Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education Volume 2 Number 1. Januari 2026 . DOI : Penerapan Teknik Dasar Vokal dalam Pembelajaran Seni Budaya di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata Muhammad Rizaldi Gjibran atsani1*,Ulpira stepi2. Muhammad Alfian Nur Khair3 Universitas Hamzanwadi1234. Lombok Timur. Indonesia Email: muhammadrizaldigibran@gmail. com1*, ulpirastefi@gmail. muhammadalfiannurkhair@hamzanwadi. Riwayat Artikel Abstrak Dikirim : 1 Desember 2025 Direvisi : 15 Desember 2025 Diterima : 5 Januari 2026 Dipublikasi : 30 Januari 2026 Pembelajaran teknik dasar vokal merupakan komponen penting dalam pengembangan kompetensi musikal siswa pada mata pelajaran Seni Budaya, namun observasi awal di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas VII masih mengalami kesulitan pada aspek postur, pernapasan, artikulasi, dan intonasi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya model pembelajaran yang lebih terarah agar siswa mampu menguasai keterampilan vokal secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik dasar vokal serta dampaknya terhadap perkembangan kemampuan bernyanyi siswa melalui pendekatan kuantitatif Subjek penelitian mencakup 20 siswa kelas VII, dengan data diperoleh melalui observasi kemampuan vokal, tes praktik bernyanyi, dan dokumentasi proses pembelajaran. Analisis dilakukan melalui penilaian skor pada setiap aspek. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan vokal pada seluruh komponen dasar, terutama pada ketepatan nada, pengaturan napas, dan keberanian siswa dalam tampil, meskipun peningkatannya masih bersifat ringan dan belum merata pada aspek artikulasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan teknik dasar vokal melalui demonstrasi dan latihan berulang memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan vokal siswa dalam pembelajaran Seni Budaya. Kata Kunci : teknik dasar vokal. pembelajaran kuantitatif. kemampuan bernyanyi. SMP. Seni Budaya. Abstract Keywords : vocal techniques. singing ability. high school students. Cultural Arts. Vocal fundamental techniques are essential components in developing studentsAo musical competence within Cultural Arts education. however, preliminary observations at SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata revealed that most seventh-grade students still encountered difficulties in posture, breathing, articulation, and intonation. These conditions indicate the need for a more structured learning approach to guide students in gradually mastering basic vocal skills. This study aims to describe the implementation of vocal fundamental techniques and their impact on studentsAo singing abilities through a descriptive qualitative approach. The participants consisted of 20 seventh-grade students, and the data were collected through vocal skill observations, singing performance tests, and documentation of classroom activities. Data analysis was conducted by indicator scor. The findings show improvements across all vocal components, particularly in pitch accuracy, breath control, and studentsAo confidence during performance, although the progress remained modest and uneven, especially in articulation. Overall, the application of vocal fundamental techniques through demonstration and repetitive practice positively contributed to the studentsAo vocal development in Cultural Arts learning. A 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License (CC BY 4. license Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 PENDAHULUAN Pembelajaran vokal pada tingkat SMP memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk fondasi musikal siswa, khususnya melalui mata pelajaran Seni Budaya yang menekankan keseimbangan antara pengalaman estetis dan keterampilan praktik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kompetensi dasar siswa dalam bernyanyi sering kali belum berkembang secara optimal. Kondisi serupa juga terlihat pada observasi awal yang peneliti lakukan di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata, di mana sebagian besar siswa kelas VII menunjukkan keterbatasan pada aspek postur, ketepatan nada, artikulasi vokal, hingga kontrol pernapasan. Keterbatasan tersebut bukan hanya menunjukkan minimnya pengalaman vokal sebelumnya, tetapi juga mencerminkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih sistematis dan responsif terhadap karakteristik siswa. Penelitian Mona . dan Putra & Yanuartuti . menguatkan bahwa kemampuan vokal pemula hanya dapat tumbuh apabila pembelajaran dilakukan melalui praktik langsung yang terarah, disertai demonstrasi yang memadai dari guru sebagai model vokal. Dalam konteks pembelajaran vokal di sekolah, guru tidak sekadar berperan sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator yang mampu menciptakan situasi belajar yang kondusif bagi siswa dengan kemampuan heterogen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa SMP cenderung mengalami hambatan pada ketepatan intonasi dan koordinasi motorik vokal, terutama ketika mereka belum memiliki pengalaman bernyanyi sebelumnya (Siregar & Lumbantoruan, 2024. Lumbangaol et , 2. Temuan tersebut sejalan dengan realitas di lapangan yang peneliti temukan: siswa cenderung mengambil napas dengan pola yang tidak stabil, artikulasi kurang jelas terutama pada vokal eAeo, serta sering meleset dalam mengikuti nada dasar. Oleh karena itu, kebutuhan akan pembelajaran vokal yang bersifat terstruktur, repetitif, dan berbasis demonstrasi menjadi semakin mendesak. Sejumlah penelitian menekankan bahwa strategi pembelajaran langsung melalui demonstrasi dan latihan berulang memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan keterampilan vokal siswa (Mayangsari, 2024. Sagala, 2. Bahkan, pelatihan vokal dalam berbagai komunitas musik dan sekolah menunjukkan bahwa pendekatan praktik intensif mampu meningkatkan kualitas suara, ekspresi musikal, hingga kepercayaan diri siswa secara keseluruhan (Putra et al. , 2023. Purba et al. , 2024. Mita & Kristiandri, 2. Penulis secara pribadi melihat bahwa pendekatan demonstratif tidak hanya memberikan contoh vokal yang bisa ditiru siswa, tetapi juga membantu mereka membangun kesadaran tubuh, pengaturan napas, dan kontrol suara. Dalam kelas vokal, aspek-aspek tersebut sering kali menjadi titik awal yang menentukan keberhasilan pembelajaran tahap selanjutnya. Selain itu, literatur terkini menunjukkan bahwa penggunaan teknik vokal dasar seperti pernapasan diafragma, latihan artikulasi vokal, resonansi, dan vokalisi satu oktaf sangat efektif dalam meningkatkan stabilitas suara dan kemampuan siswa mempertahankan nada (Kusmiati et al. , 2025. Jannah et al. , 2025. Khoiruddin et al. , 2. Penulis memandang bahwa teknik dasar vokal sebenarnya tidak hanya sekadar seperangkat latihan teknis, tetapi merupakan kerangka kerja untuk membentuk kesadaran musikal dan kontrol vokal jangka panjang. Ketika siswa memahami bagaimana tubuh bekerja untuk menghasilkan suara, mereka dapat mengembangkan suara yang lebih sehat dan terkontrol. Hal ini sangat relevan terutama bagi siswa pemula yang sering kali menggunakan suara secara tidak efisien dan rentan mengalami kelelahan vokal. Di sisi lain, kajian penelitian terkait pengembangan media dan bahan ajar vokal menunjukkan bahwa inovasi digital seperti video pembelajaran, modul interaktif, dan rekaman vokal dapat membantu proses latihan siswa (Ridhwan et al. , 2024. Rizwan & Uswatul Hakim, 2. Namun, berdasarkan kondisi di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata yang memiliki keterbatasan fasilitas, pendekatan langsung berbasis latihan tetap merupakan strategi yang paling realistis dan relevan. Pendekatan ini memungkinkan guru memberikan koreksi langsung terhadap kesalahan vokal siswa, yang dalam praktiknya terbukti lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang sepenuhnya bergantung pada media Meskipun banyak penelitian telah membahas efektivitas teknik vokal, masih terdapat celah penelitian pada konteks sekolah berbasis keagamaan dengan karakteristik siswa yang cenderung pemalu, kurang percaya diri, dan minim eksposur terhadap pembelajaran vokal formal. Lingkungan belajar seperti ini memerlukan pendekatan pedagogis yang lebih sensitif terhadap aspek psikologis, bukan hanya teknis. Dengan demikian, penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan gambaran 34 Volume 2 | Issue 1 | Januari, 2026 Muhammad Rizaldi Gjibran Atsani. Ulpira Stepi. Muhammad Alfian Nur Khair / Penerapan Teknik Dasar Vokal dalam Pembelajaran Seni Budaya di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata komprehensif mengenai bagaimana teknik dasar vokal dapat diterapkan secara efektif dalam situasi pembelajaran yang sederhana namun tetap terarah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerapan teknik dasar vokal dalam pembelajaran Seni Budaya serta menganalisis perubahan kemampuan vokal siswa melalui tiga sesi pembelajaran terstruktur. Pendekatan kuantitatif dipilih untuk menggali dinamika pembelajaran secara mendalam, termasuk respons siswa, perubahan perilaku vokal, dan efektivitas metode yang digunakan. Penulis meyakini bahwa penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan teori pembelajaran vokal, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi guru Seni Budaya yang menghadapi kondisi lapangan dengan keterbatasan fasilitas namun tetap menuntut hasil pembelajaran yang optimal. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang bertujuan menggambarkan secara mendalam proses penerapan teknik dasar vokal dalam pembelajaran Seni Budaya di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan peneliti mendiskripsikan nilai perubahan perilaku vokal siswa yang muncul selama proses latihan. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun 2025 dengan melibatkan 20 siswa kelas VII sebagai subjek penelitian. Seluruh siswa dijadikan sampel melalui teknik total sampling karena jumlah populasi yang relatif kecil dan dianggap dapat memberikan gambaran utuh mengenai perkembangan kemampuan vokal dalam kelas tersebut. Peneliti yang juga berperan sebagai guru Seni Budaya memfasilitasi seluruh kegiatan pembelajaran sehingga data yang diperoleh merupakan representasi autentik dari dinamika kelas yang sebenarnya. Prosedur penelitian dilaksanakan dalam tiga sesi pembelajaran dengan durasi masing-masing 2 y 40 menit. Setiap sesi memiliki alur yang sama, dimulai dari apersepsi yang digunakan untuk menilai kesiapan siswa sekaligus menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sebelumnya. Pada tahap berikutnya, guru memberikan demonstrasi teknik dasar vokal seperti postur tubuh, penggunaan pernapasan diafragma, artikulasi vokal, resonansi, dan contoh intonasi. Demonstrasi menjadi bagian penting karena siswa pemula cenderung belajar melalui imitasi langsung. Setelah itu siswa mengikuti latihan terstruktur melalui pola vokalisi satu oktaf, latihan artikulasi vokal, latihan interval, serta praktik frasering sederhana. Latihan dilakukan secara berulang untuk membentuk kebiasaan vokal yang stabil. Di akhir pertemuan, guru memberikan evaluasi formatif dan reflektif dengan mengamati kemampuan siswa serta memberikan umpan balik terhadap aspek yang masih perlu diperbaiki. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kemampuan vokal siswa, tes praktik bernyanyi, serta dokumentasi foto dan video. Observasi digunakan untuk menilai aspek-aspek vokal seperti postur, pernapasan, artikulasi, dan intonasi. Tes praktik bernyanyi digunakan untuk melihat kemampuan siswa mengaplikasikan teknik dasar vokal dalam situasi nyata. Dokumentasi visual mendukung analisis karena memungkinkan peneliti meninjau kembali perubahan sikap, ekspresi, dan kualitas pembelajaran secara lebih detail. Seluruh instrumen ini saling melengkapi sehingga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai proses pembelajaran. Analisis dilakukan secara terus-menerus mulai dari awal hingga akhir penelitian agar setiap perubahan vokal siswa dapat dipahami secara mendalam. Kemudian dinilai dengan skor tertentu dan dideskripsikan dalam bentuk grafik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerapan teknik dasar vokal selama tiga sesi pembelajaran mampu memberikan perubahan positif terhadap kemampuan vokal siswa kelas VII di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata. Pada awal pembelajaran, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam mempertahankan postur tubuh yang stabil, menggunakan pernapasan diafragma secara tepat, serta menghasilkan artikulasi dan intonasi yang jelas. Kondisi ini sejalan dengan temuan Siregar dan Lumbantoruan . yang menyatakan bahwa siswa tingkat SMP umumnya belum memiliki kontrol vokal yang memadai sehingga membutuhkan latihan terstruktur untuk membentuk kebiasaan vokal yang benar. Temuan awal ini juga diperkuat oleh penelitian Lumbangaol et al. yang Januari, 2026 | Issue 1 | Volume 2 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 menjelaskan bahwa ketidakstabilan intonasi dan kurangnya kontrol pernapasan merupakan masalah paling umum pada siswa vokal pemula. Gambar 1. Perkembangan Kemampuan Vokal Siswa Grafik ini menunjukkan perkembangan kemampuan vokal siswa pada lima komponen utama, yaitu postur tubuh, pernapasan, artikulasi, intonasi, dan vokalisi 1 oktaf selama tiga sesi pembelajaran teknik dasar vokal. Nilai awal . berada pada rentang 1. 7Ae2. 0 yang menggambarkan kemampuan dasar siswa yang masih lemah terutama pada aspek intonasi dan pernapasan. Setelah mengikuti tiga kali sesi latihan, nilai akhir . meningkat signifikan pada seluruh aspek, terutama postur tubuh dan intonasi yang mencapai rata-rata 2. 9Ae3. Peningkatan ini menunjukkan bahwa demonstrasi dan latihan berulang memberikan dampak langsung terhadap stabilitas suara, kontrol napas, dan ketepatan nada siswa. Tabel 1. Perbandingan Nilai Kemampuan Vokal Siswa (PreAePos. Komponen Vokal Postur Tubuh Pernapasan Artikulasi Nilai Awal (Pr. Intonasi Vokalisi 1 Oktaf 1. Nilai Akhir (Pos. Keterangan Perkembangan Postur lebih tegak, stabil Napas lebih panjang dan teratur Pengucapan lebih jelas, meski belum Nada lebih stabil, mengikuti nada dasar Lebih rapi, mengikuti pola latihan Gambar 2. Guru mendemonstrasikan teknik pernapasan diafragma kepada siswa Gambar 2 menunjukkan proses guru memberikan contoh langsung kepada siswa mengenai teknik pernapasan diafragma sebagai dasar produksi suara yang baik. Pada dokumentasi tersebut, siswa terlihat berdiri dengan postur yang lebih stabil dan memperhatikan instruksi guru secara terfokus. Aktivitas ini bertujuan membantu siswa menyadari pergerakan otot pernapasan dan membedakan antara pernapasan dada dan diafragma. Situasi pada gambar tersebut juga menggambarkan suasana latihan yang intensif 36 Volume 2 | Issue 1 | Januari, 2026 Muhammad Rizaldi Gjibran Atsani. Ulpira Stepi. Muhammad Alfian Nur Khair / Penerapan Teknik Dasar Vokal dalam Pembelajaran Seni Budaya di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata dan bersifat drill practice, di mana siswa menirukan gerakan dan pola napas yang dicontohkan secara Tahapan seperti ini dinilai efektif meningkatkan respons vokal dan kesiapan fisik siswa sebelum memasuki latihan vokalisi, sebagaimana ditegaskan oleh Jannah et al. bahwa latihan pernapasan berulang dapat meningkatkan kapasitas paru dan mengurangi ketegangan vokal. Perubahan mulai terlihat setelah sesi kedua, ketika siswa mulai terbiasa melakukan latihan vokalisi, interval sederhana, serta pengaturan napas sesuai demonstrasi guru. Pada fase ini, sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan pada kemampuan mengambil napas yang lebih teratur dan tidak terburuburu, meskipun durasinya masih pendek. Hasil ini konsisten dengan penelitian Jannah et al. yang menekankan pentingnya latihan pernapasan untuk meningkatkan kapasitas paru dan stabilitas suara. Selain itu, meningkatnya keberanian siswa dalam mencoba meniru contoh nada dari guru menunjukkan bahwa penggunaan demonstrasi sangat efektif dalam menciptakan model vokal yang mudah diikuti, sebagaimana dikemukakan oleh Mona . dan Mayangsari . bahwa pembelajaran vokal berbasis demonstrasi akan membantu siswa memahami konsep suara secara lebih konkret. Pada aspek artikulasi, perkembangan siswa tampak lebih lambat dibandingkan aspek lainnya. Mayoritas siswa masih mengalami kesulitan mengucapkan vokal e dan o dengan jelas, terutama ketika digabungkan dalam frasa lagu. Temuan ini sejalan dengan penelitian Putra dan Yanuartuti . serta Mita dan Kristiandri . yang menegaskan bahwa artikulasi merupakan salah satu aspek tersulit dalam vokal pemula karena berkaitan dengan koordinasi otot mulut dan rongga resonansi. Meskipun demikian, beberapa siswa menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah latihan pengucapan perlahan dan pembacaan lirik secara terstruktur. Hal ini menunjukkan bahwa latihan bertahap melalui pengulangan dapat meningkatkan respons motorik vokal siswa. Perubahan lebih nyata terlihat pada aspek intonasi. Siswa yang pada awalnya kerap meleset dari nada dasar mulai mampu mempertahankan ketepatan nada setelah guru memberikan contoh langsung dan mengajak siswa mengikuti nada secara perlahan. Perkembangan ini mendukung temuan Sagala . dan Purba et al. yang menyatakan bahwa latihan diarahkan secara progresif mampu memperbaiki stabilitas nada melalui peningkatan koordinasi antara pendengaran dan kontrol vokal. Temuan ini juga memperkuat pandangan Khoiruddin et al. bahwa latihan vokal melalui media demonstratif baik langsung maupun rekaman sangat efektif untuk melatih kesadaran nada. Dalam konteks sikap dan kepercayaan diri, perubahan juga terlihat cukup signifikan. Siswa yang pada awal pembelajaran tampak malu-malu kemudian menjadi lebih berani tampil di depan kelas. Peningkatan keberanian ini penting karena rasa percaya diri merupakan faktor pendukung utama dalam pembelajaran vokal. Penelitian Putra et al. dan Qonita . menunjukkan bahwa suasana pembelajaran yang bersifat praktik akan secara langsung memengaruhi keberanian siswa dalam berekspresi melalui suara. Kondisi kelas yang lebih terbuka, suasana latihan yang bernuansa kebersamaan, serta kesempatan untuk mencoba berkali-kali tampaknya berperan besar dalam meningkatkan partisipasi siswa. Dari sisi konsistensi latihan, sebagian siswa menunjukkan perkembangan vokal yang lebih cepat dibandingkan siswa lain. Ketidakseimbangan perkembangan ini wajar dalam konteks pembelajaran vokal pemula sebagaimana dijelaskan oleh Setyawati dan Yanuartuti . dan Rizwan & Uswatul Hakim . , bahwa perbedaan kemampuan dasar, keberanian, serta pengalaman sebelumnya sangat memengaruhi kecepatan perkembangan vokal individu. Namun demikian, fakta bahwa seluruh siswa mengalami peningkatan meskipun dalam intensitas yang berbeda menunjukkan bahwa teknik dasar vokal yang diterapkan cukup efektif dan relevan. Secara umum, temuan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan teknik dasar vokal melalui demonstrasi dan latihan berulang dapat meningkatkan kemampuan vokal siswa pada aspek postur, pernapasan, intonasi, dan keberanian bernyanyi. Meskipun perkembangan pada aspek artikulasi belum merata, pola peningkatan yang muncul menunjukkan bahwa latihan yang konsisten dan bertahap masih Hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai studi yang menekankan pentingnya pendekatan praktik dalam pembelajaran vokal dasar (Ridhwan et al. , 2024. Kusmiati et al. , 2. Dengan demikian, penerapan teknik dasar vokal bukan hanya meningkatkan aspek teknis suara, tetapi juga memfasilitasi perkembangan musikal dan psikologis siswa secara menyeluruh. Januari, 2026 | Issue 1 | Volume 2 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan teknik dasar vokal melalui demonstrasi dan latihan berulang memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan vokal siswa kelas VII di SMP Islam Darul Muttaqin NWDI Srijata. Selama tiga sesi pembelajaran, siswa menunjukkan peningkatan pada hampir seluruh aspek vokal yang diamati, terutama pada postur tubuh, pengaturan pernapasan, ketepatan intonasi, dan kemampuan mengikuti pola vokalisi. Peningkatan ini terjadi karena siswa terbiasa menirukan contoh yang diberikan guru serta memperoleh kesempatan melakukan latihan secara terus-menerus dalam suasana pembelajaran yang terarah. Selain aspek teknis, pembelajaran teknik dasar vokal juga berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan keberanian siswa untuk bernyanyi di hadapan teman-temannya. Perubahan sikap ini tampak dari meningkatnya partisipasi siswa, antusiasme selama latihan, dan kesiapan mereka dalam mencoba berbagai teknik vokal dengan lebih mandiri. Meskipun perkembangan pada aspek artikulasi belum merata, pola peningkatan secara umum menunjukkan bahwa teknik dasar vokal efektif diterapkan pada siswa pemula. Dengan demikian, pembelajaran vokal yang terstruktur, konsisten, dan berbasis praktik dapat menjadi strategi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan vokal siswa di tingkat SMP. DAFTAR PUSTAKA