p-issn 2087 9296 e-issn 2685 6166 IDENTIFIKASI ELEMEN ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN JAMBLANG Kevin Volante . Iwan Purnama a IDENTIFIKASI POLA TATA RUANG PADA BANGUNAN GEDONG DUWUR KABUPATEN INDRAMAYU Nanda Aldiyan. Nurhidayah. Edi Mulyana A. ANATOMI ARSITEKTUR GEDUNG BUNDAR KEBUMEN Rahel Zahra Anindya. Sasurya Chandra A. PERUBAHAN FUNGSI DAN BENTUK ARSITEKTUR PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA SMP NEGERI 15 KOTA CIREBON Moh Machali Hidayatullah. Yovita Adrian a. KONSEP ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF Helmi Nur Riyaman. Sasurya Chandra a. AA. IDENTIFIKASI FASAD BANGUNAN CAGAR BUDAYA GEDUNG CERUTU DI KOTA SURABAYA Rayden Lauwirya Soegiarto. Stephanus Wirawan Dharmatanna. Rully Damayanti . PENGARUH KELEMBABAN RUANG TERHADAP KERUSAKAN PLAFOND Studi Kasus : Ruang Kerja Bidang Penataan Ruang Pada Gedung Dinas PUTR Kabupaten Cirebon Revina Ulfa Giardita . Eka Widiyananto a DESAIN LANSKAP TELAGA SUNDA SEBAGAI KAWASAN EDUTOURISM Rahmat Akhirul Amin. Akhmad Arifin Hadi A. AA. a DARI LOKAL KE SAKRAL : TRANSFORMASI DESAIN GEREJA BERBASIS IDENTITAS LOKAL Bramasta Putra Redyantanu a. STRATEGI DESAIN FAyNADE TERHADAP OPTIMALISASI PENCAHAYAAN ALAMI PADA SDN 02 CIPUTAT. TANGERANG SELATAN Jasmin Lalila. Utami a. PENERAPAN KONSEP EKOLOGI PADA RE-DESAIN TAMAN KOBER DI PURWOKERTO Nesa Indira Jani. Ayu Krisnawati. Wita Widyandini a. EVALUASI PENCAHAYAAN ALAMI UNTUK KENYAMANAN VISUAL STUDI KASUS FOOD COURT DAN CO-WORKING SPACE SEKOLAH VOKASI IPB Diva Nurfadhilah. Nurtati Soewarno. Andri Sopiandi a. VOLUME 17 NOMOR 1 Jl. Evakuasi No. 11 Cirebon. April 2025 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 17 No. 1 April 2025 KATA PENGANTAR Jurnal Arsitektur adalah jurnal yang diperuntukan bagi mahasiswa program studi arsitektur dan dosen arsitektur dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengabdian dengan ruang lingkup penelitian dan pengabdian mengenai ilmu arsitektur diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah,filsafat dan teoti arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur. Hasil kajian dan penelitian dalam Jurnal Arsitektur ini adalah berupa diskursus, identifikasi, pemetaan, tipelogi, review, kriteria atau pembuktian atas sebuah teori pada fenomena arsitektur yang ada maupun laporan hasil pengabdian masyarakat. Semoga hasil kajian dan penelitian pada Jurnal Arsitektur Volume 17 No. 1 Bulan APRIL 2025 ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada keilmuan Hormat Saya. Ketua Editor Eka Widiyananto Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No 1 / April 2025 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 17 No. 1 April 2025 TIM EDITOR Ketua Eka Widiyanant. Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Anggota Sasurya Chandra | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Farhatul Mutia. Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Yovita Adrian. Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Dr. Jimat Susilo ,S. Pd. ,M. Pd | Universitas Gunung Jati Cirebon Ardhiana Muhsin | Institut Teknologi Nasional Bandung Reviewer Dr. Iwan Purnama,ST. ,MT | Prodi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Nurhidayah,ST. ,M. Ars | Prodi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Dr. Adam Safitri,ST. ,MT | Prodi Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Nono Carsono,ST. ,MT | Prodi Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Dr. Ir. Nurtati Soewarno. MT | Prodi Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung Ir. Theresia Pynkyawati. MT | Prodi Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung Wita Widyandini,ST. ,MT | Prodi Arsitektur Universitas Wijayakusuma Purwokerto Alderina Rosalia,ST. ,MT | Prodi Arsitektur Universitas Palangka Raya Iskandar,ST. ,MT | Prodi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Palembang Jurnal Arsitektur p-ISSN 2087-9296 e-ISSN 2685-6166 A Redaksi Jurnal Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd. Lt. 1 Jl. Evakuasi No. Cirebon 45135 Telp. 482196 - 482616 Fax. 482196 E-mail : jurnalarsitektur@sttcirebon. website : http://ejournal. id/index. php/jas Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No 1 / April 2025 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 17 No. 1 April 2025 DAFTAR ISI Kata Pengantar a. Daftar Isi a. IDENTIFIKASI ELEMEN ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN JAMBLANG Kevin Volante . Iwan Purnama a IDENTIFIKASI POLA TATA RUANG PADA BANGUNAN GEDONG DUWUR KABUPATEN INDRAMAYU Nanda Aldiyan. Nurhidayah. Edi Mulyana A. ANATOMI ARSITEKTUR GEDUNG BUNDAR KEBUMEN Rahel Zahra Anindya. Sasurya Chandra A. PERUBAHAN FUNGSI DAN BENTUK ARSITEKTUR PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA SMP NEGERI 15 KOTA CIREBON Moh Machali Hidayatullah. Yovita Adrian a. KONSEP ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF Helmi Nur Riyaman. Sasurya Chandra a. AA. IDENTIFIKASI FASAD BANGUNAN CAGAR BUDAYA GEDUNG CERUTU DI KOTA SURABAYA Rayden Lauwirya Soegiarto. Stephanus Wirawan Dharmatanna. Rully Damayanti . PENGARUH KELEMBABAN RUANG TERHADAP KERUSAKAN PLAFOND Studi Kasus : Ruang Kerja Bidang Penataan Ruang Pada Gedung Dinas PUTR Kabupaten Cirebon Revina Ulfa Giardita . Eka Widiyananto a DESAIN LANSKAP TELAGA SUNDA SEBAGAI KAWASAN EDUTOURISM Rahmat Akhirul Amin. Akhmad Arifin Hadi A. AA. a DARI LOKAL KE SAKRAL : TRANSFORMASI DESAIN GEREJA BERBASIS IDENTITAS LOKAL Bramasta Putra Redyantanu a. STRATEGI DESAIN FAyNADE TERHADAP OPTIMALISASI PENCAHAYAAN ALAMI PADA SDN 02 CIPUTAT. TANGERANG SELATAN Jasmin Lalila. Utami a. PENERAPAN KONSEP EKOLOGI PADA RE-DESAIN TAMAN KOBER DI PURWOKERTO Nesa Indira Jani. Ayu Krisnawati. Wita Widyandini a. EVALUASI PENCAHAYAAN ALAMI UNTUK KENYAMANAN VISUAL STUDI KASUS FOOD COURT DAN CO-WORKING SPACE SEKOLAH VOKASI IPB Diva Nurfadhilah. Nurtati Soewarno. Andri Sopiandi a. Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No 1 / April 2025 IDENTIFIKASI ELEMEN ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN JAMBLANG Kevin Volante 1. Iwan Purnama 2 . Program Studi Arsitektur 1 Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Program Studi Arsitektur 2 Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Email: kevinvol85@gmail. com 1, purnama. ione@gmail. ABSTRAK Rumah tinggal pecinan di Jamblang. Cirebon memiliki elemen arsitektur yang unik dan khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen arsitektur yang terdapat pada rumah tinggal tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung dan wawancara dengan pemilik rumah. Data yang dikumpulkan meliputi gambar, foto, dan catatan lapangan yang dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tinggal di Pecinan Jamblang memiliki beberapa elemen arsitektur khas, seperti atap berbentuk limasan dengan penutup genteng tanah liat, dinding berlapis tembok batu bata, ornamen dekoratif pada bagian atap dan dinding, pola lantai yang berbeda-beda, pola plafon yang terbuat dari kayu, ukiran pada jendela dan pintu, jendela yang berukuran besar dengan bingkai kayu, serta penggunaan material kayu sebagai bahan utama konstruksi. Selain itu, terdapat juga elemen arsitektur yang lebih kompleks, seperti tangga yang terletak di bagian depan rumah dan terbuat dari batu alam. Selain itu, penggunaan warna-warna cerah seperti putih dan cream juga menjadi ciri khas dari rumah tinggal tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai keunikan arsitektur rumah tinggal Pecinan di Cirebon dan dapat menjadi referensi bagi pembaca dalam mempertahankan warisan budaya bangsa Kata kunci : Elemen Arsitektur. Pecinan. Rumah Tinggal. PENDAHULUAN Pecinan merupakan sebuah kawasan atau daerah yang dihuni oleh orang Tionghoa atau keturunan Tionghoa di Indonesia. Kawasan ini seringkali menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi orang Tionghoa di Indonesia. Salah satu kawasan pecinan yang terkenal di Indonesia adalah Pecinan Jamblang, yang terletak di Kabupaten Cirebon. Jawa Barat. Pecinan Jamblang merupakan salah satu kawasan pecinan tertua di Indonesia. Kawasan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-18, ketika para pedagang Tionghoa datang ke Cirebon untuk berdagang. Di Pecinan Jamblang, terdapat banyak bangunan bersejarah yang menjadi bukti keberadaan komunitas Tionghoa di Cirebon. Seperti bangunan-bangunan tradisional yang memiliki arsitektur yang khas, salah satunya adalah rumah tinggal. Pada umumnya, rumah tinggal di pecinan Cirebon memiliki arsitektur yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dan Jawa. Beberapa elemen arsitektur yang dapat diidentifikasi antara lain: Bentuk Rumah Rumah-rumah di Pecinan Jamblang. Cirebon memiliki bentuk yang khas, yakni berbentuk persegi panjang dan memiliki halaman yang luas di bagian depan. Rumah-rumah tersebut juga didominasi oleh warna putih dan emas pada pintu dan jendelanya. Arah Rumah Rumah-rumah di Pecinan Jamblang. Cirebon biasanya menghadap ke barat atau ke timur, hal ini bertujuan untuk menghindari arah angin utara yang dikenal sebagai angin dingin. Material Bangunan Material yang digunakan pada bangunan di Pecinan Jamblang. Cirebon adalah kayu jati dan batu bata. Kayu jati digunakan sebagai rangka atap, jendela, pintu dan kolom. Sedangkan batu bata digunakan sebagai material dinding. Dekorasi Rumah-rumah di Pecinan Jamblang. Cirebon memiliki dekorasi yang kaya akan motif-motif Tionghoa. Dekorasi tersebut terlihat pada pintu, jendela, dan ornament yang terdapat pada dinding Dengan identifikasi elemen arsitektur rumah tinggal Pecinan Jamblang. Cirebon, dapat dilihat bahwa bangunan-bangunan tersebut memiliki karakteristik yang khas dan unik. Bangunan-bangunan tersebut dapat menjadi bahan studi yang menarik bagi arsitek dan mahasiswa arsitektur yang ingin lebih memahami tentang arsitektur tradisional daerah Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 KERANGKA TEORI Arsitektur Pecinan Keunikan arsitektur tradisional Tionghoa atau Cina adalah penggunaan kayu sebagai material konstruksi utama (Kupier, 2. Menurut buku tulisan Gin Djin Su . dijelaskan bahwa karakter arsitektur Cina dapat dilihat pada: Pola tata letaknya, pola tata letak bangunan dan lingkungan merupakan pencerminan keselarasan, harmonisasi dengan alam. Ajaran Konghucu dimanifestasikan dalam bentuk keseimbangan dan harmonisasi terhadap adanya konsep ganda. Keberadaan panggung dan teras depan/balkon, panggung dan teras depan/balkon digunakan sebagai ruang transisi Gambar 2. Atap Hsuan Shan Sumber: Handinoto, 2008 . Hsieh shan gabungan atap pelana dengan atap bubungan miring/perisai yang lebih rendah. Sistem struktur bangunan, sistem struktur merupakan sistem rangka yang khas dan merupakan struktur utama yang mendukung bobot mati atap. Tou-Kung, siku penyangga bagian atap yang di depan . merupakan bentuk yang khas dari arsitektur Cina dan karena keunikannya. ISSN: 2721-8686 SIAR 2020 : Seminar IlmiahArsitektur 13 disebut tou-kung. Merupakan sistem konsol penyangga kantilever bagian teras sehingga keberadaannya dapat dilihat dari arah luar. Ornamen tou-Kung ini akan terlihat jelas pada bangunan-bangunan istana, kuil atau tempat ibadah dan rumah tinggal keluarga kaya. Ujung balok dihiasi dengan kepala singa yang berfungsi menangkal pengaruh roh jahat. Bentuk atap, ada beberapa tipe atap yaitu, wu tien, hsieh han, hsuah han dan ngang shan ti. Studi arkeologis menerangkan bahwa, terdapat dua macam struktur kayu yang memberikan perbedaan besar pada perletakan kolom dan perbedaan sistem. Wu Tien: jenis atap bangunan miring yang dipakai pada istana atau balai-balai penting dengan susunan atap single ataupun double. Gambar 1. Atap Wu Tien sumber: Handinoto, 2008 . Hsuan Shan: tembok samping bangunan berbentuk segitiga dengan atap miring yang didukung 5-8 kaso. Gambar 3. Atap Hsieh Shan Sumber: Handinoto, 2008 . Ngan Shan ti: jenis atap yang ditopang oleh dinding pada tepinya. Gambar 4. Atap Ngan Shan ti Sumber: Handinoto, 2008 Penggunaan warna, umumnya warna yang dipakai adalah warna primer seperti kuning, biru, putih, merah dan hitam yang selalu dikaitkan dengan unsur-unsur alam seperti air, kayu, api, logam dan tanah. Warna putih dan biru dipakai untuk teras, merah untuk kolomdan bangunan, biru dan hijau untuk balok, siku penyangga, dan Warna-warna tersebut di antaranya: Warna . Warna kebahagiaan dan warna kemuliaan. Warna hijau melambangkan kesejahteraan, kesehatan, dan keharmonisan. Warna putih melambangkan kematian dan berduka cita. Warna hitam merupakan warna netral dan digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 . Warna biru gelap juga merupakan warna berduka cita. Gerbang. Gih Djin Su memasukkan pintu gerbang sebagai Ciri Arsitektur Cina, khususnya bangunan rumah tinggal. Pintu gerbang biasanya berhadapan langsung dengan jalan menghadap ke selatan . rientasi bai. Detail balkon, detail balkon atau angin-angin biasanya menggunakan bentuk-bentuk tiruan bunga krisan atau bentuk kura-kura darat, yang memiiki makna panjang umur. Fasad Arsitektur . Menurut Krier dalam Handayani fasad merupakan elemen paling utama untuk mengkomunikasikan fungsi pada sebuah bangunan. Menurut Utami pada saat suatu bangunan dibangun fasad dapat menyampaikan suatu keadaan budaya serta dapat memberikan sebuah kreativitas melalui ornamen dan dekorasi, sehingga memberikan gambaran identitas kolektif sebagai suatu . Menurut Ramadanta komposisi pada suatu fasad dapat dilihat pada fungsionalnya . tap, jendela, pintu, dan sun shadin. , dalam menciptakan kesatuan yang harmonis pada prinsipnya dapat proposional,material, elemen-elemen dekoratif serta unsur vertikal dan horisontal yang . Menurut Lippsmeier dalam Ramadanta komponenkomponen yang dapat mempengaruhi fasad sebuah bangunan adalah atap, dinding, dan lantai. METODE PENELITIAN Metode dalam Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu melakukan analisis dengan menggambarkan dan mendeskripsikan kondisi dan data empiris berupa hasil pengamatan yang terjadi di lapangan. Data literature digunakan sebagai referensi dalam menganalisa kondisi lapangan yang ada. Metode penelitian yang digunakan adalah studi lapangan dan analisis Data dikumpulkan melalui pengamatan lapangan dan wawancara dengan pemilik rumah dan arsitek setempat . Penelitian akan melibatkan analisis terhadap bentuk bangunan pecinan, seperti bentuk atap, pintu, dan jendela yang khas. Identifikasi bahan bangunan tradisional yang umum digunakan dalam konstruksi bangunan pecinan, seperti batu bata merah, kayu, dan keramik, identifikasi ornamen tradisional Tionghoa yang ditemukan pada bangunan pecinan, seperti ukiran kayu, lukisan, dan ukiran batu serta pengaruh budaya lain yang tercermin dalam ornamen arsitektur pecinan, seperti motif Islam atau gaya Barat yang diadopsi oleh komunitas Tionghoa. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa Metode yang digunakan kali ini adalah observasi langsung dan wawancara dengan pemilik rumah tinggal tersebut. Data yang dikumpulkan meliputi gambar, foto, dan catatan lapangan. PEMBAHSAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di wilayah kawasan pecinan Jamblang Kab. Cirebon yaitu sepanjang Jalan Niaga 1. Jalan Niaga 2, dan Jalan Niaga Tengah 3. Gambar 5 : Peta Jamblang Sumber : Google Earth . Gambar 6 : Lokasi Sample Penelitian Sumber : Google Earth . Bangunan Rumah Tinggal A Pintu Jenis pintu bagian luar yang dipakai pada bangunan ini adalah pintu engsel berbentuk persegi panjang dengan letak engsel yang berada di atas, tengah, dan bawah pintu. Lalu diatas daun pintu terdapat bouvenling atau sirkulasi angin yang membentuk pola rangkanya tersendiri juga sistem penguncian pada pintu ini menggunakan sambungan kayu yg berada di daun pintu sebagai kuncinya. Untuk ukurannya sendiri yaitu tingginya sekitar 310cm lebar 180cm dan tebal kusennya sekitar 15cm. Sedangkan Jenis pintu bagian dalam bangunan ini berbeda dengan jenis pintu diluarnya. Jenis pintu yang dipakai adalah pintu kosong atau blong Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 dimana terdapat bagian unik dari pintu ini yaitu terdapat kusen pada bagian bawah pintu yang dimana berbeda pada pintu umum lainnya. Ukuran pintu ini memiliki tinggi sekitar 220cm lebar 90cm dan tebal kusen 15cm. Gambar 7 : Pintu Luar Bangunan A Sumber : dok. Jendela yang dipakai bangunan ini pada bagian dalam adalah jendela engsel dan jendela kosong atau blong yang dimana untuk jendela engsel terdapat dua buah daun jendela dan dua buah engsel yg berada di atas dan bawah jendela serta terdapat list repetisi besi yang berada didalam kusen juga terdapat bouvenling diatas jendela dengan pola bujur sangkar. Untuk ukurannya sendiri memiliki tinggi 120cm lebar 80cm dan tebal kusen 10cm. Lantai Pola lantai pada bangunan ini berbentuk geometris yang direpetisi dalam bentuk persegi sehingga memberikan kesan yang proporsi disetiap sisinya. Dengan ukuran lantai 32x32cm dan jarak spesi antara 10mm Ae 12mm serta memiliki ketebalan sekitar Material lantai yang digunakan pada bangunan ini adalah lantai ubin batu alam yang memiliki tekstur kasar dan padat, lalu jika dilihat dari kondisi fisiknya diperkirakan lantai ubin ini sudah memiliki umur yang cukup lama karena kondisinya yg sudah usang dan ada beberapa lantai ada yg sudah Gambar 8 : Pintu dalam Bangunan A Sumber : dok. Material Pintu yang digunakan pada bangunan ini adalah kayu jati sehingga karna sifat dari kayu jati yang tahan lama, kuat, dan juga pada keseluruhan pintu dicat berwarna biru mungkin dimaksudkan agar tidak ada rayap sehingga pintu yang diperkirakan sudah memiliki usia yang cukup lama ini dapat bertahan dan masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Gambar 10 : pola lantai dan material pada Sumber : dok. Atap Jendela Gambar 9 : Jendela dalam Bangunan A Sumber : dok. Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 Gambar11: Atap dalam Bangunan A Sumber : dok. Jenis Atap yang dipakai pada bangunan ini adalah atap pelana dan jika kita mengambil informasi dari buku tulisan Gin Djin Su . dijelaskan bahwa karakter arsitektur Cina khususnya pada bagian atap dapat dilihat kemiripan pada bagian atapnya dan bubungannya yg berjenis Ngan Shan ti. Bangunan Rumah Tinggal B Pintu Jenis pintu yang dipakai adalah pintu engsel dengan dua buah daun pintu serta memiliki tiga engsel pada bagian atas, tengah, dan bawah pintu. Pola dari motif list atau rangka pada pintu juga berbeda-beda dan terdapat kusen bawah pada pintu luar ini yg berbeda dengan pintu umumnya juga sistem penguncian pada pintu ini masih menggunakan sambungan kayu sebagai Untuk ukurannya sendiri yaitu memiliki tinggi sekitar 230cm dan lebar sekitar 180cm dan tebal kusennya sekitar 15cm. yang berada di kiri dan kanan jendela dan empat buah engsel yg berada di masing-masing kiri dan kanan jendela serta terdapat pola repetisi dari kaca daun jendela yang membentuk tiga bagian kaca dalam satu daun jendela. Untuk ukurannya sendiri memiliki tinggi sekitar 140cm lebar sekitar 120cm dan tebal kusen 10cm. Gambar13: Jendela Luar pada Bangunan B Sumber : dok. Gambar14: Jendela Dalam Pada Bangunan B Sumber : dok. Gambar12: Pintu Bangunan B Sumber : dok. Material Pintu yang digunakan pada bangunan ini adalah kayu jati sehingga karna sifat dari kayu jati yang tahan lama, kuat, dan juga pada keseluruhan pintu dicat berwarna hijau muda dimaksudkan agar tidak ada rayap sehingga pintu yang diperkirakan sudah memiliki usia yang cukup lama ini dapat bertahan dan masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Jendela Jendela yang dipakai bangunan ini pada bagian luar adalah jendela engsel yang dimana untuk jendela engsel terdapat dua buah daun jendela yang berada di atas dan bawah jendela dan empat buah engsel yg berada di masing-masing atas dan bawah jendela serta terdapat pola repetisi dari kayu daun jendela yang berarah vertikal juga untuk jendela ini menempel dibagian kanan maupun kiri pintu. Untuk ukurannya sendiri memiliki tinggi 120cm lebar sekitar 220cm dan tebal kusen 10cm. Sedangkan pada bagian dalam adalah jendela engsel dan bouvenling yang dimana untuk jendela engsel terdapat dua buah daun jendela Lantai Pada dasarnya pola lantai dalam pada bangunan ini adalah geometris yang direpetisi dalam bentuk persegi tetapi dalam pemasangan lantai ini tidak prosporsi sehingga membuat lantai satu dengan lantai lainnya tidak seimbang. Lantai ini memiliki ukuran 38x38cm dan jarak spesi sekitar 10mm-12mm serta memiliki ketebalan sekitar 10mm. Pola lantai luar bangunan ini berbentuk zigzag dalam bentuk persegi yang direpetisi seperti menyusun bata pada dinding sehingga seperti memberikan irama pada sebuah Lantai ini memiliki ukuran 41x41cm dan jarak spesi sekitar 12mm - 15mm serta ketebalan sekitar Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 Gambar15: pola Lantai Pada Bangunan B Sumber : dok. Material yang digunakan pada lantai bangunan ini ada dua jenis yaitu lantai ubin tanah liat untuk bagian luar dan lantai ubin batu alam untuk bagian dalamnya untuk tekstur permukaan lantainya kasar dan padat sehingga dapat disimpulkan bahwa lantai ini memiliki berat diatas rata-rata lantai pada umumnya. Atap Sama seperti jenis atap yang dipakai pada bangunan sebelumnya adalah atap pelana dan jika kita mengambil informasi dari buku tulisan Gin Djin Su . dijelaskan bahwa karakter arsitektur Cina khususnya pada bagian atap dapat dilihat kemiripan pada bagian atapnya yg berjenis Ngan Shan ti. Material Pintu yang digunakan pada bangunan ini adalah kayu jati sehingga karna sifat dari kayu jati yang tahan lama, kuat, dan juga pada keseluruhan pintu dicat berwarna cream dimaksudkan agar tidak ada rayap. Untuk kondisi fisiknya masih terawat dan berfungsi dengan baik diperkirakan pernah dilakaukan pemeliharaan secara rutin sehingga masih terlihat baru. Jendela Jendela yang dipakai bangunan ini pada bagian luar adalah jendela engsel yang dimana untuk jendela engsel terdapat empat buah daun jendela yang berada di atas, bawah, kiri, dan kanan jendela dan dua buah engsel yg berada di masing-masing daun jendela serta terdapat bouvenling pada bagian atas jendela yang membentuk pola bujur sangkar dan segitiga juga untuk jendela ini menempel dibagian kanan maupun kiri fasad depan bangunan. Untuk ukurannya sendiri memiliki tinggi sekitar 110cm lebar sekitar 150cm dan tebal kusen 5cm. Gambar16: Bentuk Atap Pada Bangunan B Sumber : dok. Gambar18 : Jendela dalam dan Luar Pada Bangunan C Sumber : dok. Bangunan Rumah Tinggal C Pintu Jenis pintu yang dipakai adalah pintu engsel dengan satu buah daun pintu serta memiliki tiga engsel pada bagian atas, tengah, dan bawah pintu. Terdapat juga pola dari motif list atau rangka pada daun pintu lalu untuk sistem penguncian pada pintu ini menggukan gagang pintu sebagai system pengunciannya. Untuk ukurannya sendiri yaitu memiliki tinggi sekitar 210cm dan lebar sekitar 90cm dan tebal kusennya sekitar 5cm. Lantai Pola lantai pada bangunan ini berbentuk geometris yang direpetisi dalam bentuk persegi sehingga memberikan kesan yang proporsi disetiap sisinya. Dengan ukuran lantai 25x25cm dan jarak spesi antara 5mm-10mm serta memiliki ketebalan sekitar 10mm. Gambar19 : Pola Lantai Pada Bangunan C Sumber : dok. Gambar17 : Pintu dalam dan luar Pada Bangunan C Sumber : dok. Material lantai yang digunakan pada bangunan ini adalah lantai ubin batu alam yang memiliki tekstur permukaan lantainya halus, licin, dan padat lalu jika dilihat dari kondisi fisiknya lantai ini masih terawat dengan baik diperkirakan sudah ada perbaikan atau pemasangan ulang lantai pada bangunan yang satu Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 Atap Jenis Atap yang dipakai pada bangunan ini adalah atap pelana dan jika kita mengambil informasi dari buku tulisan Gin Djin Su . dijelaskan bahwa karakter arsitektur Cina khususnya pada bagian atap dapat dilihat kemiripan pada bagian kemiringan atapnya dan bubungannya yg berjenis Hsuan shan. juga memiliki total empat engsel yang berada di atas dan bawah disetiap sampingnya terdapat juga bouvenling diatasnya yang memiliki pola rangka seperti tumbuhan. Memiliki ukuran tinggi sekitar 140cm lebar 120cm dan tebal kusen 5cm. Sedangkan bagian dalam sama dengan jendela engsel yg diluar dimana terdapat dua daun jendela beserta penutup jendela disetiap masing-masing daun jendela juga memiliki total empat engsel yang berada di atas dan bawah disetiap sampingnya terdapat juga bouvenling diatasnya yang memiliki pola rangka seperti Memiliki ukuran tinggi sekitar 140cm lebar 120cm dan tebal kusen 5cm. Tetapi jika dilihat dari dalam kaca yang terdapat pada daun jendela akan bersinar dan memiliki warna yang beragam hal ini disebabkan karna material yg digunakan adalah kaca Gambar 20: Bentuk Atap Pada Bangunan C Sumber : dok. Bangunan Rumah Tinggal D Pintu Jenis pintu yang dipakai adalah pintu engsel yang berwarna putih juga terdapat dua buah daun pintu dan dua buah penutup pintu terdapat juga list repetisi kayu pada daun penutup pintu yang membuat nuansa seperti model pintu jaman dahulu dan juga pada daun pintu terdapat model repetisi kaca. Unruk ukurannya sendiri tingginya sekitar 210cm lebar 120cm dan tebal kusennya sekitar 5cm. Gambar 22: Jendela Luar Pada Bangunan D Sumber : dok. Gambar 23: Jendela Dalam Pada Bangunan D Sumber : dok. Gambar 21: Pintu Dalam dan Luar Pada Bangunan D Sumber : dok. Jendela Jendela yang dipakai bangunan ini pada bagian luar ada dua jenis yaitu jendela engsel dan jendela kosong atau blong, untuk jendela kosong memiliki rangka besi yang membuat pola garis horizontal dan vertikal, sedangkan untuk jendela engsel terdapar dua daun jendela beserta penutup jendela disetiap masing-masing daun jendela Material Jendela pada keempat bangunan diatas adalah penggunaan kayu sebagai kusen atau daun jendela dan pewarnaan jendela seperti biru, hijau muda, dan cream serta penggunaan kaca sebagai elemen arsitekturnya yang dimana penempatan kaca pada jendela ini membuat pola repetisi yg uniki pada masing-masing jendela lalu penggunaan list besi atau railing untuk bouvenling juga sering diterapkan pada bangunan diatas. Lantai Pola lantai luar pada bangunan ini adalah mozaik yang direpetisi dalam bentuk persegi sehingga membentuk motif atau corak yang indah pada lantai. Lantai ini memiliki ukuran 30x30cm dan jarak spesi sekitar 5mm serta memiliki ketebalan sekitar 10mm. Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 sedangkan untuk bagian dalam berbentuk geometris yang direpetisi dalam bentuk persegi sehingga memberikan kesan yang proporsi disetiap sisinya. Lantai ini memili ukuran yang sama dengan lantai luar yaitu 30x30cm dan jarak spesi sekitar 5mm serta memiliki ketebalan sekitar 10mm. Gambar 24: Pola Lantai Luar Pada Bangunan D Sumber : dok. Gambar 25: Pola Lantai Dalam Pada Bangunan D Sumber : dok. Material lantai yang digunakan pada bangunan ini adalah lantai ubin batu alam yang memiliki tekstur permukaan lantainya halus, licin, dan padat lalu jika dilihat dari kondisi fisiknya lantai ini masih terawat dengan baik diperkirakan sudah ada perbaikan atau pemasangan ulang pada lantai ini. Atap Jika dilihat dari atas bangunan ini memakai jenis atap pelana dan karena atap pada bangunan ini dikelilingi oleh dinding beton dengan model ukiran seperti bangunan kolonial peninggalan belanda, dinding ini juga cukup tinggi sehingga atapnya tidak bisa dilihat dari permukaan jalan. Gambar 26: Bentuk Atap Pada Bangunan D Sumber : dok. Dari semua bangunan yang diteliti material yang digunakan sebagai penutup atapnya adalah genting dari tanah liat dan jika dilihat dari kondisi fisiknya rata-rata genting yang dipakai sudah berumur dan berlumut untuk tekstur dari penutup atap ini sama seperti genting pada umumnya yaitu kasar dan padat juga hampir disetiap rumah pada bagian atapnya terdapat talang air baik itu dari bahan seng ataupun pipa pada bagian atas atap juga terdapat mustaka atap dan bubungan atap. PENUTUP Berdasarkan hasil dari analisis dan data yang diperoleh dapat dikatakan bahwa rumah tinggal di pecinan jamblang ini masih kental akan budaya-budaya Tionghoa elemen-elemen Adapun beberapa penerapan ciri khas Tionghoa yaitu : Identitas budaya: Rumah tinggal di pecinan jamblang memiliki elemen arsitektur yang mencerminkan kekayaan budaya Tionghoa. Dengan ciri khas yang unik, seperti ornamen tradisional, dan warna-warna cerah seperti biru, hijau, cream, dan putih. Yang dimana rumahrumah ini berfungsi sebagai penjaga identitas budaya pecinan yang khas. Kesinambungan antara bangunan dengan alam sekitar: Rumah tinggal di Pecinan cenderung memiliki halaman dan taman yang luas, serta penggunaan material alami seperti kayu dan batu. Hal ini memungkinkan hubungan antara rumah dengan alam sekitarnya dan menciptakan suasana yang nyaman dan sejuk di dalam rumah. Struktur yang kokoh: Bangunan rumah tinggal di pecinan umumnya dibangun dengan struktur yang kokoh dan tahan lama. Kombinasi antara pondasi yang kuat dan penggunaan material berkualitas tinggi membantu rumah ini bertahan selama berabad-abad. Simbolisme dan makna: Setiap elemen arsitektur dalam rumah tinggal di pecinan jamblang seringkali memiliki makna simbolis dan Misalnya, simbol tumbuhan pada pola rangka atau railing pada daun jendela atau pola lainnya yang sering muncul pada patung-patung dan ukiran, yang dimana simbol atau ukiran tersebut bisa saja terdapat arti dan maknanya Penelitian tentang elemen-elemen arsitektur pada rumah tinggal di pecinan jamblang ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai tradisional Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 17 / No. 1 / April 2025 dalam arsitektur. Selain itu, penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya pengaruh budaya dan lingkungan dalam menciptakan rumah tinggal yang selaras dan berfungsi dengan baik bagi penghuninya. DAFTAR PUSTAKA