JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA BAWANG MERAH PADA PETANI DI DESA BRANG KOLONG KECAMATAN PLAMPANG Lukman Hakim1. M Aries Zuhri Angkasa2,Alia Wartiningsih3,Yadi Hartono4,Lita Elsa Elya Risma5 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Samawa Sumbawa Besar Email: lhakem008@gmail. com, fatahillah. gramsci2019@gmail. litaelsa06@gmail. Received: 21 Mei 2025 Revised: 5 Juli 2025 Published: 12 Juli 2025 ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rumusan strategi dalam pengembangan usaha budidaya bawang merah pada Petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang. Penelitian ini telah di laksanakan pada bulan Juni 2024 di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskripstif kualitatif dengan jumlah responden sebanyak 25 orang, yang mana petani bawang sebanyak 20 orang dan untuk para ahli dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa. Kantor Desa Brang Kolong. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Manager Upland Kabupaten Sumbawa dan Dosen Universitas Samawa masing-masing 1 orang, yang diambil secara accidental dan menggunakan purposive sampling untuk strategi Adapun data analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis lingkungan dan matriks SWOT. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti tentang pengembangan usaha budidaya bawang merah pada petani di desa brang kolong kecamatan plampang maka di peroleh faktor internal terdiri dari: kekuatan yaitu: ketersediaan lahan, pengetahuan dan keahlian, pengembangan lahan dan insfrastruktur irigasi. Kelemahan yaitu: dukungan pemerintah desa, pestisida yang berlebihan dan akses kepada layanan keuangan. Sedangkan, faktor eksternal terdiri dari : peluang yaitu: meningkatnya permintaan pasar, kebijakan pemerintah, peningkatan taraf hidup petani, pangsa pasar luas dan terbuka. Ancaman yaitu: persaingan, perubahan iklim, hama dan penyakit, fluktuasi harga. Kata kunci: Strategi Pengembangan. Bawang Merah. Petani Brang Kolong PENDAHULUAN Tanaman hortikultura seperti tanaman buah-buahan, tanaman sayuran dan tanaman hias mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Selain itu permintaan produk hortikultura semakin meningkat, hal ini di sebabkan karena kebutuhan masyarakat terhadap tanaman hortikultura semakin meningkat. Salah satu tanaman hortikultura yang dibudidayakan oleh petani yaitu bawang. Bawang JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 merupakan komoditas tanaman pertanian yang tergabung dalam rempah-rempahan. Kegunaan yang paling besar adalah meningkatkan citra rasa serta kelezatan pada masakan, bawang merah merupakan salah satu komoditi yang paling yang paling dicari oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai bahan pelengkap untuk masakan. Kebutuhan bawang merah sebagai bahan pangan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan, peningkatan yang signifikan ini menjadikan bawang merah setiap tahunnya sangat di cari oleh masyarakat. (Kioles, 2. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah yang pengembangannya sejak pelita I sampai sekarang melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi. Usahatani bawang merah sebagai salah satu komoditi andalan di usahakan di semua Kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Kabupaten Bima merupakan penghasil bawang merah terbesar yaitu 924,00 ton/tahun. Sumbawa di urutan kedua yaitu sebesar 237. ton/tahun, untuk Kabupaten Dompu menghasilkan Bawang Merah sebesar 120. ton/tahun (Badan Pusat Statistik, 2. Dari 24 kecamatan di kabupaten sumbawa, kecamatan yang memproduksi komoditas bawang merah paling tinggi adalah kecamatan plampang, sehingga menjadikan kecamatan plampang sentra produksi bawang merah di Kabupaten Sumbawa. Di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang masih banyak petani yang belum memanfaatkan lahan secara optimal untuk melakukan budidaya tanaman pangan di setiap musim, kebanyakan pada saat musim kering mereka menyewakan lahan kepada orang luar daerah dan di tanami tanaman bawang merah. Akan tetapi ada juga beberapa petani lokal yang memanfaatkan lahannya secara optimal dengan ikut melakukan budidaya bawang merah di desa brang kolong kecamatan pelampang. Namun pemahaman petani lokal masih kurang dalam membudidayakan bawang merah dan juga belum berani mengambil resiko dengan modal yang cukup besar maka masih sedikit petani yang mau ikut untuk melakukan budidaya bawang merah. Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi dalam Pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah Pada Petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang. JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan juni sampai bulan juli 2024 di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja . Desa Brang Kolong dipilih karena desa tersebut memiliki komoditas bawang merah tertinggi di Kecamatan Plampang berdasarkan data dari Kecamatan Plampang dalam angka 2023 yaitu 134. 835 kuintal. Analisis Data Analisis Lingkungan Menganalisis Lingkungan melalui Evaluasi Faktor Internal (EFI) yaitu melihat kekuatan dan kelemahan usaha dan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) yaitu melihat peluang dan ancaman yang mungkin terjadi dalam usaha. Matriks SWOT Matriks SWOT digunakan setelah identifikasi faktor-faktor internal dan external yang mempengaruhi pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah. Selanjutnya faktor-faktor tersebut dimasukkan kedalam matriks SWOT seperti pada Tabel 1. Matriks ini menggambarkan berbagai alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan, berdasarkan hasil analisis SWOT. Dalam matriks ini Faktor-faktor kekuatan . dan kelemahan . dikombinasikan dengan faktor-faktor peluang . dan ancaman . (David, 2. Tabel 1. Matriks SWOT STRENGHT WEAKNESS OPPORTUNITIES Strategi SO Strategi WO THREATS Strategi ST Strategi WT HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Lingkungan Analisis Lingkungan Internal Budidaya Bawang Merah Pada Petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang Kekuatan Adapun yang menjadi faktor-faktor yang termasuk dalam kekuatan internal Pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah Di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang sebagai berikut: JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 Ketersediaan Lahan Ketersediaan lahan pada budidaya bawang merah mengacu pada ketersediaan lahan yang cocok dan memenuhi persyaratan untuk menanam bawang merah. Bawang merah bisanya tumbuh dengan baik di tanah yang subur, tidak tergenang air, memiliki drainase yang baik, dan memiliki Ph tanah yang cocok yaitu sekitar 5,5-70. Selain itu ketersediaan lahan juga mencangkup ukuran lahan yang cukup untuk menanam bawang merah secara efisien dan produktif, rerata luas lahan di lokasi penelitian yaitu 50 are sampai dengan 1,5 Ha. Luas lahan petani di Desa Brang Kolong dapat dilihat di lampiran 4 pada Ukuran lahan yang optimal bervariasi tergantung pada skala budidaya, namun secara umum lahan yang lebih besar cendrung memberikan pontensi hasil yang lebih tinggi. Pengetahuan dan Keahlian Pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh petani dalam budidaya bawang merah merupakan asset berharga yang akan sangat mempengaruhi hasil penan. Keduanya saling melengkapi dan menjadi kunci keberhasilan dalam usaha tani bawang merah. Pengetahuan yang di maksud di sini mencangkup pemahaman mengenai: Siklus hidup bawang merah: mulai dari persiapan benih, penanaman, pertumbuhan hingga panen. Syarat tumbuh optimal: meliputi jenis tanah yang cocok, kebutuhan air dan suhu ideal. Teknik pengendalian hama dan penyakit. Pasca panen: proses penanganan hasil panen yang baik akan menentukan kualitas dan daya simpan bawang merah Sedangkan keahlian adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan secara praktis dalam kegiatan budidaya antara lain: C Menganalisis kondisi lahan: dengan cara menilai kondisi kesuburan tanah yang cocok untuk budidaya bawang merah. Ketersediaan Tenaga Kerja tenaga kerja merupakan sumberdaya manusia yang memiliki potensi untuk mengola sumberdaya alam yang ada di Desa (Harahap, 2. Tenaga kerja dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang penting JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 dalam usahatani karena merupakan penunjang terhadap keberlangsungan usaha tani itu sendiri. Dalam proses pengupahan tenaga kerja biasanya diupah dengan sistem borongan untuk penanaman dan pemanenan bawang merah. Kegiatan usahatani bawang merah mulai dari jam 07. 00 WITA. Ketersediaan tenaga kerja mudah diperoleh petani karena di daerah Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Kelemahan Adapun yang menjadi faktor-faktor yang termasuk dalam kelemahan internal Pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah pada Petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang sebagai berikut: Dukungan Pemerintah Desa Pemerintah Desa memiliki peran penting dalam mendorong keberhasilan budidaya bawang merah. Namun, dukungan dari pemerintah Desa belum ada dirasakan oleh petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang seperti penyediaan barang berbentuk pupuk atau pestisida oleh pemerintah Desa Minimnya dukungan pemerintah dapat berdampak signifikan terhadap keberlangsungan dan perkembangan budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang, antara lain: . produksi yang rendah: petani kesulitan meningkatkan produksi karena kurangnya akses terhadap bibit unggul dan pupuk berkualitas, . kualitas produk yang rendah: hasil panen bawang merah yang cendrung memiliki kualitas yang rendah karena kurangya pengetahuan tentang teknik budidaya yang baik. Pestisida Yang Berlebihan Pstisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama, penyakit dan gulma dalam pertanian. Penggunaan pestsida yang berlebihan berdampak pada kesehatan manusia yang dimana paparan pestisda yang tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan hormonal dan lain-lain. Kemudian dampaknya bagi lingkungan dapat merusak ekosistem, mempengaruhi keanekaragaman hayati dan mencemari tanah serta sumber air. Penggunaan pestisida yang berlebihan pada saat pengendalian hama dan penyakit diaerah penelitian sangat mempengaruhi kerusakan unsur hara yang dapat merusak unsur-unsur dan organisme yang ada di dalam tanah. Akses Kepada Layanan Keuangan Faktor internal ketiga yang menjadi kelemahan adalah petani atau di lokasi JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 pembiayaan dan penyaluran dana dari lainnya. Selain modal awal yang di dapatkan dari pemerintah daerah melalui program upland, petani masih memanfaatkan modal pribadi dan modal pinjaman dari bank. 2 Analisis Lingkungan Eksternal Budidaya Bawang Merah Pada Petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang Peluang Adapun yang menjadi faktor-faktor yang termasuk dalam peluang eskternal dalam Perkembangan Usaha Budidaya Bawang Merah Di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang sebagai berikut: Meningkatnya Permintaan Pasar Permintaan pasar pada bawang merah merujuk pada jumlah bawang merah yang dibutuhkan atau diinginkan oleh konsumen dalam suatu pasar atau wilayah tertentu pada suatu periode waktu tertentu. Permintaan pasar ditentukan oleh faktor-faktor seperti harga, pendapatan konsumen, preferensi konsumen, tren dan musiman, serta faktor-faktor lain yang memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli bawang merah. Permintaan pasar pada bawang merah dapat berfluktuasi karena faktor-faktor yang memengaruhi permintaan Contohnya, jika harga bawang merah naik, maka permintaan pasar kemungkinan akan menurun karena konsumen mungkin akan beralih ke bahan makanan alternatif yang lebih murah. Sebaliknya, jika harga bawang merah turun, maka permintaan pasar kemungkinan akan meningkat karena harga yang lebih terjangkau. Selain harga, pendapatan konsumen juga memainkan peran penting dalam menentukan permintaan pasar pada bawang merah. Jika pendapatan konsumen meningkat, permintaan pasar kemungkinan akan meningkat karena konsumen memiliki daya beli yang lebih besar. Sebaliknya, jika pendapatan konsumen menurun, permintaan pasar kemungkinan akan menurun karena konsumen memiliki daya beli yang lebih terbatas. Preferensi konsumen juga dapat mempengaruhi permintaan pasar pada bawang merah. Jika konsumen lebih suka konsumsi makanan yang mengandung bawang merah, permintaan pasar kemungkinan akan meningkat. Sebaliknya, jika konsumen memiliki preferensi yang lebih rendah terhadap bawang merah, permintaan pasar kemungkinan akan menurun. Selain itu, faktor-faktor musiman dan tren juga dapat mempengaruhi permintaan pasar pada bawang merah. Misalnya, dalam periode tertentu seperti bulan Ramadan di Indonesia, permintaan pasar pada bawang merah cenderung meningkat karena banyaknya makanan yang JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 menggunakan bawang merah dalam persiapan makanan berbuka puasa. Selain itu, tren kesehatan dan kesadaran akan manfaat makanan tertentu juga dapat mempengaruhi permintaan pasar pada bawang merah. Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah dalam usaha budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong. Kecamatan Plampang dapat mencakup beberapa hal berikut: Pembinaan dan pendampingan petani: Pemerintah memberikan pembinaan dan pendampingan kepada petani di Desa Brang Kolong agar mampu melakukan budidaya bawang merah dengan baik. Subsidi pupuk dan benih: Pemerintah dapat memberikan subsidi atau bantuan dalam hal pemenuhan pupuk dan benih bawang merah kepada Penyediaan sarana dan prasarana: Pemerintah memberikan dukungan dalam penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam budidaya bawang merah, seperti alat dan mesin pertanian, hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani. ini merupakan suatu kebijakan dari pemerintah yang di sebut dengan upland project. Upland project merupakan program unggulan kemetrian pertanian . yang bertujuan untuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan di daerah daratan tinggi. Berbagai komoditas hasil dari pengembangan pertanian daratan tinggi yang dikelola upland project telah banyak menembus pasar Komoditas unggulan yang dikelola upland project di berbagai daerah antara lain kopi Arabica di (Banjar Mangu/Jawa Teng. , pisang gapi (Gorontal. , bawang merah (Sumbaw. dan beberapa komoditas di daerah Pengembangan riset dan inovasi: Pemerintah mendorong pengembangan riset dan inovasi di bidang budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan teknik budidaya, penggunaan varietas unggul, serta pengembangan produk-produk bernilai tambah dari bawang Peningkatan Taraf Hidup Petani Peningkatan taraf hidup petani dapat diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup petani yang dulunya hanya membudidayakan tanaman padi dan jagung yang tidak terlalu menguntungkan dan beralih ke usaha budidaya bawang merah di Desa tersebut yang dapat JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 meningkatkan taraf hidup petani. Dengan meningkatkan taraf hidup petani pada budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong, petani dapat memperoleh pendapatan yang lebih baik, meningkatkan kualitas hidup mereka dan secara keseluruhan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa tersebut. Pangsa Pasar Luas dan Terbuka Bawang merah merupakan komoditas yang dinutuhkan dalam berbagai Pangsa pasar luas pada bawang merah mengacu pada jumlah dan variasi konsumen yang berpotensi untuk membeli dan menggunakan bawang Pangsa pasar luas menunjukkan adanya permintaan yang besar dan beragam untuk produk tersebut dari berbagai kalangan, termasuk konsumen individu, restoran, hotel dan industry makanan dan minuman. Bawang merah di Desa Brang Kolong memiliki potensi untuk mendapatkan pelanggan dari berbagai segmen pasar yang berbeda-beda, tidak terbatas pada satu kelompok atau kategori saja. Ancaman Adapun yang menjadi faktor-faktor yang termasuk dalam ancaman eksternal Pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah Di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang sebagai berikut: Persaingan Persaingan adalah kondisi di mana para petani bawang merah di Desa tersebut bersaing dengan petani bawang merah di wilayah kota Jawa Timur (Jembe. dikarenakan apabila terjadi kerusakan hasil bawang merah di kota luar maka akan terjadi peningkatan harga di Desa penelitian untuk memperebutkan pasar dan keuntungan dalam menghasilkan bawang merah yang berkualitas. Persaingan ini melibatkan beberapa aspek, seperti kualitas produk, harga, teknik budidaya, dan akses pasar. Kualitas bawang merah menjadi pembeda yang sangat di lihat oleh konsumen dari hasil budidaya bawang merah di wilayah tersebut. Perubahan Iklim Perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang dalam pola cuaca alam yan g melibatkan suhu, kelembaban, curah hujan, dan pola cuaca lainnya di suatu daerah. Perubahan iklim dapat mempengaruhi budidaya bawang merah secara signifikan. Dalam budidaya bawang merah, suhu dan curah hujan yang stabil sangat penting. Perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata dapat berdampak negatif pada pertumbuhan dan JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 produksi bawang merah. Bawang merah tumbuh dengan baik dalam suhu sekitar 20-250 C. Jika suhu menjadi terlalu tinggi, pertumbuhan bawang merah dapat terhambat dan hasil panen dapat menurun. Selain itu, perubahan pola curah hujan juga dapat mempengaruhi budidaya bawang merah. Jika curah hujan tidak terdistribusi dengan baik, tanaman bawang merah dapat mengalami kekurangan air yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang buruk dan penurunan produksi. Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi serangan hama dan penyakit pada tanaman bawang merah. Jika suhu dan kelembaban menjadi lebih tinggi, kondisi akan lebih menguntungkan bagi hama dan penyakit untuk berkembang biak. Ini dapat menyebabkan tanaman bawang merah rentan terhadap serangan serangga dan penyakit, seperti busuk leher dan layu Oleh karena itu, perubahan iklim dapat menjadi tantangan serius bagi budidaya bawang merah. Hama dan Penyakit Bawang merah adalah salah satu komoditi hortikultura yang sangat rentan terhadap penyakit. Adanya hama dan penyakit menjadi ancaman serius bagi petani karena dapat menyebabkan menurunya hasil panen bahkan bias gagal panen. Masalah utama yang di hadapi petani yaitu hama ulat dan penyakit layu fusarium yang menyerang tanaman bawang merah di lapangan atau pada saat masa penyimpanan seperti tanaman layu secara mendadak, warna daun berubah menguning dan melengkung, akar tanaman busuk, daun mengerut dan umbi tanaman membusuk. Hama ini merupakan hama utama di sentra prduksi bawang merah. Jenis varietas yang digunakan oleh rata-rata petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang adalah Varietas super philip. Jenis varietas ini sangat tidak tahan terhadap pernyakit yang di sebabkan oleh fungi alternaria pori . ercak ungu yang disebabkan oleh jamur porri seperti bercak kecil yang kemudian akan menjadi besa. dan hama spodoptera exigua . ama ulat perusak daun bawang mera. Hal ini dapat menghambat tanaman bawang merah yang nantinya dapat berpengaruh terhadap hasil produksi bawang . Fluktuasi Harga Fluktuasi harga pada budidaya bawang merah merupakan perubahan harga yang terjadi secara periodik atau acak dalam pasar bawang merah. Harga bawang merah dapat fluktuatif karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti berubah-ubah. JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 mempengaruhi produksi, biaya produksi yang bertambah, kebijakan pemerintah, atau adanya kejadian tak terduga seperti bencana alam atau pandemi. Fluktuasi harga bawang merah dapat membuat hasil budidaya bawang merah menjadi tidak stabil dan mengakibatkan ketidakpastian bagi para petani atau pelaku usaha dalam industri bawang merah. Ketika harga bawang merah naik, para petani atau pelaku usaha akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Namun, jika harga bawang merah turun, maka petani atau pelaku usaha bisa mengalami kerugian. Alternatif Startegi Pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah Tabel 2. Matriks SWOT Internal Eksternal Peluang Ae O Meningkatnya Permintaan Pasar Kebijakan Pemerintah Peningkatan Taraf Hidup Petani Pangsa Pasar Luas dan Terbuka Ancaman Ae T Persaingan Perubahan Iklim Hama Penyakit Fluktuasi Harga Kekuatan Ae S Kelemahan Ae W Ketersediaan Lahan Dukungan Pemerintah Desa Pengetahuan Pestisida yang Berlebihan Keahlian Akses Kepada Layanan Ketersediaan Tenaga Keuangan Kerja Strategi SO Mengembangkan yang efektif dengan dan pemasok besar. (S2,O1,O. Memaksimalkan peluang pasar yang keahlian yang dimiliki bisa mengoptimalkan (S2,O1,O. Strategi ST Memberikan sosialisasi kepada petani bawang pencegahan serangan OPT (S2. Strategi WO Memberikan arahan oleh Desa menegaskan akan bahaya apabila pestisida digunakan dengan berlebihan (W2,O. Melakukan pemberdayaan memperoleh akses yang lebih baik ke sumber daya meningkatkan pendapatan petani (W1. Strategi WT Melakukan pestisida kimia dialihkan ke pestisida hayati dengan menganalisis hama dan penyakit yang menyerang bawang merah (W2,O. Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Evaluasi dan Ringkasan Faktor-faktor Startegis Pengembangan Usaha Budidaya Bawang Merah Identifikasi faktor-faktor eksternal dan internal yang telah dipaparkan di atas, selanjutnya dimasukkan ke dalam Matriks IFE dan Matriks EFE, yang diringkas dalam JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 Tabel 3 dan Tabel 4. Matriks IFE dan Matriks EFE bertujuan meringkas dan mengevaluasi faktor-faktor strategis (David, 2. Tabel 3. Rekapitulasi Faktor-faktor Internal Faktor-faktor Startegis Kekuatan Ketersediaan Lahan Pengetahuan dan Keahlian Ketersediaan Tenaga Kerja Kelemahan Dukungan Pemerintah Desa Pestisida Yang Berlebihan Akses Kepada Layanan Keuangan Rata-rata Bobot Median Peringkat Bobot Akhir Total Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Hasil matriks IFE menunjukkan bahwa pengetahuan dan keahlian merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi usaha budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang, dengan nilai bobot akhir 0. Dapat juga dilihat bahwa pestisida yang berlebihan merupakan kelemahan yang memberikan pengaruh besar terhadap pengembangan usaha budidaya bawang merah yang ditunjukkan dengan 36 yang merupakan bobot tertinggi. Secara keseluruhan usaha budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang memiliki respon poisisi internal yang kuat terhadap kekuatan dan kelemahan usaha budidaya bawang merah dengan total nilai bobot akhir 3. Hal ini sesuai dengan pendapat David . bahwa apabila total nilai yang dibobot di bawah 0. 5 menunjukkan bahwa organisasi tersebut lemah secara internal. Tabel 4. Rekapitulasi Faktor-faktor Eksternal Faktor-faktor Strategis Peluang Meningkatnya Permintaan Pasar Kebijakan Pemerintah Peningkatan Taraf Hidup Petani Pangsa Pasar Luas dan Terbuka Ancaman Persaingan Perubahan Iklim Hama dan Penyakit Rata-rata Bobot Median Peringkat Bobot Akhir JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 Fluktuasi Harga 0,22 Total Data Primer Diolah, 2024 Hasil matriks EFE menunjukkan bahwa nilai bobot akhir dari faktor-faktor eksternal adalah 3. 11 yang berarti bahwa usaha budidaya bawang merah cukup baik dalam merespon faktor-faktor peluang dan ancaman. Hal ini sesuai dengan pendapat David . , dimana bobot 4. 0 adalah tertinggi dan 1. 0 terendah artinya petani cukup baik dalam merespon faktor-faktor peluang dan ancaman. Persaingan merupakan ancaman paling penting yang mempengaruhi pengembangan usaha budidaya bawang merah di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang dengan nilai bobot akhir 0. Dan peningkatan taraf hidup petani merupakan peluang penting, dengan bobot 0. 88 dan nilai peringkat yaitu 4. Dari hasil analisis matriks strategi di atas, maka dapat diketahui posisi Strategi Pengambangan Usaha Budidaya bawang merah saat ini berada pada kuadran I yaitu Menurut Rangkurti . bahwa pada kuadran I merupakan siatuasi yang sangat menguntungkan. Pengembangan usaha tersebut memiliki peluang dan kekuatan, sehingga untuk mengembangkannya dapat menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang yang ada. Fokus strategi yang harus diterapkan dalam kondisi saat ini yaitu strategi SO . trategi yang mengoptimalkan kekuatan dengan memanfaatkan peluan. strategi yang harus diterapkan dalam kondisi saat ini adalah mendukung kebijakan perkembangan yang agresif berupa: Mengembangkan strategi pemasaran yang efektif dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan dan pemasok besar. Mengembangkan kemitraan dan kerja sama dengan perusahaan serta pemasok besar berarti menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing. Melalui kemitraan ini, perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya, jaringan distribusi, dan keahlian pemasaran dari mitra, sehingga mampu menawarkan produk atau layanan yang lebih baik kepada Selain itu, kolaborasi dengan pemasok besar dapat memastikan kualitas bahan baku, mengurangi biaya, dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan demikian, strategi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas merek, tetapi juga membangun hubungan yang kuat dalam ekosistem bisnis yang lebih luas. Memaksimalkan produksi dengan peluaang pasar yang meningkat maka keahlian yang dimiliki bisa mengoptimalkan proses produksi JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 Memaksimalkan produksi dengan peluang pasar yang meningkat ini memberikan dampak yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasih produksi bawang merah yang di tunjang dengan kehahlian yang di miliki oleh petani bawang merah untuk menganalisis semua permasalahan yang terjadi di lapangan pada saat proses budidaya di lakukan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengembangan usaha budidaya bawang merah pada petani di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Faktor-faktor strategis yang merupakan hasil identifikasi lingkungan pengembangan usaha budidaya bawang merah di desa brang kolong kecamatan plampang terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor Internal tersebut antara lain: . Ketersediaan Lahan, . Pengetahuan dan Keahlian, . Pengembangan Ketersediaan Tenaga Kerja, . Dukungan Pemerintah Desa, . Pestisida yang Berlebihan, . Akse Kepada Layanan Keuangan. Adapun Faktor-Faktor Eksternal lingkungan Usaha Budidaya Bawang Merah di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang antara Lain: . Meningkatnya Permintaan Pasar, . Kebijkan Pemerintah, . Peningkatan Taraf Hidup Petani, . Pangsa Pasar Luas Dan Terbuka, . Persaingan, . Perubahan Iklim, . Hama Dan Penyakit, . Luktuasi Harga. Hasil matriks IFE menunjukkan bahwa pengetahuan dan keahlian merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi usaha budidaya bawang merah di desa brang kolong kecamatan plampang, dengan nilai bobot akhir 0. dapat pula dilihat pestisida yang berlebihan merupakan kelemahan yang memberikan pengaruh besar terhadap pengembangan usaha budidaya bawang merah yang ditunjukkan dengan 36 yang merupakan bobot tertinggi. Secara keseluruhan budidaya bawang merah di desa brang kolong kecamatan plampang memiliki respon dengan posisi internal yang kuatterhadap kekuatan dan kelemahan dengan total nilai bobot akhir Hasil matriks EFE menunjukkan bahwa nilai bobot akhir dari faktor-faktor eksternal 11 yang berarti bahwa petani bawang di desa brang kolong kecamatan plampang cukup baik dalam merespon faktor-faktor peluang dan ancaman. Persaingan pengembangan usaha budidaya bawang merah di desa brang kolong kecamatan JSEP Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Samawa Volume 5 No 2 2025 P-ISSN: 2807-6176 E-ISSN: 2807 4033 plampangdengan nilai bobot akhir 0. dan peningkatan taraf hidup petani merupakan peluang penting, dengan bobot 0. 88 dan nilai peringkat yaitu 4. Diagram Matriks SWOT menghasilkan bahwa pada kuadran tersebut menujukkan hasil strategi SO dimana strategi ini yaitu strategi yang digunakan perusahaan dengan mengoptimalkan kekuatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan peluang yang ada. Mengembangkan strategi pemasaran yang efektif dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan dan pemasok besar. Memaksimalkan produksi dengan peluaang pasar yang meningkat maka keahlian yang dimiliki bisa mengoptimalkan proses produksi Saran Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang sudah dikenal luas oleh masyarakat sebagai penghasil bawang merah yang sangat melimpah di Provinsi Nusa Tengga Barat. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan perhatian dari P emerintah Desa untuk penyediaan alat dan bahan budidaya supaya memudahkan petani melakukan proses tanam sampai pemasaran bawang merah. Penggunaan pestisida yang masih berlebihan pada bawang merah di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang membuat kualitas hasil panen kurang banyak diminati oleh konsumen luar untuk proses ekspor. Sebaiknya penggunaan pestsida yang berbahan aktif keras dikurangi supaya kualitas hasil panen sangat baik. Kepada peneliti selanjutnya, diharapkan apabila ingin melakukan pengkajian tentang pengembangan usaha budidaya bawang merah dapat memilih metode serta variabel yang berbeda sehingga diperoleh perbandingan hasil pengkajian yang baik. DAFTAR PUSTAKA