Jurnal Penelitian Pendidikan P-ISSN: 5085-0581 E-ISSN: 2477-5851 Volume: 17 nomor: 01 Tahun 2025 Peningkatan Keterampilan Kolaborasi Peserta Didik guna Mewujudkan Karakter Gotong Royong melalui Pendekatan Pembelajaran TaRL Awanda Halida Ramadanti. Dian Novita. Sri Wahyuni. Universitas Negeri Surabaya, 3SMP Negeri 25 Surabaya e-mail: PPG. awandaramadanti03@program. id1, diannovita@unesa. sriwahyuni324@guru. Received: 5 Januari 2025 Accepted: 6 Januari 2025 Final proof: 30 Mei 2025 Abstrak Keterampilan kolaborasi pada peserta didik dapat ditumbuhkan melalui kegiatan belajar secara berkelompok. Dengan pendekatan TaRL peserta didik dapat belajar secara berkelompok lebih optimal, sehingga dapat mengembangkan keterampilan kolaborasi peserta didik yang merupakan bagian dari dimensi gotong-royong pada Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik yang merupakan perwujudan dimensi gotong-royong pada Profil Pelajar Pancasila dengan menerapkan pendekatan TaRL di kelas. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus pembelajaran, melalui penelitian tindakan kelas. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik observasi untuk mengamati keterampilan kolaborasi dan hasil penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan TaRL yang diterapkan di kelas dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik. Terdapat peningkatan keterampilan kolaborasi dari siklus I dengan persentase 74%, selanjutnya meningkat pada siklus II dengan persentase 85%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan TaRL di kelas dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik. Kata Kunci: Gotongroyong,kolaborasi. TaRL Abstract Collaboration skills in students can be developed through group learning With the TaRL approach, students can learn in groups more optimally, thus creating their collaboration skills, which are part of the gotong-royong dimension in the Pancasila Student Profile. This study aims to enhance students' collaboration skills, which embody the gotong-royong dimension in the Pancasila Student Profile, by implementing the TaRL approach in the classroom. The research was conducted over two learning cycles, using classroom action research. Data was collected using observation sheets to monitor collaboration skills, and the research results were analyzed descriptively and qualitatively. The research findings indicate that the TaRL approach applied in the classroom can improve students' collaboration skills. There was an increase in collaboration skills from 74% in the first cycle to 85% in the second cycle. Based on the research results, it was concluded that the TaRL approach applied in the classroom can improve students' collaboration skills. Keywords: Gotong royong, collaboration. TaRL PENDAHULUAN Perkembangan masyarakat tidak lepas dari sektor pendidikan, sehingga penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dimasa depan. Pendidikan berperan sebagai tempat utama dalam membentuk dan mengembangkan individu yang akan mewarisi peran penting dalam masyarakat, dengan fokus pada keahlian dan keterampilan. Proses pembelajaran dan pengajaran bertujuan untuk mengoptimalkan potensi peserta didik melalui berbagai kegiatan belajar-mengajar. Tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi pengembangan keterampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai yang diperlukan agar mereka dapat berinteraksi secara efektif dalam masyarakat. Pendidikan yang efektif tidak hanya memprioritaskan pencapaian akademis, tetapi juga mendorong pengembangan keterampilan sosial seperti kerjasama, komunikasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan keterampilan peserta didik, mempersiapkan mereka untuk mengatasi tantangan di masa depan sebagai bagian dari generasi yang memiliki kualitas dan daya saing tinggi (Suyuti et al. , 2. Tantangan yang kompleks dan multidimensional yang dihadapi di masa depan mendorong adanya transformasi yang mendalam dalam segala aspek kehidupan Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kompetensi yang diperlukan saat ini serta untuk mempersiapkan ke depan (Anggraini & Hudaidah, 2. Perkembangan ini tidak hanya mempengaruhi bidang pendidikan tetapi juga menjadi faktor utama di balik perubahan paradigma baru dalam pendidikan abad ke21. Era ini menuntut individu untuk tidak hanya memiliki pengetahuan akademik yang kuat, tetapi juga untuk menguasai keterampilan yang relevan agar dapat berhasil dalam dunia yang terus berubah ini. Paradigma baru dalam pendidikan menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, di mana prosesnya dirancang untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan dalam pemecahan masalah, keterampilan komunikasi yang efektif, kemampuan untuk berkolaborasi dengan orang lain, kreativitas dalam pemikiran, literasi yang komprehensif, serta berbagai keterampilan lain yang penting dalam menghadapi tantangan zaman modern (Asri et al. , 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menginisiasi gerakan Merdeka Belajar yang menempatkan peserta didik sebagai fokus utama dalam proses Gerakan ini mengusung konsep pendidikan abad-21 yang memberikan kemerdekaan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal. Kurikulum Merdeka Belajar menekankan pentingnya pengembangan keterampilan abad-21 seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas, yang menjadi landasan bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks dan dinamis (Hanipah et al. , 2. Selain itu, kurikulum ini mengintegrasikan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup nilai-nilai seperti iman, taqwa, akhlak mulia, menghargai keberagaman global, gotong royong, mandiri, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam proses pembelajaran diharapkan dapat mendukung peserta didik dalam mengasah keterampilan abad-21 yang esensial (Palihah & Andriany, 2. Dengan fokus pada pendidikan yang memberikan kemerdekaan kepada peserta didik dan penekanan pada pengembangan keterampilan abad-21 serta nilainilai Pancasila, gerakan Merdeka Belajar tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi akademis tetapi juga untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia menjadi individu yang berdaya saing tinggi dan bertanggung jawab dalam konteks global yang berubah dengan cepat. Salah satu aspek dari Profil Pelajar Pancasila adalah gotong royong, yang DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 16 mencerminkan nilai-nilai karakteristik Indonesia. Gotong royong diinterpretasikan sebagai sikap atau tindakan bersama individu untuk bekerja secara kolaboratif demi kepentingan bersama (Wardani et al. , 2. Karakter gotong royong terdiri dari beberapa elemen seperti kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Kolaborasi dalam konteks gotong royong menunjukkan kemampuan peserta didik untuk bekerja sama dengan individu lain dan menunjukkan sikap positif dalam mencapai tujuan bersama (Kemendikbudristek, 2. Pengembangan keterampilan kolaborasi ini penting untuk meningkatkan kualitas peserta didik agar siap menghadapi tantangan dalam masyarakat dan dunia profesional yang terus Keterampilan ini juga dianggap penting dalam pendidikan karena merupakan salah satu keterampilan esensial dalam era abad-21 (Dwi Rahma Putri et al. , 2. Keterampilan kolaborasi pada peserta didik dapat ditingkatkan melalui kegiatan diskusi dalam kelompok. Diskusi kelompok merupakan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk belajar bekerja sama secara efektif (Noppitasari et al. Namun, dalam praktik implementasi karakter gotong-royong dari Profil Pelajar Pancasila sering kali belum tercermin dengan baik. Observasi selama kegiatan pembelajaran IPA menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik belum aktif dalam diskusi kelompok, hanya sekitar 53% yang aktif sementara sisanya lebih cenderung pasif. Dalam kelompok diskusi yang terdiri dari enam peserta didik, hanya 2-3 orang yang terlibat secara aktif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa perbedaan dalam tingkat kemampuan menjadi faktor utama yang mempengaruhi keterlibatan peserta didik. Mereka yang memiliki kemampuan lebih tinggi cenderung berdiskusi sendiri karena merasa teman sekelompok mereka tidak mampu mengikuti dengan cepat dan merasa bahwa hal itu membatasi kemampuannya untuk mencapai tujuan kelompok. Sementara peserta didik lain yang merasa kesulitan malah memilih untuk tidak aktif dalam kegiatan kelompok. Dalam konteks ini, penting untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif semua peserta didik, serta memperkuat nilai-nilai gotong-royong dalam pendidikan untuk memastikan bahwa kolaborasi dalam pembelajaran kelompok dapat berjalan dengan lebih efektif dan inklusif. Berdasarkan tantangan yang dihadapi di kelas selama kegiatan pembelajaran, pendekatan TaRL (Teaching at The Right Leve. menjadi pilihan pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan. Pendekatan TaRL adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki fokus mengatasi masalah pada tingkat kemampuan peserta didik. Melalui pendekatan ini peserta didik di kelas dapat belajar sesuai tingkat kemampuannya, serta mamapu menjembatani kesenjangan kemampuan peserta didik yang ada di kelas. Pendekatan ini juga mendukung kebutuhan peserta didik yang beragam di kelas, sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya (Alfiana et al. , 2. Dengan menerapkan pendekatan ini mampu menjawab tantangan yang ada di kelas, yaitu kurangnya kolaborasi peserta didik yang diakibatkan oleh adanya kesenjangan kemampuan. Terdapat beberapa penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dengan menerapkan pendekatan TaRL seperti meningkatkan sikap gotong-royong menggunakan pendekatan TaRL dalam pembelajaran, meningkatkan ketrampilan kolaborasi dengan pendekatan TaRL dan model PBL, meningkatkan keterampilan kolaborasi dengan pendekatan TaRL dan model kooperatif, dan peningkatan partisipasi belajar dengan pendekatan TaRL (Alfiana et al. , 2023. Ary et al. Audah et al. , 2023. Irmayanti et al. , 2. Berdasarkan konteks dan tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran IPA di DOI: 21137/jpp. | 17 kelas VII SMPN 25 Surabaya serta didukung dengan penelitian-penelitian sebelumnya, maka dilakukan penelitian tindakan kelas untuk mengatasi tantangan Fokus utama penelitian ini adalah mengatasi kurangnya tingkat kolaborasi di antara peserta didik yang disebabkan oleh perbedaan dalam kemampuan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi peserta didik, yang merupakan bagian dari karakter gotong royong, dengan menerapkan pendekatan TaRL di kelas VII SMP 25 Surabaya pada semester II tahun ajaran 2023/2024. Penelitian ini terdiri dari dua siklus pembelajaran yang menerapkan pendekatan TaRL pada siklus I dan siklus II. METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas VII SMPN 25 Surabaya. Dilaksanakan selama semester genap tahun pelajaran 2023/2024, penelitian melibatkan 34 peserta didik . laki-laki dan 17 perempua. Pendekatan TaRL diterapkan dalam dua siklus pembelajaran berbeda: siklus pertama dengan model kooperatif STAD, siklus kedua dengan model kooperatif make a match. Mengikuti model spiral Kemmis dan Tanggart dalam empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Studi ini menggambarkan upaya sistematis untuk meningkatkan interaksi belajar mengajar yang efektif, fokus pada perbaikan ketermapilan kolaborasi dan kualitas pembelajaran secara keseluruhan di lingkungan pendidikan kelas VII SMPN 25 Surabaya (Irmayanti et al. , 2. Refleksi Pelaksanaan Siklus I Perencanaan Observasi Awal Pengamatan Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Siklus II Hasil Pengamatan Gambar 1. Alur tahapan penelitian tindakan kelas Tahapan perencanaan dilakukan mulai dari tahap pemetaan kelompok peserta didik melalui tes diagnostik kognitif hingga pembentukan kelompok belajar dan penyusunan perangkat pembelajaran sesuai dengan pendekatan TaRL yang akan diterapkan dalam siklus pembelajaran materi IPA. Selanjutnya tahap pelaksanaan dan pengamatan dilakukan selama siklus pembelajaran dilakukan, pengamatan dilakukan dengan teknik observasi selama pembelajaran untuk melihat perkembangan kinerja kemampuan kolaborasi dari peserta didik. Kemudian dilakukan tahap refleksi berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran, untuk mengevaluasi keberhasilan dan kekurangan selama siklus Hasil dari refleksi ini kemudian diperbaiki pada siklus selanjuntnya, hingga menunjukkan hasil yang optimal dari kemampuan kolaborasi peserta didik. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi, yaitu pengamatan kinerja peserta didik selama kegiatan pembelajaran di kelas pada meteri IPA. Indikator DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 18 kemampuan kolaborasi peserta didik diukur menggunakan aspek-aspek yang ada pada dimensi karakter gotong-royong pada Profil Pelajar Pancasila yaitu kemampuan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan kelompok, kemampuan komunikasi untuk mencapai tujuan bersama, kemampuan saling ketergantungan positif, dan kemampuan koordinasi sosial untuk mencapai tujuan bersama. Indikator-indikator keterampilan kolaborasi pada Profil Pelajar Pancasila ini dideskripsikan lebih jelas lagi sebagai berikut (Kemendikbudristek. Kemampuan berkolaborasi untuk mencapai tujuan kelompok menunjukkan bahwa peserta didik mampu bekerja sama dan mengkoordinasikan tindakan mereka untuk mencapai tujuan bersama, dengan mempertimbangkan keberagaman latar belakang anggota kelompok. Kemampuan berkomunikasi dalam mencapai tujuan bersama melibatkan kemampuan peserta didik untuk mendengarkan dan memahami pesan serta gagasan dari orang lain, kemampuan menyampaikan ide secara efektif, serta kemampuan untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan tanggapan secara kritis dan konstruktif. Kemampuan saling bergantung positif menunjukkan bahwa peserta didik memiliki kesadaran untuk memberikan kontribusi yang optimal dalam mencapai tujuan kelompok, dengan menyelesaikan tugas mereka sendiri dan menghargai upaya yang dilakukan oleh anggota lain. Kemampuan berkoordinasi sosial dalam mencapai tujuan bersama menggambarkan bahwa peserta didik memiliki pemahaman yang baik tentang lingkungan sosial mereka dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama dengan kelompok. Pedoman penskoran pada kegiatan evaluasi yaitu diberi skor 1 jika mencerminkan indikator kemampuan kolaborasi, dan skor 0 jika tidak mencerminkan indikator kemampuan Hasil dianalisis dengan rumus persentase (Wardani et al. , 2. Skor yang diperoleh y 100% Skor maksimal Dengan kriteria tingkat keterampilan kolaboratif sebagai berikut (Wardani et al. , 2. Tabel 1. Kategori skor keterampilan kolaborasi Skor Kategori Sangat Kurang Kurang Cukup Baik Sangat Baik Keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini diukur dari persentase jumlah peserta didik yang menunjukkan keterampilan kolaboratif sesuai dengan target yang diharapkan pada indokator keterampilan kolaboratif, yaitu tercapai jika terdapat Ou75% peserta didik berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar kelompok dengan mendapatkan skor minimal >50 . inimal kategori cuku. (Alfiana et al. , 2023. Ary et al. , 2023. Syahdan. DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian tindakan kelas ini dilakukan guna menjawab tantangan yang dihadapi selama kegiatan belajar secara berkelompok di kelas. Partisipasi peserta didik dalam kegiatan belajar secara berkelompok masih cukup rendah. Berdasarkan observasi selama kegiatan pembelajaran hanya 53% peserta didik yang aktif belajar secara berkelompok. Dan berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik, diketahui hal ini disebabkan oleh perbedaan kemampuan peserta didik di kelas. Selain itu, dilakukan tes diagnostik kognitif pada peserta didik untuk mengidentifikasi tingkat kemampuan peserta didik di kelas. Tujuan dari dilakukannya tes diagnostik kognitif adalah untuk mengukur pemahaman peserta didik terhadap konsep materi pembelajaran IPA yang akan dilakukan. Tes diagnostik sangat penting dalam memberikan informasi mengenai status peserta didik, dengan adanya tes diagnostik ini tingkat kemampuan dari peserta didik dapat dipastikan. Dalam praktik pendekatan TaRL sendiri, penggunaan tes ini merupakan bagian yang esesnial untuk memetakan kemampuan peserta didik dan merancang pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan serta karakteristik peserta didik (Larasati Nur Rachma et al. Hasil dari tes diagnostik kognitif menunjukkan pemetaan kemampuan awal peserta didik dan diperoleh 3 kelompok besar peserta didik yaitu kelompok sangat mahir, mahir, dan kurang mahir. Hasil tes diagnostik peserta didik dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini: Tabel 2. Hasil tes diagnostik kognitif Kemampuan Awal Sangat Mahir Mahir Kurang Mahir Jumlah (Peserta Didi. Berdasarkan hasil tersebut selanjutnya pendekatan TaRL dipilih untuk diterapkan dalam Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk diterapkan di kelas dengan kondisi peserta didik yang memiliki tingkat perbedaan kemampuan yang cukup signifikan (Kaimuddin et al. , 2. Hasil pemetaan peserta didik dari tes diagnostik kognitif dijadikan acuan untuk pembagian dan pembentukan kelompok belajar. Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok belajar secara homogen berdasarkan pemetaan tingkat kemampuan. Pengelompokan peserta didik secara homogen didasarkan pada persamaan ciri atau karakter peserta didik untuk mengoptimalkan pembelajaran. Pembentukan kelompok secara homogen memungkinkan peserta didik bekerja dalam kelompok yang seimbang atau kemampuan setara, sehingga kinerja pembelajaran kolaboratif anggota kelompok dapat berjalan sama (Moreno et al. , 2. Selain itu kelompok besar peserta didik berdasarkan tingkat kemampuan, selanjutnya dibagi lagi menjadi kelompok belajar yang lebih kecil untuk memudahkan guru dalam memfasilitasi dan melakukan bimbingan selama DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 20 Tindakan pembentukan kelompok kecil membantu peserta didik lebih aktif, karena dapat memaksimalkan kerja seluruh anggota kelompok (Audah et al. , 2. Pembelajaran kelompok ini mengadopsi model pembelajaran kooperatif yang diimplementasikan dalam dua siklus pembelajaran. Model ini memungkinkan peserta didik untuk belajar secara berkelompok dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas Setiap kelompok terdiri dari 4-5 peserta didik, memfasilitasi kolaborasi yang intensif untuk meningkatkan proses belajar dan mencapai tujuan bersama. Selain meningkatkan pencapaian akademis, pendekatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial, memperkuat sikap saling menghargai, meningkatkan kepercayaan diri, serta memenuhi kebutuhan belajar dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan (Andi Sulistio, 2. Implementasi model ini dirancang untuk mengajarkan peserta didik keterampilan kerja sama dan kolaborasi yang esensial untuk kesuksesan mereka dalam pendidikan dan Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan pembelajaran TaRL dilakukan dalam dua siklus pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik. Pelaksanaan siklus I dilakukan dengan menerapkan pendekatan TaRL dengan model kooperatif STAD. Pada pembelajaran IPA peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok kecil yang terdiri dari 3 kelompok kurang mahir, 2 kelompok mahir, dan 1 kelompok sangat Peserta didik dikelompokkan secara homogen berdasarkan hasil tes diagnostik kognitif yang dilakukan sebelumnya. Tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun modul dan LKPD sesuai dengan pendekatan TaRL dan model kooperatif STAD. Tahap pelaksanaan dan pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran IPA di kelas selama siklus I. Tahap pengamatan dilakukan dengan teknik observasi selama kegiatan belajar kelompok di kelas, dengan mengamati kinerja kolaborasi peserta didik berdasarkan indikator kolaborasi yang telah ditentukan. Selanjutnya berdasarkan hasil pengamatan dilakukan tahap refleksi dan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan dan kekurangan selama pembelajaran siklus I berlangsung. Hasil dari evaluasi dan refleksi ini digunakan sebagai bahan pertimbangan pada perbaikan siklus II. Hasil refleksi dari pembelajaran siklus I ini adalah peserta didik menunjukkan peningkatan aktifitas kolaborasi dibandingkan dengan saat pembelajaran pra siklus. Peserta didik dapat bekerjasama dalam kelompok sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik, sehingga tidak ada individu peserta didik dalam kelompok yang tertinggal. Namun masih menunjukkan hasil yang kurang pada beberapa indikator keterampilan kolaborasi, hal ini disebabkan karena peserta didik masih beradaptasi dengan susunan kelompok yang dibentuk secara homogen. Selanjutnya pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dilakukan pada materi IPA dengan pendekatan TaRL dan model pembelajaran kooperatif make a match. Seperti pada siklus sebelumnya peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil sesuai dengan tingkat kemampuannya. Tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun modul dan LKPD sesuai pendekatan TaRL dan model kooperatif make a match. Model pembelajaran pada siklus II ini dipilih karena efektif untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang beragam, serta melatih kemampuan kolaborasi dalam kelompok belajar. Guru dapat memfasilitasi peserta didik dengan beragam karakter dengan menyediakan media dan kagiatan pembelajaran yang beragam, dikomombinasikan dengan permainan mencocokkan sesuai model koopertaif make a match. Selanjutnya tahap pelaksanaan dan pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran IPA berlangsung. Tahap pengamatan dilakukan DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 21 dengan teknik observasi selama kegiatan belajar kelompok di kelas. Hasil refleksi dari siklus II ini adalah terdapat peningkatan signifikan pada keterampilan kolaborasi peserta didik dalam kelompok. Hasil observasi pelaksanaan siklus I dan siklus II yang menunjukkan tingkat keberhasilan atau ketuntasan keterampilan kolaborasi pada tiap indikator ditampilkan pada gambar 2 berikut ini: Persen Keberhasilan Hasil Observasi Kerja sama dalam rangka mencapai tujuan kelompok Komunikasi untuk mencapai tujuan bersama Saling Koordinasi sosial untuk mencapai tujuan bersama Pra siklus Siklus 1 Siklus 2 Indikator Keterampilan Kolaborasi Gambar 2. Rekapitulasi hasil observasi keterampilan kolaborasi Pada siklus I pendekatan TaRL diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, berdasarkan hasil observasi diketahui keterampilan kolaborasi peserta didik menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kondisi saat pra siklus. Observasi menunjukkan persentase: 71% peserta didik mampu bekerja sama, 68% mampu berkomunikasi, 59% menunjukkan ketergantungan positif antar anggota kelompok, dan 62% mampu berkoordinasi sosial. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan berdasarkan refleksi atas hasil siklus pertama yang menghasilkan peningkatan lebih lanjut dengan persentase: 85% peserta didik mampu bekerja sama, 79% mampu berkomunikasi, 76% menunjukkan ketergantungan positif, dan 79% mampu berkoordinasi sosial. Perubahan ini mencerminkan peningkatan yang signifikan dari kondisi sebelum penelitian dimulai. Hasil keseluruhan dari peningkatan keterampilan kolaborasi peserta didik direpresentasikan dalam gambar 3 bawah ini. DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 22 Peningkatan Keterampilan Kolaborasi Presentasi Ketercapaian Pra siklus Siklus 1 Siklus 2 Siklus Gambar 3. Peningkatan keterampilan kolaborasi Berdasarkan gambar diagram di atas, diketahui keterampilan kolaborasi peserta didik di kelas VII SMPN 25 Surabaya terus meningkat pada tiap siklus pembelajaran. Pada pra siklus pembelajaran menunjukkan persentase keterampilan kolaborasi sebesar 53%, kemudian mengalami peningkatan pada siklus I yaitu sebesar 74%, dan pada siklus II sebesar 85%. Dari dua siklus yang dilakukan, siklus 2 menunjukkan hasil peningkatan yang paling Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian . pada siklus I, terdapat peningkatan keterampilan kolaborasi yang ditunjukkan oleh persentase peserta didik yang memenuhi aspek dari indikator. Pemberian tindakan pada siklus I menunjukkan pengaruh positif, dibandingkan dengan persentase pada pra siklus. Namun berdasarkan hasil refleksi, persentase peserta didik yang memenuhi aspek indikator saling ketergantungan positif masih cukup rendah. Indikator ini ditunjukkan dengan adanya kesadaran dari peserta didik untuk saling memahami tugas masing-masing serta saling membantu dalam memenuhi kebutuhan kelompok (Kemendikbudristek, 2. Hal ini disebabkan karena selama siklus I masih terdapat berbagai kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan pembelajaran berkelompok, sehingga hubungan ketergantungan positif belum dapat terjalin dengan Banyak peserta didik yang masih belum terbiasa bekerja dalam susunan kelompok baru, sehingga interaksi dan komunikasi antar anggota kelompok masih kurang Selain itu, beberapa peserta didik menunjukkan kesulitan dalam memahami tugas dan peran masing-masing dalam kelompok. Hal ini mengakibatkan kurangnya kontribusi dari beberapa anggota kelompok, yang pada akhirnya mempengaruhi hasil kolaborasi secara keseluruhan. Kondisi ini serupa dengan penelitian yang telah dilakukan (Lahir et al. , dimana peserta didik mengalami kesulitan dalam berpendapat dan terlibat dalam kelompok mereka karena susunan kelompok yang masih baru dan memiliki keberagaman. Berdasarkan hasil dari pembelajaran siklus I, dilakukan refleksi dan perbaikan pada siklus II. Peneliti melakukan perbaikan seperti peningkatan pemberian stimulus pada peserta didik untuk lebih fokus serta terlibat dalam kegiatan kelompok dan pemberian umpan balik serta penguatan positif pada peserta didik. Pemberian stimulus diharapkan DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 23 mampu meningkatkan motivasi belajar, rasa tanggungjawab, dan keatifan peserta didik dalam kegaiatan belajar secara berkelompok. Guru dapat memberikan stimulus dan bimbingan untuk mengarahkan perilaku peserta didik agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai (Abidin, 2. Selanjutnya selama bimbingan pembelajaran guru dapat memberikan umpan balik serta penguatan kepada peserta didik terkait pemahaman dan kenerja peserta didik. Umpan balik serta penguatan yang diberikan kepada peserta didik perlu setiap saat dilakukan untuk memperkecil miskonsepsi pada peserta didik (AoAdawiyyah. RobiAoatul . Agustini & Nina, 2. Setelah dilakukan refleksi dan perbaikan pada siklus II, terdapat perubahan yang signifikan. Guru mulai memberikan lebih banyak bimbingan dan arahan dalam pembentukan kelompok serta pelaksanaan tugas kelompok. Umpan balik yang diberikan secara konsisten juga membantu peserta didik untuk lebih memahami tugas mereka dan bagaimana cara berkontribusi secara efektif dalam kelompok. Pemberian stimulus yang tepat waktu juga meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan kelompok. Hal ini sesuai dengan penerapan teori behavioristik, dimana pemberian umpan balik yang konstruktif dapat membantu meningkatkan interaksi stimulus-respon dalam proses pembelajaran (Islamiati et al. , 2. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian (Amanati, 2. , yang menunjukkan bahwa kegiatan pemberian umpan balik dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Pendekatan TaRL yang diterapkan dalam siklus I dan siklus II memungkinkan peserta didik untuk belajar dalam kelompok yang lebih homogen, berdasarkan tingkat kemampuan Hal ini membantu peserta didik untuk merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Mereka juga lebih mudah untuk saling membantu dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Peningkatan kolaborasi dalam kelompok homogen relevan dengan hasil penelitian (Ningsih et al. , 2. dimana tingkat kolaborasi dan hasil belajar peserta didik dalam kelompok homogen lebih tinggi dibandingkan kelompok heterogen. Perbaikan yang dilakukan pada tiap siklus menunjukkan dampak signifikan yang dapat dilihat pada . Selain itu, peneliti juga mencatat bahwa penggunaan umpan balik yang konstruktif dan penguatan positif sangat berperan dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik. Umpan balik yang diberikan secara tepat waktu dan relevan membantu peserta didik untuk memahami kekuatan dan kelemahan mereka, serta bagaimana cara memperbaiki kinerja mereka dalam Penguatan positif juga memberikan dorongan motivasi yang penting bagi peserta didik untuk terus berusaha dan meningkatkan kemampuan mereka. Secara keseluruhan, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan yang tepat dalam pembelajaran berkelompok dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap keterampilan kolaborasi peserta didik. Dengan adanya bimbingan yang konsisten, umpan balik yang konstruktif, dan penguatan positif, peserta didik dapat belajar untuk bekerja sama secara efektif dalam kelompok. Hal ini tidak hanya meningkatkan hasil akademis mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial yang penting untuk masa depan Dari dua siklus yang dilakukan, siklus 2 menunjukkan hasil yang optimal. Keberhasilan peningkatan kemampuan kolaborasi peserta didik pada siklus 2 adalah sebesar 85%, hasilnya menunjukkan persentase ketercapaian lebih dari 75% (Ary et al. , 2. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan TaRL peserta didik dapat belajar secara berkelompok dengan lebih baik, karena peserta didik dapat berpartisipasi dalam kombinasi kelompok yang sesuai (Alfiana et al. , 2. Pada penelitian ini kombinasi kelompok DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 24 dilakukan secara homogen, sesuai dengan tingkat kemampuan dan pemahaman peserta Dengan pendekatan TaRL Peserta didik juga dapat belajar dan berkembang sesuai dengan kemampuannya (Kaimuddin et al. , 2. Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai penerapan pendekatan pembelajaran TaRL, dimana terdapat respon positif terhadap peningkatan kemampuan kolaborasi peserta didik selama pembelajaran (Alfiana et al. , 2023. Ary et al. , 2023. Audah et al. , 2023. Irmayanti et , 2. Kegiatan pembelajaran berkelompok secara optimal mampu mengembangkan keterampilan kolaborasi peserta didik, yang merupakan bagian dari dimensi gotong-royong pada Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini juga memberikan beberapa rekomendasi untuk implementasi lebih lanjut. Pertama, penting bagi guru untuk terus memberikan bimbingan dan arahan yang jelas dalam pembentukan dan pelaksanaan kelompok. Kedua, umpan balik dan penguatan positif harus diberikan secara konsisten dan relevan untuk membantu peserta didik dalam memahami dan memperbaiki kinerja mereka. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan TaRL yang diterapkan di kelas dapat meningkatkan karakter kolaborasi peserta didik. Terdapat peningkatan keterampilan kolaborasi dari siklus I dengan persentase 74%, selanjutnya meningkat pada siklus II dengan persentase 85%. Keberhasilan peningkatan keterampilan kolaborasi nampak optimal pada siklus II yang menunjukkan hasil persentase ketercapaian lebih dari 75%. Pendekatan TaRL dapat menjadi jawaban atas tantangan rendahnya keterampilan kolaborasi peserta didik di kelas, akibat perbedaan tingkat kemampuan peserta didik. Melalui pendekatan ini peserta didik di kelas dapat belajar dalam kelompok yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhannya. Serta melatih dan meningkatkan keterampilan kolaborasi yang merupakan elemen dari Profil Pelajar Pancasila, yaitu dimensi gotong-royong. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan selama pembelajaran IPA di kelas VII SMPN 25 Surabaya untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan kepada tenaga pendidik mengenai penerapan pendekatan TaRL dalam upaya meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik. Selanjutny penelitian ini diharapkan dapat berlanjut untuk menemukan model dan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam mengembangkan keterampilan tersebut. Dengan menerapkan strategi-strategi yang tepat, diharapkan keterampilan kolaborasi peserta didik dapat terus ditingkatkan. Penelitian ini berkontribusi secara signifikan dalam memahami bagaimana pembelajaran berkelompok dapat dikembangkan dan disempurnakan untuk mencapai hasil yang optimal. Dengan demikian, penelitian ini bukan hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan keterampilan interpersonal yang penting bagi peserta didik di masa depan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah, para guru, staf administratif, serta kepada peserta didik kelas VII di SMPN 25 Surabaya yang telah memberikan partisipasi dan dukungan mereka dalam penelitian ini. Penghargaan juga disampaikan kepada dosen pembimbing dan guru pamong yang telah memberikan bimbingan yang berharga kepada penulis selama proses penelitian. Tidak lupa, penulis juga berterima kasih kepada semua rekan yang turut membantu dan mendukung kelancaran DOI: 10. 21137/jpp. 2 | 25 jalannya penelitian ini hingga mencapai tahap selesai. Kerjasama dan dukungan dari semua pihak sangat berarti bagi kesuksesan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA