Jurnal Penelitian Kesehatan Pelamonia Indonesia Volume 05. Nomor 01. Januari-Juni 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 GAMBARAN PERAN MANAJEMEN DALAM PENANGANAN COVID 19 DI RS PELAMONIA MAKASSAR Ryryn Suryaman Prana Putra1 dan Maudy Indah Sari2 1 2Department Of Hospital Administration. IIK Pekamonia Makassar. Indonesia E-mail: uyaputra17@gmail. com, maudy. maudy25@gmail. ABSTRAK Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat kehidupan individu sehingga dapat menimbulkan stres. banyaknya pasien di rumah sakit yang tidak sebanding dengan jumlah perawat yang bertugas diruang rawat inap membuat perawat mengalami stres, kelelahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui faktor yang mempengaruhi stress kerja perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. pelamonia makassar. Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 183 orang perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit TK. II Pelamonia Makassar. Teknik pengambilan sampel menggunakan aksidental. data diolah menggunakan uji Chi Square. Dari hasil uji yang didapatkan terdapat tiga variabel yang berpengaruh dan tiga variabel yang tidak berpengaruh adapun hasil nilai yang didapat yaitu :Faktor intrinsik diperoleh nilai . =0,. , peran individu dalam organisasi kerja . =0. , hubungan kerja diperoleh . =0. kepribadian individu . =0. , peran individu dalam organisasi kerja . =0. , faktor keluarga . =0. Maka dapat disimpulkan bahwa dari beberapa faktor terdapat tiga faktor yang mempengaruhi secara signifikan yaitu faktor intrinsik, kepribadian individu, dan faktor keluarga. Disarankan kepada pihak rumah sakit agar menyesuaikan kembali jumlah tenaga perawat yang bekerja disetiap ruangan agar ada keseimbangan antara jumlah perawat dengan jumlah pasien di ruangan rawat inap sehingga tidak memicu terjadi stres pada perawat. Kata Kunci: Stres Kerja. Perawat. Rumah Sakit. ABSTRACT Work stress is an excessive workload, feelings of difficulty and emotional tension that hinder individual life so that it can cause stress. the number of patients in the hospital that is not proportional to the number of nurses on duty in the inpatient room makes nurses experience stress, fatigue. The purpose of this study was to determine the factors that affect the work stress of nurses in the inpatient ward of the Tk. II Pelamonia Hospital. Makassar. Quantitative research design with a cross sectional approach. The sample of this study was 183 nurses in the inpatient room of the Pelamonia Hospital TK. II Makassar. Sampling technique using accidental. the data was processed using the Chi Square test. The results of this study are intrinsic factor values obtained . = 0. , individual roles in work organizations . = 0. work relations obtained . = 0. 397 ), individual personalities . = 0. , individual roles in work organizations . = . , family factor . =0. So it can be concluded that from several factors there are three factors that influence significantly, namely intrinsic factors, individual personality, and family factors. It is recommended to the hospital to readjust the number of nurses working in each room so that there is a balance between the number of nurses and the number of patients in the inpatient room so that it does not can trigger stress on nurses. Keywords: Job Stress,Nurse. Hospital. Pendahuluan didapat dari riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menyatakan bahwa kurang lebih 1,33 juta penduduk DKI Jakarta mengalami stres. Hal itu menunjukan bahwa 14% dari total penduduk. Data tersebut juga menunjukan bahwa penduduk dengan stres akut sebesar 13% dan stres berat mencapai 7-10%. Tercatat sebanyak 000 orang di Jawa Tengah mengalami masalah kejiwaan, dimana dari data tersebut yang mengalami kegilaan berjumlah sekitar 000 orang dan yang mengalami stres 000 orang (Elvinawati, 2. Dari hasil penelitian Health and Safety Executive tahun 2015 mengemukakan bahwa tenaga profesional kesehatan, guru dan perawat memiliki tingkat stres tertinggi dengan angka prevalensi sebesar 2500 pada periode 20112012 selanjutnya tingkat stres tertinggi dengan angka prevalensi 2190 pada periode 2013-2014 dan tingkat stres tetinggi dengan angka prevalensi sebesar 3000 pada masa periode 2014-2015 kasus per 100. 000 orang pekerja. (Atika, 2. Dilihat dari fenomena stres kerja sudah menjadi masalah di dunia. Hal ini bisa dilihat dari kejadian stres di inggris terhitung terdapat 000 kasus, sedangkan di Wales 11. 000 kasus (Health & Safety Executive, 2. Dapat dilihat saat ini stres adalah masalah umum yang terjadi dalam kehidupan umat manusia (Gaol 2. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 450 juta orang di dunia mengalami Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2008 tercatat sekitar 10% dari total penduduk Indonesia mengalami stres. Stres didefinisikan sebagai suatu reaksi yang seseorang alami ketika dihadapkan dengan tuntutan dan tekanan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka dan sesuatu yang menantang kemampuan mereka untuk (Perwitasari et al. , 2. Dilihat dari kerugian akibat stres kerja berupa absensi, produktivitas rendah, turnover karyawan yang tinggi, kompensasi pekerja, asuransi pengobatan dan kecelakaan di Amerika Serikat mencapai 200 miliar dolar Keperawatan adalah profesi dengan pajanan berbagai situasi yang berpotensi menimbulkan stres di tempat kerja. Sumber stres dalam berhubungan dengan terhadap pasien maupun profesi kesehatan lain. (Herqutanto et al. , 2. Menurut World Health Organization (WHO) mengemukakan stres bukan suatu penyakit. Namun, jika stres hebat dan berlangsung selama beberapa waktu, itu dapat menyebabkan kesehatan mental dan fisik . isalnya, depresi, gangguan saraf, penyakit jantun. Stres selalu terjadi di tempat kerja. Jika tidak dikelola dengan baik, stres bisa berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang menjadi buruk (Leka. Dkk 2. Stres juga diartikan sebagai reaksi yang tidak diharapkan muncul sebagai akibat tingginya tuntutan lingkungan kepada seseorang individu (Wirawan 2. Stres juga diartikan Dimana era globalisasi ini teknologi berkembang semakin pesat. Begitu pula dengan teknologi dibidang kesehatan. Selain itu, kebutuhan akan kesehatan pada masyarakat modern juga semakin kompleks. Hal ini dapat mempengaruhi para praktisi kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatannya kepada Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 659/MENKES/PER/Vi/2009 tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia, rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang mendirikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan baik. (SamiAoan, 2. Penelitian oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menetapkan perawat sebagai profesi yang berisiko sangat tinggi terhadap stres, karena perawat mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat tinggi terhadap keselamatan nyawa Selain itu tingginya stres kerja juga karena perawat dituntut harus selalu maksimal dalam melayani pasien. Oleh itu banyaknya tuntutan dalam pekerjaan maka semakin besar resiko perawat besar resiko perawat mengalami stress kerja (Widodo, 2. Sektor kesehatan adalah salah satu sektor dengan prevalensi stres kerja paling tinggi (ILO. Menurut Perwitasari et al . , menyatakan bahwa seluruh tenaga profesional di rumah sakit memiliki resiko stres, namun perawat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Angka prevalensi stres kerja perawat di Vietnam dapat dilihat sebesar 18,5% (Tran et al, 2. , sementara di Hongkong mencapai 41,1% (Cheung and Yip, 2. PPNI pada tahun 2006 menyebutkan, bahwa 50,9% perawat Indonesia pernah mengalami stres kerja (Herqutanto et al. Menurut American National Association for Occupational Health, mengemukakan stres kerja perawat menempati ranking empat puluh kasus teratas stres pada pekerja yang mengakibatkan stress (Herqutanto et al. , 2. Dari data yang didapatkan badan Kesehatan World Health Organization (WHO), sekitar 450 juta orang di dunia mengalami stress. Pada tahun 2015 di negara Amerika diketahui bahwa adanya gejala secara umum yang timbul akibat stres patologis mencapai angka 77% yang mana didominasi oleh stres kerja. Kerugian yang timbul akibat hal tersebut diperkirakan mencapai 300 milyar us Dolar ditiap tahunnya. Sebanyak 440. 000 kasus yang terjadi di Inggris pada tahun 2014/2015 terjadi akibat stres kerja, depresi yang meliputi kekhawatiran dan kegelisaan (Perwitasari et al. , 2. Dapat dilihat Stres kerja terjadi diberbagai bidang Stres juga dialami oleh 10% dari total penduduk Indonesia. Tahun 2013 data yang sebagai respon psikologis individu dalam menghadapi suatu kejadian yang mengancam dan mengganggu kemampuan individu tersebut untuk menghadapinya adanya tuntutan pada Dampak stres kerja bagi perawat diantaranya yaitu dapat menurunkan kinerja keperawatan seperti pengambilan keputusan yang buruk, kurang konsentrasi, apatis, kelelahan, kecelakaan kerja sehingga pemberian asuhan keperawatan tidak maksimal yang dapat organisasi (Eleni ddk, 2. (Gibson et al, 2. Dampak dari stres yang paling sering muncul yaitu sakit kepala . %), kemudian diikuti dengan gejala lain seperti kemarahan dan turunnya nafsu (Febriani Sri, 2. Peran seorang perawat saat melayani pasien di rawat inap sangatlah berpengaruh terhadap kesembuhan pasien tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa perawat merupakan ujung tombak pelayanan rumah sakit karena selalu berinteraksi secara langsung dengan pasien, keluarga pasien, dokter dan tenaga kerja lainnya. Menjadi seorang perawat adalah sebuah pekerjaan yang begitu mulia. Dapat dilihat seorang perawat dituntut untuk selalu bersikap ramah terhadap semua orang terlebih kepada pasien, serta dapat memberikan rasa aman agar pasien tidak mengalami kecemasan, kegelisahan atau rasa takut. Selain itu, seorang perawat juga dituntut untuk dapat berbicara dengan suara lembut dan murah senyum. (Febriani Sri, 2. Profesi Perawat dalam melaksanakan tugasnya, tidak jarang harus berhadapan dengan berbagai macam tekanan, baik yang berasal dari pekerjaan maupun dari luar pekerjaannya. Lambert, . dalam penelitiannya menyatakan bahwa perawat berhadapan dengan berbagai macam pembangkit stres di tempat kerja. Kekurangan jumlah perawat diseluruh dunia, jumlah penduduk lansia menjadi lebih besar, peningkatan kejadian penyakit kronik dan berkontribusi pada sumber stres kerja. Perawat yang merasa kesulitan mengatasi stres di tempat kerja akan berdampak pada kualitas kerja perawat yang buruk dan produktivitas yang Selain itu stres kerja juga mengakibatkan motivasi kerja, kepuasan kerja, moral dan komitmen memburuk karena stres yang berlebihan (Griffin, 2. Menurut teori Siagian . perawat yang mengalami stres kerja akan menampakkan diri pada berbagai perilaku yang tidak normal seperti gugup, tegang, selalu cemas, gangguan pencernaan dan tekanan darah tinggi. Pengaruh gejala-gejala tersebut dapat terlihat pada kondisi mental tertentu seperti sukar tidur, sikap tidak bersahabat, putus asa, mudah marah, sukar mengendalikan emosi dan bersifat agresif (Siagian, 2. Menurut Wijono . , berpendapat bahwa pekerja yang mengalami stres kerja rendah mempunyai jumlah jam kerja/minggu antara 37 hingga 40 jam, sedangkan pekerja yang mengalami stres kerja sedang mempunyai jumlah jam kerja/minggu antara 41 hingga 60 jam. Sebaliknya, pekerja yang mengalami stres kerja tinggi mempunyai jumlah jam kerja/minggu antara 61 hingga 71 (Febriani Sri, 2. Stres kerja yang muncul dan tidak ditangani dengan baik tentu akan berdampak, baik bagi fisiologis, psikologis maupun sikap. Perubahan fisiologis ditandai dengan rasa letih/lelah, pencernaan dan untuk perubahan secara psikologis ditandai dengan kecemasan berlarutlarut, sulit tidur, dan berikutnya Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 dapat terjadi adalah masih rendahnya tingkat kepatuhan petugas kesehatan dalam melakukan hand hygiene sebelum kontak dengan pasien, dan kompetensi petugas yang masih perlu ditingkatkan. Hal inilah yang membuat peneliti ingin meneliti Analisis Penerapan Sasaran Keselamatan Pasien oleh Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Haji Makassar. perubahan sikap seperti keras kepala, mudah marah dan tidak puas terhadap apa yang dicapai (Wijono, 2. Menurut Patton . dan Cartwright . dalam Tawarka menyatakan bahwa yang menjadi penyebab stres kerja yaitu kondisi individu seperti umur, jenis kelamin, masa kerja, dan pendidikan. Faktor intrinsik pekerjaan seperti lingkungan kerja, stasiun kerja yang tidak ergonomis, shift kerja, jam kerja yang panjang, pekerjaan yang berisiko tinggi, pemakaian teknologi baru, beban kerja, serta adaptasi jenis pekerjaan baru. Faktor intrinsik pekerjaan yang dapat menimbulkan stres kerja. Faktor peran individu dalam organisasi kerja juga menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan stres kerja. Faktor hubungan kerja, faktor pengembangan karir, faktor struktur organisasi dan suasana kerja, serta faktor dari luar pekerjaan seperti kepribadian individu dan faktor keluarga juga mempengaruhi stres kerja pada individu. (Atika, 2. Menurut Yulihastin . , menyatakan perawat harus bekerja dengan shift karena rumah sakit melayani pasien selama 24 jam. Perawat yang bertugas di ruang rawat inap, mereka bekerja dibagi menjadi tiga shift, yaitu 8 jam untuk shift pagi, 8 jam untuk shift siang dan 8 jam untuk shift malam. Peraturan jam kerja menurut Undang- Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu selama 8 jam 1 hari kerja, 40 jam untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu dan istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus- menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam Sedangkan jam kerja yang berlaku di perusahaan adalah selama 8 jam kerja (Simanjuntak, 2. 000 jiwa per tahun. Publikasi WHO pada cedera (KNC) 5. 509 kasus, kejadian tidak cedera (KTC) 4. 827 kasus, kejadian tidak diharapkan (KTD) 4. 783 kasus, dan kejadian sentinel 17 kasus. Kejadian pelanggaran keselamatan pasien . atient safet. sebesar 28,3% dilakukan oleh perawat (Mutmainnah. Menurut data Surveilans PPI RSUD Haji Makassar pada bulan januari - juni 2018 menunjukkan angka kejadian infeksi jarum infus . masih cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari data capaian indikator angka kejadian infeksi jarum infus . pada triwulan I sebesar 1,53%, triwulan II sebesar 3,12%, triwulan i sebesar 3,67%, dan triwulan IV sebesar 3,70% yang melebihi dari standar angka kejadian infeksi nosokomial menurut PMK No. 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yaitu sebesar O 1,5%. Faktor yang menjadi penyebab hal ini METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Metode penelitian deskriptif merupakan suatau metode penelitian yang bertujuan untuk membuat gambaran atau depenelitian tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerapan sasaran keselamatan pasien oleh perawat di instalasi rawat inap RS Pelamonia Makassar Tahun 2022. HASIL Melalui pertanyaan yang diberikan peneliti dalam kuesioner yang berisi pertanyaan sebanyak 35 pertanyaan, yang telah disebarkan untuk keperluan penelitian ini agar dapat diketahui tanggapan responden terhadap analisis penerapan sasaran keselamatan pasien oleh perawat di instalasi rawat inap RS Pelamonia Makassar Tahun 2022, diperoleh sebagai berikut: Karakteristik Responden Umur Karakteristik responden berdasarkan umur perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit TK. 01 Pelamonia dapat dilihat pada tabel Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Umur Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Umur Jumlah . Persentase (%) 20-40 Tahun >40 Tahun TOTAL Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 1, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden paling banyak berusia 2040 tahun atau sebesar 97. Jenis kelamin Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit TK. II 14. 01 Pelamonia dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Lama bekerja Karakteristik responden berdasarkan lama bekerja perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit TK. II 14. 01 Pelamonia dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Bekerja Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Jenis Kelamin Jumlah . Persentase (%) Lama Bekerja Jumlah . Persentase (%) Wanita <5 Tahun Laki-Laki 5-10 Tahun >10 Tahun TOTAL TOTAL Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 2 dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden paling banyak berjenis kelamin wanita atau sebesar 81. Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 4, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden yang paling banyak kategori lama bekerja 5-10 tahun atau sebesar 41. 3%, sedangkan yang paling sedikit kategori lama bekerja >10 tahun atau sebesar 19. Status Pernikahan Karakteristik responden berdasarkan status pernikahan pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit TK. II 14. Pelamonia dapat dilihat pada tabel dibawah Tingkat pendidikan Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit TK. II 14. Pelamonia dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Status Pernikaha Jumlah . Persentase (%) Kawin Belum Kawin TOTAL Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Pendidikan Jumlah Persen Terakhir . (%) Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 3, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden paling banyak berstatus kawin atau sebesar 65. Di Keperawatan S1 Keperawatan Ners Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Pendidikan Terakhir Jumlah . Persen (%) S2 Keperawatan TOTAL Peran Individu Dalam Organisasi Jumlah . Persentase (%) Baik Kurang Baik Sumber : Data Primer Tahun 2021 TOTAL Berdasarkan tabel 4. 5, dapat dilihat bahwa dari 126 jumlah responden yang paling banyak berstatus pendidikan terakhir Di keperawatan atau sebesar 56. sedangkan responden yang paling sedikit Keperawatan/Kesehatan Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 7 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan bahwa Peran individu dalam organisasi kerja berada pada kategori kurang baik sebanyak 124 responden atau Tanggapan Responden Tentang Faktor Hubungan Variabel penelitian Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Tanggapan Responden Tentang Faktor Intrinsik Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Intrinsik Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Faktor Hubungan Kerja Jumlah . Persentase (%) Baik Faktor Intrinsik Jumlah . Persentase (%) Kurang Baik Baik TOTAL Kurang Baik Sumber : Data Primer Tahun 2021 TOTAL Berdasarkan Tabel 4. 8 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan bahwa Faktor Hubungan Kerja berada pada kategori kurang baik sebanyak 92 responden atau sebesar 73. Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 6 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan bahwa faktor intrinsik berada pada kategori baik sebanyak 81 responden atau sebesar 64. Tanggapan Responden Tentang Kepribadian Individu Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Kepribadian Individu Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Tanggapan Responden Tentang Peran Individu Dalam Organisasi Kerja Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Peran Individu Dalam Organisasi KerjaPerawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Kerja Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Hubungan Kerja Kepribadian Individu Jumlah . Persentase (%) Baik Suryaman,dkk : Gambaran PeranA Kurang Baik TOTAL JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Distribusi Responden Berdasarkan Stres Kerja Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. Pelamonia Tahun No Stres Kerja Jumlah Persentase (%) . Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 9 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan bahwa kepribadian individu berada pada kategori baik sebanyak 122 responden atau sebesar 96,8%. Tanggapan Responden Tentang Suasana Kerja Baik Kurang Baik TOTAL Baik Kurang Baik TOTAL Tidak stres Analisis Pengaruh Faktor Intrinsik Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Faktor Intrinsik Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Faktor Stres Kerja Perawat Total Intrinsi 0,01 Stres Tidak Stres Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Keluarga Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Persentase (%) Analisis bivariat merupakan suatu uji yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari variabel independen dan variabel dependen yang di analisis dengan menggunakan uji chi square sebagai berikut Tanggapan Responden Tentang Faktor Keluarga Jumlah . Berdasarkan Tabel 4. 12 dapat dilihat dari 126 responden, sebagian besar menyatakan stres yaitu sebanyak 81 atau sebesar 64. dan menyatakan tidak stres sebanyak 45 atau sebesar 35. Hasil Analisis Bivariat Berdasarkan Tabel 4. 10 dapat dilihat dari 126 responden, semuanya menyatakan bahwa suasana kerja berada pada kategori baik atau Faktor Keluarga Sumber : Data Primer Tahun 2021 Sumber : Data Primer Tahun 2021 Stres TOTAL Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Suasana Kerja Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 No Suasana Kerja Jumlah Persentase . (%) Baik Kurang Baik Total Sumber : Data Primer Tahun 2021 Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan Tabel 4. 11 dapat dilihat dari 126 responden yang paling banyak dinyatakan kategori baik sebanyak 64 responden atau sebesar 50. Berdasarkan tabel 4. 13 dapat dilihat bahwa faktor intrinsik dengan kategori baik berjumlah 45 reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 23 responden atau sebesar Sedangkan pada faktor intrinsik pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat Tanggapan Responden Tentang Stres Kerja Tabel 4. Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 sebanyak 59 responden atau sebesar Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 15 dapat dilihat bahwa faktor Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,011 dimana p< 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada pengaruh signifikan antara variabel faktor intrinsik dengan stres kerja perawat. Faktor Hubung an Kerja Analisis Pengaruh Peran Individu Dalam Organisasi Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Peran Individu Dalam Organisasi Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Peran Individu Dalam Organis Stres Perawat Kerja Total Tidak Stres Baik Kurang Baik Total Stres Total Tidak Stres Baik Kurang Baik Total hubungan kerja dengan kategori baik berjumlah 92 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 58 responden atau sebesar 63. sedangkan pada faktor hubungan kerja pada kategori kurang baik berjumlah 34 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 23 responden atau sebesar 67. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. dimana p> 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel faktor hubungan kerja dengan stres kerja perawat. =0. Stres Stres Kerja Perawat Analisis Pengaruh Kepribadian Individu Dengan Stres Kerja Pada Perawat Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 14 dapat dilihat bahwa peran individu dalam organisasi dengan kategori baik berjumlah 124 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 81 responden atau sebesar 65. Sedangkan pada peran individu dalam organisasi pada kategori kurang baik berjumlah 2 responden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 2 responden atau sebesar Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. dimana p > 0. 05, maka hasil menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel peran individu dalam organisasi dengan stres kerja perawat. Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 16 dapat dilihat bahwa kepribadian individu dengan kategori baik berjumlah 67 reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 36 responden atau sebesar 53. Sedangkan kepribadian individu pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 45 responden atau sebesar 76. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 010 dimana p< 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada pengaruh signifikan antara variabel kepribadian individu dengan stres kerja perawat. Analisis Pengaruh Faktor Hubungan Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Tabel 4. Distribusi Pengaruh Faktor Hubungan Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Analisis Pengaruh Suasana Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Fakto Kelu Tabel 4. Distribusi Pengaruh Suasana Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. 01 Pelamonia Tahun 2021 Suas Kerja Stres Perawat Kerja Stres Tidak Stres Total Stres Perawat Kerja Total Stres Tidak Stres Baik Kura Baik Total Baik Kura Baik Total Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 18 dapat dilihat bahwa faktor keluarga dengan kategori baik berjumlah 62 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 34 responden atau sebesar 54. Sedangkan pada faktor keluarga pada kategori kurang baik berjumlah 64 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 47 responden atau Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0. dimana p< 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada pengaruh signifikan antara variabel faktor keluarga dengan stres kerja perawat. Sumber : Data Primer Tahun 2021 Berdasarkan tabel 4. 17 dapat dilihat bahwa suasana kerja dengan kategori baik berjumlah 67 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 44 responden atau sebesar 65. Sedangkan suasana kerja pada kategori kurang baik berjumlah 59 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 37 responden atau Berdasarkan hasil analisis Chi-Square diperoleh nilai p = 0. 852 dimana p> 0. 05, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel suasana kerja dengan stres kerja perawat. PEMBAHASAN Analisis Univariat Analisis menggambarkan sebaran dan hasil penelitian yang diperoleh secara kuantitatif dengan menggunakan daftar distribusi. Analisis Pengaruh Faktor Keluarga Dengan Stres Kerja Pada Perawat Umur Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ratarata umur responden berada pada usia 20-40 tahun yaitu sebanyak 123 responden dengan proporsi sebanyak . 6%) dan usia tertua >40 tahun sebanyak 3 responden dengan proporsi sebanyak . 4%). Gunarsa . , yaitu mengelompokkan yang rentan terhadap stres menjadi dua kelompok yaitu masa dewasa muda . tahun dan masa dewasa madya umur . 0 tahu. Seseorang akan lebih rentang terhadap stres pada masa dewasa muda yaitu umur 21-40 tahun seseorang akan mengalami pembentukan karir, pembinaan hubungan wanita pria, memilih pasangan hidup. Tabel 4. Distribusi Pengaruh Faktor Keluarga Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit TK II. Pelamonia Tahun 2021 Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 hidup, memikirkan pendidikan anak/keluarga. pekerja menjadi jenuh yang pada akhirnya menimbulkan stres kerja bagi pekerja. Jenis kelamin Diperoleh dari hasil penelitian terhadap responden berdasarkan pendidikan terakhir diketahui bahwa pendidikan terakhir yang terbesar yaitu Di keperawatan sebanyak 71 responden dengan proporsi sebanyak . 3%), S1 Keperawatan sebanyak 32 responden dengan proporsi sebanyak . 2%) . Ners sebanyak 20 responden dengan proporsi sebanyak . 9 %) dan S2 keperawatan/kesehatan sebanyak 2 responden dengan proporsi sebanyak . 6%). , menyatakan bahwa tingkatan pendidikan akan berpengaruh terhadap kualitas dalam bekerja. Kualitas yang terendah dapat mengakibatkan beban kerja menjadi bertambah, dan menimbulkan stres. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata didapatkan 111 responden berjenis kelamin perempuan dengan proporsi sebanyak . 1%), sedangakan untuk berjenis kelamin lakilaki didapatkan 15 responden dengan proporsi sebanyak . %). SumuAomur . , yang mengemukakan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan fisik . yang Perempuan memiliki kecenderungan cepat lelah sehingga stres kerja lebih banyak dialami perempuan. Selain itu stres kerja juga dipengaruhi dengan adanya siklus haid pada wanita yang dapat memengaruhi kondisi Emosi yang tidak stabil dapat memperberat stres kerja yang dialaminya. Status Perkawinan Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa persentasi statusperkawinan yang terbesar adalah kategori kawin yaitu sebanyak 88 responden dengan proporsi sebanyak . 1%) sedangkan kategori belum kawin yaitu sebanyak 44 responden dengan proposi sebanyak . 9%). Seseorang yang belum kawin cenderung berbeda dengan seseorang yang suda kawin. Biasanya orang dengan status suda kawin cenderung memiliki stres kerja yang juga diakibatkan adanya masalah rumah tangga yang ikut dibawa pada saat bekerja. Selain itu tanggung jawab yang suda kawin lebih Analisis Bivariat a Pengaruh antara faktor intrinsik denganstres Faktor intrinsik Adalah yang dimiliki setiap individu seperti pengetahuan dan kemampuan yang berkenang dengan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi : shift kerja, jam kerja yang panjang, pekerjaan yang berisiko tinggi, pembagian tugas, tambahan tugas, tambahan waktu kerja, pemakaian teknologi baru, serta adaptasi jenis pekerjaan baru. Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel faktor intrinsik diperoleh nilai p = 0,011 dimana p< 0. yang berarti bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel faktor intrinsik dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa faktor intrinsik dengan kategori baik berjumlah 45 reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 23 responden atau sebesar 51. Sedangkan pada faktor intrinsik pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 59 responden atau sebesar 72. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa terlalu banyak pekerjaan maupun sedikit terkadang dapat menyebabkan stres pada setiap perawat. Sebagai besar jawaban dari kuesioner yang diberikan kepada seorang perawat yaitu selalu menghadapi terlalu banyak pekerjaan seperti pembagian tugas yang kurang sesuai dengan kemampuan perawat dan selalu mendapatkan tambahan tugas, kebanyakan merasa kebingungan pekerjaan baru termasuk pemakaian teknologi baru yang belum pernah digunakan, pembagian shift besar dari segi materi seiring dengan peningkatan kebutuhan hidup, pendidikan dan moral, dibandingkan dengan seseorang yang belum Terlebih jika memiliki jumlah anak banyak dan istri tidak bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga menjadi tuntutan sendiri. Pendidikan terakhir Lama bekerja Dari hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata lama bekerja responden 5-10 tahun yaitu sebanyak 52 responden . 31%), <5 tahun sebanyak 50 responden . 7%) dan >10 tahun sebanyak 24 responden . 0%). hal ini tidak dengan teori Robbins . , yang menyatakan bahwa seseorang yang bertahan lama dalam pekerjaanya akan semakin dapat menghadapi stres kerja dan memiliki strategi serta upaya untuk mengendalikan stres kerja. Siboro . , bahwa semakin lama masa kerja seseorang dapat menimbulkan kebosangan atau pekerjaan yang monoton dari tahun ketahun dapat membuat seseorang bosan yang lama kelamaan akan mengalami stres yang secara langsung tidak disadari hal tersebut didukung oleh peryataan munandar . , bahwa masa kerja baru ataupun lama dapat memicu terjadinya stres Masa kerja dapat menimbulkan rutinitas dalam bekerja terutama rutinitas kerja yang selalu monoton sehingga muncul kebosangan dan disertai lingkungan yang terbatas membuat Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 kerja, dan sebagian besar perawat kurang mampu menerima pekerjaan yang belum pernah dilakukan kemampuan perawat yang dituntut untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan hasil sebaik baiknya dapat menjadi stres tergantung bagaimana setiap perawat dapat mengatasi keadaan yang akan dihadapinya. Hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian Linda . , yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis hubungan antara faktor intrinsik dengan stres kerja, ditemukan bahwa perawat yang merasa terbebani sebagian besar mengalami stres kerja dan perawat yang merasa tidak terbebani tidak mengalami stres Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,042 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor intrinsik dengan stres kerja. Hasil penelitian diatas berbanding terbalik dengan penelitian Sabathy El . , dari hasil pengujian korelasi pearson diperoleh adanya hubungan positif yang signifikan antara faktor intrinsik dengan stres kerja ( r=0. p<0. tersebut menunjukkan ada hubungan antara faktor intrinsik dengan stres kerja. Dalam artian semakin tinggi faktor intrinsik yang diperoleh maka semakin tinggi stres kerja yang dialami, demikian sebaliknya. dan sebagian besar suda mematuhi semua standar pelayanan dan SOP yang telah dibuat, kemudian sebagian besar perawat juga suda menerapkan prinsip etika yang benar, dan juga memberikan didikan, arahan dan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien serta, melakukan sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II Pelamonia Makassar telah melakukan peranya dengan baik, terutama dalam mematuhi semua standar pelayanan dan SOP dengan baik sehingga mengurangi terjadinya stres kerja. Hasil dari penelitian diatas tidak sejalan dengan penelitian menurut Herul . alam bukunya Zainal, 2. yang menyatakan bahwa salasatu yang mempengaruhi stres kerja adalah peran individu dalam organisasi yaitu setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan peranya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasanya. Namun demikian, tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan peranya tampa menimbulkan Kurang baik berfungsinya peran dapat membangkitkan stres dalam bekerja. b Pengaruh peran individu dalam organisasi terhadap stres kerja Peran individu dalam organisasi adalah pelibatan dan partisipasi perawat didalam rumah sakit khusunya ruang rawat inap untuk mewujudkan patient safety dalam rumah sakit tersebut dengan itu dilakukan pemberian pelayanan keperawatan, perawat harus mematuhi semua standar pelayanan dan SOP yang telah dibuat, serta tidak luput pula dalam menerapkan prinsip etika dalam pemberian pelayanan kesehatan, memberikan didikan kepada pasien dan keluarga pasien serta melakukan pendokumentasian pasien dengan Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat menimbulkan stres (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel peran individu dalam organisasi kerja diperoleh nilai p = 126 dimana p>0. 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara variabel peran individu dalam organisasi kerja dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa peran individu dalam organisasi dengan kategori baik berjumlah 124 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 81 responden atau sebesar Sedangkan pada peran individu dalam organisasi pada kategori kurang baik berjumlah 2 responden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 2 responden atau Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II Pelamonia Makassar dalam mewujudkan patient safety di rumah sakit yaitu sebagian besar perawat suda melakukan tugasnya dengan baik Pengaruh Faktor Hubungan Kerja Terhadap Stres Kerja Hubungan kerja yaitu perjanjian kerja yang mempunyai unsur kerja, upah dan perintah. Dengan diadakannya perjanjian kerja maka terjalinlah hubungan kerja antara rumah sakit dan tenaga kesehatan di rumah meliputi interaksi perawat dengan pasien, perawat dengan frofesional kesehatan lainya seperti dokter, pimpinan, tenaga lab dan tenaga lainya dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel hubungan kerja diperoleh nilai p = 0. 397 dimana p> 0. 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara variabel hubungan kerja dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa faktor hubungan kerja dengan kategori baik berjumlah 92 reponden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 58 responden atau sebesar 63. sedangkan pada faktor hubungan kerja pada kategori kurang baik berjumlah 34 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 23 responden atau sebesar 67. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat dapat berkomunikasi baik kepada pasien maupun keluarga pasien, kemudian sebagian besar perawat juga suda melakukan komunikasi dan kerja sama yang baik pada timnya. Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 baik itu dokter, laboratorium, dan profesi tenaga kesehatan lainya lainya. berkaitan dengan hubungan kerja perawat kurang mengalami stres kerja karena perawat yang melaksanakan tugasnya tidak dapat bekerja tampa berkolaborasi dengan teman sesama timnya, baik dokter, laboratorium maupun dengan profesi lainya demi meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit jadi lebih banyak perawat yang melakukan kerja sama antar tenaga kesehatan lainya, saling menghargai, dan menghormati satusama lain sehingga tidak memicu timbulnya stres dalam bekerja. Hasil penelitian diatas tidak sejalan dengan penelitian Rian rosiha . , yang menyatakan bahwa dari tiga kategori hubungan kerja. Teryata perawat gigi yang mengalami stres terbayak yaitu perawat gigi yang mempunyai hubungan kerja cukup baik yaitu sebanyak 12 . ,7%) orang mengalami stres kerja sedang. Hasil uji statistic tersebut diketahui bahwa nilai r sebesar -0. yang berarti ada korelasi antara variabel hubungan kerja terhadap stres kerja perawat gigi cukup dan tidak searah. Berdasarkan hasil uji diatas didukung oleh penelitian beart . alam bukunya Ruslina 2. menyatakan bahwa hubungan interpersonal dengan rekan kerja, pimpinan dan karyawan telah diidentifikasi sebagai sumber dari stres kerja. Akan tetapi hasil penelitian diatas bertolak belakang dengan penelitian Tajvar yang menyatakan bahwa hubungan kerja yang terjalin diantara semua pihak yang ada di perusahaan suda tentu hubungan kerja yang bertujuan untuk memajukan Kerja sama yang terjalin diantara rekan kerja bisa berupa kerja sama antar tim yang mana merupakan perkumpulan dari berbagai macam pola pikiran karyawan menjadi satu sehingga terjadi pemahaman yang berbeda, bukan karena timbulnya stres kerja. Sehingga tidak ada hubungan antara hubungan kerja dengan stres kerja. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa kepribadian individu dengan kategori baik berjumlah 67 reponden yang paling banyak yaitu kategori stres pada kerja perawat sebanyak 36 responden atau sebesar 53. Sedangkan kepribadian individu pada kategori kurang baik berjumlah 81 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 45 responden atau sebesar 76. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat kurang mengontrol diri pada saat melakukan pengobatan kepada pasien dikarenaka perawat suda kelelahan, kemudian sebagian besar perawat juga mudah mengekspresikan rasa tidak suka terhadap apa yang tidak disukainya termasuk ketika mendapatkan banyak keluhan dari keluarga pasien dan alat-alat pemahaman dan prinsip ilmu yang cukup sehingga memiliki potensi stres dalam bekerja dan banyak perawat yang memiliki kepribadian selalu bekerja dan berusaha bertanggung jawab atas pekerjaan sehingga harus memaksakan dirinya untuk menyelesaikan tugasnya dengan sebaik mungkin dengan waktu yang cukup sehingga dapat menimbulkan potensi terjadinya stres pada perawat. Berdasarkan hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian Clivy Saputra . , yang menyatakan bahwa sebesar . dengan jumlah responden 17 orang memiliki tipe kepribadian A yaitu suatu corak atau perilaku yang penuh tanggung jawab, tegas, dan selalu berhati-hati dengan apa yang dikerjakan sehingga memiliki potensi stres dalam Sedangkan tipe kepribadian B dengan jumlah responden 22 orang. Mengartikan bahwa pada karyawan memiliki sifat yang lebih santai, dan beresiko lebih kecil mengalami stres dalam bekerja. Dalam hasil penelitian diatas sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh robbin . , yang menyatakan bahwa Seseorang yang memiliki kepribadian tipe A memiliki karateristik selalu bergerak, berjalan serta makan dengan cepat, merasa tidak sabaran, berusaha keras untuk selalu memikirkan serta mengerjakan dua hal atau lebih secara bersamaan, tidak bisa menikmati luangnya dengan efektif, itu adalah tipe kepribadian individu yang biasanya menimbulkan stres pada dirinya Pengaruh Suasana Kerja Terhadap Stres Kerja Suasana kerja iyalah segala hal yang ada mempengaruhi mereka dalam bekerja dan menjalankan tugas misalnya dalam rumah sakit Tk. II pelamonia makassar seperti: mengankat pasien, membantu pasien kekamar mandi, menjaga pasien selama shift, memberikan pengobatan dan mengganti alat pengobatan Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel peran individu dalam organisasi kerja diperoleh nilai p = c Pengaruh Kepribadian Individu Terhadap Stres Kerja Kepribadian individu yaitu beberapa ciri, watak yang diperlihatkan seseorang secara lahir, berinteraksi dengan individu lain dan konsisten dalam bertingkahlaku sehingga seorang individu memiliki identitas khusus yang berbeda dengan individu lain. Dapat dilihat dari kepribadianya, sikapnya, kontrol diri, harga diri, pengalaman dan Patton. Ddk . Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel kepribadian individu diperoleh nilai p = 0. 010 dimana p< 0. 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel kepribadian individu dengan stres kerja perawat. Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 852 dimana p> 0. 05 yang berarti bahwa hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Suasana Kerja dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa suasana kerja dengan kategori baik berjumlah 67 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 44 responden atau sebesar 65. Sedangkan suasana kerja pada kategori kurang baik berjumlah 59 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 37 responden atau sebesar 62. Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II Pelamonia Makassar yang menyatakan bahwa sebagian besar perawat senang dan sabar membantu dan mengangkat pasien didalam ruangan pada saat meminta bantuan dalam perawatan, kemudian sebagian besar perawat lebih semangat dalam bekerja dan melakukan pekerjaanya dengan baik terutama pada saat mengganti alat pengobatan pasien di ruangan rawat inap. dalam melakukan aktivitas bekerja dengan memperhatikan suasana atau lingkungan kerja dengan baik dapat menciptakan kondisi kerja yang mampu memberikan motivasi untuk bekerja dan dapat membawa pengaruh baik yang tidak dapat memicu timbulnya stres dalam bekerja. Dari hasil uji diatas tidak sejalan dengan penelitian pasih Noordiansyah . , yang menyatakan bahwa hubungan menciptakan komunikasi yang kurang baik sehingga hasil yang didapatkan signifikansebesar 0,033. Berdasarkan hasil tersebut lebih kecil dari <0,005. Didapatkan kesimpulan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa terdapat hubungan signifikan antara suasana kerja dengan stres kerja perawat di rumah sakit muhammdia Didukung oleh penelitian Isna Aglusi . , yang menyatakan bahwa suasana kerja non fisik yang kurang baik mengalami stres kerja berat . 7%) dan mayoritas perawat yang lingkungan kerja non fisik perawat baik memiliki stres kerja ringan . 0%). Hasil uji chi-square menunjukkan p= 0,026 yang artinya ada hubungan yang bermakna antara suasana kerja dengan stres kerja. Didukung juga oleh teori (National Instituten Of Occupational Safety And Healty 2. yang menyatakan bahwa suasana kerja yang memiliki Beban kerja baik fisik maupun mental harus disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas kerja para perawat yang bersangkutan dengan menghindari adanya beban berlebihan sehingga dapat menimbulkan stres pada perawat. Perawat merasa bingung terhadap pekerjaan yang harus dikerjakan terlebih dahulu dikarenakan terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bahakan perawat merasa bahwa kebutuhan mereka akan kesuksesan dan penghargaan dalam pekerjaan belum terpenuh sehingga semuanya dapat memicu terjadinya stres. Pengaruh Faktor Keluarga Terhadap Stres Kerja Faktor keluarga Adalah konflik pekerjaan dan keluarga yang timbul apabila peran didalam pekerjaan dan peran didalam keluarga saling menuntut untuk di penuhi. seperti konflik yang biasa terjadi dalam faktor keluarga yaitu : pembagian waktu, kurangnya waktu untuk keluarga, orang tua dan anak, penggunaan hari libur, minimnya dukungan keluarga dan pekerjaan lainya yang menjadi konflik antara pekerjaan dan Stres kerja merupakan beban kerja yang berlebihan, perasaan susah dan ketegangan emosional yang menghambat performance individu sehingga dapat menimbulkan stres dalam bekerja (Robbins, 2. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-Square kategori variabel faktor keluarga diperoleh nilai p = 0. 041 dimana p< 0. yang berarti bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, maka hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel faktor keluarga dengan stres kerja perawat. Berdasarkan hasil uji diatas dapat dilihat bahwa faktor keluarga dengan kategori baik berjumlah 62 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 34 responden atau sebesar 54. Sedangkan pada faktor keluarga pada kategori kurang baik berjumlah 64 responden yang paling banyak yaitu kategori tidak stres pada kerja perawat sebanyak 47 responden atau sebesar Hal ini dapat dilihat dari pelibatan dan partisipasi perawat di ruang rawat inap rumah Tk. Pelamonia Makassar menyatakan bahwa sebagian besar perawat kurang mampu membagi waktu antara waktu keluarga dengan waktu kerja di rumah sakit dan banyak perawat yang kurang puas dengan waktu libur yang didapatkan setelah bekerja dirumah adapun berdasarkan tanggapan perawat yang suda menikah menyatakan bahwa perawat yang suda menikah dimana memiliki dua tanggung jawab itu dapat mempengruhi pekerjaan di rumah sakit dikarenakan tanggung jawab dalam keluarga harus seimbang dengan tanggung jawab di rumah sakit, selain itu sebagian besar perawat sering mengalami pusing ketika terjadi komplik pekerjaan dengan keluarga terutama suami dan anak, dan banyak perawat yang mengkwatirkan anaknya terpapar virus yang di akbitkan melalui dirinya . sehingga banyak perawat atau sebagian besar perawat mengalami stres yang diakibatkan oleh faktor keluarga. Dari Hasil uji penelitian diatas sejalan dengan penelitian Cristina Mo . , yang menyatakan bahwa faktor keluarga yang menyebabkan tinggi rendahnya stres kerja. Jika dilihat sumbang efektif yang diberikan dukungan sosial keluarga terhadap stres kerja, dukungan sosial keluarga memberikan kontribusi sebesar 3,76% dan sebanyak 96,24% dipengaruhi oleh faktor lain mepengaruhi terhadap stres kerja, seperti Suryaman,dkk : Gambaran PeranA JPKPI Vol No 1 Jan-Jun 2022, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 dukungan sosial ambiguitas, komplik, peran dan beban kerja. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial keluarga memberikan kotribusi terhadap stres kerja, sehingga Nampak jelas bahwa dukungan sosial keluarga mempunyai hubungan negatif dengan stres kerja. Pernyataan diatas didukung oleh teori cooper . 7 dalam bukunya miller, 2. menyatakan bahwa stres kerja dapat terjadi hubungan/dukungan keluarga yang diterima baik dari orang tua, suami, sodara, maupun Perawat yang memiliki dukungan sosial yang baik akan lebih memiliki nilai kinerja tinggi dan mininya stres kerja yang Disarankan kepada pihak pimpinan perawat di rawat inap dapat melakukan pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai tingkat pendidikan perawat agar tidak menimbulkan stres kerja pada perawat. Disarankan kepada pihak rumah sakit agar menyesuaikan kembali jumlah tenaga perawat yang bekerja di setiap ruangan agar ada keseimbangan antara jumlah perawat dengan jumlah pasien di ruangan rawat inap sehingga tidak menimbulkan banyak beban kerja yang bisa memicu terjadi stres pada DAFTAR PUSTAKA KESIMPULAN DAN SARAN Aglusi. Isna. Hubungan Beban Kerja Dan Lingkungan Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Ruangan ICU Dan IGD. Jurnal Human Care. Kesimpulan Berdasarkan hasil disimpulkan bahwa: Aini. Terdapat pengaruh secara signifikan faktor intrinsik pekerjaan terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II pelamonia. Noor. Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Di Koperasi SyariAoah Binama Semarang. Almasitoh. Stres Kerja Ditinjau dari Konflik Peran Ganda dan Dukungan Sosial pada Perawat. , 63Ae82. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan faktor Peran individu dalam organisasi terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II pelamonia. Anniza. Nurul P. Pengaruh Konflik Peran Ganda Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Wanita Di Kantor BNI Cabang Wilayah Makassar. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan faktor hubungan kerja terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II pelamonia. Arviano. Michael T. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Stres Kerja Dan Dampaknya Terhadap Kinerja Karyawan Pra Purna Karya Di Damatex Salatiga. Terdapat pengaruh secara signifikan faktor kepribadian individu terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II pelamonia. Atika. Faktor Yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rsud Dr. Rasidin Padang. Keperawatan. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan faktor suasana kerja terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II pelamonia. Desima. Tingkat stres kerja perawat dengan perilaku Caring perawat. 4, 43Ae55. Desvitasari. Hubungan Shift Kerja Dan Beban Kerja Terhadap Tingkat Kelelahan Kerja Perawat. Terdapat pengaruh secara signifikan faktor keluarga terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap rumah sakit Tk. Elishabeth. Sabathiny L. Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Rumah Sakit Advent Bandung. SARAN