Jl. Beringin Entrop. Kota Jayapura, papua Vol. No. Maret 2025, pp. e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598. DOI : https://doi. org/10. 55049/cnd. Pembinaan Life Skills Putra-Putri Port Numbay Putus Sekolah Melalui Pelatihan Komputer Di STIE Port Numbay Jayapura La Ode Abdul Wahab*. Sri Fitayanti*. Sian Linda Lerebulan*. Agus Sunaryo**. Dani Melmambessy* dan Fitriani* *Dosen Program Studi Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura **Dosen Program Studi Keuangan dan Perbankan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura Alamat Email : ondes. kukure@gmail. ARTICLE INFO Riwayat Artikel: Diterima 1 Maret 2025 Disetujui 29 Maret 2025 Keywords: Life Skills. Pelatihan Komputer. Pemberdayaan Remaja. ABSTRAK Abstract : The high dropout rate and lack of practical life skills remain significant barriers for the youth of Port Numbay in entering the workforce. This community service program aimed to equip out-of-school youth with basic computer skills through a six-day intensive training. The training focused on the use of Microsoft Word and Excel, combined with soft skills development through a participatory and hands-on approach. Evaluation results showed a significant improvement in participantsAo technical competencies and self-confidence. Several participants also initiated the formation of a peer learning group to sustain the impact beyond the program. This activity highlights the strategic role of higher education institutions in empowering marginalized communities and serves as a replicable model for community-based human development. Abstrak : Tingginya angka putus sekolah dan minimnya keterampilan praktis . ife skill. menjadi hambatan signifikan bagi remaja Port Numbay dalam memasuki dunia kerja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membekali mereka dengan keterampilan dasar komputer melalui pelatihan intensif yang berlangsung selama enam hari. Pelatihan difokuskan pada penguasaan Microsoft Word dan Excel, serta penguatan soft skills melalui pendekatan partisipatif dan praktik langsung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan kompetensi peserta baik dalam aspek teknis maupun kepercayaan diri. Peserta juga menunjukkan inisiatif membentuk komunitas belajar lanjutan dan siap bersaing di dunia kerja. Kegiatan ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat marginal dan menjadi model replikasi untuk pembangunan berbasis komunitas. Open access article under the CC BY-SA license. Pendahuluan Tridharma Perguruan Tinggi merupakan fondasi utama yang menuntun peran sivitas akademika dalam tiga ranah penting: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga pilar ini saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk institusi pendidikan tinggi yang responsif terhadap perkembangan zaman. Di antara ketiganya, pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis sebagai jembatan antara hasil kajian akademik dan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui pengabdian, perguruan tinggi berperan sebagai agen perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Boyer . mengemukakan konsep scholarship of engagement, yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian integral dari misi akademik. Keterlibatan aktif dalam menyelesaikan persoalan publik melalui kolaborasi dan penerapan ilmu pengetahuan menjadi bentuk tanggung jawab institusi pendidikan tinggi, tidak hanya dalam pengembangan ilmu, tetapi juga dalam pemberdayaan URL Jurnal: https://cendisia. stie-portnumbay. id/index. php/cnd/ La Ode Abdul Wahab. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Dalam konteks sosial ekonomi Indonesia, permasalahan seperti pengangguran, kemiskinan, dan rendahnya keterampilan kerja masih menjadi tantangan utama, terutama bagi kelompok marjinal. Remaja putus sekolah adalah salah satu kelompok rentan yang tidak memiliki akses memadai terhadap pendidikan lanjutan dan pengembangan keterampilan. Permasalahan ini tidak hanya disebabkan oleh ketimpangan akses pendidikan, namun juga ketidakmampuan dalam menguasai keterampilan kerja yang dibutuhkan di dunia industri saat ini. Perguruan tinggi dituntut hadir secara nyata dan kontekstual dalam menjawab persoalanpersoalan tersebut. Kota Jayapura, sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di wilayah timur Indonesia, merepresentasikan tantangan tersebut. Di wilayah Port Numbay, masih banyak remaja yang tidak dapat melanjutkan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi, sosial, dan geografis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, partisipasi angkatan kerja muda tergolong rendah dan angka pengangguran terbuka untuk usia produktif berada di atas rata-rata nasional. Permasalahan ini semakin diperparah oleh rendahnya penguasaan keterampilan hidup . ife skill. , khususnya keterampilan dasar teknologi yang kini menjadi syarat utama di hampir semua sektor pekerjaan. Di era digital dan Revolusi Industri 4. 0, penguasaan teknologi informasi, seperti aplikasi komputer, menjadi kemampuan dasar. Tidak hanya dibutuhkan di sektor formal, keterampilan ini juga diperlukan dalam aktivitas usaha kecil dan kewirausahaan digital. Tanpa intervensi yang tepat, kelompok remaja ini akan terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan struktural. Lickona . menyatakan bahwa keterampilan hidup mencakup bukan hanya aspek teknis, tetapi juga karakter, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, pelatihan life skills idealnya dirancang secara holistik dengan mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Merespons kondisi tersebut. STIE Port Numbay Jayapura melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyusun program pelatihan komputer dasar yang ditujukan kepada remaja Port Numbay yang putus sekolah. Kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari Tridharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Pelatihan dirancang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri, motivasi, dan semangat kemandirian peserta. Pelaksanaan pelatihan mempertimbangkan karakteristik peserta yang sebagian besar belum pernah menggunakan komputer. Oleh karena itu, metode pembelajaran disusun secara partisipatif dan aplikatif, dengan pendekatan yang ramah pemula. Materi yang diajarkan difokuskan pada penguasaan Microsoft Word dan Excel, dua aplikasi yang paling banyak digunakan dalam dunia kerja dan kewirausahaan dasar. Selain memberikan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga menjadi media transformasi sosial. Peserta didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungan mereka masing-masing. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu menularkan keterampilan yang diperoleh kepada orang lain, membentuk komunitas belajar, dan bahkan memulai usaha mandiri berbasis teknologi informasi. Semangat ini sejalan dengan konsep pembangunan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif. Freire . menekankan bahwa pendidikan sejati adalah proses pembebasan, yang memungkinkan individu memahami realitas sosial dan bertindak untuk mengubahnya. Pendekatan ini menjiwai pelatihan yang diberikan, dengan harapan membangkitkan kesadaran kritis peserta terhadap potensi mereka dalam pembangunan komunitas. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIE Port Numbay secara konsisten melaksanakan kegiatan pengabdian setiap semester. Lembaga ini bertanggung jawab dalam koordinasi, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Pasal 9 dan 10. Tridharma Perguruan Tinggi adalah kewajiban bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian ini dimaknai sebagai kegiatan sivitas akademika dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Program Studi Manajemen STIE Port Numbay secara aktif mendukung keterlibatan sivitas akademika dalam pelaksanaan Tridharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta pribadi akademisi yang peduli, mampu mengimplementasikan keilmuannya secara nyata, dan bersedia berkontribusi tanpa pamrih demi kemajuan masyarakat. Pembinaan Life SkillsA( La Ode Abdul Wahab. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Kegiatan pengabdian semester genap 2022/2023 ini dilaksanakan di kampus STIE Port Numbay Jayapura, dengan peserta sebanyak 30 orang putra-putri Port Numbay yang telah putus sekolah. Peserta dibekali materi Microsoft Office Word dan Excel, dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik langsung pada soal-soal yang sering ditemui di dunia kerja. Diharapkan, kegiatan ini dapat menambah keterampilan peserta dalam bidang komputer yang dapat digunakan baik untuk bekerja maupun membuka usaha mandiri. Dengan demikian, kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin institusi, tetapi merupakan upaya terencana, berdampak, dan berkelanjutan dalam menjawab tantangan sosial. Kegiatan ini dapat menjadi model replikasi di daerah lain dengan tantangan serupa sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing global. Perumusan Masalah Salah satu permasalahan yang dihadapi putra-putri Port Numbay putus sekolah di Kota Jayapura sulit mendapatkan pekerjaan adalah masih minimnya kecakapan hidup . ife skill. yang dimiliki. Oleh karena itu, kami memberikan solusi dengan cara memberikan pelatihan komputer, khususnya aplikasi Microsoft Office Word dan Excel, sehingga dengan adanya pelatihan ini diharapkan putra-putri Port Numbay yang putus sekolah bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan ataupun membuka lapangan pekerjaan baru dengan ilmu yang telah didapatkan. Strategi Kegiatan Gambaran strategi kegiatan dalam upaya pemecahan masalah mitra dalam bentuk bagan atau desain melalui AiPembinaan Life Skills Putra-Putri Port Numbay Putus Sekolah Melalui Kegiatan Kursus Komputer Di STIE Port Numbay JayapuraAn sebagai berikut : Gambar 1. Alur Pemecahan Masalah Dalam Bentuk Bagan Analisis kondisi : Putra-putri Port Numbay di Kota Jayapura sulit mendapatkan pekerjaan Masalah : Minimnya life skill yang dimiliki Putra-putri Port Numbay di Kota Jayapura, penggunaan komputer Implementasi hasil: Peserta dapat memahami dan Microsoft Word Microsoft Excel dengan baik. Peserta mengetik/membuat dokumen Microsoft Word dan Microsoft Excel. Peserta Sertifikat digunakan untuk pendukung persyaratan lamaran kerja. Upaya penyelesaian Pelatihan Komputer dengan materi: Microsoft Office Word Microsoft Office Excel. Alur pemecahan masalah di atas menjelaskan bahwa kondisi Putra-putri Port Numbay di Kota Jayapura sulit mendapatkan pekerjaan yang disebabkan karena Minimnya life skill yang dimiliki Putra-putri Port Numbay di Kota Jayapura, khususnya dalam penggunaan computer. Strategi untuk menyelesaikan La Ode Abdul Wahab. Dkk. Vol. No. Maret 2025:14-21 La Ode Abdul Wahab. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 masalah tersebut adalah dengan melakukan pelatihan computer dengan materi Microsoft Office Word dan Microsoft Office Excel. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah peserta dapat memahami dan mengoperasikan program Microsoft Word dan Microsoft Excel dengan baik, peserta mampu mengetik/membuat dokumen surat menyurat dengan menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel, dan peserta akan mendapatkan Sertifikat yang dapat digunakan untuk pendukung persyaratan lamaran kerja. Metode Pelaksanaan Kegiatan pelatihan komputer ini dilaksanakan di STIE Port Numbay Jayapura pada tanggal 14 hingga 19 Maret 2022. Sasaran kegiatan adalah 10 remaja putra-putri Port Numbay yang telah putus sekolah dan belum memiliki pekerjaan tetap. Pelatihan dilaksanakan selama enam hari berturut-turut dengan waktu pelatihan dua jam per hari. Kegiatan berlangsung di ruang laboratorium komputer kampus, yang telah dilengkapi dengan perangkat keras dan lunak yang memadai untuk menunjang proses belajar. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahapan perencanaan yang mencakup: . penyusunan modul pelatihan berbasis praktik yang terdiri atas pengenalan Microsoft Word dan Excel, serta penerapan langsung pada kasus administrasi sederhana. koordinasi dengan instruktur dan tutor berpengalaman. rekrutmen peserta dengan kriteria usia produktif, tidak sedang menempuh pendidikan formal, dan belum memiliki pekerjaan tetap. penyusunan jadwal kegiatan yang fleksibel dan sesuai dengan ketersediaan peserta. Metodologi pelatihan yang digunakan bersifat partisipatif dan aplikatif. Pelatihan difokuskan pada pendekatan learning by doing, di mana peserta secara aktif melakukan praktik langsung berdasarkan modul yang telah disiapkan. Pendampingan dilakukan secara intensif oleh dua instruktur dan satu tutor yang selalu siap memberikan bimbingan teknis maupun motivasi. Peserta diberikan tugas-tugas harian yang relevan dengan kebutuhan administratif dasar, seperti membuat surat, laporan, tabel keuangan, dan resume kerja. Evaluasi dilakukan secara berkala setiap akhir sesi melalui tes praktik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang diajarkan. Penilaian dilakukan berdasarkan ketepatan format dokumen, pemahaman fungsi-fungsi dalam program, serta kemampuan peserta dalam menyelesaikan tugas secara mandiri. Di hari terakhir, diadakan ujian praktik akhir serta sesi tanya jawab untuk menggali umpan balik dari peserta mengenai pengalaman mereka selama pelatihan. Selain itu, sesi non-teknis juga dimasukkan ke dalam jadwal, seperti pembekalan soft skills . omunikasi efektif, etika kerja, kerja ti. dan sesi motivasi yang disampaikan oleh praktisi lokal dan dosen Sesi ini bertujuan untuk membekali peserta dengan kesiapan mental dan sosial dalam menghadapi dunia kerja dan lingkungan usaha. Keseluruhan kegiatan dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan humanis, kesetaraan, dan Peserta diberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan bahkan saling membantu selama proses pelatihan. Interaksi yang terbangun di antara peserta dan pendamping menciptakan suasana belajar yang nyaman dan mendukung proses internalisasi keterampilan secara alami. Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta dan mempercepat proses adaptasi terhadap teknologi dasar. Antusiasme peserta, partisipasi aktif, dan hasil evaluasi akhir menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang intensif, adaptif, dan berbasis praktik merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan kapasitas kelompok rentan seperti remaja putus sekolah di Port Numbay. Hasil dan Pembahasan Pelatihan yang diselenggarakan selama enam hari ini menghasilkan berbagai capaian yang Di awal kegiatan, peserta menunjukkan tingkat kemampuan komputer yang sangat dasar bahkan hampir nol. Namun melalui pendekatan intensif, personal, dan berbasis praktik, peserta mampu menyerap materi dengan cepat. Hasil evaluasi menunjukkan 100% peserta mengalami peningkatan signifikan dalam keterampilan dasar komputer. Secara khusus, peserta mampu: Menyalakan dan mematikan komputer dengan benar. Mengoperasikan Microsoft Word untuk membuat surat, laporan, dan dokumen sederhana. Menggunakan Microsoft Excel untuk membuat tabel, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta melakukan perhitungan dasar. Memformat dokumen dengan tampilan profesional. Pembinaan Life SkillsA( La Ode Abdul Wahab. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Menyusun dokumen administrasi sederhana yang diperlukan dalam dunia kerja, seperti kwitansi, invoice, dan surat keterangan. Keberhasilan peningkatan kompetensi peserta ini dapat dijelaskan melalui pendekatan andragogi yang dikemukakan oleh Knowles . , yang menekankan bahwa pembelajaran orang dewasa akan efektif bila relevan, aplikatif, dan berbasis pengalaman. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan iniAi yaitu praktik langsung dan simulasi tugas kerja nyataAiterbukti mampu menjawab kebutuhan belajar peserta yang sebagian besar merupakan pemuda dengan latar belakang pendidikan formal terbatas. Kegiatan pelatihan juga diselingi dengan sesi diskusi dan motivasi, yang bertujuan meningkatkan rasa percaya diri peserta. Dalam sesi ini, peserta diberikan contoh kisah sukses pemuda yang mengembangkan usaha mandiri berbasis keterampilan komputer, yang kemudian memotivasi mereka untuk berpikir lebih jauh tentang peluang kerja dan wirausaha. Pendekatan ini mendorong peserta untuk lebih terbuka terhadap peluang dan membentuk pola pikir positif terhadap masa depan mereka. Hal ini sejalan dengan teori Bandura . tentang self-efficacy, yang menjelaskan bahwa kepercayaan diri individu terhadap kemampuannya sangat memengaruhi perilaku dan keberhasilannya dalam menyelesaikan tugas. Selain keterampilan teknis, aspek soft skills juga dikembangkan dalam pelatihan ini. Peserta diajarkan cara berkomunikasi secara efektif dalam situasi kerja, pentingnya sikap profesional, serta keterampilan bekerja dalam tim. Ini dilakukan melalui simulasi presentasi, kerja kelompok kecil, dan peran instruktur sebagai fasilitator yang membangun suasana pembelajaran partisipatif. Pendekatan ini mengadopsi prinsipprinsip teori pembelajaran sosial Vygotsky . , yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan scaffolding dalam mendukung perkembangan keterampilan kognitif dan sosial peserta didik. Sebagai bukti keberhasilan kegiatan, seluruh peserta menerima sertifikat yang dapat digunakan sebagai lampiran dalam lamaran kerja. Selain itu, beberapa peserta menunjukkan inisiatif untuk membentuk kelompok belajar lanjutan secara mandiri setelah pelatihan selesai. Kelompok ini diharapkan menjadi komunitas belajar yang terus aktif dan produktif, bahkan setelah program resmi berakhir. Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan Pelatihan Komputer La Ode Abdul Wahab. Dkk. Vol. No. Maret 2025:14-21 La Ode Abdul Wahab. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Pembinaan Life SkillsA( La Ode Abdul Wahab. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Dokumentasi visual ini memperkuat hasil kegiatan dan menunjukkan antusiasme peserta selama program berlangsung. Dari gambar terlihat bahwa pendekatan semi privat mendorong interaksi aktif antara peserta dan instruktur. Antusiasme peserta yang tinggi juga tercermin dari kehadiran yang konsisten, rata-rata 95% selama enam hari kegiatan. Lebih lanjut, hasil wawancara informal dengan peserta menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka merasakan adanya perubahan dalam cara pandang terhadap penggunaan komputer. Banyak peserta menyatakan bahwa mereka kini merasa lebih percaya diri untuk berinteraksi dengan perangkat teknologi dan memiliki harapan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Salah satu peserta bahkan menyampaikan rencana untuk membuka jasa pengetikan sederhana di lingkungan tempat tinggalnya. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memunculkan harapan baru dan semangat untuk bangkit bagi peserta yang sebelumnya kurang percaya diri. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan lokal sangat relevan dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah tertinggal. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan ini juga menjadi refleksi peran aktif perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ketimpangan pendidikan dan keterampilan di masyarakat. Dengan menyasar kelompok rentan seperti remaja putus sekolah. STIE Port Numbay telah menunjukkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya berfungsi dalam tataran akademik, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang mampu menggerakkan masyarakat menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pelatihan ini dapat menjadi model pembinaan keterampilan yang aplikatif dan dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa, sebagai strategi pembangunan berbasis komunitas yang inklusif dan berkelanjutan. Kesimpulan dan Rekomendasi Pelatihan komputer dasar yang dilaksanakan oleh STIE Port Numbay bagi putra-putri Port Numbay yang putus sekolah telah berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan keterampilan teknis peserta dalam pengoperasian program Microsoft Word dan Excel. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga berhasil membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan semangat kewirausahaan peserta. Peserta mampu menunjukkan perkembangan signifikan dari segi kompetensi maupun sikap terhadap teknologi Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan ini relevan, aplikatif, dan berdampak positif langsung terhadap kesiapan peserta memasuki dunia kerja atau menciptakan lapangan kerja mandiri. Kegiatan ini juga membuktikan bahwa intervensi yang bersifat praktis dan kontekstual memiliki potensi besar dalam meningkatkan daya saing kelompok masyarakat marjinal. Dengan pendekatan yang personal, intensif, dan berbasis praktik, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengubah cara pandang dan pola pikir peserta terhadap masa depan mereka. Keterlibatan aktif peserta, tingginya tingkat kehadiran, serta inisiatif membentuk komunitas belajar mandiri menjadi indikator keberhasilan jangka pendek dan peluang keberlanjutan jangka panjang dari program ini. Berdasarkan keberhasilan yang dicapai, rekomendasi yang dapat diberikan antara lain: Pengembangan program lanjutan yang mencakup pelatihan keterampilan komputer tingkat lanjut seperti Microsoft PowerPoint, internet marketing, desain grafis, dan pengelolaan keuangan digital untuk memperluas cakupan keterampilan peserta. Pendampingan berkelanjutan melalui pembentukan komunitas belajar digital berbasis kampus atau kolaborasi dengan komunitas lokal agar peserta tetap terhubung dengan sumber belajar dan peluang baru. Kemitraan strategis dengan instansi pemerintah, dunia usaha, dan LSM lokal untuk membuka peluang magang, beasiswa keterampilan, dan akses permodalan bagi peserta yang ingin memulai usaha. Replikasi program di wilayah lain dengan kondisi sosial ekonomi serupa agar manfaat kegiatan ini dapat dirasakan oleh lebih banyak komunitas yang menghadapi tantangan ketimpangan akses pendidikan dan Penguatan peran perguruan tinggi sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui integrasi program PkM dengan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), sehingga memberikan ruang kontribusi lebih luas bagi mahasiswa dan dosen. La Ode Abdul Wahab. Dkk. Vol. No. Maret 2025:14-21 La Ode Abdul Wahab. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Dengan strategi yang tepat dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, pelatihan seperti ini dapat menjadi salah satu solusi konkret dalam membangun masyarakat yang mandiri, produktif, dan berdaya saing di tengah tantangan era digital. Daftar Pustaka