Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni CAMPUR KODE KOSA KATA BAHASA BANGGAI TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM KERUKUNAN MONTOLUTUSAN MAHASISWA DAN PELAJAR PAU BANGGAI KEPULAUAN YANG ADA DI TONDANO Meriyawati Lania1. Oldie S. Meruntu2. Thelma I. Wengkang3 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado. Tondano. Indonesia Email: maeriyawatilania@gmail. Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk: . Mendeskripsikan fenomena campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia di Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan, dan . Menginvestigasi faktor-faktor penyebab terjadinya fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti melalui kegiatan observasi, wawancara, perekaman, menyimak dan mencatat. Analisis dilakukan melalui 3 tahapan: Reduksi data. Penyajian data, dan Verifikasi Ae Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena campur kode Bahasa Banggai dan Bahasa Indonesia terjadi di Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan karena dua faktor utama. Faktor pertama adalah hubungan antara penutur di mana penggunaan campur kode membuat hubungan antar sesame anggota kerukunan menjadi lebih Faktor kedua adalah kelancaran komunikasi di mana campur kode akan membuat komunikasi berjalan dengan lebih lancar. Kata kunci : Campur kode. Bahasa Indonesia. Bahasa Banggai. Kosa Kata Abstract : The aims of this study were to: . Describe the phenomenon of code-mixing of the Banggai language vocabulary in the use of Indonesian in the Montolutusan StudentsAo Community of Pau Banggai Island . Investigate the factors that cause this This study employed a qualitative research method that is descriptive in Researchers collect the data through observation, interviews, recording, listening, and taking notes. The analysis was carried out through 3 stages: Data reduction. Data presentation, and Verification Ae Drawing conclusions. The results of the study show that the phenomenon of code-mixing of the Banggai and Indonesian languages occurs in the Montolutusan StudentsAo Community of Pau Banggai Island due to two main factors. The first factor is the relationship between speakers where the use of code mixing makes the relationship between fellow community members more intimate. The second factor is the fluidity of the communication. code mixing will make communication run more smoothly. Keywords : Code Mixing. Indonesian Language. Banggai Language. Vocabulary Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni PENDAHULUAN Bahasa adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial (Riyanton, 2. Bahasa memungkinkan manusia untuk bisa (Mailani, dkk. , 2. , mengekspresikan diri (Nida. Khasanah dan Karmila, 2. , dan mengungkapkan perasaan (Arnianti. Bahasa juga menjadi aspek kehidupan secara individu dan secara sosial, di mana bahasa menjadi salah satu bentuk kebudayaan manusia (Muslim. Melihat peran penting bahasa bagi manusia secara individu dan secara sosial serta peran bahasa dalam masyarakat, bahasa sebagai sebuah objek kemudian dikaji secara ilmiah dalam sebuah cabang ilmu bahasa bernama Sosiolinguistik. Terminologi Sosiolinguistik, secara sederhana, terbentuk dari kata AusosioAy dan Aulinguistik,Ay (Mamentu. Karamoy dan Karouw. Afandi menjelaskan kata AusosioAy merujuk pada Aumasyarakat atau yang terkait pada masyarakat . istem, struktur, tradisi, adat, atau kebudayaa. Ay Istilah lingustik merujuk pada pada Auilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang kajiannya,Ay (Muhassin, 2014. Warami. Unsiah dan Yuliati, 2. Jadi. Sosiolinguistik memiliki makna Ausebuah cabang ilmu bahasa yang mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat,Ay (Paramita, 2. Menurut Hamdi AuSosiolinguistik adalah ilmu yang bersifat Ay Interdisipliner . ntar disipli. dapat dipahami sebagai Audua bidang ilmu yang mempunyai kaitan yang sangat erat,Ay (Mustofa. Wekke dan Hasyim, 2. Dua bidang ilmu yang berkaitan dalam Sosiolinguistik adalah Sosiologi dan Linguistik. Karena hal tersebut, istilah sosiolinguistik sering dipadankan maknanya dengan linguistiksosial (Jamila, 2020. Saimuary, dkk. , 2. atau sosiologi bahasa (Wahyuni, 2021. Paramita, 2017. Apriani, 2. Bidang kajian sosiolinguistik adalah hubungan bahasa dan masyarakat (Rahima. Septia, 2. serta penggunaan bahasa dalam masyarakat sebagai sebuah komunitas (Azila & Febriani, 2. Mpolada . menyebut Ausosiolinguistik megkhususkan kajiannya pada bagaimana bahasa berfungsi di tengah masyarakat. Ay Menurut Senjaya. Solohat dan Riansi . , sosiolinguistik bertujuan untuk menginvestigasi potensi manusia dalam mengaplikasikan aturan berbahasa secara tepat dalam berabagai situasi. Novriani . menjabarkan bahwa sosiolinguistik mencoba untuk mengkaji struktur bahasa . isan dan tulisa. dari sudut pandang linguistik dan struktur masyarakat . ebagai sebuah komunita. dari sudut pandang Berdasarkan bidang kajiannya, ada banyak fenomena berbahasa yang bisa dikaji dari sudut pandang sosiolinguistik. Salah satu fenomena yang menarik untuk dibahas adalah fenomena campur kode . ode mixin. Menurut Amri . , fenomena campur kode adalah sebuah fenomena bahasa yang Auberlangsung apabila seorang penutur memakai satu bahasa secara bersamaan yang membantu satu tuturan dengan bagian bahasa lain. Ay Nababan . dalam Amriyah dan Isniani . mendefinisikan campur kode sebagai Ausuatu keadaan berbahasa lain bilamana orang mencampur dua . tau lebi. bahasa atau ragam dalam suatu tindak bahasa . peech act atau discours. tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni itu yang menuntut percampuran bahasa Ay Campur kode juga dipandang sebagai sebuah fenomena bahasa di mana seorang pengguna bahasa Aumencampur dua atau lebih bahasa dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain, unsur-unsur yang menyisip tersebut tidak lagi mempunyai fungsi sendiri,Ay (Rizkiana, 2. Fenomena campur kode adalah sebuah fenomena yang lumrah ditemui dalam penggunaan bahasa (Fauziyah. Itaristanti dan Mulyaningsih, 2. Hal ini juga berlaku dalam penggunaan bahasa Indonesia. Hal ini nampak dari fenomena campur kode dalam proses belajar mengajar (Permanamiarta, 2. , di kanal YouTube dan sosial media (Oktarina, 2. bahkan di tempat umum seperti terminal (Munandar, 2. Menurut Aryani . , campur kode adalah sebuah Auefek sampingAy dari bilingualisme (Kedwibahasaa. Kedwibahasaan atau bilingualisme adalah Aukemampuan berbicara dua bahasa dengan baik,Ay (Sholihah, 2. Indonesia, bilingualism adalah hal yang sangat lumrah (Astuti. Tolla dan Saleh. Bahri . menjelaskan bahwa bilingualisme . ang terjadi di Indonesi. terjadi karena pengguna bahasa di Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia pada situasi formal dan menggunakan bahasa daerah . dalam situasi Situasi formal merujuk pada penggunaan bahasa dalam situasi resmi seperti dalam rapat atau pertemuan dan situasi informal merujuk pada penggunaan bahasa dalam kondisi komunikasi hari seperti interaksi di pasar, interaksi antar tetangga atau interaksi dengan teman. Bilingualisme terjadinya fenomena campur kode yang lumrah ditemui di Indonesia (Silitonga. Fenomena campur kode dapat diketahui melalui karakteristik fenomena Suwandi . seperti dikutip dalam Amriyah dan Isniani . menjelaskan bahwa campur kode memiliki 3 ciri utama. Pertama, campur kode terjadi dalam interaksi pengguna bahasa yang bersifat informal. Kedua, campur kode tidak bersifat wajib. Artinya, campur kode adalah sebuah fenomena natural yang terjadi secara spontan saat dua pengguna bahasa berinteraksi. Terakhir, campur kode terlihat dari penggunaan kata, istilah, frasa dan bahkan klausa yang disisipkan ke bahasa lain tanpa mengubah intensi dalam sebuah kalimat. Kata, istilah, frasa dan klausa yang disisipakan tersebut dapat membentuk keakraban antar pengguna bahasa atau sebagai penanda identitas pengguna bahasa. Fenomena campur kode, yang lumrah terjadi di Indonesia, dapat juga ditemui dalam interaksi sebuah komunitas tertentu. Misalnya dalam komunitas Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan. Komunitas ini adalah kumpulan mahasiswa dan pelajar yang berasal dari Pau Banggai Kepulauan. Anggota komunitas ini untuk saat ini berdomisili di Tondano. Komunitas ini bukan hanya sebagai sebuah komunitas sosial yang terdiri dari kumpulan orang dengan latar belakang yang sama tapi juga komunitas pengguna bahasa yang sama. Sebagai sebuah komunitas pengguna bahasa. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Indonesia . ebagai bahasa nasiona. dan Bahasa Banggai . ebagai lingua franca antar anggota komunita. Bahasa Banggai adalah bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang berasal dari atau tinggal di Kepulauan Banggai. Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Sulawesi Tengah (Kasebae, 2. Penggunaan Bahasa Banggai di Kepulauan Banggai juga dikombinasikan dengan penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu variasi Banggai (Limayas, 2. Dengan adanya lebih dari 1 bahasa dalam sebuah komunitas, maka masyarakat dari kepulauan banggai dapat menggunakan dua bahasa . atau lebih. Yastanti . kemudian menjelaskan bahwa bilingualisme adalah salah satu faktor yang mendorong terjadinya fenomena campur Fenomena campur kode dapat ditemui dalam interaksi antar anggota Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan. Mereka menggunakan Bahasa Banggai yang dikombinasikan dengan Bahasa Indonesia dalam interaksi Terkadang menggunakan Bahasa Banggai dengan Bahasa Melayu Manado. Hal ini membuat fenomena campur kode menjadi hal yang sering terjadi dalam interaksi mereka. Melihat fenomena yang terjadi maka peneliti menyusun penelitian ini dengan tujuan untuk mendeskripsikan fenomena campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia di kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan. Selain itu penelitian ini juga mencoba untuk faktor-faktor menyebabkan fenomena tersebut. Beberapa penelitian terdahulu telah mencoba untuk meneliti fenomena campur kode Bahasa Banggai. Nurlela dan Mangendre . menganalisis tentang masyarakat pada masa Pendemi Covid-19 di Kota Luwuk Banggai. Penelitian mereka berfokus pada jenis campur kode yang digunakan dan faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode dalam percakapan Objek penelitian ini adalah masyarakat tinggal di kota luwuk di mana Bahasa Banggai menjadi lingua franca Di sisi lain, objek penelitian ini adalah mahasiswa dan pelajar Pau Banggai Kepulauan yang saat ini tinggal di Tondano. Perbedaan utamanya adalah situasinya di mana penelitian ini berfokus pada situasi di mana Bahasa Banggai bukan menjadi lingua franca tapi hanya bahasa yang digunakan di dalam komunitas. Intensitas penggunaan Bahasa Banggai dalam interaksi menjadi faktor pembeda yang sangat signifikan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurlela dan Mangendre . Penelitian lain seperti yang dilakukan oleh Rahmasari & Sulaeha . dan Dafid . hanya membahas fenomena campur kode Banggai dalam konteks yang sangat Selain itu penelitian ini berfokus pada campur kode pada tingkat kosa kata Bahasa Banggai terhadap penggunaan Bahasa Indonesia. METODE PENELITIAN Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan oleh peneliti dalam pelaksaan Metode ini digunakan karna sumber data dalam penelitian ini adalah interaksi antar anggota Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan yang kemudian ditranskripsikan oleh peneliti dalam bentuk data tulisan . ranskrip percakapa. Menurut Arikunto . Aupenelitian kualitatif adalah penelitian yang sumber datanya berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dapat dicermati oleh peneliti agar dapat ditangkap makna yang tersirat dalam data tersebut. Ay Selain itu, penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan fenomena campur kode Kerukunan Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan senatural mungkin. Penelitian Kecaamatan Tondano Selatan pada bulan Mei hingga bulan Juni 2020 . Peneliti memilih 10 orang dari 60 orang Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepulauan sebagai objek yang akan diteliti. Secara khusus, peneliti mengamati interaksi mereka dan mencatat setiap interaksi yang mengandung campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Dengan demikian peneliti sendirilah yang menjadi instrument dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik Observasi. Wawancara. Perekaman. Simak Bebas Libat Cakap, dan Pencatatan. Data yang terkumpul berbentuk transkrip Transkrip percakapan tersebut kemudian dianalsis melalui tahapan Reduksi Data. Penyajian Data, dan Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan. Untuk memastikan keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan triangulasi metode, sumber data dan teori. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama masa penelitian, didapati bahwa Kerukunan menggunakan campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Percakapan 1 dan 2 di bawah ini menunjukkan bahwa fenomena campur kode cenderung terjadi dalam percakapan yang bersifat santai . Percakapan 1: Melan : AuAnggi bisa kamu tulunge . saya?Ay Anggi : AuTidak aku lengele . Ay Percakapan 2: Suprian : AuStenly Kamu lubat . di kampus?Ay Stenly : AuIde (Iy. , ka SupriAy Suprian AuEnjel, di mana kamu tausan . ?Ay Enjel AuSaya taus . di kampusAy Dari kedua percakapan di atas, kita dapat melihat bahwa konteks percakapan tersebut terjadi dalam situasi yang Secara spesifik, percakapan tersebut terjadi antar sesame anggota kerukunan di Sekretariat kerukunan. Percakapan-percakapan di atas juga menunjukka bahwa pengguna Bahasa menyisipkan kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Pengguaan kosa kata bahasa banggai tersebut menunjukkan identitas mereka Bahasa Banggai. Penggunaan kosa kata Bahasa Banggai juga membuat percakapan menjadi lancar dan membuat kesan akrab antar penutur dalam percakapan tersebut. Selain dalam konteks situasi yang informal, campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia juga terjadi dalam situasi formal . Hal ini bisa terlihat dari Percakapan 3 di bawah ini yang menggambarkan fenomena campur kode dalam Rapat Pembahasan Program Kerja Percakapan 3: Fandreli : AuYah, jadi bagaimana kalau ada pikilan . ? Anggota : AuKioon (Piki. Ay Fandreli : AuKalau ada kai . Ay Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Anggota : AuSaya pikir loluuk . ulu atau dulua. Ay Fandreli : AuKalau sudah ada baru batile . Ay Anggota Suprian : AuTerserah yang kamu kinila . bawakan materi Ay Melan : AuOh. Iya. Saya pikir-pikir Ay : AuSiapAy Percakapan 5: Berdasrkan penjelasan Suwandi . seperti dikutip dalam Amriyah dan Isniani . , campur kode umumnya terjadi dalam situasi yang informal. Namun, konteks dalam percakapan di atas adalah sebuah konteks formal . apat program kerja kerukuna. Mesikpun demikian, perlu dilihat bahwa seluruh anggota yang mengikuti rapat dan pemimpin rapat adalah penutur Bahasa Banggai. Berdasarkan hal tersebut maka menjadi sesuatu yang sangat normal jika terjadi fenomena campur kode Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Hal ini membuat rapat kerja bisa berjalan dengan lebih lancar dan memangkas batas-batas formalitas dalam sebuah rapat. Hal ini juga membuat rapat yang sifatnya formal menjadi informal karena peristiwa campur kode yang Tidak hanya pada rapat program kerja, fenomena campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia, berdasarkan hasil pengamatan peneliti, juga terjadi dalam beberapa rapat Hal itu tergambar melalui Percakapan 4 dan 5 berikut ini. Percakapan 4: Suprian Melan : AuMelan, . inaugurasi?Ay : AuOhh, boleh. Ndje kona . iapa puny. materi?Ay Suprian : AuJadi bulamo . , ikut keputusan pertama? Kai ada usul lagi di mana kita perncarian dana?Ay Melan : AuKalau komiu . ? Rencananya akan cari dana di mana? Kalau saya ikut dulu rencana awal, kalau nanti ada perubahan nanti pikikene . Ay Fandreli : AuOhA iya. Kalau nanti ada perubahan, yaku . Ay Mesikpun campur kode umunya tejadi pada konteks yang informal, perlu diingat bahwa ciri kedua dari sebuah fenomena campur kode adalah terjadi secara natural . idak waji. Percakapan 4 dan 5 menunjukkan ciri kedua dari fenomena Campur kode terjadi secara natural karena faktor kebiasaan dari anggota kerukunan. Sehingga, meski dalam situasi yang sifatnya formal, fenomena campur kode tetap terjadi secara Fenomena campur kode dalam Percakapan 4 dan 5 juga menunjukkan cenderung terjadi pada penggunaan kata ganti orang . Hal ini terlihat jelas pada Percakapan 5 dengan penggunaan kosa kata Bahasa Banggai Auyaku . Ay dan Aukomiu . Ay Hal ini memberikan kesan kearaban antar Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni anggota rapat . ang sifatnya forma. yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang sama. Di sini terlihat fungsi campur kode sebagai alat untuk menciptakan keakraban antar pengguna bahasa yang Penggunaan kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia yang menggambarkan kearaban antar anggota kerukunan dapat terlihat dalam percakapan Percakapan 6: Pirno : AuBojes, masaang . ? Aku sudah malal . Ay Fandreli : AuLabue (Bera. aku sudah Kamu mongolikene . aku? Saya sudah tidak punya doi . Ay Pirno : Aku mau mongolikene . kamu, tapi kamu harus masaang . Fandreli : Beeh (Tida. , biarlah kalau Saya saja yang mongoli . Pirno : Kamu ini, dibilangin tidak molongol . Berdasarkan Percakapan 6, kita bisa menyimpulkan bahwa ada hubungan Senior-Junior antara penutur dalam percakapan tersebut. Pirno merupakan senior dan Fandreli merupakan junior. Hal ini nampak dari kalimat terakhir dalam Percakapan 6. Mesikpun terikat dalam hubungan Senior-Junior, fenomena campur kode membuat hubungan tersebut tersamar dan membuat nuansa dalam percakapan percakapan yang berisi gurauan. Dengan demikian kita bisa melihat fungsi fenomena campur kode yang mepererat kearakraban antar anggota kerukunan. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukan bahwa fenomena campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia terjadi Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano. Fenomena campur kode yang terlihat dalam berbagai interaksi antar anggota kerukunan disebabkan oleh adanya latar belakang yang sama antara anggota kerukunan. Latar belakang yang dimaksudkan adalah latar belakang budaya dan bahasa, di mana para anggota kerukunan merupakan penutur asli bahasa Banggai. Percakapan-percakapan yang terjadi juga menunjukkan bahwa campur kode yang terjadi dalam tingkat kata . osa kat. hanya digunakan pada kata-kata yang bersifat digunakan seharihari dan umumnya digunakan untuk . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan campur kode kosa kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano telah memenuhi 3 karakteristik campur kode yang dikemukan oleh Suwandi . seperti dikutip dalam Amriyah dan Isniani . Hal ini terlihat dari penggunaan campur kode dalam situasi yang bersifat informal. Selain itu, penggunaan campur kode juga terjadi secara natural . idak waji. karena adanya kesamaan latar belakang budaya dan Terakhir, fenomena campur kode terjadi dalam tingkatan kata. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 2 faktor utama penyebab terjadinya campur kode kosa Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni kata Bahasa Banggai dalam penggunaan Bahasa Indonesia oleh anggota Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano. Kedua faktor tersebut tidak dari tujuan komunukasi yang menekankan pada tersampaikannya pesan . dalam sebuah tuturan. Karena itu, pilihan menggunakan campur kode saat bertutur adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan wajar. Campur kode yang terjadi, seusi dengan hasil penelitian, didorong oleh faktor-faktor berikut ini: Hubungan antar penutur Hubungan antar penutur dalam sebuah peristiwa komunikasi merupakan salah satu faktor yang mendorong untuk menggunakan campur kode. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan anggtota rukun mereka melakukan campur kode sebagai faktor agar lebih terlihat akrab dan terlihat santai, anggota rukun melakukan campur kode dalam bentuk kalimat, yaitu dengan menyelipkan Kelancaran komunikasi Kelancaran berkomunikasi merupakan faktor penting keberhasilan berinteraksi dilingkungan sosial, para anggota rukun melakukan campur kode kedalam bahasa Banggai saat sedang bercakap-cakap. Baik dengan teman sebaya ataupun senior. Kadang kalah, untuk menjawab beberapa pertanyaan dalam keadaan formal mereka agak kaku kalau harus menggunakan bahasa baku bahasa Indonesia yang baik dan Benar. Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa penggunaan campur kode didorong oleh faktor hubungan antar penutur dan kelancaran komunikasi. Para penutur menggunakaan campur kode untuk berbicara dengan sesama anggota rukun. Hal ini juga memberikan kesan akrab tanpa ada rasa canggung di antara anggota Saat menggunakan campur kode atau melakukan kontak bahasa, memberikan kesan percakapan antara anggota keluarga yang terikat tali kasih. Campur kode juga membuat suasana percakapan menjadi lebih santai dan Fenomena campur kode seperti Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano terjadi secara natural. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Tampilang. Wantania dan Monoarfa . Penelitian mereka menekankan bahwa dalam situasi non formal, tidak ada suatu keharusan bagi penuturnya untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun tanggung jawab menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah tanggung jawab kita semua. Fenomena campur kode sejatinya bukan hanya terjadi dalam Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano, tapi terjadi juga di berbagai wilayah di Indonesia. Penelitian dari Wicaksono, dkk. dan Alawiyah, dkk. menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang mencampurkan Bahasa Indonesia dengan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan peristiwa berbahasa seperti ini terjadi pula dalam proses pembelajaran di sekolah (Susmita, 2015. Mustikawati, 2016. Rulyandi, dkk. , 2014. Bintara, dkk. , 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mamahit. Palar dan Meruntu . dan penelitian oleh Maban. Pesik dan Wantania Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni . menunjukkan bahwa fenomena campur kode kosa kata bahasa daerah . ebagai lingua franc. dalam penggunaan Bahasa Indonesia . ebagai bahasa nasiona. dan bahasa daerah begitu dominan dan terjadi dalam berbagai ineteraksi di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa berbicara dengan menggunakan bahasa daerah merupakan sikap positif untuk menunjukan identitas pengguna bahasa asli bahkan ketika berada di lingkungan yang bukan hanya terdapat teman sesuku (Surbakti. Mandang dan Linjewas, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka ditarik kesimpulan sebagai Saat proses berbicara secara langsung para anggota Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano biasanya menyisipkan beberapa kosakata bahasa Banggai ke dalam bahasa Indonesia. Bentuk campur kode yang dilakukan berupa sisipan kosa kata dalam kalimat. Campur kode dilkakukan terus-menerus pada setiap percakapan pada umunya sebagai rasa humor dan rasa keakraban. Anggota Kerukunan Montolutusan Mahasiswa dan Pelajar Pau Banggai Kepualuan di Tondano melakukan campur kode di saat percakapan berlangsung karena didorong oleh dua faktor utama. Faktor pertama, yakni hubungan antar penutur, yaitu dimana hubungan antar komunikasi merupakan salah satu faktor melakukan campur kode saat berbicara. Faktor komunikasi, dimana anggota rukun melakukan campur kode bahasa banggai kedalam bahasa Indonesia saat percakapan berlangsung baik secara formal maupun secara informal. REFERENSI