elemen penting dalam pendidikan multikultural. Situasi ini semakin parah akibat kurangnya pelatihan bagi para guru serta rendahnya dukungan kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif (Futaqi, 2. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk mengembangkan kembali atau menyusun ulang kurikulum yang tidak hanya menyertakan nilai-nilai multikultural secara tertulis, tetapi juga dapat diterapkan melalui pendekatan pengajaran yang sesuai dengan konteks. Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan memberikan kebebasan dan memperkuat konteks lokal, namun dalam praktiknya, banyak guru yang masih belum mengerti cara menerapkan prinsipprinsip multikultural dengan nyata dalam proses pembelajaran (Wardani et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa penyesuaian kurikulum tidak hanya perlu didasarkan pada perubahan isi struktur, tetapi juga pada kesiapan para pelaksana, terutama guru yang berperan langsung dalam proses pendidikan (Sarnita & Andaryani, 2. Penguatan nilai-nilai multikultural dalam program pembelajaran tidak hanya berperan sebagai tanggapan terhadap keragaman yang ada di Indonesia, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk mencegah terjadinya perpecahan sosial akibat intoleransi. Penelitian yang dilakukan oleh Limbong. Firmansyah, dan Fahmi . mengungkapkan bahwa pembelajaran yang menggabungkan pendekatan multikultural secara aktif dapat meningkatkan sikap toleransi dan empati siswa terhadap kelompok lain. Di sisi lain. Futaqi . menekankan perlunya merumuskan prinsip-prinsip dasar dalam pengembangan kurikulum multikultural, yang mencakup relevansi, inklusivitas, dan penghormatan terhadap kearifan Tujuannya agar kurikulum tidak sekadar menjadi dokumen administratif melainkan dapat berfungsi sebagai alat yang membawa perubahan dalam pembentukaan karakter kebangsaan. Studi yang dilakukan sebelumnya berfungsi sebagai dasar yang signifikan dalam merumuskan konsep rekonstruksi ini. Wardani et al. 4:2. dalam penelitian mereka mengungkapkan bahwa kegiatan pembelajaran yang bertema keberagaman di SDN Nglorog 3 memberikan dampak positif dalam menumbuhkan kesadaran multikultural di kalangan siswa, meski belum didukung oleh dokumen kurikulum yang terorganisir. Sementara itu. Sarnita dan Andaryani . 3:1. menekankan pentingnya dukungan dari lembaga serta penguatan kebijakan agar pendidikan multikultural dapat dilaksanakan secara sistematis, tidak hanya bergantung pada inisiatif masing-masing guru. Lebih dari itu, perlu untuk merevisi aspek evaluasi dalam pengembangan kurikulum Metode penilaian yang hanya fokus pada kemampuan kognitif tidak memadai untuk menilai pemahaman dan penghargaan siswa terhadap nilai-nilai keragaman. Oleh sebab itu, dibutuhkan pendekatan penilaian yang autentik untuk menilai sikap toleran, kemampuan berinteraksi dalam kelompok yang beragam, serta refleksi kritis mengenai perbedaan sosial (Limbong et al. , 2. Penilaian semacam ini dapat dilaksanakan melalui proyek kolaboratif, pengkajian kasus budaya, atau portofolio yang mendokumentasikan cara siswa merespons keberagaman dengan cara yang positif. Selain peran guru, institusi pendidikan juga memiliki pengaruh besar dalam menciptakan suasana sekolah yang mendukung keberagaman, yang merupakan kunci Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational keberhasilan kurikulum multikultural. Sekolah sering kali hanya menampilkan motto "toleransi" secara simbolis, tetapi gagal dalam membangun budaya dialog dan pemahaman antarbudaya di antara siswa (Dewi Reskia, 2. Lingkungan belajar yang multikultural tidak hanya terlihat dari materi pelajaran, tetapi juga dari praktik sosial sehari-hari, seperti kebijakan yang tidak diskriminatif, penghormatan terhadap perbedaan, serta penguatan identitas budaya lokal dalam kegiatan di sekolah (Zamroni, 2. Tanpa dukungan yang kuat dari lembaga, nilai-nilai multikultural hanya akan menjadi retorika normatif. Di sisi lain, sangat penting untuk menyertakan bahan ajar yang mencerminkan pengalaman kehidupan siswa dari berbagai latar belakang. Dalam kenyataannya, buku teks yang dipakai di sekolah-sekolah cenderung seragam dan kurang menggambarkan keragaman budaya yang ada di Indonesia. Akibatnya, banyak siswa dari kelompok minoritas merasa terpinggirkan atau tidak diperhatikan dalam konteks pendidikan nasional (Sarnita & Andaryani. Penambahan materi ajar dengan sumber lokal, cerita budaya daerah, serta tokoh dari berbagai latar belakang etnis dapat membantu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap pendidikan nasional dan menguatkan identitas yang inklusif. Perlu diketahui bahwa pembaruan kurikulum multikultural tidak bisa dilakukan secara cepat, tetapi harus menjadi bagian dari proses reformasi pendidikan yang terus menerus. Kebijakan yang konsisten, pelatihan guru yang berjenjang, serta partisipasi masyarakat lokal merupakan hal-hal penting untuk kelangsungan model kurikulum ini (Futaqi, 2. Selain itu, keterlibatan berbagai pihak, termasuk orang tua, tokoh masyarakat, dan organisasi lokal, harus dijadikan mitra strategis agar implementasi kurikulum benar-benar tepat dengan karakteristik sosial dan budaya di daerah tersebut. Rekonstruksi kurikulum yang berprinsip multikultural menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. Proses rekonstruksi ini melibatkan perubahan di berbagai aspek seperti tujuan pembelajaran, pemilihan materi, metode pembelajaran, dan penilaian yang didasari oleh prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan penerimaan terhadap keberagamanid, (Mahfid, 2019. Sani, . Diharapkan bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan partisipasi masyarakat dan berbasis lokal dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang bersifat demokratis dan inklusif (Sumarsono, 2018. Winataputra, 2. Di samping itu, penyatuan nilai-nilai multikultural dalam pendidikan juga memiliki relevansi dengan upaya memperkuat moderasi beragama serta mencegah radikalisasi sedari awal (Raharjo, 2021. Arif, 2. Berbagai penelitian sebelumnya telah menggarisbawahi pentingnya pendidikan multikultural, baik dalam konteks pembelajaran tematik di tingkat sekolah dasar (FY Limbong. Andaryani, 2. , maupun dalam proses pengembangan karakter bangsa melalui penguatan nilai-nilai lokal (Irawan, 2. Namun, mayoritas penelitian yang ada masih berpusat pada pendekatan teoritis atau terbatas pada metode pembelajaran. Terdapat sedikit penelitian yang merancang model kurikulum yang sistematis dan bisa diterapkan berdasarkan pengalaman langsung di sekolah. Dengan demikian, pentingnya pembaruan kurikulum multikultural semakin terasa di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan penyebaran ideologi intoleran, khususnya dalam ruang digital. Pendidikan, melalui kurikulum yang dirancang dengan nilai-nilai inklusif, empati, dan keadilan budaya, memiliki potensi untuk meredakan konflik dan membangun masyarakat yang lebih adil serta saling menghormati. Oleh karena itu, tujuan dari studi ini adalah untuk mengembangkan suatu model pembaruan kurikulum multikultural yang sesuai dengan konteks keberagaman di Indonesia, memperkuat kemampuan guru, serta menyediakan kerangka kerja yang dapat diterapkan secara sistematis di tingkat pendidikan dasar dan Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Dengan mempertimbangkan keadaan ini, penyusunan kembali kurikulum yang berlandaskan multikultural tidak hanya menjadi penting secara akademis, tetapi juga merupakan kebutuhan praktis untuk memelihara persatuan bangsa melalui pendidikan. Kurikulum yang paling baik adalah yang dapat menampung berbagai perbedaan dalam isi, cara pengajaran, serta hasil pembelajaran. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan suatu model penyusunan kembali kurikulum berbasis multikultural yang dapat menjembatani antara kebijakan di tingkat nasional dan praktik pendidikan di sekolah, dengan pendekatan yang fokus pada penguatan nilai inklusi, peningkatan kapasitas guru, serta penyiapan bahan ajar yang sesuai dan relevan dengan keragaman lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif eksploratif dengan mengintegrasikan teknik penelitian perpustakaan dan studi kasus. Penelitian perpustakaan digunakan untuk mengeksplorasi ide, teori, dan hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kurikulum multikultural melalui analisis berbagai sumber seperti jurnal akademik, buku ilmu pengetahuan, dan dokumen kebijakan pendidikan nasional. Di sisi lain, studi kasus dilaksanakan di SDN Kenalan, yang merupakan sekolah dasar berada di area dengan tingkat keberagaman budaya yang cukup tinggi. Para subjek dalam studi kasus ini adalah guru, kepala sekolah, dan murid yang ikut serta langsung dalam proses belajar dan pengembangan kurikulum, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Dalam tahap pencarian literatur, peneliti memanfaatkan berbagai basis data akademis online, seperti Google Scholar. DOAJ (Directory of Open Access Journal. Sinta Ristekbrin, dan ProQuest. Istilah pencarian yang dipakai meliputi: "kurikulum multikultural", "pendidikan multikultural di tingkat dasar", "rekonstruksi kurikulum", "keragaman budaya dalam pembelajaran", "pendidikan inklusif", serta "strategi pembelajaran multikultural". Kriteria pemilihan literatur mencakup artikel yang diterbitkan dalam dekade terakhir, memiliki relevansi dengan tema yang dibahas, dan ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Jumlah total sumber literatur yang berhasil ditelaah dan dianalisis dalam penelitian ini adalah 43. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga metode, yaitu: penelitian literatur, wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru, observasi aktivitas pembelajaran, serta pengumpulan dokumen seperti silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Data dianalisis dengan pendekatan tematik menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman, yang terdiri dari pengurangan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan keakuratan data, diterapkan triangulasi metode dan sumber, serta verifikasi temuan melalui member checking. Tujuan dari pendekatan yang menggabungkan ini adalah untuk mengembangkan model pengembangan kurikulum yang berbasis multikultural dengan dasar teori yang kuat dan relevansi empiris dari praktik yang nyata di SDN Kenalan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pelaksanaan Nilai Multikultural dalam Kurikulum di SDN Kenalan Kurikulum yang Merangkul Keberagaman Data dari kurikulum dan RPP di SDN Kenalan mengindikasikan bahwa meskipun tidak ada dokumen yang secara langsung menggunakan istilah "multikultural", prinsip-prinsip yang menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman sudah terintegrasi melalui pendekatan yang tematik dan kontekstual. Contohnya adalah tema "Kebersamaan dalam Keberagaman" yang diajarkan di kelas IV, yang mencakup pembelajaran tentang tradisi dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Para guru Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational mengaitkan tema ini dengan pengalaman sosial siswa, termasuk toleransi antaragama dan kerjasama antara kelompok budaya di sekitar mereka. Selain itu, metode pembelajaran yang dipakai cenderung adaptif dan memberikan kesempatan bagi pengalaman siswa. Guru merancang materi ajar dengan memasukkan cerita rakyat setempat, budaya daerah, dan tokoh masyarakat yang relevan dengan kehidupan siswa. Ini menunjukkan prinsip kurikulum multikultural yang selaras dengan konteks sosial budaya peserta didik. Dengan kata lain, kurikulum tidak berada di lingkungan yang terasing, tetapi dibentuk dari kenyataan sosial siswa sebagai bentuk pendidikan yang reflektif dan kontekstual. Penguatan Nilai Toleransi dalam Aktivitas Sosial Sekolah Lingkungan sekolah berkontribusi besar dalam menanamkan nilai multikultural. Berdasarkan pengamatan. SDN Kenalan secara teratur menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan pernyataan budaya siswa, seperti pertunjukan seni budaya daerah, kegiatan peringatan hari besar lintas agama, serta pemanfaatan ruang budaya di setiap Praktik seperti "salam budaya" setiap pagi dan pertunjukan busana adat pada waktu tertentu juga berperan dalam membangkitkan kesadaran siswa tentang pentingnya keberagaman. Ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai wadah kehidupan sosial Kepala sekolah menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dibuat untuk menciptakan suasana yang inklusif dan aman bagi semua siswa, tanpa memperhatikan latar belakang suku atau agama. Ini menegaskan bahwa pendidikan multikultural tidak hanya mengenai memasukkan konten budaya dari kelompok minoritas, tetapi juga menciptakan struktur dan praktik yang menekankan nilai kesetaraan dan pengakuan. SDN Kenalan jelas telah menunjukkan upaya tersebut, meskipun belum tercantum secara formal dalam kurikulum nasional. Kendala dalam Pelaksanaan Kurikulum Multikultural Kurangnya Dokumen Resmi untuk Kurikulum Multikultural Walaupun praktik pembelajaran multikultural sudah dilaksanakan dalam konteks yang mumpuni, belum ada adanya perumusan dokumen kurikulum yang sah yang secara resmi menjelaskan arah kebijakan pendidikan multikultural di SDN Kenalan. Guru dan kepala sekolah mengatakan bahwa inisiatif yang ada saat ini masih bersifat pribadi atau kolektif di level sekolah, bukan merupakan kebijakan yang terstruktur dari dinas pendidikan atau kurikulum pusat. Akibatnya, penerapan nilai-nilai keberagaman sangat ditentukan oleh kreativitas dan kesadaran guru. Ketiadaan dokumen ini menyebabkan kesulitan dalam menyusun indikator pembelajaran yang spesifik dan bisa diukur. Guru cenderung mengandalkan pendekatan naratif dan intuisi dalam menangani topik keberagaman, tanpa alat ukur yang baku untuk menilai sejauh mana sikap siswa. Ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan dokumen resmi dalam perumusan kurikulum yang multikultural secara sistematik dan Kesiapan Guru yang Bervariasi Temuan di lapangan menunjukkan bahwa kesiapan guru untuk menerapkan pendekatan multikultural sangat beragam. Beberapa guru menunjukkan inisiatif yang tinggi serta pemahaman yang mendalam tentang keberagaman sosial, sementara yang lainnya masih menganggap pendidikan multikultural sebagai hal tambahan, bukan bagian penting dari proses pembelajaran. Ketidakseimbangan ini terjadi karena tidak Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational semua guru pernah mendapatkan pelatihan khusus atau memiliki akses ke materi terkait pendidikan multikultural. Akibatnya, cara mengajar yang diterapkan masih terbatas pada pemahaman dasar tentang budaya, belum mencapai aspek-aspek kritis seperti kesadaran sosial dan keadilan. Kepala sekolah mengakui bahwa pelatihan mengenai pendidikan multikultural masih sangat kurang. Namun, keberhasilan pelaksanaan kurikulum sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru sebagai pelaksana utama. Oleh karena itu, adalah hal yang penting bagi pemerintah dan sekolah untuk menyediakan peluang pelatihan serta peningkatan kapasitas bagi guru dalam hal ini. Pengembangan Kurikulum Berbasis Multikultural: Rekomendasi Model Pengintegration Nilai dalam Tujuan dan Indikator Pembelajaran Berdasarkan analisis yang dilakukan, pengembangan kurikulum multikultural di SDN Kenalan dapat dimulai dengan merumuskan tujuan dan indikator pembelajaran yang secara jelas menanamkan nilai-nilai toleransi, kesetaraan, dan keadilan. Ini dapat dilakukan dengan menambahkan unsur multikultural dalam indikator sikap, seperti "menunjukkan penghargaan terhadap teman dari latar belakang budaya yang berbeda" atau "ikut serta aktif dalam diskusi yang melibatkan berbagai perspektif. " Penyusunan indikator semacam ini sangat penting agar guru memiliki panduan yang jelas dalam menilai pencapaian belajar siswa, tidak hanya dari sisi kognitif tetapi juga afektif. Selain itu, indikator tersebut harus dirancang sedemikian rupa agar memiliki karakter yang tidak sekadar simbolis, tetapi bisa diukur melalui perilaku siswa seharihari, baik di dalam maupun di luar kelas. Penggunaan alat seperti portofolio, jurnal reflektif, dan observasi sikap dapat menjadi pilihan penilaian yang tepat. Penyusunan Modul dan Media Kontekstual Guru di SDN Kenalan menekankan pentingnya pembuatan modul dan media pembelajaran yang berbasis pada lokalitas, yang menyajikan tokoh, cerita, serta praktik budaya dari lingkungan sekitar siswa. Modul ini bertujuan untuk mendekatkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa, serta memperkuat identitas dan kebanggaan terhadap keragaman budaya yang ada. Salah satu saran yang muncul dalam diskusi kelompok guru adalah pembuatan buku cerita bergambar tentang keberagaman adat di desa Kenalan sebagai sumber literasi bagi anak-anak. Pengembangan media seperti ini tidak hanya memperkuat keterampilan literasi siswa, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter yang berbasis budaya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai mediator budaya yang membantu siswa memahami dan menghargai diri sendiri serta orang lain melalui materi yang relevan dan dekat dengan kehidupan mereka. Tabel 1. Bentuk Praktik Pendidikan Multikultural di SDNKenalan KOMPONEN PRAKTIK DI SDN KENALAN PEMBELAJARAN Konten kurikulum Tema toleransi, cerita rakyat lokal, sejarah budaya Metode pembelajaran Diskusi, proyek kelompok, refeksi pengalaman Media ajar Gambar pakaian adat, lagu daerah, video keberagaman Kegiatan sekolah Peringatan hari budaya, lomba budaya antar kelas Interaksi sosial Salam budaya, pojok budaya kelas, pemilihan ketua kelas inklusif Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Pembahasan Pentingnya Dokumen Kurikulum dan Peltihan Guru Temuan dari SDN Kenalan mengonfirmasi adanya praktik multikultural yang terbatas karena ketiadaan dokumen kurikulum formal dan ketidaksiapan sebagai guru, sejalan dengan hasil studi Sarnita & Andaryani . , yang menekankan perlunya kebijakan struktural dan pelatihan untuk mendukung pendidikan multikultural di sekolah Anton et al. dalam konteks globalisasi menambahkan bahwa implementasi holistik dan kolaboratif, termasuk pembekalan guru dan penggunaan teknologi, efektif meningkatkan toleransi lintas budaya. Integrasi nilai inklusif dalam kurikulum Merdeka Penelitian yang dilakukan oleh Wardani dan rekan-rekan . di SDN Nglorog 3 menunjukkan bahwa elemen-elemen dalam Kurikulum Merdeka, seperti P5 yang berfokus pada tema Kebhinekaan serta pembelajaran yang terpersonalisasi, telah berhasil mendukung pendidikan multikultural secara efektif, meskipun tidak melalui mata pelajaran Temuan ini memperkuat pendapat bahwa pendekatan kurikulum yang adaptif dan sesuai konteks sangat penting untuk meneguhkan nilai-nilai keberagaman. Pengembangan karakter melalui nilai multikultural Musaffa dan Habibi . menunjukkan bahwa kurikulum yang memadukan nilainilai toleransi dan empati dapat menciptakan suasana belajar yang seimbang, mengurangi kemungkinan terjadinya konflik, dan meningkatkan rasa saling menghormati di kalangan siswa dari berbagai latar belakang. Demikian pula. Wahyuni et al. menyatakan bahwa penggabungan pendidikan agama dalam konteks multikultural mendukung pembentukan karakter seperti disiplin, rasa tanggung jawab, dan empati di SDN Cigumelor. Landasan filosofis untuk kurikulum multikultural Harianto . menggarisbawahi betapa pentingnya menerapkan prinsip progresivisme, rekonstruksionisme, dan eksistensialisme sebagai dasar teoretis untuk menciptakan kurikulum yang inklusif, adil, dan sesuai konteks. Pendekatan filosofis ini sangat penting dalam menangani keberatan ideologis dan prasangka yang ada dalam pendidikan multikultural. Tantangan Materi Ajar dan Tantangan materi ajar dan budaya local Studi oleh Tuwaidan . memetakan hambatan seperti resistensi budaya dan minimnya bahan ajar lokal relevan dengan kenyataan SDN Kenalan. Mereka menekankan perlunya bahan ajar yang kontekstual dan materi yang merespons tantangan globalisasi di sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski kata multikultural tidak tercantum secara langsung dalam kurikulum resmi, penerapan nilai-nilai terkait telah dilakukan melalui berbagai metode pengajaran, materi lokal, serta budaya sekolah. Ini menunjukkan bahwa para guru di SDN Kenalan secara aktif menyesuaikan cara pengajaran mereka dengan kondisi sosial serta keragaman siswa. Hal ini memperkuat pentingnya pendekatan kontekstual dalam penataan ulang kurikulum. Namun, praktik-praktik tersebut belum didukung oleh dokumen resmi yang teratur. Kurikulum yang berfokus pada multikultural seharusnya tidak hanya diterapkan dalam praktik individu para guru, tetapi juga menjadi bagian dari struktur kurikulum tertulis yang dapat diacu oleh semua pengajar. Tanpa adanya kebijakan yang jelas dan alat evaluasi yang standar, akan sulit untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan pendidikan multikultural. Dari segi sumber daya manusia, peranan guru sangat penting untuk mewujudkan nilainilai multikultural dalam proses belajar mengajar. Ketidaksiapan sebagian guru menjadi Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational penghalang utama yang perlu diatasi melalui pelatihan berkelanjutan dan pengembangan Guru tidak hanya perlu memahami keberagaman, tetapi juga harus mampu merancang strategi pembelajaran yang mendorong interaksi, refleksi kritis, dan empati antar Model pengembangan kurikulum yang diajukan dalam penelitian ini terdiri dari empat komponen utama, yaitu: . pengintegrasian nilai-nilai toleransi, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman dalam indikator pembelajaran. pengembangan materi ajar yang sesuai dengan konteks lokal. penerapan metode pengajaran yang partisipatif dan kolaboratif. penguatan budaya sekolah yang inklusif. Model ini dikembangkan berdasarkan temuan yang ada di lapangan dan didukung oleh prinsip-prinsip pendidikan multikultural. Jika diimplementasikan secara terencana, model ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung keragaman, mencegah diskriminasi, dan membangun karakter kebangsaan sejak jenjang pendidikan dasar. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa penerapan prinsip-prinsip multikultural di SDN Kenalan telah dilaksanakan melalui metode pembelajaran yang sesuai konteks, terintegrasi, dan melibatkan partisipasi aktif. Meskipun belum resmi diatur dalam kurikulum nasional, berbagai praktik seperti pengembangan konten lokal, pemanfaatan media budaya, serta kegiatan yang mengedepankan toleransi dan keragaman sudah mencerminkan nilai-nilai pendidikan Walau demikian, tantangan utama masih terletak pada kebijakan formal dan kesiapan para pengajar. Tidak adanya kurikulum multikultural yang jelas serta kurangnya pelatihan khusus menyebabkan pelaksanaan yang tidak teratur dan tergantung pada inisiatif masingmasing guru. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk merevisi kurikulum agar lebih sistematis dan komprehensif dalam menghadapi masalah keragaman di Indonesia. Usulan revisi kurikulum dalam penelitian ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai multikultural ke dalam tujuan serta indikator pembelajaran, di samping pengembangan materi ajar yang relevan dan kontekstual dengan budaya lokal. Dengan pendekatan ini, pendidikan dasar dapat berfungsi sebagai alat strategis untuk membentuk generasi yang inklusif, adil, dan memiliki wawasan kebangsaan sejak usia dini. DAFTAR PUSTAKA