PENGARUH PENGUPASAN KULIT BIJI DAN PEMBERIAN ATONIK TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH TANAMAN BADUNG (Garcinia dulcis (Roxb. ) Kurz. Nyoman Srilaba1. Jhon Hardy Purba1. Ida Ayu Sri Utami Dewi2 email: nyoman. srilaba@unipas. Staf edukatif Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti Singaraja Alumni Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti Singaraja Abstract: This research was carried out at the Agronet House of the Panji Sakti University Faculty of Agriculture's Agrotechnology Study Program. Jalan Bisma No. 22 Singaraja, at an altitude of A 100 m above sea level in July - October 2014. This study used a Randomized Block Design (RBD) consisting of two factors. The first factor is in the form of skin stripping which consists of three ways, namely without stripping the seed coat (K. , stripping the seed skin of only the back . onvex par. (K. , stripping the entire seed coat (K. The second factor was atonic concentration consisting of four levels, namely without atonic use . ml / . (A. , atonic immersion with a concentration of 1. 25 ml / l (A. , atonic immersion with a concentration of 2. 50 ml / l ( A. , and atonic immersion with a concentration of 3. 75 ml / l (A. There were 12 treatment combinations, each repeated 3 times, so there were 36 treatment combinations. Each experimental unit consists of 100 seeds, so the total consists of 3600 seeds. Observations on germination were carried out every day, until the seeds were 60 days after planting. The variables observed included: water absorption . , seeds began to germinate . , end germination . , damaged seeds (%), germination (%), growth power (%), sprout height . The results of statistical analysis showed that the treatment of seed peel and atonic administration and the combination of seed peel stripping and atonic administration had no significant effect on the water absorption variable, the seeds began to germinate, end germination, damaged seeds, germination, and sprout height. The treatment of seed skin stripping and atonic administration had a significant effect on growth power, however the combination of peel stripping and atonic administration had no significant effect. Keywords: (Garcinia dulcis (Roxb. ) Kur. , stripping, soaking, atonic Abstrak: Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Agronet Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti. Jalan Bisma No. 22 Singaraja, pada ketinggian A 100 m diatas permukaan laut pada bulan Juli Ae Oktober 2014. Penelitian ini memakai Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua Faktor pertama adalah berupa pengupasan kulit yang terdiri dari tiga cara yaitu tanpa pengupasan kulit biji (K. , pengupasan kulit biji hanya bagian punggung . agian cembun. (K. , pengupasan seluruh kulit biji (K. Faktor kedua adalah konsentrasi atonik yang terdiri dari empat taraf, yaitu tanpa penggunaan atonik . (A. , perendaman atonik dengan konsentrasi 1,25 ml/l (A. , perendaman atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l (A. , dan perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A. Terdapat 12 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang 3 kali, sehingga terdapat 36 perlakuan kombinasi perlakuan. Setiap unit percobaan terdiri dari 100 benih, sehingga keseluruhan terdiri dari 3600 benih. Pengamatan terhadap perkecambahan dilaksanakan setiap hari, sampai benih berumur 60 hari setelah tanam. Variabel yang diamati meliputi: penyerapan air . , benih mulai berkecambah . , akhir perkecambahan . , benih rusak (%), daya kecambah (%), daya tumbuh (%), tinggi kecambah . Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan pengupasan kulit biji dan pemberian atonik serta kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi kecambah. Perlakuan pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh, namun demikian kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata. Kata kunci: (Garcinia dulcis (Roxb. ) Kur. , pengupasan, perendaman, atonik PENDAHULUAN Tanaman badung atau mundu (Garcinia dulcis (Roxb. ) Kur. sebutan dari orang Bali merupakan tanaman yang sudah jarang ditemui alias langka, karenanya apabila ada yang tidak tahu bentuk buah badung/munggu itu wajar. Hanya orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap tanaman langka yang masih memelihara tanaman ini. Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari tanaman badung ini, mulai dari akar hingga buahnya. Dalam lontar Usada Ila, disebutkan obat sakit ila, sarananya daun merica, akar pohon awarawar, akar pohon badung, isin rong wayah, ditumbuk untuk bedak. Obat sakit ila berwarna kemerahan, sarananya kulit kayu base, temugiri, temukonci, bawang putih, dan jangu ditumbuk, diisi cuka tahun untuk bedak. Obat sakit ila, sarananya daun kambo-kambo, daun jeruk rendetan, daun piduh, sulur kantawali, bangle, bawang putih, dan jangu, diramu dengan kapur, ditumbuk, diisi arak, untuk bedak. Obat sakit ila, sarananya sintok, kulit buah badung yang kering, terusi, warangan, gadung cina, bawang putih, dan jangu, ditumbuk diisi air jeruk nipis, untuk obat Obat sakit ila, sarananya kulit kayu kaliasem, kulit kayu dari pakel, kulit kayu tingulun, bara api, sandawa, bunga cengkeh, bawang putih, jangu (Lontar Usada Ila, 2. Menurut Ida Ayu Rusmarini, seorang herbalis yang juga pemilik tanaman langka, buah badung juga berkhasiat untuk kecantikan, salah satu resepnya buah badung yang segar diblender lalu disaring. Hasil saringan dicampur dengan tepung beras dan tepung ketan dengan perbandingan 1 : 1 artinya 1 kg buah badung dicampur dengan 1 kg tepung beras dan 1 sdm tepung ketan. Campuran inilah yang dijadikan bahan lulur atau masker untuk memutihkan kulit. Selain buah badung segar, ada juga yang memanfaatkan buah badung yang sudah Di pasaran orang menyebutnya asem kandis. Khasiatnya juga sama dengan buah segar. Bedanya, yang sudah dikeringkan ini lebih tahan lama. Buah badung termasuk kedalam buah batu, memiliki struktur buah yang terdiri dari kulit buah, daging buah g lunak dan biji dengan kulit yang keras. Karena memiliki kulit biji yang keras buah badung tergolong kedalam buah dengan masa dormansi lama. Walaupun buah yang telah matang sudah jatuh tetapi untuk berkecambah dan tumbuh memerlukan waktu yang sangat lama. Untuk itu perlakuan-perlakuan tertentu dilaksanakan agar mampu memecah dormansi biji. Upaya untuk mematahkan dormansi dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan pendahuluan sebelum disemaikan. Pemberian perlakuan pendahuluan pada benih sangat ditentukan oleh jenis benih dan tipe dormansi yang dimiliki buah tersebut. Buah badung termasuk ke dalam tipe dormansi fisik yang memiliki kulit buah yang keras. Perlakuan yang diberikan harus sesuai dengan kondisi benih sehingga dapat mempercepat perkecambahan dan menghasilkan daya kecambah yang tinggi. Beberapa perlakuan yang dapat diberikan untuk memecahkan dormansi yaitu dengan mengupas kulit bijinya dan perendaman bijinya. Buah badung termasuk benih yang memiliki resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio karena kulit bijinya yang cukup kuat akan menghalangi pertumbuhan dari embrio. Jika kulit biji dihilangkan maka embrio akan tumbuh dengan segera (Sutopo, 1. Selain itu impermeabilitas kulit biji terhadap oksigen menjadi salah satu sebab biji tetap berada perkecambahan akan terjadi bila kulit biji Perendaman dengan menggunakan air, bahan kimia dan hormon (Utami dan Syamsuwida, 1. Perendaman pada dasarnya merupakan upaya untuk mengurangi tingkat kekerasan dari kulit buahnya. Penggunaan bahan kimia atau hormon dapat digunakan sebagai perlakuan untuk memecahkan dormansi pada benih yang bertujuan untuk menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi (Sutopo, 1. Perkecambahan aktivitas pertumbuhan yang sangat singkat suatu embrio dalam perkembangan dari biji menjadi tanaman tua. Dalam peristiwa perkecambahan akan terjadi beberapa proses yang berpengaruh terhadap penyerapan air (Imbibitio. , aktivitas enzim, pertumbuhan embrio, pecahnya kulit biji dan kemudian membentuk tanaman kecil (Seedlin. selanjutnya memperkuat tubuh tanaman kecil tersebut (Abidin, 1. Untuk meningkatkan persentase perkecambahan buah badung, bisa digunakan zat kimia atau hormon. Zat kimia yang diperkirakan dapat digunakan sebagai zat perangsang tumbuh salah satunya adalah atonik. Pada beberapa tanaman hortikultura, atonik dengan konsentrasi 0,05 % dipergunakan untuk merendam benih selama 30 menit. Sedangkan pada tanaman industri seperti tanaman jati 49,33 % untuk merendam benih selama 9 hari. Penggunaan atonik tidak akan memberikan pengaruh negatif bila pemakaiaannya sesuai dengan anjuran (Sarief, 1. Umumnya biji dari kebanyakan tanaman memerlukan beberapa syarat Persyaratan bermacam-macam biji adalah penting penanaman biji dan sebagai pedoman untuk menetapkan perlakuan tertentu terhadap biji (Kamil, 1. Hal ini dibuktikan oleh Utami dan Syamsuwida . terhadap perendaman kayu kuku. Perendaman kayu kuku dalam larutan asam sulfat dan air memberikan pengaruh yang baik terhadap perkecambahan benih dibandingkan dengan larutan hormon gibberelin dan tanpa perlakuan. Berdasarkan hal tersebut di atas penelitian AyPengaruh Pengupasan Kulit Biji dan Konsentrasi Atonik Terhadap Perkecambahan Benih Tanaman Badung (Garcinia dulcis (Roxb. ) Kur. BAHAN DAN METODE Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Agronet Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti. Jalan Bisma No. 22 Singaraja, pada ketinggian A 100 m diatas permukaan laut pada bulan Juli Ae Oktober 2014. Penelitian ini memakai Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah berupa pengupasan kulit yang terdiri dari tiga cara yaitu tanpa pengupasan kulit biji (K. , pengupasan kulit biji hanya bagian punggung . agian cembun. (K. , pengupasan seluruh kulit biji (K. Faktor kedua adalah konsentrasi atonik yang terdiri dari empat taraf, yaitu tanpa penggunaan atonik . (A. , perendaman atonik dengan konsentrasi 1,25 ml/l (A. , perendaman atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l (A. , dan perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A. Terdapat 12 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang 3 kali, sehingga terdapat 36 perlakuan kombinasi Setiap unit percobaan terdiri dari 100 benih, sehingga keseluruhan terdiri dari 3600 benih. Pengamatan terhadap perkecambahan dilaksanakan setiap hari, sampai benih berumur 60 hari setelah tanam. Variabel yang diamati meliputi: penyerapan air . , benih mulai berkecambah . , akhir perkecambahan . , benih rusak (%), daya kecambah (%), daya tumbuh (%), tinggi kecambah . Pengamatan perkecambahan dilaksanakan setiap hari, sampai benih berumur 60 hari setelah Variabel yang diamati meliputi penyerapan air . , benih mulai berkecambah . , akhir perkecambahan . , benih rusak (%), daya kecambah (%), daya tumbuh (%), tinggi kecambah . Data hasil penelitian dianalisis variannya, jika perlakuan yang diberikan berpengaruh nyata dan sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda nilai rata-rata dengan uji BNT (Beda Nyata Terkeci. taraf 5 %. Apabila interaksi antara pengupasan kulit dan konsentrasi atonik berpengaruh nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5 % (Hanafiah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil pengupasan kulit biji dan pemberian atonik serta kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi Perlakuan pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh nyata Penyerapan Air . terhadap daya tumbuh, namun demikian Perlakuan Perlakuan pengupasan kombinasi pengupasan kulit biji dan dan pemberian atonik pemberian atonik berpengaruh tidak nyata (Tabel . (Tabel Tabel 1. Tingkat perkecambahan tanaman badung yang dilakukan pengupasan kulit dan diberikan atonik dengan konsentrasi yang berbeda beda Variabel Perlakuan BMB ( m. ( hs. ( hst ) (%) (%) (%) ( cm ) 14,95a 49,58a 2,380a 45,62a 54,38a 58,30a 1,303a 15,48a 50,28a 2,172a 46,79a 53,21a 67,81a 1,264a 13,87a 51,74a 2,272a 45,45a 54,55a 78,33b 1,147a 0,777 0,121b 0,174 0,115 0,349b 0,154c 0,082b BNT 5% 0,777 0,121 0,174 0,115 0,349 0,154 0,082 15,54a 62,96a 2,533a 35,67a 64,33a 58,31a 1,138a 14,55a 63,54a 2,903a 34,84a 65,16a 67,09b 1,089a 15,53a 63,04a 2,021a 35,59a 64,41a 68,31b 1,198a 13,74a 64,50a 2,400a 36,58a 63,42a 78,10c 1,235a BNT 5% 0,897 0,140 0,201 0,132 0,403 0,178 0,095 Pengupasan Atonik Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji BNT5% Perlakuan pengupasan kulit biji penyerapan air oleh biji badung. Namun demikian terdapat kecenderungan bahwa pengupasan kulit biji bagian punggung saja menghasilkan penyerapan air paling tinggi . ,48 m. , lebih tinggi 3,55% dibanding penyerapan air pada perlakuan tanpa pengupasan kulit . ,95 m. , dan lebih tinggi 11,61% dibanding penyerapan air oleh kulit biji pada perlakuan pengupasan seluruh kulit biji. Perlakuan penyerapan air oleh kulit biji. Namun demikian terdapat kecenderungan bahwa penyerapan air tertinggi terdapat pada perlakuan tanpa pemberian atonik . ,54 m. , lebih banyak 6,80% dibanding dengan penyerapan air pada perlakuan perendaman atonik konssentrasi 1,25 ml/l air . ,55 m. , lebih banyak 0,06% dibanding penyerapan air pada perlakuan perendaman atonik dengan konsentrasi 2,5 ml/l air . ,53%), dan lebih banyak 13,10% pada perlakuan perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l air . ,74 m. Kombinasi pengupasan kulit dengan perendaan atonik berpengaruh tidak nyata terhadap penyerapan air. Namun kombinasi perlakuan tanpa pengupasan kulit biji dengan perendaman biji dengan atonik 1,25 ml/l air (K0A. , menghasilkan penyerapan air terbanyak . ,15%), lebih banyak 18,93% daripada perlakuan kontrol (K0A. , dan lebih banyak 16,27% dibanding dengan kombinasi perlakuan yang menghasilkan penyerapan air tersedikit, yaitu pada kombinasi perlakuan pengupasan seluruh kulit biji dengan perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l air (K2A. Benih mulai berkecambah . Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh tidak nyata terhadap variabel benih mulai Namun demikian terdapat kecenderungan bahwa pengupasan seluruh kulit biji (K. cenderung menghasilkan benih mulai berkecambah paling lambat . ,74 hs. atau lebih lambat 2,16 hari dibanding perlakuan tanpa pengupasan kulit biji. Perlakuan tanpa pengupasan kulit (K. berkecambah lebih cepat yaitu 49,58 hst. Kombinasi perlakuan pengupasan kulit biji dengan perendaman dalam larutan atonik berpengaruh tidak nyata terhadap variabel benih mulai berkecambah. Namun kombinasi pengupasan kulit biji pada bagian punggung dengan perendaman atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l (K1A. menghasilkan benih mulai berkecambah paling cepat . ,41 hs. , sedangkan kombinasi pengupasan seluruh kulit biji dengan perendaman atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l (K2A. cenderung menghasilkan benih mulai berkecambah paling lama . ,30 hs. Akhir Perkecambahan . Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh tidak nyata terhadap variabel akhir perkecambahan. Namun perlakuan tanpa pengupasan kulit biji (K. cenderung menghasilkan akhir perkecambahan yang lebih lama yaitu 2,38 hst, lebih lama 9,58% hari dibandingkan perlakuann yang tercepat yaitu perlakuan pengupasan kulit biji pada bagian punggung saja (K. yaitu 2,172 hst. Kombinasi pengupasan kulit biji dengan perendaman dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel akhir perkecambahan. Namun demikian terdapat kecenderungan bahwa kombinasi perlakuan pengupasan seluruh kulit biji dengan perendaman dalam larutan atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (K2A. menghasilkan akhir perkecambahan terlama yaitu 2,801 hst. Sedangkan kombinasi perlakuan pengupasan kulit biji bagian punggung biji saja dengan tanpa perendaman pada larutan atonik (K1A. tercepat yaitu 2,058 hst. Benih Rusak (%) Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel benih rusak. Namun pengupasan kulit biji bagian punggung biji (K. cenderung menghasilkan persentase benih rusak tertinggi yaitu 46,79%, lebih tinggi 2,98% dibandingkan dengan perlakuan pengupasan kulit biji yang menghasilkan benih rusak terendah yaitu pengupasan seluruh kulit biji (K. yaitu 45,45%. Perlakuan perendaman biji dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel benih rusak. Namun demikian terdapat kecenderungan bahwa perendaman dalam larutan atonik dengan konsentrasi atonik 3,75 ml/l air (A. menghasilkan persentase benih rusak terendah yaitu 63,42%, atau lebih rendah 4,99% dibanding dengan perendamana dalam larutan atonik 1,25 ml/l air (A. Kombinasi perlakuan pengupasan kulit biji dengan perendaman dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel benih rusak. Namun terdapat kecenderungan bahwa kombinasi perlakuan tanpa pengupasan kulit biji dengan konsentrasi atonik 3,75 ml/l (K0A. kerusakan benih tertinggi yaitu 44,12%, lebih tinggi 80,67% dibanding perlakuan yang menghasilkan kerusakan benih terkecil yaitu K0A2 . ,42%). Daya Kecambah (%) Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel daya kecambah biji. Namun perlakuan pengupasan seluruh kulit biji (K. cenderung menghasilkan persentase daya kecambah tertinggi yaitu 54,55% tetapi beda tidak nyata dengan perlakuan Daya kecambah biji pada perlakuan pengupasan seluruh kulit biji (K. menghasilkan daya kecambah 2,52% lebih tinggi daripada perlakuan pengupasan kulit biji bagian punggung . ,21%), dan 0,31% lebih tinggii daripada daya kecambah biji pada perlakuan tanpa pengupasan biji (K. yaitu 54,38% namun beda tidak nyata. Kombinasi perlakuan pengupasan biji dengan perendaman biji dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel daya kecambah biji. Namun demikian terdapat kecenderungan pengupasan kulit biji dengan konsentrasi atonik 2,50 ml/l (K0A. menghasilkan daya kecambah tertinggi yaitu 75,58% namun beda tidak nyata dengann kombinasi perlakuan lainnya. Daya kecambah pada kombinasi perlakuan tanpa pengupasan kulit biji dengan konsentrasi atonik 2,50 ml/l (K0A. lebih tinggi 35,25% dibanding daya kecambah terendah yang terjadi pada kombinasi perlakuan tanpa pengupasan biji dengan konsentrasi atonik 3,75% (K0A. yaitu 55,88%. Tabel 2. Tingkat perkecambahan benih tanaman badung yang dilakukan pengupasan kulit biji dan dikombinasikan dengan pemberian atonik Variabel Perlakuan BMB ( m. ( hs. ( buah ) (%) (%) (%) ( cm ) K0A0 15,85a 53,61a 2,778a 33,67a 66,33a 57,53a 1,267a K0A1 16,15a 53,92a 2,563a 34,16a 65,84a 66,54a 1,378a K0A2 15,78a 53,67a 2,706a 24,42a 75,58a 56,33a 1,295a KOA3 15,62a 54,17a 2,140a 44,12a 55,88a 54,84a 1,252a K1A0 14,53a 43,29a 2,058a 43,57a 56,43a 56,35a 1,494a K1A1 15,20a 45,49a 2,185a 34,37a 65,63a 56,44a 1,323a K1A2 15,16a 25,41a 2,391a 44,08a 55,92a 60,92a 1,129a K1A3 14,21a 55,34a 2,146a 34,32a 65,68a 66,38a 1,184a K2A0 13,92a 51,61a 2,537a 42,82a 57,18a 56,33a 1,272a K2A1 15,61a 43,49a 2,100a 43,42a 56,58a 66,44a 1,338a K2A2 15,17a 62,30a 2,314a 43,06a 56,94a 56,00a 1,477a K2A3 13,89a 53,69a 2,801a 43,64a 56,36a 58,37a 1,793a BNT 5% 1,480 0,243 0,349 0,229 0,698 0,309 0,164 Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji BNT5% Daya Tumbuh (%) Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh beda nyata terhadap variabel daya tumbuh biji. Perlakuan pengupasan seluruh kulit biji menghasilkan daya tumbuh paling tinggi yaitu 78,33% dan beda nyata dengan perlakuan pengupasan kulit biji hanya pada bagian punggung (K. yaitu 67,81% dan beda nyata pula dengan perlakuan tanpa pengupasan kulit biji . ,30%). Daya tumbuh pada perlakuan pengupasan seluruh kulit biji (K. lebih tinggi 15,51% dibanding daya tumbuh pada perlakuan pengupasan hanya pada kulit punggung biji (K. dan lebih tinggi 34,36% dibanding daya tumbuh biji pada perlakuan tanpa pengupasan kulit biji (K. Perlakuan perendaman biji dalam larutan atonik berpengaruh beda nyata terhadap variabel daya tumbuh biji. Daya tumbuh biji pada perlakuan perendaman dalam larutan atonik dengan konsenrasi 3,75 ml/l menghasilkan daya tumbuh tertinggi yaitu 78,10% dan beda nyata dengan daya tumbuh pada perlakuan konsentrasi atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l (A. , dan beda nyata pula dengan daya tumbuh biji pada perlakuan konsentrasi atonik 1,25 ml/l . ,09%), dan beda nyata pula dengan daya tumbuh pada perlakuan perendaman pada air yang tidak diberikan atonik (A. yaitu 33,94%. Daya tumbuh pada perlakuan perendaman dalam larutan atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A. tersebut berturutturut lebih tinggi 14,33% dibanding daya tumbuh pada perlakuan atonik 2,50 ml/l, lebih tinggi 16,41% dibanding daya tumbuh pada perlakuan atonik 1,25 ml/l dan lebih 33,94% perendaman pada larutan tanpa atonik. Kombinasi perlakuan pengupasan biji dengan perendaman biji dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel daya tumbuh biji. Namun terdapat kecenderungan bahwa daya tumbuh pada kombinasi perlakuan tanpa pengupasan kulit biji dengan konsentrasi atonik 1,25 ml/l (K0A. menghasilkan daya tumbuh tertinggi yaitu 66,54%, dimana angka daya tumbuh tersebut lebih tinggi 21,33% dibanding daya tumbuh terendah yang terjadi pada kombinasi perlakuan tanpa pengupasan kulit biji dengan konsentrasi atonik 3,75 ml/l (K0A. yaitu 54,84%. Tinggi kecambah . Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel tinggi kecambah . Namun demikian terdapat kecendrungan bahwa tinggi kecambah pada perlakuan tanpa pengupasan kulit biji (K. menghasilkan tinggi kecambah tertinggi yaitu 1,30 cm, disusul secara berurutan oleh tinggi kecambah pada perlakuan pengupasan kulit biji hanya pada bagian punggung biji saja (K. yaitu 1,26 cm, dan tinggi kecambah pada perlakuan pengupasan seluruh kulit biji (K. yaitu 1,15 cm. Tinggi kecambah pada perlakuan tanpa pengupasan kulit biji (K. lebih tinggi 3,08% dibanding tinggi kecambah pada perlakuan K1 dan lebih tinggi 8,52% dibanding tinggi kecambah pada perlakuan K2. Perlakuan perendaman biji dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel tinggi kecambah. Namun demikian, tinggi kecambah pada perlakuan atonik 3,75% (A. cenderung menghasilkan tinggi kecambah paling tinggi yaitu 1,24 Sedangkan perlakuan perendaman pada larutan atonik 1,25 ml/l cenderung menghasilkan tinggi kecambah terendah yaitu 1,09 cm. Tinggi kecambah pada perlakuan atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A. secara berurutan lebih tinggi 13,41% lebih tinggi daripada tinggi kecambah pada perlakuan atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l, lebih tinggi 8,52% dibanding tinggi kecambah pada perlakuan perendaman tanpa atonik (A. dan lebih tinggi 13,41% dibanding tinggi kecambah pada perlakuan atonik 1,25 ml/l air. Kombinasi perlakuan pengupasan biji dengan perendaman biji dalam larutan atonik berpengaruh beda tidak nyata terhadap variabel tinggi kecambah. Namun demikian terdapat kecenderungan bahwa tinggi kecambah pada kombinasi perlakuan pengupasan seluruh kulit biji dengan perendaman dalam larutan atonik 2,50 ml/l (K2A. , menghasilkan tinggi kecambah tertinggi yaitu 1,79 cm dan lebih tinggi 58,81% dibanding tinggi kecambah terendah yang terdapat pada kombinasi perlakuan pengupasan kulit biji hanya pada bagian punggung biji saja dengan konsentrasi atonik 2,50 ml/l (K1A. yaitu 1,13 cm. Pembahasan Pengupasan kulit biji Hasil analisis statistik seperti disajikan dalam Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya Perlakuan berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh (Tabel . Pemberian atonik Hasil analisis statistik seperti disajikan dalam Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya Perlakuan pemberian atonik berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh. Kombinasi pengupasan kulit biji dengan pemberian atonik Hasil analisis statistik seperti disajikan dalam Tabel 2 menunjukkan bahwa kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi kecambah. Tabel 3. Tingkat perkecambahan biji tanaman badung yang dilakukan pengupasan kulit Variabel Perlakuan BMB ( m. ( hs. ( hst ) (%) (%) (%) ( cm ) 14,95a 49,58a 2,380a 45,62a 54,38a 58,30a 1,303a 15,48a 50,28a 2,172a 46,79a 53,21a 67,81b 1,264a 13,87a 51,74a 2,272a 45,45a 54,55a 78,33c 1,147a 0,777 0,121 0,174 0,115 0,349 0,154 0,082 BNT 5% 0,777 0,121 0,174 0,115 0,349 0,154 0,082 Pengupasan Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji BNT5% Tabel 4. Tingkat perkecambahan biji tanaman badung yang diberi perlakuan perendaman biji dalam larutan atonik dengan konsentrasi yang berbeda beda Variabel Perlakuan BMB ( m. ( hs. ( hst ) (%) (%) (%) ( cm ) 15,54a 62,96a 2,533a 35,67a 64,33a 58,31a 1,138a 14,55a 63,54a 2,903a 34,84a 65,16a 67,09b 1,089a 15,53a 63,04a 2,021a 35,59a 64,41a 68,31b 1,198a 13,74a 64,50a 2,400a 36,58a 63,42a 78,10c 1,235a BNT 5% 0,897 0,140 0,201 0,132 0,403 0,178 0,095 Atonik Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji BNT5% SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai Perlakuan pengupasan kulit biji berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh, dimana pengupasan seluruh kulit biji (K. menghasilkan daya tumbuh terbanyak yaitu 78,33%, namun pengupasan kulit biji berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi kecambah. Perlakuan berpengaruh nyata terhadap daya perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A. menghasilkan daya tumbuh terbanyak . ,10 %), namun pemberian atonik berpengaruuh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi kecambah. Kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel yang diamati meliputi: variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi kecambah. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut : Untuk menghasilkan daya tumbuh pengupasan seluruh kulit biji (K. Untuk menghasilkan daya tumbuh perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A. Perlu dilakukan cara-cara lainnya untuk mempercepat perkecambahan benih seperti perendaman biji dalam air hangat, pemberian atonik dengan variasi pengolesan atonik dalam bentuk DAFTAR PUSTAKA Abidin. S dan Lontoh. Usaha Perbanyakan Tanaman Secara Cepat Dengan Teknik Pembiakan Vegetatif dan Pemakaian Zat Pengatur Tumbuh. Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi. Tidak Institut Pertanian Bogor. Bogor. Abidin. Dasar Pengetahuan Ilmu Tanaman. Angkasa Bandung. Anggota IKAPI. Jakarta. Abidin. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa Bandung. Bandung. Bass. dan Justice. Prinsip Praktek Penyimpanan Benih. CV. Rajawali Jakarta. Jakarta. Dani. Studi Tentang Perbedaan Antara Berat Biji Sebelum dan Sesudah Berkecambah pada Biji Jagung (Zea mays L). Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Udayana. Singaraja. Hanafiah. Rancangan Percobaan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 180 hal. Harjadi. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Jakarta. Kusuma. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV. Yasaguna IKAPI. Jakarta. Kamil. Teknologi Benih I. Angkasa Raya Padang. Anggota IKAPI Padang. Padang. Puger. Diktat Dasar-dasar Teknologi Benih. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Panji Sakti Singaraja. Singaraja. Sutopo. Teknologi Benih. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya CV. Rajawali Jakarta. Jakarta. Sutopo. Teknologi Benih Edisi Revisi. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sarief. Kesuburan Tanah dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka