PENGARUH EDUKASI DENGAN METODE PENYULUHAN TERHADAP SIKAP PENCEGAHAN INFEKSI SOIL TRASMITTED HELMINT PADA IBU DENGAN ANAK USIA SEKOLAH DI SD NEGERI 3 KENDIT SITUBONDO Davi Nur Ainun Arifin1, Alwin Widhiyanto, S.Kep., Ns., M.Kes2, Ainul Yakin Salam, S.Kep., Ns., M.Kep3 Program Studi S-1 Keperawatan Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Email Korespondensi: arifindavinurainun119@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi dengan metode penyuluhan terhadap sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint Pada Ibu dengan Anak Usia Sekolah Di SD Negeri 3 Kendit Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimental menggunakan Desain pra-eksperimental yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest. Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh Ibu yang mempunyai anak yang sekolah di SD Negeri 3 Kendit Kabupaten Situbondo kelas 4 yang berjumlah 35 siswa. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas 4 yang berjumlah 35 responden secara total sampling. Dalam penyusunan instrument penelitian menggunakan Kuesioner. Pengumpulan data meliputi editing, coding, scoring, dan tabulating. Kemudian dianalisis dengan Uji Spearman Rank Berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint sebelum dilakukan penyuluhan yaitu 24 responden mempunyai sikap baik dengan persentase 68,6% dan 11 responden dengan sikap kurang baik dengan persentase 31,4%. Ada peningkatan dari sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint sesudah dilakukan penyuluhan yaitu 30 responden mempunyai sikap baik dengan persentase 85,7% dan 5 responden dengan sikap kurang baik dengan persentase 14,3%. Hasil uji spearman rank yaitu diketahui bahwa p value sebesar 0,000. Nilai p value dalam penelitian ini menunjukkan bahwa p value α (0,05) yang berarti dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh edukasi dengan metode penyuluhan terhadap sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah di SD Negeri 3 Kendit Situbondo. Kata Kunci: Edukasi, Penyuluhan, Sikap, Pencegahan, Infeksi Soil Trasmitted Helmint ABSTRACT This study aims to analyze the effect of education with counseling methods on the attitude of preventing Soil Transmitted Helminth Infections in Mothers with School-Age Children at Bachelor of Nursing Study Program Faculty of Health Science 3 Kendit Situbondo. This study is a pre-experimental study using the pre-experimental design used in this study is one group pretest-posttest. The population in this study were all mothers who have children who attend elementary school 3 Kendit Situbondo Regency, grade 4, totaling 35 students. The sample in this study were grade 4 students totaling 35 respondents in total 124 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc sampling. In compiling the research instrument using a questionnaire. Data collection includes editing, coding, scoring, and tabulating. Then analyzed using the Spearman Rank Test Based on the results of this study, namely the attitude of preventing Soil Transmitted Helminth infection before counseling, namely 24 respondents had a good attitude with a percentage of 68.6% and 11 respondents with a less good attitude with a percentage of 31.4%. There was an increase in the attitude of preventing Soil Transmitted Helminth infection after counseling, namely 30 respondents had a good attitude with a percentage of 85.7% and 5 respondents with a less good attitude with a percentage of 14.3%. The results of the Spearman rank test show that the p-value is 0.000. The p-value in this study shows that the p-value α (0.05) which means that it can be concluded that there is an influence of education with the counseling method on the attitude of preventing Soil-Transmitted Helminth infection in mothers with school-age children at SD Negeri 3 Kendit Situbondo. Keywords: Education, Counseling, Attitude, Prevention, Soil-Transmitted Helminth Infection PENDAHULUAN Organisasi Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) tahun 2018 merilis data baru yang memperkirakan lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia, terinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah di seluruh dunia. Infeksi tersebar luas di daerah tropis dan sub-tropis, dengan jumlah terbesar terjadidi Afrika, sub-Sahara, Amerika, Cina dan Asia Timur. Lebih dari 267 juta anak usia pra-sekolah tinggal di daerah dimana cacing parasit ini ditularkan secara intensif dan perawatan berkala dibutuhkan untuk mencegah morbiditas terkait. Prevalensi cacingan di Indonesia pada uamumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu, dengan sanitasi yang buruk. Prevelensi cacingan bervariasi antara 2,5%-62%. Penduduk dengan ekonomi rendah, sanitasi yang buruk, akses air bersih yang rendah, perilaku hidup yang tidak sehat menjadi faktor pendukung timbulnya angka cacingan yang tinggi karena memudahkan parasit cacing untuk berkembang biak dengan pesat dan menjangkit ke masyarakat (Permenkes, 2017). Penelitian yang telah dilakukan oleh Liestina Rizki Amelia Sofrina (2014) yang berjudul Hubungan Pengetahuan, sikap dan Motivasi Ibu terhadap pemberian obat cacing pada anak usia Sekolah Dasar di SD 67 Cangadi 1 Soppeng tahun 2014. Diketahui bahwa presentase Ibu yang termotivasi 62,2% sedangkan yang tidak termotivasi 37,8%. Berdasarkan uji chis-squarediperoleh data hubungan yang signifikan antara pengetahuan pemberian obat cacing pada anak dimana p = 0,005 < a = 0,05. Dalam hal ini Ho di tolak dan Ha di terima, berarti ada hubungan yang antara motivasi dengan pemberian obat cacing di SD 67 Cangadi 1 Soppeng. Faktor utama penyebab dari cacingan yang menyerang anak adalah faktor kebersihan. Kehidupan anak-anak yang identik dengan kotor, karena mereka suka bermain diluar rumah, menjadi satu-satunya faktor utama timbulnya penyakit kecacingan.Penyakit kecacingan ini di tandai dengan anak tampak rewel, lesu, lemah, pucat, perut buncit, batuk berkepanjangan, gangguan lambung seperti (diare, perut kembung, dan susah buang air besar). Penyakit cacing tidak menyebabkan efek samping yang berat dan angka kematian yang terlalu tinggi, namun dalam keadaan kronis pada balita dapat menyebabkan kekurangan gizi dan mengalami kurang darah (anemia) yang memicu turunnya daya tahan tubuh kemudian akan menimbulkan gangguan pada tumbuh kembang balita (Tilong, 2014:67). Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Demikian pula, sangat penting pengentahuan Ibu tentang kesehatan balitanya terutama masalah kecacingan. Dimana, seorang Ibu yang mempunyai anak balita, harus tahu tentang penyakit cacingan, dan penyebab terjadinya cacingan serta cara 125 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc pencegahannya. Misalnya, bagi Ibu-Ibu yang hendak menyajikan makanan, sedapat mungkin mulai mewaspadainya sejak makanan itu belum diolah. Sebab menurut beberapa penelitian, sejumlah sayur segar yang tidak diolah dan tidak dibersihkan helai demi helai, cukup potensial sebagai sarana tempat masuknya telur cacing kedalam tubuh. Berbagai tanaman sayuran terkadang disiram dengan air yang telah tercemar. Selain itu, terkadang sayuran yang ditanam pun diberikan pupuk kadang yang belum matang (Notoatmodjo, 2014:23). Menurut Data SDKI Tahun 2017 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat angka kematian bayi menurun dari 32 per 1000 kelahiran hidup. Semua angka kematian bayi dan anak berdasarkan hasil SDKI 2017 menunjukan angka lebih rendah dibandingkan dengan hasil SDKI 2012 yang berjumlah 40 kematian (Khadijah, 2017). Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tahun 2017 wilayah daerah istimewa yogyakarta, dr.FX Wikan Indrato, Sp,A(K) mengatakan, sekitar 24% penduduk Indonesia atau sekitar 1,5 miliar orang dan sebagian besar diantaranya adalah anak-anak terinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah, lebih dari 267 juta anak pra sekolah dan 568 juta anak usia sekolah tinggal didaerah dimana parasite ini ditularkan secara intensif (Utantoro, 2017). Penyakit cacingan membawa dampak yang negatif bagi penderita. Penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah (anemia) (Depkes R.I, 2004:1). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia, bahwa prevalensi anemia pada anak sekolah sebesar 25%-35% (Rasmaliah, 2004:2). Anemia gizi besi pada anak sekolah disebabkan oleh hubungan timbal balik antara kecukupan intake gizi terutama zat besi dan protein dengan infeksi penyakit terutama cacingan. Dampak yang ditimbulkan anemia gizi pada anak adalah kesakitan dan kematian meningkat; pertumbuhan fisik, perkembangan otak, motorik, mental dan kecerdasan terhambat, daya tangkap belajar menurun, pertumbuhan dan kesegaran fisik menurun serta interaksi sosial kurang (Depkes R.I, 2004:2). Anak sekolah dasar yang menderita penyakit cacingan biasanya akan mengalami kekurangan gizi, kebugaran menurun, konsentrasi hilang, dan mengakibatkan kecerdasan menurun yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas sumber daya manusia (Idha Trianawati, 2005). Faktor risiko yang mempengaruhi penyakit cacingan adalah lingkungan, tanah, iklim, musim, perilaku, pekerjaan, sosial ekonomi, suku dan budaya, keluarga serta status gizi (Peter J dkk, 2015:2). Berdasarkan letaknya, SD Negeri 3 Kendit Kabupaten Situbondo berada di daerah yang dekat dengan persawahan. Sedangkan berdasarkan perilakunya, siswa SD Negeri 3 Kendit Kabupaten Situbondo merasa tidak nyaman apabila menggunakan sepatu karena sering dilepas di sekolah. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi terjadinya penyakit cacingan. Sedangkan menurut Hidayat (2022) bahwa Tindakan atau perilaku yang baik dapat mengurangi resiko terkena penyakit. Praktik hidup sehat mempengaruhi status kecacingan seseorang dan sangat berperan penting untuk mencegah terjadinya penyakit kecacingan, sehingga kecenderungan praktik hidup sehat yang negatif akan semakin meningkatkan resiko terinfeksi cacing. Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian cacingan (Notoatmodjo, 2014:12). Kejadian cacingan dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, (Pujiana dkk, 2022). Berdasarkan penelitian Bestari et.al (2021) Kecacingan dapat menghambat pertumbuhan terutama pada anak usia sekolah dasar. Pengetahuan dan sikap merupakan faktor penting dalam tindakan seseorang, dalam pencegahan kecacingan. Bermain di tanah tanpa menggunakan alas kaki mempermudah terjadinya infeksi kecacingan. Kabupaten Situbondo pada tahun 2022 menunjukkan kasus cacingan paling banyak diderita oleh anak sekolah. Jumlah penderita pada usia kurang dari 1 tahun sebesar 22 penderita, usia 1-4 tahun sebesar 130 penderita, usia 5-14 tahun sebesar 255 penderita, usia 126 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc 15-44 tahun sebesar 172 penderita, usia 45-54 tahun sebesar 75 penderita, usia 55-64 tahun sebesar 40 penderita dan usia lebih dari 65 tahun sebesar 46 penderita (Dinas Kesehatan Situbondo, 2022). Sedangkan kasus cacingan di Kabupaten Situbondo tahun 2023 sebanyak 671 kasus. Puskesmas yang menduduki peringkat tertinggi kasus cacingan di Kabupaten Situbondo adalah Puskesmas Kendit, yang terletak di Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo. Kasus cacingan di puskesmas ini sebesar 105 kasus, dan sebagian besar diderita oleh anak sekolah (Dinkes Situbondo, 2023). Berdasarkan survey pada lokasi SD Negeri 3 Kendit Kabupaten Situbondo ditemukan 8 siswa yang mengalami kecacingan. Dikarenakan siswa dalam berperilaku seharihari kurang bersih, kumuh dan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak tertutup atau tidak dikemas dapat tercemar oleh debu yang diterbangkan angin merupakan sumber penyebaran infeksi. Selain itu, siswa memiliki kebiasaan yang kurang baik misalnya rata-rata siswa melepas sepatu saat di sekolah. Siswa juga sering bermain di tanah dan tidak menggunakan alas kaki saat bermain. Faktor penularan cacing dapat berupa jenis tanah, suhu, kelembaban, perilaku manusia terkait dengan sanitasi dan hygine seperti kebiasaan mencuci tangan dengan air bersih sebelum makan, penggunaan alas kaki dan buang air besar disembarang tempat serta kepedulian terhadap pengobatan penyakit kecacingan. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan pra-eksperimental.Pra-eksperimental adalah penilitian eksperimen yang hanya menggunakan kelompok studi tanpa menggunakan kelompok kontrol serta pengambilan responden tidak dilakukan randomisasi Desain pra-eksperimental yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest yaitu suatu rancangan penelitian dengan melibatkan dua pengukuran pada subjek yang sama terhadap suatu pengaruh atau perlakuan tertentu. Sebelum menerima perlakuan terlebih dahulu dilakukan pengukuran, kemudian setelah menerima perlakuan, dilakukan pengukuran ulang untuk mengetahui akibat dari perlakuan tersebut. Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian adalah teknik Non Probability Sampling dengan cara Total Sampling atau sampel jenuh. Sugiyono (2016) menyatakan bahwa “Sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel yang semua anggota populasi digunakan sebagai sampel”. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu yang mempunyai anak yang sekolah di SD Negeri 3 Kendit Kabupaten Situbondo kelas 4 yang berjumlah 35 siswa Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti untuk data primer yaitu dengan memberikan kuesioner sebelum melakukan penyuluhan (pretest) dan kemudian setelah melakukan penyuluhan (posttest) tentang pemberian obat cacing. Data sekunder diperoleh dari catatan hasil dokumentasi kunjungan ibu yang mempunyai anak di Puskesmas Kendit Situbondo 2024. Sedangkan data tertier diperoleh dari buku-buku, jurnal-jurnal penelitian pihak lain dan hasil penelusuran secara online. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-post test one group maka data dianalisis dengan menggunakan uji statistic karena data berbentuk ordinal. Pada penelitian ini, hubungan antar variabel dianalisis dengan menggunakan spearman rank, Digunakan uji statistik spearman rank menggunakan media komputer program Windows SPSS 22 apabila distribusi data normal. Apabila distribusi data tidak normal maka menggunakan alternatif uji statistik spearman rank. Apabila p-value ≤ 0.05 maka dapat dikatakan ada hubungan yang bermakna antara dua variabel, sehingga Ho ditolak, sedangkan apabila pvalue> α yaitu 0,05 maka berarti tidak ada hubungan yang bermakna dan Ho diterima 127 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc HASIL DAN PEMBAHASAN Sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah sebelum dilakukan penyuluhan di SD Negeri 3 Kendit Situbondo. Diketahui dari 35 responden menunjukkan bahwa sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint sebelum dilakukan penyuluhan yaitu 24 responden mempunyai sikap baik dengan persentase 68,6% dan 11 responden dengan sikap kurang baik dengan persentase 31,4% . Edukasi kesehatan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk memelihara serta meningkatkan kesehatannya sendiri. Oleh karena itu, tentu diperlukan upaya penyediaan dan penyampaian informasi untuk mengubah, menumbuhkan, atau mengembangkan perilaku positif (Maulana, 2009). Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing dalam tubuh yang ditularkan melalui tanah, makan/minuman dan media lainnya yang telah terkontaminasi oleh telur cacing. Tidak terkecuali orang dewasa, anak-anak juga kerap kali terserang penyakit yang satu ini. Bahkan, balita dan anak-anak usia sekolah dasar, mempunyai presentase yang cukup tinggi dan merata, tidak hanya di lingkungan yang kumuh dan buruk sanitasinya saja (Sandjaja, 2014:89). Menurut pendapat peneliti sikap oleh responden dalam pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, usia dan pendidikan responden. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor fisik, faktor psikologis, faktor sosial dan faktor lingkungan juga berpengaruh pada kualitas hidup usia pertengahan. Sikap responden yang tidak patuh dalam pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint mempunyai adalah latar belakang pendidikan tingkat SD di mana rendahnya tingkat pendidikan tentu berpengaruh pada pemahaman tentang dalam pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint Sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah sesudah dilakukan penyuluhan di SD Negeri 3 Kendit Situbondo. Diketahui dari 35 responden menunjukkan bahwa ada peningkatan dari sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint sesudah dilakukan penyuluhan yaitu 30 responden mempunyai sikap baik dengan persentase 85,7% dan 5 responden dengan sikap kurang baik dengan persentase 14,3% .Penyuluhan kesehatan juga suatu proses dimana proses tersebut mempunyai masukan (input) dan keluar (output). Didalam suatu proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan yakni perubahan perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor. Fakto-faktor yang mempengaruhi suatu prosese pendidikan disamping masuknya sendiri juga metode atau metori pesannya, pendidikan atau petugas yang dilakukannya dan alat-alat bantu dan alat beraga pendidikan. Agar dicapai suatu hasil yang optimal, maka faktor-faktor tersebut harus bekerja sama secara harmonis. Hal ini berarti, bahwa masukan (sasaran pendidikan) tertentu, harus menggunakan cara tertentupula, materi harus juga disesuaikan dengan sasaran, demikian pula alat bantu pendidikan disesuaikan. Untuk sasaran kelompok, metodenya harus berbeda dengan sasaran masa dan sasaran individu (Syafrudin, 2014). Berbagai tanaman sayuran terkadang disiram dengan air yang telah tercemar. Selain itu, terkadang sayuran yang ditanam pun diberikan pupuk kadang yang belum matang. Sebagai tindakan pencegahan, biasanya sayur itu dibersihkan helai demi helai dan tidak sekedar dicelupkan ke dalam air saja, tapi di bersihkan dengan air mengalir. Telur cacing yang melekat pada helaian daun sayuran, akan terhanyut dan terbuang bersama air cucian. Sedangkan sebagai upaya untuk memperkecil angka penderita cacingan, yang palin g ideal yaitu dengan melakukan perbaikan sanitasi lingkungan yang disertai denganpemberantasan cacingan dengan pengobatan. Upaya pemberian obat cacing yang dilakukan setahun tiga kali juga cukup 128 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc membantu, meskipun pemberantasan sumber penyakit cacingan belum sampai pada akar permasalahan (Sitorus, 2020) Pengaruh edukasi dengan metode penyuluhan terhadap sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah di SD Negeri 3 Kendit Situbondo Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa diketahui tabel silang sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint sebelum penyuluhan adalah kurang baik dan sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint sesudah penyuluhan adalah baik sebanyak 6 responden (17,1). Hasil penelitian tersebut diperkuat oleh hasil uji spearman rank yaitu diketahui bahwa p value sebesar 0,000. Nilai p value dalam penelitian ini menunjukkan bahwa p value α (0,05) yang berarti dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh edukasi dengan metode penyuluhan terhadap sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah di SD Negeri 3 Kendit Situbondo. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rahayu Lubis tentang “Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Penyakit Kecacingan Pada Balita di Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara, Tahun 2018”. Hasil penelitian dimana dari 50 Ibu yang mempunyai anak balita sebagian besar pada kelompok umur 20- 30 tahun, berpendidikan SMP, bekerja sebagai Ibu rumah tangga dan mempunyai anak 1-2 orang. Ada peningkatan pengetahuan dan sikap yang baik sebesar 43% dan5 2% sesudah diberikan intervensi. Kecacingan adalah penyakit yang di derita oleh hampir 80% penduduk Indonesia. Tidak terkecuali orang dewasa, anak-anak juga kerap kali penyakit yang satu ini. Bahkan balita dan anak-anak usia sekolah dasar, mempunyai presentase yang cukup tinggi. Penyakit ini tersemasuk salah satu dari penyakit gangguan pada pencernaan yang disebabkan olehadanya infeksi cacing parasit. Pencegahan infeksi berulang sangat penting dengan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menghindari kontak dengan tanah yang memungkinkan terkontaminasi tinja/feses manusia, cuci tangan dengan sabun dan air sebelum memengang makanan, lindungi makanan dari tanah dan cuci makanan yang jatuh kelantai sebelum dimakan. Karena kecacingan ini dapat menghambat perkembangan fisik dan kecerdasan pada anak yang sudah terinfeksi kecacingan, oleh sebab itu maka sangat penting peran orang tua untuk mengetahui pentingnya cara pencegahan kecacingan serta pemberian obat cacing pada anak. Dan tenaga kesehatan ikut diwajibkan bisa memberikan kegiatan penyuluhan memberikan informasi, pengetahuan, serta cara pencegahan dan menanggulangan kecacingan pada anak, sehingga tercipta hidup sehat dan anak-anak bebas dari penyakit cacingan. Suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan suatu pesan kesehatan kepada masyarakat kelompok, atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilakunya . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berpendapat bahwa dari kegiatan penyuluhan tentang pemberian obat cacing yang dilakukan di SD Negeri 3 Kendit Situbondo telah secara signifikan meningkatkan pengetahuan para Ibu. Hal ini sejalan dengan pendapat Syafrudin bahwa faktor tingkat pendidikan dan ketersediaan waktu masyarakat mempengaruhi keberhasilan penyuluhan. Selain itu pula metode ceramah yang dilakukan pada saat penyuluhan dengan jumlah responden 35 orang memungkinkan penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi lisan kurang tersampaikan secara merata karena keterbatasan pendengaraan disaat penyampaian materi. Pada penelitian ini proses penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi sebagai cara penyampaian materi dengan dibantu oleh alat peraga dan leaflet yang dibagikan kepada responden sesuai dengan pendapat Notoatmodjo bahwa alat peraga dapat 129 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc mengarahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu objek atau pesan sehingga memudahkan pemahaman yang dapat mningkatkan pengetahuan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari keseluruhan hasil penelitian yaitu sebagai berikut: Sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah sebelum dilakukan penyuluhan di SD Negeri 3 Kendit Situbondo yaitu sebagian besar responden mempunyai sikap baik dengan persentase 68,6% Sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah sesudah dilakukan penyuluhan di SD Negeri 3 Kendit Situbondo yaitu sebagian besar responden mempunyai sikap baik dengan persentase 85,7% Hasil uji spearman rank yaitu diketahui bahwa p value sebesar 0,000. Nilai p value dalam penelitian ini menunjukkan bahwa p value α (0,05) yang berarti dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh edukasi dengan metode penyuluhan terhadap sikap pencegahan infeksi Soil Trasmitted Helmint pada ibu dengan anak usia sekolah di SD Negeri 3 Kendit Situbondo. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Azwar S. 2013. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2015. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Bestari, R. S., Ashshiddiiq, Z. Z., Sutrisna, E.,danDewi, L. M. 2021. Perbandingan Efektivitas Dan Efek Samping Kombinasi Mebendazol Pirantel Pamoat Dengan Albendazol Untuk Terapi Soil Transmitted Helminthiasis. Proceeding of The URECOL,1(1): 262-69. Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan. Jakarta: Kemenkes RI; 2017. Hidayat, F. 2022. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap Dan Praktik Hidup Sehat Dengan Kejadian Cacingan Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Pelambuan 2 Kota Banjarmasin. Doctoral dissertation, Universitas Islam Kalimantan MAB. Idha Trianawati. 2005. Delapan Puluh Persen Anak Cacingan. http://www.suara merdeka.com/harian/0504/07/sLo06htm Indriani, A. N. 2020. Edukasi Kesehatan Melalui Buku Saku Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Usia Produktif Mengenai Cek Kesehatan Rutin. (mei), 5–24 Karningsing, Mardiana. 2014. Penyuluhan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta Timur: CV.Trans Info Media; Khadijah, Azizah Nur. 2017. BKKBN: Angka Kematian Bayi dan Anak Turun!. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d4249934/bkkbn-angka-kematian bayi-dan-anak-turun Lestari,Titik. 2016. Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta. Nuha Medika Notoatmodjo S. 2018. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo, Soekidjo. 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional (ed. 2).Jakarta: Salemba Medika Peter J. Hotes, 2015, Soil Transmitted Helminth Infection: The Nature, Causes and Burden of the condition, WHO: Departemen of Mikrobiologi and tropical Medicine The George Washington University 130 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol.3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia.com/jikmc Rasmaliah, 2004, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Rinaldi A. 2016. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Personal Hygiene dengan Terjadinya Diare pada Anak di Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. Skripsi .Fakultas Kedokteran Syiah Kuala. Riyanto, Agus. 2017. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika Rizki Amelia Solferina. 2014. Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Motivasi Ibu terhadap Pemberian Obat Cacing Pada Anak Usia Sekolah Dasar di SD 67 Cangadi 1 Soppeng. Sandjaja,B. 2014. Parasitologi Kesehatan Helminthologi Kedokteran Buku 2. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Sitorus, R. J., Anwar, C., Harnan, H., Hermansyah, H., & Hernita, H. (2020). Hubungan Lalapan dengan Kejadian Infeksi Soil Transmitted Helmiths (STH) pada Anak Sekolah di Kecamatan Gandus Tahun 2019. Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS), 7(1), 6-13 Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet. Susilowati, Dwi. 2016. Promosi Kesehatan. Jakarta Selatan : Pusdik SDM Kesehatan Syafrudin, dkk. 2014. Promosi Kesehatan untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media Tanuwidjaya, S. 2012. Konsep Umum Tumbuh Kembang dalam Buku Ajar I Ilmu Perkembangan Anak dan Remaja .Sagung Seto: Jakarta Tilong, Adi D.. 2014. Penyakit-penyakit Yang Disebabkan Makanan & Minuman Pada Anak. Hira, Editor. Jogyakarta Utantoro, Agus. 2017. Anak Indonesia Terinfeksi Cacing. Available from: http://mediaindonesia.com/real/detail/125853-sebanyak-28-anak-indonesia terinfeksicacing 131