FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN FACIAL SPRAY GEL APIGENIN MENGGUNAKAN METODE DPPH . ,1-diphenyl-2-picrylhydrazy. DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Sofi Nurmay Stiani*. Suci Nuraenun. Eva Kholifah. Baha Udin Program Studi Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehaan Salsabila Serang. Banten. Indonesia. *Penulis Korespondensi: sofia240586@gmail. ABSTRAK Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan kulit yang ditandai dengan munculnya kerutan, kekeringan, dan pecah-pecah. Penggunaan sediaan facial spray gel yang mengandung antioksidan menjadi salah satu upaya untuk melindungi kulit dari efek negatif tersebut. Apigenin merupakan senyawa alami yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan apigenin dalam bentuk facial spray gel yang memenuhi persyaratan mutu serta mengevaluasi aktivitas antioksidannya. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan variasi konsentrasi apigenin, yaitu F0 . %). F1 . ,5%). F2 . %), dan F3 . %). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, pola penyemprotan, waktu kering, daya lekat, stabilitas, uji kesukaan, dan uji iritasi. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan facial spray gel apigenin memenuhi persyaratan mutu fisik dengan nilai pH 5,43Ae6,02. viskositas 1186,66Ae3996 mPa. diameter pola semprot 3,49Ae5,82 cm. kering 1,13Ae4,38 menit. serta daya lekat >10 detik dan tidak menimbulkan iritasi. Nilai IC50 menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat pada F1 sebesar 14,6618 ppm. F2 sebesar 11,894 ppm, dan F3 sebesar 9,509 ppm. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa apigenin dapat diformulasikan dalam bentuk facial spray gel dengan mutu fisik yang baik dan memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, dengan formula terbaik terdapat pada F3, sedangkan formula yang paling disukai adalah F1 dan F2. Kata Kunci: Antioksidan. Apigenin. Formulasi. Spray gel. ABSTRACT Free radicals can cause skin damage characterized by the appearance of wrinkles, dryness, and The use of facial spray gel preparations containing antioxidants is one effort to protect the skin from these negative effects. Apigenin is a natural compound that has potential as an This study aims to formulate apigenin in the form of a facial spray gel that meets quality requirements and evaluate its antioxidant activity. The research method used was a laboratory experiment with varying apigenin concentrations, namely F0 . %). F1 . 5%). %), and F3 . %). Evaluation of the preparation included organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, spray pattern, drying time, adhesion, stability, preference test, and irritation test. Antioxidant activity was tested using the DPPH method with UV-Vis spectrophotometry. The results showed that the apigenin facial spray gel preparation met the physical quality requirements with a pH value of 5. 43Ae6. viscosity of 1186. 66Ae3996 mPa. spray pattern diameter 3. 49Ae 82 cm. drying time 1. 13Ae4. 38 minutes. and adhesiveness >10 seconds and does not cause PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 irritation. The IC50 value shows very strong antioxidant activity in F1 of 14. 6618 ppm. F2 of 894 ppm, and F3 of 9. 509 ppm. Based on these results, it can be concluded that apigenin can be formulated in the form of a facial spray gel with good physical quality and has very strong antioxidant activity, with the best formula being in F3, while the most preferred formulas are F1 and F2. Keywords: Antioxidant. Apigenin. Formulation. Spray gel. PENDAHULUAN Kulit merupakan salah satu organ terbesar tubuh yang berfungsi sebagai antioksidan (Ginting dan Chiuman, penghalang fisik dan kimia dalam Berdasarkan data epidemiologi, melindungi tubuh dari berbagai agen eksternal berbahaya, seperti radiasi akumulasi radikal bebas dan stres ultraviolet (UV), dehidrasi, perubahan oksidatif, terutama kanker kulit dan suhu, dan patogen. Selain itu, kulit juga termasuk organ yang sensitif karena paparan kronis sinar ultraviolet serta mengandung ujung saraf dan reseptor polusi lingkungan, menunjukkan tren yang berperan dalam indera peraba dan yang signifikan dalam lima tahun suhu (Synchez-Marzo et al. , 2. 0Ae2. Di Indonesia. Paparan agen eksternal tersebut dapat kanker kulit secara konsisten menempati memicu terbentuknya radikal bebas. urutan ke-3 hingga ke-4 dari seluruh Radikal bebas merupakan molekul yang keganasan, dengan angka prevalensi kehilangan satu elektron dari pasangan berkisar antara 5,9% hingga 7,8% dari total kasus kanker per tahun, di mana manifestasi klinis tertinggi ditemukan pada area wajah . ,8%) yang paling Keberadaan radikal bebas ini dapat sering terpapar radikal bebas dari menyebabkan berbagai kerusakan pada lingkungan (Dampati dan Veronica, kulit, termasuk penuaan dini . remature Nanda et al. , 2. Secara global, (Perwira Salah . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) paparan sinar ultraviolet (UV). Oleh oksidatif ini menjadi pemicu utama karena itu, efek buruk sinar UV sebagai kanker kulit non-melanoma yang kini sumber radikal bebas perlu dicegah, melampaui 1 juta kasus baru per tahun. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 serta mengakibatkan degradasi kolagen Spray gel merupakan sediaan berbasis hingga dua kali lipat lebih cepat pada air yang diaplikasikan melalui sistem populasi yang mengalami photoaging semprot, baik menggunakan aerosol (Jayanti. Health maupun pompa, sehingga menghasilkan Organization, 2. Tingginya angka distribusi yang merata pada permukaan kejadian tersebut menegaskan bahwa kulit (Akhsani, 2. Bentuk sediaan ini kerusakan integritas kulit akibat radikal memiliki beberapa keunggulan, antara bebas telah menjadi isu kesehatan lain mudah digunakan, cepat kering, masyarakat yang mendesak, sehingga penelitian mengenai strategi proteksi dan antioksidan topikal (Fitriansyah et al. , 2. Selain itu. World krusial untuk dikembangkan. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menunda atau mencegah reaksi oksidasi akibat radikal bebas memerlukan kontak langsung dengan (Perwira et al. , 2. Dalam konteks Keberadaan gelling agent dalam kesehatan kulit, antioksidan memiliki formulasi juga memungkinkan waktu berbagai manfaat, seperti sebagai agen kontak zat aktif dengan kulit menjadi lebih lama, sehingga meningkatkan perlindungan terhadap paparan sinar UV (Haerani et al. , 2. Salah satu (Kresnawati, 2. Selain itu, sistem senyawa alami yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan adalah apigenin. meningkatkan efisiensi penghantaran zat Apigenin merupakan senyawa flavonoid aktif ke kulit (Angelia et al. , 2. yang termasuk dalam subkelas flavon Meskipun aktivitas antioksidan dan banyak ditemukan pada tanaman seperti seledri dan peterseli (Stiani et al. penelitian mengenai formulasi apigenin Sebagai upaya memaksimalkan dalam bentuk facial spray gel masih manfaat apigenin pada kulit, senyawa ini terbatas, khususnya terkait pengaruh dapat diformulasikan dalam bentuk variasi konsentrasi apigenin terhadap sediaan topikal. Salah satu bentuk karakteristik fisik sediaan dan aktivitas sediaan yang potensial adalah spray gel. Selain PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 banyak penelitian yang mengevaluasi METODE PENELITIAN kestabilan sediaan facial spray gel Alat dan Bahan apigenin setelah pengujian stabilitas Alat dipercepat . ycling tes. Oleh karena itu, . Penelitian timbangan analitik (Fujitsu FSR-A), hot plate (Maspio. , cawan porselin, beaker diformulasikan menjadi sediaan facial glass (Pyre. , gelas ukur (Pyre. , batang spray gel yang memenuhi persyaratan pengaduk, tabung reaksi (Pyre. , rak mutu fisik. bagaimana pengaruh tabung reaksi, spatula, pipet tetes, pipet variasi konsentrasi apigenin terhadap volume (Pyre. , aluminium foil, labu karakteristik fisik sediaan. bagaimana aktivitas antioksidan sediaan facial spray gel apigenin berdasarkan Brookfield metode DPPH. Hasil penelitian ini spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu UV-1. , serta vortex (Velp Scientifica kontribusi dalam pengembangan sediaan (Herm. , (AMT. , (NDJ 8S). RX. khususnya apigenin, sebagai alternatif Bahan produk perawatan kulit yang berpotensi Adapun bahan yang digunakan melindungi kulit dari stres oksidatif dalam penelitian ini meliputi apigenin (Hafei Dielegance Biotechnology Co. penelitian ini dapat menjadi dasar Lt. , karbopol (PT Pentaza Multi pengembangan formulasi facial spray Kary. , propilenglikol (PT Pentaza gel dengan aktivitas antioksidan tinggi Multi Kary. , trietanolamin/TEA (PT Pentaza Multi Kary. , sodium benzoate pengembangan produk kosmetik dan (PT Pentaza Multi Kary. , aquades (PT kosmeseutikal berbahan aktif flavonoid. Pentaza Multi Kary. , etanol 96% (PT Selain Pentaza Multi Kary. DPPH (SigmaAldric. , serta vitamin C (Behin Kalaye Avid C. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Prosedur Kerja risiko kontaminasi, serta memiliki waktu Formulasi Sediaan Spray Gel kontak lebih lama dibandingkan sediaan Apigenin cair biasa akibat adanya sistem gel. Bentuk sediaan spray gel dipilih Selain itu, bentuk spray gel memberikan dalam penelitian ini karena memiliki sensasi nyaman, cepat kering, tidak lengket, dan sesuai digunakan sebagai sediaan perawatan kulit yang ditujukan untuk proteksi terhadap stres oksidatif memberikan distribusi zat aktif yang akibat paparan radikal bebas (Akhsani, merata pada permukaan kulit, mudah Angelia et al. , 2022. Fitriansyah et diaplikasikan tanpa kontak langsung , 2. Spray dengan tangan sehingga mengurangi Tabel 1. Formula Nanosuspensi Apigenin. Konsentrasi formula (%) Bahan Apigenin Karbopol 940 TEA Propilengliko Sodium Benzoate Etanol 96% Aquades Fungsi Zat Aktif Basis Gel Pengatur pH Humektan Pengawet Pelarut Pelarut Pembuatan Sediaan Spray Gel dalam aquades secukupnya di dalam Apigenin cawan porselin hingga larut sempurna. Pembuatan sediaan spray gel Larutan tersebut kemudian dimasukkan apigenin diawali dengan pengembangan ke dalam mortar yang berisi campuran karbopol menggunakan 25 mL air panas karbopol dan TEA, lalu diaduk hingga di dalam mortir, kemudian didiamkan Propilenglikol ditambahkan selama 5 menit. Setelah itu, campuran secara perlahan sambil terus diaduk hingga seluruh bahan tercampur merata. ditambahkan TEA dan digerus sampai Pada tahap berikutnya, apigenin dilarutkan dalam etanol 96% sebanyak Selanjutnya, sodium benzoate dilarutkan 20 mL di dalam beaker glass hingga larut PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 sempurna. Larutan Uji Viskositas Dilakukan dengan menggunakan sebelumnya, diikuti dengan penambahan viskometer Brookfield. Sediaan facial sisa aquades secara bertahap. Seluruh spray gel dimasukkan kedalam beaker campuran kemudian diaduk selama glas 100 ml. ukuran spindle yang kurang lebih 120 menit hingga diperoleh digunakan nomor 3, dan kecepatan 30 sediaan yang homogen. Prosedur yang putaran per menit . (Ramadhani. sama dilakukan untuk setiap formula. Uji Pola Penyemprotan Evaluasi Nanosuspensi Apigenin Uji Organoleptik Dilakukan Dilakukan dengan cara spray gel disemprotkan pada selembar plastik mika dengan jarak 5 cm. Lalu mengamati tampilan fisik dari sediaan amati kondisi semprotan dan diameter facial spray gel yang meliputi tekstur, dari pola penyemprotan yang terbentuk. warna, dan aroma (Perdanti, 2. Diameter Uji Homogenitas terbentuk diukur menggunakan jangka Dilakukan dengan cara facial sorong (Perdanti, 2. spray gel setiap formula disemprotkan Uji Waktu Kering pada kaca objek sebanyak 0,25 gram Dilakukan kemudian diamati sebaran partikel yang menyemprotkan sediaan terbentuk dengan mikroskop perbesaran secara langsung pada sisi dalam lengan 4 x 0. 10 (Perdanti, 2. Uji pH menggunakan stopwatch hingga sediaan Dilakukan dengan cara dibuat sampel sebanyak 1 gram lalu diencerkan (Fitriansyah et al. , 2. dengan aquadest hingga 10 ml dalam Uji Daya Lekat wadah, kemudian elektroda dicelupkan Disemprotkan sebanyak satu kali ke dalam larutan. Sebelumnya elektroda ke kulit bagian lengan bawah dari jarak dikalibrasi dengan dapar pH 4 dan pH 7 3 cm. Setelah disemprotkan, kemudian dan dibilas dengan aquadest serta dihitung selama 10 detik untuk melihat dikeringkan dengan tisu (Musthika dan apakah sediaan menempel atau terdapat Lestari, 2. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 tetesan dari hasil semprotan menetes ke Uji Aktivitas Antioksidan bawah (Suyudi, 2. Metode DPPH dipilih dalam Uji Stabilitas penelitian ini karena merupakan metode Dilakukan dengan metode cycling yang sederhana, cepat, sensitif, serta test dilakukan dengan cara Sediaan banyak digunakan untuk mengevaluasi spray gel apigenin diletakkan pada suhu aktivitas antioksidan senyawa alami, 4AC selama 24 jam dilanjutkan dengan termasuk golongan flavonoid seperti suhu 40AC 24 jam berikutnya. Perlakuan Radikal DPPH bersifat stabil ini disebut sebagai 1 siklus. Pengujian dan memiliki warna ungu yang akan dilakukan sebanyak 6 siklus kemudian mengalami perubahan menjadi kuning diamati parameter pH, viskositas spray setelah bereaksi dengan senyawa yang gel, dan organoleptik pada awal dan akhir siklus pengujian (Sani et al. , 2. atom hidrogen atau elektron. Perubahan Uji Kesukaan absorbansi tersebut dapat diukur secara Dilakukan dengan cara 30 orang UV-Vis mengenai tingkat kesukaan terhadap antioksidan melalui nilai IC50. Selain karakteristik warna, aroma, dan tekstur itu, metode ini dipilih karena sesuai dengan menggunakan skala hedonik, yaitu sangat suka, suka, tidak suka, dan penangkapan radikal bebas pada sediaan sangat tidak suka (Ramadhani dan topikal berbasis flavonoid (Molyneux. Listiyanti, 2. Uji Iritasi Uji Uji iritasi sediaan ini dilakukan dilakukan menggunakan metode DPPH. pada 30 sukarelawan dengan cara Tahapan diawali dengan pembuatan larutan DPPH 40 ppm menggunakan disemprotkan pada kulit lengan bawah selama 15 menit lalu dilihat ada atau panjang gelombang maksimum pada tidaknya iritasi (Utami et al. , 2. 400Ae800 mencampurkan 2 mL larutan DPPH dan 2 mL etanol 96%. Selanjutnya dibuat PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 larutan induk sediaan spray gel dengan Semakin kecil nilai IC50 maka semakin tinggi aktivitas antioksidan (Molyneux, konsentrasi, yaitu 1, 2, 4, 8, dan 16 ppm. Masing-masing larutan Vitamin C dipilih sebagai kontrol dengan 2 mL DPPH 40 ppm, kemudian merupakan antioksidan alami yang telah diinkubasi selama 30 menit. Setelah itu, banyak digunakan sebagai standar pada pengujian aktivitas antioksidan metode DPPH. Vitamin C memiliki kemampuan Persentase hidrogen secara efektif sehingga mampu meredam radikal bebas dengan aktivitas larutan DPPH menggunakan persamaan: antioksidan yang tinggi. Selain itu, % inhibisi = ((A kontrol Oe A sampe. / vitamin C juga banyak digunakan dalam A kontro. y 100% formulasi kosmetik dan sediaan topikal Keterangan: A kontrol anti-aging fotoprotektif, sehingga sesuai digunakan DPPH tanpa sampel sebagai pembanding terhadap aktivitas A sampel antioksidan apigenin dalam sediaan : absorbansi campuran DPPH dan sampel facial spray gel (Pisoschi and Negulescu. Prior et al. , 2. Nilai IC50 ditentukan menggunakan HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Organoleptik konsentrasi sampel . dan persentase inhibisi . , dengan persamaan: y = ax b Hasil uji organoleptik pada Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh sediaan Nilai IC50 diperoleh saat nilai y = 50%, mengalami perubahan warna, aroma, maupun tekstur baik sebelum maupun setelah dilakukan cycling test selama 6 IC50 = . Oe . /a Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi penyimpanan tidak memberikan pengaruh terhadap karakteristik fisik PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 sediaan. Dengan disimpulkan bahwa sediaan memiliki stabilitas fisik yang baik selama proses pengujian (Yuliana et al. , 2. Gambar 1. Sediaan facial spray gel apigenin Tabel 2. Uji Organoleptik Formula Sebelum Cycling Setelah Cycling Warna Bening Coklat Muda Coklat Muda Coklat Muda Bening Coklat Muda Coklat Muda Coklat Muda Uji Homogenitas Tekstur Cair Sedikit kental Cair Sedikit kental Cair kental Cair kental Cair Sedikit kental Cair Sedikit kental Cair kental Cair kental butiran pada sediaan. Hasil ini telah Berdasarkan hasil pada Tabel 3. Pengamatan Aroma Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau memenuhi persyaratan sediaan topikal yang baik, yaitu memiliki distribusi homogenitas yang baik, baik sebelum maupun setelah cycling test. Tidak menunjukkan adanya agregasi (Hasma et ditemukan adanya partikel kasar atau , 2. Gambar 2. Hasil pengamatan Homogenitas PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tabel 3. Uji Homogenitas Formula Hasil Sebelum Cycling Setelah Cycling Test Test Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Uji pH terjadi penurunan nilai pH setelah Hasil uji pH pada Tabel 4 Penurunan menunjukkan bahwa seluruh formula diduga dipengaruhi oleh variasi suhu berada dalam rentang pH yang sesuai dengan pH kulit, baik sebelum maupun setelah cycling test. Meskipun demikian, dalam sediaan (Zubaydah et al. , 2. Tabel 4. Hasil Uji pH Formula Sebelum Cycling Test Setelah Cycling Test 5,94 5,88 5,79 5,98 5,43 5,47 5,55 5,54 6,13 6,09 6,25 6,17 5,41 5,44 5,52 5,51 Rata - rata A 5,82 5,60 5,55 5,91 5,47 5,50 5,58 5,56 5,96 A 0,15 5,85 A 0,24 5,86 A 0,35 6,02 A 0,13 5,43 A 0,03 5,47 A 0,03 5,55 A 0,03 5,53 A 0,02 Syarat Sig 4,5 Ae Sebelum Cycling Test Setelah Cycling Test Gambar 3. Analisis Hasil Uji pH PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Rentang pH yang diperoleh memengaruhi ionisasi gugus karboksilat masih berada dalam kisaran aman untuk Meskipun terjadi penurunan, seluruh formula masih berada pada rentang aman untuk aplikasi topikal. 4,5Ae7, (Anindhita dan Oktaviani, 2. Selain Uji Viskositas itu, hasil uji statistik menunjukkan nilai Berdasarkan Tabel 5, seluruh p value sebesar 0,696 (>0,. , yang formula memiliki nilai viskositas yang memenuhi standar sediaan spray gel, signifikan antar formula. Nilai pH baik sebelum maupun setelah cycling seluruh formula berada pada rentang 5,43Ae6,02 sehingga sesuai dengan pH viskositas pada formula F0 dan F1 setelah pengujian stabilitas. Perubahan Namun. Menariknya, peningkatan konsentrasi pengaruh suhu selama penyimpanan apigenin dari F1 hingga F3 tidak yang dapat memengaruhi struktur gel (Kresnawati, 2. Secara keseluruhan, bermakna, yang menunjukkan bahwa nilai viskositas masih berada dalam rentang yang sesuai, yaitu 500Ae5. mengganggu sistem penyangga yang mPa. Hasil uji statistik menunjukkan dibentuk oleh karbopol dan TEA. nilai p value sebesar 0,078 (>0,. Penurunan pH setelah cycling test diduga sehingga dapat disimpulkan bahwa disebabkan oleh perubahan struktur perubahan viskositas yang terjadi tidak polimer akibat fluktuasi suhu yang dapat Tabel 5. Hasil Uji Viskositas Formula Sebelum Cycling Setelah Cycling Viskositas . Pa. Rata-rata A SD 1186,66 A 30,28 3062 A 36,37 3996 A 0 3996 A 0 1201 A 10,53 3517 A 68,15 3996 A 0 3996 A 0 Syarat Sig 500 Ae Pa. (Kami PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Sebelum Cycling test Setelah Cycling test Gambar 4. Analisis Hasil Uji Viskositas Formula F2 dan F3 menunjukkan Uji Pola Penyemprotan viskositas tertinggi dibandingkan F0 dan Hasil pada Tabel 6 menunjukkan F1. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi apigenin dapat diameter pola penyemprotan yang masih meningkatkan kekentalan sistem melalui interaksi antar komponen dalam matriks maupun setelah cycling test. Namun, diameter pola semprot setelah pengujian Viskositas Penurunan permukaan kulit dan memperpanjang berkaitan dengan peningkatan viskositas waktu kontak zat aktif, namun di sisi lain viskositas maka semakin kecil diameter penyemprotan dan memperlambat waktu semprotan yang dihasilkan (Ericasyifa. Meskipun demikian, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan . value 0,053 >0,. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tabel 6. Hasil Uji Pola Penyemprotan Formula Sebelum FII Setelah FII Diameter pola semprot 5,48 5,423 5,19 4,89 5,52 4,64 4,304 4,28 5,694 5,81 4,84 6,39 4,46 5,05 5,79 Rata-rata A SD Syarat Sig 5,89 5,19 5,39 6,19 5,32 5,78 5,403 5,751 5,68 A 0,20 5,47 A 0,31 5,14 A 0,27 5,82 A 0,81 5,10 A 0,56 5,15 A 0,57 5,16 A 0,77 5,24 A 0,83 5-7 cm Sebelum cycling test Setelah cycling test Gambar 5. Analisis Hasil Uji Pola Penyemprotan Hubungan daya lekat tertinggi, namun memiliki menunjukkan adanya korelasi yang dibanding formula lain. cukup jelas. Formula dengan viskositas Uji Waktu Kering tinggi cenderung menghasilkan diameter Berdasarkan Tabel 7, waktu semprot lebih kecil karena hambatan Hal melewati nozzle semprot. Selain itu, menunjukkan bahwa perubahan kondisi kecepatan pengeringan sediaan. Selain sehingga waktu pengeringan menjadi lebih lama. Fenomena ini terlihat pada memiliki waktu kering paling cepat F3 yang menunjukkan viskositas dan dibandingkan formula lain. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 (F. Tabel 7. Hasil Uji Waktu Kering Formula Sebelum Cycling Setelah Cycling Waktu Kering . 1,04 1,11 1,25 2,09 2,24 2,26 3,03 3,15 3,25 4,15 4,25 2,12 2,16 2,18 3,06 3,17 3,27 4,13 4,18 4,27 4,37 4,58 Rata-rata A 1,13 A 0,10 2,19 A 0,09 3,14 A 0,11 4,16 A 0,07 2,15 A 0,03 3,16 A 0,10 4,19 A 0,07 4,38 A 0,19 Sig Standar < 5 menit (Perdanti. Eka Ammyta Putri. Sebelum Cycling test Setelah Cycling test Gambar 6. Analisis Hasil Uji Waktu Kering Perbedaan Hasil uji daya lekat pada Tabel 8 disebabkan oleh peningkatan viskositas menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki kemampuan melekat yang baik, baik sebelum maupun setelah proses penguapan (Hikmah et al. , 2. cycling test, dengan nilai lebih dari 10 Meskipun demikian, seluruh formula Hal ini menunjukkan bahwa masih memenuhi persyaratan waktu kering yang baik, yaitu kurang dari 5 permukaan kulit dalam waktu yang menit (Perdanti, 2. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan Kemampuan daya lekat ini signifikan . value 0,363 >0,. penting karena berpengaruh terhadap Uji Daya Lekat efektivitas penghantaran zat aktif ke PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 dalam kulit (Kresnawati, 2. Hasil uji perbedaan signifikan antar formula . statistik menunjukkan tidak terdapat value 0,468 >0,. Tabel 8. Hasil Uji Daya Lekat Daya Lekat . Formula 15,68 20,36 28,61 16,16 21,17 25,43 30,21 Sebelum Cycling Setelah Cycling 14,67 21,11 23,43 28,51 17,09 22,02 26,52 30,65 Rata-rata A SD 15,17 19,87 24,15 27,56 16,45 21,25 25,47 31,24 15,17 A 0,50 20,44 A 0,62 23,99 A 0,50 28,22 A 0,57 16,56 A 0,47 21,48 A 0,46 25,80 A 0,61 30,70 A 0,51 Syarat >10 (Kamis hita n. Sig Sebelum Cycling test Setelah Cycling test Gambar 7. Hasil Uji Daya Lekat Uji Hedonik (Kesukaa. Hasil uji kesukaan menunjukkan disukai dari segi aroma dan tekstur. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bahwa preferensi responden bervariasi berdasarkan parameter yang dinilai. karakteristik sensorik sediaan, yang pada Formula F0 paling disukai dari segi warna, sedangkan formula F2 paling penerimaan pengguna. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Gambar 8. Analisis Hasil Uji Hedonik Uji Iritasi Tabel ini menunjukkan bahwa sediaan facial Berdasarkan hasil uji iritasi pada spray gel apigenin aman digunakan menunjukkan adanya reaksi iritasi pada menimbulkan efek samping pada kulit dalam kondisi pengujian (Sari et al. kemerahan, bengkak, maupun gatal. Hal Tabel 9. Uji Iritasi Uji Iritasi Formula Jumlah Gatal- Responden (N) Kemerahan Bengkak Uji Aktivitas Antioksidan yang digunakan 107dalah nilai IC50. Aktivitas antioksidan sediaan yaitu konsentrasi yang dibutuhkan untuk dievaluasi berdasarkan kemampuannya menghambat 50% radikal DPPH. Nilai dalam meredam radikal bebas DPPH. IC50 yang ditandai dengan perubahan warna aktivitas antioksidan, di mana semakin dari ungu menjadi kuning akibat reaksi kecil nilai IC50 maka semakin tinggi (Rahman dan Abram, 2. Parameter (Susanto. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Tabel 10. Nilai IC50 Formula Vit C Hasil Nilai IC 50 . Sebelum Setelah Cycling Cycling Test Test 205,205 234,804 14,6618 16,2747 11,894 13,4875 9,50955 12,9005 6, 06687 Tabel Sig. pengemasan juga dapat mempercepat menunjukkan bahwa formula F0 tidak memiliki aktivitas antioksidan yang aktivitas antioksidan (Rompis et al. signifikan karena tidak mengandung Sementara itu, formula F1. F2, vitamin C, nilai IC50 sediaan spray gel apigenin lebih tinggi. Hal ini dapat antioksidan yang sangat kuat dengan disebabkan karena vitamin C digunakan nilai IC50 yang semakin kecil seiring apigenin diformulasikan dalam sediaan Jika Setelah dilakukan cycling test, terjadi IC50 formulasi dan penyimpanan. Hasil uji Hal ini diduga karena sifat statistik menunjukkan nilai p value apigenin sebagai flavonoid yang bersifat sebesar 0,000 (<0,. , yang berarti termolabil dan sensitif terhadap cahaya, terdapat perbedaan signifikan nilai IC50 sehingga mudah mengalami degradasi antar formula. Dengan demikian, dapat selama penyimpanan (Melinda et al. disimpulkan bahwa variasi konsentrasi Selain itu, faktor lingkungan apigenin berpengaruh terhadap aktivitas seperti suhu dan cahaya serta sistem antioksidan sediaan. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 Gambar 9. Mekanisme Aktivitas Antioksidan Apigenin Dalam Sediaan Facial Spray Gel Terhadap Stres Oksidatif Kulit Hasil sebagai bahan aktif antioksidan topikal penelitian yang telah dirumuskan pada untuk proteksi kulit terhadap stres bagian pendahuluan. Pertama, apigenin oksidatif akibat radikal bebas. Penelitian terbukti dapat diformulasikan menjadi ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu sediaan facial spray gel yang memenuhi parameter mutu fisik dan stabilitas. dalam bentuk facial spray gel yang Kedua, variasi konsentrasi apigenin memiliki stabilitas yang baik setelah fisik sediaan, khususnya viskositas, waktu kering, dan daya lekat. Ketiga, menimbulkan iritasi, serta menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat berdasarkan nilai IC50. Selain itu, antioksidan yang ditunjukkan melalui penurunan nilai IC50. Dengan demikian, komprehensif, meliputi organoleptik. PHARMA XPLORE Ae JURNAL SAINS DAN ILMU FARMASI. Vol. No. Mei 2026 homogenitas, dalam bentuk sediaan facial spray gel penyemprotan, waktu kering, daya lekat, yang memenuhi persyaratan mutu fisik, meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, pola penyemprotan, waktu memiliki beberapa keterbatasan, antara kering, daya lekat, stabilitas, serta tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Hasil uji Penelitian dievaluasi menggunakan metode DPPH bahwa sediaan facial spray gel yang mengandung apigenin (F1. F2, dan F. Penelitian ini juga belum mengevaluasi memiliki aktivitas antioksidan yang stabilitas jangka panjang, permeasi kulit, sangat kuat, dengan nilai IC50 berturut- pelepasan zat aktif, maupun efektivitas turut sebesar 14,6618 ppm. 11,894 ppm. biologis secara in vitro dan in vivo. dan 9,50955 ppm. Aktivitas antioksidan Selain meningkat seiring dengan bertambahnya dilakukan pada tingkat laboratorium konsentrasi apigenin, di mana formula sehingga belum dapat menggambarkan F3 menunjukkan aktivitas paling tinggi. performa klinis pada manusia. Penelitian Selain paling disukai responden adalah F0 antioksidan lain seperti ABTS. FRAP, berdasarkan parameter warna, serta F2 maupun ORAC untuk memperoleh gambaran aktivitas antioksidan yang lebih luas. Selain itu, diperlukan uji disimpulkan bahwa formulasi apigenin pelepasan zat aktif, penetrasi kulit, dalam bentuk facial spray gel berpotensi stabilitas jangka panjang, dan evaluasi sebagai sediaan topikal antioksidan yang efektif dan aman digunakan. anti-aging Dengan fotoprotektif secara biologis. DAFTAR PUSTAKA