Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Alih Wahana Film ke Novel Sebagai Salah Satu Materi Ajar Bahasa Indonesia di Sekolah Siti Asmaul Husna1*. Eka Sofia Agustina1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lampung ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Alih wahana sebagai sebuah medium pengekspresi produk karya sastra saat ini menjadi sangat diperhatikan oleh para pencipta sastra, penggiat sastra, dan praktisi bahasa Indonesia. Alih wahana dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia ditujukan sebagai salah satu alternatif materi ajar yang bisa dibelajarkan kepada peserta didik. Alih wahana sebagai bahan ajar dalam Kurikulum Merdeka merupakan konsep yang mengacu pada penggunaan berbagai sumber dan media sebagai sarana pembelajaran untuk mendukung pendidikan yang lebih fleksibel dan relevan. Kurikulum Merdeka menekankan pada adaptasi dan inovasi dalam proses pembelajaran, sehingga alih wahana atau penggunaan sumber daya alternatif menjadi penting. Kajian ini berfokus mendeskripsikan konsep pembelajaran alih wahana film ke novel sebagai salah satu materi ajar bahasa Indonesia jenjang SMA yang merujuk pada Kurikulum Merdeka pada fase E. Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah dengan pendekatan kualitatif dan desain kajian pustaka . iterature revie. terkait penelitian alih wahana. Alih wahana film ke novel sebagai medium pengekspresi karya sastra memiliki peran penting dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia seperti materi digital, simulasi, dan pengalaman langsung, proses pembelajaran menjadi lebih dinamis, kontekstual, dan dapat memenuhi kebutuhan individu peserta didik. Konsep ini mendukung prinsip-prinsip kurikulum merdeka yang menekankan pada kemandirian dan kreativitas peserta didik serta keterkaitan antara teori dan praktik dalam pendidikan. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Alih Wahana. Materi Ajar Sastra. Kurikulum Merdeka This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Siti Asmaul Husna Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. Kota Bandar Lampung. Lampung 35141. Indonesia Email: 21179gsitiasmaul@gmail. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki peran sentral dalam pendidikan di Indonesia. Pembelajaran bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami dan menghargai budaya serta sastra Indonesia. Kurikulum Merdeka yang diterapkan dalam pendidikan saat ini menekankan pada pengembangan kompetensi peserta didik secara holistik, termasuk kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum merdeka bertujuan guna meningkatkan keterampilan berkomunikasi, pemahaman budaya, serta apresiasi terhadap karya sastra. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Sastra merupakan hasil kebudayaan yang dituntut adaptif mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan zaman. Salah satu tanda perkembangan dan kemajuan dalam kesusastraan Indonesia ialah bentuk karya sastra yang tidak lagi menjadi konvensional atau hadirnya proses alih wahana dalam publikasi produk sastra Indonesia. Menurut (Damono, 2. alih wahana merupakan peralihan dari satu jenis karya seni ke jenis lainnya. Alih wahana menjadi salah satu bentuk perkembangan sastra yang berupa pengalihan dari suatu karya menjadi karya yang lain. Sastra dan film merupakan media yang sangat dekat dengan masyarakat yang tentunya memiliki tanggung jawab penting untuk memberi makna positif terhadap penikmatnya, makna akan nilai-nilai sosial budaya, nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai kemanusiaan, serta nilai-nilai humanisme yang diperlukan bagi kehidupan manusia (Nugraha, 2. Melalui sastra dan film, berarti manusia menikmati pelajaran hidupnya Leavis mengemukakan bahwa setiap penulis kreatif yang utama mengetahui bahwa dalam suatu karya menggambarkan pemikiran akan kehidupan dan setiap karya memberi sumbangan ke arah keutuhan kehidupan tersebut (Eneste, 1. Oleh karena itu, sastra dan film memiliki potensi kuat yang dimanfaatkan sebagai media yang efektif dalam pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada kompetensi peserta didik untuk berbahasa dan berapresiasi sastra. Salah satu bentuk pengapresiasian sastra ialah alih wahana film ke novel sebagai materi pembelajaran di sekolah. Bila ditinjau daru segi tujuan pendidikan, pembelajaran sastra bertujuan untuk mengenalkan peserta didik pada makna yang terdapat dalam sebuah karya sastra dan mendorong peserta didik untuk menghayati kesan yang tersaji dalam sebuah karya sastra (Agustina, 2. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidik perlu mengasah kreativitas peserta didik namun dengan suasana belajar yang menarik dan mengesankan bagi peserta didik. Merujuk pada capaian pembelajaran yang dikembangkan dalam Kurikulum Merdeka berdasarkan Keputusan Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek Nomor 033/H/KR/2022 dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pada akhir fase E bahwa AuPeserta didik mampu mengalihwahanakan satu teks ke teks lainnya untuk tujuan ekonomi kreatifAy(BSKAP, 2. Dalam konteks pendidikan, alih wahana merupakan proses transformasi dari satu bentuk media ke bentuk lain, yang dalam hal ini adalah dari film ke Proses ini tidak hanya meningkatkan keterampilan berbahasa, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Alih wahana film ke novel sebagai materi ajar memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Dengan menganalisis elemen-elemen cerita dalam film dan mengadaptasinya menjadi teks novel, peserta didik dapat belajar mengenai struktur naratif, karakterisasi, dan Hal tersebut juga mendorong peserta didik untuk memahami makna yang lebih dalam dari cerita yang mereka tonton, serta bagaimana cara menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Penelitian ini memaparkan bagaimana alih wahana film ke novel sebagai salah satu materi ajar bahasa Indonesia di sekolah dalam dimensi Kurikulum Merdeka. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Desain dalam penelitian ini menggunakan kajian pustaka . iterature revie. Penulis mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dengan mengkaji sumber-sumber yang relevan terkait dengan penelitian alih wahana film ke novel dan pembelajaran bahasa Indonesia jenjang SMA dalam ruang Kurikulum Merdeka. Peneliti dalam mengkaji dan menelaah fokus penelitian tersebut di antaranya menggunakan buku, artikel jurnal, artikel prosiding, serta peraturan perundang-undangan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia yang mengacu pada Kurikulum Merdeka. Dalam penelitian, studi pustaka dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, mengumpulkan pustaka atau referensi serta melakukan penyaringan pustaka yang didapatkan (Adlini et al. , 2. Selanjutnya, data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabulasi data dan dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Alih wahana atau adaptasi dari satu bentuk media ke bentuk media lainnya, merupakan materi ajar yang sangat relevan dalam konteks Kurikulum Merdeka di SMA. Kurikulum Merdeka mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan kreatif, dan alih wahana bisa menjadi alat yang efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki peran sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, mengembangkan kreativitas dan daya kritis, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkolaborasi (Aulia dan Gumilar, 2. Bahasa Indonesia dalam ruang pembelajaran formal berada pada setiap jenjang satuan pendidikan di Indonesia mulai dari PAUD. SD. SMP, dan SMA hingga perguruan tinggi. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia akan sangat melekat dengan regulasi yang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X mengaturnya yaitu pemberlakuan sebuah kurikulum (Agustina, 2. Saat ini sistem pendidikan nasional sedang mengoptimalkan pemberlakuan pelaksanaan Kurikulum Merdeka sebagai penyempurna dari Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam dan pada pelaksanaannya kurikulum merdeka dilakukan dengan mengoptimalkan konten agar peserta didik memiliki waktu yang cukup dalam mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka dikaitkan dengan dimensi pencapaian Profil Pelajar Pancasila, antara lain . Beriman. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. Berkebhinekaan Global. Bergotong-royong. Mandiri. Bernalar Kritis. dan Kreatif. Pembelajaran bahasa Indonesia di SMA dalam dimensi kurikulum merdeka berada pada akhir Fase E yang sangat identik dengan penguasaan empat keterampilan berbahasa yang melekat pada materi ajarnya. Keterampilan berbahasa tersebut terdiri atas keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam rumusan Kurikulum Merdeka empat keterampilan berbahasa tersebut dirincikan dengan keterampilan memirsa dan mempresentasikan (Agustina, 2. Berdasarkan pada BSKAP . tentang capaian pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia menjelaskan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan reseptif . enyimak, membaca dan memirs. dan kemampuan produktif . erbicara dan mempresentasikan, menuli. Adapun Capaian Pembelajaran bahasa Indonesia pada fase E jenjang SMA dijelaskan BSKAP sebagai berikut. Tabel 1. Kompetensi yang Dikembangkan dalam Capaian Pembelajaran Fase E Indikator Keterampilan Capaian Pembelajaran Menyimak Peserta didik mampu mengevaluasi dan mengkreasi informasi berupa gagasan, pikiran, perasaan, pandangan, arahan atau pesan yang akurat dari menyimak berbagai jenis teks . onfiksi dan fiks. dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara. Membaca dan Memirsa Berbicara Mempresentasikan Peserta didik mampu mengevaluasi informasi berupa gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan dari berbagai jenis teks, misalnya deskripsi, laporan, narasi, rekon, eksplanasi, eksposisi dan diskusi, dari teks visual dan audiovisual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat. Peserta didik menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan simpati, peduli, empati dan/atau pendapat pro/kontra dari teks visual dan audiovisual secara kreatif. Peserta didik menggunakan sumber lain untuk menilai akurasi dan kualitas data serta membandingkan isi teks. Peserta didik mampu mengolah dan menyajikan gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan untuk tujuan pengajuan usul, perumusan masalah, dan solusi dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara secara logis, runtut, kritis, dan kreatif. Peserta didik mampu mengkreasi ungkapan sesuai dengan norma kesopanan dalam berkomunikasi. Peserta didik berkontribusi lebih aktif dalam diskusi dengan mempersiapkan materi diskusi, melaksanakan tugas dan fungsi dalam diskusi. Peserta didik mampu mengungkapkan simpati, empati, peduli, perasaan, dan penghargaan secara kreatif dalam bentuk teks fiksi dan nonfiksi multimodal. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Menulis Peserta didik mampu menulis gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan tertulis untuk berbagai tujuan secara logis, kritis, dan kreatif dalam bentuk teks informasional dan/atau Peserta didik mampu menulis teks eksposisi hasil penelitian dan teks fungsional dunia kerja. Peserta didik mampu mengalihwahanakan satu teks ke teks lainnya untuk tujuan ekonomi kreatif. Peserta didik mampu menerbitkan hasil tulisan di media cetak maupun digital. (Sumber: Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementrian Pendidikan. Kebudayaan. Riset. Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran menekankan pada capaian pembelajaran yang inklusif dan Salah satu capaian yang relevan adalah AuPeserta didik mampu mengalihwahanakan satu teks ke teks lainnya untuk tujuan ekonomi kreatif. Ay Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum merdeka mendukung pengembangan kompetensi komunikatif dan kreatif peserta didik melalui berbagai bentuk media. Dengan demikian, alih wahana film ke novel dapat menjadi metode yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Alih Wahana Film ke Novel Alih wahana merupakan proses transformasi suatu jenis karya seni ke jenis kesenian lainnya. Selaras dengan hal tersebut, (Damono, 2. mengartikan alih wahana sebagai perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lainnya. Menurut Damono, wahana diartikan sebagai kendaraan suatu karya seni atau sastra yang dapat mengalihkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam konteks ini, wahana berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan, mengekspresikan, dan menampilkan gagasan atau perasaan. Proses alih wahana mencakup kegiatan seperti penerjemahan, penyaduran, dan pemindahan satu jenis kesenian ke jenis kesenian Pada perkembangan kesusastraan Indonesia, alih wahana tidak hanya melibatkan pengalihan bahasa, tetapi melibatkan pengalihan bentuk keseniannya juga. Damono . mengidentifikasi beberapa istilah terkait alih wahana antara lain, ekranisasi . engalihan karya sastra ke dalam fil. , de-ekranisasi atau novelisasi . engalihan film ke dalam bentuk karya sastr. , musikalisasi puisi . engalihan puisi ke dalam bentuk musi. , dan dramatisasi . engalihan karya seni ke dalam dram. Oleh karena itu, transisi antara film dan novel, baik dari film ke novel maupun sebaliknya dapat disebut sebagai bentuk alih wahana. Alih wahana film ke novel atau disebut juga sebagai de-ekranisasi, adaptasi, atau novelisasi ialah perubahan dari karya seni ke dalam bentuk karya sastra. Alih wahana film ke novel merupakan proses transformasi dari tradisi lihat dengar . yaitu dalam kemasan teknologi . elisanan tingkat kedu. dikemas dalam bentuk budaya baca-tulis dalam hal ini yaitu novel (Saputra, 2. Dalam proses alih wahana tersebut perlu adanya pertimbangan beberapa aspek baik dari segi peristiwa, tokoh, maupun latar. Hal tersebut dapat terjadi karena media film yang merupakan sebuah cerita dengan durasi terbatas dikembangkan menjadi kisah yang lebih panjang melalui imajinasi pengarang yang tak terbatas, tetapi tanpa mengubah inti atau maksud cerita yang Pengubahan suatu jenis kesenian ke bentuk kesenian lain, khususnya alih wahana film ke novel tentu sudah tidak asing lagi. Alih wahana dapat terjadi karena adanya potensi ketenaran sebuah film atau antusiasme dari penonton (Permatasari, 2. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fenomena alih wahana tidak lepas dari ketenaran awal suatu karya sehingga menjadi pijakan karya selanjutnya untuk menjadi tenar juga. Sebagai contoh, fenomena alih wahana pada film Biola tak Berdawai yang disutradarai oleh Ayu Asmara. Film tersbeut mendapatkan penghargaan kategori AuAktris TebaikAy di Asia-Pasific Film Festival Award tahun 2003 dan kategori AuPenulis Skenario TerpujiAy pada tahun 2004. Selanjutnya, novel Biola tak Berdawai dialihwahanakan menjadi novel oleh Seno gumira Adjidarma dan berdasarkan data dijelaskan bahwa novel tersebut sudah dipesan 12. eksemplar sebelum novel tersebut diterbitkan (Mahramis, 2. Selain demi memeroleh ketenaran yang sama dengan filmnya, alih wahana juga dilakukan sebagai bagian dari promosi film. Berdasarkan aspek yang melatarbelakangi terjadinya proses alih wahana, (Permatasari, 2. menyebutkan bahwa terdapat tiga tujuan adanya proses alih wahana film ke dalam novel, . sebagai bahan promosi film, novel yang dibuat dari adaptasi sebuah film dibuat sebagai penunjang dalam memperkenalkan film tersebut kepada khalayak, . novel dibuat sebagai buku pelengkap film, hal tersebut bertujuan agar khalayak mengetahui detail-detail dari film tersebut dan menyajikan suatu hal yang baru sehingga khalayak dapat mengetahui sisi lain yang tak sempat diungkapkan dalam film karena adanya keterbatasan durasi, . tujuan adanya alih wahana film ke novel bertujuan untuk memeroleh popularitas yang sama berdasarkan filmnya dan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X dengan harapan memeroleh keuntungan yang besar sama seperti filmnya. Adapun karya-karya dari proses alih wahana film ke novel dalam kesusastraan Indonesia banyak ditemui, berikut karya-karya alih wahana film ke dalam novel. Film Ada Apa dengan Cinta? sutradara Rudi Soedjarwo Tabel 2. Karya Alih Wahana Film ke dalam Novel Tahun Tahun Novel Ringkasan Rilis Terbit April 2002 Ada Apa Menggambarkan kisah cinta remaja dan perjuangan untuk mencapai impian. Film dan Cinta? karya novel Ada Apa dengan Cinta? menekankan Andrea pentingnya impian dan aspirasi dalam hidup Hirata remaja serta nilai-nilai cinta dan persahabatan. Biola tak Berdawai Sekar Ayu Asmara November Biola tak Berdawai karya Seno Gumira Adjidarma November Film dan novel ini mengisahkan tentang seorang musisi yang kehilangan makna hidupnya berjuang menemukan kembali semangatnya melalui musik. Menggambarkan pentingnya pendidikan seni bagi seseorang dalam menyalurkan emosi dan mengembangkan Rindu Kami Pada-Mu Garin Nugroho Rindu Kami Pada-Mu karya Garin Nugroho dan Islah Gusmian Film dan novel Rindu Kami Pada-Mu mengisahkan tentang sekelompok remaja yang merindukan sosok pendidik mereka yang telah Mereka berusaha menemukan kembali nilai-nilai kehidupan dan pelajaran yang telah Film dan novel ini menekankan pentingnya menghargai pengajaran dan pengalaman yang diperoleh dari pendidik, serta nilai-nilai persahabatan dan kerinduan yang membentuk karakter remaja. Brownies Hanung Bramantyo September Brownies karya Risa Saraswati Mengisahkan tentang persahabatan dan cinta di kalangan remaja yang menghadapi berbagai Menekankan nilai-nilai persahabatan, kejujuran, dan kerja sama dalam pendidikan sosial dalam kehidupan. Naga Bonar Jadi 2 Deddy Mizwar April 2007 Naga Bonar Jadi 2 karya Akmal Nasery Basral April 2007 Mengisahkan kelanjutan perjalanan Naga Bonar yang berjuang untuk cinta dan kemerdekaan yang menggambarkan nilai kepemimpinan dan tanggung jawab. Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya nilai perjuangan dan nasionalisme. Sang Pencerah Hanung Bramantyo September Sang Pencerah Akmal Nasery Desember Mengisahkan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Film dan novel Sang Pencerah menyampaikan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas untuk membentuk karakter remaja yang peduli pada masyarakat. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Kartini Hanung Bramantyo April 2017 Kartini karya April 2017 Abidah El Khalieqy Mengisahkan kehidupan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Kaitan dengan pendidikan menyoroti pentingnya pendidikan perempuan untuk meningkatkan kesadaran remaja tentang kesetaraan gender. Susah Sinyal Ernest Prakasa Desember Februari Kisah dua sahabat yang terpisah oleh jarak dan teknologi, berjuang untuk tetap terhubung. Menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif di era digital bagi remaja, serta dampak teknologi terhadap hubungan sosial. Yuni sutradara Kamila Andini Desember AuSusah SinyalAy ditulis karya Ika Natassa dan Ernest Prakasa Yuni karya Ade Ubaidil Januari Mengisahkan seorang gadis remaja yang mencari identitas diri dan menghadapi dilema Menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pengembangan diri untuk membantu remaja dalam menghadapi tekanan sosial dan menemukan jati diri. Merujuk pada data karya alih wahana film ke novel dalam karya sastra Indonesia membuktikan bahwa perkembangan sastra Indonesia amat pesat mengikuti kemajuan perkembangan zaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa sastra Indonesia terus beradaptasi dengan media baru dan kebutuhan masyarakat. Fenomena alih wahana film ke dalam bentuk novel tidak hanya memperluas jangkauan audiens tetapi juga memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengeksplorasi tema, alur, serta karakter dengan lebih mendalam. Berdasarkan tabel karya alih wahana, film dan novel memiliki nilai-nilai yang dapat diajarkan ke peserta Karya alih wahana film ke novel memiliki potensi kuat yang dapat dimanfaatkan sebagai media yang efektif dalam pembelajaran. Film dan novel sebagai media yang sangat dekat dengan kehidupan memiliki tanggung jawab penting untuk memberi makna positif terhadap penikmatnya. Melalui pembelajaran alih wahana di sekolah peserta didik dapat mengembangkan berbagai keterampilan dan pemahaman apresiasi yang mendalam terhadap karya sastra. Selain itu, pendidik juga dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna sehingga peserta didik dapat mengambil nilai-nilai positif dari karya-karya tersebut. Alih Wahana sebagai Materi Ajar Bahasa Indonesia di SMA Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada kompetensi peserta didik untuk berbahasa dan berapresiasi sastra. Bentuk apresiasi sastra dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, salah satunya yaitu alih wahana film ke novel sebagai materi pembelajaran di sekolah. Pembelajaran tersebut sejalan dengan capaian pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka yang telah direvisi berdasarkan Keputusan Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek Nomor 033/H/KR/2022. Tujuan ini ialah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan kreativitas peserta didik dalam menggunakan bahasa Indonesia, serta menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Alih wahana film ke novel sebagai materi ajar bahasa Indonesia di SMA bertujuan agar peserta didik tidak hanya belajar bahasa Indonesia secara teknis tetapi juga mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang sastra dan budaya. Hal ini menjadikan pembelajaran bahasa Indonesia lebih menarik dan relevan dengan perkembangan zaman, serta mempersiapkan peserta didik untuk menjadi individu yang kritis dan kreatif di masa Integrasi antara film dan novel dalam pendidikan dapat meningkatkan keterampilan dan menulis, mengembangkan pemahaman kritisi dan aresiasi peserta didik terhadap karya sastra. Pada konteks Kurikulum Merdeka di Sekolah Menengah Atas (SMA), alih wahana atau adaptasi dari satu bentuk media ke bentuk media lainnya merupakan sebuah materi ajar yang sangat relevan dan efektif. Materi alih wahana dapat mengembangkan keterampilan membaca dan kreativitas peserta didik. Hal tersebut selaras dengan penelitian (Husna, 2. yang menyatakan bahwa penelitian terkait alih wahana film Yuni ke dalam novel memberikan petunjuk bagi pendidik dalam mengajarkan alih wahana melalui kegiatan memahami dan menganalisis proses perubahan dalam pengalihwahanaan film ke novel sehingga dapat memperkaya pemahaman peserta didik terhadap karya sastra. Berdasarkan penelitian tersebut, alih wahana film ke novel sebagai salah satu materi ajar bahasa Indonesia secara signifikan mampu meningkatkan keterampilan dan kreativitas peserta didik. Alih wahana film ke novel sebagai medium pengekspresi karya sastra memiliki peran penting dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia. Materi ajar ini tidak hanya memperkaya pemahaman peserta didik tentang unsur-unsur karya sastra, tetapi juga mengasah keterampilan menulis dan analisis peserta didik. Dengan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X adanya partisipasi aktif peserta didik dalam proses ini, peserta didik dapat lebih memahami unsur-unsur sastra, seperti tema, alur, serta gaya penulisan (Monica, 2. Hal ini selaras dengan penelitian (Haryanto et al. , 2. bahwa alih wahana sebagai materi ajar mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran Melalui materi ajar tersebut dapat meningkatkan motivasi peserta didik yang didukung adanya media pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik mampu memahami unsur-unsur sastra dengan lebih Pemilihan alih wahana film ke novel sebagai materi ajar bahasa Indonesia di sekolah khususnya pada jenjang SMA merupakan strategi yang efektif guna meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta didik terhadap karya sastra (Hendri, 2. Dengan adanya pengintegrasian materi digital, simulasi, dan pengalaman langsung, pembelajaran menjadi lebih dinamis, kontekstual, serta dapat memenuhi kebutuhan individu peserta Pengimplementasian alih wahana dalam pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menarik. Melalui pemanfaatan berbagai media dalam pembelajaran seperti film dan novel, peserta didik memiliki pengalaman belajar secara langsung dengan melihat visualisasi cerita, karakter, setting, serta unsur lainnya sehingga memudahkan peserta didik dalam memahami unsur-unsur karya sastra dari medium yang berbeda tersebut. Penugasan melalui materi ajar alih wahana memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memperkaya pemahaman peserta didik serta mengembangkan diri. Alih wahana memungkinkan peserta didik untuk mengaitkan teori dan praktik, mendiskusikan perbedaan antara film dan novel, serta memahami konteks sosial serta budaya dalam karya sastra. Pendekatan ini juga memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dengan memberikan pengalaman langsung untuk membaca dan menonton karya alih wahana sehingga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Dalam pembelajaran materi alih wahana, pendidik dapat memberikan proyek seperti pementasan atau diskusi kelompok sehingga peserta didik dapat bekerja sama dan mengembangkan keterampilan sosial. Di samping itu, alih wahana mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif sehingga alih wahana sebagai materi ajar bukan hanya dapat meningkatkan pemahaman bahasa pada peserta didik, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar peserta didik dalam memahami karya sastra. Pengalaman bersastra yang diperoleh melalui alih wahana membantu peserta didik dalam mengekspresikan kreativitas, meningkatkan daya kritis, serta mampu memahami konteks budaya yang terkandung dalam kedua medium tersebut. Selain itu, kegiatan kreatif dan refleksi pada materi ajar diimplementasikan ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan pengalaman belajar dan wawasan peserta didik terhadap karya sastra Indonesia. Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengalami proses pengalaman bersastra sehingga kemerdekaan belajar akan terwujud. Dengan demikian, alih wahana film ke novel dapat menjadi strategi yang efektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Aspek Prinsip Pembelajaran dalam Karya Sastra dan Alih Wahana Alih wahana dalam praktiknya melibatkan dimensi yang kompleks. Pembelajaran melalui alih wahana baik hanya sebagai penikmat maupun sebagai pencipta, selain untuk mengatasi rabun membaca, juga bertujuan untuk belajar dimensi yang lebih kompleks (Haryanto et al. , 2. Melalui materi ajar alih wahana, peserta didik akan memiliki pengalaman langsung dalam pembelajaran. Selain itu, peserta didik akan belajar banyak keterampilan multiliterasi dalam bentuk visual, audio, spasial, dan juga estetik. Berdasarkan hal tersebut, artinya pemahaman terhadap kehidupan dapat dipelajrai secara multidisiplin yaitu bahwa berbagai disiplin ilmu saling berinteraksi dan memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Hal tersebut selaras dengan pendapat (Wurianto, 2. yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di setiap cabangnya akan saling menyapa . , sehingga menciptakan pendekatan yang lebih holistik dalam memahami fenomena yang Alih wahana memiliki peran penting dalam mendekatkan peserta didik pada kemerdekaan belajar, kemerdekaan berkreasi dan kompetensi multiliterasi (Haryanto et al. , 2. Konsep multimodal dalam alih wahana yang mengacu pada banyaknya bahan yang dapat digunakan dalam pembelajaran literasi berimplikasi pada munculnya konsep multiliterasi (Sari, 2. Dengan demikian, hal tersebut memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan cara yang lebih bebas dan kreatif sehingga meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta Alih wahana memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi dan memahami karya sastra dari berbagai perspektif. Peserta didik dapat memilih cara berinteraksi dengan teks, baik melalui pembacaan teks novel, menonton film, atau bahkan menciptakan karyanya sendiri. Alih wahana dalam prosesnya mendorong peserta didik untuk berkreasi dengan cara menginterpretasikan dan mentransformasi karya sastra ke dalam bentuk baru. Damono . mengemukakan bahwa alih wahana mencakup kegiatan penerjemahan, penyaduran, dan pemindahan dari satu jenis ke jenis kesenian lain. Haryanto et al. mengemukakan bahwa interpretasi dalam sebuah proyek alih wahana pada pembelajaran merupakan kolektif dan bukan sebuah proyek sendirian. Oleh karena itu, dalam pembelajaran sangat memungkinkan terciptanya interaksi dan humanisasi antar peserta didik. Melalui pengintegrasian prinsip-prinsip tersebut ke dalam kurikulum pendidikan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan interaktif. Proses ini tidak Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X hanya menambah pemahaman peserta didik terhadap karya sastra tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan penting di era informasi saat ini. Tabel 3. Prinsip Pembelajaran Alih Wahana dalam Kurikulum Merdeka Prinsip Pembelajaran Pengalaman langsung Deskriptor Pengalaman langsung menekankan pada interaksi langsung peserta didik dengan karya sastra. Peserta didik diajak untuk membaca novel setelah menonton film yang ditayangkan. Kreativitas dan Ekspresi Peserta didik didorong untuk berkreasi dan mengekspresikan diri. Peserta didik diajak untuk menciptakan karya baru dengan menulis ulang bagian tertentu dari film menjadi teks naratif atau membuat skenario baru yang mengacu pada Kolaborasi Kolaborasi dalam pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan keterampilan kerja sama antar peserta didik. Peserta didik dpaat bekerja sama dalam memahami dan menciptakan karya sastra. Keterampilan Multiliterasi Materi ajar alih wahana dapat mendukung keterampilan multiliterasi yang mencakup kemmapuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif dengan melibatkan analisis teks dan Pemanfaatan Teknologi Pemanfaatan teknologi informasi memiliki tujuan untuk mendukung proses pembelajaran. Peserta didik dapat menggunakan berbagai platform digital untuk melakukan riset dan membagikan hasil karya. Prinsip pembelajaran alih wahana pada karya sastra dalam dimensi Kurikulum Merdeka berfokus pada pengalaman langsung peserta didik, kreativitas, kolaborasi, keterampilan multiliterasi, serta penggunaan Melalui penerapan prinsip-prinsip tersebut, materi ajar alih wahana tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap karya sastra tetapi juga memberi bekal peserta didik dengan keterampilan yang relevan di era modern. Selain itu, peserta didik juga dapat mengapresiasi karya sastra secara lebih mendalam dan SIMPULAN Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada kompetensi peserta didik untuk berbahasa dan berapresiasi sastra. Salah satu bentuk pengapresiasian sastra ialah alih wahana film ke novel sebagai materi pembelajaran di sekolah. Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran menekankan pada capaian pembelajaran yang inklusif dan fleksibel, salah satu capaian yang relevan adalah AuPeserta didik mampu mengalihwahanakan satu teks ke teks lainnya untuk tujuan ekonomi kreatif. Ay Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum merdeka mendukung pengembangan kompetensi komunikatif dan kreatif peserta didik melalui berbagai bentuk media. Dengan demikian, alih wahana film ke novel dapat menjadi materi ajar yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Pada konteks Kurikulum Merdeka di Sekolah Menengah Atas (SMA), alih wahana atau adaptasi dari satu bentuk media ke bentuk media lainnya merupakan sebuah materi ajar yang sangat relevan dan efektif. Materi alih wahana dapat mengembangkan keterampilan membaca dan kreativitas peserta didik. Prinsip pembelajaran alih wahana pada karya sastra dalam dimensi Kurikulum Merdeka berfokus pada pengalaman langsung peserta Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X didik, kreativitas, kolaborasi, keterampilan multiliterasi, serta penggunaan teknologi. Melalui penerapan prinsipprinsip tersebut, materi ajar alih wahana tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap karya sastra tetapi juga memberi bekal peserta didik dengan keterampilan yang relevan di era modern. Selain itu, peserta didik juga dapat mengapresiasi karya sastra secara lebih mendalam dan kreatif. DAFTAR PUSTAKA