Optimalisasi Pojok Baca untuk Meningkatkan Minat dan Kemampuan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Noer Laelly Barorroh1. Taufik Abdul Ghofur2. Estin Nofiyanti3*. Sri Muna Meilani4. Milah Diana5. Regita Ari Ramadhani6. Aulia Febriani7. Acep Wagiman8 Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Teknik Elektro, email: N_Laelly@Umtas. Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Teknik Lingkungan, email: estin. nofi@Umtas. Universitas Siliwangi. Pendidikan Matematika, email: munameilani2@gmail. Universitas Siliwangi. Pendidikan Ekonomi, email: milah. diana9i18@gmail. Universitas Siliwangi. Pendidikan Ekonomi, email: regitar@gmail. Universitas Siliwangi. Pendidikan Fisika, email: auliafe00@gmail. Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Teknik Mesin, email: acep@Umtas. *Email Corresponding Author Abstrak Kemampuan literasi merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi tantangan di era disrupsi digital. Namun, minat dan kemampuan literasi siswa sekolah dasar saat ini masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah tingginya keterlibatan siswa dengan media sosial serta kurangnya pembiasaan membaca sejak dini. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa melalui program AuPojok BacaAy yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka. Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan meliputi observasi awal, pelaksanaan pre-test AKM literasi, implementasi pojok baca, dan post-test AKM untuk mengukur hasil intervensi. Hasil Kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan literasi siswa, di mana jumlah siswa yang memperoleh skor tinggi . Ae. meningkat dari 2 orang menjadi 18 orang siswa atau 60% dari jumlah keseluruhan siswa. Kegiatan pojok baca terbukti efektif dalam menumbuhkan minat baca serta meningkatkan kemampuan literasi siswa secara aplikatif. Kata kunci: Literasi. Pojok Baca. Baca Abstract Literacy skills are important skills that students must have in facing challenges in the era of digital However, the interest and literacy skills of elementary school students are currently still relatively low. One of the causes is the high involvement of students with social media and the lack of reading habits from an early age. This activity aims to improve students' literacy skills through the "Reading Corner" program implemented at the Bojong Nangka Integrated Elementary School. Tasikmalaya Regency. The methods used include initial observation, implementation of the AKM literacy pre-test, implementation of the reading corner, and the AKM post-test to measure the results of the intervention. The results of the activity showed a significant improvement in students' literacy skills, with the number of students who achieved high scores . Ae. increasing from 2 to 18 students, or 60% of the total number of students. The reading corner activity has proven effective in fostering reading interest and improving students' literacy skills in an applicable manner. Keywords: literacy, reading corner. Reading Article History: Submitted : 27-05-2025 JITER-PM Accepted : 24-06-2025 Published : 30-06-2025 https://doi. org/10. 35143/jiter-pm. JITER-PM Vol. No. Juni 2025. Hal 31Ae36 Noer Laelly Barorroh, et al. Pendahuluan Oktariani & Ekadiansyah . mengartikan literasi sebagai kemampuan individu dalam memanfaatkan potensi dan keterampilannya untuk mengolah serta memahami informasi saat membaca dan menulis. Literasi diperlukan agar seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya sebagai acuan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Kemampuan literasi menurut Ramdhayani . menjadi keterampilan yang sangat penting dan harus dikuasai secara aplikatif oleh peserta didik di era Literasi menjadi kunci utama dalam menghadapi puncak transformasi digital abad ke-21. Siswa dituntut untuk menguasai 16 keterampilan abad ke-21 agar dapat mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan modern. Literasi dasar adalah salah satu keterampilan tersebut, yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi ini mencakup kemampuan memecahkan berbagai tantangan kompleks dan kesiapan dalam menghadapi perubahan yang tak terhindarkan dan terus berlangsung. Kemampuan dan minat literasi siswa sekolah dasar pada era digital saat ini cenderung rendah. Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini menurut Zhahira . salah satunya adalah tingginya keterlibatan siswa dengan media sosial. Hijjayati et al . menuliskan penyebab lain dari kurangnya kemampuan literasi juga akibat dari kurangnya pembiasaan membaca di rumah. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menurut Aji & Arsanti . menunjukkan bahwa minat membaca di kalangan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Data tersebut mengungkapkan bahwa secara global, hanya sedikit lebih dari 30% populasi yang aktif membaca untuk kesenangan. Wahyudi et al . melakukan survei yang melibatkan responden dari berbagai kelompok usia ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum menganggap aktivitas membaca sebagai sesuatu yang bernilai tinggi. Gerakan Literasi menurut Islam & Ferdianto . di sekolah dasar perlu dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa. Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya merupakan salah satu kampus yang dapat mendukung peningkatan kemampuan literasi pada masyarakat salah satunya pada siswa sekolah dasar. Tasikmalaya menjadi salah satu kota dengan kemampuan literasi rendah, termasuk pada siswa sekolah dasar berdasarkan dari data penelitian yang diperoleh dari penelitian yang telah Karlimah & Andriana . lakukan di SDN Linggajaya Tasikmalaya. Tujuan dari kegiatan dilaksanakan untuk meningkatkan dan menumbuhkan minat baca pada siswa sejak dini. Kegiatan ini dilakukan di sudut atau ruangan kelas yang telah dilengkapi dengan buku bacaan menarik. Kegiatan ini dilakukan dengan 4 bagian yaitu melakukan observasi lapangan ke Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka Kabupaten Tasikmalaya untuk mengukur nilai asesment kompetensi minimum di sekolah tersebut. Kedua dibuat pojok baca di sekolah dan yang terakhir adalah mengukur hasil assesment kompetensi minimum (AKM) setelah kegiatan pojok baca Metode Metode yang pertama sekali dilakukan untuk meningkatkan literasi pada siswa sekolah dasar adalah dengan melakukan observasi ke sekolah dasar yang akan dilaksanakan program. Anggraeni & Rahmawati serta . Gea at al mengatakan bahwa metode yang efektif yang dapat digunakan untuk meningkatkan literasi pada siswa sekolah dasar adalah pembelajaran interaktif dan pendekatan berbasis proyek. Metode yang dilakukan pada Kegiatan Pengabdian Masyarakat (PkM) terbagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah observasi ke Sekolah untuk melihat kesiapan untuk dilakukan pre-test assesment kompetensi minimum (AKM) literasi pada siswa kelas 5. Pre-test assesment kompetensi minimum (AKM) literasi dilakukan untuk melihat nilai kemampuan literasi Bagian kedua dilakukan komunikasi dan koordinasi mengenai program yang akan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Bagian ketiga adalah pelaksanaan program pojok baca untuk menumbuhkan minat baca pada siswa sejak dini. Kegiatan pojok baca dilakukan karena dapat mendukung peningkatan kemampuan literasi yang dapat dilakukan dengan metode . Kegiatan ini dilakukan di sudut atau ruangan kelas yang telah dilengkapi dengan buku Jurnal Inovasi Terapan Pengabdian Masyarakat JITER-PM Vol. No. Juni 2025. Hal 31Ae36 Noer Laelly Barorroh, et al. bacaan menarik. Bagian terakhir dilakukan post test assesment kompetensi minimum (AKM) pada siswa yang sama yang telah melakukan pre-test assesment kompetensi minimum (AKM) agar dapat dilihat peningkatan kemampuan literasi siswa tersebut. Hasil dan Pembahasan Hasil dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dibagi menjadi 4 yaitu : Observasi Lapangan Hasil observasi lapangan yang dilakukan adalah belum ada upaya peningkatan kemampuan literasi di Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka Kabupaten Tasikmalaya. Pada sesi observasi juga dilakukan komunikasi dan diskusi untuk meningkatkan nilai AKM literasi siswa di Sekolah. Observasi yang telah dilaksanakan diperoleh data bahwa sekolah belum cukup memiliki buku Wawancara dilakukan bersama guru mengenai kondisi sekolah, diperoleh data dari kelas V yang berjumlah 29 siswa 9 siswa belum lancar membaca dan 2 orang siswa belum bisa membaca sama sekali. Gambar 1. Observasi dengan Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka Kabupaten Tasikmalaya Gambar 2. Diskusi dengan Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka Kabupaten Tasikmalaya Jurnal Inovasi Terapan Pengabdian Masyarakat Vol. No. Juni 2025. Hal 31Ae36 Noer Laelly Barorroh, et al. JITER-PM Hasil Pre-Tes Assesment Kompetensi Minimum Pelaksanaan pre-test assesmen kompetensi minimum (AKM) literasi dilakukan sebagai langkah awal untuk mengukur kemampuan dasar literasi siswa sebelum implementasi program pojok baca. Kegiatan ini diselenggarakan dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang tersedia di sekolah, yaitu komputer desktop (PC) dan sebagian siswa menggunakan perangkat Chromebook. Pengujian dilakukan dalam satu sesi dengan memanfaatkan aplikasi resmi yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Tabel 1 adalah hasil pre-test yang diikuti oleh 29 siswa kelas 5 seperti, diperoleh data bahwa sebanyak 8 siswa . ,58%) memperoleh skor dalam rentang 20Ae35, yang mengindikasikan tingkat literasi yang sangat rendah. Kemudian, 10 siswa . ,48%) mencatatkan skor antara 40Ae55, dan 9 siswa lainnya . ,03%) berhasil mencapai rentang skor 60Ae75. Hanya 2 siswa . ,89%) yang mampu meraih skor tertinggi yaitu 80, yang mencerminkan kemampuan literasi yang cukup baik. Rentang Skor 40Ae55 60Ae75 Total Tabel 1 Hasil pre-test nilai AKM Jumlah Siswa Persentase (%) 8 siswa 27,58% 10 siswa 34,48% 9 siswa 31,03% 2 siswa 6,89% 29 siswa Kategori Literasi Sangat Rendah Rendah Cukup Baik Data tersebut menggambarkan bahwa mayoritas siswa, yaitu sekitar 62,06%, masih berada pada kategori kemampuan literasi yang rendah, dengan skor di bawah angka 55. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi dan strategi peningkatan literasi yang lebih terarah dan Rendahnya hasil ini juga menegaskan pentingnya kegiatan penguatan literasi di lingkungan sekolah dasar, baik melalui pendekatan pembelajaran interaktif maupun penyediaan sarana membaca yang mendukung, seperti program Pojok Baca. Standar pengelompokan pada nilai literasi pada siswa ditunjukkan dengan siswa dapat memenuhi 11 kompetensi sebagai berikut : Menemukan informasi tersurat . iapa, kapan, di mana, mengapa, bagaiman. pada teks fiksi. Menilai kesesuaian antara ilustrasi dengan isi teks fiksi . Menyimpulkan perasaan dan sifat tokoh serta elemen intrinsik lain seperti latar cerita, kejadian-kejadian dalam cerita berdasarkan informasi rinci di dalam teks fiksi . Menyusun inferensi . untuk menentukan relevansi pertanyaan/pernyataan dengan isi teks pada teks fiksi . Mengaitkan isi teks fiksi dengan pengalaman individual . Mengidentifikasi dan menjelaskan permasalahan yang dihadapi tokoh pada teks fiksi . Menemukan informasi tersurat . iapa, kapan, di mana, mengapa, bagaiman. pada teks . Menyusun inferensi . untuk menentukan relevansi pertanyaan/pernyataan dengan isi teks pada teks informasi . Membandingkan hal-hal utama dalam teks informasi . isalnya perbedaan kejadian, prosedur, ciri-ciri bend. Mengaitkan isi teks informasi dengan pengalaman individual . Menjelaskan ide pokok dan beberapa ide pendukung pada teks informasi Pelaksanaan Program Kegiatan Pojok Baca merupakan salah satu bentuk intervensi literasi yang dirancang untuk menumbuhkan minat baca siswa sejak usia dini, khususnya di jenjang sekolah dasar. Kegiatan ini dirancang sebagai strategi pembelajaran nonformal yang menyenangkan Jurnal Inovasi Terapan Pengabdian Masyarakat JITER-PM Vol. No. Juni 2025. Hal 31Ae36 Noer Laelly Barorroh, et al. dengan menyediakan ruang baca khusus di sudut kelas, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 3a dan Gambar 3b. Ruang tersebut ditata sedemikian rupa agar menarik dan nyaman bagi siswa, dilengkapi dengan beragam jenis buku bacaan yang disesuaikan dengan minat dan tingkat perkembangan kognitif siswa. Pojok Baca dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat, dilakukan sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai. Program ini menyasar siswa kelas 5 sebagai kelompok utama, dengan pertimbangan bahwa pada usia tersebut siswa sudah memiliki kemampuan membaca dasar namun tetap memerlukan stimulasi berkelanjutan untuk memperkuat keterampilan membaca yang lebih Pada Kegiatan ini, setiap siswa diarahkan untuk membaca buku pilihan mereka selama kurang lebih 30 menit. Setelah itu, siswa diminta untuk menyusun resume atau ringkasan dari buku yang telah mereka baca sebagai bentuk pertanggungjawaban dan sarana penguatan pemahaman isi Program ini tidak hanya berfokus pada aspek membaca semata, tetapi juga melibatkan siswa dalam proses perancangan dan implementasi pojok baca. Siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembuatan desain dekoratif ruang baca, penataan buku, serta kegiatan pemeliharaan Pojok Baca. Pendekatan partisipatif ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab siswa terhadap kegiatan literasi di sekolah. Seluruh kegiatan Pojok Baca tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga berhasil menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan kaya akan literasi. Kegiatan ini secara bertahap membangun budaya membaca sebagai bagian dari rutinitas harian siswa, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kompetensi literasi secara menyeluruh dan . Proses Pembuatan Pojok Baca . Hasil Program Pojok Baca Gambar 3. Pojok Baca di Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka Kabupaten Tasikmalaya Jurnal Inovasi Terapan Pengabdian Masyarakat Vol. No. Juni 2025. Hal 31Ae36 Noer Laelly Barorroh, et al. JITER-PM Hasil Post-Tes Assesment Kompetensi Minimum Nilai post-test diperoleh dengan cara siswa menjawab soal. Soal tersebut dibuat oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Pertanyaan dari post-test dan pre-test terdiri dari 11 pengelompokan standar kompetensi literasi dasar untuk siswa sekolah dasar. Siswa akan diminta mengerjakan soal yang berisi mengenai kompetensi literasi dari laman Kemendikbudristek. Tabel 2 menunjukan hasil post-test assesmen kompetensi minimum (AKM) literasi yang diikuti oleh 29 siswa, diperoleh data yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam capaian kemampuan literasi siswa dibandingkan dengan hasil pre-test sebelumnya. 3 siswa atau sebanyak 10,34% siswa memperoleh skor dalam rentang 40Ae55, sementara 7 siswa atau sebanyak 24,13% berhasil mencapai skor antara 60Ae75. 18 orang siswa atau sebesar 62,07% memperoleh nilai tinggi dalam kisaran 80Ae 95, angka tersebut menunjukkan lonjakan cukup tajam dari hasil pre-test, di mana hanya 2 siswa yang berhasil memperoleh skor dalam rentang tersebut. Rentang Skor 0 Ae 35 60Ae75 80Ae95 Total Tabel 2 Hasil post-test nilai AKM Jumlah Siswa Persentase (%) 1 siswa 3,46% 3 siswa 10,34% 7 siswa 24,13% 18 siswa 62,07% 29 siswa Kategori Literasi Sangat Rendah Rendah Cukup Baik Namun, perlu dicatat bahwa terdapat satu siswa yang memperoleh nilai 0. Setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa hal ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan siswa dalam mengerjakan soal, melainkan karena gangguan teknis berupa masalah jaringan dan server yang menyebabkan jawaban siswa tidak tersimpan dalam sistem. Kendala ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan evaluasi berbasis teknologi agar dapat diminimalisasi di masa yang akan datang. Hasil dari keseluruhan, hasil post-test ini menjadi indikator yang kuat bahwa kegiatan Pojok Baca memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi literasi siswa. Peningkatan jumlah siswa yang mampu mencapai skor tinggi menunjukkan bahwa pembiasaan membaca melalui pojok baca berkontribusi dalam mengembangkan kemampuan memahami, menganalisis, dan menyimpulkan informasi tertulis secara lebih baik. Dengan demikian, pendekatan literasi berbasis lingkungan dan kebiasaan membaca yang dilakukan secara terstruktur dapat menjadi solusi nyata dalam menjawab rendahnya tingkat literasi siswa sekolah dasar, khususnya di wilayah Tasikmalaya. Kesimpulan Program Pojok Baca yang dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan dan minat literasi siswa sekolah dasar. Efektifitas tersebut ditunjukkan oleh peningkatan signifikan hasil nilai Assesment Kompetensi Minimum (AKM) literasi setelah kegiatan pojok baca Mayoritas siswa mendapatkan skor di bawah 55 sebelum dilakukan kegiatan Pojok Baca, namun setelah program dijalankan, lebih dari 60% siswa atau sebanyak 18 orang siswa berhasil mencapai skor antara 80Ae95. Score antara 80-90 hanya diperoleh 2 orang siswa sebelum dilakukan program baca dilakukan. Pelaksanaan program dilakukan dalam empat tahap, yakni observasi awal dan pre-test AKM, koordinasi dengan pihak sekolah, implementasi pojok baca, serta post-test AKM. Pojok baca menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan kebiasaan membaca secara menyenangkan dan konsisten, didukung oleh keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan seperti membaca dan membuat resume. Jurnal Inovasi Terapan Pengabdian Masyarakat JITER-PM Vol. No. Juni 2025. Hal 31Ae36 Noer Laelly Barorroh, et al. Seluruh kegiatan ini menunjukkan bahwa intervensi sederhana namun terstruktur dalam bentuk pojok baca dapat menjadi langkah konkret dalam meningkatkan literasi siswa di era digital, terutama di daerah dengan tingkat literasi yang masih rendah seperti Tasikmalaya. Ucapan Terima Kasih Kami selaku pelaksana PkM mengucapkan terima kepada Sekolah Dasar Terpadu Bojong Nangka Kabupaten Tasikmalaya selaku mitra kegiatan PkM ini yang telah mengijinkan para siswa terlibat dalam kegiatan ini. Daftar Pustaka