Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Komunitas Epifit Berdasarkan Kedalaman Perairan Laut pada Daun Lamun di Pulau Maitara. Provinsi Maluku Utara Epiphytic Community Base Depth of the Sea on Seagrass Leaves in Maitara Island. North Maluku Province Nebuchadnezzar Akbar1*. Arfa Buamona1. Irmalita Tahir1. Abdurrachman Baksir1. Rustam Effendi1 dan Firdaut Ismail1 Program Studi lmu Kelautan. FPIK. Universitas Khairun. Ternate. 97719 Indonesia *Korespondensi : nezzarnebuchad@yahoo. ABSTRAK Padang lamun menjadi habitat bagi banyak organisme laut, diantaranya epifit yang hidup berasosiasi dengan lamun dengan cara menempel pada rhizoma, batang dan daun Penelitian tentang struktur komunitas mikroepifit berdasarkan kedalaman dan indeks ekologi lamun penting dilakukan untuk memberikan penjelasan tentang kondisi komunitas khususnya di perairan laut Pulau Maitara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks ekologi mikroepifit berdasarkan kedalaman perairan dan kondisi komunitas lamun di perairan pulau Maitara. Pengambilan sampel epifit pada daun lamun menggunakan kuadran 1x1 meter berdasarkan kedalaman. Sampel epifit diambil menggunakan cutter dengan cara mengikis perlahan permukaan daun lamun, kemudian dimasukan kedalam botol sampel berisi alkohol 70%. Metode penelitian menggunakan garis transek sepanjang 50 meter kearah laut pada setiap stasiun. Hasil penelitian di ditemukan 23 genus epifit dengan tingkat keanekaragaman sedang pada setiap kedalaman, dominansi rendah dan keseragaman tiap kedalaman tinggi. Kata kunci: Epifit, lamun. Maitara ABSTRACT Seagrasses are habitat of various types of sea animals, including association epiphytic in rhizoma, leave and steam. Research about community structure microepiphytic based on depth and ecology index, important as community conditions The goal research for ecology index analysis microepiphytic based on depth sea and seagrasses community condition. Sample collections epiphytic on seagrass leave used 1x1 meters quadrant based on depth. Epiphytic sample cutted and scraped in leave surface, than into to bottles sample contain 70% alcohol. The research method used line trasect 50 meters toward sea. The result founded 23 genus epiphytic with biodiversity medium, low dominance and high uniformity. Key words: epiphytic, seagrasses. Maitara AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. PENDAHULUAN Kawasan pesisir Pulau Maitara. Kabupaten Tidore Kepulauan. Provinsi Maluku Utara memiliki potensi mangrove, lamun dan terumbu karang (Akbar et al. Keberadaan ekosistem pesisir memberikan ruang sebagai tempat tinggal biota laut. Epifit merupakan biota laut yang menempel di bagian daun, batang dan akar lamun. Epifit juga dapat diartikan setiap organisme yang hidup di sebuah tanaman (Azkab, 2. Epifit adalah organisme yang hanya menempel pada permukaan tumbuhan dan dapat berperan meningkatkan produktivitas primer, memberikan kontribusi signifikan dalam rantai makanan serta bioindikator pencemaran (Rappe, 2011 . Hulopi, 2016 . Herlina et al. , 2. Epifit awalnya mengacu bagi seluruh organisme autrofik . rodusen prime. yang tinggal menetap di bawah air menempel pada rhizoma dan daun lamun (Hulopi, 2. Keberadaan epifit tergantung pada lamun yang dijadikan sebagai tempat tinggal dan keterkaitan yang terjadi merupakan bentuk Lamun . adalah satusatunya kelompok tumbuhan berbunga (Angiospermea. yang secara penuh mampu beradaptasi di lingkungan laut. Padang lamun merupakan salah satu ekosistem perairan dangkal yang paling produktif, mempunyai fungsi ekologis dalam kehidupan berbagai organisme laut dan sistem pesisir lainnya (Patty, 2. Keberadaan mikroalga epifit yang menempel pada permukaan daun lamun dapat memberikan manfaat yang penting bagi lamun maupun (Hulopi, 2. Patty . melaporkan bahwa presentase tutupan lamun tertinggi terdapat di pulau Maitara dan pulau Hiri yaitu Ou 50 %. Ramili et al. , . menemukan bahwa lamun E. acoroides di Pulau Maitara memiliki tutupan jenis . ,67%) dan kerapatan 60,53 ind/m2. Tingginya kerapatan dan tutupan lamun, memberikan peluang kehadiran epifit menjadi lebih tinggi. Informasi tentang keberadaan epifit pada lamun dilaporkan p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Rappe . tentang asosiasi epifit pada berbagai jenis lamun di kepulauan Spermonde. Sulawesi Selatan. Hulopi . tentang komposisi dan kelimpahan mikroalga epifit pada daun lamun Enhalus acoroides di peraiaran pantai Negeri Waai Kabupaten Maluku Tengah dan Herlina et , . diversitas mikroalga epifit berasosiasi pada daun lamun Thalassia Lemukutan. Kalimatan Barat. Akan tetapi penelitian epifit di perairan pulau Maitara belum dilakukan, sehingga diperlukan suatu data untuk dijadikan sebagai informasi dasar keberadaan organisme ini. Informasi ini sangatlah penting, mengingat epifit produktivitas perairan terutama bagi organisme bentos yang memanfaatkan diatom bentik sebagai makanannya terutama yang hidup pada padang lamun seperti duri babi dan teripang yang merupakan organisme deposit feeding. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober 2018, lokasi penelitian bertempat di pulau Maitara. Kecamatan Tidore Kepulauan. Provinsi Maluku Utara. Stasiun I (N 00o44'. 8''E 127o21. 59'54'') dan stasiu II (N 00o44'. 02''E 127 22'44'') (Gambar . Pengambilan sampel dilakukan secara horisontal mengikuti pola sebaran lamun berdasarkan kedalaman. Setiap kedalaman diletakkan 6 kuadran secara sistematis pada setiap transek kuadran 1 diletakkan tepat di tengah garis transek samping kiri dan kanan garis transek dengan jarak antara kuadran 1 meter. Sampel epifit diambil menggunakan cutter dengan cara memotong bagian ujung daun . dan mengikis perlahan Enhalus Thalassia Holodule pinifolia, dan Holophila ovalis, kemudian dimasukan ke dalam botol sampel berisi larutan alkohol 70%. Sampel epifit diambil pada pagi - siang hari, hal ini dikarenakan proses penetrasi matahari membantu visualiasi. Sampel epifit yang ditemukan AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. kemudian menggunakan buku identifikasi Davis . dan Yamaji . pada laboratorium hidro oseanografi. Sampel telah diawetkan kemudian diaduk mengunakan pipet agar tercampur merata. Sampel epifit diambil menggunakan pipet diteteskan pada kaca dan diamati menggunakan mikroskop (Pembesaran 400 . Lensa mikroskop diatur hingga bentuk epifit yang diamati terlihat dengan jelas dan diamati warna, bentuk tubuh, serta struktur selnya Dalam penelitian ini dilakukan pula pengukuran beberapa parameter fisika-kimia air, seperti suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut . is- p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 solved oxyge. yang dilakukan secara in Kepadatan spe-sies makrozoobentos pada tiap stasiun diketahui berdasarkan rumus kepadatan (Odum, 1. Parameter yang dapat diukur di lapangan . n sit. seperti salinitas, suhu, pH tanah dan pH air kemudian data yang diperoleh ditabulasikan ke dalam tabel (Baksir et al. ,2. Data epifit yang ditemukan, dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman (Shannon Wienne. (Odum 1. , (Krebs, dominansi (Odum, 1. Gambar 1. Stasiun pengambilan data di Pulau Maitara. Kota Tidore Kepulauan. Provinsi Maluku Utara Gambar 2. Ilustrasi pengambilan data setiap kedalaman pada dua stasiun pengamatan AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Jenis Epifit Hasil identifikasi sampel epifit pada Enhalus Thalassia hemprichii. Holodule pinifolia dan Holophila ovalis di Laboratorium Hidro-Oseonografi. Fakultas Perikanan dan Kelautan maka ditemukan 9 devisi, 23 famili dan 23 genus (Tabel 1 dan Gambar . Epifit yang dominan ditemukan ditemukan pada genera Achnanthes. Centroceres dan Gloeocapsa dikarenakan genus yang memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat, menempel pada setiap jenis lamun dan toleran terhadap perubahan lingkungan. Epifit menyukai daun lamun Enhalus acoroides inangnya karena daunnya lebar, panjang dan kemungkinan kondisinya adalah daun tua sehingga menjadi habitat yang baik dan tempat berlindung serta tempat mencari makan yang baik pula bagi Rappe . Perbedaan luas permukaan daun memberikan perbedaan luas area yang dapat dilekati oleh makroalgal epifit, dimana semakin luas areal perlekatan maka akan semakin banyak pula makroalga yang melekat. Umur lamun juga dapat mempengaruhi jenis lamun, dimana lamun tua memiliki komposisi dan kepadatan epifit tinggi dibandingkan dengan lamun muda, hal ini dikarenkan batang, daun dan akar lamun tua membantu proses penempelan dan pembentukan koloni mikroepifit dengan cepat. Herlena et al. , . mengatakan bahwa perbedaan jenis epifit yang terdapat pada masing-masing stasiun disebabkan oleh daya adaptasi dan kekuatan penempelan pada setiap epifit yang berbeda. Padang . mengatakan bahwa Diatom bentik sebagai salah satu produsen primer di perairan yang hidupnya epifit pada berbagai jenis substrat termasuk helaian daun lamun, dimana lamun juga merupakan salah satu produsen primer di perairan pesisir. Hasil pengukuran suhu di empat stasiun pada daerah bervegetasi lamun dan tidak bervegetasi, berkisar antara 29- p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Suhu terendah terdapat pada stasiun II yaitu 29 0C. Kisaran nilai tersebut masih berada pada kisaran Menurut Sukarno . , suhu dapat makrozoobentos secara geografis dan suhu yang baik untuk pertumbuhan hewan bentos berkisar antara 25-360C. Struktur Komunitas Epifit Keanekaragaman (HA. pada Kedalaman 1, 2 dan 3 meter Keanekaragaman merupakan indeks yang digunakan untuk menduga kondisi suatu perairan berdasarkan komponen Kondisi perairan yang baik memiliki keanekaragaman yang tinggi, jumlah organisme yang banyak dan tidak terjadi dominansi dari beberapa organisme. Gambar 3. Keanekaragaman jenis epifir pada stasiun I dan II Indeks keanekaragaman (HA. epifit berkisar antara 1,03Ae2,55 (Gambar . Menurut Odum . , komunitas memiliki tingkat keanakaagaman sedang apabila HAo<3. Berdasarkan kriteria tersebut, maka keanakeragaman jenis di kedalaman I. II dan i meter pada kedua stasiun masuk dalam kategori keanekaragaman sedang. Hasil penelitian yang sama juga dilaporkan Herlina et al. yang menemukan tingkat keaneka-ragaman jenis mikroepifit pada daun lamun T. Hemprichii berkisar 1,92Ae2,55 dengan rata-rata sebesar 2,26. Tingginya keanekaragaman di kedalaman 1 meter pada stasiun II berkaitan dengan kondisi AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. habitat yang masih baik, perairan jernih tidak keruh dan tidak ditemukan adanya sedimentasi dan cahaya matahari masih masuk kedalam permukaan air laut dan masyarakat juga kurang beraktifitas di lingkungan sekitar. Kondisi berbeda ditemukan pada stasiun I dimana, kondisi habitat menerima masukan sedimen yang berasal dari daratan seperti partikel organik lumpur dan limbah sehingga Menurut Herlina et al. , . bahwa nilai keanekaragaman berdasarkan indeks Shannon- Wiener dapat juga dikaitkan dengan tingkat pencemaran. Berdasarkan kriteria, maka kondisi perairan di Pulau Maitara dalam kondisi tercemar ringan. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Menurut Soegiarto . bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas itu disusun banyak jenis mikroepifit sebaliknya jika komunitas itu disusun sedikit jenis mikroepifit maka keanekaragaman rendah. Tinggi rendahnya keanakaragaman jenis juga dipengaruhi faktor osenografi seperti arus. Menurut Ghazali et al. , . bahwa kuat arus memiliki peranan yang sangat besar terhadap kecepatan suatu organisme menempel, dimana tinggi dan rendahnya pengaruh terhadap peluang penempelan epifit pada lamun. Tabel 1. Komposisi jenis, devisi, famili dan genus epifit Stasiun Stasiun Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Komposisi Jenis Devisi Famili Fnigillariaceae Nitzchiaceae Merismopediaceae Cyanophyta Nostocaceae Oscillatoriaceae Ceramiaceae Rhodomelaceae Ceramiaceae Rhodomelaceae Rhodophyta Amphiroideae Glacilariaceae Cystocloniaceae Corallinaceae Mesoteniaceae Chlorophyta Boodleaceae Volvocaceae Cyanobacteria Microcystaceae Melosiraceae Chrysophyta Naviculaceae Pyrrophyta Peridiniaceae Bacillariaceae Bacillariophyta Rhizosoleniaceae Bacillariophyceae Achnanthaceae Thallophyta Genus Synedra Nitzchia Merismopedia Anabaena Lyngbya Centroceras Laurencia Ceramium Acananthophora Amphiroa Glacilaria Hypneae Fosliella Gonatozygon Boodlea Pleodorina Gloeocapsa Melosira Navicula Peridinum Basilaria Rhizosolenia Achnanthes Ket (Oo ) Ada (-) Tidak Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Gambar 4. Genus epifit, . Synedra, . Nitzchia, . Merismopedia, . Anabaena, . Lyngbya, . Centroceras, . Laurencia, . Ceramium. Acananthophora, . Amphiroa, . Gracilaria, . Hypnea, . Fosliella, . Gonatozygon, . Boodlea, . Pleodorina, . Gleocapsa. Melosira, . Navicula, . Peridinum, . Basilaria, . Rhizosolenia, dan . Achnanthes AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Akbar et al : Komunitas epifit berdasarkan kedalaman perairan laut Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Indeks Keseragaman (E) pada Kedalaman 1, 2 dan 3 meter (Stasiun I dan . Dominansi (C) pada Kedalaman 1, 2 dan 3 meter (Stasiun I dan . Analisis indeks keseragaman epifit memperlihatkan perbedaan nilai pada setiap kedalaman (Gambar . Indeks keseragaman berkisar diantara 0,74-0,97 yang termasuk kategori tinggi. Nilai indeks keseragaman dengan kriteria 0,75